AHLI DARI PEMERINTAH:
1. Robert A. Simanjuntak
Bahwa isu pajak dan retribusi daerah, merupakan isu penerimaan daerah, dimana secara garis besar kita bisa membedakan penerimaan daerah itu atas PAD dan dana transfer dari pusat, pendapatan asli daerah, dan dana transfer dari pusat.
Kalau kita perhatikan selama era otonomi, kalau kita hitung dari tahun 2000 sampai sekarang. Sejak kita bisa bedakan antara tahun 2000 sampai 2003 ya, PAD dari kabupaten dan kota itu hanya berkisar 4% sampai 7% dari keseluruhan penerimaanya, sementara untuk provinsi itu jauh lebih baik, yaitu antara 40% sampai 50%, dan tahun 2004 sampai 2010 PAD untuk kabupaten/kota itu ada sekitar 7% sampai 9% dari seluruh penerimaan daerah, dan untuk provinsi itu relatif tidak berubah yaitu sekitar 50%. Jadi
dominasi itu ada di transfer yaitu yang terdiri dari dana alokasi umum, dana alokasi khusus, dan dana bagi hasil. Terutama untuk kabupaten dan kota itu DAU transfer ini mencakup 85% sampai 90% bahkan lebih dari 90% untuk tahun-tahun tertentu.
Mengacu kepada pelaksanaan desentralisasi kita yang menggunakan prinsip finance follows function, begitu banyak fungsi atau kewenangan atau urusan yang sudah diserahkan kepada daerah. Sementara texting power daerah yang dicerminkan oleh PAD itu masih sangat jauh, relatif timpang antara kemampuan keuangan dengan kemampuan fungsi, sehingga antara fungsi dengan kemampuan keuangannya, sehingga apa yang harus kita lakukan secara terus menerus adalah penguatan daripada lokal texting power.
Masalahnya adalah basis pajak daerah itu relatif sangat terbatas. Pungutan daerah yang memenuhi berbagai kriteria atau prinsip perpajakan, itu baik jenis maupun potensinya itu relatif terbatas. Jadi kalau kita lihat Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000, jenis pajak daerah yang ditetapkan dalam undang-undang itu tidak banyak. Namun karena daerah dimungkinkan untuk memungut pajak dan retribusi daerah yang baru yang di sana dinyatakan asalkan memenuhi kriteria yang ada, maka bermunculanlah begitu banyak pajak dan retribusi daerah yang cenderung distortive dan mengganggu iklim investasi. Karena sesungguhnya itu tidak sesuai dengan kriteria perpajakan yang ada dan oleh karena itulah Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 dibuat sebagai revisi atas Undang-Undang yang lalu yang dimaksudkan untuk memperkuat perpajakan daerah dengan memperluas basis pajak daerah, menambah jenis pajak daerah, memberikan kewenangan atau keleluasaan pentarifan, dan menghilangkan pajak-pajak yang distortive. Semuanya ini tentu saja berdasarkan berbagai kriteria perpajakan yang ada.
Apa yang dimuat di dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 ini yang pertama yang memperluas objek pajak daerah itu misalnya sebagai contoh adalah PKB dan BPNKB untuk kendaraan pemerintah yang sebelumnya itu tidak dipungut. Lalu menambah jenis pajak dan retribusi daerah, itu misalnya adalah PBB sektor perkotaan dan perdesaan yang sebelumnya adalah pajak pusat, lalu ada pajak rokok, dan menaikkan tarif maksimum
untuk beberapa jenis pajak daerah seperti pajak hiburan dan pajak bahan bakar kendaraan bermotor.
Dalam konteks ini dalam isu yang sedang kita bahas di sini mengenai beberapa teori perpajakan yang dijadikan landasan berbagai kriteria untuk menyusun Undang Nomor 34 Tahun 2000 atau pun Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009. Yang pertama itu adalah benefit principle, atau prinsip manfaat, di mana di sini maksudnya adalah semua yang memperoleh manfaat dari segala tindakan atau kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah harus berkontribusi terhadap pembiayaan kegiatan pemerintah. Itu adalah benefit principle yang prinsip utama dari pajak ya.
