• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAHAN DAN METODA

Dalam dokumen gabung Bunga Rampai15 x 23 edit (Halaman 180-189)

DAFTAR PUSTAKA

BAHAN DAN METODA

Penelitian dilakukan pada tahun 2012 di perairan Laut Jawa dengan daerah pengambilan sampel pada Gambar 1.

Gambar 1. Lokasi daerah sampling ikan demersal di Laut Jawa

Musim penangkapan

Data yang dianalisis merupakan data statistik perikanan dari Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tegalsari tahun 2007 – 2011. Dugaan musim penangkapan ikan ditentukan menggunakan metode persentase rata-rata (the

average percentage methods) yang didasarkan pada analisis runtun waktu (times series analysis) (Spiegel, M. R., 1961).

1. CPUE = Catch Per Unit of Effort

  m i i U m U 1 1 ……….………. (1)

U = CPUE rata-rata bulanan dalam setahun (ton/trip) Ui = CPUE per bulan (ton/trip)

m = 12 (jumlah bulan dalam setahun)

2. Up yaitu rasio Ui terhadap Udinyatakan dalam persen : U U U i p x 100 % ………..… (2) 3. Indeks Musim IMi =

t i p U t 1 1 ..……….………….. (3) IMi = Indeks Musim ke i t = Jumlah tahun dari data

4. Kriteria penentuan musim ikan ialah jika indeks musim lebih dari 1 (lebih dari 100 %) atau di atas rata-rata, dan bukan musim jika indeks musim kurang dari 1 (kurang dari 100%). Apabila IM = 1 (100 %), nilai ini sama dengan harga rata-rata bulanan sehingga dapat dikatakan dalam keadaan normal atau berimbang.

Data primer yang dianalisis diperoleh dengan pencatatan langsung di lapangan yang dilakukan melalui enumerasi yang dilakukan pada kapal cantrang contoh yang beroperasi 20 – 25 hari di PPP Tegalsari. Spesifik kapal cantrang contoh yaitu kapal dengan GT 30, Panjang 20 m, Lebar 6 m dan kedalaman kapal 4 m. Periode pengumpulan data selama 6 (enam) trip pada bulan Januari - Oktober 2012. Data yang dicatat antara lain : hasil tangkapan per tawur, posisi pada saat operasi, dan kedalaman perairan

Laju tangkap

Laju tangkap kapal cantrang dianalisa dengan memisahkan waktu penangkapan berdasarkan musim. Pembagian musim terbagi 4 (BRPL, 2004) yaitu;

1) Musim Barat (Desember-Februari) 2) Musim Peralihan I (Maret-Mei) 3) Musim Timur (Juni-Agustus)

4) Musim Peralihan II (September-Nopember)

Analisis hasil tangkapan kapal cantrang menggunakan perhitungan rumus Sparre and Venema (1998) ,sebagai berikut :

Effort Catch

CpUE

dimana CpUE : Catch per unit Effort

Catch : Jumlah hasil tangkapan (kg)

Effort : Jumlah upaya (trip, hari, tawur)

HASIL

Musim penangkapan dalam periode waktu selama 5 (lima) tahun dari tahun 2007 sampai tahun 2011 didapatkan terjadi pada bulan Maret, Agustus dan November. Musim paceklik kapal cantrang Tegal terjadi pada bulan Januari, April, Mei dan September (Gambar 2). Indeks musim penangkapan sangat rendah pada bulan September, diduda karena bulan tersebut merupakan waktu hari raya umat Islam dalam rentang 5 tahun terakhir, sehingga nelayan tidak ada yang melaut.

Gambar 2. Indeks Musim penangkapan ikan kapal cantrang

Laju tangkap

Selama periode Januari – Oktober 2012 kapal contoh beroperasi sebanyak enam trip dan memiliki hasil tangkapan total per trip berfluktuasi (Gambar 3). Rata – rata hasil tangkapan cantrang setiap trip nya adalah 32.021,5 kg/trip. Hasil tangkapan tinggi terjadi pada trip ke-3 ( 23 Maret – 18 April ). Sedangkan hasil

(0.40) (0.20) - 0.20 0.40 J F M A M J J A S O N D

tangkapan turun terjadi pada periode operasi tanggal 7 – 27 Oktober dengan hasil tangkapan sebesar 26.240 kg/trip.

