S K R I P S I
Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik
OLEH:
Vicensia Serbiti Kelen 061124003
PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUSAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
ii
SUMBA BARAT DAYA
Telah Disetujui Oleh:
Pembimbing
Drs. FX. Heryatno Wono Wulung, SJ., M.Ed. Tanggal, 03 Desember 2010 OLEH:
iv
Dengan penuh syukur Kupersembahkan skripsi ini untuk:
Kongregasi Suster-suster Amalkasih Darah Mulia Unit Pelayanan Sosial Seraphine Community Development
Sumba
v Mencintai
Berarti membiarkan Allah bekerja membuat sesuatu yang baru yang baik, yang perlu dan yang berkenan
bagi Dia, sesama dan diri kita sendiri (NN)
Tuhan telah membuka pintu kerahimanNya sebelum kesalahan kita terbukti ada
sebab Ia mengasihi kita dengan kasihNya yang kekal dan Ia akan melanjutkan kasih setiaNya
vi
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebgaimana layaknya karya ilmiah.
Yogyakarta, 22 Desember 2010 Penulis
viii
EVANGELISASI BARU DI SUMBA BARAT DAYA. Judul skripsi ini dipilih atas dasar keprihatinan bahwa berhadapan dengan situasi zaman yang diwarnai oleh kekerasan, ketidakadilan, kejahatan dan kemiskinan, evangelisasi baru sebagai panggilan ilahi bagi Gereja saat ini masih belum sepenuhnya dipahami dan diwujudkan oleh setiap anggota Gereja. Bahkan banyak orang berpandangan bahwa kegiatan pewartaan Injil hanya sebatas doa, kotbah, renungan, pelayanan sakramen, dan katekese. Hal seperti ini juga dialami di unit pelayanan sosial Seraphine Community Development Sumba yang merupakan pengejawantahan visi-misi Kongregasi Suster-suster Amalkasih Darah Mulia yang ingin berpartisipasi dalam karya penebusan dengan mengambil bagian semakin penuh dalam tugas perutusan Gereja Universal, di mana pelayanan Kerajaan Allah zaman ini berhadapan dengan masyarakat yang mengalami berbagai penyakit sosial akibat rusaknya keadaban publik.
Pokok permasalahan yang akan diuraikan dalam skripsi ini adalah bagaimana tingkat pemahaman staf dan anggota kelompok binaan unit pelayanan sosial Seraphine Community Development Sumba mempengaruhi perwujudan evangelisasi baru di Sumba Barat Daya. Dari kajian mengenai pemahaman dan perwujudan tersebut diharapkan agar pimpinan dan staf unit pelayanan sosial Seraphine Community Development Sumba dapat menemukan cara yang tepat untuk mewujudkan evangelisasi baru sebagaimana yang diharapkan oleh Gereja.
Dalam pembuatan skripsi ini, penulis menggunakan studi pustaka dan penelitian. Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan, penulis meyimpulkan bahwa pemahaman staf dan anggota kelompok binaan unit pelayanan sosial Seraphine Community Development Sumba mengenai evangelisasi baru masih perlu ditingkatkan, meskipun mereka sudah mulai mewujudkan dan mengalami evangelisasi baru dalam pelayanan yang selama ini dilakukan.
ix
REALIZE THE NEW EVANGELIZATION IN SOUTHWEST SUMBA. The title of this thesis is taken on the basis of concerns that facing a situation which is marked by violence, injustice, crime and poverty new evangelization as a divine calling for the Church is poorly understood and realized by Church members. In fact many people think that the activity of evangelization is only prayer, preaching, meditation, sacramental ministry and catechesis. The problem like this is also experienced in the unit of social service Seraphine Community Development Sumba which an embodiment of vision and mission of the Congregation of Sister-sister Precious Blood who wish to participate in the work of redemption by taking part more fully in the mission of the Universal Church, where the ministry of the Kingdom of God is dealing with people who experience a variety of social ills by the destruction of public politeness.
The principal issues that will be described in this thesis is how the level of understanding of staff and members of target groups of the unit of social services Seraphine Community Development Sumba affects the realization of a new evangelization in Southwest Sumba. With the study of understanding and the realization it is expected that the staff can find a good idea or a right way to realize the new evangelization as expected by the Church.
x
bisa hanya mengandalkan kemampuan, ketrampilan, ketekunan, usaha, dan perjuangan pribadi. Bantuan, bimbingan, dukungan, uluran tangan kasih, dan kemurahan hati sesama yang ada di sekitar juga hembusan Roh Sang Khalik telah menjadi percikan api yang turut membakar semangat dan menyalakan keinginan dalam diri untuk meraih apa yang sesungguhnya menjadi cita-cita dan impian. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis sepantasnya menghaturkan puji syukur kepada Allah Bapa Sang Sumber Kebijksanaan, Allah Putera Sang Guru Sejati yang mengajarkan segala pengetahuan dan Allah Roh Kudus yang senantiasa menyalakan api kehidupan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Kemurahan hati dan uluran tangan kasih sesama pun telah membantu penulis menyelesaikan penulisan skripsi ini. Maka dengan penuh rasa syukur penulis ingin menghaturkan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada:
1. Segenap Staf Dosen dan Karyawan/wati Program Studi Ilmu Pendidikan dengan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik-Jurusan Ilmu Pendidikan-Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, yang telah mendidik, menuntun dan membimbing penulis selama studi hingga terselesaikannya skripsi ini.
xi menyelesaikan skripsi ini.
3. Dr. B. Agus Rukiyanto, SJ., sebagai penguji kedua yang telah memberikan dukungan, perhatian, dan bimbingan.
4. Bpk. YH. Bintang Nusantara, SFK. M.Hum., sebagai penguji ketiga yang telah memberi motivasi, bimbingan, perhatian, dan dukungan.
5. Kongregasi Suster-suster ADM, terutama para pemimpin yang telah memberikan kepercayaan kepada penulis untuk belajar di Program Studi Ilmu Pendidikan dengan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik-Jurusan Ilmu Pendidikan-Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma. Terimakasih untuk dukungan dan perhatian yang diberikan selama studi hingga terselesaikannya penulisan skripsi ini.
6. Sr. Gertrudis, ADM selaku Pimpinan Unit Pelayanan Sosial Seraphine Community Development Sumba bersama para staf, yang telah memperkenankan
penulis untuk mengadakan penelitian di Unit Pelayanan Sosial Seraphine Community Development Sumba. Terimakasih untuk kebaikan hati, kerelaan dan
cinta yang memungkinkan penulis dapat mengadakan penelitian dengan baik. 7. Sr. Elisabet dan Para Suster ADM Komunitas Kotabaru terutama para Suster
xii
menyalakan kobaran semangat dalam diri penulis.
9. Teman-teman IPPAK angkatan 2006, untuk semangat, perhatian dan bantuan dalam bentuk apa saja selama studi hingga penulisan skripsi ini
10.Saudari Odete Soare Maia, yang selalu memberi dukungan, perhatian dan bersedia menolong penulis terutama selama penulisan skripsi
11.Sr. Matea, ADM yang rela mengorbankan waktu dan tenaga untuk mengusahakan buku-buku referensi dalam penulisan skripsi ini.
12.Para sahabat, teman-teman dan siapa saja yang tak bisa disebutkan satu persatu; yang selama ini mau bersimpati dan berempati dengan penulis terutama dalam penyelesaian skripsi ini. Terimakasih untuk setiap sapaan, paksaan, tuntutan sekaligus tuntuanan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
Akhirnya penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan koreksi, kritik, usul dan saran dari para pembaca, agar isi dari skripsi ini menjadi lebih baik dan semakin berguna bagi banyak orang.