Jadi langsung atau tidak langsung mendapatkan manfaat harus berkontribusi.
Yang kedua, yang melengkapi prinsip itu adalah ability to pay principle atau pay as you earn principle, di mana kontribusi terhadap kegiatan pemerintah tersebut tentunya masih dikaitkan dengan situasi dan kondisi kemampuan dari yang bersangkutan. Equity principle, bisa dibedakan antara horizontal dan vertical equity. Kalau horizontal adalah di maksudnya kurang lebih adalah individu atau institusi yang berada dalam kondisi atau sirkumstansis yang sama, itu dikenakan pajak yang sama. Sementara kalau vertical equity adalah individu atau institusi yang berada dalam kondisi atau situasi yang berbeda, itu dikenakan pajak yang berbeda. Dan prinsip-prinsip inilah yang menjadi landasan dari Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009.
Secara umum, dalam sistem perpajakan modern, kita bisa bedakan atau bisa mengelompokkan tiga jenis pajak. baik pusat maupun daerah, yaitu pajak atas penghasilan (tax on income), lalu pajak atas konsumsi, dan pajak atas “capital atau wealth”, ini pajak kekayaan dalam tanda kutip di sini Masalahnya yang terjadi di Indonesia, selama ini yang berkembang adalah dua yang pertama yang sangat berkembang, yang sangat dominan.
Sementara pajak kekayaan (tax on capital) itu relatif masih ketinggalan perkembangannya. Nah, di Indonesia, tax on capital yang kita sangat kenal itu adalah pajak bumi dan bangunan ya, dimana menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009, sebagian itu sudah menjadi pajak daerah. kalau kita lihat lagi berbagai literatur ilmu ekonomi keuangan negara, definisi capital
atau wealth adalah all form of marketable wealth yang tidak sekadar bumi dan bangunan.
Capital atau wealth, itu adalah properti yang tidak menghasilkan revenue the wealthing atau tempat kita tinggal, lent, dan capital. Dan capital yang terakhir ini mencakup business capital, cash and deposit with bank, financial asset, dan social capital. Business capital itu adalah kita bisa bedakan antara fixed capital, premises plant machinery, floating capital, dan financial capital. capital taxes ini adalah kalau kita cermati dari berbagai literatur, merupakan salah satu pajak tertua di dunia yang sudah ada sejak zaman Romawi. Yang mula sekali dikenakan memang adalah tanah dan tempat tinggal atau bumi dan bangunan. Perkembangan ekonomi dan perkembangan teknologi membuat cakupannya itu semakin luas. di Indonesia, cakupannya tetap masih bumi dan bangunan. Jadi, kita memang masih sangat ketinggalan dibandingkan dengan banyak negara di dunia.
Isu pajak berganda (double taxation) atau bahkan multiple taxation. kalau kita mengutip Adam Smith sejak lebih dari 200 tahun yang lalu sampai sekarang, mereka menyatakan bahwa tidak mungkin memang kita menghindari double atau multiple taxation. Tidak mungkin kita bisa murni 100% dalam kehidupan di dunia ini menghindari double taxation. Itu hanya mungkin kalau di dunia ini hanya ada satu jenis pajak.
Beberapa ahli ekonom dan public finance specialist, sejak 200 tahun yang lalu sampai sekarang, memang menyatakan bahwa adalah hal yang tidak mungkin di dalam hidup sehari-hari untuk 100% menghindari terjadinya pajak berganda. Itu hanya dimungkinkan kalau di dunia ini hanya ada satu jenis pajak. Jadi, misal mungkin membayar PBB, membayar pajak kendaraan bermotor, juga membayar PPN kalau melakukan transaksi, juga membayar income tax. Jadi, kalau melihat dari siapa yang membayar, memang banyak sekali jenis pajak yang kita bayar. Melihat basisnya juga bisa begitu, banyak bisa dijumpai contoh sehari-hari.
Double taxation atau multiple taxation praktis yang murni, praktis sulit dihindari. lalu isu diskriminasi. Bahwa salah satu prinsip desentralisasi yang kita gunakan adalah memberikan keleluasaan kepada daerah dalam mengenakan tarif pajak sesuai batasan yang ditetapkan, atau bahkan untuk tidak menerapkan tarif sama sekali.
