• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komposisi dan Keanekaragaman

Dalam dokumen gabung Bunga Rampai15 x 23 edit (Halaman 120-127)

DAFTAR PUSTAKA

KOMPOSISI, KEANEKARAGAMAN DAN RASIO KELAMIN IKAN PARI DI PERAIRAN CIREBON DAN SEKITARNYA

1. Komposisi dan Keanekaragaman

Hasil tangkapan ikan pari di perairan Cirebon dan sekitarnya teridentifikasi sebanyak 1.414 individu, yang terdiri atas 12 spesies dan 4 famili yaitu Dasyatidae, Myliobatidae, Gymnuridae, Rhinopteridae. Hasil tangkapan ikan pari paling banyak didapatkan pada bulan Juni dan Juli.Spesies yang paling banyak ditangkap berturut- turut adalah Himantura bleekeri (45.55%) dan Himantura gerrardi (39.53%). Komposisi dan jenis ikan pari disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Komposisi Spesies Ikan Pari yang Tertangkap di Cirebon Bulan Maret – Juli 2012

Keterangan : J = Jantan , B = Betina

Indeks keanekaragaman tertinggi pada bulan Juni sebesar 2,09 dan terendah bulan Maret 1 (Gambar 1).

J B J B J B J B J B 1Aetobatus narinari 2 3 2 6 3 6 2 24 2Aetoplatea zonura 1 1 3Dasyatis akajei 1 1 4Dasyatis kuhlii 31 40 71 5Dasyatis zugei 8 8 6Himantura bleekeri 9 30 43 74 32 88 53 108 47 160 644 7Himantura fai 1 2 3 8Himantura gerrardi 6 12 27 61 32 69 45 92 49 166 559 9Himantura granulata 6 3 3 40 7 28 1 1 89 10Himantura jenkinsii 2 3 2 3 1 11 11Himantura uarnak 1 1 12Rhinoptera javanica 1 1 2 43 144 209 282 329 1007 15 80 72 143 97 407 1414 58 224 281 425 426 Total Betina Total Jantan Total No Nama spesies Bulan Total

Gambar 1. Diagram Nilai Indeks Keanekaragaman ikan Pari di Cirebon

Indeks keseragaman menunjukkan besarnya komposisi dan jumlah individu yang dimiliki oleh setiap spesies ikan pari yang ditangkap. Nilai indeks keseragaman selengkapnya disajikan pada Gambar 2. Nilai indeks keseragaman berkorelasi positif dengan nilai indeks keanekaragaman. Pada bulan Agustus menunjukkan nilai keseragaman dan keanekaragaman yang tinggi.

Gambar 2. Diagram Nilai Indeks Keseragaman ikan Pari di Cirebon

2. Rasio Kelamin

Tiga spesies ikan pari terbanyak dipilih untuk melihat rasio antara jantan dan betina dalam masing-masing populasi. Ketiga spesies tersebut, yaitu Himatura bleekeri, Himantura gerrardi, dan Himantura granulata. Rasio kelamin dari hasil uji chi-kuadrat pada ketiga spesies tersebut disajikan pada Tabel 2. Hasil uji diketahui

122

adanya perbedaan yang nyata antara jumlah ikan jantan dan betina dimana X2 hitung > X2 tabel . Hal ini menandakan bahwa populasi ikan pari jantan dan betina di perairan cirebon, ikan jantan lebih sedikit dari pada ikan betina.

Tabel 2. Hasil Uji Chi-Kuadrat Pada Tiga Jenis Ikan Pari Dominan Di Perairan Cirebon

Spesies Jantan Betina Hasil uji chi-kuadrat

X2 Hitung X2 Tabel Himantura gerrardi 184 460 126 9.488 Himantura bleekeri 169 400 108 9.488 Himantura granulata 17 72 45 7.815 BAHASAN

Komposisi hasil tangkapan didapatkan 12 spesies ikan pari terdiri atas Himantura bleekeri (45.55%), Himantura gerrardi (39.53%), Himantura granulata (6,29%), dan Aetobatus narinari (1.7%). Perbedaan jumlah individu hasil tangkapan dipengaruhioleh banyak faktor antara lain lokasi penangkapan, waktupenangkapan dan perilaku ikan yang ditangkap. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, Widodo, A.A.P & J. Widodo (2003) komposisi hasil tangkapan ikan pari di Laut Jawa didominasi Himantura gerrardi (30,07%), Dasyatis kuhlii (18,57%), Himantura bleekeri (11,58%), Aetoplatea zonura (6,28%), dan Himantura jenkinsii (5 ,36%). Hasil penelitian Dharmadi & K. Kasim (2010) komposisi hasil tangkapan pancing rawai dasar terdiri atas Rhynchobatus djiddensis (30%), Himantura gerrardi dan

