• Tidak ada hasil yang ditemukan

Batas-batas Negara

Dalam dokumen ludwig von mises menemukan kembali liberalisme (Halaman 157-160)

KEBIjAKAN LUAR NEGERI LIBERAL

1. Batas-batas Negara

Kaum liberal tidak mempertentangkan kebijakan dalam dan luar negeri, dan pertanyaan yang sangat sering muncul dan dibahas panjang lebar, tentang apakah pertimbangan kebijakan luar negeri lebih penting dari kebijakan dalam negeri atau sebaliknya, di mata mereka merupakan pertanyaan iseng. Karena liberalisme adalah, sejak awal, sebuah konsep politik yang mencakup seluruh dunia, dan ide-ide yang ingin diwujudkan di satu wilayah terbatas juga berlaku untuk wilayah lain yang lebih luas dalam politik dunia. Jika kaum liberal membedakan kebijakan dalam dan luar negeri, hal itu dilakukan semata-mata untuk memudahkan dan membuat klasiikasi, untuk membagi cakupan masalah-masalah politik yang luas ke dalam beberapa tipe besar, dan bukan karena keyakinan bahwa ada prinsip berbeda untuk keduanya.

Tujuan utama kebijakan dalam negeri liberalisme sama dengan kebijakan luar negerinya: perdamaian. Kebijakan luar negeri liberal-isme ditujukan pada kerjasama yang damai, baik antarnegara mau pun dalam sebuah negara. Titik tolak pemikiran liberal adalah peng-akuan tentang pentingnya kerjasama manusia, dan keseluruhan kebi jakan dan program liberalisme dirancang untuk menjaga kerja sama saling menguntungkan di antara umat manusia dan mengembangkannya lebih jauh lagi.

Tujuan utama yang dibayangkan oleh liberalisme adalah kerja-sama sempurna seluruh umat manusia, yang terjadi dengan damai dan tanpa friksi. Pemikiran liberal mencakup seluruh umat manusia, bukan sebagian. Pemikiran liberal tidak berhenti pada kelompok terbatas; tidak berakhir di batas desa, atau propinsi, negara, atau benua. Pemikirannya bersifat kosmopolitan dan menyeluruh, meng-ikutsertakanseluruh umat manusia dan seantero dunia. Liberalisme adalah, dalam pengertian ini, humanisme; dan kaum liberal, warga dunia, adalah kaum kosmopolitan.

dewasa ini, saat dunia didominasi oleh ide-ide antiliberal, kosmo-politanisme dicurigai oleh sebagian besar anggota masyarakat. di Jerman ada kelompok patriot fanatik yang menolak memaakan para penyair besar Jerman, terutama goethe, yang pemikiran dan perasaannya, berorientasi kosmopolitan dan tidak dikungkung oleh batas-batas nasional. Ada pendapat bahwa ada konlik yang tak mungkin diselesaikan antara kepentingan negara dan kepentingan umat manusia dan bahwa orang yang mengarahkan aspirasi dan usahanya untuk kesejahteraan seluruh umat manusia dianggap mengabaikan kepentingan negaranya sendiri. Tidak ada keyakinan yang lebih menyesatkan dari keyakinan ini.

Orang Jerman yang bekerja untuk kebaikan umat manusia tidak merugikan kepentingan sesama warga Jerman—i.e., mereka yang hidup di negara yang sama dan memakai bahasa yang sama dan dengan siapa seringkali ia membentuk sebuah komunitas etnik dan spiritual, sama halnya mereka yang bekerja demi kepentingan seluruh Jerman tidak merugikan kepentingan kampung halamannya sendiri. Ini karena setiap individu berkepentingan agar seluruh dunia sejahtera, sama seperti ia menginginkan agar komunitas di mana ia tinggal berkembang dan mencapai kemakmuran.