Yogyakarta, 22 Desember 2010 Penulis
xiii
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... .... ……… iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... ……… iv
MOTTO ... ……… v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vii
ABSTRAK ... …………. viii
ABSTRACT ... …………. ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xiii
DAFTAR SINGKATAN ... xix
BAB I: PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG ... 1
B. RUMUSAN PERMASALAHAN ... 10
C. TUJUAN PENULISAN ... 10
D. MANFAAT PENULISAN ... 11
E. METODE PENULISAN ... 12
F. SISTIMATIKA PENULISAN ... 12
BAB II: EVANGELISASI BARU A. Sejarah dan Perkembangan Evangelisasi Baru ... 17
1. Sejarah Munculnya Istilah Evangelisasi Baru ... 17
2. Perkembangan Evangelisasi Baru dalam Gereja Katolik ... 18
xiv
2. Beberapa Pandangan mengenai Evangelisasi Baru... 29
3. Unsur-unsur Pokok Evangelisasi Baru ... 33
a. Subjek Evangelisasi Baru ... 33
b. Tujuan Evangelisasi Baru ... 34
c. Tantangan Evangelisasi Baru ... 35
d. Syarat-syarat Evangelisasi Baru ... 36
e. Upaya-upaya Evangelisasi Baru ... 38
BAB III: UPAYA SERAPHINE COMMUNITY DEVELOPMENT SUMBA UNTUK MEWUJUDKAN EVANGELISASI BARU DI SUMBA BARAT DAYA A. Gambaran Umum Kabupaten Sumba Barat Daya ... 42
B. Sejarah Singkat Gereja di Sumba Barat Daya ... 43
C. Pandangan Umum mengenai Pelayanan Sosial ... 46
1. Pengertian Pelayanan Sosial pada Umumnya ... 46
2. Pelayanan dalam Perspektif Kitab Suci ... 47
3. Bentuk-bentuk Pelayanan atau Diakonia ... 49
a. Diakonia Karitatif... 49
b. Diakonia Reformatif... 50
c. Diakonia Transformatif ... 51
d. Diakonia Profetis ... 51
1) Profetisme Keterlibatan ... 52
2) Profetisme Holistis ... 52
3) Profetisme Kebhinekaan ... 53
4) Profetisme Lintas Batas... 53
xv
2. Unit Pelayanan Sosial Seraphine Community Development
Sumba ... 57
a. Sejarah Perkembangan Unit Pelayanan Sosial Seraphine Community Development Sumba ... 57
b. Visi dan Misi Unit Pelayanan Sosial Seraphine Community Development Sumba... 59
1) Visi ... 60
2) Misi ... 60
3) Strategi ... 60
c. Bentuk-bentuk Pelayanan Pelayanan Sosial Seraphine Community Development Sumba ... 62
1) Peningkatan Pendapatan Keluarga ... 62
2) Peningkatan Kesehatan ... 62
3) Peningkatan Pendidikan Ketrampilan ... 63
4) Pembinaan Rohani dan Mental ... 63
d. Penelitian tentang Upaya Unit Pelayanan Sosial Seraphine Community Development Sumba dalam Upaya Mewujudkan Evangelisasi Baru di Sumba Barat Daya. 1) Latar Belakang Penelitian ... 64
2) Tujuan Penelitian ... 67
3) Metodologi Penelitian ... 68
a) Jenis Penelitian ... 68
b) Tempat dan Waktu Penelitian ... 69
c) Responden Penelitian ... 69
d) Variabel Penelitian ... 70
e) Teknik Pengumpulan Data ... 70
f) Teknik Analisis Data ... 72
4) Laporan Hasil Penelitian dan Pembahasan ... 73
xvi
Seraphine Community Development Sumba dalam
Mewujudkan Evangelisasi Baru ... 92
5) Kesimpulan Hasil Penelitian ... 95
BAB IV: USULAN PROGRAM BAGI UNIT PELAYANAN SOSIAL SERAPHINE COMMUNITY DEVELOPMENT SUMBA SEBAGAI UPAYA MEWUJUDKAN EVANGELISASI BARU DI SUMBA BARAT DAYA A. Komunitas Basis Manusiawi dan Keluarga ... 99
1. Komunitas Basis Manusiawi ... 99
2. Keluarga sebagai Komunitas Cinta Kasih dan Hidup ... 102
B. Usulan Program untuk Unit Pelayanan Sosial Seraphine Community Development Sumba dalam Upaya Mewujudkan Evangelisasi Baru Di Sumba Barat Daya 1. Pemberdayaan Komunitas Basis Manusiawi dan Keluarga ... 103
a. Latar Belakang Program ... 103
b. Matriks Program ... 106
c. Petunjuk Pelaksanaan ... 108
d. Contoh Persiapan Program Pemberdayaan Komunitas Basis Manusiawi dan Keluarga Sub Tema 1 ... 109
1) Tema ... 109
2) Tujuan ... 109
3) Sumber Bahan ... 109
4) Sarana ... 109
5) Metode ... 109
6) Waktu ... 109
7) Pemikiran Dasar ... 110
xvii
b. Matriks Program ... 117
c. Petunjuk Pelaksanaan ... 121
d. Contoh Persiapan Program Rekoleksi Sub Tema ke-2 ... 121
1) Tema ... 121
2) Tujuan ... 121
3) Sumber Bahan ... 121
4) Sarana ... 121
5) Metode ... 122
6) Waktu ... 122
7) Pemikiran Dasar ... 122
8) Langkah-langkah Kegiatan ... 123
a) Pembukaan ... 123
b) Inti Pertemuan ... 123
c) Selingan ... 122
d) Materi dari Pendamping ... 124
(1) Ekonomi dan Pemberdayaan ... 124
(2) Pemberdayaan Sosial-Ekonomi sebagai suatu Model Evangelisasi Baru ... 124
9) Kesempatan untuk Pendalaman Materi ... 126
BAB V : PENUTUP A. Kesimpulan ... 129
B. Saran ... 130
xviii
Development Sumba... (2)
Lampiran 3 : Panduan Pertanyaan untuk Pimpinan dan Staf Unit Pelayanan Sosial Seraphine Community Development Sumba ... (3) Lampiran 4 : Pertanyaan untuk Anggota Kelompok Binaan Unit Pelayanan Sosial Seraphine Community Development Sumba ... (4) Lampiran 5 : Hasil Wawancara Pimpinan dan Staf Unit Pelayanan Sosial
xix
CT : Catechesi Tradendae (Anjuran Apostolik Paus Yohanes Paulus II tentang Katekese Masa Kini)
CL : Christifideles Laici (Imbauan Apostolik Paus Yohanes Paulus II tentang Panggilan dan Tugas Kaum Awam Beriman di dalam Gereja dan di dalam Dunia)
EN : Evangelii Nuntiandi (Imbauan Apostolik Paus Paulus VI tentang Karya Pewartaan Injil dalam Zaman Modern)
RM : Redemptoris Missio (Ensiklik Paus Yohanes Paulus II tentang Amanat Misioner Gereja)
B. Daftar Singkatan Lain
ADM : Amalkasih Darah Mulia (Liefdezusters Van Het Kotsbaar Bloed) BHK : Bunda Hati Kudus (Congregatie Fraters Van Onze Lieve Vrouw Van
Het Heilig Hart)
CD : Community Development (Pemberdayaan Komunitas)
CIJ : Congregatio Immitationis Jesu (Kongregasi Suster-Suster Pengikut Yesus)
xx
FMA : Figlie di Maria Ausiliatrice (Suster-Suster Puteri Maria Penolong Umat Kristiani)
KKP : Keputusan Kapitel Provinsi KBG : Komunitas Basis Gerejani KBM : Komunitas Basis Manusiawi
KPKC : Keadilan Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan KWI : Konferensi Wali Gereja Indonesia
M. Ed : Master of Education
OCD : Ordo Carmelitarum Discalceatorum (Ordo Karmelit Tak Berkasut) OSF : Ordo Sancti Francisci (Ordo Suster-Suster St. Fransiskus)
PRR : Puteri-Puteri Reinha Rosari
SCMM : Congregatio Sororum Caritatis A Nostra Domina Matre Misericordiae (Kongregasi Suster-Suster Cintakasih dari Maria
Bunda Berbelaskasihan) SBD : Sumba Barat Daya
SDB : Societas Sancti Francisci Salesii (Serikat Salesian Don Bosco) SJ : Serikat Jesus (Societas Jesu)
A. LATAR BELAKANG
Sejak dua ribu tahun yang silam, Yesus mengutus Gereja untuk mewartakan Injil kepada segala bangsa di seluruh dunia. Gereja menerima tugas itu dan dengan giat melaksanakannya. Berbagai cara ditempuh demi pewartaan yang lebih luas, yang menjangkau orang-orang di berbagai tempat agar Yesus Putra Allah semakin dikenal, diakui dan dicintai. Sejarah mencatat betapa gigihnya para rasul dan jemaat Kristiani perdana berkeliling mewartakan Injil di Roma dan sampai juga ke daerah-daerah di Asia; di sini tarekat-tarekat missioner mempunyai peran dan andil yang sangat besar. Seluruh proses penyebaran pewartaan Injil atau kabar gembira itu dikenal dengan sebutan evangelisasi. Pada tahap awal penyebaran Injil, tampak bahwa kehidupan beriman jemaat begitu subur, terpelihara dan selalu saja ada tambahan anggota baru dalam Gereja. Pewartaan dirasa menyentuh seluruh dimensi hidup setiap pribadi sehingga mereka menjadi terpesona dan terpikat akan pribadi Yesus kemudian berani dan atas kehendak bebas memutuskan untuk menjadi pengikut Yesus Kristus; Tuhan dan Guru yang menjadi jalan kebenaran menuju kebahagiaan kekal (Heuken, 1991: 313).
kalangan remaja dan kaum muda. Dampak negatif kemajuan IPTEK juga menerobos masuk dalam Gereja. Kehidupan beriman umat kadang mengalami kelesuan, tanpa gairah, tanpa roh, dan semangat hidup.
Tugas perutusan Kristus Sang Penebus, yang dipercayakan kepada Gereja, masih sangat jauh dari penyelesaian sebagaimana dikatakan oleh Bapa Suci Yohanes Paulus II dalam Ensiklik Redemptoris Missio. Lebih lanjut Bapa Suci mengatakan bahwa tatkala masa seribu tahun kedua sesudah kedatangan Kristus hampir berakhir, suatu pandangan menyeluruh atas umat manusia memperlihatkan bahwa tugas perutusan ini masih saja pada tahap awal dan bahwa kita harus melibatkan diri kita sendiri dengan sepenuh hati untuk melakukan tugas perutusan tersebut (RM a.1). Pernyataan Bapa Suci Yohanes Paulus II tersebut mau menunjukkan bahwa pewartaan Injil sampai saat ini belum mencapai hasil sebagaimana yang diharapkan oleh Kristus Sang Guru Sejati. Oleh karena itu setiap pengikut Kristus perlu memiliki kesadaran akan kewajiban untuk dengan sepenuh hati melaksanakan tugas perutusan tersebut.
perekonomian. Kegiatan pewartaan Injil atau evangelisasi mengalami pasang surut; khususnya berhadapan dengan agama asli ‘Marapu’ (menyembah pohon-pohon atau batu-batu besar dan binatang-binatang tertentu yang diyakini memiliki kekuatan mistis) dan tradisi seperti kawin paksa, poligami dan pesta adat yang masih bertahan kuat sampai saat ini dengan dampak negatifnya masing-masing seperti kemiskinan, diskriminasi, hilangnya kesempatan atau peluang untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan berbagai tindak kekerasan ( Heuken, 1991: 109-110).
