DAFTAR PUSTAKA
HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Perikanan cantrang
3 Musim dan daerah penangkapan cantrang
7.1.5 Efisiensi teknis perikanan cantrang
Analisis efisiensi antar kapal cantrang di daerah Blanakan, dihitung dengan pendekatan multi output (berdasarkan tangkapan ikan coklatan, kurisi, kuniran dan ikan lainnya). Penilaian kapasitas penangkapan berdasarkan data oprasional beberapa kapal cantrang yang berbasis di Blanakan.
Berdasarkan penghitungan DEA dengan multi output terhadap kapal cantrang yang berbasis di Blanakan, Subang, Jawa Barat diperoleh angka efisiensi yang optimal dutunjukkan oleh beberapa armada dengan nilai efisiensi (TE) mencapai 1,00. Hasil penghitungan dugaan tingkat pemanfaatan atau tingkat efisiensi armada cantrang pada musim Barat diperoleh rata-rata 0,94. Distribusi nilai pemanfaatan kapasitas (CU) dari 76 sampel kapal yang beroperasi pada beberapa daerah penangkapan pada musim Barat, terdapat 26 kapal (34%) berada pada tingkat pemanfaatan optimal yang ditandai dengan nilai efisiensi mencapai 1,00 dan armada yang lainnya 50 armada (66%) berada pada tingkat tidak optimal yang ditandai dengan pencapaian nilai efisiensi < 1,00 (Gambar 4).
Gambar 4. Efisiensi kapal cantrang Blanakan pada musim Barat
Distribusi nilai pemanfaatan kapasitas penangkapan (CU) pada musim Timur, dari 86 sampel kapal terdapat 56 kapal (65%) berada pada tingkat pemanfaatan yang
160
optimal dan yang lainnya 30 armada (35%) tidak optimal. Berdasarkan nilai rata- rata efisiensi armada cantrang pada musim Timur diperoleh sebesar 0,93. Tingkat efisiensi masing masing armada seperti pada Gambar 5.
Gambar 5. Efisiensi kapal cantrang Blanakan pada musim Timur
Hasil penghitungan kapasitas penangkapan (CU) armada cantrang pada musim Peralihan diperoleh nilai efisiensi rata-rata 0,89. Distribusi pemanfaatan kapasitas dari 84 sampel kapal pada musim Peralihan diperoleh 44 kapal (52%) berada pada tingkat pemanfaatan optimal dan yang lainnya 40 armada (48%) berada pada tingkat yang tidak optimal yaitu secara detail perolehan skor efisiensi < 0.70 sebanyak 11 armada (13%), > 0.70 sebanyak 29 kapal (34,5%) dan skor efisiensi = 0.1 berjumlah 44 kapal (52.4%) (Gambar 6).
Tingkat pemanfaatan variabel input (VIU) pada musim Barat, Timur dan Musim peralihan diperoleh nilai rata-rata VIU >0,90. Secara umum cantrang Blanakan dalam pemanfaatan variabel input pada ketiga musim tersebut sebagian besar berada pada tingkat pemanfaatan yang efisien yang ditandai oleh sebagian besar pencapaian nilai VIU =1,0 (Gambar 7).
Gambar 7. Distribusi pemanfaatan variabel input cantrang Blanakan
Kondisi faktual penangkapan ikan demersal dengan cantrang di Blanakan, Subang sebagian besar armada dalam pengoperasian penangkapan telah mencapai kapasitas yang optimal. Dalam hal ini, jumlah trip, hari operasi di laut (HOP), BBM, Es, ABK, dan biaya perbekalan Es merupakan variabel yang dapat dijadikan instrumen pengendalian kapasitas. Efisiensi kapal-kapal cantrang dapat ditingkatkan efisiensinya pada musim Barat dengan mengurangi hari operasi (HOP) rata-rata 7,6%, ABK 14,6%, BBM 18,1% dan konsumsi es 26,9%; pada Musim Timur dapat mengurangi operasi (HOP) rata-rata 14,2%, ABK 2,2%, BBM 28,0% dan konsumsi es 20,8%; pada musim Peralihan perlu mengurangi hari operasi 17,6%, ABK 8,4%, BBM 21,1% dan konsumsi es 15,4%.