Jadi di sini dimungkinkan kepada daerah untuk menerapkan tarif yang terendah atau tidak menerapkan tarif bisa berbeda dengan tetangganya. Hal ini berdasarkan prinsip untuk efisiensi ekonomi dimana kompetisi dimungkinkan untuk sampai tahap tertentu dalam rangka menarik investor, dan dalam rangka menarik barangkali penanaman modal di daerah yang bersangkutan. Dan juga di dalam rangka tidak menghambat pergerakan barang antardaerah, pergerakan manusia antar daerah, dan pergerakan bisnis antar daerah.
Pajak kendaraan bermotor adalah pajak yang sangat signifikan. Jumlahnya untuk PKB tahun 2011 itu adalah Rp15,9 triliun, untuk BPNKB adalah Rp18,022 triliun, tahun 2011. Untuk alat-alat berat sendiri ya, sebagai bagian dari PKB itu dan BPNKB tersebut tahun 2011 itu adalah sekitar Rp443,9 miliar, lalu BPNKB Rp610,8 miliar. Yang kalau kita total adalah PKB dan BPNKB untuk alat berat itu tahun 2011 sekitar 3,1% dari total pajak realisasi penerimaan pajak kendaraan bermotor dan bea balik nama kendaraan bermotor.
Seandainya uji Pasal 1 angka 13, Pasal 5 ayat (2), Pasal 6 ayat (4), dan Pasal 12 ayat (2) dari Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 ini, misalnya memenuhi apa yang diinginkan oleh para Pemohon, itu artinya kalau yang hilang hanya pajak kendaraan bermotor dan bea balik nama kendaraan bermotor dari alat berat, itu jumlahnya barangkali hanya 3,1%. karena itu semua menghilangkan penerimaan dari PKB dan BPNKB itu jumlahnya adalah Rp. 33,9 triliun, yang untuk daerah sangat signifikan. Barangkali dari kacamata nasional atau dibandingkan APBN itu tidak terlalu signifikan.
Penguatan local taxing power ini harus dilakukan terus-menerus agar ketimpangan vertikal dalam arti penguasaan oleh pusat dibandingkan oleh penguasaan daerah mengenai sumber-sumber pajak itu bisa dikurangi. Kita tahu pusat menguasai sebagian besar pajak-pajak yang potensial, sementara daerah itu hanya sedikit pajak yang potensial yang dikuasainya.
Dan dari sekian yang sedikit yang potensial bagi pajak daerah, bagi penerimaan daerah, PKB dan BPNKB itu adalah merupakan pajak yang terpenting.
Mengingat tax ratio (rasio pajak), yaitu perbandingan antara penerimaan pajak dengan produk domestik bruto kita di Indonesia, itu masih relatif
rendah dibandingkan negara-negara tetangga, apalagi dibandingkan negara-negara maju, sekitar 12% atau 13%. Kalau kita memasukkan juga pajak daerah, maka tidak sampai 14% penerimaan pajak total pusat dengan daerah dibandingkan dengan PDB. Negara-negara ASEAN pada umumnya itu sudah di atas 17%, ada yang sudah sampai 21% untuk Singapura, misalnya.
Salah satu penyebabnya adalah karena coverage yang belum mencakup objek-objek yang potensial. Yang di sini yang saya mau soroti adalah belum benar-benar memperluas tax, taxes on capital, tax on capital itu relatif belum diberdayakan dari sekian banyak sebab lainnya. Alat-alat berat ini masuk kategori capital. Yang bisa dan layak untuk dijadikan pajak, dikenakan pajak.
PKB dan BPNKB alat berat itu tidak menyalahi berbagai kriteria atau prinsip perpajakan dan yang ada di dalam ilmu keuangan negara. Yang saya lihat di sini, kalaupun ada masalah di sana, persoalannya itu hanyalah nomenklatur. Penamaan yang barangkali membuat persepsi yang berbeda dan barangkali di sini bisa saja kita ubah namanya menjadi pajak alat berat dan alat besar, bukan pajak kendaraan bermotor.