DAFTAR PUSTAKA
HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Komposisi Hasil Tangkapan
Komposisi hasil tangkapan cantrang diperoleh lebih dari 10 jenis ikan yang sebagaian besar ikan demersal (Tabel 1). Komposisi hasil tangkapan cantrang didominasi oleh jenis Leiognathidae sekitar 45,47 % dan terendah adalah
udang sekitar 0,19 %. Ikan pelagis yang tertangkap adalah jenis Carangidae (dominan Carangoides sp) sekitar 1.99 % dan hasil tangkapan non ikan yakni dari jenis cumi – cumi (loligi sp) sekitar 1.39 %.
Hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan Achmad (2010) dan Noveldesra (2010) di perairan Brondong, menunjukkan bahwa Leiognathidae mendominasi hasil tangkapan armada cantrang di perairan Brondong sekitar 36,19 %. Berbeda halnya armada cantrang di PPP Tegalsari (Mahiswara et al. 2012) menunjukkan hasil tangkapan armada cantrang didominasi oleh tangkapan kuniran (Upeneus spp), hal ini menunjukkan bahwa daerah penangkapan yang berbeda berpengaruh terhadap komposisi hasil tangkapan. Dimana daerah penangkapan armada cantrang yang berbasis di PPP Tegalsari berada disekitar selatan Kalimantan (Perairan Utara Jawa bagian Barat), sedangkan armada cantrang yang berbasis di PPN Brondong berada di Perairan Utara Jawa bagian Timur.
Menurut Widodo (1980), menyatakan bahwa perairan Laut Jawa bagian Barat terdapat jenis ikan demersal yang mempunyai daerah penyebaran merata dari kedalaman 20 – 80 m, diantara nya adalah kuniran (Upeneus spp), kurisi (Nemipterus spp) dan beloso (Saurida spp).
Tabel 1. Komposisi hasil tangkapan cantrang di PPN Brondong
No Jenis Ikan Hasil Tangkapan
Kg % 1 PRIACANTHIDAE (swanggi) 272.00 9.48 2 NEMIPTERIDAE (kurisi) 552.00 19.23 3 CARANGIDAE (kuwe) 57.00 1.99 4 DIODONTIDAE (Buntal) 38.00 1.32 5 GERREIDAE (kapasan) 130.00 4.53 6 LEIOGNATHIDAE (petek) 1,305.00 45.47 7 MULLIDAE (kuniran) 120.00 4.18 8 TRICHIURIDAE (layur) 12.00 0.42 9 SQUIDS (Cumi) 40.00 1.39 10 SHRIMP (Udang) 5.50 0.19
11 IKAN RUCAH (Lainnya) 338.50 11.79
Total 2,870.00 100
Menurut Burhanuddin et.al (1984) menyatakan bahwa kurisi kecil hidup di perairan pantai yang dangkal, sedangkan kurisi berukuran besar hidup sampai
kedalaman 60 m. Demikian halnya dengan ikan petek, menurut Nontji (1987) menyatakan bahwa ikan petek hidup bergerombol pada perairan yang dangkal. Beck dan Sudrajat (1978) menegaskan bahwa nilai tangkapan tertinggi ikan petek diperoleh pada kedalaman perairan antara 10 – 20 m.
2. Hasil Per Unit Upaya (CPUE)
Selama kegiatan observasi pada bulan September 2012, pengoperasian cantrang dilakukan sebanyak 8 trip dengan armada cantrang one day fishing. Jumlah hasil tangkapan total per trip cukup berfluktuasi, begitu juga jumlah tawur masing – masing trip juga berbeda (Gambar 2 dan Gambar 3). Rata – rata hasil tangkapan cantrang setiap tripnya adalah 358,75 kg/trip, hasil tangkapan tertinggi terjadi pada trip hari pertama sebesar 900 kg (14 tawur) dan terendah pada trip ke- 7 sebesar 150 kg (7 tawur).
Senada dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ernawati dan Sumiono (2009) di perairan Tegal, bahwa rata - rata tangkapan armada cantrang berkisar 333,6 kg/ hari pada tahun 2006 dan 424 kg/ hari pada tahun 2007. Berbeda dengan hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh Achmad (2010) dan Noveldesra (2010) pada bulan Mei, menunjukkan bahwa hasil tangkapan cantrang di Perairan Brondong berkisar 552,5 kg/ hari, tampaknya hal ini dipengaruhi oleh musim penangkapan armada cantrang, dimana pada bulan Mei merupakan musim penangkapan armada cantrang, sedangkan observasi dilaksanakan pada bulan September yang merupakan bulan paceklik bagi perikanan cantrang.