BAHASAN
Dalam satu dekade terakhir, cantrang merupakan alat tangkap yang memberikan konstribusi terbesar bagi produksi ikan demersal di wilayah utara Jawa. Pada tahun 2011 perikanan cantrang di Blanakan memberikan konstribusi produksi tertinggi dengan jumlah produksi 5.600 ton. Kapal cantrang ukuran 20-30 GT yang
162
berbasis di PPI Blanakan memiliki nilai laju tangkap 5.200 kg/trip pada tahun 2012. Selain faktor kondisi daerah penangkapan dan ketersediaan sumberdaya nilai laju tangkap cantrang secara teknis dipengaruhi faktor panjang ris atas yang berpengaruh terhadap bukaan mulut jaring. Sampai saat ini perikanan cenderung mengalami perkembangan baik dari segi jumlah, ukuran kapal maupun sistem operasinya. Atmaja (2010) dalam penelitiannya tentang perikanan pukat cincin Laut Jawa bahwa dengan menurunnya hasil tangkapan per satuan upaya, sebagian armada pukat cincin mengalihkan usahanya ke perikanan cantrang.
Kapal cantrang dengan ukuran 20-30 GT yang saat ini mendominasi di Blanakan, dalam satu trip penangkapan mencapai 15-20 hari operasi. umumnya semakin besar ukuran kapal, maka lokasi penangkapan akan semakin jauh. Meningkatnya jumlah hari operasi dalam trip penangkapan erat hubungannya dengan semakin besarnya ukuran kapal cantrang. Semakin besarnya ukuran kapal, kondisi cuaca nampaknya bukan lagi menjadi faktor pembatas dalam operasi penangkapan. Hal ini sangat berpengaruh terhadap komponen-komponen operasional seperti jumlah BBM, ABK, perbekalan dan lain-lain.
Kisaran panjang tali ris atas antara 15 m hingga 36 m, bahan jaring adalah polyethelene dengan ukuran mata jaring di bagian kantong ¾ inchi. Ukuran mata jaring yang terlampau kecil, khususnya di bagian kantong menjadikan cantrang tergolong alat tangkap yang bersifat tidak selektif. Berdasarkan Permen KP 02/2011, ukuran mata jaring bagian kantong yang diijinkan minimal > 2 inchi.
Perbandingan relatif tingkat pemanfaatan kapasitas penangkapan cantrang Blanakan, Subang, Jawa Barat, berdasarkan pada musim penangkapan selama tahun 2012 menggunakan multi output (ikan coklatan, kuniran, kurisi dan ikan lainnya), menunjukkan bahwa rata-rata tingkat pemanfaatan kapasitas penangkapan (CU) pada musim Barat, Timur dan musim Peralihan sebagian besar kapal dalam memanfaatkan input yang digunakan untuk usaha menangkap ikan secara efisien yang ditandai oleh nilai efisiensi teknis (TE) mencapai 1,00. Hal tersebut menanunjukkan bahwa sebagian besar nelayan cantrang, telah memanfaatkan kapasitas penangkapan secara optimal terhadap potensi ikan yang ada, sehingga efisien dalam usaha
penangkapannya. Sementara beberapa kapal yang pencapaian nilai efisiensinya < 1,00 menunjukkan tidak efisien dan telah terjadi kelebihan kapasitas input, sehingga kapal tersebut perlu mengurangi inputan yang berlebih untuk meningkatkan nilai efisiensi penangkapannya. Jika kapasitas perikanan dikendalikan maka produksi perikanan cantrang sebenarnya mampu ditingkatkan mencapai produksi yang optimal. Misal berdasarkan hasil analisis multi output yang sesuai kapasitas perikanan cantrang yang berbasis di Blanakan pada musim Barat, Timur dan musim Peralihan masing-masing adalah 7%, 7% dan 6% lebih besar dari produksi aktual. Sehingga berdasarkan pendekatan musim tersebut (Barat, Timur dan Peralihan) masing masing mengurangi kapasitas sebesar 6%, 7% dan 6% akan memungkinkan output saat ini diproduksi optimal secara ekonomi. Berdasarkan tingkat pemanfaatan input variabel menunjukkan bahwa pada musim Barat, Timur dan musim Peralihan telah terjadi surplus penggunaan input sehingga perlu mengurangi input tersebut (Fare et al. 1994). Untuk meningkatkan efisiensi kapasitas penangkapan kapal cantrang yang berbasis di Blanakan, secara teknis dapat ditingkatkan efisiensinya pada musim Barat, Timur dan musim Peralihan dengan cara mengurangi pada input variabel yang berlebih terutama trip, hari operasi (HOP), BBM, es, ABK dan perbekalan yang menjadi instrument dalam pengendalian kapasitas penangkapan cantrang Blanakan.
