DEMOKRASI TERPIMPIN
C. Beberapa Kabinet di masa Demokrasi Terpimpin
Pada masa Demokrasi Terpimpin, terdapat beberapa kabinet yang bekerja antara lain:
a) Kabinet Kerja I (10 Juli 1959-18 Pebruari 1960)
Pimpinan Kabinet adalah Presiden Sekarno sekaligus sebagai Pang-lima Tertinggi ABRI. Para Menteri yang ditunjuk berasal dari Non Partai dan jumlahnya banyak sekali. Program kabinet ini meliputi:
• Pemenuhan sandang-pangan rakyat dalam waktu yang singkat.
• Menyelenggarakan keamanan rakyat dan Negara. • Menentang perjuangan imperialism ekonomi dan politik. Dalam kabinet ini muncul pidato Presiden yang berjudul “Penemuan Kembali Revolusi Kita” pada Tanggal 17 Agustus 1959 dikenal dengan nama MANIPOL (Manifesto Politik Republik Indonesia)20 atau MANIPOL USDEK. Akhirnya pidato tersebut pada Tanggal 19 Nopember 1960 ditetapkan oleh MPRS No. 1/MPRS/1960 sebagai Garis-Garis Haluan Negara (GBHN) atas usulan Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS)21. Inti dari Manipol tersebut ada lima22:
ʹͲIbid.,ǤʹͳͲǤ
ʹͳIbid.,ǤʹͳͲǤǡPartai Islam, Ǥ͵ͺǤ ʹʹIbid.,ǤʹͳͲǦʹͳͳǤ
ၽၾ¤£
1. U = UUD 1945 2. S = Sosialisme Indonesia 3. D = Demokrasi Terpimpin 4. E = Ekonomi Terpimpin 5. K = Kepribadian IndonesiaMenurut Bibit, dengan ditetapkannya Manifesto sebagai GBHN dan pada akhirnya semua pidato Kenegaraan Presiden di kukuhkan oleh Tap MPRS maka hal ini menunjukkan Demokrasi Terpimpin telah dipraktekkan. Selanjutnya Bibit mengatakan bahwa seharusnya dalam UUD 1945 MPR adalah sebagai Lembaga Tertinggi Negara dan berkedaulatan rakyat, sedangkan Presiden adalah Mandataris, tapi tampaknya justru sebaliknya, justru MPR mengekor pada Presiden. Dengan demikian, hal ini telah menyalahi UUD 1945. Berakhirnya kabinet ini disebabkan adanya reshuffle kabinet.
b) Kabinet Kerja II (18 Pebruari 1960- 6 Maret 1962)
Kabinet Kerja II adalah hasil Reshuffle Kabinet I yang memerintah sejak Tanggal 18 Pebruari 1960 - 6 Maret1962. Serupa dengan Kabinet I, Pimpinan Kabinet ini adalah Presiden sendiri dan Menteri-menterinya berasal dan Non Partai.
Pada masa ini, DPR hasil Pemilu 1955 dibubarkan pada Tanggal 5 Maret 1960 dengan alasan parlemen (DPR) menolak Rancangan Ang garan Belanja Negara (RABN)23, kemudian dibentuk DPRGR (Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong) pada Tanggal 24 Juni 196024. Hal ini menunjukkan ketidakdemokrasian Soekarno dan Demokrasi Terpimpin benar-benar dipraktekkan, karena DPR sebagai lembaga kedaulatan rakyat, seharusnya pengangkatannya melalui pemilu-bukan dipilih. Dengan demikian, pengangkatan ini menyalahi UUD 1945.
ʹ͵ǡPartai Islam, Ǥ͵Ǥ ʹͶIbid.,ǤʹͳǤ
ဓ¡£¡ၽၿ
DPRGR berjumlah 261 anggota25 terbagi atas 130 untuk partai, 35 untuk ABRI, 95 untuk Golongan Karya dan 1 Wakil Daerah (Irian Barat). Adapun partai- partai yang dilibatkan adalah sebagai berikut: a) PNI = 44 orang b) NU = 36 orang c) PKI = 30 orang d) PSII = 5 orang e) Katholik = 6 orang f) Kristen = 6 orang g) Perti = 2 orang h) Murba = 10 orang i) Parkindo = 1 orang
Dalam keanggotaan DPRGR, partai Islam yang diajak hanya NU, PSII dan Perti. Sedangkan Masyumi sengaja tidak dilibatkan, menurut Deliar Noer26, Masyumi benar-benar diabaikan dan harus membuktikan bahwa Masyumi tidak terlibat dalam pemberontakan PRRI-Permesta. Namun akhirnya Masyumi dibubarkan pada Tanggal 17 Agustus 1960.
Setelah bekerja selama kurang lebih dua tahun dan berhasil melak sanakan tugasnya seperti pengiriman Pasukan Garuda II untuk perdamaian dunia, terbentuknya Negara-negara Non Blok dan pembebasan Irian Barat dari cengkraman Belanda, maka pada Tanggal 6 Maret 1962, Soekarno mengadakan Reshuffle dengan istilah Regrouping cabinet. Dengan demikian, berakhirlah Kabinet Kerja II.
