ERA REFORMASI
G. Militer di Era Pemerintahan Abdurrahman Wahid
Terpilihnya K.H. Abdurrahman wahid sebagai presiden adalah hasil kerja keras kelompok poros tengah yang dimotori oleh Amien Rais, sebagai salah satu drama politik Indonesia pasca Orde Baru yang cukup fenomenal dan dramatis, bahkan beberapa orang pengamat menyebutnya sebagai rekayasa politik terhebat sepanjang pemilihan kepala Negara di Indonesia.
Pada bursa pencalonan presiden untuk priode 1999 -2004, Calon-calon Presiden yang diunggulkan oleh partai-paitai politik hanya ada tiga calon yaitu: B.J. Habibie, Megawati Soekarno Putri dan K.H. Abdurahman Wahid, namun setelah B.J. Habibie memberikan laporan penanggung jawabanya teryata laporan penanggung Jawaban teisebut ditolak dan diikuti pula dengan permintaan pengunduran diri B.J. Habibie dari pencalonan
Selain kemenangan K.H Abdurahman Wahid (Gus Dur) dianggap sebagai kemenangan politik umat Islam juga perolehan posisi di lembaga Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) oleh Amin Rais dan lembaga legislative oleh akbar Tanjung dianggap sebagai kemenangan mutlak umat Islam. Dengan demikian analisa bahwa mayoritas bangsa Indonesia adalah “Islam Abangan” yang ditandai dengan kemenangan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dalam pemilihan umum 7 Juni 1999 kemarin tidak berlaku, jika diterapkan di Lembaga Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).
Meskipun demikian, Kabinet yang dibentuk presiden Abdurrahman Wahid tidak dimonopoli oleh kekuatan Islam semata, tetapi mencoba merangkul seluruh komponen bangsa, sehingga disebut Kabinet
ၹၼၾ¤£
Persatuan Nasional, secara teoritis, hal ini bisa dijelaskan dengan menggunakan pendekatan fusionist (pembauran) yang dikemukakan oleh Amos Perlmutter yang mengatakan bahwa pada faktanya, rezim-rezim dinegara-negara berkembang sebetulnya merupakan peleburan dari elite sipil, teknokrat, dan elite militer.30
Selama kepemimpinannya yang hanya berumur 20 bulan (November 1999-juli 2001), banyak kebijakan politik yang dikeluarkan oleh Gus Dur, diantaranya adalah yang berhubungan dengan upaya maksimalisasi supremasi sipil atas militer yang selama lebih dari lima dasawarsa di kebiri sejak mas pemerintahan Soekarno dan Soeharto. Seperti sudah dikemukakan, pada masa Orde Baru, militer menjadi tangan kanan Orde Baru bagi upaya mengimplementasikan hamper seluruh kebijakan Orde Baru, bahkan militer sudah menjadi organisasi terpenting yang mendukung tegaknya berjayanya Orde baru selama lebih dari 32 tahun, hal ini dilakukan dengan kebijakan dwi Fungsi ABRi yang memberikan keleluasaan kepada militer untuk terlibat pada setiap kegiatan sosial, poltik, ekonomi, dan sektor lain yang dianggap strategis.