Himantura undulata masing-masing (25%), dan Gymnura zonura (20%). Komposisi

jenis pari dari hasil tangkapan cantrang didominansi oleh Himantura undulata (30%), Neotrygon kuhlii (20%), dan secara berturut-turut diikuti oleh Himanturagerrardi (15%), Pastinachus sephen, Himantura uarnacoides dan Dasyatis microps masing- masing (10%), dan Himantura jenskinsii (5%). Sedangkan hasil penelitian Nurdin, Erfind & Hufiadi (2006) komposisi hasil tangkapan pancing rawai dasar terdiri atas

Himantura gerrardi (36.4%), Himantura bleekeri (18.2%), Dasyatis fluviorum (18.2%), Himantura jenkinsii (13.6%), Himantura undulata (9.1%), dan Aebatus narinari (4.5%)

Himantura gerrardi dan Himantura bleekeri juga termasuk spesies yang paling sering tertangkap pada semua bulan pengamatan. Menurut White et al (2006), kedua spesies tersebut merupakan sepesies yang memiliki sebaran luas dan hidup di perairan pantai hingga kedalaman 60 m. Ikan pari merupakan hewan vivipar dengan kecenderungan histotrofi; melahirkan 1–4 ekor anak denganmasa kandungan yang tidak diketahui, pari muda kerap tertangkap setiap bulannya, hal tersebut mengindikasikan ikan ini tidak memijah secara musiman. Dan status IUCN (International Union Conservation of Nature) belum dievaluasi.

Nilai indeks keanekaragaman adalah suatu pernyataan atau penggambaran secara matematik yang menjelaskan informasi-informasi mengenai jumlah individu dan jumlah spesies suatu organisme (Kaswadji, 1976). Nilai indeks keanekaragaman (H’) pada setiap bulan berkisar antara 1 – 2.1, nilai indeks keanekaragaman tertinggi terdapat pada bulan Juni dengan nilai indeks keanekaragaman 2,1. Hal ini mengidentifikasikan bahwa pada bulan Juni tingkat keanekaragaman sedang, penyebaran jumlah individu sedang, dan kestabilan komunitas sedang. Pada bulan Maret, April, Mei dan Juli juga berada pada tingkat keankeragaman sedang. Hal ini sesuai dengan pernyataan Mason (1981) dalam Awaluddin (2008), yang menyatakan bahwa H’<1, keanekaragaman rendah, 1<H’<3, keanekaragaman sedang, dan H’>3, keanekaragaman tinggi. Hal ini diduga karena walaupun Himantura gerrardi dan Himantura bleekeri masih mendominasi tetapi ikan pari spesies lainnya pun ikut tertangkap. Hal ini juga didukung oleh pernyataan Soegianto (1994), bahwa suatu komunitas dikatakan mempunyai keanekaragaman jenis tinggi, jika komunitas itu disusun oleh banyak spesies (jenis) dengan kelimpahan spesies yang sama atau hampir sama. Sebaliknya, jika komunitas itu disusun oleh sangat sedikit spesies, dan jika hanya sedikit saja spesies yang dominan, maka keanekaragaman jenisnya rendah.

Nilai indeks keseragaman digunakan untuk menggambarkan keadaan jumlah spesies atau genus yang mendominasi dan bervariasi yang mempunyai kisaran nilai 0

124

– 1. Nilai indeks keseragaman di perairan Cirebon berkisar antara 0.28 – 0.58, dengan nilai indeks keseragaman tertinggi pada bulan Juni yaitu 0.58 dan dikategorikan pada tingkat keseragaman sedang. Hal ini berarti pada bulan Juni jumlah individu tiap spesies tidak sama atau merata, sementara pada bulan Maret, nilai indeks keseragamannya rendah dan mendekati angka 0, yang berarti semakin kecil keseragaman suatu komunitas.Hal ini menunjukkan bahwa penyebaran jumlah individu setiap spesies tidak sama dan ada kecenderung suatu spesies mendominasi komunitas tersebut (Pasengo, 1995).

Nilai indeks keseragaman berkorelasi positif dengan nilai indeks keanekaragaman. bulan Juni menunjukkan nilai keseragaman dan keanekaragaman yang tinggi. Hal tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain besar kecilnya armada, tipe alat tangkap, lokasi penangkapan, dan waktu penangkapan. Pada bulan Juni ditemukan ikan pari yang tertangkap oleh jaring cantrang, banyak armada kapal yang berangkat melaut, sehingga sangat berpengaruh terhadap jumlah dan jenis tangkapan.

Jika dilihat dari total penangkapan, jumlah betina lebih sering tertangkap dibandingkan jantan. Kondisi ini menandakan populasi pari jumlah betina lebih banyak dari jantan. Faktor yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan populasi adalah jumlah individu betina yang dihasilkan pada satu kali reproduksi lebih banyak. Komposisi jantan dan betina dalam populasi merupakan faktor penting untuk kelestarian populasi. Untuk mempertahankan keberlangsungan spesies, perbandingan hewan jantan dan betina diharapkan seimbang. Rasio jantan lebih tinggi dapat mengganggu kelestarian spesies dengan asumsi bahwa peluang jantan untuk melakukan perkawinan dan menghasilkan keturunan akan lebih rendah karena jumlah hewan betina yang terdapat dalam populasi tersebut lebih sedikit. Gangguan pada kelestarian populasi ini kemungkinan dapat lebih buruk jika terjadi penangkapan oleh manusia.

KESIMPULAN

Komposisi hasil tangkapan ikan pari di perairan Cirebon dan sekitarnya didominasi oleh Himantura bleekeri dan Himantura gerrardi. Indeks keanekaragaman ikan pari antara 1,01 – 2,09 , dan indeks keseragaman antara 0,28 – 0,58 Nilai indeks keseragaman berkorelasi positif dengan nilai indeks keanekaragaman. Rasio kelamin dari hasil uji chi-kuadrat menandakan bahwa populasi ikan pari jantan dan betina di perairan cirebon, ikan jantan lebih sedikit dari pada ikan betina.

DAFTAR PUSTAKA

Adrim,Mohammad. 2007. Penelitian Keanekaragaman Hayati Ikan Hiu dan Pari (Elasmobanchii) di Indonesia. LIPI.Jakarta. 40 hal.

Awaluddin. 2008. Penentuan Hubungan Kondisi Perairan dan Struktur Komunitas Zooplakton Dengan Menggunakan Primer Software Di Perairan Danau Sidenreng, Sidrap. Skripsi. Jurusan Perikanan. Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan. Universitas Hasanuddin. Makassar.

Carpenter, K.E & V.H. Niem. 1998. Vol. 3. FAO.Rome.

Dharmadi & K. Kasim. 2010. Keragaan Perikanan Cucut dan Pari di Laut Jawa. Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol 16 No. 3 Hal : 205-216

Effendie, M.I. 2002. Biologi Reproduksi Ikan. Yayasan Dewi Sri, Bogor : viii + 116 hlm.

Fahmi & Dharmadi. 2005. Status Perikanan Hiu dan Aspek Pengelolaannya. Oseana 30:1-8.

Holden M.J., Raitt D.F.S (1974) Manual of fisheries science. 2. Methods of resource investigation and their application. FAO Fisheries Technical Paper, 115. Rev. 1:211pp

Kaswadji, R. F. 1976. Studi Pendahuluan Tentang Penyebaran dan Kelimpahan Fitoplankton di Delta Upang Sumatera Selatan. Fakultas Perikanan, IPB.Bogor.

126

Nurdin, Erfind & Hufiadi. 2006. Selektivitas Alat Tangkap Ikan Pari Di Perairan Laut Jawa. Bawal Vol 1. No.1. Jakarta.

Pasengo, Y. L. 1995. Studi Dampak Limbah Pabrik Plywood Terhadap Kelimpahan dan Keanekaragaman Fitoplankton di Perairan Dangkang Desa Barowa Kecamatan Bua Kab. Luwu. Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan. Universitas Hasanuddin. Makassar.

Soegianto, Agoes. 1994. Ekologi Kuantitatif. Usaha Nasional. Surabaya.

Sugiyono. 2004. Statistik Nonparametris Untuk Penelitian. Penerbit CV. Alfabeta. Bandung.

White, W.T, P.R. Last, J.D. Stevens, G.K Yearsley, Fahmi & Dharmadi. 2006. Economically Important Sharks and Rays of Indonesia. ACIAR. Canberra. Widodo, A.A.P & J. Widodo. 2003. Perikanan Pari Artisanal Di Laut Jawa. Jurnal

SEDIAAN DAN KONDISI HABITAT IKAN KARANG KONSUMSI

Dalam dokumen gabung Bunga Rampai15 x 23 edit (Halaman 120-127)