BAB 4 AKAR
5. Modifikasi Akar
Akar dapat berubah bentuknya sesuai dengan perubahan fungsinya. Beberapa bentuk-bentuk khusus akar yang sering ditemukan adalah seperti berikut:
Gambar 4.2 Sistem Akar
a. System akar tunggang pada Taraxacum officinale Weber et Wigger (Jombang), b. System akar serabut pada Gramineae (rumput-rumputan)
Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 99 1. Umbi akar (tuber rhizogenum), akar utama atau akar cabang yang berfungsi sebagai
penyimpan cadangan makanan. Umbi ini dibentuk dalam musim tumbuh yang pertama dan digunakan untuk prtumbuhannya dalam musim berikutnya. Umbi yang berasal dari akar utama ada yang berbentuk gasing (napiformis), misalnya pada Pachyrrhizus erosus (L.) Urb. (bangkuang), gambar 4.4a dan berbentuk tombak (fusiformis), misalnya pada Daucus carota L. (wortel), gambar 4.4b. umbi akar yang berasal dari akar cabang antara lain dapat diamati pada Ipomoea batatas Poir (umbi jalar), gambar 4.4c, Manihot esculentum Crantz (singkong), gambar 4.4d, dan Dahlia variabils (dahlia)
2. Akar udara atau akar gantung (radix aereus), akar ini keluar dari bagian-bagian di atas tanah, mengantung di udara dan tumbuh kea rah tanah. Bergantung pada tingginya tempat permukaan keluarnya, akar gantung dapat amat panjang (sampai 30 m). selama masih menggantung akar ini hanya dapat menolong menyerap air dan zat-zat gas dari udara dan sering kali mempunyai epidermis multiseriata yang khusus untuk menimbun air/udara, disebut velamen, misalnya pada anggrek, gambar 4.5a. pada saat sel-sel penuh berisi udara, valemen tampak putih dan jika menyerap air tampak hijau.
Gambar 4.3 Variasi Sistem Akar
a-f. Variasi system akar tunggang, g-j. Variasi system akar serabut Ar : akar adventif, Arf : akar adventif serabut, Arfl : akar adventif berdaging, Lr : akar lateral, R : radikula, S : batang,
SS : daun sisik batang, X : xylem
Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 100 Gambar 4.4 Umbi Akar (tuber rhizogenum)
a-b Umbi berkembang dari akar utama; c-d Umbi berkembang dari akar cabang
3. Akar pelekat (radix adligans), akar yang keluar dari buku atau ruas batang untuk memanjat dengan cara melekatkan atau menempelkan akarnya pada suatu tempat. Misalnya pada Piper betle L (sirih), gambar 4.5b dan Piper nigrum L (lada)
4. Akar pembelit (cirrhus radicalis), akar yang keluar dari buku berfungsi sebagai sulur untuk memanjat dengan cara dengan memeluk penunjangnya, gambar 4.5c. misalnya pada Valilla planifolia Andr (panili).
5. Akar penghisap (haustorium), umumnya dimiliki oleh tumbuhan setengah parasit dan parasit yng berfungsi menyerap air maupun zat makanan dari inangnya. Misalnya pada Loranthus (benalu), gambar 4.5d, akar penghisap masuk menembus kulit batang inang sampai ke bagian kayu (xilem), pada Cassytha filiformis L (tali putri), memiliki akar penghisap pendek, gambar 4.5e.
Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 101 Gambar 4.5 Modifikasi akar
a.Penampang melintang akar pendek anggrek, b.Akar pelekat, c.Akar pembelit, d. Akar penghisap, e.Akar duri, f.Akar tunjang, g.Akar nafas, h.Akar lutut, i.Akar banir, j.Akar
kontraktil.
Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 102 6. Akar duri, akar yang berubah menjadi duri, terdapat pada berbagai palem seperti
Acanthorrhiza aculeate (gambar 4.5f). Mauritia armata (gambar 4.5b) dan jenis Iriartea (gambar 4.5g).
7. Akar tunjang, adalah akar yang keluar dari batang yang berfungsi khusus untuk menunjang berdirinya batang, misalnya pada jagung (Zea mays), pandan (Pandanus tectorius), gambar 4.5h, beringin (Ficus benyamina), gambar 4.5i, dan bakau (Rhizophora mangle) gambar 4.5j.
