• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II POKOK-POKOK HIDUP DOA

C. Bentuk-Bentuk Doa

Gereja telah menjelaskan apa itu doa lisan dengan baik dan jelas. Menurut KGK 2700, doa lisan dijelaskan sebagai doa yang berbentuk kata-kata baik yang dipikirkan maupun yang diucapkan. KGK 2700 menuliskan bahwa menurut Yohanes Krisostomus, entah doa kita dikabulkan atau tidak, itu tidak tergantung dari banyaknya kata yang kita ucapakan dalam doa akan tetapi jiwa dan kesungguhan kita dalam berdoa.

“Doa lisan merupakan cara untuk menyapa Allah dengan menggunakan

baik doa-doa formal seperti Bapa Kami, Salam Maria, Kemulian kepada Allah maupun mengungkapkan pemikiran dan keprihatinan hati kita kepada Allah

dengan kata-kata kita sendiri” (Rausch, 2001: 272). Kutipan tersebut menjelaskan bahwa ciri khas dari doa lisan adalah bahwa doa tersebut disampaikan kepada Allah dengan kata-kata manusia. Doa dengan kata-kata tersebut dapat berbentuk doa formal seperti Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan, dan lain-lain. Selain itu doa lisan juga dapat berupa doa-doa yang kita ungkapkan dengan kata-kata kita sendiri sesuai dengan keinginan hati kita apa yang ingin kita ucapkan atau ungkapkan kepada Allah.

Berkata-kata menjadi tanda lahiriah dari apa yang diinginkan secara batiniah. Yesus pun mengajarkan doa lisan (Bapa Kami) agar kita mengetahui bagaimana harus berbicara dengan Allah (Bavel, 2011: 82). Jadi doa lisan yang dipanjatkan dengan kata-kata menjadi tanda atau ekspresi manusia dalam mengungkapkan hatinya. Yesus pun juga mengajarkan suatu doa lisan yaitu doa Bapa Kami supaya kita tahu bagaimana harus berdoa kepada Allah.

Jadi kesimpulannya, doa lisan dapat dipahami sebagai doa yang dilambungkan kepada Allah dengan kata-kata. Yesus sendiri mengajari kita salah satu doa lisan yaitu doa Bapa Kami. Doa dengan kata-kata itu dapat berupa doa formal seperti Bapa Kami, Salam Maria, dan lain-lain maupun berupa kata-kata kita sendiri sesuai apa yang ingin kita ungkapkan atau sampaikan kepada Allah.

2. Doa Renung / Meditasi

Menurut KGK 2708, “Meditasi memakai pikiran, daya khayal, gerak

perasaan dan kerinduan. Usaha ini penting untuk memperdalam kebenaran iman, untuk menggerakkan pertobatan hati dan memperkuat kehendak guna mengikuti

Kristus”. Jadi menurut kutipan tersebut, meditasi lebih banyak memakai pikiran, daya khayal, gerak perasaan dan kerinduan. Doa renung atau meditasi berbeda dengan doa lisan yang lebih banyak diungkapkan dengan kata-kata. Usaha doa dengan meditasi ini penting untuk memperdalam iman, menggerakkan pertobatan hati dan juga memperkuat kehendak untuk mengikuti Kristus.

Menurut Youcat Katekismus Populer (502), meditasi dimulai dengan teks Kitab Suci atau gambar kudus dan kemudian menjelajahi kehendak, tanda-tanda, dan kehadiran Allah. Menurut Trust (2007: 26), Doa kita harus mengatasi kata-kata dan pemikiran. Dan meditasi adalah praktik untuk mengatasi kata-kata-kata-kata dan pikiran, yang oleh Evagrius, satu dari rahib besar padang gurun, disebut doa murni. Jadi doa sebaiknya tidak hanya terbatas pada kata-kata dan pemikiran. Dan meditasi menjadi praktik doa yang mengatasi kata-kata dan pikiran.

Dalam meditasi, kita perlu memiliki sikap tubuh yang baik. Menurut Trust (2007: 79), kita perlu duduk diam. Trust menjelaskan bahwa untuk bermeditasi kita harus belajar duduk diam dengan punggung tegak. Mengapa? Karena meditasi menyangkut ketenangan jiwa dan raga yang sempurna. Di dalam ketenangan itulah kita membuka hati kita kepada keheningan abadi Allah. Kapan sebaiknya kita melakukan meditasi? Menurut Green (1988: 87), waktu yang baik melakukan meditasi adalah di pagi hari sebelum pikiran kita dipenuhi dengan urusan dan kesibukan lain pada hari itu. Lalu apa tujuan kita melakukan meditasi? Menurut Rochadi Widagdo (2003: 48) tujuan meditasi adalah sebagai berikut:

Tujuan meditasi adalah belajar berdoa. Belajar berdoa berarti belajar dicintai dan mencintai Tuhan. Meditasi adalah duduk diam di kaki Tuhan Yesus dan mendengarkan apa yang diucapkan-Nya, dan berdiam di

dalam kasih-Nya. “… barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap

berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia” (1 Yoh 15: 16).