KESIMPULAN
Berdasarkan tingkat efisiensi bahwa adanya kelebihan kapasitas (excess capacity) pada beberapa armada cantrang di Blanakan. Tingkat efisiensi penangkapan pada ketiga musim dapat dilakukan dengan mengurangi jumlah hari operasi di laut yang dapat berimplikasi pula pada berkurangnya konsumsi BBM dan es.
PERSANTUNAN
Kegiatan dari hasil riset kapasitas penangkapan cantrang pada perikanan demersal di Laut Jawa serta pukat cincin pada perikanan cakalang dan pelagis di Laut Sulawesi
164
DAFTAR PUSTAKA
Atmadja,S.B, & B. Sadhotomo. 1985. Aspek operacional pukat cincin di Laut Jawa. J.Lit. Perika. Laut. BPPL. Jakarta. (32): 65-72.
Berkes FR. Mahon P. MicConney R. Pollnac & Pomeroy R. 2001. Managing Small- Scale Fisheries: Alternative Directions Methods. IDRC. Ottawa.
Cooper WC, Seiford, LM, Tone, Kaoru. 2004. Data Envelopment Analysis. Massachusets: Kluwer Academic Publisher.
Fare, R. S., S. Grosskopf, & E. Kokkelenberg. 1989. Measurring Plant Capacity Utilization and Technical Change: A Nonparametric Approach. Int. Econ. Rev. 30: 655-666.
Fare R, Grooskopf S, Lovel CAK. 1994. Production Frontiers. United Kingdom: Cambride University Press. 296p
Food & Agricultural Organization. (1995) Code of Conduct for Responsible Fisheries. Rome.
KUD Mina Fajar Sidik, 2012. Rekapitulasi Keberangkatan kapal Di Pos Pengawasan Sumber daya Kelautan dan Perikanan (SDKP) Blanakan Subang. Jawa Barat.
Purwanto & D. Nugroho. 2011. Daya tangkap kapal pukat cincin dan upaya penangkapan pada perikanan pelagis kecil di Laut Jawa. J.Lit. Perikan. Ind. 17 (1): 23-30.
Sadhotomo, B., S.Nurhakim, & S. B. Atmadja. 1986. Perkembangan komposisi hasil tangkapan dan laju tangkap pukat cincin di Laut Jawa. J.Lit. Perikan. Laut. BPPL. Jakarta. (35): 101-109
Sparre, P. & S.C.Venema. 1999. Introduksi Pengkajian Stok Ikan Tropis. Buku I: Manual. Food and Agriculture Organisation. UNO. 438 pp.
Wiyono, E.S. 2005. Perspektif baru dalam pengelolaan sumberdaya ikan. Edisi Vol.3/XVII/Maret 2005-Nasional. (http:\\io.ppi-jepang.org.article.php).
Lampiran 1. Deskripsi rancang bangun cantrang di Blanakan, Subang
Keterangan:
Pemberat timah 50 – 60 kg, @ 200 gr. Bahan PE d9, d 12 dan d 15
Mata jaring (mesh size), sayap 8,25 inci, mulut 5 inci, badan 4 - 2 inci, kantong 1-3/4 inci 5” 90 # 100 # 115 # 125 # 8,25 “ “100 400 # D12 D15 400 # 400 # 400 # 410 # 380 # 342 # 300 # 248 # 200 # 200 # 150 D12 D12 D9 D9 D9 D9 D9 D12 ¾” 1” 1,5” 1,75 ” 2” 2,25 ”90 4” 3,5” 3” 2,5” 80 # 8,25 “ “100 8,25 “ “100 150 Ris at as Ø 15 mm , P 23 m Ris b aw ah Ø 15 mm , P 2 4 m 38 5”
KOMPOSISI HASIL TANGKAPAN DAN HASIL PER UNIT UPAYA