8. Akar nafas (pneumatophora), adalah cabang-cabang akar yang tumbuh tegak lurus keatas sehingga muncul dari permuukaan tanah atau air tempat tumbuh-tumbuhan. Akar ini mempunyai banyak liang-liang atau celah-celah (pneumathoda) untuk jalan masuknya udara yang diperlukan dalam pernafasan, karena tumbuhan ini biasanya hidup di tempat-tempat yang di dalam tanah atau lumpur dengan kandungan oksigennya sedikit. Misalnya pada api-api (Avicinea sp) gambar 4.5k dan bidara (Soneratia sp) gambar 4.6l.
9. Akar lutut, adalah akar yang tumbuh keatas, muncul dipermukaan dan selanjutnya membengkok bagi masuk kedalam tanah atau lumpur, sehingga membentukl gambaran seperti lutut yang ditekuk. Bagian akar yang ada dipermukaan atas tanah juga disebut pneumatofor. Misalnya pada tanjang (Bruguera parvifolia) gambar 4.5m.
10. Akar banir, adalah akar yang berbentuk papan dekat sumbu batang yang berfungsi untuk memperkokoh berdirinya pohon (gambar 4.5n), misalnya pada kenari (Canarium commune), sukun (Artocarpus communis), dan angsana (Pterocarpus indicus).
11. Akar kontraktil, adalah akar yang terdapat pada tumbuhan berumbi, dapat mengkerut atau berkontraksi sehingga umbi dapat tertarik ketempat yang lebih dalam di tanah (gambar4.5o). misalnya pada Hymenocallis littoralis.
Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 103
4.4 Lembar Kegiatan Mahasiswa Kegiatan 04
MORFOLOGI AKAR
Tujuan
Setelah selesai melakukan pengamatan terhadap bahan-bahan yang telah disiapkan, mahasiswa diharapkan :
1. Dapat menyebutkan bagian-bagian akar,
2. Dapat membedakan sistem akar serabut dan sistem akar tunggang, dan
3. Dapat membedakan antara akar yang sebenarnya dengan akar yang termodifikasi.
Bahan dan alat
1. Gambarlah morfologi akar gemitir dan akar padi. Berilah keterangan bagian-bagian akar tersebut. Jelaskan perbedaan sistem akar yang menyusunnya!
2. Gambarlah bentuk-bentuk dan modifikasi akar dari bahan yang disediakan!
Pertanyaan
1. Apakah perbedaan antara struktur akar wortel dengan struktur akar secara umum (yang sebenarnya)?
2. Apakah pada tanaman dikotil yang ditanam dari stek memiliki sistem akar tunggang?.
Jelaskan dengan sebuah contoh!
Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 104 3. Apakah perbedaan asal perkembangan antara modifikasi akar singkong dengan akar
wortel?
4. Bagaimanakah akar banir terbentuk?
4.5 Rangkuman
Akar merupakan salah satu organ tumbuhan yang memiliki tugas utama untuk melekatkan tanaman pada tanah, menyerap air dan garam mineral. Secara umum, bagian-bagian akar terdiri dari leher akar,akar lateral, serabut akar, rambut akar dan tudung akar.
Pada tumbuhan dikotil yang diperbanyak dengan biji memiliki sistem akar tunggang dan pada monokotil memiliki sistem akar serabut.
Dalam perkembangannya akar dapat mengalami modifikasi dengan memiliki fungsi khusus. Modifikasi akar yang sering ditemukan adalah umbi akar, akar udara, akar pelekat, akar pembelit, akar penghisap, akar duri, akar tunjang, akar nafas, akar lutut, akar banir dan akar kontraktil.
Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 105
BAB 5 BUNGA
5.1 Rasional
Bunga merupakan organ tumbuhan yang berfungsi untuk perkembang biakan secara kawin atau perkembangbiakan secara generatif. Pada bunga terdapat jaringan-jaringan tempat terjadinya pembentukan sel telur dan sperma sekaligus tempat terjadinya proses pertumbuhan sehingga terbentuk calon induvidu baru di dalam bakal biji. Sebelum proses pertumbuhan terjadi didahului oleh proses penyerbukan, yaitu sampainya serbuk sari yang berasal dari benang sari pada kepala putik. Serbuk sari tidak dapat bergerak ke kepala putik. Sampainya serbuk sari ini pada kepala putik dibantu oleh berbagai faktor seperti, serangga, burung kalong, angin dan lain-lain. Terjadinya penyerbukan ini sangat tergantung pada bentuk atau morfologi dari bunga itu sendiri.
