• Tidak ada hasil yang ditemukan

TANGGAPAN PEMERINTAH ATAS KETERANGAN SAKSI DAN AHLI PARA PEMOHON

Terhadap Keterangan Ahli Pemohon Prof. Philipus M. Hardjon, Prof. H.A.S.

Natabaya, dan Darusallam yang pada pokoknya menyatakan bahwa

perbedaan pengertian kendaraan bermotor yang ada dalam UU PDRD dengan UU Lalu Lintas menimbulkan ketidakjelasan sehingga hal tersebut telah melanggar asas kejelasan rumusan dan asas keadilan, dapat Pemerintah sampaikan bahwa pengertian kendaraan bermotor dalam UU PDRD pada dasarnya tidak berbeda dengan pengertian kendaraan bermotor dalam UU Lalu Lintas, hal ini terlihat dalam Pasal 47 ayat (2) UU Lalu Lintas yang menyebutkan “Kendaraan bermotor sebagaimana ayat (1) huruf a dikelompokan berdasarkan jenis: e. Kendaraan Khusus” dan dalam Penjelasan Pasal 47 ayat (2) huruf e disebutkan “Yang dimaksud dengan

“kendaraan khusus” adalah Kendaraan Bermotor yang dirancang khusus yang memiliki fungsi dan rancang bangun tertentu, antara lain: c. alat berat antara lain bulldozer, traktor, mesin gilas (stoomwaltz), forklift, loader, excavator, dan crane; serta...” berdasarkan hal tersebut maka jelas terbukti bahwa dalam UU Lalu Lintas pun alat berat juga dimasukan kedalam kategori kendaraan bermotor.

Selain itu Pemerintah tidak sependapat dengan keterangan Ahli Prof. Dr.

Bagir Manan dan Prof. Dr. Laica Marzuki yang pada pokoknya menyatakan bahwa UU PDRD telah melanggar prinsip keadilan karena telah menyamakan dua hal yang berbeda yaitu kendaraan bermotor dengan alat berat. Dapat Pemerintah sampaikan bahwa dalam UU PDRD Pemerintah telah membedakan tarif bagi dua kelompok objek yang berbeda, dimana tarif PKB dan BBN-KB bagi kendaraan bermotor umum jauh lebih tinggi dari tarif PKB dan BBN-KB atas alat berat dan alat besar, dimana hal tersebut sebenarnya telah disampaikan oleh saksi Tjahyono Imawan (halaman 10 risalah sidang tanggal 15 Maret 2012) yang menyatakan bahwa tarif antara kendaraan bermotor dan alat berat berbeda.

Terkait dengan keterangan Ahli Dr. Maruarar Siahaan yang menyatakan bahwa norma UU PDRD yang memberi kewenangan untuk menetapkan tarif dalam skala yang ditentukan, sehingga menyebabkan perbedaan perlakuan dalam wilayah yang berbeda dalam NKRI terhadap objek yang sama, tidak sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945. Pemerintah berpendapat bahwa Peraturan Daerah sebagai produk otonom Daerah adalah wewenang Daerah untuk mengatur rumah tangganya sendiri berdasarkan otonomi seluas-luasnya. Hal ini merupakan kewenangan yang

diberikan Konstitusi sebagaimana diatur dalam Pasal 18 ayat (5) dan ayat (6) UUD 1945. Dengan demikian, pemberian kewenangan kepada Daerah untuk menetapkan tarif Pajak yang ditetapkan dengan Perda, tidak bertentangan dengan UUD 1945.

Pendapat Ahli Dr. Susy Fatena Rostiyanti, Ir. Suwadjoko P. Warpani dan Ir.

Pratjojo Dewo yang pada pokoknya menyatakan alat berat sebagai alat produksi memiliki pergerakan yang rendah bahkan statis, pergerakannya hanya pada area proyek dan alat berat tidak menggunakan jalan umum.