Kaum nasionalis yang dogmatis (chauvinistic) yang berpendapat bahwa ada konlik yang tak mungkin diselesaikan antara berbagai negara dan menginginkan penerapan kebjakan yang menjaga, bila perlu dengan kekerasan, supremasi negaranya atas negara lain, biasanya paling bersemangat dalam memaksakan pendapat bahwa

L U D W I G v o N M I S E S 125

persatuan nasional itu penting dan bermanfaat. Semakin besar penekanan mereka pada pentingnya perang melawan negara-negara lain, semakin gencar mereka mengimbau perdamaian dan harmoni di antara sesama warga negara mereka sendiri. Kaum liberal sama sekali tidak menentang tuntutan bagi persatuan nasional. Sebaliknya: tuntutan bagi perdamaian internal di setiap negara merupakan buah pemikiran liberal dan meraih tempat utama hanya ketika ide-ide liberal di abad ke kedelapanbelas telah diterima secara luas.

Sebelum falsafah liberal, yang memuja perdamaian tanpa syarat, menguasai pikiran manusia, perang tidak terbatas hanya pada konlik antarnegara. Negara-negara juga terkoyak-koyak oleh perlawanan sipil yang tak kunjung padam dan pertikaian internal yang penuh dengan pertumpahan darah.

di abad kedelapanbelas orang Inggris masih berperang melawan sesama orang Inggris di culloden, dan bahkan pada akhir abad ke-sembilanbelas, di Jerman, selagi Prusia berperang melawan Austria, negara-negara bagian Jerman lain bergabung dalam peperangan itu di kedua belah sisi. Saat itu Prusia tidak menganggap berperang di sisi Itali melawan Jerman Austria sebagai sesuatu yang salah, dan, pada 1870, hanya karena peristiwa berkembang dengan sangat cepat maka Austria tidak bergabung dengan tentara Perancis dalam perang melawan Prusia dan sekutunya. Berbagai kemenangan yang membanggakan tentara Prusia diperoleh dengan mengalahkan tentara Prusia dari negara-negara bagian Jerman lain. Liberalismelah yang pertama kali menganjurkan kepada negara-negara untuk mempertahankan perdamaian dalam kegiatan internal mereka dan dalam hubungan mereka dengan negara-negara lain.

Berdasarkan fakta pembagian kerja internasional itulah maka liberalisme menyimpulkan argumentasi tak terbantahkan dan menen tukan yang menentang perang. Pembagian kerja telah sejak lama melewati batas-batas negara. dewasa ini tidak satu pun negara beradab yang bisa memenuhi semua kebutuhannya sebagai komunitas mandiri dari produksinya sendiri.

barang-barang dari luar negeri dan membayarnya dengan mengekspor produk domestik. Apa pun yang menghalangi atau mneghentikan pertukaran internasional barang-barang akan menimbulkan keru-sakan luar biasa pada seluruh peradaban manusia dan meng gerogoti kesejahteraan, bahkan hakekat keberadaan berjuta-juta orang. di era di mana bangsa-bangsa memiliki ketergantungan pada produk asing, perang tidak lagi bisa dilancarkan.

Karena penghentian arus impor bisa menentukan akhir sebuah perang yang dilancarkan oleh sebuah negara yang terlibat dalam pembagian kerja internasional, kebijakan yang dibuat dengan mem pertimbangkan kemungkinan perang harus ditujukan untuk membuat perekonomian nasional mandiri, i.e., kebijakan itu harus, bahkan dalam keadaan damai, bertujuan untuk membuat pem-bagian kerja internasional berakhir di batas-batas negaranya. Kalau Jerman berusaha untuk memenuhi semua kebutuhannya langsung dari produksi domestik, produk tahunan total Jerman akan berkurang, dan oleh karena itu kesejahteraan, standar hidup, dan tingkat kebudayaan warga Jerman akan mengalami kemerosotan cukup besar.

Dalam dokumen ludwig von mises menemukan kembali liberalisme (Halaman 157-160)