Setiap bunga dari dari jenis tumbuhan memiliki morfologi bunga yang khas yang berbeda antara jenis tumbuhan yang satu dengan yang lainnya. Karena bunga ini merupakan organ penting untuk kelangsungan jenisnya dan memiliki bentuk-bentuk yang spesifik, maka morfologi bunga merupakan bagian yang sangat menarik yang harus dikaji dalam mempelajari materi botani, khususnya botani tumbuhan tinggi.
5.2 SASARAN BELAJAR
Setelah proses pembelajaran ini selesai, mahasiswa dapat:
1. Menggambarkan bagian-bagian pembungaan,
2. Menjelaskan perbedaan pembungaan simosa dan rasemosa,
3. Menguraikan dan menggambarkan perbedaan bunga kelompok rasemosa sumbu utama tak bercabang (tandan, bulir, untai, tongkol, paying, cawan, bongkol, gundung dan priuk), 4. Menggambarkan bunga kelompok rasemosa dengan sumbu utama bercabang (malai, malai
rata dan perbungaan dengan pola dasar terulang atau majemuk),
5. Menjelaskan dan menggambarkan perbungaan simosa monokasium, dikasium, dan pleiokasium),
6. Menggambarkan perbungaan campuran simosa dan rasemosa, 7. Menggambarkan perbungaan gubahan semu (vertisilaster), 8. Menggambarkan perbungaanglomerulus (tukal),
9. Menggambarkan perbungaan berkas (fasikulus),
Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 106 10. Menggambarkan perbungaan siatinum,
11. Menggambarkan bagian-bagian bunga,
12. Menggambarkan macam-macam dasar bunga, 13. Menggambarkan bermacam-macam kaliks, 14. Menggambarkan berbagai tipe tajuk (korola),
15. Menjelaskan perbedaan antara kaliks, tajuk dan tenda bunga, 16. Menggambarkan bentuk-bentuk tenda bunga,
17. Menggambarkan bagian benang-benang sari
18. Menggambarkan berbagai tempat duduknya benang sari, 19. Menjelaskan perbedaan benang sari epipetal dan episepal
20. Menjelaskan duduk kepala sari secara tegak, menempel dan bergoyang, 21. Menggambarkan bagian-bagian putik
22. Menggambarkan bakal buah superus, hemiinperus dan inperus,
23. Membedakan bakal buah yang apokarp, senokarp, parakarp dan sinkarp,
24. Menggambarkan duduk bakal biji pada bakal buah secara parietal, sentral dan aksiler, 25. Menggambarkan duduk bakal biji pada plasenta secara atropus, anatropus, compylotropus,
hemitropus dan camtropus,
26. Menggambarkan diagram bunga dari berbagai jenis bunga, 27. Membuat rumus bunga dari berbagai jenis bunga
28. Menjelaskan perbedaan penyerbukan sendiri, tetangga, silang dan baster,
29. Menjelaskan minimal tiga faktor yang dapat mencegah terjadinya penyerbukan sendiri pada bunga banci
30. Menguraikan ciri morfologi bunga yang penyerbukannya dibantu oleh: lebah, ngengat, lalat, kalong, burung dan angin.
5.3 URAIAN MATERI
Bunga merupakan organ reproduktif pada tumbuhan. Dengan bunga tumbuhan berkembang biak secara kawin (generatif). Bunga dianggap merupakan modifikasi dari tunas.
Bunga yang tersusun berkelompok pada satu tangkai bunga bersama disebut perbungaan (inflorecensia), dan bila tumbuh soliter atau satu kuntum pada satu tangkai disebut bunga tunggal. Berdasarkan atas tempat tumbuhnya bunga atau perbungaan dibedakan menjadi, bunga:
1. Terminal, yaitu bunga tumbuh pada ujung sumbu batang atau batang
Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 107 2. Aksiler, tumbuh pada ketiak daun pada batang atau cabang
3. Ramiflorus, tumbuh pada ranting, biasanya pada ketiak daun 4. Kauliflorus tumbuh pada batang yang tua
5. Rizoflorus, tumbuh pada akar atau cabang yang ada dibawah tanah 6. Epiflorus, tampak tumbuh pada daun
1. Perbungaan (Inflorescenia)
Perbungaan terdiri dari suatu sumbu bersama tempat melekatnya sejumlah kuntum bunga sehingga menghasilkan suatu kesatuan. Pada sumbu tersebut terdapat brakte (daun pelindung) dan pada ketiak terdapat kuntum bunga.
Bagian-bagian perbungaan (gambar 5.1)
Pendunkulus atau tangkai bunga bersama, yaitu bagian dari cabang atau ranting antara daun teratas dan cabang perbungaan terbawah.
Rakis atau sumbu primer, merupakan kelanjutan dari pedunkulus atau bagian cabang di atas dari percabangan terbawah atau bunga terbawah.
Sumbu sekunder, cabang sumbu primer pada perbungaan yang amat banyak tingkat perbungaannya dikenal cabang tingkat tiga, empat dan seterusnya.
Pediselus atau tangkai dari satu bunga pada perbungaan.
Reseptakulum atau dasar bunga, ujung tangkai bunga tempat melekatnya daun-daun bunga.
Brakte, daun yang biasanya tereduksi menjadi berbentuk sisik atau sering berbentuk seperti daun normal sehingga sulit membedakannya.
Spata atau seludang bunga, daun teratas yang besar yang sering berwarna yang mendukung bunga atau perbungaan, seperti pada Suku Aracaceae
Brakteola, yaitu braktea untuk setiap bunga pada perbungaan
Involukrum atau filari, satu atau lebih lingkaran brakte-brakte pada dasar perbungaan pada Suku Astereceae.
Bunga itu sendiri pada perbungaan.
Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 108 Gambar 5.1
Bagian-bagian perbungaan
a. Pedunkulus; b. Rakis; c. Brakteola; d. Sumbu sekunder; e. Pediselus; f. Bunga
Berdasarkan cara percabangan dikenal dua tipe dasar perbungaan, yaitu rasemosa dan simosa (gambar 5.2).
Gambar 5.2
Bagan perbungaan: a. Rasemosa; b. simosa
Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 109 1. Rasemosa, perbungaan monopodial atau tak terbatas. Ujung sumbu utama atau lateral
dapat tumbuh terus menghasilkan bunga-bunga sampai berhenti karena telah mencapai stadium buah. Bunga mekar berurutan dari bawah ke atas atau dari luar ke dalam.
2. Simosa, percabangan simpodial atau terbatas, tiap-tiap kuncup terminal menghasilkan satu bunga dan percabangan bunga keluar dari kuncup-kuncup aksiler dari brakte. Bunga mekar berurutan dari atas ke bawah atau dari dalam ke luar.
A. Perbungaan Rasemosa
Perbungaan ini dibedakan antara sumbu utama tak bercabang dan bercabang.
a. Sumbu utama tak bercabang (gambar 5.3)
1. Tandan (resemus/botrys), perbungaan yang terdiri dari sumbu utama yang panjang dengan kuntum bunga bertangkai melekat padanya. Contoh pada bunga merak (Caesalpinia pulcherrima),
2. Bulir (spika), bunga duduk pada sumbu panjang. Pada bunga bulir dapat dibedakan bulir kecil (spikula/spikelet) adalah bagian perbungaan spika yang berupa bulir kecil.
Bulir kecil ini terdiri dari sisik kering (gluma jamak glumae) yang menyelubungi kuntum bunga. Putik dan benang sari tampak muncul diluar sisik tersebut. Contoh pada Gramineae dan Cyperaceae,
3. Untai (amentum), merupakan bulir dengan bunga uniseksual yaitu bunga yang hanya memiliki satu macam alat seks yakni benang sari (bunga jantan) atau putik (bunga betina). Setelah masa mekar bunga jantan rontok dan bunga betina juga rontok. Contoh pada lada (piper nigrum),
4. Tongkol (spadiks), bulir yang memiliki tangkai dan rakis tebal dan berdaging. Pada sumbu perbungaan yang berdaging itu bunga yang ditemukan adalah uniseksual. Letak bunga-bunga betinadi bagian bawah dan bunga jantan di bagian atas. Contoh pada Suku Arecaceae,
5. Paying (umbela), perbungaan dengan sumbu utama amat pendek, dan tangkai-tangkai bunga sama panjang melekat pada ujung sumbu utama. Karena setiap kuntum bunga berada pada ketiak braktenya dan sumbu utama amat pendek, maka seluruh brakte terhimpun pada suatu tempat dan disebut daun pembalut. Contoh pada Suku Umbelliferae.