Evangelisasi akan terus dilaksanakan tetapi tidak mengulang cara pewartaan lama yang bertujuan menggiring semakin banyak orang masuk dalam Gereja melainkan dilaksanakan secara baru. Perlu ada sesuatu yang baru dalam dunia pewartaan: baru dalam semangat, cara, metode maupun sarana; inilah yang disebut dengan Evangelisasi Baru. Dengan demikian diharapkan Gereja tetap teguh berdiri di tengah badai jaman yang menerpa tanpa henti, sebab mewartakan Injil adalah panggilan yang khas bagi Gereja sebagaimana dirumuskan dalam Evangelii Nuntiandi art. 14:
Artikel tersebut di atas mau menegaskan bahwa memberitakan Injil merupakan keharusan bagi setiap anggota Gereja. Oleh karena itu, Gereja di setiap masanya dan dalam kondisi apa pun harus selalu menyadari panggilan khasnya; yang merupakan rahmat dan anugerah. Pengaruh Injil diharapkan mampu mendamaikan para pendosa dengan Allah dan benar-benar mengubah umat manusia dari dalam serta membuatnya menjadi baru seperti dikatakan dalam Evangelii Nuntiandi art. 18:
Bagi Gereja, penginjilan (evangelisasi) berarti membawa Kabar Baik kepada segala tingkat kemanusiaan, dan melalui pengaruh Injil merubah umat manusia dari dalam dan membuatnya menjadi baru: “Lihatlah Aku menjadikan segala sesuatu baru”. Tapi tidak ada kemanusiaan yang baru bila terlebih dahulu tidak ada pribadi-pribadi baru, yang diperbaharui oleh Baptis dan oleh kehidupan yang dihayati menurut Injil. Maksud dari penginjilan ialah perubahan batin, baik hati nurani perorangan maupun hati nurani kolektip orang-orang, kegiatan-kegiatan di mana mereka terlibat, serta kehidupan dan lingkungan konkret yang mereka miliki.
kaya dengan aneka-ragam budaya berusia sangat panjang, di mana semua agama besar dunia lahir, di mana tinggal sekitar dua per tiga penduduk bumi yang sebagian besarnya hidup dalam kemiskinan materiil.
Gereja perlu berdialog secara terus menerus dengan tradisi-tradisi dan kebudayaan-kebudayaan setempat bahkan kerapuhan-kerapuhan dan kegagalan-kegagalannya juga supaya semuanya itu disembuhkan. Dialog dengan agama-agama asli juga sangat perlu karena melalui dialog dengan agama-agama asli, Gereja bisa menemukan unsur-unsur penting dan positif dalam tata laksana keselamatan Allah. Dialog dengan agama-agama asli memungkinkan kita (Gereja) atas keyakinan iman akan Kristus, berusaha untuk menerima tradisi keagamaan yang positif sekaligus menyembuhkan dan membersihkan yang masih rapuh dalam terang Sabda Allah. Sebagian masyarakat Asia termasuk Indonesia adalah kaum miskin. Bukan miskin nilai, sifat atau bakat dan kemampuan kemanusiaan melainkan miskin materiil. Maka dialog dengan orang miskin juga sangat perlu bagi Gereja dalam menjalankan tugas pewartaannya. Dialog yang diistilahkan dengan “dialog kehidupan”. Dialog tersebut hendaknya mengantar sampai pada kesanggupan dan usaha yang tulus untuk mewujudkan keadilan sosial di dalam masyarakat-masyarakat kita (Hardawiryana, 1995: 38 – 41)
Pewartaan Injil dan keadilan sosial merupakan dua hal yang saling berkaitan. Dokumen Iustitia in Mundo merefleksikan misi dan peranan Gereja dalam memajukan keadilan di dunia, sebab keadilan adalah ungkapan hakiki cinta kasih kristiani. Dengan peka melihat “tanda-tanda zaman” (art.2), Gereja bersaksi demi keadilan lewat gaya dan cara hidupnya yang khas: menciptakan dan memelihara keadilan. Gereja berpartisipasi dalam pengubahan dunia dan turut memerdekakan “pribadi manusia”. Keadilan merupakan perwujudan cinta kasih Allah (www.indocell.net).
Kitab Suci, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru memperlihatkan Allah sebagai Allah yang penuh cinta kasih. Dalam Perjanjian Lama, Allah mewahyukan diri sebagai pembebas kaum tertindas dan pembela kaum miskin (art. 30). Tindakan cinta kasih Allah itu mencapai kepenuhannya dalam diri Yesus, lewat ajaran dan tindakan-Nya. Dalam tindakan-Nya, Yesus selalu mengutamakan orang-orang kecil, seperti orang-orang sakit, orang-orang berdosa, dan juga orang-orang-orang-orang yang menjadi
korban ketidakadilan (Luk 6:21-30). Cinta kasih Allah adalah dasar hidup sekaligus inspirasi perjuangan demi keadilan.
menyebabkan kekerasan dan penindasan terhadap hak dan martabat manusia. Akumulasi modal dan alat-alat industri pada orang-orang tertentu menyebabkan banyak orang kehilangan pekerjaan, kekurangan makanan, tinggal dalam gubuk-gubuk yang tidak layak guna dan buta huruf (art.10) serta terjadinya kerusakan lingkungan hidup seluruh umat manusia akibat limbah pabrik. Menjadi sangat jelas bahwa ketidakadilan merupakan tindakan yang tidak berpihak pada hak dan martabat manusia. Gereja dalam hal ini harus melaksanakan fungsi kenabiannya, kritis dan peka terhadap situasi yang ada (http/www.indocell.net).
Kongregasi Suster-suster Amalkasih Darah Mulia sebagai bagian dari Gereja Universal, mengemban misi Gereja yang sama yaitu mewartakan Injil kepada segala bangsa dan ikut berusaha menanggapi keprihatinan tersebut di atas; yang diwujudkan dalam bentuk-bentuk karya pelayanan seperti karya sosial, pastoral, kesehatan dan pendidikan (formal dan non formal). Masing-masing karya berusaha menterjemahkan misi Gereja universal dalam bentuknya yang nyata.
Seraphine Community Development Sumba sebagai salah satu bentuk karya sosial para Suster Amalkasih Darah Mulia, juga merupakan perwujudan tekad dan kemauan kuat para Suster Amalkasih Darah Mulia di Sumba untuk menghadirkan Kerajaan Allah sebagaimana dirumuskan dalam Konstitusi Kongregasi No. 4:
Sebagai unit pelayanan sosial yang menimba semangat dari Cinta Kristus Tersalib, Seraphine Community Development Sumba atau biasa disingkat CD Seraphine sejak tahun 1989 melayani masyarakat Sumba Barat dengan mengarahkan perhatian pada pemberdayaan kaum perempuan di luar rumah, di dalam masyarakat, atau lebih tepat mereka adalah kaum ibu yang berada di desa-desa. Kegiatan-kegiatan CD Seraphine antara lain: beternak (kambing, babi dan sapi), usaha simpan pinjam, pemberian modal usaha (Credit Union), pengadaan bahan makanan, dapur hidup, pengolahan ladang (kebun percontohan), pengadaan air bersih (bak penampungan air hujan dan sumur), pengadaan rumah sehat dan jamban keluarga, penyuluhan kesehatan dan pengobatan, pemberian makanan tambahan. Selain itu ada kursus keterampilan seperti menjahit, memasak dan menenun. Ada juga kegiatan kerohanian yang diadakan seperti pembinaan rohani bagi orang dewasa (retret dan rekoleksi), pembinaan iman anak (Rekoleksi dan Temu Minggu) dan pastoral atau kunjungan keluarga (Gertrudis, 2008: 2, 6 -14).
Sebagai salah satu unit pelayanan sosial, Seraphine Community Development Sumba dengan tekun, gigih, dan penuh tanggung jawab berjuang mewujudkan apa yang menjadi visi-misi karya sosial dalam pelayanan di Sumba Barat. Syukur kepada Tuhan, sejak tahun 1989 sampai sekarang pelayanan Seraphine Community Development Sumba mendatangkan manfaat dan hasil positif bagi peserta
Meskipun dikatakan bahwa pelayanan Seraphine Community Development telah membuahkan hasil yang secara nyata dirasakan oleh peserta maupun orang lain di sekitar termasuk Gereja setempat, namun masih ada kelemahan dan kekurangan yang mengakibatkan kegagalan dalam usaha pendampingan dan pengembangan kelompok binaan. Ada kelompok yang setelah dibentuk, bertahan hanya beberapa waktu saja, karena anggota tidak memiliki daya juang, menginginkan hasil yang cepat dan banyak tanpa kerja keras dan kurangnya pemahaman. Sedangkan hambatan lain datang juga dari para Suster dan karyawan yang bekerja bersama dengan Sr. Gertrudis, ADM (Pimpinan unit pelayanan sosial Seraphine Community Development Sumba). Kadang-kadang kehilangan gairah atau semangat; ‘api’nya mulai redup karena kesulitan atau tantangan; daya juang melemah, kehadiran tanpa roh atau api di antara peserta juga mempengaruhi minat dan ketertarikan peserta terhadap kegiatan yang diberikan. Selain itu, pemahaman yang kurang mengenai hakikat pelayanan sosial suatu tarekat religius yaitu mengemban misi Gereja mewartakan Injil; baik dari pihak karyawan maupun peserta atau anggota kelompok binaan Seraphine Community Development Sumba juga mengakibatkan kegagalan dalam pelayanan
sosial.
Dengan tulisan ini, penulis berharap bisa memberi sumbangan pemikiran dan memberi wawasan baru bagi penulis sendiri maupun pembaca khususnya para Suster Amalkasih Darah Mulia untuk mengambil bagian secara total, gembira, penuh cinta, dan pengabdian mewujudkan Evangelisasi Baru yang diserukan Gereja. Penulis ingin menambah wawasan khususnya keterkaitan antara pewartaan Injil dengan perjuangan mewujudkan keadilan sosial sehingga semangat pelayanan yang saat ini sudah ada tidak pudar dihempas tantangan jaman. Perlu ada hal-hal baru yang diberikan untuk menyalakan percikan api cinta kepada Tuhan dan sesama yang selama ini sudah ada dalam diri para Suster Amalkasih Darah Mulia agar percikan itu menyalakan kobaran yang semakin besar dan besar dalam upaya mempromosikan Darah Kristus demi penebusan semakin banyak orang.
