• Tidak ada hasil yang ditemukan

 Yang pertama, segmen pertama mengenai dasar permohonan Pemohon.

Yaitu menganggap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 itu bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945. Pasal 28D ayat (1) itu berbunyi, “Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum.” Pasal 28D ini sangat erat kaitannya dengan Pasal 27 ayat (1), yaitu yang berkaitan bahwa setiap warga negara sama didepan hukum, kira-kira

seperti itu. legalitas.org

Khusus mengenai frasa-frasa perlakuan yang sama di hadapan hukum, ada 2 norma yang dimuat di sana, yaitu setiap orang berhak atas keadilan dan perlakuan hukum yang sama. Itulah esensi Pasal 28D itu, seluruh jaminan itu maksudnya agar orang mendapat keadilan dan untuk itu mereka berhak mendapat perlakuan yang sama.

 Banyak makna dan cara mewujudkan keadilan atau mewujudkan apa yang kita sebut adil. Perlakuan yang sama di depan hukum merupakan salah satu cara menjamin dan mewujudkan keadilan. Karena itu, catatan mengenai perlakuan yang sama di hadapan hukum itu. Di dalam buku-buku bacaan yang semua kita ketahui, Lidaising, [Sic!] Jennings, Weid, dan sebagainya.

Persamaan di depan hukum itu diberi makna bersamaan forum dan persamaan hukum.

 Dalam kasus ini ada keunikan bahwa justru para Pemohon menganggap perlakuan yang sama itu dipandang sebagai suatu ketidakadilan bahkan suatu pelanggaran hukum. Yaitu bahwa menyamakan alat berat dengan alat yang lain itu justru mereka merasa itu menimbulkan ketidakadilan. Menurut para Pemohon, menyamakan mereka dalam pengertian atau definisi kendaraan bermotor dengan kendaraan bermotor jenis lain, justru menimbulkan ketidakadilan. Karena dengan persamaan itu mengakibatkan para Pemohon memikul beban yang semestinya tidak menjadi beban mereka.

 Persoalannya apakah dalam keadaan tertentu keadilan justru menuntut ketidaksamaan atau dengan perkataan lain, persamaan justru menimbulkan ketidakadilan. Ada adagium lama yang diketahui oleh setiap ahli hukum yang mengatakan, “Menyamakan sesuatu yang berbeda atau tidak sama, sama tidak adilnya dengan membedakan yang sama.” Dengan bahasa yang lebih mudah, dalam keadaan tertentu membedakan atau unequal treatment itu, justru merupakan syarat dan cara mewujudkan keadilan, sebaliknya dalam keadaan tertentu membuat segala sesuatu serba sama sedangkan didapati berbagai perbedaan juga akan menimbulkan dan melukai rasa keadilan. Kalau demikian, apakah ada syarat objektif agar suatu perbedaan atau unequal itu menjadi syarat untuk mewujudkan keadilan.

Ada beberapa syarat objektif yang harus dipenuhi. Pertama, memang ada perbedaan atau perbedaan itu merupakan sesuatu yang nyata atau suatu

fakta bukan artificial. Perbedaan ini dapat bersifat alamiah, perbedaan bersifat sosial, perbedaan budaya, perbedaan ekonomi, dan lain sebagainya, dan ada satu perbedaan yang acapkali digunakan untuk menerapkan perbedaan yaitu perbedaan fungsi dan tujuan. Suatu fungsi dan tujuan yang berbeda menuntut perlakuan dan cara yang berbeda pula..

Yang kedua, syarat objektifnya itu sebagai dasar tidak menerapkan persamaan yaitu perbedaan harus memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi yang terkena perbedaan, bukan justru sebaliknya merugikan atau menimbulkan beban berlebihan bagi yang berbeda. Jadi, kalau kita membedakan sesuatu, justru harusnya menguntungkan bagi yang dibedakan, bukan justru menyusahkan mereka. Manfaat perbedaan dimaksudkan untuk memberi perlindungan, memberi kemudahan, atau untuk mencapai tujuan yang lebih besar, antara lain perbedaan diperlukan sebagai cara mewujudkan persamaan itu sendiri. Dalam kaitan ini, kita mengenal sebutan yang kita sebut positive discrimination dan negative discrimination.

Yang ketiga, kadang-kadang perbedaan itu sangat diperlukan demi ketertiban umum, for the public. Ketertiban umum merupakan sarana menjamin ketenteraman, perikehidupan yang harmonis untuk mencapai tujuan bersama. Ketertiban umum merupakan dasar pembenaran bagi pembatasan-pembatasan dan penyimpangan dari asas umum demi suatu kepentingan lebih besar, termasuk kepentingan keadilan. Dalam dunia hukum, lagi-lagi para ahli hukum mengenal sekali tuntutan perwujudan ketertiban umum itu antara lain dikenal adagium, “Tidak ada hukum tanpa pengecualian, no law without except clause.” Adagium ini selain merupakan tuntutan ketertiban umum, juga merupakan sebagai asas untuk menjamin keadilan.

 Apakah para Pemohon memenuhi kategori objektif di atas, sehingga berhak atas perbedaan. Ini akan ditentukan oleh, pertama, secara substantif, para Pemohon memang berbeda, baik dalam arti alamiah, terutama perbedaan fungsi dan tujuannya. Kedua, akibat yang timbul dari penerapan asas persamaan terhadap mereka, bukan saja beban langsung yaitu kewajiban membayar yang mungkin secara keseluruhan tidak besar tadi disinggung.

Tetapi yang lebih esensial adalah persamaan itu mengakibatkan

penjungkirbalikan pengertian ilmiah dan alamiah, pengertian alat-alat berat.

Jangan sampai itu terjadi penjungkirbalikan. Apakah persamaan itu tidak menimbulkan kekacauan mengenai fungsi dan pengertian alat-alat berat?

