• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Yang Bersifat Antagonis k (1966-1981)

Dalam dokumen Politik Indonesia (Halaman 50-54)

DEMOKRASI PANCASILA

D. Hubungan Agama dan Negara

1. Hubungan Yang Bersifat Antagonis k (1966-1981)

Hubungan ini ditandai oleh gagalnya rehabilitasi Masyumi dan berdirinya Parmusi munculnya aliran kepercayaan dalam siding umum MPR tahun 1973 pengajuan Rancangan Undang-Undang Perkawinan dan masalah fusi partai, Juga penumpasan Gerakan 30 S/PKI di Indonesia tidak hanya melibatkan militer tetapi juga rakyat secara keseluruhan, terutama umat Islam, mahasiswa, dan pemuda. Meskipun demikian, PKI dan pengaruh Soekarno masih kuat di

͵͸„†—Ž—‹”—ŽƒǡPerubahan Perilaku Politik dan Polarisasi Ummat Islam 1965-1987 dalam Perspektif Sosiologis, ȋƒƒ”–ƒǣƒŒƒ™ƒŽ‹”‡••ǡͳͻͺͻȌǡŠƒŽͳʹ͵

͵͹„‹†ǤǡŠƒŽǤͻͷ ͵ͺ„‹†Ǥ

͵ͻ„†—Žœ‹•Šƒ„ƒǤǡŠƒŽǤʹͶͲ

Š‹ဓŽ˜œ–¡Š£“ŠšŒŠ£“—Š™ႀႁ

Jawa Tengah dan Jawa Timur,40 sehingga rakyat Indonesia masih mengadakan perlawanan terhadap PKI.

Hal ini ditandai dengan berlangsungnya rapat umum pertama pada tanggal 4 Oktober 1966 41yang dihadiri oleh partai-partai dan organisai-organisasi seperti Nahdlatul Ulama (NU), Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII), Muhammadiyah, Partai Katholik, IPKI, Sekber Golkar, Gasbiindo, Generasi Muda Islam dan KBKI untuk mengusulkan pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI) dan antek-anteknya.

Selain itu, KAP Gestapu mengadakan demonstrasi besar-besaran, menuntut pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tanggal 9 Nopember 1965.42 Banser Pemuda Ansor juga melakukan pembunuhan terhadap para pendukung Partai Komunis Indonesia (PKI) di Jawa Tengah dan Jawa Timur, sehingga menurut B.J Boland,43 jumlah korban berkisar 80.000-500.000 jiwa bahkan ada yang mengatakan satu setengah juta jiwa. Sedangkan dari mahasiswa dan pemuda berdemonstrasi melancarkan tiga tuntutan rakyat yang dikenal dengan nama “Tri Tura”.44

Situasi semacam ini, menimbulkan trauma bagi rakyat Indo nesia, sehingga akhirnya muncul semacam romantisme kebangkitan polilik Islam45 di kalangan umat Islam, karena pada waktu itu, umat Islam turut berjasa dalam penumpasan PKI. Apalagi Orde Baru muncul dengan idealisme demokrasi, sehingga umat Islam memiliki harapan besar untuk kembali berperan, mengingat mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam.46

Selain itu, opini publik juga ikut mendukung harapan tersebut dengan menyelenggarakan berbagai seminar di UI, KASI, dan LIPI

ͶͲ„‹†Ǥ Ͷͳ„‹†ǤǡŠƒŽǤʹͶͳ Ͷʹ„‹†Ǥ Ͷ͵„‹†Ǥ ͶͶ„‹†ǤǡŠƒŽǤʹͶʹ Ͷͷ„‹†Ǥ Ͷ͸‹„‹†

ႁၸ™œ—“¤“–šœšŽ£“Š

untuk membicarakan upaya rehabilitasi partai-partai politik, termasuk partai Islam Demikian pula dalam Seminar Angkaian Daral II47 di Bandung membicarakan hal yang sama Dengan demikian, umat Islam masih memiliki harapan untuk merencanakan rehabilitasi Masyumi, menerapkan Islam sebagai dasar negara dan pemberlakuan Piagam Jakarta, mendirikan Partai Demokrasi Islam Indonesia (PDII) dan terakhir mengaktifkan Pelajar Islam Indonesia (PII), tetapi kemudian dibatalkan”.48

a. Gagalnya Pembentukan Partai Demokrasi Islam Indonesia (PDII)

Dari beberapa agenda tentang kebangkitan politik Islam, salah satunya adalah pembentukan PDII (Partai Demokrasi Islam Indonesia) yang dikemukakan oleh Mohammad Hatta, mantan Wakil Presiden Republik Indonesia. Sebenarnya keinginan membentuk partai tersebut sudah ada sejak tahun 1958,49 dan didorong pula ketidakpuasan pemuda Islam (HMI dan PII) terhadap sistem yang ada, karena sering diintimidasi PKI, sehingga sering minta nasehat kepada Mohammad Halta. Pada akhir tahun 1965, keinginan itu baru dimunculkan dengan maksud membentuk PDII.