B. RUMUSAN PERMASALAHAN
1. Apa yang dimaksud dengan Evangelisasi Baru?
2. Sejauhmana Seraphine Community Development melalui pelayanan sosialnya sudah mewujudkan evangelisasi baru di Sumba Barat Daya?
C. TUJUAN PENULISAN
1. Mendeskripsikan pokok-pokok mengenai evangelisasi baru.
2. Mendeskripsikan apakah unit pelayanan sosial Seraphine Community Development Sumba sudah mewujudkan evangelisasi baru.
3. Mengusulkan kepada unit pelayanan sosial Seraphine Community Development Sumba, cara peningkatan pelayanan untuk semakin lebih baik mewujudkan Evangelisasi Baru di Sumba Barat Daya.
4. Sebagai salah satu syarat kelulusan Strata I Program Studi Ilmu Pendidikan dengan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik – Jurusan Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
D. MANFAAT PENULISAN
1. Memberi pandangan baru bagi penulis bahwa di tengah jaman yang penuh tantangan dan penderitaan hidup, perlu adanya evangelisasi baru dalam Gereja. 2. Memberi sumbangan pemikiran bagi para Suster Amalkasih Darah Mulia agar
menghayati pelayanan (karya) sosial sebagai tugas misioner Gereja sekaligus warisan Ibu Seraphine – pendiri Kongregasi yang senantiasa digali, dikembangkan dan dilestarikan oleh generasi penerus.
E. METODE PENULISAN
Metode penulisan yang akan digunakan penulis dalam skripsi ini adalah metode deskriptif – analitis, interpretasi dan penelitian. Pada bab II penulis menggunakan metode deskriptif - analitis dengan menggambarkan, memahami, menginterpretasi, menarik kesimpulan dan memaknai apa sesungguhnya Evangelisasi Baru. Pada bab III penulis menggunakan metode deskripsi mengenai Seraphine Community Development dan mengadakan penelitian untuk melihat sejauhmana
Seraphine Community Development mengambil bagian dalam kegiatan evangelisasi
baru. Pada BAB IV penulis menggunakan metode deskripsi dan interpretasi untuk membuat usulan program bagi Seraphine Community Development Sumba dalam upaya mewujudkan evangelisasi baru. Sedangkan pada bab V penulis menggunakan metode interpretasi untuk merumuskan kesimpulan dan saran.
F. SISTEMATIKA PENULISAN
Judul skripsi yang dipilih adalah: Unit Pelayanan Sosial “Seraphine Community Development” Sumba dalam Upaya Mewujudkan Evangelisasi Baru Di
Sumba Barat Daya. Ada dua variabel yaitu: Evangelisasi Baru (Variabel I) dan Pelayanan Sosial Seraphine Community Development (Variabel II). Kedua variabel ini akan dijabarkan dalam lima bab dengan sistematika penulisan sebagai berikut:
Bab II adalah uraian mengenai evangelisasi baru yang terdiri atas sejarah dan perkembangan evangelisasi baru yang meliputi sejarah munculnya evangelisasi baru, perkembangan evangelisasi baru dalam Gereja Katolik, evangelisasi baru di Asia, dan evangelisasi baru di Indonesia; berikutnya adalah gambaran evangelisasi pada umumnya yang meliputi definisi evangelisasi baru, beberapa pandangan mengenai evangelisasi baru dan unsur-unsur pokok evangelisasi baru yang meliputi subyek evangelisasi baru, tujuan evangelisasi baru, tantangan evangelisasi baru, syarat-syarat evangelisasi baru dan upaya-upaya evangelisasi baru.
Bab III menguraikan tentang Unit Pelayanan Sosial Seraphine Community Development Sumba dalam upaya mewujudkan evangelisasi baru di Sumba Barat
Daya. Bagian ini akan dibagi dalam empat bagian yaitu bagian pertama adalah gambaran umum kabupaten Sumba Barat Daya, bagian kedua adalah sejarah singkat Gereja di Sumba Barat Daya, bagian ketiga adalah pandangan umum pelayanan sosial yang meliputi pengertian pelayanan sosial pada umumnya, pelayanan dalam perspektif Kitab Suci, dan bentuk-bentuk pelayanan atau diakonia yang mencakup diakonia karitatif, diakonia reformatif, diakonia transformatif, dan diakonia profetis. Bagian keempat bab ini adalah uraian mengenai pelayanan atau karya sosial para Suster Amalkasih Darah Mulia di Sumba Barat Daya, yang terdiri atas sejarah singkat komunitas Suster-suster Amalkasih Darah Mulia di Sumba dan unit pelayanan sosial Seraphine Community Development Sumba yang meliputi sejarah perkembangan unit
pelayanan sosial Seraphine Community Development Sumba, dan penelitian tentang upaya unit pelayanan sosial Seraphine Community Development Sumba dalam upaya mewujudkan evangelisasi baru di Sumba Barat Daya. Bagian penelitian meliputi latar belakang penelitian, tujuan penelitian, metodologi penelitian yang terdiri atas jenis penelitian, tempat dan waktu penelitian, variabel penelitian, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data; laporan dan pembahasan hasil penelitian yang meliputi responden, pemahaman mengenai evangelisasi baru, pemahaman mengenai visi-misi unit pelayanan sosial Seraphine Community Development Sumba, dan harapan atau usul-saran bagi unit pelayanan sosial Seraphine Community Development Sumba dalam mewujudkan evangelisasi baru; dan kesimpulan hasil penelitian.
Bab IV adalah usulan program bagi unit pelayanan sosial Seraphine Community Development Sumba dalam upaya mewujudkan evangelisasi baru di
petunjuk pelaksanaan dan contoh persiapan kegiatan rekoleksi staf unit pelayanan sosial Seraphine Community Development Sumba
Pada bab II ini penulis akan memaparkan evangelisasi baru. Penulis akan membagi pembahasan ini menjadi dua bagian. Pertama, penulis akan memaparkan tentang sejarah evangelisasi baru dan perkembangannya yang terdiri atas empat sub bagian yakni: sejarah munculnya evangelisasi baru, perkembangan evangelisasi baru dalam Gereja Katolik, evangelisasi baru di Asia dan evangelisasi baru di Indonesia. Bagian kedua akan membahas tentang gambaran evangelisasi pada umumnya yang terdiri dari tiga sub bagian yakni: beberapa definisi evangelisasi baru, beberapa pandangan mengenai evangelisasi baru dan unsur-unsur pokok evangelisasi baru yang dibagi menjadi lima hal yakni: subyek evangelisasi baru, tujuan evangelisasi baru, tantangan evangelisasi baru, syarat-syarat evangelisasi baru dan upaya-upaya evangelisasi baru.
Berikut ini akan dipaparkan lebih lanjut mengenai evangelisasi baru yang menjadi tema pokok dari bab ini.
A. Sejarah dan Perkembangan Evangelisasi Baru 1. Sejarah Munculnya Istilah Evangelisasi Baru
Istilah evangelisasi tampaknya bukan istilah yang umum di lingkungan Gereja Katolik. Lebih umum, Gereja Katolik menggunakan istilah misi. Hal ini tampak dalam sejarah. Pada permulaan abad pertengahan, para rahib Benediktin berkeliling Eropa untuk mewartakan Injil dan sejak abad ke-16, ada gerakan besar-besaran untuk menyebarkan kristianisme ke seluruh dunia. Istilah yang digunakan dalam kegiatan tersebut adalah: kegiatan misi, penyebaran iman, menanamkan, dan meluaskan Gereja, bukan evangelisasi. Akhir-akhir ini, kita disentakkan oleh semakin ramainya pembicaraan mengenai evangeliasi baru (Suharyo, 1995: 57). Meskipun demikian seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang terjadi, seruan evangelisasi baru bukan merupakan gejala yang baru muncul.
tahun 1974 Paus Paulus VI mengundang sinode tentang evangelisasi di dunia modern dan ini disusul dengan terbitnya Evangelii Nuntiandi pada tahun 1975. Usaha yang telah dirintis oleh Paus Paulus VI ini dilanjutkan Paus Yohanes Paulus II. Pada pertemuan bersama dengan para uskup Amerika Latin di Puebla (1979), Paus Yohanes Paulus II menyatakan bahwa lewat evangelisasi Gereja bermaksud menyumbang terwujudnya suatu masyarakat baru yang lebih adil dan bersaudara (Putranto, 2003: 5-6).
Tekad untuk mewujudkan suatu masyarakat baru melalui evangelisasi berhadapan dengan modernisasi memberi semangat besar bagi Paus Yohanes Paulus II. Pada tanggal 9 Maret 1983, untuk pertama kalinya Paus Yohanes Paulus II menggunakan istilah evangelisasi baru dan berbicara mengenai evangelisasi baru di hadapan para Uskup Amerika Latin di Port-Prince, Haiti. Evangelisasi baru yang berarti baru dalam semangat, cara dan bentuknya (Suharyo, 1995: 60). Sejak saat inilah istilah ‘evangelisasi baru’ semakin sering dibicarakan dalam Gereja Katolik.
2. Perkembangan Evangelisasi Baru dalam Gereja Katolik
II tiada henti menyerukan betapa pentingnya evangelisasi baru di berbagai tempat di Amerika Utara maupun Selatan, Asia, Afrika dan Eropa. Pada tanggal 30 Desember 1988, Paus Yohanes Paulus II mengeluarkan amanat apostolik Christifideles Laici (Panggilan dan Tugas Kaum Awam Beriman di dalam Gereja
dan di dalam Dunia) selanjutnya akan disingkat CL. Dalam dokumen tersebut, Paus mengemukakan gagasan mengenai evangelisasi baru khususnya tanggung jawab kaum awam dalam tugas pewartaan di dunia dewasa ini (Suharyo, 1995: 60-61).