Sangat perlu diperhatikan adalah akibat keseluruhan ada general impact dari persamaan tersebut. Berarti, timbulnya beban tambahan yang akan berakibat pada produktivitas, efektivitas, dan biaya yang pada akhirnya akan dipikul oleh konsumen. Tentu saja secara asasi perlu dikaji akibat persamaan tersebut terhadap prinsip-prinsip keadilan itu sendiri. Jangan sampai persamaan justru menjadi hambatan, justru menimbulkan ketidakadilan atau dalam bahasa yang lebih materialistis misalnya kalau tadi disinggung fungsi pajak, pajak menjadi tidak berfungsi untuk mendorong pembangunan. Itu analisis mengenai hubungan persamaan dan keadilan, hubungan antara ketidakbersamaan dengan ketidakadilan.

 Mengenai adanya pertentangan atau perbedaan antara dua Undang-Undang. Dalam ilmu hukum berlaku asas kaidah yang baru menyampingkan kaidah yang lama. Jadi, nampaknya sederhana sekali karena ada kaidah baru, kaidah lama kita kesampingkan. Pertanyaan Ahli Hukum, apakah sesederhana itu? Tidak sama sekali sesederhana itu. Pertama, hanya Hakim yang boleh menerapkan asas tersebut. Bukan pembentuk Undang-Undang, apalagi orang di pinggir jalan. Itu pun tidak serta-merta. Hakim hanya dapat mengenyampingkan kaidah lama apabila, pertama, kaidah baru memberi keuntungan bagi objek atau subjek yang berkenaan. Misalnya kita tahu asas Pasal 1 ayat (1) KUH Pidana, misalnya.

Kedua, kaidah baru tidak dibuat atas dasar perbuatan melampaui wewenang atau (suara tidak terdengar jelas) de pouvoir, tidak dibuat atas dasar sewenang-wenang atau willekeur, atau penyalahgunaan wewenang misuse of power. Juga tidak melanggar asas-asas seperti asas fairness, atau asas (suara tidak terdengar jelas), yang mengatakan asas ini mengandung makna tidak ada orang yang sehat akan mengambil keputusan semacam itu. Juga tidak terkena asas yang dikenal rules a bias, karena akan menimbulkan conflict of interest. Itu yang kedua bahwa hakim baru boleh menggunakan menyampingkan yang lama dengan yang baru.

Yang ketiga, baru boleh kaidah baru itu tidak dapat diterapkan kalau berkaitan dengan asas-asas ketertiban umum dan kepentingan umum

meskipun dia baru, Hakim tidak boleh melakukannya. Bagaimana kalau pembentuk Undang-Undang akan membuat perbedaan antara dua atau lebih Undang-Undang? Untuk itu harus diperhatikan prinsip berikut.

 Bahwa pembentuk Undang-Undang dilarang memperluas atau mempersempit arti atau muatan dalam satu Undang-Undang yang masih berlaku, sangat dilarang. Karena itu, merupakan bentuk perbuatan arbiter.

Kalau pun mereka akan melakukan perluasan atau penyempitan, hanya dapat dilakukan dengan mencabut secara tegas ketentuan atau ketentuan Undang-Undang yang lama itu, tidak boleh dengan semaunya saja.

Larangan ini berkaitan dengan jaminan kepastian hukum dan ketertiban hukum.

 Bahwa wewenang memperluas atau mempersempit pengertian dalam Undang-Undang yang berlaku hanya ada pada Hakim, hanya Hakim yang boleh memperluas, mempersempit pengertian. Dalam menjalankan kekuasaan untuk mewujudkan keadilan dan mewujudkan kepuasan bagi para pencari keadilan (satisfaction) yang oleh Hakim dilakukan melalui metode penafsiran, metode penghalusan hukum, konstruksi, atau rechtsvinding pada umumnya, penemuan hukum pada umumnya. Jadi, kalau tadi Prof. Hadjon sudah mendefinisikan manusia tambah sewenang-wenang.

Kemudian yang ketiga, segmen akhir keterangan saya, yaitu berkaitan dengan peraturan daerah yang menjadi dasar pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 ini. Bukankah, peraturan daerah sebagai produk daerah otonom sebagai suatu subjek hukum yang mandiri. Apakah dapat begitu saja dikesampingkan.

 Pertanyaannya, apakah akan termasuk membatalkan juga peraturan daerah yang bersangkutan? Bukankah menurut Undang-Undang Dasar 1945, wewenang menguji peraturan daerah sebagai peraturan perundang-undang bertingkat lebih rendah dari Undang-Undang ada pada Mahkamah Agung dan bukan pada Mahkamah Konstitusi? Jika demikian, apakah para Pemohon akan terpaksa mengajukan permohonan pada Mahkamah Agung untuk menyatakan peraturan daerah yang bersangkutan tidak sah atau batal, sebagai kelanjutan dari perkara hari ini atau permohonan ini.

 Ahli ingin menganjurkan menerapkan prinsip dari, “Pohon yang beracun, maka buahnya pun beracun juga,”. “poison fruit a poison tree.” Jadi, diasumsikan bahwa dari pohon yang beracun itu, pasti buahnya beracun juga, dengan bahasa gampangnya, kalau nanti ternyata Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 itu bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945, maka Undang-Undang yang sebagai pohon beracun itu tentu buah-buahnya berupa peraturan daerah itu adalah juga buah yang beracun.

Dengan demikian, semua peraturan pelaksanaan atau suatu peraturan yang bersumber dari Undang-Undang yang dinyatakan tidak sah atau dibatalkan (van rechtswege) tidak berlaku lagi, atau tidak diterapkan lagi, sehingga tidak perlu ada perkara baru.