Pada setiap periode kepemimpinan politik di Indonesia, militer selalu menjadi salah satu aktor utama yang ikut bermain secara intensif, bahkan pada kabinet syahrir, yang terkenal anti militer, bahkan menyebut kekuatan militer sebagai fasis,31 militer pada masa syahrir mengklaim merekalah yang telah berjasa memperjuangkan kemerdekaan, hal tersebut untuk mengconter opini yang berkembang bahwa kemerdekaan berhasil diproklamasikan karena perjuangan diplomasi yang dilakukan oleh para elite politik saat itu.32 Pimpinan Angkatan Perang Panglima Besar Jenderal Soedirman secara tegas menyatakan bahwa Angkatan Bersenjata tidak harus tunduk pada penguasa sipil, hal ini karena pemahaman umum yang diyakini bahwa
͵ͲǡPolitical roles and Military RolesȋǢǡͳͻͺͲȌǡǤʹ͵Ǥ ͵ͳǤǡGus Dur Militer dan PolitikǡȋǣǡʹͲͲͶȌǡǤ͵Ͷ ͵ʹǤǡǤ͵ͷ
ဓ¡¡£ၹၼၿ
kekuasaan militer sama dengan kekuasaan politik.33 Hal tersebut dapat dimaklumi karena suasana politik masih kental dengat semangat kemerdekaan dan nasionalisme yang sangat tinggi, ditambah dengan masih tidak jelasnya pemahaman fungsi militer dan fungsi sipil di antara masyarakat akibat dari semangat perjuangan kemerdekaan melawan Belanda yang memiliki sifat politik sekaligus semangat militer yang kuat. Sifat perjuangan yang memiliki watak militer terus membawa kecendrungan militer untuk masuk kedalam persoalan-persoalan politik. 34
Pasang surut konsistensi keterlibatan militer dalam peta politik Indonesia terus berlanjut dengan frekwensi yang berbeda, dan mengalami puncaknya pada era Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto yang sekaligus menjabat Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, militer makin menancapkan sayapnya pada setiap sector pembangunan, tidak hanya semangat militeristik yang dibawa tetapi organisasi dan individu anggota militer pun terlibat secara aktif pada jajaran kepemimpinan masyarakat dari yang tertinggi sampai tingkat terendah dalam masyarakat.
K.H Abdurrahman Wahid melakukan banyak perubahan yang signifikan berkaitan dengan fungsi militer dalam kehidupan sipil. Gus Dur secara perlahan namun pasti mereduksi eksistensi militer dalam kehidupan sosial politik masyarakat. Berikut beberapa kebijakan Presiden Abdurrahman Wahid terhadap eksistensi militer di Indonesia: 35
1. Pemisahan TNI-Polri dengan dikeluarkannya Kepres No89 tahun 2000, yang ditegaskan dengan Ketetapan MPR/VI/2000 tentang pemisahan TNI Polri.
͵͵ȋǤȌ, Pejuang dan PrajuritǡȋǣǡͳͻͻͳȌǡǤ ͷͳ
͵Ͷ ǡmiliter dan Politik di IndonesiaǡȋǣǡͳͻͻͻȌǡǤʹʹ ͵ͷǤǡGus Dur Militer…, Ǥ͵ʹ
ၹၼႀ¤£
2. Penghapusan Badan Koordinasi Bantuan Pemantapan stabilitas Nasional (Bakortanas) dan Penelitian Khusus (Litsus), melalui dikeluarkannya Kepres No. 38 tahun 2000.
3. Penggantian Kementrian Pertahanan dan Keamana (Menhankam) menjadi Kementrian Pertahanan (Menhan) yang dilanjutkan dengan menempatkan sipil sebagai meneri pertahanan.
4. Melakukan rotasi kepemimpinan tertinggi TNI dari biasanya dipegang oleh Angkatan Darat, lalu dipegang oleh Angkatan Laut dan selanjutnya akan bergiliran dengan Angkatan yang lain. 5. Dicopotnya Jenderal TNI Wiranto dari jabatannya sebagai
Menkopolkam, karena dianggap terlibat dalam pelanggaran HAM di Timor Timur pasca referendum.
