PENDAHULUAN
Di masa kini kita diperhadapkan dengan begitu banyak informasi, yang bahkan hampir tanpa batas.
Setiap orang dapat mengakses informasi sesuai dengan keinginannya dari berbagi sumber yang dikehendakinya. Pada sisi lain, setiap orang pun dapat menyebarkan informasi sebagaimana yang diinginkannya, bahkan dengan segala keterbatasan pengetahuannya. Semua itu, baik pengakses informasi maupun penyebar informasi, menggunakan fasilitas teknologi informasi yang ada di jagat maya dan pada saat yang sama masih hidup di dunia nyata ini.
Dalam konteks keagamaan, dalam rangka orang mencari kebenaran tentang Allah, banyak orang pun tergoda mencari dan berbagai beragam informasinya melalui jagat maya. Sayangnya kadang-kadang hal itu dilakukan dengan melupakan sikap kritis, yang – sayangnya lagi – kemudian diakui sebagai kebenaran yang paling benar, sehingga muncul klaim “pandanganku inilah yang paling benar”. Lebih lanjut, kadang-kadang pada akhirnya orang mengenal kebenaran tentang Allah hanya berdasarkan kata orang, yang nilai kebenarannya masih sangat dapat dipertanyakan.
Pada sisi lain kita juga perlu menyadari bahwa pengetahuan kita tentang Allah sangat terbatas. Kita, sebagai manusia yang memiliki begitu banyak keterbatasan, pada dasarnya tidak pernah sanggup mengenal Allah secara lengkap. Posisi kita dan Allah sangat tidak seimbang: kita penuh keterbatasan, sedangkan Allah begitu Maha Kuasa.
Adakah Alkitab berbicara juga tentang hal-hal tersebut? Kisah tentang Ayub dapat menjadi rujukan kita. Bagaimana kisah Ayub menggambarkan proses pencarian kebenaran atau pengetahuan yang benar tentang Allah, juga tentang bagaimana Ayub menuju ke kesempurnaannya? Kita akan belajar bersama-sama.
PENJELASAN BAHAN
Saya mengajak kita, pertama-tama, melihat, isi Kitab Ayub ini secara umum. Secara umum orang mengenal dan mengidentikkan Kitab Ayub dengan tema penderitaan. Itulah kesan paling umum.
Namun tampaknya Kitab Ayub tidak hanya berisi tentang hal tersebut, karena kita pun dapat melihat Kitab Ayub yang berisi percakapan antara Ayub dengan ketiga teman Ayub (Zofar, Bildad, dan Elifas), dan Elihu, TENTANG ALLAH. Percakapan di antara mereka adalah percakapan teologis yang sangat kental dengan pandangan filosofis pada masa itu. Percakapan mereka adalah percakapan teoritis ilmiah, dengan posisi ketiga teman Ayub kontra Ayub, sementara itu Elihu sebagai pihak ketiga yang gemas menyaksikan percakapan mereka.
Zofar, Bildad, dan Elifas mengungkapkan begitu banyak dalil kebenaran tentang Allah menurut versinya masing-masing. Ada yang mengaitkannya antara keadilan-penderitaan, ada pula yang mengaitkannya antara dosa-nasib buruk. Lalu, mulai dari teguran halus sampai dengan teguran yang tajam, mereka menilai Ayub sebagai orang yang penuh dengan dosa, pelanggaran, dan kesalahan, yang oleh karenanya harus segera bertobat. Sementara itu Ayub pada posisi yang berbeda. Ia merasa bahwa ia tidak melakukan segala tuduhan teman-temannya itu. Pada gilirannya, ia pun tergoda untuk berteori tentang Allah. Ia pun menggunakan dalil-dalilnya sendiri sebagai pembenaran atas kehidupannya. Lain halnya lagi dengan Elihu, yang justru mengkritik para “senior”-nya itu yang berdebat tentang Allah, yang seolah-olah hendak mengatakan bahwa pandangan mereka pandangan yang paling benar.
Pada bagian penutup kisah Ayub, ada satu hal yang sangat menarik, yang kadang justru dilupakan oleh para pembaca Kitab Ayub, yaitu yang terdapat pada pasal 42:7-9. Pada bagian itu dikisahkan tentang bagaimana ketiga teman Ayub, justru mendapat hukuman dari Allah. Ini sangat kontras dengan dalil-dalil hebat yang mereka sampaikan ketika bercakap dengan Ayub. Lebih celaka lagi, Allah menghukum mereka dengan dasar “…karena kamu tidak berkata benar tentang Aku…” (ayat 7). Tentulah ini mengherankan dan akan membuat kita bertanya-tanya, “apakah dengan demikian, pandangan mereka tentang Allah adalah padangan yang salah?”. Tentang hal itu, sangat layak jika dibahas pada kesempatan berbeda. Namun demikian, catatan pentingnya adalah bahwa sering kali orang begitu hebat membuat dalil-dalil tentang Allah, tanpa mereka sendiri mengenalinya dari pengalaman personalnya.
Kedua, mari kita melihat sikap Ayub dari semua proses yang dilaluinya, terutama ketika ia pun terjebak menggunakan dalil-dalil tertentu untuk mendukung kebenaran teorinya tentang Allah.
