• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penumpasan G 30 S/PKI

Dalam dokumen Politik Indonesia (Halaman 41-44)

DEMOKRASI PANCASILA

A. Penumpasan G 30 S/PKI

Gerakan 30 September atau yang sering disingkat, G-30S/PKI, atau Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh), atau Gestok (Gerakan Satu Oktober) adalah sebuah peristiwa yang terjadi malam tanggal 30 September sampai di awal 1 Oktober 1965 di mana enam pejabat tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam suatu usaha percobaan kudeta yang awalnya dituduhkan kepada Dewan Jenderal namun selanjutnya dianggap sebagai upaya pemberontakkan oleh Partai Komunis Indonesia.

Gerakan politik yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) sejak pembentukkannya merupakan fenomena tersendiri bagi sejarah politik Indonesia, bukan hanya karena PKI memiliki anggota yang banyak, organisasi yang terstruktur rapi, organisasi-organisasi pendukung yang sangat solid, PKI juga merupakan organisasi partai politik dengan hubungan komunikasi yang sangat luas dengan beberapa negara, hingga partai politik yang beberapa kali menjadi partai politik yang cukup diperhitungkan pada pemilihan umum pada masa Orde Lama ini menjadi lebih menarik ketimbang partai politik lain pada waktu itu.

Beberapa kali melakukan percobaan pemberontakan, PKI masih terbentur dengan semangat kemerdekaan dan nasionalisme yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, namun demikian, upaya penguatan

ၿၺ™œ—“¤“–šœšŽ£“Š

organisasi terus dilakukan baik dengan mobilisasi kebawah yang dilakukan secara lebih intens, maupun loby-loby politik tingkat elit yang lebih kuat, hingga Soekarno memberikan perhatian yang lebih kepada PKI di banding kepada partai-partai politik lain.

Upaya mobilisasi dan propaganda lebih dikuatkan dengan membentuk Serikat Buruh dan Pelayaran (SBPP) pada tahun 1950. Selanjutnya pada tahun 1951, PKI semakin gencar melakukan propaganda, terutama di kalangan wanita, petani, buruh, dan nelayan (kelolompok grass root). PKI di tangan D.N. Aidit menjadi lebih progresif disbanding ketika berada di bawah pimpinan Alimin.1 Upaya propaganda yang dilakukan Aidit dan PKI mendapat perlawanan yang cukup seimbang dari tentara, pada Oktober 1952, Jenderal A.H. Nasutiaon dan Jenderal S. Parman berusaha melakukan gerakan politik untuk mempengaruhi politik sipil dengan meminta Soekarno membentuk pemerintahan baru, namun ide ini di tolak secara tegas oleh Soekarno dan membuat A.H. Nasution dirumahkan dan tentara dipinggirkan dari kekuasaan politik dengan mengembalikan mereka pada tempat seharusnya, yaitu di barrak.

Sikap pasif politik yang ditunjukkan tentara pada sat itu justru membuat Aidit mencoba mendekati tentara dengan membuat Biro Chusus yang di komandani Sjam Kamaruzzaman yang bertugas menangani tentara dengan melakukan propaganda dan mobilisasi secara terselubung, hingga pada pemilihan umum 1955 PKI menjadi salah satu dari empat besar partai politik pemenang pemilu, dan disinyalir 30% perolehan suara berasal dari tentara.2 Hal ini membuat A.H. Nasution khawatir dan mengeluarkan surat perintah KASAD No. PRIN-537/10/1956 yang melarang setiap anggota tentara untuk ikut dalam partai politik, karena bagi nasution, bila tentara sudah terlibat dalam partai politik hal tersebut dapat memecah belah bangsa.3

ͳ ‰—‰ ™‹ ƒ”–ƒ–‘ǡThe Missing Link G 30 S: Misteri Sjam Kamaruzzaman & Biro Chusus PKIǡȋ‘‰›ƒƒ”–ƒǣƒ”ƒ•‹ǡʹͲͳͳȌǡŠǤͳͻ

ʹ„‹†ǤǡŠǤʹͳ ͵„‹†Ǥ

Š‹ဓŽ˜œ–¡Š£“ŠšŒŠ£“—Š™ၿၻ

Dalam kurun waktu 1957 – 1958, PKI adalah kekuatan politik terbesar di Indonesia yang membuat resah beberapa negara lain yang masuk dalam kategori negara anti komunis seperti Amerika Serikat, karena itu kekuatan Internasional Amerika ikut bermain dengan melakukan propaganda dikalangan Angkatan darat yang diharapkan dapat menjadi kekuatan counter terhadap PKI. Pada era 195 – 1960, PKI sebagai partai massa terus membesar dan mengumandangkan propaganda Revolusi Agraria4 yang mendapatkan sambutan hangat dari massa grass root yang dimiliki.