Berdasarkan perubahan – perubahan hasil tangkapan setiap tripnya, tampaknya jumlah tawur berpengaruh terhadap perolehan hasil tangkapan, selain itu hasil tangkap juga dipengaruhi oleh cuaca. Kondisi saat dilakukan kegiatan obsevasi adalah musim peralihan, dan ini menyebabkan cuaca yang tidak menentu setiap hari. Hal ini senada dengan hasil penelitian Ernawati dan Sumiono (2009), yang menyatakan bahwa perubahan cuaca sangat berpengaruh terhadap keberhasilan hasil tangkapan cantrang. Selain itu menurut Gunarso (1985), perubahan cuaca seperti terjadinya topan dapat mempengaruhi ruaya serta keberadaan ikan pada suatu wilayah perairan. Topan dapat menyebabkan terjadinya turbulensi dan ikan biasanya akan menghindari kondisi seperti ini karena sedimen laut yang terangkat dapat merusak filamen insang ikan.
Dampak perubahan cuaca, selain mempengaruhi keberadaan sumberdaya, juga berpengaruh terhadap keberhasilan pengoperasian alat tangkap. ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan pengoperasian alat tangkap cantrang, diantaranya:
Kecepatan penarikan jaring waktu pengoperasian alat tangkap
Arus yang berpengaruh terhadap pergerakan ikan dan alat tangkap, dimana tingkah laku ikan biasanya bergerak berlawanan dengan arah arus sehingga mulut jaring harus berlawanan dengan arah pergerakan ikan.
Arah angin yang mempengaruhi pergerakan kapal pada saat operasi penangkapan.
Gambar 2. Hasil Tangkapan Cantrang Per Trip.
Total hasil tangkapan selama 8 trip sebesar 2.870 kg, dengan total jumlah tawur yang dilakukan sebanyak 62 kali tawur (rata – rata 7 hingga 8 kali per trip). Rata – rata laju tangkap adalah sebesar 44, 26 kg/ tawur dan waktu setiap kali tawur selama 30 menit, dengan demikian didapatkan nilai rata – rata laju tangkap cantrang sebesar 88,52 kg/ jam. Laju tangkap tertinggi terjadi pada trip ke-1 dan ke-5 sebesar 64.29 kg/ tawur atau 128.58 kg/ jam, sedangkan laju tangkap terendah terjadi pada trip ke-7 sebesar 21.43 kg/ tawur atau 42.86 kg/ jam (Gambar 4 dan Gambar 5).
Gambar 4. Rata-rata Laju Tangkap Cantrang di Perairan Brondong, Jawa Timur
Gambar 5. Rata-rata Laju Tangkap (kg/jam) Cantrang di Perairan Brondong, Jawa Timur
Hasil penelitian sebelumnya di PPP Tegalsari (Mahiswara, et al. 2012), menunjukkan bahwa laju tangkap armada cantrang berkisar antara 90,6 – 150,1 kg/ tawur, tampaknya perbedaan laju tangkap antara perairan Brondong dan Tegal
dipengaruhi oleh perbedaan daerah penangkapan. Selain itu, armada cantrang yang beroperasi di PPP Tegalsari merupakan armada cantrang mingguan dengan ukuran alat tangkap dan armada penangkapan yang lebih besar dibandingkan alat tangkap cantrang harian di perairan Brondong.
3. Musim dan Daerah Penangkapan
Berdasarkan pencatatan daerah penangkapan armada cantrang menggunakan alat bantu GPS, diketahui bahwa daerah penangkapan kapal cantrang pada waktu observasi laut berjarak kira – kira 20 mil dari pantai dengan waktu tempuh sekitar 3 (tiga) jam dan kedalaman 20 – 30 m. Posisi daerah penangkapan dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6. Daerah penangkapan armada cantrang di PPN Brondong
Musim penangkapan armada cantrang yang didasarkan pada nilai indeks musim penangkapan menunjukkan bahwa musim penangkapan terjadi pada bulan Maret – Mei, Agustus dan Oktober – Desember. Hal ini dapat terlihat dari nilai IMP diatas 100%. Sedangkan musim paceklik terjadi diluar bulan tersebut (Gambar 7).
