Saksi bekerja di sektor konstruksi, menyampaikan mengenai jenis-jenis pekerjaan dalam sektor konstruksi. Yang banyak menggunakan alat berat, antara lain sektor gedung dan infrastruktur. Untuk sektor gedung, antara lain gedung perkantoran, apartemen, mall, rumah sakit, dan high rise building lainnya. Sedangkan untuk pekerjaan infrastruktur, antara lain pekerjaan jalan dan jembatan, bendungan, pekerjaan pengairan, dermaga, tunneling, dan pekerjaan-pekerjaan lainnya.
Dari dua jenis pekerjaan konstruksi tersebut, kami menggunakan alat berat yang berbeda. Untuk proyek-proyek gedung, sebagai ujung tombak dari bagian tersebut adalah tower crane, tower crane adalah seperti tangan raksasa, dimana dia akan mengangkat barang-barang berat dan memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lainnya. Kemudian, juga ada mobile crane, mobile crane ini fungsinya juga hampir sama, dia ada roda tapi roda ini sekedar untuk memindahkan badannya, tetapi yang paling berfungsi adalah tangannya, sama dengan tower crane.
Alat pancang juga demikian, alat pancang kami pakai dan dia ada roda, roda ini dipakai hanya untuk memindahkan badan tetapi tidak untuk main produknya, hanya untuk menggeser badan-badannya saja. Kemudian, ada
bulldozer, excavator itu juga sama, fungsinya dia adalah memindahkan tanah atau meratakan tanah, dia memang ada roda, tapi roda di sini hanya untuk mobil dia maju, mundur, terus bergerak tangganya.
Kemudian untuk pekerjaan sipil, itu juga ada bulldozer, excavator, motor grader, stun cruiser, AMP (Asphalt Mixing Plant), alat pancang, dan bore pile. Yang mana kesemuanya ini, mempunyai roda tapi roda ini tidak mempunyai fungsi utama dari produk alat-alat ini. Dan alat-alat ini tidak berdiri sendiri, dia merupakan satu kesatuan, tidak bisa bore pile itu akan bermanfaat tanpa didukung oleh alat-alat lainnya.
Sebagai kontraktor mengatakan bahwa mereka semua ini adalah alat, alat harus dirangkai dengan alat lainnya sehingga bisa berfungsi dan menghasilkan produk. Dari uraian tadi, kalau bisa disimpulkan memang tidak ada literatur persis apa definisi dari alat berat. Kami mencoba di lapangan mendefinisikan versi kami. Alat berat adalah alat bermotor yang dirancang khusus membantu tahapan pelaksanaan konstruksi, dan tidak dimaksudkan beroperasi di jalan raya. Jadi, alat-alat yang dirancang khusus untuk tahapan-tahapan konstruksi, sehingga dia harus didukung oleh alat konstruksi yang lainnya.
Menyambung dari keterangan Saksi pertama, kami juga mempunyai wilayah operasi di Riau. Sampai terakhir tadi sebelum berangkat kami konfirmasi lagi, “Apakah Anda membayar atau dikenakan pajak kendaraan bermotor untuk alat-alat berat?” “Tidak, yang ada hanya kita membayar pajak atas dump truck yang memang beroperasi di jalan raya.
Ahli dari para Pemohon 1. Philipus M. Hadjon
Pendapat hukum Ahli, dikemukakan dengan mengajukan empat pertanyaan atau empat isu. pertanyaan pertama, apakah alat berat termasuk pengertian kendaraan bermotor menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009?
Mungkin ada yang mempertanyakan, kenapa kok dikaitkan dengan Undang-Undang Nomor 22, padahal yang diuji adalah Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 28?
Alasan saya, pengertian kendaraan bermotor landasan utamanya adalah Undang-Undang Lalu Lintas Jalan. Dan dari sisi lain, ketentuan Pasal 50A Undang-Undang MK sudah dinyatakan tidak berlaku. Jadi, larangan bahwa
MK menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar dengan menggunakan Undang-Undang lain sejak 18 Oktober 2011 sudah dinyatakan tidak berlaku.
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009, di dalam Pasal 1 angka 7 dinyatakan, “Kendaraan adalah sarana angkut di jalan.” Sehingga pertanyaannya, apakah alat berat termasuk pengertian sarana angkut di jalan? Dengan demikian genus kendaraan adalah sarana angkut di jalan.