Pada era demokrasi terpimpin, dimana seluruh tampuk pim-pinan organisasi-organisai pendukung pemerintahan diambil alih Soekarno yang tidak hanya menjadi penguasa politik, tetapi juga menjadi penguasa keamanan, beberapa kepentingan politik baik dari sipil maupun adari militer bermain disekeliling Soekarno yang sedang gencar mengumandangkan ideology Nasionalis Agama Komunis (Nasakom) sampai pada puncaknya di tahun 1963 Soekarno dikukuhkan sebagai presiden seumur hidup.

Hiruk pikuk dan ketegangan dimulai ketika pada 23 Mei 1965, setelah isu Dewan Jenderal mulai merebak, muncul pula isu tentang adanyaDokumen Gilchrist, isu keterlibatan Amerika, Partai Komunis Indonesia (PKI) merayakan ulang tahun secara besar besaran dengan pengerahan massa lebih dari ratusan ribu anggotanya di Istora Senayan, hal ini menunjukkan bagaimana PKI ingin menunjukkan bagaimana besar massa yang dimilikinya, menurut Aidit, PKI memiliki 20 juta anggota di seluruh Indonesia.5

Isu Dewan Jenderal yang cukup meresahkan Soekarno di tentang dengan tegas oleh Jenderal Ahmad Yani, setelah Soekarno melakukan pemanggilan kepada para panglima ke Istana, ahmad yani menegaskan didepan para Panglima Komando daerah Militer (Pangkodam) bahwa

Ͷ–‘‹—•—ƒ”™ƒǡMenyebrangi Sungai Air Mata: Kisah Tragis Tapol’65 dan Upaya

Rekonsiliasiǡȋ‘‰›ƒƒ”–ƒǣ„ƒǡʹͲͲ͹ȌǡŠǤͶ͸ ͷ„‹†ǤǡŠǤ͵͹

ၿၼ™œ—“¤“–šœšŽ£“Š

Dewan Jenderal hanya sebuah isu dan propaganda politik kelompok tertentu.

Ketika Soekarno dinyatakan sakit gejala stroke oleh tim dokter dari RRC pada agustus 1965, kondisi politik semakin memanas, Aidit melakukan koordinasi secara cepat dengan beberapa orang anggotanya untuk membicarakan kemungkinan melakukan gerak an militer sebagai antisipasi kemungkinan dilakukannya coup oleh Dewan Jenderal bila kondisi Soekarno memburuk.6 Mobilisasi dan koordinasi kekuatan militer yang berpihak pada PKI secara gencar dilakukan, hingga Aidit sudah menyiapkan pasukan untuk menjalankan rencana penculikan dan mengusahakan pengakuan dari beberapa jenderal yang dianggap terlibat dalam Dewan Jenderal tentang isu rencana kudeta yang mereka rencanakan untuk selanjutnya akan dilakukan pengadilan rakyat kepada mereka dengan tuduhan upaya penghianatan.7 Para jenderal yang menjadi target adalah; Jenderal A.H. nasution, Letjen Ahmad Yani, Mayjen S. Parman, Mayjen Suprapto, Mayjen MT. Harjono, Bigjen D.I. Panjaitan, Brigjen Sutojo Siswomiharjo, dan Brigjen Achmad Sukendro.

Rencana Aidit mulai dilaksanakan pada tanggal 30 September malam dengan mengerahkan operasi Pasopati untuk menculik para jenderal yang menjadi target.

