korupsi serta kontekstualisasinya dalam sistem
pendidikan nasional
Pendidikan memegang peran penting dalam upaya meningkatkan derajat pembangunan bangsa. Sebagai sebuah proses, pendidikan menjadi penentu kualitas sumberdaya manusia yang akan mengisi bidang-bidang kehidupan bernegara. Namun, kualitas pendidikan yang ada layak dipertanyakan dikala situasi kekinian menunjukkan sikap dan laku korupsi menjadi hal yang jamak ditemui dinegeri ini. Orientasi kesuksesan hidup yang berpatokan utama pada ukuran materi membuat nilai-nilai moral semakin jarang diajarkan di keluarga maupun lembaga formal. Kondisi tersebut juga menciptakan sikap permisif masyarakat dalam menghadapi kasus korupsi di lingkungannya. Tentu saja kondisi ini sangat mengkhawatirkan dan merusak masa depan bangsa dan negara Indonesia.
Dukungan pendidikan nilai dan keteladanan dalam keluarga dan lembaga formal
Pencegahan korupsi bisa dilakukan dengan menyelesaikan akar korupsi dari dua sisi yaitu melalui pembenahan sistem dan pembentukan budaya dan karakter anti korupsi. Terkait pembentukan budaya dan karakter anti korupsi, keluarga dan lembaga formal menjadi agen sosialisasi utama untuk menanamkan karakter anti korupsi yang bisa dimulai sejak anak usia dini. Nilai-nilai yang nanti akan membentuk pribadi antikorupsi yang perlu ditanamkan sejak dini adalah nilai kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab.
Jujur berarti berani menyatakan keyakinan pribadi. Kejujuran adalah modal dasar dalam kehidupan bermasyarakat sehingga ketidakjujuran akan menghancurkan komunitas bersama. Sosialisasi terhadap nilai kejujuran akan menghasilkan output bahwa anak berperilaku jujur dalam kehidupan sehari-hari dan menularkan kejujuran tersebut kepada lingkungannya. Perilaku tidak jujur merupakan perilaku buruk yang akan dihindari dilakukan oleh anak-anak
tersebut. Perilaku jujur yang dijalankan sejak dini akan menciptakan karakter bersih pada saat usia dewasa dan pada saat memegang kekuasaan.
Adil berarti memenuhi hak orang lain dan mematuhi segala kewajiban yang mengikat diri sendiri. Penanaman nilai keadilan sejak usia dini akan menciptakan karakter tidak memihak dan tidak menguntungkan pihak lain pada saat mereka nantinya memegang kekuasaan. Tanggung jawab berarti teguh hingga terlaksananya tugas. Tekun melaksanakan kewajiban sampai tuntas. Pengembangan rasa tanggung jawab adalah bagian terpenting dalam pendidikan anak menuju kedewasaan. Di usia dewasa, karakter tanggungjawab yang melekat pada penyelenggara negara akan menghindarkan diri dari perilaku korupsi.
Secara teknis, intervensi nilai kejujuran, keadilan, dan tanggungjawab terutama dilaksanakan di lingkungan keluarga sebagai agen sosialisasi primer. Penyampaian di keluarga dilakukan oleh orangtua terhadap anak melalui teladan maupun pemberian pemahaman dengan atau tanpa alat pendukung. Intervensi nilai luhur tersebut akan menjadi efektif jika agen sosialisasi sekunder yaitu lembaga formal dan komunitas juga melakukan intervensi nilai-nilai yang sama. Keberhasilan program intervensi di keluarga dan lembaga formal juga sangat tergantung dari kampanye publik yang masif oleh pemerintah. Program Keluarga Berencana di era tahun 1980-an bisa menjadi contoh intervensi program yang berhasil di Indonesia. Pada tataran teknis, lembaga pemerintah terkait seperti BKKBN, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Agama bisa dilibatkan dalam program ini.
Seorang pakar pendidikan, Mochtar Buchori, dalam artikelnya di Kompas pada 21 Februari 2007, menulis, tujuan pendidikan nilai bukan memupuk kemahiran beretorika tentang nilai- nilai atau tentang suatu ideologi. Yang jauh lebih penting, ialah menggunakan pengetahuan tentang dan ketaatan terhadap nilai-nilai untuk memupuk kemampuan membimbing bangsa ke pembaruan cara hidup (the way of life), sesuai realitas yang ada serta aspirasi tentang masa depan yang masih hidup dalam diri bangsa.
Karena itu, kemudian, menurut Mochtar Buchori, pendidikan nilai tidak berhenti pada pengenalan nilai-nilai. Ia masih harus berlanjut ke pemahaman nilai-nilai, ke penghayatan nilai-nilai, dan ke pengalaman nilai-nilai. Hanya dengan lingkaran siklus seperti itu, pendidikan nilai akan mengantarkan bangsa, sedikit demi sedikit, ke arah bangsa yang bersih dari korupsi.
Melalui pendidikan nilai, manusia Indonesia diarahkan kebal terhadap korupsi. ”Orang banyak harus disadarkan bahwa korupsi bukan sekadar pelanggaran terhadap norma-norma tetapi sebuah bentuk ketidakadilan. Korupsi sebagai bentuk ketidakadilan bukan semata urusan yang bersangkutan dengan Tuhan tetapi dengan publik yang terkena dampaknya. Oleh karena itu, sentimen negatif publik terhadap korupsi harus dibangun sehingga terbentuk mekanisme sangsi sosial yang berkelanjutan. Dengan itu wajah korupsi sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan akan terlihat jelas. Bahwasanya korupsi adalah proses pemiskinan yang memerosotkan kemanusiaan orang per orang.”
Secara filosofis normatif, penyelenggaraan pendidikan di Indonesia dipayungi oleh Undang- Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Undang-Undang dimaksud telah menegaskan pesan dan landasan moral pendidikan untuk membangun manusia Indonesia secara utuh baik aspek intelektual akademik maupun aspek moral spiritual. Penegasan ini tersurat pada pasal 1 ayat (1) bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”. Jika landasan normatif ini disimak dengan baik dan mendalam, pendidikan bangsa menjadi sangat sarat nilai dan bertujuan untuk membangun bangsa yang bermoral, jujur, dan bertanggung jawab dalam bingkai kebangsaan yang kokoh75.
Dengan demikian maka pertanyaan “Apakah pendidikan selama ini tidak membangun perilaku dan karakter bangsa yang menumbuhkan nilai-nilai anti korupsi?”, “Adakah hal yang keliru dengan pendidikan kita selama ini, sehingga perilaku korupsi ditemukan dimana- mana?” sudah terjawab dengan adanya UU No 20/2003 tentang Sisdiknas di atas. Implementasi pendidikan sudah tidak diselenggarakan secara utuh dan taat asas sesuai dengan landasan normatif yang digariskan Undang-undang. Oleh karena itu, tantangan DPR adalah memastikan preferensi anti korupsi melalui pengutuhan sistem pendidikan yang bertolak dari pemaknaan falsafah dan landasan normatif pendidikan sebagaimana tercantum dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas.