DAFTAR PUSTAKA
KESIMPULAN DAN SARAN a Kesimpulan
1. Sediaan ikan konsumsi di perairan Kepulauan Seribu rendah 1-8,6 %. Sediaan Caesonidae lebih besar dibandingkan ikan konsumsi lainnya. Kelimpahan Caesonidae dan Scaridae lebih tinggi di daerah perlindungan sedangkan Serranidae lebih tinggi pada habitat buatan.
13.1 2 13.1 2 6.58 17.5 9 44.9 6 4.64 0 10 20 30 40 50
Calanus sp. Oithona sp. Oncaea sp. Orbulina sp. Sticholenche
sp. Oikopleura sp. Per sen tase 2.00 1.00 3.00 1.00 0.64 0 1.06 0 0.55 0.92 1.00 0.36 1.00 0 1.52 0 0 1 2 3 4
P. Kudus P. Tikus Tenggara P. Pari Timur P. Pari
2. Kondisi habitat tutupan terumbu karang di Kepulauan Seribu dalam kategori sedang. Kondisi perairannya masih mendukung kehidupan biota laut tetapi berpotensi terjadinya red tide dan pengasaman air.
b. Saran
Untuk meningkatkan sumberdaya dan pemanfaatan Serranidae, Caesonidae dan Scaridae dapat di perluas dan diperbanyak daerah habitat buatan dengan kontruksi yang sesuai. Pemanfaatan karang batu dapat dilakukan pada lokasi dengan tutupan karang sangat baik didaerah penyangga, sehingga tutupan karang hidup menjadi kondisi baik.
DAFTAR PUSTAKA
Anna, E.S.E.M. 2006. Sticholonche zanclea (Protozoa, Actinopoda) in fecal Pellets of Copepods and Euphausia sp. in Brazilian coastal waters. Braz. J. Biol., 66(3): 839-847, Sao Carlos. http://dx.doi.org/10.1590/S1519- 69842006000500009
Anonymous. 2010. Data statistik Dinas Kelautan dan Perikanan Kepulauan Seribu. 2010.
Carpenter, K.E.; Niem V.H. (eds), 1998. The Living Resource of the Western Central Pacific. Volume 4. FAO Species Identification Guide for Fihsery Purposes.
English, S., C. Wilkinson & V. Baker.1994. Survei manual for Tropical marine Resources. Australian Institute of Marine Science, Townsville. Australia. Fujita, T., Inada, T., Ishito, Y.1993. Density, Biomass and Community Structure
of Demersal Fishes of the Pacific Coast of Northeastern Japan. Journal of Oceanography Vol.49. pp. 211 to 229.
Fabry, V. J., Seibel, B. A., Feely, R. A., and Orr, J. C. 2008. Impacts of ocean acidification on marine fauna and ecosystem processes. –ICES Journal of Marine Science, 65: 414–432.
KLH.2004. Himpunan peraturan di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan
penegakan hukum lingkungan. Kementerian Lingkungan Hidup.
Kuiter, R.H. 1992. Tropical Reef-Fishes of the Western Pacific Indonesia and Adjacent Waters. Gramedia, Jakarta.
Newell,G.E & R.C. Newell. 1963. Marine Plankton. A Practical Guide. Hutchinson of London: 244 hal.
Polovina, 1991. Ecological Consideration on the Aplication of Artificial reef in the Management of Artisanal Fishery, Tropical Coastal Area Management. ICLARM, Vol. 6 Nov.1-2, Manila:87-91
Sale, P.F. 1991. Coral Reef Fishes: Dynamics and Diversity in a Complex Ecosystem. San Diego, CA: Academic Press. p. 33-35.
Soegianto, A. 1994. Ekologi Kuantitatif. Usaha Nasional. Surabaya
Subani, W., 1978. Studi Perikanan Muroami Sebagai Penunjang Perikanan Rakyat, LPPL, Jakarta. _________., 1982. Penambangan karang serta dampaknya. Penelitian Perikanan Laut,Jakarta, No.28:17-23.
Sudin Perikanan dan Kelauatan, Kepulauan Seribu, 2006. Terumbu Buatan di Kepulauan Seribu.
Suharti, S.R. 2005. Keanekaragaman dan kekayaan jenis ikan karang di Kepulauan Seribu. Program Monitoring Jangka panjang keanekaragaman dan kekayaan jenis ikan karang di Kepulauan Seribu.
Suprapto, Murniyati dan K. Wagiyo. 1993. Pengaruh berbagai bentuk dan bahan terumbu buatan terhadap komunitas dan komposisi jenis. Bulletin Penelitian Perikanan Laut. Edisi khusus No. 4. Pelestarian Lingkungan Hidup Perikanan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan: 198-208. Taylor, F.J.R.1978. Dinoflagellates from the International Indian Ocean
Expedition. Bibl. 132 : 234 pp.
Thomas,G.T. & P.J. Kailola, 1984. Trawled Fishes of Southern Indonesia and Northwestern Australia.
TPI Muara Angke, 2001-2007. Rekap Data Pendaratan Ikan. Sudin Perikanan dan Kelauatan, Jakarta Utara.
Wagiyo, K., Wasilun dan Murniyati. 1993. Kajian beberapa aspek transplantasi karang dalam mendukung rehabilitasi terumbu karang. Bulletin Penelitian Perikanan Laut. Edisi khusus No. 4. Pelestarian Lingkungan Hidup Perikanan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan. 176-197. Wagiyo, K. dan P. Prahoro. 1994. Pengaruh Kondisi Karang terhadap Komunitas
Ikan Hias di Kepulauan Karimunjawa. Jurnal Penelitian Perikanan Laut. No. 2. p.21-26.
Yamaji, I.1966. Illustrations of the Marine Plankton of Japan. Hoikusho, Osaka, Japan.
DINAMIKA POPULASI IKAN SWANGGI (Priacanthus tayenus) DI PERAIRAN TANGERANG - BANTEN.
Oleh
Prihatiningsih1), Bambang Sadhotomo1) dan Muhammad Taufik1) 1)
Peneliti pada Balai Penelitian Perikanan Laut Email : [email protected]
ABSTRAK
Ikan swanggi merupakan ikan ekonomis dan ekologis penting dan statusnya di perairan belum terevaluasi dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan, umur dan mortalitas ikan swanggi yang dapat memberikan kontribusi terhadap pengelolaan sumber daya ikan yang berkelanjutan dan lestari. Data frekuensi panjang dan berat ikan pada Januari – Desember 2012 diperoleh dari perairan Tangerang dan sekitarnya berasal dari hasil tangkapan jaring cantrang. Sebaran frekuensi panjang ikan dipisahkan kedalam sebaran normal menggunakan metode Bhattacharya. Hubungan panjang-berat ikan swanggi jenis jantan dan betina bersifat allometrik negatif dan memiliki faktor kondisi yang baik (k=1,26). Rata-rata ukuran pertama kali tertangkap ikan swanggi (Lc=20,84 cm) lebih besar dibandingkan dengan ukuran pertama kali matang gonad (Lm=16,03 cm). Ikan swanggi dapat tumbuh hingga mencapai panjang infinitive (L∞) = 32,34 cm dengan laju pertumbuhan (K) sebesar 0,91 tahun-1 dan nilai dugaan umur teoritis pada saat panjang ikan sama dengan nol (t0) adalah 0,14 tahun-1. Panjang maksimal ikan swanggi diduga berumur 3,5 tahun dan rata-rata panjang ikan pertama kali matang gonad (Lm) diduga berumur 0,75 tahun. Mortalitas alami (M) ikan swanggi adalah 1,67, mortalitas karena penangkapan (F) 0,83, mortalitas total (Z) 2,50 dan tingkat eksploitasi (E) sebesar 0,33 yang berarti pemanfaatannya masih dapat ditingkatkan sekitar 34% dari keadaan saat ini. Kata kunci : Pertumbuhan, umur, mortalitas, ikan swanggi, Tangerang.
PENDAHULUAN
Ikan swanggi (Priacanthus tayenus) memiliki potensi besar dalam mendukung pemenuhan kebutuhan pangan. Menurut Sivakami et al. (2001) ikan swanggi pada awalnya bukan merupakan ikan hasil tangkapan utama, namun belakangan banyak didaratkan di pelabuhan perikanan sebagai salah satu hasil tangkapan yang bersifat komersial dan menjadikan ikan ini sebagai ikan komoditas ekspor.
Ikan swanggi dikatakan bernilai ekologis karena merupakan salah satu ikan karang yang berperan dalam struktur trofik (Powell 2000). Ikan Priacanthidae merupakan ikan predator pemakan zooplankton dan dominasi makanannya berupa
udang-udangan yang berasal dari kelas krustasea (CMFRI, 2001). Dalam kaitan itu keberadaannya sangat berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem di perairan.
Ikan swanggi merupakan ikan karang demersal dengan karakteristik khusus berwarna merah muda, memiliki mata besar, dan pada sirip perut terdapat bintik berwarna ungu kehitam-hitaman (FAO 1999). Ikan swanggi memiliki daya tahan yang rendah terhadap tekanan penangkapan. Jika upaya penangkapan ditingkatkan tanpa pengendalian yang memadai, maka akan segera menunjukkan tanda-tanda 'kejenuhan' yang seterusnya akan mengarah kepada 'overfishing'. Pemahaman tentang dinamika populasi dari suatu jenis ikan yang dieksploitasi merupakan hal yang sangat penting bagi pengelolaan yang efektif dari suatu perikanan untuk memperoleh manfaat yang maksimum (Gulland, 1983).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendugaan dinamika populasi terutama pertumbuhan, umur dan mortalitas ikan swanggi di perairan Tangerang dan sekitarnya yang merupakan bagian dari WPP 712 Laut Jawa berdasarkan analisis secara analitik terhadap sejumlah data yang dikumpulkan secara periodik.
BAHAN DAN METODE