6. Dihapuskannya posisi wakil Pangab.
7. Rotasi jabatan perwira tinggi seperti dilakukannya penggantian posisi Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) Perlawanan banyak muncul dari kelompok militer, menurut mereka, presiden Gus Dur sudah terlalu berlebihan menghadapi militer, puncaknya terjadi perlawanan dari kalangan militer dengan adanya aksi menolak atas Maklumat Presiden dan dukungan atas Sidang istimewa MPR tahun 2001.36 Penolakan para perwira TNI terhadap mutasi perwira terutama dengan diangkatnya Agus Wirahadikusuma sebagai pangkostrad menggantikan Djaja Suparman, dan diberhentikannya KSAD Jenderal TNI Endriartono Sutarto ditunjukkan dengan sangat jelas dengan dilakukannya gerakan anti kebijakan Gus Dur yang melibatkan Pangdam se Nusantara dan sejumlah purnawirawan dan mantan KSAD yang masih memiliki pengaruh kuat di TNI.37 Pada saat itu, Gus Dur dianggap telah melanggar mekanisme Dewan Kenaikan pangkat dan Jabatan Tinggi (Wanjati) yang sudah menjadi prosedur tetap pada setiap mutasi
͵ǤǡǤ ͵ǤǡǤ͵͵Ǧ͵͵
ဓ¡¡£ၹၼႁ
dan pergeseran posisi di tubuh TNI.38 Namun demikian, sejumlah pengamat mengatakan aksi penolakan tersebut dilakukan sebagai taktik dan strategi TNI untuk kembali mencampuri ranah politik, hal ini terjadi seperti membenarkan thesis Amos Perlmutter yang mengatakan bahwa semakin tinggi kedudukan seorang perwira militer, semakin ia akan bersifat politis, terutama pada situasi-situasi tertentu yang melibatkan organisasi militer dalam aksi-aksi politik.39
Kebijakan Gus Dur terhadap militer yang mengusung supremasi sipil merupakan sebuah keharusan bagi pertumbuhan dan perkembangan dinamisasi demokrasi di Indonesia, karena hal terpenting yang harus dilakukan untuk menata kehidupan yang demokratis adalah dengan dengan menata ulang hubungan sipil-militer, penataan peran dan fungsi sipil-militer ini akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan transisi demokratisasi yang sedang diusahakan.40 Bahkan di negara- negara maju, format hubungan sipil-militer diimplementasikan pada konsep supremasi sipil atas sipil-militer atau yang dikenal dengan istilah civilian supremacy upon the military.41
Wacana tentang reposisi peran TNI dan supremasi sipil menjadi sangat hangat dibicarakan pada masa pemerintahan Gus Dur, sebagai seorang presiden yang mengemban amanat reformasi, Gus Dur menyambut baik dan secara aktif mendorong wacana reposisi TNI yang sudah diputuskan oleh Rapat Pimpinan TNI.
Gus Dur juga menerbitkan Keputusan Presiden No.89 Tahun 2000 tentang kedudukan Kepolisian Republik Indonesia. Hal ini adalah realisasi dari upaya menempatkan TNI-Polri berada langsung dibawah lembaga kepresidenan. Keputusan ini dipertegas dengan adanya Ketetapan MPR/VI/2000 tentang pemisahan TNI Polri.42
Pemisahan TNI dan Polri dinilai Gus Dur sangat penting dilakukan
͵ͺǤǤ͵͵
͵ͻǡMiliter dan PolitikȋǣϐǡʹͲͲͲȌǡǤͳͺ ͶͲǤǡǥǡǤǡǤ͵ʹʹ
ͶͳǡMiliter Indonesia dan Politik, Dulu, Kini, dan Kelakǡȋǣǡ ʹͲͲͳȌǡǤ͵Ͳʹ
ၹၽၸ¤£
karena berhubungan dengan seringnya terjadi tumpang tindih tugas dan wewenang dua institusi militer tersebut, karena itu setelah dilakukan pemisahan, menjadi jelas pembedaan tugas antara TNI dan Polri, dimana ditegaskan bahwa keduanya adalah alat Negara, tugas TNI dalam bidang pertahanan dan Polri dalam bidang keamanan dan ketertiban hukum, panglima TNI diangkat dan diberhentikan oleh Presiden dengan persetujuan DPR, Polri berada dibawh presiden, dan Kapolri di angkat dan di berhentikan oleh presiden dengan persetujuan DPR.43
Upaya pengurangan hak-hak istimewa militer terhadap sipil yang dilakukan Gus Dur diharapkan mampu meningkatkan kontrol sipil atas militer dan upaya untuk lebih mengendalikan pengendalian yang dilakukan oleh militer atas prilaku represif yang seringkali ditunjukkan oleh kalangan militer. Sepertinya secara teoritis, Gus Dur sudah berhasil mempertegas dikotomi antara kepentingan sipil dan kepentingan militer di Indonesia, kebijakan-kebijakan yang dikeluarkannya cukup memberikan harapan akan terwujudnya supremasi sipil sebagai salah satu indicator demokrasi, namun pada prakteknya, masih banyak hal yang harus dievaluai dari implementasi kebijakan kebijakan tersebut, bukan hanya karena yang terjadi justru hubungan sipil-militer yang makin runcing, ternyata militer Indonesia masih belum siap meninggalkan ranah non-militeristik dan menyerahkan sepenuhnya urusan politik kepada sipil, hal ini ditandai masih banyaknya personel militer, baik yang aktif lalu pensiun dini untuk bisa terlibat langsung pada ranah politik, maupun para purnawirawan yang masih membawa aura militeristiknya kedalam urusan politik ketika mereka duduk pada jabatan-jabatan politik baik di lembaga legislatif, maupun eksekutif.
