BAB II: EVANGELISASI BARU
2. Beberapa Pandangan mengenai Evangelisasi Baru
Berada dalam situasi dan lingkungan yang statis, rutin tanpa mencoba untuk menemukan sesuatu yang baru dan lebih baru akan membuat orang mudah merasa bosan, tertekan dan kehilangan semangat atau gairah hidup. Oleh karena itu, seringkali orang berusaha menemukan cara untuk keluar dari situasi tersebut yaitu mengadakan dialog dan konfrontasi dengan kenyataan atau situasi faktual yang dihadapi. Dengan demikian seseorang pasti akan menemukan hal yang baru, yang membuat dirinya mampu mengubah keadaan yang sedang ‘rumit’ sehingga mengalami kesegaran baru, kegembiraan dan kebahagiaan.
Dalam dunia pewartaan Sabda Allah atau Injil pun orang membutuhkan hal-hal yang baru atau kebaruan khususnya mengenai metode dan cara penyampaian karena kemajuan jaman yang begitu pesat dan laju perubahan masyarakat yang demikian cepat. Jika pewartaan tetap bertahan dengan pola dan metode yang lama, umat Katolik tidak akan memiliki keinginan dan semangat yang berkobar untuk mendengarkan Sang Sabda yang diwartakan oleh para pewarta di zaman sekarang. Selain itu, metode, cara dan pola pewartaan perlu diperbarui untuk mengembalikan gairah kehidupan beriman umat yang semakin
lesu karena berbagai tantangan jaman. Usaha-usaha penemuan pola dan metode pewartaan Sabda Allah dengan cara baru inilah yang disebut dengan Evangelisasi Baru.
Paus Yohanes Paulus II sebagaimana sudah dikatakan sebelumnya bahwa dalam sidang Paripurna ke-19 Para Uskup Amerika Latin di Port au Prince, Haiti pada 19 Maret 1983 menghimbau para uskup agar bersama dengan kaum klerus dan awam, Gereja memiliki komitmen terhadap suatu evangelisasi baru. Letak kebaruan di sini adalah baru dalam semangat, pola atau metode dan cara serta wujud pewartaan kabar gembira atau Injil.
Semangat baru yang dimaksud adalah kegiatan pewartaan yang dilakukan didasarkan atas kemauan kuat agar semakin banyak orang mengalami kegembiraan dan keselamatan bukan atas keinginan untuk menggiring banyak orang masuk dalam Gereja dan menjadi Katolik. Cara baru dalam pewartaan pun diupayakan sesuai kebutuhan jaman. Hal ini berbeda dengan cara pewartaan lama misalnya hanya dengan kotbah, renungan, doa, katekese, baptis dan pelayanan sakramen-sakramen lainnya. Dalam evangelisasi baru cara pewartaan Injil dilakukan melalui dialog dan kerja sama dengan berbagai pihak, gerakkan ekumene, melalui kesaksian hidup setiap hari dan pewartaan melalui media massa.
Suharyo (1995: 66) mengatakan bahwa evangelisasi baru tidak membatasi diri pada penerusan ajaran atau mencari pemeluk agama Kristen yang semakin banyak, tetapi menyampaikan kabar gembira (Injil) keselamatan kepada
manusia yang “utuh”, yang mempunyai sejarah hidup yang berbeda-beda. Dengan kata lain evangelisasi baru dapat dipahami sebagai: “Membangun komunitas kristiani yang dijiwai oleh Sabda, dalam konteks hidupnya yang beragam, sehingga komunitas itu hadir memberikan kesaksian yang hidup akan Kristus yang menyelamatkan”. Adisusanto (1995: 69) merumuskan kebaruan evangelisasi terletak terutama dalam usaha pewartaan untuk membantu umat agar mereka dapat merealisasikan nilai-nilai Injil dalam kehidupan nyata setiap hari dan dalam konteks tantangan-tantangan jaman sekarang.
Darmawijaya (1993: 100–103) mengatakan bahwa evangelisasi baru harus memperdalam iman orang Kristiani sendiri, menciptakan budaya baru yang terbuka bagi amanat Injil, dan memajukan pembaharuan sosial. Gerakan evangelisasi baru diawali dengan penyadaran bahwa manusia memiliki bekal untuk menghadapi situasi dan kondisi kehidupan masa kini. Bekal yang dimaksud adalah perjuangan para leluhur kita dalam iman. Oleh karena situasi dan kondisi kehidupan masyarakat saat ini berbeda, maka sangat penting untuk mencari jembatan bagaimana agar bekal yang diwariskan para leluhur itu menjadi kekuatan baru bagi kehidupan di zaman yang baru ini. Usaha-usaha yang ditempuh merupakan perutusan bagi setiap orang yang mau hidup serius dengan imannya. Hidup serius dalam iman berarti pertama orang itu mau menjadi saksi rencana kasih Allah bagi manusia termasuk dirinya. Kedua, orang itu mau mewartakan rencana dan kasih Allah tersebut dalam situasi dan kondisi yang berubah-ubah. Ketiga, orang itu mau menghadapi kenyataan hidup sekarang
bukan sebagai ancaman bagi rencana dan kasih Allah, melainkan juga sebagai jalan memetik buah-buah kasih tersebut. Dengan demikian pewartaan iman tidak perlu dipisahkan dari pembangunan seluruh kehidupan manusia yang nyata. Evangelisasi baru dilihat sebagai rencana pastoral seluruh Gereja untuk melibatkan diri dalam kepentingan umat manusia mana pun.
Dari pandangan beberapa ahli mengenai evangelisasi baru tersebut di atas, penulis menyimpulkan bahwa evangelisasi baru tidak perlu membatasi diri pada usaha untuk meneruskan ajaran dan mencari pemeluk agama Kristen sebanyak-banyaknya melainkan berusaha agar semakin banyak orang dari manapun asalnya menerima kabar gembira dan mengalami penebusan yang berlimpah-limpah dari Kristus sendiri dalam kondisi mereka masing-masing. Evangelisasi baru juga tidak hanya memberi rasa aman tetapi membuat setiap orang yang dijumpai, yang menerima pewartaan kabar gembira mampu merealisasikan nilai-nilai Injil dalam kehidupan mereka yang nyata dan menjadi pribadi tangguh yang mampu menghadapi tantangan-tantangan zaman sekarang.
Penulis juga melihat bahwa evangelisasi baru bukanlah sesuatu yang baru, yang bertolak belakang dengan evangelisasi yang selama ini sudah dilaksanakan, melainkan menjadi satu kesatuan. Evangelisasi dalam evangelisasi baru lebih menekankan unsur kebaruannya. Baru dalam semangat, cara dan bentuknya sebagaimana sudah diuraikan pada bagian sebelumnya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa evangelisasi baru sebagai seluruh proses penyebaran Injil atau kabar gembira Kerajaan Allah yang berlangsung terus
menerus dengan proses yang kompleks yang menjangkau setiap orang di manapun, kapanpun dan dalam tingkat kebudayaan masing-masing; yang dilakukan dengan semangat baru, cara baru dan bentuk yang baru pula.
3. Unsur-unsur Pokok Evangelisasi Baru