Sepanjang pasal-pasal sebelumnya, ia telah menghabiskan begitu banyak energi untuk bercakap dengan ketiga temannya, bahkan di sana-sini tergambar suasana emosional di antara mereka. Di perikop yang kita baca ini, sekaligus menjadi bagian akhir percakapan antara Ayub dan ketiga temannya. Ayub menyadari bahwa proses yang telah mereka lalui, lebih banyak menjadi seperti debat kusir. Mengapa? Karena perdebatan di antara mereka semuanya berdasarkan katanya, kata si Anu, kata si Ino. Bukan berdasarkan pengalaman pribadi, bukan berangkat dari pengenalan dan penghayatan tentang Allah.
Ayat 5 menjadi catatan paling penting, karena ayat ini menggambarkan titik balik pandangan Ayub. Ia menyadari bahwa selama ini ia telah salah bersikap karena “Hanya dari kata orang…”. Ia mulai menyadari bahwa ketika ia berbicara tentang Allah, baiklah ia berbicara berangkat dari pengalaman bersama Allah, atau berangkat dari penghayatannya tentang Allah, atas dasar pengalaman pribadi, bukan dari kata orang. Ia belajar berproses menjadi pribadi yang memiliki iman mandiri, iman yang orisinal. Ia menyadari bahwa pengetahuan yang benar tentang Allah, amat perlu dibangun dari
pengalaman pribadi. Pengakuan tentang Kemahakuasaan Allah pun dibangun dari pengalaman pribadi bersama dengan Allah.
Hal lain yang menarik dari bagian ini adalah kesediaan Ayub – dalam kerendahan hatinya – untuk mengakui kesalahan, sekaligus kesediaannya untuk memperbaiki diri. Inilah semangatnya dalam rangka mengembangkan dirinya. Ia berusaha mencapai tingkatan hidup yang lebih baik lagi. Ia tidak berhenti atau pun berpuas diri pada satu titik, melainkan ia menyadari bahwa sebagai manusia ia tidaklah sempurna dan butuh untuk terus-menerus meningkatkan kualitas dirinya. Sebagai intermeso, sebagaimana kerap dikatakan oleh Dorce Gamalama, “kesempurnaan hanyalah milik Allah”.
Untuk konteks kita saat ini, upaya pengenalan tentang Allah, bahkan termasuk upaya mempertanyakan tentang Allah, baiklah dapat kita maknai sebagai sebuah proses pertumbuhan iman yang hidup, iman yang pada gilirannya menghasilkan buah yang baik serta memberikan cakrawala pandangan yang baru, yang sesuai dengan keadaan diri setiap pribadi pada zamannya.
Bercermin dari pengalaman spiritual Ayub, mari kita mulai menghayati Allah secara pribadi. Mari kita mulai berbicara dengan Allah, dan secara bertahap kita melangkah keluar dari situasi “berbicara tentang Allah”. Mari lebih banyak menyadari bahwa Allah terlalu besar untuk kita ketahui secara lengkap, pengetahuan kita tentang Allah sangat terbatas. Sejauh ini kita mengenal Allah dengan berdasarkan: (1) informasi dari Alkitab, (2) pengalaman pribadi kita, (3) pengalaman orang lain. Oleh karena itu, kalaupun ada pada titik “percakapan tentang Allah”, maka jiwa utamanya adalah
“berbagi pengalaman iman bersama Allah”.
Dalam konteks Indonesia, dengan masyarakatnya yang majemuk, maka “berbagi pengalaman iman bersama dengan Allah” dapat dijadikan sebagai jembatan yang baik dalam rangka kita menjalin hubungan baik sebagai sesama anak bangsa di Indonesia. Ini akan meminimalkan klaim
“pandanganku yang paling benar”, atau klaim “pemegang kunci surga”. Dalam konteks yang teraktual, ketika kita masih hidup di dalam suasana pandemi, kisah tentang Ayub pun menjadi sangat relevan. Darinya kita belajar bersama untuk dapat menahan diri dan berhati-hati menggunakan pendekatan “cocokologi” dalil-dalil Alkitab – yaitu upaya mencocok-cocokkan teks Alkitab tertentu – sebagai pendukung kebenaran teori kita tentang situasi saat ini. Terakhir, sekali lagi, mari kita mulai berbicara dengan Allah, dan secara bertahap kita melangkah keluar dari situasi “berbicara tentang Allah”.
POKOK PIKIRAN
1. Konteks masa kini berkaitan dengan proses pencarian dan penyebaran informasi/ kebenaran yang hampir tanpa batas di jagat maya.
2. Pentingnya membangun sikap kritis dalam rangka mengenali kebenaran tentang Allah, dengan mendasarinya pada pengalaman personal tentang Allah, sehingga perlahan-lahan menuju pada sikap iman yang mandiri dan orisinal. Hal ini akan meminimalkan sikap merasa benar sendiri, dan sebaliknya akan membantu menumbuhkembangkan nilai-nilai keadilan dan toleransi di tengah-tengah kehidupan berbangsa.
3. Mengakui Kemahakuasaan Allah: Pengetahuan yang benar akan Allah, berusaha sempurna dalam segala, dengan cara memahami pentingnya berbagi pengalaman iman, baik intern umat beragama maupun antar umat beragama, untuk menumbuhkembangkan semangat persatuan sebagai sesama anak bangsa di Indonesia. “Stop berbicara tentang Allah” mulailah “berbicara dengan Allah”. (SST)