Kemudian pada tanggal 11 Januari 1967,50 Mohammad Hatta mengirim surat kepada Soeharto, tentang niatnya tersebut, tetapi ternyata pemerintah tidak mengabulkan dengan alasan PDII belum mampu menjadi partai Islam yang diharapkan pemerintah. Ͷ͹„‹†Ǥ Ͷͺ„‹†ǤǡŠƒŽǤʹͶʹǦʹͶ͵ Ͷͻ„‹†ǤǡʹͶͷ ͷͲ„‹†Ǥ

Š‹ဓŽ˜œ–¡Š£“ŠšŒŠ£“—Š™ႁၹ

b. Gagalnya Rehabilitasi Masyumi dan Berdirinya Parmusi

Pada tanggal 16 Desember 1965 dibentuk Badan Koordinasi Amal Muslimin yang terdiri atas enam belas organisasi Islam yang bermaksud mengupayakan rehabilitasi Masyumi.51 Dari badan ini dibentuk Panitia Tujuh52 yang diketuai oleh KH. Fakih Usman. Pendekatan-pendekatan informal dengan kalangan pengua sa telah menghasilkan suasana saling pengertian yang mem besarkan hati. Sampai kepada pembicaraan mengenai pengisian lembaga-lembaga perwakilan rakyat, baik di pusat, maupun di daerah-daerah secara informalpun sudah dilakukan dengan kalangan penguasa.

Seiring dengan perjuangan pihak Panitia Tujuh untuk men-dapatkan hak berserikat dan berkumpul,53 di pihak lain kelompok yang tidak setuju dengan upaya rehabilitasi Masyumi pun bergerak juga.54

Akhirnya Ketua Presidium Kabinet Ampera Jendral Soeharto me-nyurati pak Prawoto Mangkusasmito pada langgal 6 januari 1967 yang menyatakan bahwa Alasan-alasan yuridis, ketatanegaraan dan psikologis telah membawa pada suatu pendirian, bahwa ABRI tidak dapat menerima rehabilitasi bekas partai politik Masyumi.55

Setelah “vonis mati” tersebut, sidang BKAM pada tanggal 7 Mei 1967 mengambil keputusan membentuk wadah politik baru bagi umat Islam yang dinamakan Parmusi (Partai Muslimin Indonesia),56 tetapi di akhir perjalanan-menjelang keputusan terakhir,57 ternyata ada pengaruh-pengaruh dari luar yang tak

ͷͳ„‹†ǤǡŠƒŽǤʹͶ͸ ͷʹ™ƒ”ƒ”Œ‘‘ǡ†‘‡•‹ƒ‹–ƒǣ‡‹‹”ƒ‡”™ƒ™ƒ•ƒƒȂ•Žƒǡȋƒƒ”–ƒǣ‡ƒ •ƒ‹”‡••ǡͳͻͻͷȌǡŠƒŽǤͳͺͲ ͷ͵„‹†Ǥ ͷͶ„‹†ǤŠƒŽǤͳͺͳ ͷͷ„‹†ǤŽ‹Šƒ–’—Žƒ„†—Žƒœ‹•Šƒ„ƒǡŠƒŽǤʹͶ͹ ͷ͸ „‹†Ǥǡ ŠƒŽǤ ͳͺʹǡ Ž‹Šƒ– ’—Žƒ „†—Ž œ‹• Šƒ„ƒǡ ŠƒŽǤʹͶ͹ǡ †ƒ „†—Ž —‹” —Žƒǡ ŠƒŽǤͳ͵ʹ ͷ͹„‹†ǤǡŠƒŽͳͺ͵

ႁၺ™œ—“¤“–šœšŽ£“Š

kentara (invisible), yang tidak memperbolehkan para mantan tokoh Masyumi yang menonjol memimpin Parmusi.