Pemerintah berpendapat bahwa prinsip pengenaan pajak atas alat berat adalah property tax (pajak atas kekayaan), ini tercermin dari dasar pengenaan pajak tersebut, dimana pengenaan pajak atas alat berat hanya didasarkan pada nilai jual/harga perolehan. Hal tersebut berbeda dengan pajak atas kendaraan bermotor yang berjalan di jalan umum yang mengandung prinsip property tax dan road user tax (pajak atas penggunaan jalan) dimana dasar pengenaannya adalah nilai jual dan bobot yang mencerminkan tingkat kerusakan jalan, unsur bobot tersebut tidak digunakan sebagai dasar pengenaan pajak atas alat berat dengan pertimbangan bahwa alat berat tidak menggunakan jalan umum sebagaimana kendaraan bermotor pada umumnya.

Bahwa Pemerintah juga tidak sependapat dengan keterangan Ahli Dr. Dewi Kania Sugiharti yang menyatakan bahwa Perluasan objek pajak yang tidak dirumuskan secara tegas dan jelas akan mengakibatkan ketidakpastian hukum, sehingga menyebabkan UU PDRD bertentangan dengan UUD 1945. Dapat Pemerintah sampaikan bahwa pada prinsipnya, semua jenis alat berat dan alat besar masuk dalam pengertian kendaraaan bermotor yang dikategorikan sebagai kendaraan khusus sebagaimana telah Pemerintah jelaskan sebelumnya, sehingga dimasukannya alat berat sebagai objek pajak bukanlah merupakan perluasan objek pajak. Namun, untuk kepentingan perpajakan, penentuan batasan alat berat yang dapat dikenakan pajak hanya alat berat yang menggunakan roda dan motor dan tidak melekat secara permanen sebagaimana telah diatur secara tegas dan jelas dalam Pasal 1 angka 13 UU PDRD.

Atas keterangan ahli Ir. Hadjar Seti Adji, dapat Pemerintah sampaikan bahwa pada prinsipnya alat berat dan alat besar yang ditetapkan sebagai

objek PKB dan BBN-KB berdasarkan UU PDRD adalah alat berat dan besar yang bergerak di seluruh sektor, antara lain perkebunan, kehutanan, pertambangan umum, pertambangan minyak dan gas bumi, kontraktor, infrastruktur, dll. Namun UU PDRD memberikan diskresi kepada Pemerintah Daerah untuk menambah pengecualian objek PKB dan BBN-KB.

Pengecualian alat berat dan besar sebagai objek PKB dan BBN-KB atau alat berat dan besar di sektor tertentu sebagai objek PKB dan BBN-KB diserahkan sepenuhnya kepada Daerah sesuai dengan kebijakan masing-masing Daerah, dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah sebagai produk otonom atau subjek hukum mandiri.

Terhadap keterangan Prof. Dr. Irwandy Arif yang menyatakan bahwa pajak alat berat merupakan pajak ganda karena dikenakan terhadap objek yang sama karena alat berat sebagai alat produksi sudah dikenakan pajak pada saat pembeliannya, Pemerintah dengan tegas menolak keterangan tersebut karena keterangannya tersebut tidak sesuai dengan keahlian Prof. Dr.

Irwandy Arif yang merupakan ahli yang berkecimpung dalam dunia pertambangan. Lebih lanjut mengenai pendapat Prof. Dr. Irwandy Arif tersebut telah Pemerintah jelaskan sebelumnya, yang juga telah diperkuat oleh keterangan Prof. Dr. Gunadi yang menyatakan bahwa walaupun subjek dan masa pajaknya sama, namun karena dasar ketentuan pemungutan dan jenis pajaknya berbeda, secara yuridis, pembayaran PPh badan, PPN, PKB dan BBN-KB oleh wajib pajak, tidak dapat dikatakan telah terjadi pungutan pajak berganda.

Atas keterangan saksi-saksi para Pemohon dalam persidangan, secara eksplisit telah Pemerintah tanggapi melalui keterangan Pemerintah ini, adapun terkait dengan keterangan saksi Tjatur Waskito Putro yang menyatakan bahwa tidak ada literatur persis apa definisi dari alat berat.