Hasil observasi yang telah dilakukan pada bulan September, menunjukkan bahwa rata – rata laju tangkap berada di bawah rata – rata tangkapan cantrang setiap tahun. Hal ini menunjukkan bahwa bulan September merupakan musim paceklik bagi perikanan cantrang di perairan Brondong.
Gambar 7. Musim penangkapan armada cantrang di PPN Brondong
KESIMPULAN
Komposisi hasil tangkapan cantrang didominasi ikan demersal dari jenis Leiognathidae sekitar 45,47 % dan terendah adalah udang sekitar 0,19 %. Ikan pelagis yang tertangkap adalah jenis Carangidae (dominan Carangoides sp) sekitar 1.99 % dan hasil tangkapan non ikan yakni dari jenis cumi – cumi (loligi sp) sekitar 1.39 %.
Hasil tangkapan per unit upaya cantrang yang berbasis di PPN Brondong berkisar 21,43 – 64.29 kg/ tawur atau 44.86 – 128.56 kg/ jam.
Daerah penangkapan cantrang berjarak sekitar 20 mil dari pantai dengan jarak tempuh selama 3 (tiga) jam dan kedalaman 20 – 30 m.
Musim penangkapan cantrang berlangsung selama bulan Maret – Mei, Agustus dan Oktober – Desember.
PERSANTUNAN
Tulisan ini merupakan bagian dari kegiatan Riset Kapasitas PEnangkapan Cantrang pada Perikanan Demersal di Laut Jawa Serta Pukat Cincin pada Perikanan Cakalang dan Pelagis di Laut Sulawesi.
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous, 2012. Buku Laporan Tahunan Produksi Perikanan di PPN Brondong Tahun 2007 - 2011. Lamongan. Jawa Timur.
Achmad A. L, 2010. Komposisi Hasil Tangkapan Cantrang di Perairan Brondong, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Skripsi. Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Beck, U. And A.Sudradjat., 1979. Variation in size and compositionof demersal trawl catches from the north coast of Java with estimated growth parameters fro three important food-fish species. Special Report. Contrib. of Dem.Fish.Pro. No. 7-1979. LPPL-GTZ.
Burhanuddin., S. Martosewojo., A.Djamali dan R. Moeljanto. 1984. Perikanan Demersal di Indonesia. LON – LIPI, Jakarta.
Ernawati, T. dan B. Sumiono. 2009. Fluktuasi Bulanan Hasil Tangkapan Cantrang yang Berbasis di Pelabuhan Perikanan Pantai Taegalsari Kota Tegal. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia.
Gunarso, W. 1985. Tingkah Laku Ikan dalam Hubungannya dengan Alat, Metoda dan Taktik Penangkapan. Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan, Insitut Pertanian Bogor. Bogor. Mahiswara, et al. 2012. Pengkajian Kapasitas Penangkapan Cantrang Pada
Perikanan Demersal Di Laut Jawa Serta Pukat Cincin Pada Perikanan Cakalang Dan Pelagis Di Laut Sulawesi. Laporan Teknis Riset. Balai Riset Perikan Laut. Jakarta.
Nontji, A. 1987. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan, Jakarta. 367 hal.
Noveldesra S. 2010. Kajian Teknis Pengoperasian Cantrang di Perairan Brondong, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Skripsi. Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Suhendrata, T., dan M. Badrudin., 1990. Sumber Daya Perikanan Demersal di Perairan Pantai Utara Rembang. Jurnal Penelitian Perikanan Laut. No 54. BPPL. Jakarta
Sparre, P. and Venema, S.C. 1997. Introduction to tropical fish stock assessment. Part 1. Fisheries Technical Paper. Rome: FAO
Spiegel, M. R., 1961. Theory and Problems of Statistics. New York: Schaum Publ. Co.
Widodo, J. 1980. Potensi dan Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Demersal di Laut Jawa di Luar Kedalaman 20 meter. Tesis. Program Studi Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
MUSIM PENANGKAPAN, LAJU TANGKAP DAN KOMPOSISI HASIL