Keputusan pemerintah tersebut berlaku sampai pada saat pemilihan Mohammad Roem sebagai ketua Parmusi pada Kongres di Malang tanggal 4-7 Nopember l968. Padahal para peserta telah menganggap bahwa Mohammad Roem adalah orang bersih dan tidak terlibat dosa Masyumi pada saat PRRI, orang yang dianggap berbeda dengan Mohammad Natsir, namun perkiraan peserta ternyata meleset, karena keputusan pemerintah tidak berubah. Akhirnya pada tanggal 5 Pebrauri 1968 keluar keputusan pemerintah yang menyatakan berdirinya Parmusi dan SK Presiden no. 70 tahun 196858 yang menetapkan Djarnawi Kusumo dan Lukman Harun sebagai Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal. Duet Djarnawi dan Lukman tidak bertahan lama, karena muncul H. J. Naro dan Imron Kadir yang menginginkan kepeminipinan di Parmusi yang mengakibatkan konflik. Konflik intern tersebut sengaja direkayasa pemerintah, sebagaimana dikatakan Abdul Munir Mulkan bahwa: “Didorong oleh kekhawatiran Parmusi dapat berkembang menjadi kekuatan alternatif yang ditandai dengan munculnya cabang-cabang Parmusi di seluruh indonesia secara serempak, pemerintah dalam hal ini Departemen Dalam Negeri mendukung manuver politik H.J. Naro, SH bersama Imron Kadir untuk melakukan pembajakan partai.59

Dengan memanfaatkan konflik yang disengaja, akhirnya peme-rintah menerbitkan Surat Keputusan No. 77 tahun 1970 dengan menempatkan Mintaredja, SH sebagai Ketua partai sekaligus membatalkan SK No. 70 tahun l968 tentang kepemimpinan Djarnawi Kusumo dan Lukman harun.60 Mintaredja adalah pegawai tinggi pemerintah dan juga anggota PP Muhammadiyah.

ͷͺ„†—Žœ‹•Šƒ„ƒǡŠƒŽǤʹͶͺǡ†ƒŽ‹Šƒ–’—Žƒ„†—Ž—‹”—ŽƒǡŠƒŽǤͳ͵͵ ͷͻ„†—Ž—‹”—ŽƒǡŠƒŽǤͳ͵͵

͸Ͳ„‹†Ǥ

Š‹ဓŽ˜œ–¡Š£“ŠšŒŠ£“—Š™ႁၻ

Meskipun Mintaredja anggota Muhammadiyah, dalam menghadapi situasi yang runyam tersebut, Muhammadiyah menyatakan keluar dari Parmusi dan tidak memiliki hubungan organisatoris dengan partai manapun pada tahun 1969.

c. Aliran Kepercayaan Dalam SU MPR Taliun 1973.

Masuknya aliran kepercayaan yang semula aliran kebatinan ke dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1973 sebagai agama resmi yang dibicarakan dalam SU MPR tahun 197361 mendapat reaksi keras, baik dari Fraksi Persatuan Pembangunan (FPP), maupun masyarakat (umat Islam) secara langsung.

Fraksi Persatuan Pembangunan (FPP) keberatan, karena masuknya aliran kebatinan ke dalam Garis-garis Besar haluan negara (GBHN) berarti pemerintah memberikan pengakuan resmi terhadap terhadap aliran tersebut, padahal menurut Fraksi Persatuan Pembangunan (FPP), pasal 29 ayat 2 UUD 1945 sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengatur aliran kebatinan. Reaksi masyarakat justru muncul sebelum konsep aliran kebatinan diproses di dalam lembaga legislatif. Muhammadiyah sebagai organi sasi masyarakat Islam yang besar di Indonesia mengadakan Seminar di Bandung pada tanggal 24-27 Desember 1970,62 yang intinya menolak aliran kebatinan. Selain itu, HM. Rasyidi tokoh Islam dalam bukunya Islam dan Kebatinan, menyimpulkan bahwa ilmu kebatinan menodai agama. Dari Fakultas Ushuluddin Sunan Kalijaga bersidang pada tanggal 15 Pebruari 1971,63

menyimpulkan bahwa aliran kepercayaan tidak dapat disamakan dengan agama.

Akhirnya setelah melalui pembicaraan yang alot, aliran kepercayaan dimasukkan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara

͸ͳ„†—Žœ‹•Šƒ„ƒǡŠƒŽǤʹͷ͵ ͸ʹ„‹†ǤŠƒŽǤʹͷͶ

ႁၼ™œ—“¤“–šœšŽ£“Š

(GBHN) dengan beberapa modifikasi. Kata “kebatinan” diganti dengan “aliran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa” dan dimasukkan di bidang Pendidikan dan Kebudayaan, bukan bidang agama.

Fraksi Persatuan Pembangunan (FPP) akhirnya menerima aliran kepercayaan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) dengan catatan bahwa rumusan tersebut belum memadai dan tidak mendukung penyebaran dan pengembangannya serta menghimbau kepada seluruh penghayatnya agar kembali kepada ajaran agamanya masing-masing.

d. Rancangan Undang-Undang Perkawinan.

