• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.1 Pulau Kecil dan Ekosistemnya

4.1.1 Tipe Tektonik

4.1.1.1 Bentuklahan model pulau kecil

Hasil analisis geomorfologi dari aspek morfogenesis, bentuklahan yang berkembang di pulau-pulau Batam, Rempang, dan Galang (Barelang) dapat dikelompokkan menjadi bentuklahan-bentuklahan asal proses 1) vulkanik/ magmatik, 2) tektonik/struktural, 3) fluvial, 4) marin, 5) organik, dan 6) antropogenik.

Bentuklahan-bentuklahan magmatik yang berkembang di Pulau Batam adalah berupa perbukitan berbatuan granit yang persebarannya menempati daerah Nongsa, Batuampar, dan Pulau Tanjungsauh di sebelah Timur Pulau Batam. Perbukitan dicirikan dengan relief bergelombang dengan permukaan yang relatif luas dan tumpul, mempunyai elevasi tidak lebih dari 200 m (169 m, peta pelayaran Indonesia skala 1:50.000) dari permukaan air laut, dan amplitudo perbedaan ketinggian yang tidak lebih dari 50 m. Pada daerah ini, permukaan tanah banyak dicirikan oleh tekstur pasir sebagai hasil proses pelapukan batu

granit berupa disintegrasi yang menghasilkan mineral-mineral lepas. Dari hasil proses pelapukan membentuk tanah dengan solum tanah bervariasi dari sedang hingga agak dalam (40 - 60 cm), tetapi kedalaman menjadi agak dangkal pada bagian puncak (30 cm). Di bagian pesisir pantai endapan pasir kelabu-kehitaman dari granit ini membentuk gisik pasiran yang sebagian digunakan sebagai tempat rekreasi di Nongsa.

Bentuklahan-bentuklahan tektonik (struktural) yang paling banyak ditemukan adalah dari struktur lipatan. Berdasarkan hasil pengamatan lapangan pola-pola igir yang secara umum memanjang dengan arah Baratlaut merupakan igir-igir homoklinal atau hogback (Gambar 11 b dan c) dengan kemiringan dip bervariasi dari 10° - 20°. Bentuklahan ini berselingan dengan lembah-lembah subsekuen yang mengikutinya. Pola seperti ini berkembang pada wilayah berbatuan sedimen yang secara umum terdiri atas perselingan antara batupasir, batulempung, dan konglomerat. Berdasarkan struktur peneplain yang didominasi oleh lipatan, maka pulau-pulau kecil yang terbentuk di perairan ini lebih banyak yang berupa igir-igir homoklinal. Pola igir hogback yang membentang dengan arah Baratlaut ini secara umum juga menunjukkan arah sumbu lipatan yang terbentuk.

Pulau-pulau yang terdapat di Pelataran Sunda (Sunda shelf) adalah bagian dari peneplain yang tidak tenggelam oleh air laut. Ini berarti bahwa Barelang juga merupakan igir-igir peneplain tersebut. Dari peta batimetrik yang dibuat oleh British Admiralty Chart no. 2757, terlihat bahwa Kepulauan Barelang-Bintan sebenarnya merupakan salah satu semenanjung purba di pantai Timur Sumatra.

Bentuklahan fluvial di Barelang menempati wilayah yang tidak luas, terutama berkembang di daerah lembah-lembah sungai dan lembah antar perbukitan yang terkadang merupakan daerah rawa-rawa. Material yang diendapkan pada dataran aluvial di kepulauan ini kebanyakan berupa material pasir yang berasal dari pelapukan batupasir atau batu granit.

Bentuklahan-bentuklahan asal proses marin lebih banyak didominasi oleh dataran pasang surut (tidal flat) yang banyak ditumbuhi oleh hutan mangrove di tepian pulau-pulau kecil. Pada bentuklahan ini, yang dinamakan lahan gambut, material yang diendapkan berbutir halus atau berupa lumpur. Bentuklahan lain seperti gisik pasir (sand beach) dapat juga dijumpai di beberapa pulau kecil. Sebagian besar material pasir ini bukan berasal dari kiriman material sungai yang kemudian dibawa oleh arus sepanjang pantai (longshore current), tetapi lebih

sebagai proses abrasi gelombang terhadap batupasir yang tersingkap di tepi pantai, seperti dijumpai di pantai Pulau Jandaberhias (Gambar 11 e) dimana pasir-pasir tersebut diendapkan di sepanjang garis pantai tersebut.

g) Pertumbuhan terumbu karang di Pulau Lengkang

h) Mangrove dan lamun jenis

Enhalus di Pulau Air-manis a) Mangrove dan permukiman di

Pulau Lengkang

b) Hogback di bagian Utara Pulau Bokor

c) Pulau Mentiang dengan dominasi

mangrove yang membentuk pulau jadi melingkar, tampak hogback

d) Ujung penunjaman antiklin di pantai Pulau Abang-kecil

e) Pantai berpasir di Pulau Janda- berhias

f) Perairan laut dangkal di Pulau Hantu

Gambar 11 Foto pulau-pulau kecil tipe tektonik.