Ͷ͵ Ǥ ǤImplikasi Reposisi TNI-Polri di Bidang Hukumǡ ȋǣ ǡʹͲͲͳȌǡͳǤ
ဓ¡¡£ၹၽၹ
RANGKUMAN
Pada masa reformasi yang dimulai dengan mengundurkandirinya Soeharto dari kursi kepresidenan memberikan angin segar bagi harapan terjadinya perubahan kondisi sosial ekonomi dan politik di Indonesia. Perubahan peta politik secara simultan terjadi, dimulai dengan runtuhnya cengkraman Orde Baru yang dimotori oleh Golkar, pergantian iklim politik dan kepartaian dengan dibukanya keran demokrasi yang diawali dengan diberikannya keleluasaan untuk mendirikan partai politik asalkan memenuhi prasyarat dan ketentuan yang sudah ditetapkan, dilanjutkan dengan diadakannya pemilihan Umum yang dinilai lebih demokratis dari pemilu-pemilu sebelumnya dimana jumlah partai peserta pemilu yang sangat banyak (48 partai politik).
Iklim perubahan sangat kentara didalam keanggotaan DPR MPR, dimana para aktor-aktor intelektual yang berada di belakang gerakan reformasi terlibat langsung dalam upaya pemilihan presiden Republik Indonesia yang ke empat. Pemilihan presiden kali ini kental dengan pertarungan ideologi baik yang berbasis agama, budaya maupun keyakinan lain yang selama era Orde Baru diintervensi dengan sangat kuat.
Hal besar lain yang terjadi adalah dengan dilakukannya amandemen Undang-Undang Dasar 1945 dengan merubah beberapa pasal (bahkan bisa dikatakan sebagian besar) yang ada dalam batang tubuh UUD 1945. Amandemen konstitusi ini memberikan lampu hijau bagi perubahan perjalanan politik Indonesia kedepan. Banyak sekali pasl-pasal penting yang diamandemen dan memberikan keleluasaan bagi pendidikan politik untuk masyarakat secara lebih komprehensif, seperti pasal-pasal mengenai pemilihan presiden langsung, pemilihan umum legislative langsung, keberadaan Dewan Perwakilan daerah, dilakukannya desentralisasi kekuasaan dengan adanya otonomi daerah, pembatasan kekuasaan presiden dan wakil
ၹၽၺ¤£
presiden, dan pasal-pasal lain yang menjadi dasar berubahnya iklim politik di Indonesia.
Gerakan reformasi telah mengantarkan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi presiden yang tidak hanya dipilih secara kontroversial tetapi juga menjalankan pemerintahannya secara controversial dengan mengeluarkan beberapa kebijakan yang cukup mengejutkan dan mengundang tanda tanya banyak pihak. Namun demikian, dengan segala kontroversi yang dimiliki Gus Dur, beliau sudah melakukan perubahan yang sangat signifikan terutama dalam urusan reposisi militer di Indonesia, Gus Dur secara legal formal telah berhasil mereduksi cengkraman militer atas kepentingan sipil dalam bidang sosial, politik, dan ekonomi.
Reformasi tetap belum selesai, walau iklim politik sudah banyak berubah, apa yang dilakukan oleh para poecinta negeri ini dengan mengusung reformasi dan melakukan beberapa perubahan kebijakan politik hanyalah awal yang masih harus dilanjutkan dengan kerja keras dan konsistensi terhadap idealism tentang perubahan itu sendiri. Wacana demokrasi yang diusung sebagai pilar perubahan menuju kondisi yang lebih baik masih harus dipelajari lebih dalam, dan dicari penyesuaiannya dengan budaya politik yang dimiliki oleh Indonesia, agar tidak memunculkan situasi dan kondisi yang ironi dengan cita-cita demokrasi itu sendiri.