Setelah masalah aliran kepercayaan, umat Islam dihadapkan kepada masalah Rancangan Undang-Undang (RUU) Perka winan yang diajukan pemerintah pada tanggal 16 Agustus 1973.64

Sama halnya dengan aliran kepercayaan, Rancangan Undang-Undang (RUU) Perkawinan mendapat reaksi keras dari masyarakat muslim. Melalui khutbah di mesjid-mesjid, ceramah-ceramah, pengajian, tu lisan-tulisan di koran, demonstrasi dan berbagai pernyataan ormas Islam, sampai kepada para Ulama yang tradisional dan modern di Aceh hingga Jawa Timur, pada intinya menolak Rancangan Undang-Undang (RUU) Perkawinan yang dianggap bertentangan dengan Islam.65

Isi Rancangan Undang-Undang (RUU) menyimpang dari ajaran Islam, sehingga Buya Hamka pada waktu itu mengatakan bahwa: “Rancangan Undang-Undang (RUU) Perkawinan memaksa kaum muslimin meninggalkan syariat agama dengan maksud menghancurkan azas Islam Dengan demikian, apabila Rancangan Undang-Undang (RUU) Perkawinan diakui maka kafirlah hukumnya”.66

͸Ͷ„‹†ǤǡŠƒŽǤʹͷ͸ ͸ͷ„‹†Ǥ ͸͸„‹†ǤŠƒŽǤʹͷͻ

Š‹ဓŽ˜œ–¡Š£“ŠšŒŠ£“—Š™ႁၽ

Akhirnya dari 73 pasal yang diusulkan, berubah menjadi 67 pasal dengan menghilangkan pasal-pasal yang bertentangan dengan ajaran agama Islam. Dengan demikian. Rancangan Undang-Undang (RUU) Perkawinan tidak merugikan umat Islam. 2. Hubungan Yang Bersifat Resiprokal Kri s (1982-1985).

Hubungan antara umat Islam dan pemerintah ditandai oleh proses saling mempelajari dan memahami posisi masing-masing. Periode ini diawali oleh political test67 yang dilakukan pemerintah dengan menyodorkan konsep asas tunggal bagi semua organisasi social dan politik (Orsospol) dan selanjutnya unluk semua Organisasi Masyarakat (Ormas) di Indonesia.

Mengingat Indonesia rentan konflik ideologi, maka sebagai akhir penyelesaian konflik ideologi, pemerintah menyusun dan menetapkan Pancasila sebagai satu-satunya asas organisasi sosial dan politik melalui Tap MPR no. II tahun 1983 dan secara operasional dituangkan dalam Undang-Undang No. 3 dan 8 tahun 1985.68

Selain itu menurut penulis penetapan asas tunggal dilakukan sebagai suatu upaya untuk memisahkan jarak antara pemilih (umat Islam) dengan partai (PPP) yang memang akarnya berbasiskan agama. Apalagi Islam adalah agama mayoritas dan telah menyatu dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Akhirnya berturut-turut partai Islam dan ormas-ormas menye-suaikan dengan kehendak Undang-Undang tersebut. pada awalnya, Partai Persa tuan Pembangunan (PPP) setuju, tanpa reserve. 69 Dengan demikian, hal ini merupakan babak akhir sejarah partai politik Islam di Indonesia yang telah dimulai tahun 1912, ketika Sarekat Dagang Islam (SDI) berubah menjadi Sarekat Islam (SI).70

͸͹„†—Žƒœ‹•Šƒ„ƒǤǡŠƒŽǤʹ͸͵ ͸ͺ„†—Ž—‹”—ŽƒǡŠƒŽǤͳʹ͹ ͸ͻ„†—Žœ‹•Šƒ„ƒǡŠƒŽǤʹ͸͸ ͹Ͳ„‹†Ǥ

ႁၾ™œ—“¤“–šœšŽ£“Š

Disusul Nahdlatul Ulama (NU) pada Muktamar di Situbondo tahun 1984, Muhammadiyah pada Muktamar di Yogyakarta bulan Desember 1985, mengingat aktifitas amal usaha Muhammadiyah telah lama didirikan dan tersebar di sebagian besar wilayah Indonesia, sehingga untuk menjaga kelangsungan hidupnya, Muhammadiyah harus mengakui asas tunggal tersebut. Hal ini memperlihatkan bahwa masyarakat sangat tergantung kepada pemerintah. Salah satu ormas Islam yang tidak mengakui Pancasila adalah Pelajar Islam Indonesia (PII), sehingga harus menerima nasib tidak tercatat di dalarn Departemen Dalam Negeri. Meskipun demikian. Pelajar Islam Indonesia (PI1) masih melakukan aktifitasnya secara illegal.

Dalam dokumen Politik Indonesia (Halaman 50-54)