Maka dalam praktik di lapangan mendefinisikan “Alat berat adalah alat bermotor yang dirancang khusus membantu tahapan pelaksanaan konstruksi, dan tidak dimaksudkan beroperasi di jalan raya”. Pemerintah berpendapat bahwa dengan definisi yang diberikan tersebut, dalam kalimat terakhir “...dan tidak dimaksudkan beroperasi di jalan raya” memperkuat keterangan Pemerintah, bahwa tanpa dimaksudkan beroperasi di jalan raya, alat berat kerap kali beroperasi di jalan raya.

Selain itu terkait dengan keterangan saksi Tjatur Waskito Putro yang menyatakan bahwa di Riau, sampai saat ini tidak dikenakan pajak kendaraan bermotor untuk alat-alat berat, yang ada hanya membayar pajak atas dump truck yang memang beroperasi di jalan raya. Pemerintah berpendapat bahwa keterangan tersebut tidak ada relevansinya dengan permohonan a quo karena keterangan tersebut merupakan lebih kepada implementasi dari peraturan bukan merupakan masalah inkonstitusional dari UU PDRD. Selain itu, berdasarkan saksi dari Pemerintah, yaitu Said Mukri (Kadispenda Provinsi Riau) dalam keterangannya tidak demikian.

Sehubungan dengan keterangan Saksi Pratjojo Dewo yang menyatakan bahwa dalam prakteknya di negara lain, alat berat tidak dikenakan pajak khusus atas alat berat maupun pajak kendaraan bermotor. Dapat Pemerintah sampaikan sebagaimana telah Pemerintah sampaikan sebelumnya bahwa di beberapa negara bagian Amerika Serikat seperti Carolina Utara, Georgia, dan Texas, alat-alat berat dan alat-alat besar juga dikenakan pajak dengan nama heavy equipment tax.

Atas keterangan saksi Kartono W yang menyampaikan bahwa pajak a quo bukan terkena pada produsen atau penyalurnya, tetetapi justru terkena kepada pemilik traktor, yaitu para petani secara individu atau yang bergabung misalkan Gapoktan (gabungan kelompok tani), dapat Pemerintah sampaikan bahwa objek PKB adalah kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan bermotor, sedangkan objek BBN-KB adalah penyerahan kendaraan bermotor. Sedangkan subjek PKB adalah orang pribadi atau badan yang memiliki dan/atau menguasai kendaraan bermotor dan subjek BBN-KB adalah orang pribadi atau badan yang dapat menerima penyerahan kendaraan bermotor. Dari hal tersebut jelas bahwa orang pribadi atau badan yang memiliki dan/atau menguasai kendaraan bermotor sebagai subjek PKB dan orang pribadi atau badan yang dapat menerima penyerahan kendaraan bermotor sebagai objek PKB.

Selain hal tersebut saksi Kartono W dalam persidangan juga menyampaikan keterangan yang menyatakan bahwa Alsintani (Asosiasi Perusahaan Alat dan Mesin Pertanian) pada beberapa kesempatan telah memperjuangkan agar agar produk traktor-traktor tersebut, baik roda empat maupun roda dua, justru diberikan STNKB yaitu Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor

atau BPKB (Buku Pemilik Kendaraan Bermotor) dan membayar pajak sebagaimana kendaraan bermotor lainnya. Karena STNKB dan BPKB itu diperlukan nantinya untuk menjadi anggunan di bank, sehingga bisa mendapatkan kredit (halaman 12 risalah sidang tanggal 26 April 2012).

Berdasarkan keterangan Saksi Kartono W tersebut maka jelas bahwa pengenaan PKB dan BBN-KB atas alat berat dan besar diperlukan oleh para pemilik alat berat dan besar agar para pemilik dapat memperoleh STNKB dan BPKB, sehingga para pemilik alat berat dan besar dapat memperoleh kredit dari bank dengan menganggunkan STNKB dan BPKB tersebut.

C. TANGGAPAN PEMERINTAH ATAS BUKTI-BUKTI SURAT PARA