6. Cawan (anthodium), memiliki dasar bunga yang lebar dan datar seperti cawan. Pada waktu, muda perbungaan diselimuti daun-daun pembalut di pangkal perbungaan.
Bunga pada perbungaan dibedakan : (a) bunga tepi, terdapat di tepi perbungaan,
Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 110 bertajuk lebar, tampak seperti pita sehingga disebut bunga bunga pita yang biasanya steril. (b) bunga tabung, terletak di tengah cawan. Bunga ini memiliki benang sari dan putik dan dapat menghasilkan buah. Contohnya bunga matahari (Helianthus anuus)(gambar 5.4)
7. Bunga bongkol (kapitulum), pada perbungaan ini sumbu utama amat pendek melebar serta menebal. Kuntum-kuntum bunga bersama-sama membentuk kesatuan yang membentuk setengah bola, seperti bola atau sedikit memanjang. Daun pembalut sering tidak ditemukan, kadang-kadang terdapat sisik pada sumbu pada sumbu bersama.
Contoh pada sikejut (Mimosainvisa) dan lemtoro (Leucaenna glauca),
8. Gundung (corimbus simpleks), bunga serupa tandan namun semua kuntum bunga berada pada bidang datar. Hal ini terjadi karena tangkai bunga tidak sama panjang.
Contoh pada kerasi.
9. Bunga periuk (hipantodium), dasar bunga berdaging, melebar berbentuk seperti periuk, tanpa daun pembalut. Di dalam rongga terdapat kuntum-kuntum bunga sehingga tidak terlihat dari luar. Contoh pada berbagai Ficus,
b. Sumbu utama bercabang sekali atau berulang kali
1. Malai (panikula), bercabang beberapa kali. Cabang-cabang di sebelah bawah lebih panjang dan mengalami percabangan lebih banyak sehingga mulai berbentuk kerucut.
Bunga mekar dari luar ke dalam atau dari bawah ke atas. Contoh pada mangga (Mangifera indica)
2. Mulai rata (korimbus remosus), cabang paling bawah lebih panjang sedemikian rupa sehingga bunga berada pada bidang rata. Contoh pada soka (Ixora sp).
Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 111 Gambar 5.3
Bagian-bagian tipe perbungaan rasemosa Nomor menunjukkan perkembangan atau mekarnya
Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 112 Gambar 5.4
Bunga cawan, a. Bagian perbungaan di sayat melintang; b. bunga tabung dengan kelopak termodifikasi menjadi sisik; c. bunga tabung dengan tabung tajuk dan tabung kepala sari
dibuka dengan kepala sari berlekatan serta tangkai sari bebas; d. bunga tepi atau pita
Perbungaan dengan pola dasar yang terulang atau majemuk. Jika cabang-cabang mengikuti pola dasar suatu macam perbungaan, maka perbungaan ditambah dengan kata “majemuk”, missal payung majemuk (paying yang setiap kuntum bunga diganti dengan paying seperti pada adas (Poeniculum vulgare). Bulir majemuk, setiap kuntum bunga pada bulir diganti dengan bulir kecil, seperti pada padi. Tongkol majemuk seperti pada palmae.
B. Perbungaan Simosa Macam-macam simosa,
1. Monokasium, satu cabang setiap nodus dengan bunga berhadapan dengan brakte atau kalau ada dua cabang hanya satu yang berkembang dan yang satu lagi terhambat. Monokasium dibedakan (gambar 5.5),
a) Bunga sekrup (bostriks), setiap cabang kurang lebih tegak lurus,
Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 113 b) Rapidium (kipas), bostriks dengan braktea dengan dua baris,
c) Sinsinus (tangga), setiap cabang kurang lebih tegak lurus pada cabang sebelumnya, arahnya bergantian ke kanan dan kiri,
d) Drepanium (sabit), bostriks dengan semua brakte pada satu sisi dan semua percabangan terletak pada satu bidang sehingga seluruhnya Nampak seperti sabit
Gambar 5.5
Bagan terbentuknya bermacam-macam monokasium, a. bunga kipas; b. bunga kipas dilihat dari atas; c. bunga sabit; d. bunga sabit dilihat dari atas; e. bunga dikasium dilihat dari atas; f..
bunga sekrup. Nomor menunjukkan urutan.