Menurut kutipan tersebut, tujuan meditasi adalah belajar berdoa. belajar berdoa diartikan sebagai belajar dicintai dan mencintai Tuhan. Kita diajak memiliki sikap duduk diam dan mendengarkan Tuhan dan mendengarkan sabda Tuhan Yesus serta tinggal dalam kasih-Nya. Setiap orang yang memiliki kasih, ada di dalam Allah dan Allah tinggal di dalam dia.

Jadi dapat disimpulkan bahwa doa renung atau meditasi adalah pencarian akan Allah melalui doa yang tidak mengandalkan kata-kata seperti doa lisan. Dalam meditasi, keheningan sangat diperlukan. Diperlukan pula pikiran, daya khayal, gerak perasaan dan kerinduan. Doa ini pertama-tama bersumber dari teks Kitab Suci, atau juga gambar kudus yang kita renungkan atau kita pikirkan. Dalam melakukan meditasi kita perlu sikap duduk yang baik yaitu duduk diam dan punggung tegak. Waktu terbaik untuk melakukan meditasi adalah pagi hari sebelum melakukan aktivitas. Dan tujuan melakukan meditasi adalah untuk belajar merasakan dicintai dan mencintai Allah.

3. Doa Batin / Kontemplasi

Doa batin adalah ungkapan sederhana tentang misteri doa. Dalam doa batin ini kita memandang Yesus dengan penuh iman, mendengarkan Sabda Allah dan mencintai tanpa banyak kata (KGK 2724). Salah satu cara kontemplasi yang sering digunakan adalah kontemplasi cara Santo Ignatius Loyola. Bentuk dari kontemplasi tersebut yaitu mengambil suatu peristiwa dari kehidupan Kristus dan

mementaskannya dalam fantasi, ikut ambil bagian di situ, seakan-akan ini pertama kali terjadi dan mengambil peranan di dalamya (de Mello, 1980: 73).

Sedangkan menurut Ballester (1986: 58), kontemplasi dari St. Ignatius Loyola mengajak kita untuk menemukan Allah dalam segala sesuatu, yaitu setiap langkah, dalam setiap unsur alam, dan dalam setiap keadaan hidup. Jadi, dalam doa kontemplasi kita diajak untuk menemukan Allah dalam setiap kejadian dalam hidup kita, pada setiap hal yang kita temui di dalam hidup kita.

Yang sangat khas dalam kontemplasi adalah kita memasukkan unsur angan-angan di dalam doa, dan kita mencoba menghayati kembali, bukan sebagai suatu adegan film, tetapi kehidupan Yesus Tuhan kita. Dalam contoh, kita mencoba hadir di sumur ketika Yesus bertemu dengan wanita (Green, 1988: 92). Menurut Widagdo (2003: 29), kontemplasi artinya memandang dalam waktu yang lama dan penuh kasih. Ibarat seorang pemuda yang penuh kasih memandang gadis pujaan hatinya dengan penuh kerinduan hingga seolah-olah bertemu dengan dia.

Jadi doa batin atau kontemplasi adalah ungkapan yang sederhana dalam doa. Kontemplasi tidak menggunakan banyak kata sama seperti meditasi. Perbedaan meditasi dan kontemplasi adalah jika dalam meditasi kita merenungkan Allah dan menggunakan daya akal budi, maka kontemplasi lebih pada merasakan kehadiran Allah dan lebih menggunakan angan-angan. Dalam doa kontemplasi St. Ignatius Loyola kita diajak untuk menemukan Allah dalam segala sesuatu. Dalam doa kontemplasi pula kita berangan-angan bahwa kita sungguh hadir dalam peristiwa yang dialami oleh Yesus kemudian memandang-Nya dengan penuh cinta dan kekaguman. Baik doa lisan, doa renung (meditasi) maupun doa batin

(kontemplasi), tidak diharuskan untuk dipilih dalam berdoa karena dalam berdoa yang terpenting adalah hati. Bagaimana hati kita dapat mengarah kepada Tuhan sepenuhnya adalah yang paling penting dalam doa.