Gerakan 30 September 1965/PKI merupakan puncak keja tuhan pemerintahan Orde Lama di bawah Presiden Soekarno. Kondisi sangat mencekam dan tumpuan terakhir pada waktu itu hanya ada pada militer, karena selain militer dianggap mampu menyelesaikannya, juga Soekarno telah dianggap terlibat dan melindungi perbuatan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Akhirnya dengan persenjataan dan perlengkapan yang dimiliki militer dan di bawah komando Letnan Jenderal Soeharto, militer berhasil mengamankan kota Jakarta dan menyelesaikan masalah Gerakan 30 September 1965 dengan bantuan seluruh lapisan

͸‰—‰™‹ƒ”–ƒ–‘ǡThe Missing Link.., Ibid., h. 39

͹„‹†ǤǡŠǤͶͻ

Š‹ဓŽ˜œ–¡Š£“ŠšŒŠ£“—Š™ၿၽ

masyarakat. Partisipasi masyarakat didorong oleh karena sebagian besar rakyat sejak dulu tidak menyukai keberadaan Partai Komunis Indonesia (PKI). Khusus dengan umat Islam, Partai Komunis Indonesia (PKI) bertentangan secara ideologis, dianggap sebagai musuh bangsa Indonesia, pada tanggal 3 Oktober 1965, mayat para korban G 30 SPKi berhasil ditemukan di daerah Lubang Buaya.

Pada tanggal 1 Oktober 1965 Sukarno dan sekretaris jendral PKI Aidit menanggapi pembentukan Dewan Revolusi yang di maksudkan sebagai badan politik yang meliputi dan mewakili golongan masyarakat luas yang bertugas membentuk pemerintahan koalisi nasional berporos Nasakom di bawah pimpinan presiden Soekarno.8

Pada tanggal 6 Oktober Sukarno mengimbau rakyat untuk menciptakan “persatuan nasional”, yaitu persatuan antara angkatan bersenjata dan para korbannya, dan penghentian kekerasan. Biro Politik dari Komite Sentral PKI segera menganjurkan semua anggota dan organisasi-organisasi massa untuk mendukung “pemimpin revolusi Indonesia” dan tidak melawan angkatan bersenjata. Per nyataan ini dicetak ulang di koran CPA bernama “Tribune”.

Pada tanggal 16 Oktober 1965, Sukarno melantik Mayjen Suharto menjadi Menteri/Panglima Angkatan Darat di Istana Negara. Berikut kutipan amanat presiden Sukarno kepada Suharto pada saat Suharto disumpah.9

Saya perintahkan kepada Jenderal Mayor Soeharto, sekarang Ang katan Darat pimpinannya saya berikan kepadamu, buatlah Angkatan Darat ini satu Angkatan dari pada Republik Indonesia, Angkatan Bersenjata daripada Republik Indonesia yang sama sekali menjalankan Panca

Azimat Revolusi, yang sama sekali berdiri diatas Trisakti, yang sama

sekali berdiri diatas Nasakom, yang sama sekali berdiri diatas prinsip Berdikari, yang sama sekali berdiri atas prinsip Manipol-USDEK.

ͺ„‹†ǤǡŠǤͷ͹

ͻ—†‹‡–›‘‘ǡRevolusi Belum Selesai: Kumpulan Pidato Presiden Soekarno 30 september 1965,ȋƒƒ”–ƒǣƒ™ƒ•ƒ”ƒǡʹͲͲ͵Ȍ

ၿၾ™œ—“¤“–šœšŽ£“Š

Manipol-USDEK telah ditentukan oleh lembaga kita yang tertinggi sebagai haluan negara Republik Indonesia. Dan oleh karena Manipol-USDEK ini adalah haluan daripada negara Republik Indonesia, maka dia harus dijunjung tinggi, dijalankan, dipupuk oleh semua kita. Oleh Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, Angkatan Kepolisian Negara. Hanya jikalau kita berdiri benar-benar di atas Panca Azimat ini, kita semuanya, maka barulah revousi kita bisa jaya. Soeharto, sebagai panglima Angkatan Darat, dan sebagai Menteri dalam kabinetku, saya perintahkan engkau, kerjakan apa yang kuperintahkan kepadamu dengan sebaik-baiknya. Saya doakan Tuhan selalu beserta kita dan beserta engkau!

Lima bulan setelah itu, pada tanggal 11 Maret 1966, Sukarno memberi Suharto kekuasaan tak terbatas melalui Surat Perintah Sebelas Maret. Ia memerintah Suharto untuk mengambil “langkah-langkah yang sesuai” untuk mengembalikan ketenangan dan untuk melindungi keamanan pribadi dan wibawanya. Kekuatan tak terbatas ini pertama kali digunakan oleh Suharto untuk melarang PKI. Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya, Dengan berbekal Surat Perintah 11 Maret 1966, maka secara informal, kekuasaan kini telah beralih ke tangan Soeharto.

Dalam dokumen Politik Indonesia (Halaman 41-44)