2. Dikasium atau anak paying menggarpu bercabang dua, sumbu utama berakhir dengan satu kuntum bunga di ujungnya dan mekar paling dulu. Di bawah kuntum bunga tersebut terdapat dua cabang pada ketinggian yang sama dan cabang-cabang itupun berakhir dengan bunga di ujungnya dan memiliki cabang lateral. Contoh pada melati (Jasminum sambac)(gambar 5.6)
Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 114 Gambar 5.6
a. Bagan dikasium; b. pleiokasium; c. dikasium pada Cerastium collinum (t:t””) menggambarkan urutan sumbu. Tampak di ujung distal pasangan cabang tak berkembang,
misalnya t””
3. Pleiokasium atau anak payung bercabang banyak. Sumbu utama berakhir dengan sekuntum bunga di ujungnya, yang mekar paling dulu. Di bawah kuntum bunga tersebut terdapat lebih dari dua cabang pada ketinggian yang sama. Cabang itu berakhir dengan bunga (gambar 5.6).
C. Perbungaan Campuran (Inflorescensia micta)
Sejumlah mulai menunjukkan percabangan monopodial (rasemosa), tetapi cabang-cabang lateral menunjukkan perbungaan bercabang-cabang simpodial (simosa) (Gambar 5.7)
Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 115 Gambar 5.7
Perbungaan campuran
D. Tipe Perbungaan Lain Dibedakan,
1. Gubahan semu atau karangan semu (vertisilaster), terlihat seolah-olah bunga tersusun dalam lingkaran pada nodus-nodus dari suatu rakis sebenarnya terdapat dua umbela setengah lingkaran (sebenarnya simosa) pada ketiak dari dua daun yang berhadapan.
Contoh pada Suku Lamiaceae/Labiate,
2. Glomerulus (tukal), terbatas, rakis tidak ada, bunga-bunga kecil tidak bertangkai (sisik).
Contoh pada rami (Boehmeria nivea),
3. Bunga berkas (fasikulus), rakis pendek atau tidak ada , pediselus sering tidak sebanding, perbungaan sering tidak dikelilingi oleh braktea,
4. Siatium, suatu pseudantium dengan satu bunga terminal dikelilingi oleh banyak bunga jantan dalam empat sampai lima simosa. Brakte-brakte untuk bunga jantan bersatu membentuk involukrum berbentuk cawan atau setengah yang mengelilingi siatium, di tepinya terdapat kelenjar nectar dengan tonjolan petaloid. Contoh pada kastuba (Euphorbia pulcherrima)(gambar 5.8)
Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 116 Gambar 5.8
Siatium pada Euphorbia sp., a. dilihat dari luar; b,c. disayat memanjang; c. ketika masih muda; d,e,f. bunga jantan masih muda.
Tugas LKM 5.1 Perbungaan
Tujuan
Setelah kegiatan ini selesai mahasiswa dapat, 1. Menggambarkan bagian-bagian dari perbungaan
2. Membedakan perbungaan rasemosa, simosa, dan campuran antara rasemosa dan simosa,
3. Menggambarkan pembungaan tandan, bulir, untai, tongkol, payung, cawan, bongkol dan gundung,
4. Menggambarkan bunga malai dan malai rata,
5. Menemukan contoh di alam perbungaan monokasium, dikasium dan pleiokasium dan 6. Menggambarkan perbungaan gubahan semu, tukal, fasikulus dan siatium.
Alat dan Bahan
Alat yang diperlukan, kater, cawan petri, pinset, lup dan mikroskup streo.
Bahan yang diperlukan, bunga bougenvillea spectabilis, kembang merak (Caesalpinia pulcherrima), soka (Ixora sp), Emilea sonchifolia, padi (Oryza sativa) atau Eleusine sp., piperomia pelucida, jagung (Zea mays), adas (poeniculum vulgare), kembang matahari (Helianthus anuus), bunga Mimosaceae (Mimosa invisa, Leucaena glauca), bunga Ficus sp., mangga (mangifera indica), Ortosipon aristatus, bunga coklat, kembang racun (Euphorbia pulcherrima).
Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 117 Prosedur Kerja
1. Perhatikan bagian-bagian perbungaan pada bunga Bougenvilea sp dan gambarkan,
2. Bandingkan dan gambarkan tipe perbungaan pada kembang merak, soka, dan Emilea sonchifolia. Yang mana merupakan perbungaan simosa, rasemosa dan campuran
3. Bandingkan dan gambarkan bunga-bunga: kembang merak (Caealpinia pulcherrima), soka (ixora sp), Emilea sonchifolia, padi (Oryza sativa) atau Eleusine sp., piperomia pelucida, jagung (Zea mays), adas (poeniculum vulgare), kembang matahari (Helianthus anuus), bunga Mimosaceae (Mimosa invisa, Leucaena glauca), bunga Ficus sp. Yang mana merupakan bunga tandan, bulir, untai, tongkol, payung cawan, bongkol dan gundung?
4. Bandingkan dan gambarkan perbungaan pada soka dan mangga. Yang mana merupakan perbungaan malai dan malai rata?
5. Pergilah ke halaman atau disekitar kampus. Cari contoh perbungaan monokasium, dikasium dan pleiokasium.
6. Perhatikan dan gambarkan bunga-bunga Ortosipon aristatus, bunga coklat, kembang racun (Euphorbia pulcherrima), yang mana merupakan perbungaan gubahan semu, fasikulus dan siatium?
Pertanyaan
Carilah contoh-contoh bunga lain, selain yang disebutkan dalam LKM yang tergolong ke dalam suatu tipe perbungaan di atas.
2. Bagian-bagian Bunga
Bagian-bagian satu bunga adalah sebagai berikut (gambar 5.9),
1. Dasar bunga (reseptakulum), sumbu bunga tempat melekatnya bagian-bagian lain dari bunga,
2. Diskus, penonjolan resetakel yang biasanya berkelenjar, berbentuk penebalan dari ovarium, cincin atau bantalan, tidak homolog dengan bagian-bagian lain dari bunga, 3. Periantium atau perhiasan bunga, jika tidak ada disebut bunga telanjang. Jika ada dan
hanya satu macam, tidak dapat dibedakan baik warna atau bentuk disebut perigonium dan helaiannya disebut tepal. Jika ada dan dapat dibedakan pada lingkaran luar dan dalam maka, dibedakan menjadi: (a) kaliks (daun kelopak), herbasius, umumnya bewarna hijau, helaiannya disebut sepal. Kaliks ada yang berbentuk rambut (papus), misalnya pada suku Asteraceae. (b) Korola (daun mahkota, membraneus, berwarna, helaiannya disebut petal.
Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 118 Bentuk khusus korola: sisik korola, tonjolan pada leher korola sering berfungsi sebagai nektarium menghasilkan nectar, biasanya berasal dari stamen.
4. Stamen atau benang sari, organ reproduksi jantan terdiri dari,
Filament atau tangkai sari, tangkai dari antera,
Antera atau kepala sari, biasanya terdiri dari dua teka atau lokus berisi polen (serbuk sari),
Konektivum, jaringan yang menghubungkan kedua teka.
Stamen yang tereduksi dan steril disebut staminodium.
5. Pistilum atau putik, organ reproduksi betina, terdiri dari,
Ovarium atau bakal buah, di dalamnya terdapat bakal biji,
Stilus atau tangkai kepala putik yang menghubungkan ovarium dan stigma,
Stigma atau kepala putik, tempat melekatnya serbuk sari pada saat penyerbukan.
Pistilum yang tereduksi pada bunga jantan disebut pistilodium
Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 119 Gambar 5.9
Bagian-bagian bunga. A. bagan penampang memanjang bunga; B. penampang melintang antera; C. polen; D. perkecambahan polen
Buku Ajar Morfologi Tumbuhan | 120 Tangkai Bunga (Pediselus)
Sumbu yang pada ujungnya mengalami modifikasi.
Dasar Bunga (Reseptakulum)
Merupakan tempat daun-daun bunga yaitu, kelopak, tajuk (korola), benang sari dan putik. Dasar bunga dapat mengalami perkembangan sebagai berikut,
a). hipantium, dasar bunga berbentuk seperti cangkir atau tabung dan daun kelopak, tajuk dan benang sari melekat di tepinya (gambar 5.10). contoh pada Suku Rosaceae.
a). hipantium, dasar bunga berbentuk seperti cangkir atau tabung dan daun kelopak, tajuk dan benang sari melekat di tepinya (gambar 5.10). contoh pada Suku Rosaceae.