Dalam CL dikatakan bahwa sudah tiba saatnya mewartakan kembali Injil untuk menjamin pertumbuhan iman yang jelas dan mendalam. Lebih lanjut dikatakan bahwa partisipasi kaum awam dalam tugas kenabian Kristus merupakan bagian sepenuhnya dan sangat penting dalam karya Gereja sebab pewartaan kembali Injil ditujukan bukan hanya kepada pribadi-pribadi perorangan melainkan juga kepada segenap orang dari golongan lain dalam keanegkaragaman mereka masing-masing (bdk. CL. adt. 34).
mengembangkan kebudayaan baru yang terbuka bagi pesan Injil dan mendorong transformasi sosial di benua tersebut. Selanjutnya pada akhir tahun 1990, dikeluarkan ensiklik Redemptoris Missio: Amanat Misioner Gereja (Suharyo, 1995: 60-61). Ensiklik tersebut dikeluarkan atas suatu kesadaran bahwa tugas perutusan Ktistus Penebus yang dipercayakan kepada Gereja, masih sangat jauh dari penyelesaiannya. Oleh karena itu, Paus Yohanes Paulus II menghimbau agar semua umat Katolik harus melibatkan diri dengan sepenuh hati melakukan tugas perutusan tersebut (bdk. RM art. 1. al. 1).
Gagasan dan usaha evangelisasi baru yang dirintis oleh Paus Paulus VI dan dilanjutkan oleh Paus Yohanes Paulus II merupakan perkembangan sekaligus memberi arah baru bagi Gereja Katolik. Evangelisasi baru tidak membatasi diri pada penerusan ajaran atau mencari pemeluk agama Kristiani yang semakin banyak sebagaimana cara yang lama. Menyampaikan khabar gembira keselamatan kepada manusia yang utuh, yang mempunyai sejarah hidup yang berbeda-beda dan menyentuh kehidupan aktual masyarakat: sosial-ekonomi, sosial-masyarakat, dan sosial-agama menjadi arah yang mau dituju dalam kegiatan evangelisasi baru. Perkembangan ini ditanggapi secara positif. Para Uskup Asia dalam sidang di Lembang, pada tanggal 17-27 Juli 1990, merumuskan pokok-pokok pikiran mereka dalam judul “Akan Kuubah Kedukaan Mereka Menjadi Sukacita” (Suharyo, 1995: 64-65).
merupakan hal yang sangat penting untuk diserukan dan dilaksanakan dalam Gereja Katolik demi terwujudnya iman yang makin luas dan mendalam.
3. Evangelisasi Baru di Asia
Dari uraian di atas, menjadi jelas bahwa yang dimaksudkan dengan evangelisasi baru adalah mewartakan Injil dengan semangat, cara dan wujud baru agar umat bisa menghayati Injil dalam konteks hidupnya yang nyata. Dalam melaksanakan tugas perutusan tersebut, Gereja Asia diharapkan berada bersama dengan masyarakat setempat, di mana Gereja berada dan menjadi bagiannya. Kesadaran akan perlunya keberadaan dan kebersamaan Geeja dengan masyarakat setempat sudah dimiliki oleh para Uskup Asia dalam sinode mereka di Taipei, Taiwan pada 1974. Pada sinode tersebut para Uskup Asia menyatakan bahwa dalam mewartakan Injil di Asia, Gereja perlu berusaha agar warta dan hidup Kristus sungguh-sungguh masuk dalam cara berpikir dan kehidupan Asia (Adisusanto, 1995: 69-71).
sebagaimana Kristus telah menebusnya dalam misteri paskah. Hal ini dengan jelas dirumuskan dalam keputusan sinode pertama para Uskup Asia di Taipei, pada 27 April 1974:
Gereja ialah Gereja yang berinkarnasi dalam suatu bangsa, Gereja yang pribumi dan berinkulturasi. Secara konkrit itu berarti Gereja dalam dialog terus menerus, dalam kerendahan hati dan penuh kasih dengan tradisi-tradisi, kebudayaan-kebudayaan, agama-agama yang serba hidup…Bahkan Gereja mengenakan kerapuhan-kerapuhan dan kegagalan-kegagalannya juga, supaya semua itupun disembuhkan. Sebab memang begitulah Putera Allah mengenakan keseluruhan kondisi manusiawi kita yang telah jatuh (tanpa tercemar oleh dosa), sehingga Ia sungguh menjadikan kondisi-Nya sendiri dan menebusnya dalam misteri paskah-Nya (FABC I. art. 12).
Selain berdialog dengan kebudayaan, Gereja dalam pewartaan Injil juga perlu berdialog dengan agama-agama di Asia. Dalam dialog, Gereja mengambil tradisi-tradisi positif yang dihayati umat setempat dalam tata laksana rencana keselamatan Allah. Tradisi-tradisi religius leluhur suatu bangsa perlu dihargai. Hanya dengan dialog bersama agama-agama itulah Gereja dapat menemukan benih-benih Sabda yang terkandung dalam tradisi agama-agama tersebut. Dialog memungkinkan kita menyentuh ungkapan dan kenyataan hati sanubari terdalam bangsa-bangsa kita, sehingga memampukan kita menemukan cara-cara yang tepat untuk menghayati dan mengungkapkan iman Kristiani (Hardawiryana, 1995: 39).
ekonomi dan politik yang tidak adil menyebabkan banyak orang kehilangan kesempatan. Oleh karena itu, pewartaan Injil di Asia tidak hanya perlu berdialog dengan kebudayaan-kebudayaan dan agama-agama tetapi juga perlu berdialog dengan orang-orang miskin yang hidup di benua Asia. Dengan dialog, Gereja diharapkan untuk bekerja bukan semata-mata bagi mereka, melainkan bekerja bersama mereka, belajar dari mereka, memahami kebutuhan dasar mereka dan menerima juga aspirasi-aspirasi dari mereka. Dialog yang sejati akan menghantar kepada kesanggupan dan usaha yang tulus untuk mewujudkan keadilan sosial masyarakat. Termasuk usaha tersebut adalah kegiatan dan refleksi iman yang membuahkan tindakan-tindakan yang baik untuk menghasilkan perubahan dan transformasi struktur-struktur sosial yang tidak adil. Dalam dokumen Keadilan Sosial di Dunia, sinode para Uskup tahun 1971 dikatakan: kegiatan demi keadilan dan peran serta dalam perombakan dunia menurut keyakinan kita merupakan dimensi hakiki pewartaan Injil, yakni misi Gereja demi penebusan umat manusia serta pembebasannya dari tiap situasi penindasan. Dengan demikian, menjadi jelas bahwa pewartaan Injil tidak lepas dari perjuangan untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan masyarakat (Hardawiryana, 1995: 40-41).
bermacam-macam masalah dan tantangan sosial antara lain: kemiskinan, diskriminasi terhadap kaum wanita dan eksploitasi lingkungan yang semena-mena. Tantangan lain adalah konflik politik, aborsi dan pembatasan hak dalam pendidikan (Adisusanto. 1995: 74-75). Tantangan-tantangan ini tidak bisa dihindari tetapi perlu dihadapi maka perlu usaha kerja keras dalam mewujudkan evangelisasi baru di Asia.
Mewartakan Injil dalam konteks kehidupan yang nyata dengan keanekaragaman masing-masing bukanlah hal yang mudah. Banyak tantangan yang dihadapi namun bagi kita yang percaya dan berharap pada Kristus, tantangan-tantangan akan diubah menjadi peluang untuk semakin giat mewartakan Injil dengan semangat, cara dan bentuk yang baru.
4. Evangelisasi Baru di Indonesia
Seruan evangelisasi baru dewasa ini semakin bergema dalam Gereja Katolik di Indonesia. Berhadapan dengan situasi bangsa dan negara yang sedang mengalami krisis di berbagai dimensi kehidupan, upaya mewujudkan evangelisasi baru pun mengalami banyak tantangan sebagaimana tantangan-tantangan yang dihadapi Gereja-gereja Asia pada umumnya.
Di mana pun dan kapan pun para pengikut Kristus tidak pernah merupakan kelompok yang kerasan dan mapan. Mereka terlibat dalam urusan-urusan dunia ini, namun bukan untuk menjadi terbenam dan mapan di dalamnya, melainkan untuk mengritiknya dalam perspektif rencana Tuhan (Putranto, 2003: 9). Hal ini mau menegaskan bahwa siapa pun yang menjadi pengikut Yesus memiliki tanggung jawab atas hidup dan kesejahteraan jasmani dan rohani sesama yang berada di sekitarnya. Umat Katolik tidak perlu mengambil jarak terlalu jauh dari dunia, juga tidak harus tenggelam dalam arus jaman. Umat Katolik perlu hadir di tengah-tengah dunia untuk menjadikannya utuh sebagaimana dikehendaki Sang Pencipta.
Evangelisasi baru dalam konteks Gereja Katolik di Indonesia dilaksanakan bukan sekedar menambah jumlah dan kualitas kehidupan beriman umat Katolik, melainkan suatu kegiatan yang pada akhirnya menyentuh aspek terdalam kehidupan seseorang: apa pun agama, suku, dan latar belakang budayanya. Evangelisasi baru diharapkan dapat membawa kabar gembira bagi siapa pun yang dijumpai. Dengan kata lain, penulis melihat bahwa upaya evangelisasi baru yang sedang digalakkan Gereja Katolik merupakan kegiatan yang ikut serta mendukung upaya pembangunan bangsa Indonesia menuju masyarakat adil, makmur dan sejahtera.
pembangunan makin diarahkan kepada peningkatan kesadaran akan martabat dan hak-hak manusiawi. Selanjutnya beliau menambahkan bahwa Gereja juga terpanggil untuk menyuarakan prinsip-prinsip kristiani mengenai hidup berkeluarga dan masalah kependudukan di samping persoalan martabat kaum wanita, hidup keagamaan, pendidikan, kebudayaan, dan ideologi politik serta kelestarian lingkungan hidup.