ʹͷʹͳǡPerkembangan Kabinet, Ǥʹͳǡ ǡPartai Islam, Ǥ͵ǡʹͺ͵Ǥ ͳʹͻͳǡͳ͵Ͳ Ǥǡ ǡǤ ʹǡPartai IslamǡǤ͵
ၽႀ¤£
c) Kabinet Kerja III ( 6 Maret 1962-13 Nopember 1963)
Adanya Regrouping Cabinet Kerja II (Reshuffle) akhirnya melahirkan Kabinet III yang memerintah mulai tanggal 6 Maret 1962 – 13 Nopember 1963. Di dalam Kabinet III, Soekarno masih tetap sebagai pimpinan kabinet. Namun yang fenomenal yaitu pengangkatan Wakil-wakil Ketua MPRS dan DPRGR sebagai Menteri dan di dalamnya terdapat DN Aidit dan MH Lukman dari Partai Komunis Indonesia (PKI).
Pengangkatan Wakil-wakil Ketua MPRS dan DPRGR telah menya-lahi UUD 1945. Hal ini menunjukkan bahwa MPRS dan DPRGR sebagai Lembaga Tertinggi dan Lembaga Tinggi Negara dalam UUD 1945 telah terkooptasi oleh Eksekutif (Presiden) atau dengan kata lain menurut Deliar Noer,27 DPRGR dan MPRS merupakan “stempel” bagi semua pemikiran, gagasan dan keinginan Soekarno. Presiden yang mestinya di bawah MPR, tetapi justru sebaliknya. Demikian pula dengan DPRGR yang seharusnya melakukan pengawasan terhadap Eksekutif (Presiden), tetapi justru menjadi bawahan Eksekutif, sehingga pengawasan dan pengontrolan akan sulit dilakukan oleh Lembaga Legislatif (DPRGR) terhadap Eksekutif.
Selain itu, berkaitan dengan PKI, menurut Bibit28, masuknya PKI ke dalam kabinet ini pada akhirnya membahayakan Negara dan mengakibatkan Soekarno melahirkan ide NASAKOM (Nasional-Agama-Komunis). Di sini menunjukkan bahwa ideology Komunis mulai mempengaruhi system politik yang ada.
Kesalahan fatal yang dibuat secara kolektif di bawah kepemim-pinan Soekarno dalam cabinet ini adalah MPRS mengeluarkan Ketetapan (Tap) MPRS Nomor III/MPRS/1963 tentang Pengang katan Presiden Seumur Hidup
Keberhasilan kabinet ini dapat memulihkan keamanan dengan menyelesaikan kasus Irian Barat dan pemberontakan yang dilakukan Kartosuwiryo di Jawa Barat, Ibnu Hajar di Kalimantan, Daud Beureuh
ʹIbid.,Ǥ͵ͺǤ
ʹͺǡPerkembangan Kabinet, ǤʹʹͺǤ
ဓ¡£¡ၽႁ
di Aceh dan Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan. Selain itu dapat menye lenggarakan ASEAN GAMES IV dan GANEFO (Games of the New Emerging Forces).
Tampaknya Soekarno senang melakukan perubahan-perubahan cabinet atau Regrouping Cabinet (reshuffle). Terbukti di Kabinet Kerja II dan III juga dilakukan reshuffle, sehingga Kabinet Kerja III harus demisioner. Kemungkinan hal ini untuk mendapatkan penyegaran kembali kabinet yang lama.
4) Kabinet Kerja IV (13 Nopember 1963-27 Agustus 1964) Kabinet IV ini hasil Reshuffle dari Kabinet III. Posisi dalam kabinet ini sebanyak 66 jabatan, tetapi dijabat oleh 59 orang, karena ada yang merangkap jabatan sampai empat jabatan.
Kabinet ini berlangsung dari Tanggal 13 Nopember 1963 sampai dengan Tanggal 27 Agustus 1964. Jadi umurnya hanya setahun dan kabinet ini tetap dipimpin Soekarno. Meskipun telah beralih ke UUD 1945 yang mengatakan system pemerintahan Indonesia Presidensial, tapi pimpinan kabinet sejak Demokrasi Terpimpin disebut Perdana Menteri.
Sama halnya dengan kabinet sebelumnya, dalam kabinet ini, Ketua MPRS disamakan dengan Wakil Perdana Menteri dan Wakil Ketua MPRS disamakan dengan Menteri Koordinator. Jadi kesimpulannya, Lembaga MPRS sebagai Lembaga Tertinggi Negara tidak berada di atas Presiden, tetapi di bawah Presiden, karena Presiden ingin menjadi penguasa tung gal dengan menerapkan Demokrasi Terpimpinnya. Demikian pula memperlakukan Lembaga Tinggi seperti DPAS dan DPRGR.
Program kerja yang dicanangkan dalam kabinet ini adalah masalah sandang pangan, pengganyangan Malaysia dan melanjutkan pembangunan. Menurut Bibit,29 kabinet ini juga mengakomodir PKI dengan masuknya DN. Aidit, MH Lukman dan Umar Dhani. Dengan
ၾၸ¤£
demikian, menunjukkan PKI sedang berusaha menjadikan negeri ini sebagai Negara Komunis dengan mengadakan pendekatan dengan Bung Karno. Selain itu, masih menurut Bibit, bahwa konfrontasi Indonesia - Malaysia dan aksi-aksi sepihak PKI di daerah pada masa Kabinet ini adalah prolog kegiatan kudeta PKI terhadap Negara Pancasila. Di sini telah terlihat perjuangan yang bersifat ideologis dari PKI.
Kabinet Kerja IV hanya berumur Sembilan bulan dan berakhir pada Tanggal 27 Agustus 1964, karena adanya Regrouping Cabinet (reshuffle).