Apakah alat berat merupakan sarana angkut di jalan? Kalau alat berat bukan sarana angkut di jalan, alat berat tidak termasuk pengertian kendaraan. Ini didasarkan pada asas ejusdem generis. Jadi genus-nya adalah sarana angkutan di jalan, kalau dia tidak termasuk genus itu maka dia bukan kendaraan atas dasar itu pertanyaan menyusul, layakkah terhadap alat berat dikenakan pajak kendaraan?
Pertanyaan kedua, apakah definisi kendaraan bermotor menurut Pasal 1 angka 13 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 merupakan definisi yang tepat? Ya di sini kita lihat dahulu pada logika, apa sebetulnya fungsi dari definisi, fungsi definisi adalah membatasi suatu pengertian atau suatu konsep. Kalau di dalam Pasal 1 angka 13, definisi kendaraan bermotor itu ditambah dengan kata termasuk alat berat berarti fungsi membatasi sudah tidak ada.
Pertanyaan ketiga, apakah dimungkinkan pengunaan pengertian kendaraan bermotor dalam Undang-Undang Nomor 28 berbeda dengan pengertian kendaraan bermotor dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009, tidak bisa, karena prinsip pengertian kendaraan bermotor kita lihat pada undang-undang yang menjadi landasan utamanya adalah Undang-Undang Lalu Lintas Jalan. Di sini saya katakan, dari sisi Undang-Undang Lalu Lintas Jalan itu dia merupakan lex specialis, ini yang harus diterapkan.
Pertanyaan terakhir, sebagai pertanyaan inti, berdasarkan analisis atas tiga pertanyaan tersebut di atas, apakah ketentuan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 yang terkait dengan pajak atas alat-alat berat, yaitu ketentuan Pasal 1 angka 13, Pasal 5 ayat (2), Pasal 6 ayat (4), dan Pasal 12 ayat (2) konstitusional? Saya katakan, analisis atas pertanyaan tersebut di atas di tentukan Pasal 28D ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945. Jadi, mengukur konstitusionalitas ini adalah Pasal 28 ayat (1) adalah asas kepastian hukum.
Kalau dengan asas kita lihat definisi kendaraan bermotor dalam Undang-Undang tentang Pajak dan Retribusi Daerah tadi maka kita dilihat di sini menimbulkan suatu ketidakpastian, karena definisi kendaraan bermotor dalam Undang-Undang Pajak dan definisi kendaraan bermotor itu berbeda dengan Undang-Undang Lalu Lintas Jalan dan ini sebetulnya tidak boleh terjadi. Sebab sasarannya adalah kendaraan bermotor yang diatur di dalam Undang-Undang Lalu Lintas Jalan.
Kalau demikian, definisi tadi inkonstitusional, maka dengan sendirinya pasal-pasal turutannya yang berkaitan dengan pengenaannya pajak atas alat berat dengan sendirinya inkonstitusional.
Yang pertama, kalau pajak itu tidak berkaitan dengan prestasi langsung, pengertian prestasi langsung tentunya melawankan pajak dengan retribusi.
Retribusi berkaitan dengan prestasi langsung. Tetapi pajak, apakah benar dia tidak berkaitan dengan prestasi langsung? Untuk apa? Rakyat harus menikmati apa yang dilakukan oleh pemerintah karena dia membayar pajak? Yang punya kendaraan berhak menikmati jalan yang baik karena dia yang bayar pajak, itu pun prestasi. Tetapi itu adalah prestasi yang tidak langsung, jadi pembedaan. Pajak retribusi kalau kita kait dengan soal prestasi, maka retribusi prestasi langsung, sedangkan pajak bukanlah prestasi langsung. Dan Kalau dikaitkan dengan double taxation, barangkali ya.
Kemudian, kaitan dengan Pasal 7, Pasal 8, dan Pasal 19, dari kendaraan bermotor roda dua tadi. Pasal 7 memang bisa dipertanyakan. Pasal 7 itu definisi tentang kendaraan, sedangkan Pasal 8 definisinya tentang kendaraan bermotor. Jadi ini dua hal yang berbeda.