Gambar 3. Periode operasi kapal contoh tahun 2012

Laju tangkap kapal cantrang cenderung menurun tiap harinya. Laju tangkap perhari tertinggi terjadi pada musim barat sebesar 2178,6 kg/hari, sedangkan paling rendah pada musim peralihan 2 yang hanya 1543,56 kg/hari. Rata-rata laju tangkap kapal cantrang contoh pada 2012 adalah 258,38 kg /tawur (Gambar 4).

Gambar 4. Rata-rata hasil tangkapan kapal contoh (kg/ hari)

Laju tangkap kapal cantrang berdasarkan musim juga cenderung menurun tiap tawur nya yang rata-rata satu jam penarikan jaring. Laju tangkap per tawur tertinggi juga terjadi pada musim barat sebesar 291,65 kg/tawur, sedangkan paling rendah pada musim peralihan 2. Rata-rata laju tangkap kapal cantrang contoh pada 2012 adalah 258,38 kg /tawur.

0 5,000 10,000 15,000 20,000 25,000 30,000 35,000 40,000 3 – 26 Januari 8 Februari - 5 Maret 23 Maret - 18 April 10 Mei - 2 Juni 19 Juni -8 Juli 7 - 27 Oktober C at ch k g /tri p) 0 500 1000 1500 2000 2500

Musim Barat Musim Peralihan 1

Musim Timur Musim Peralihan 2 Laj u t an g kap (k g /h a ri)

Gambar 5. Laju tangkap (kg/tawur) kapal cantrang berdasarkan musim.

Gambar 6. Laju tangkap ikan dominan berdasarkan musim

Laju tangkap ikan dominan mengalami fluktuasi tiap musimnya. Kenaikan ikan coklatan (Scolopsis sp) akan di ikuti dengan kenaikan kurisi (Nemipteridae) pada musim timur, tetapi diwaktu yang sama terjadi penurunan terhadap ikan kuniran (Mullidae), swanggi (Priacanthidae) dan petek (Leiognathidae).

Komposisi Hasil Tangkapan

Komposisi hasil tangkapan ikan kapal cantrang berdasarkan musim didominasi ikan kuniran (Mullidae), Coklatan (Scolopsis taeniopterus), Kurisi (Nemipteridae), swanggi (Priacanthidae), petek (Leiognathidae), kapasan (Pentaprion longimanus), kecuali pada musim peralihan II yang didominasi oleh cumi-cumi (Lolligo sp) 0 50 100 150 200 250 300 350

Musim Barat MusimPeralihan 1 MusimTimur MusimPeralihan 2 Laj u t an g kap ( kg/t awu r) 0 10 20 30 40 50 60 70 80

Musim BaratMusim Peralihan 1Musim TimurMusim Peralihan 2

Laj u t an g kap (k g /taw u r) Nemipteridae Scolopsis sp Priachantus sp

Gambar 7. a)-d) Komposisi hasil tangkapan kapal cantrang berdasarkan musim .

BAHASAN

Musim penangkapan kapal cantrang besar di Tegal terjadi pada sekitar bulan Maret, bulan Agustus dan bulan November. Musim paceklik kapal cantrang Tegal terjadi pada bulan Januari, April, dan September. Perkiraan musim penangkapan ini berbeda dengan hasil yang diperoleh berdasarkan kapal contoh, dimana laju tangkap ikan tertinggi terjadi pada periode operasi musim barat (Januari-Februari). Pebedaan ini diperkirakan bahwa musim penangkapan berbeda dengan musim ikan di alam. Secara sederhana musim penangkapan ikan dalam

0 5 10 15 20 25 30 Haemulidae Lutjanus malabaricus Sphyraena spp Carangidae Abalistes stellaris Sciaidae Saurida spp Priachantus sp Nemipteridae Mullidae Persentase (%) a) Musim Barat 0 5 10 15 20 25 30 Haemulidae Sphyraena spp Caesio cuning Carcharanidae leioghnatidae pentaprion longimanus Loligo spp Nemipteridae Mullidae Persentase (%) b) Peralihan I 0 5 10 15 20 25 30 Campuran Epinephelus spp Caesio cuning leioghnatidae Priachantus sp Sciaidae Sphyraena spp Lutjanidae Carangidae Clupeidae Abalistes stellaris Loligo spp Saurida spp tetraodontidae Nemipteridae Mullidae Selaroides Scolopsis taeniopterus Persentase (%) c) Musim Timur 0 5 10 15 20 25 30 Lutjanus malabaricus Saurida spp Letrinus lencam Haemulidae Epinephelus spp Sphyraena spp Sciaidae pentaprion longimanus Caesio cuning Abalistes stellaris Nemipteridae Selaroides Mullidae Priachantus sp Scolopsis taeniopterus Loligo spp Persentase (%) d) Peralihan II