Gagasan yang dikemukan oleh Hardawiryana tersebut di atas mau mengajak setiap umat Katolik untuk semakin menyadari bahwa pewartaan Injil tidak pernah terpisah dari perjuangan keadilan dan kesejahteraan bangsa manusia. Demikianlah hendaknya di Indonesia, hal ini menjadi sesuatu yang penting dalam upaya mewujudkan evangelisasi baru di bumi pertiwi. Gereja perlu semakin tanggap, peduli, dan terlibat dengan situasi jaman dan tantangan-tantangannya sehingga misi penebusan yang diberikan Sang Penebus menjadi tugas yang senantiasa berkelanjutan agar Kerajaan Allah hadir di tengah dunia.
B. Gambaran Evangelisasi Baru pada Umumnya 1. Definisi Evangelisasi
gembira tentang Kerajaan Allah kepada orang yang belum mengenal Injil, (2) evangelisasi diri umat beriman yang berlangsung terus-menerus dengan memperdalam iman, memberi kesaksian dengan perkataan dan terutama dengan kehidupan atau perbuatan (Yunani= Martyrion), (3) tingkat kesadaran iman Kristiani akan amanat Kristus seperti terdapat dalam Injil (Heuken, 1991: 313).
Paus Paulus VI dalam Evangelii Nuntiandi (1975) menerangkan bahwa evangelisasi adalah mewartakan kepada segala bangsa kerahiman Allah akan semua orang yang percaya dengan perantaraan Yesus Kristus. Allah menjadi Bapa orang yang beriman dan semua orang menjadi saudara (Heuken, 1991: 313). Secara lebih jelas, Paus Paulus VI merumuskan dalam Evangelii Nuntiandi art. 18, evangelisasi adalah kegiatan membawa kabar baik kepada setiap orang dengan keragaman masing-masing dan dengan demikian membuatnya menjadi baru. Selanjutnya dalam art. 24, dikatakan bahwa evangelisasi adalah suatu proses yang kompleks yang terdiri dari bermacam-macam unsur seperti: pembaharuan kemanusiaan, kesaksian, pewartaan yang eksplisit, ketaatan batin, masuk dalam jemaat, menerima tanda-tanda, dan berinisiatif dalam merasul. Unsur-unsur ini saling berkaitan satu dengan yang lain.
Dari beberapa paham mengenai evangelisasi tersebut di atas, penulis menyimpulkan bahwa evangelisasi adalah proses penyebaran Injil Kerajaan Allah kepada semua orang, baik yang belum mengenal Kristus maupun yang sudah percaya kepada Kristus dengan tujuan memperdalam iman.
2. Beberapa Pandangan mengenai Evangelisasi Baru
Berada dalam situasi dan lingkungan yang statis, rutin tanpa mencoba untuk menemukan sesuatu yang baru dan lebih baru akan membuat orang mudah merasa bosan, tertekan dan kehilangan semangat atau gairah hidup. Oleh karena itu, seringkali orang berusaha menemukan cara untuk keluar dari situasi tersebut yaitu mengadakan dialog dan konfrontasi dengan kenyataan atau situasi faktual yang dihadapi. Dengan demikian seseorang pasti akan menemukan hal yang baru, yang membuat dirinya mampu mengubah keadaan yang sedang ‘rumit’ sehingga mengalami kesegaran baru, kegembiraan dan kebahagiaan.
lesu karena berbagai tantangan jaman. Usaha-usaha penemuan pola dan metode pewartaan Sabda Allah dengan cara baru inilah yang disebut dengan Evangelisasi Baru.
Paus Yohanes Paulus II sebagaimana sudah dikatakan sebelumnya bahwa dalam sidang Paripurna ke-19 Para Uskup Amerika Latin di Port au Prince, Haiti pada 19 Maret 1983 menghimbau para uskup agar bersama dengan kaum klerus dan awam, Gereja memiliki komitmen terhadap suatu evangelisasi baru. Letak kebaruan di sini adalah baru dalam semangat, pola atau metode dan cara serta wujud pewartaan kabar gembira atau Injil.
Semangat baru yang dimaksud adalah kegiatan pewartaan yang dilakukan didasarkan atas kemauan kuat agar semakin banyak orang mengalami kegembiraan dan keselamatan bukan atas keinginan untuk menggiring banyak orang masuk dalam Gereja dan menjadi Katolik. Cara baru dalam pewartaan pun diupayakan sesuai kebutuhan jaman. Hal ini berbeda dengan cara pewartaan lama misalnya hanya dengan kotbah, renungan, doa, katekese, baptis dan pelayanan sakramen-sakramen lainnya. Dalam evangelisasi baru cara pewartaan Injil dilakukan melalui dialog dan kerja sama dengan berbagai pihak, gerakkan ekumene, melalui kesaksian hidup setiap hari dan pewartaan melalui media massa.
manusia yang “utuh”, yang mempunyai sejarah hidup yang berbeda-beda. Dengan kata lain evangelisasi baru dapat dipahami sebagai: “Membangun komunitas kristiani yang dijiwai oleh Sabda, dalam konteks hidupnya yang beragam, sehingga komunitas itu hadir memberikan kesaksian yang hidup akan Kristus yang menyelamatkan”. Adisusanto (1995: 69) merumuskan kebaruan evangelisasi terletak terutama dalam usaha pewartaan untuk membantu umat agar mereka dapat merealisasikan nilai-nilai Injil dalam kehidupan nyata setiap hari dan dalam konteks tantangan-tantangan jaman sekarang.
bukan sebagai ancaman bagi rencana dan kasih Allah, melainkan juga sebagai jalan memetik buah-buah kasih tersebut. Dengan demikian pewartaan iman tidak perlu dipisahkan dari pembangunan seluruh kehidupan manusia yang nyata. Evangelisasi baru dilihat sebagai rencana pastoral seluruh Gereja untuk melibatkan diri dalam kepentingan umat manusia mana pun.
Dari pandangan beberapa ahli mengenai evangelisasi baru tersebut di atas, penulis menyimpulkan bahwa evangelisasi baru tidak perlu membatasi diri pada usaha untuk meneruskan ajaran dan mencari pemeluk agama Kristen sebanyak-banyaknya melainkan berusaha agar semakin banyak orang dari manapun asalnya menerima kabar gembira dan mengalami penebusan yang berlimpah-limpah dari Kristus sendiri dalam kondisi mereka masing-masing. Evangelisasi baru juga tidak hanya memberi rasa aman tetapi membuat setiap orang yang dijumpai, yang menerima pewartaan kabar gembira mampu merealisasikan nilai-nilai Injil dalam kehidupan mereka yang nyata dan menjadi pribadi tangguh yang mampu menghadapi tantangan-tantangan zaman sekarang.
menerus dengan proses yang kompleks yang menjangkau setiap orang di manapun, kapanpun dan dalam tingkat kebudayaan masing-masing; yang dilakukan dengan semangat baru, cara baru dan bentuk yang baru pula.
3. Unsur-unsur Pokok Evangelisasi Baru a. Subjek Evangelisasi Baru
1) Bertolak dari ensiklik Redemptoris Missio, Hardawaryana merumuskan bahwa pelaku atau subjek utama evangelisasi baru adalah Gereja. Selain Gereja, komunitas-komunitas basis kristiani dapat menjadi pusat-pusat evangelisasi, begitu pula keluarga sebagai Gereja-rumah (1995: 100). Pernyataan ini mengandaikan bahwa kegiatan penginjilan kembali dengan semangat, metode atau cara, dan bentuk baru merupakan tugas yang harus dilaksanakan oleh setiap anggota Gereja dalam kapasitasnya masing-masing: anak-anak, remaja, kaum muda, dewasa, dan mereka yang sudah lanjut usia. Komunitas-komunitas kristiani yang terbentuk juga mempunyai tanggung jawab yang sama dalam hal mewujudkan evangelisasi baru begitu pula keluarga sebagai bagian terkecil Gereja.
bernilai berupa karya yang sistematik dalam katekese. Di sini peran orang tua Kristiani dan para katekis menjadi sangat penting. Kegiatan kaum awam di lingkungan-lingkungan pun menjadi hal yang sangat perlu dan bermanfaat lebih-lebih berkaitan dengan kesaksian hidup sebagai orang beriman Kristiani. Ditegaskan bahwa kaum awam dapat memanfaatkan hubungan atau relasi mereka dengan agama-agama melalui teladan hidup mereka dan melalui kerja sama yang terbuka satu sama lain (bdk. CL art. 34-35).
b. Tujuan Evangelisasi Baru
Hardawiryana (1995: 100) merumuskan dua tujuan evangelisasi yaitu: 1) Menunjang proses interiorisasi iman pada umat kristiani, mengembangkan
perubahan sosial dan memberikan harapan akan masa depan yang cerah, yang ditandai dengan terwujudnya budaya kasih.
2) Evangelisasi baru bertujuan agar iman dapat mengakar, tumbuh, dan menjelma dalam kebudayaan masyarakat yang aktual dan evangelisasi baru pun diharapkan dapat menegakkan kebenaran, keadilan dan mutu kehidupan susila yang tinggi. Karena itu harus menanggapi soal ketimpangan sosial yang mendasar dengan membongkar akar-akar sistem politik dan ekonomi yang tidak adil. Tujuan ini mau menegaskan bahwa kegiatan evangelisasi baru tidak sebatas hal-hal intern keagamaan melainkan mengajak orang untuk peduli dan peka akan ketimpangan-ketimpangan sosial yang terjadi serta mampu mencari jalan keluar mengatasi setiap ketimpangan sosial tersebut.
c. Tantangan Evangelisasi Baru
kebudayaan baru; juga menanggapi ketidakbebasan beragama dan kemiskinan yang merendahkan martabat manusia. Untuk itu, evangelisasi baru ditantang untuk menumbuhkan benih-benih sabda yang terdapat di berbagai macam keadaan, yang kadang saling bertentangan (1995: 101).