Terumbu karang tampak tumbuh di kepulauan Batam ini meskipun tidak merata dan terumbu karang yang mati sering muncul ke permukaan pada saat air laut surut, seperti yang terjadi di Pulau Hantu (Gambar 11 f). Di kepulauan ini

terumbu karang tumbuh di atas batuan dasar peneplain yang terendam air laut, seperti batupasir, batulempung, atau konglomerat, dan terkadang terumbu ini dapat menghubungkan satu pulau dengan pulau di dekatnya dengan membentuk sebuah perairan laut dangkal seperti yang terjadi di Pulau Hantu.

Bentuklahan asal proses organik yang dijumpai di pulau-pulau kecil tipe tektonik adalah bentuklahan terumbu dan lahan gambut. Bentuklahan terumbu terbentuk oleh karang dan bentuklahan lahan gambut terbentuk oleh mangrove. Bentuklahan terumbu yang terbentuk merupakan bentuklahan terumbu paparan dinding yang tumbuh pada batuan dasar peneplain. Perbedaan tingkat perkembangannya dipengaruhi oleh kondisi hidrologinya.

Bentuklahan asal proses antropogenik banyak ditemukan khususnya di Pulau Batam, karena pulau ini merupakan pulau yang paling intensif dikelola oleh manusia. Hasilnya adalah di pulau ini banyak terjadi perubahan bentuklahan dan penggunaan lahan. Perubahan bentuklahan terutama disebabkan oleh Cut and Fill atau pemotongan perbukitan dan pengurugan pada daerah cekungan serta reklamasi daerah pesisir. Kegiatan ini dilakukan berkaitan dengan kebutuhan lahan untuk penataan ruang seperti yang telah direncanakan khususnya yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi. Hal ini terjadi karena di pulau ini dicanangkan program percepatan pembangunan Pulau Batam (Otorita Batam) yang dijadikan sebagai pusat kegiatan ekonomi internasional sejak era tujuh puluhan. Perataan relief ini untuk memenuhi kemudahan pembangunan infrastruktur dan kebutuhan lahan untuk permukiman, industri, perkantoran, perdagangan, dan sebagainya, termasuk pengurugan daerah tepi pantai atau reklamasi. Oleh sebab itu, bentuklahan di Pulau Batam banyak mengalami perubahan besar dalam waktu yang relatif singkat (tahunan) oleh manusia sebagai tenaga geomorfik yang memodifikasi permukaan bumi dibandingkan oleh proses alami yang dapat memakan waktu ribuan/jutaan tahun.

Analisis geomorfologi untuk memberikan gambaran lebih detail tentang karakteristik biogeofisik pulau kecil tipe tektonik dipilih Pulau Lengkang dan sekitarnya yang meliputi Pulau Gerit, Pulau Ladang, Pulau Anakladang, Pulau Resol, dan Pulau Jagung. Hasil klasifikasi bentuklahan secara visual ditampilkan dalam bentuk peta bentuklahan seperti yang disajikan pada Gambar 12. Pulau Lengkang dikelilingi oleh perairan laut dangkal dan di sisi barat menghadap laut lepas mempunyai kedalaman lebih dari -50 m (Gambar 13).

Gambar 12 Peta bentuklahan Pulau Lengkang.

Secara deskriptif, geomorfologi Pulau Lengkang dan pulau-pulau kecil di sekitarnya memiliki morfologi berbukit. Bentuklahan perbukitan antiklinal dijumpai di Pulau Anak-ladang, sedangkan perbukitan lipatan dijumpai secara dominan pada daratan pulau-pulau kecil ini. Bentuklahan dataran aluvial pantai terbentuk dari proses fluvial yang mengendapkan material dari perbukitan yang tererosi, sedangkan dataran pasang surut terbentuk dari proses marin yang mengendapkan material lumpur-pasiran hasil dari proses abrasi air laut. Selain itu juga dijumpai bentuklahan teras marin yang dulunya merupakan bagian paparan yang terendam air laut. Mangrove dan lamun berkembang dengan baik meskipun lamun hanya dijumpai di beberapa tempat yang lebih terlindung. Sementara itu, terumbu karang tumbuh pada batuan dasar peneplain pada kondisi kurang bagus. Perkembangan ketiga ekosistem laut di sini terganggu oleh adanya permukiman di Pulau Lengkang dan jalur pelayaran internasional antara Batam dan Singapura.