setiap tahun merupakan periode (bulan) dimana jumlah hasil tangkapan lebih dari rata-rata hasil tangkapan selama periode tahun tersebut (Uktolseja, 1993). Menurut Ernawati dan Sumiono (2009), perubahan cuaca sangat berpengaruh terhadap keberhasilan hasil tangkapan cantrang. Menurut Badrudin et al., (1989) bahwa pada periode musim barat dimana kawasan yang relatif teduh terjadi diperairan pantai timur Lampung atau sekitar Sumatera Selatan, ternyata menghasilkan laju tangkap yang tinggi dibandingkan dengan kawasan lainnya. Selama periode bulan Januari 2012 – Oktober 2012 kapal contoh beroperasi sebanyak 6 (enam) trip dan memiliki hasil tangkapan total per trip berfluktuasi. Hasil tangkapan tertinggi terjadi pada trip ke-3 ( 23 Maret – 18 April ) sebesar 35.567 kg/trip, sementara hasil tangkapan terendah terjadi pada periode operasi tanggal 7 – 27 Oktober dengan hasil tangkapan sebesar 26.240 kg/trip. Rata – rata hasil tangkapan cantrang setiap trip nya adalah 32.021,5 kg/trip dan hasil ini lebih tinggi dari hasil penelitian Ernawati et al. (2011) yang mendapatkan rata – rata hasil tangkapan cantrang setiap trip nya sekitar 27.298,6 kg/trip Komposisi hasil tangkapan ikan demersal tiap tawurnya berdasarkan musim menunjukan suatu pola, ketika jumlah hasil tangkapan jenis ikan Nemipteridae (Nemipterus spp dan Scolopsis spp) naik, akan diikuti dengan berkurangnya hasil tangkapan Priacanthidae dan Mullidae, begitu juga sebaliknya. Hal ini menunjukkan bahwa adanya 2 (dua) pengelompokan jenis-jenis ikan dan pola ini masih perlu penelitian lebih lanjut.

Komposisi hasil tangkapan ikan kapal cantrang berdasarkan musim didominasi ikan kuniran (Mullidae), Coklatan (Scolopsis taeniopterus), Kurisi (Nemipteridae), Swanggi (Priacanthidae), Petek (Leiognathidae), Kapasan (Pentaprion longimanus), kecuali pada musim peralihan II yang didominasi oleh cumi-cumi (Lolligo sp). Menurut Badrudin et al. (2011), jenis ikan hasil hasil tangkapan cantrang yang dominan pada tahun 2008-2010 antara lain ikan Swanggi (Priacanthus spp), Coklatan (Scolopsis taenipterus), Kurisi (Nemipterus spp) dan Gulamah (Scianidae). Penelitian Sumiono et al. (2002) di perairan utara Jawa Tengah, menunjukkan komposisi hasil tangkapan ikan demersal didominasi oleh ikan petek (Leiognathidae) dan ikan kurisi (Nemipteridae). Widodo (1980), menemukan di perairan Laut Jawa bagian barat, jenis ikan demersal yang

daerah penyebarannya merata dari kedalaman 20 – 80 m adalah kuniran (Upeneus spp), kurisi (Nemipterus spp) dan beloso (Saurida spp).

Penyebaran ikan demersal di perairan Indonesia sangat dipengaruhi oleh dua musim yang menonjol yaitu musim timur dan musim barat, dimana perubahan musim tersebut biasanya diikuti oleh adanya perubahan kondisi lingkungan perairan. Distribusi gerombolan ikan demersal baik pada musim timur maupun musim barat melakukan migrasi menuju suatu tempat yang relatif sempit (Dwiponggo et al., 1989).

Ernawati et al. (2011) mendapatkan daerah penangkapan cantrang terbagi dalam dua kelompok area perairan. Kelompok pertama berada di Laut Jawa sebelah barat (Perairan Timur Sumatera dan selatan Bangka-Belitung) dan kelompok kedua di Laut Jawa Selatan Kalimantan (sekitar Tanjung Puting dan Tanjung Selatan).