Hidup di era globalisasi dengan berbagai dampak positif dan negatif, penulis juga menyadari bahwa ada begitu banyak tantangan yang dihadapi dalam upaya mewujudkan pewartaan yang efektif dan efisien. Meski demikian, sebagai pengikut Kristus yang sudah diberi amanat untuk mewartakan Injil kita tidak perlu berputus asa. Justru di tengah tantangan yang dating menghadang, kita diharapkan untuk tetap menumbuhkan benih-benih sabda dalam situasi yang sangat tidak memungkinkan bahkan bertentangan dengan sabda itu sendiri.
d. Syarat-syarat Evangelisasi Baru
Hardawiryana dalam dalam Katekese Umat dan Evangelisasi Baru mengemukakan beberapa syarat evangelisasi baru sebagai berikut (1995: 101-102):
2) Mengingat makin pesat, meluas, dan mendalamnya perkembangan masyarakat, evangelisasi baru tidak boleh sekedar mengulang semangat dan cara-cara misi yang lama melulu. Maka persyaratannya adalah: kesesuaian antar mutu dan cara-cara dengan aspirasi-aspirasi dan sensibilitas manusia masa kini.
3) Dituntut pula kemampuan memahami mentalitas dan sikap-sikap yang sekarang merajalela, membacanya dalam terang Injil dan mengangkat unsur-unsur yang baik di dalamnya, untuk terus dimekarkan.”Bahasa” (dalam arti luas) baru masyarakat menuntut kesanggupan para saksi Injil, mengalih bahasakan amanat-hikmat Sabda Tuhan ke dalam corak-corak ekspresi modern.
4) Supaya sungguh bermakna, evangelisasi baru menyangkut komitmen yang tulus dan partisipasi dinamis-kreatif dalam usaha demi masyarakat yang lebih sejahtera, damai dan adil yang ditandai kebudayaan cintakasih.
unsur-unsur yang baik dan membersihkan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan sendiri.
e. Upaya-upaya Evangelisasi Baru
Menurut Hardawiryana (1995: 102-103), upaya-upaya yang perlu dilakukan berkaitan dengan evangelisasi baru adalah:
1) Evangelisasi baru harus memanfaatkan Ajaran Sosial Gereja berdasarkan paham tentang manusia, martabat serta panggilannya menurut wahyu Ilahi dan mendasari pengembangan manusia yang otentik: pewartaan yanga konkrit tentang Kristus, Gereja dan manusia, merupakan sumbangan utama Gereja untuk menanggapi soal-soal pembangunan yang mendesak. 2) Evangelisasi baru harus menggunakan media komunikasi untuk
menegakkan kebenaran, keadilan dan mutu kehidupan susila yang tinggi. Usaha mengintegrasikan pesan kristiani dalam kebudayaan baru hasil media massa meliputi bahasa yang baru, teknik-teknik baru dan psikologi yang baru.
DI SUMBA BARAT DAYA
Pada bab II penulis telah memaparkan mengenai evangelisasi baru secara
lebih lengkap mulai dari sejarah munculnya hingga perkembangannya dalam Gereja
Katolik di Indonesia. Pada bab III ini, penulis akan membahas tentang unit pelayanan
sosial Seraphine Community Development dalam upaya mewujudkan evangelisasi
baru di Sumba Barat Daya. Penulis membagi pembahasan ini menjadi empat hal
pokok. Pertama, penulis akan memaparkan mengenai gambaran umum kabupaten
Sumba Barat Daya, bagian kedua memaparkan tentang sejarah singkat Gereja di
Sumba Barat Daya, ketiga tentang pandangan umum pelayanan sosial yang terdiri
dari tiga sub bagian yakni: pengertian pelayanan sosial pada umumnya, pelayanan
dalam perspektif Kitab Suci dan bentuk-bentuk pelayanan atau diakonia yang terdiri
atas empat hal yakni: diakonia karitatif, diakonia reformatif, diakonia transformatif,
dan diakonia profetis. Pada bagian keempat, penulis akan memaparkan mengenai
pelayanan sosial para suster Amalkasih Darah Mulia di Sumba Barat Daya. Ada dua
hal yang akan dibahas pada bagian ini yakni: sejarah singkat komunitas Suster-suster
Amalkasih Darah Mulia di Sumba dan unit pelayanan sosial Seraphine Community
Development Sumba yang meliputi sejarah perkembangan unit pelayanan sosial
Seraphine Community Development Sumba, bentuk-bentuk pelayanan Seraphine
Community Development Sumba, kesulitan-kesulitan yang dihadapi dan upaya-upaya
unit Sosial Seraphine Community Development dalam mewujudkan evangelisasi baru
di Sumba Barat Daya. Pada bagian ini, penulis akan mengadakan wawancara untuk
melengkapi data, yang bertujuan untuk mengetahui sudah sejauh mana unit pelayanan
sosial Seraphine Community Development Sumba berupaya mewujudkan
evangelisasi baru di Sumba Barat Daya. Bertolak dari wawancara yang akan
diadakan, penulis juga akan dibantu untuk menemukan usaha atau cara-cara yang
tepat mewujudkan evangelisasi baru di Sumba Barat Daya melalui kegiatan unit
pelayanan sosial Seraphine Community Development Sumba.
Unitpelayanan sosial Seraphine Community Development dalam upayanya
untuk mewujudkan evangelisasi baru di Sumba Barat Daya akan menjadi isi pokok
yang akan dipaparkan oleh penulis pada bab III ini. Adapun maksud atau pentingnya
kajian pada bab III ini adalah pertama-tama untuk mengetahui dan memahami adanya
hubungan atau saling keterkaitan yang erat antara kegiatan pelayanan sosial
Seraphine Community Development dengan upaya mewujudkan evangelisasi baru di
Sumba Barat Daya.
Berikut ini akan dipaparkan lebih lanjut mengenai unit pelayanan sosial
Seraphine Community Development dalam upaya mewujudkan evangelisasi baru di
A. Gambaran Umum Kabupaten Sumba Barat Daya
Kabupaten Sumba Barat Daya merupakan salah satu kabupaten di Pulau
Sumba dan merupakan pemekaran dari Kabupaten Sumba Barat. Luas wilayah
kabupaten Sumba Barat Daya adalah 1.480,46 km2 yang membentang antara 900 18’
– 1000 20’ lintang selatan dan 11800 55’ – 12000 23’ bujur timur. Luas wilayah
daratan adalah 1.445,32 km2. Sebagian besar wilayahnya berbukit-bukit di mana
hampir 50 persen luas wilayahnya memiliki kemiringan 140 – 4000. Topografi yang
berbukit-bukit mengakibatkan tanah rentan terhadap erosi. Batas wilayah kabupaten
ini yakni sebelah utara berbatasan dengan selat Sumba, sebelah selatan adalah
samudera Indonesia, sebelah barat berbatasan dengan samudera Indonesia dan
sebelah timur berbatasan dengan wilayah kabupatenSumba Barat.
Kabupaten Sumba Barat Daya secara administrasi merupakan salah satu
kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia, yang dibentuk berdasarkan
UU no. 16 tahun 2007. Peresmian dilakukan oleh Pejabat Mendagri Widodo A.S.
pada tanggal 22 Mei 2007. Berdasarkan data statistik tahun 2008, kabupaten Sumba
Barat Daya terbagi atas 8 kecamatan, 94 desa, 2 kelurahan dengan jumlah populasi
penduduk sebanyak 261.211 jiwa. Kabupaten ini beribukota di Tambolaka, dipimpin
oleh bupati dr. Kornelius Kodi Mete. Stabilitas keamanan masih sangat rawan di
mana sering terjadi perkelahian antara desa atau kampung yang bisa menimbulkan
pertumpahan darah. Masyarakat Sumba secara rasial merupakan campuran dari ras
Sebagian besar penduduk di kabupaten Sumba Barat Daya menganut
kepercayaan animisme Marapu. Protestan berada di urutan kedua diikuti Katolik
sedangkan kaum muslim dalam jumlah kecil dapat ditemukan di sepanjang kawasan
pesisir. Marapu adalah "agama asli" yang masih hidup dan dianut oleh orang Sumba.
Marapu ialah sistem keyakinan yang berdasarkan kepada pemujaan arwah-arwah
leluhur (ancestor worship). Dalam bahasa Sumba, arwah-arwah leluhur disebut
Marapu berarti “yang dipertuan” atau “yang dimuliakan”. Bisa dikatakan agama
Marapu sebagai inti dari kebudayaan mereka, sebagai sumber nilai-nilai dan
pandangan hidup serta mempunyai pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat
yang bersangkutan. Karena itu tidak terlalu mudah mereka melepaskan
keagamaannya untuk menjadi penganut agama lain. (www.facebook.com/topic.php).
B. Sejarah Singkat Gereja di Sumba Barat Daya
Awal mula Gereja di Pulau Sumba dimulai pada tahun 1885 dengan
kehadiran Pater Herman Leemker, SJ yang merupakan misionaris yang pertama kali
menjejakkan kaki di Pulau Sumba. Sejak saat itu, benih iman mulai bertumbuh di
Sumba meski mengalami tantangan seperti keadaan alam, stabilitas keamanan yang
labil dan budaya serta agama asli. Pada tanggal 21 April 1889, datang Pater B.
Schweitz, SJ dan Br. W. Busch. Bersama lima teman Jesuit lain mereka berkarya di
Sumba Barat selama 9 tahun dan mempermandikan 1054 orang. Pada tahun 1898
para pastor SJ meninggalkan Sumba atas keputusan pimpinan SJ di Yogyakarta
lebih subur. Sejak saat itu Sumba mengalami kekosongan tenaga misionaris. Baru
pada tahun 1921 para misionaris SVD dari Flores mulai mengadakan kunjugan
pastoral ke Sumba dan memberikan pelayanan pastoral. Dengan demikian selama 23
tahun (1898-1921) umat Katolik di Sumba tidak mendapat pelayanan pastoral sama
sekali.