KESIMPULAN

1. Musim penangkapan ikan demersal terjadi pada sekitar bulan Maret, Agustus dan November serta musim paceklik terjadi pada Januari, April, Mei dan September.

2. Laju tangkap kapal cantrang besar tertinggi juga terjadi pada musim barat sebesar 291,65 kg/jam dan paling rendah pada musim peralihan 2 sebesar 240,7 kg/jam, sementara rata-rata laju tangkap adalah 258,38 kg /tawur.

PESANTUNAN

Tulisan ini merupakan kontribusi dari kegiatan hasil penelitian pengkajian sumberdaya ikan demersal di WPP716- Laut Sulawesi dan WPP 712- Laut Jawa Tahun 2012 di Balai Penelitian Perikanan Laut, Jakarta.

DAFTAR PUSTAKA

Balai Riset Perikanan Laut. 2004. Musim Penangkapan Ikan di Indonesia. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta 116 hal

Badrudin, Aisyah, & Tri Ernawati. 2011. Kelimpahan stok sumberdaya ikan demersal di Perairan Sub Area Laut Jawa. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia, no. 1 Vol. 17 Hal. 11-20. Jakarta

Badrudin, H. Wahyono, & S. Umiyati. 1989. Sumberdaya ikan demersal yang potensial bagi bahan baku pakan ikan budidaya. Prosiding Temu Karya Ilmiah Penelitian Menuju Program Swa-Sembada Pakan Ikan Budidaya. Prosiding Pusat Penelitian dan Pengembangan no. 17/1989: 73-77 DJPT, 2011. Peta Keragaan Perikanan Tangkap di Wilayah Pengelolaan

Perikanan Republik Indonesia. Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, 2011.

Dwiponggo et al., 1989. Dwiponggo, A. Badaruddin, D. Nugroho dan S. Yono. 1989. Potensi dan Penyebaran Sumberdaya Ikan Demersal. Jakarta: Dirjen Perikanan, Pustlitbang Oseanologi. Deptan.

Ernawati, T & B. Sumiono. 2009. Fluktuasi Bulanan Hasil tangkapan Cantrang yang berbasis di Pelabuhan Perikanan Pantai Tegalsari Kota Tegal. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. No. 1 Vol. 15. Jakarta

Ernawati, T, Nurulludin & Suherman Banon, 2011. Produktivitas, komposisi hasil tangkapan dan daerah penangkapan jaring cantrang yang berbasis di ppp Tegalsari, Tegal. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia, no. 3 Vol. 17 Hal. 11-20. Jakarta

Sparre & Venema, 1998.Introduction to Tropical Fish Stock Assessement. Part 1. FAO

Spiegel, M. R., 1961. Theory and Problems of Statistics. Schaum Publ. Co., New York. 359 p.

Subani, W. & Barus, H.R. 1989. Alat penangkapan ikan dan udang laut di Indonesia.Jurnal Penelitian Perikanan Laut, No.50 (Special Edition). Balai Penelitian Perikanan Laut. Jakarta. 248 hal

Suhendrata, T., & M.D. Menick Pawarti, 1991. Perikanan Cantrang dan Prospek Pengembangannya di Perairan Kabupaten Batang. Jurnal Penelitian Perikanan Laut (64) 14 hal.Balitkanlut Jakarta

Sumiono, B., Sudjianto, Yunus Soselisa, & T.S Murtoyo. 2002. Laju tangkap dan komposisi jenis ikan demersal dan udang pada musim timur di Perairan Utara Jawa Tengah. Jurnal Penelitian Perikanan Laut. Jakarta. 8 (1) Uktolseja, J. C. B. 1993. Status perikanan ikan pelagis kecil dan kemungkinan

pemanfaatannya sebagai ikan umpan hidup untuk perikanan rawai tuna di Prigi, Jawa Timur. Jurnal Penelitian Perikanan Laut No. 80 Th. 1983. Hal.18-45.

Widodo J, 1980. Potensi dan pengelolaan sumberdaya perikanan demersal di Laut Jawa di luar kedalaman 20 meter. Tesis. SPS-IPB. Bogor

MODEL PRODUKTIVITAS UNIT PENANGKAPAN CANTRANG

Dalam dokumen gabung Bunga Rampai15 x 23 edit (Halaman 180-189)