Sejak tahun 1929 hingga 1957, karya misi SVD di Sumba mengalami
perkembangan yang menggembirakan namun di lain pihak mereka tetap mengalami
kekurangan tenaga dan biaya untuk melayani daerah misi Sumba. Hal ini mendorong
para misionaris dan pimpinan SVD mengajukan permohonan kepada Vikaris
Apostolik Ende pada tahun 1947 agar mencari satu kongregasi lain yang dapat
melayani gereja dan masyarakat Sumba secara memadai dengan tenaga yang lebih
banyak. Permohonan ini disampaikan kepada Superior Jenderal Congregatio
Sanctissimi Redemptoris-CSsR/Kongregasi Sang Penebus Mahakudus, atau yang
lazim disebut Redemptoris di Roma yang meneruskannya kepada pimpinan CSsR di
Köeln, Jerman. Pimpinan Redemptoris di Koln yang pada waktu itu masih
mempunyai banyak anggota menerima tawaran ini.
Pada tanggal 23 Juni 1955 Kongregasi Kepausan untuk Evangelisasi
(Propaganda Fide) di Roma mengeluarkan dekrit berupa mandatum dan
mempercayakan secara resmi gereja Sumba kepada Propinsi Redemptoris Köln,
Jerman. Sejak itu, tepatnya tanggal 17 Januari 1957 para Pastor Redemptoris berkarya
di Sumba sampai hari ini; membangun dan mengembangkan Gereja di Sumba pada
tarekat-tarekat religius lain juga mulai datang ke pulau Sumba untuk mewartakan
Kerajaan Allah. Sampai saat ini tercatat 12 tarekat religius yang berkarya di
keuskupan Weetebula-Sumba antar lain: CSsR, SVD, SDB, BHK, OCD, ADM, OSF,
CIJ, PRR, SSpS, SCMM, dan FMA. Ada juga satu institusi sekulir yang dengan giat
menjalankan pelayanan pastoral di keuskupan tersebut yakni ALMA
(http://dion-bata.blogspot.com/2009/07/redemptoris-ubah-wajah-sumba.html).
Mgr. Dr. Edmund Woga, CSsR sebagai uskup baru keuskupan Weetebula
yang ditabiskan pada tanggal 16 Juli 2009, dalam sambutannya mengatakan bahwa
yang menjadi tugas pokok Gereja adalah mengusahakan agar setiap orang, khususnya
mereka yang paling miskin dan terlantar dapat mengalami penebusan Kristus atau
mengalami karya keselamatan. Oleh karena itu, kegiatan pembinaan iman umat
khususnya di daerah-daerah yang masih dipengaruhi agama asli menjadi prioritas
utama. Lebih lanjut, uskup juga mengemukakan beberapa tantangan yang di hadapi
Gereja antara lain: pertama: pengembangan Komunitas Basis Gereja yang tidak jelas
dalam kegiatannya. Kedua: tradisi yang masih kuat di kalangan masyarakat setempat
sehingga mengakibatkan banyaknya pasangan Katolik yang hidup bersama tanpa
ikatan perkawinan sah karena menganggap perkawinan sebagai persoalan adat.
Ketiga: banyak umat Katolik lokal yang masih mengikuti agama Marapu
(http://sumbaisland.com/gereja-sumba-masuk-babak-baru).
Hal yang diungkapkan uskup Mgr. Edmund Woga, CSsR inilah yang
menjadi cita-cita atau visi ke depan bagi segenap anggota Gereja setempat. Setiap
tujuan tersebut. Penulis melihat bahwa gagasan tersebut sangat erat kaitannya dengan
evangelisasi baru di Asia; di mana pewartaan Injil zaman sekarang diharapkan bisa
berdialog dengan agama dan budaya setempat serta berdialog dengan orang miskin.
C. Pandangan Umum Pelayanan Sosial
1. Pengertian Pelayanan Sosial pada Umumnya
Sebelum berbicara mengenai pelayanan sosial, terlebih dahulu penulis akan
menguraikan mengenai arti kata pelayan. Dalam Kamus Teologi, dikatakan bahwa
pelayan (minister) adalah orang yang diberi wewenang untuk melakukan peran
sebagai pelayan rohani dalam Gereja. Ada pelayan kudus (klerus) dan pelayan sabda
serta pelayan komuni (klerus dan awam). Pelayanan (ministry) merupakan
keikutsertaan dalam peranan Kristus sebagai nabi, imam, dan raja. Semua orang
Kristiani berkat baptisan dan krisma ikut serta mengambil bagian dalam peran-peran
tersebut. Anugerah-anugerah khusus dan istimewa yang diterima seseorang
hendaknya dilaksanakan dalam pelayanan demi kepentingan seluruh Gereja
(O’Collins & Farrigia, 1996: 235-236).
Di dalam buku Iman Katolik, dikatakan bahwa pelayan dan pelayanan lebih
berkaitan dengan perwujudan atau pengungkapan iman. Iman yang diketahui dan
diyakini perlu diwujudkan dalam tindakan nyata setiap hari (bdk. KWI, 1996: 445).
Lebih lanjut Surat Yakobus dengan sangat jelas dan tegas mengatakan “Seperti tubuh
(Yak. 2 : 26). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pelayanan dipandang sebagai
panggilan bagi Gereja untuk terlibat dalam segala segi kehidupan kemasyarakatan.
Dalam Gaudium et Spes (a.42 & 63), dikatakan bahwa misi khusus yang
oleh Kristus telah dipercayakan kepada Gereja-Nya, tidak hanya terletak pada bidang
politik, sosial ataupun ekonomi sebab tujuan yang telah ditetapkan-Nya untuk Gereja
bersifat keagamaan. Namun dari misi keagamaan itu lahirlah tugas-tugas yang dapat
melayani pembentukan dan peneguhan masyarakat manusia menurut hukum ilahi.
Bahkan ditegaskan bahwa apabila diperlukan menurut situasi tertentu maka
dipandang perlu diadakannya tugas-tugas pelayanan untuk melayani semua orang
khususnya bagi mereka yang sangat membutuhkan misalnya karya amal dan lain
sebagainya. Lebih lanjut dikatakan juga bahwa manusia adalah sumber, pusat dan
tujuan seluruh kehidupan sosial ekonomi. Atas dasar cinta kasih Kristus, Gereja
bersama semua orang yang berkehendak baik melaksanakan karya keadilan.
Pelayanan sosial yang akan dibahas dalam bab ini adalah pelayanan sebagai
keikutsertaan Gereja dalam misi Yesus; bukan pelayanan pada umumnya yang
memiliki motif untuk mendapatkan imbalan. Pelayanan yang lebih berkaitan dengan
sikap hati seseorang agar sesamanya mengalami keadilan dan kesejahtraan lahir
maupun batin bukan demi identitas diri dan keuntungan pribadi.
2. Pelayanan Dalam Perspektif Kitab Suci
Kata pelayanan dalam Bahasa Inggris ministry, service; dalam bahasa
dalam Injil Sinoptik; 3 kali dalam Yohanes; 8 kali dalam Tulisan Paulus; 1 kali dalam
Ibrani; 3 kali dalam 1 Petrus) dengan arti: Pertama,Pelayanan meja (Mrk. 1:31, Luk.
17:8, Kis. 6:1-2). Ketika jumlah murid Gereja perdana semakin bertambah, timbullah
sungut-sungut di antara orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang
Ibrani. Hal ini dikarenakan pembagian derma kepada janda-janda mereka diabaikan
di dalam pelayanan sehari-hari, sehingga kedua belas rasul itu memanggil semua
murid berkumpul dan mengatakan bahwa mereka melalaikan Firman Allah untuk
melayani meja. Menurut para rasul, melalaikan pelayanan meja sama artinya
melalaikan Firman Allah. Pelayanan meja merupakan bagian Firman Allah yang
harus dikerjakan dan menjadi tanggung jawab Gereja (Kis. 4:35; 11:28-29; 1 Tim.
3:3-16). Gereja mula-mula memperhatikan dua macam pelayanan, yaitu: (1)
Pelayanan spiritual yaitu pelayanan Firman Allah dan doa (Kis. 6:4) dan (2)
Pelayanan material yaitu palayanan meja (Kis. 6:1-2). Arti yang lebih luas yaitu help
by providing care muncul dalam Matius 25:44; Markus 1:13; 15:41; Lukas 8:3.
Kecuali arti di atas, di dalam Perjanjian Baru kata pelayanan juga berhubungan
dengan pelayanan proklamasi Injil. Dalam Kisah Para Rasul 6:4, dikatakan bahwa
“supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan διακονια Firman.”
Lebih jelas Paulus berkata: “Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal
saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan διακονια yang ditugaskan
oleh Tuhan Yesus untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah: Kis.
Dari pembahasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa di dalam istilah
pelayanan terkandung baik pelayanan sosial maupun pemberitaan Injil (word and
deed). Kata pelayanan dalam konteks Indonesia juga mempunyai arti yang agung
yaitu menunjuk kepada kerelaan hati untuk melayani tanpa mengharapkan imbalan
dari orang yang dilayani. Pelayanan merupakan pengabdian dalam hal ini pengabdian
kepada amanat Tuhan Yesus Kristus yang dinyatakan kepada sesamanya; pelayanan
“berarti mengubah orientasi: dari ingat diri sendiri (self interest, dengan pamrih) kita
mengarahkan pada kepentingan orang lain.
3. Bentuk-bentuk Pelayanan atau Diakonia a. Diakonia Karitatif
Diakonia karitatif merupakan bentuk diakonia paling tua yang dipraktekkan
oleh Gereja dan pekerja sosial, yang sering diwujudkan dalam bentuk pemberian
makanan dan pakaian untuk orang miskin, menghibur orang sakit dan per