Majelis Sinode
Gereja Kristen Pasundan
2021
KATA PENGANTAR MAJELIS SINODE GEREJA KRISTEN PASUNDAN
Salam sejahtera,
Semua adalah karena kasih Karunia-Nya. Dialah yang memampukan kita dapat tetap berjalan di tengah kelamnya dunia karena pandemi Covid-19. Kita seperti dipaksa untuk keluar dari zona nyaman dalam menjalani keseharian kita bahkan lebih dari itu di tengah ketidak- mudahan yang dijumpai, kita diajak untuk tetap memancarkan terang. Dialah Terang itu, hanya melalui kasih karunia-Nya kita akan mampu bercahaya, menghadirkan terang di tengah kekelaman. Terang Tuhan kita pancarkan melalui cara-cara yang kreatif, hadir di tengah Jemaat Tuhan melalui ibadah daring dan luring, menyapa sedikit orang yang hadir di gedung Gereja dan juga menyapa mereka yang mengikuti ibadah di rumah atau tempat- tempat lain. Untuk itulah penyampaian Firman Tuhan saat ini dilakukan dengan cara yang tidak biasa namun tidak boleh kehilangan makna, khususnya dalam memaknai visi kita:
”Menjadi Gereja bagi Sesama” juga tema tahun 2021/2022: “Allah adalah sumber
pengharapan dan kekuatan kita” (Yeremia 14:22, Keluaran 15:2) , serta Sub Tema: Bersama seluruh bagian bangsa dalam perjuangan mengatasi dampak pandemi.
Buku Daftar Pembacaan Alkitab baik Ibadah Minggu dan Hari-hari Khusus maupun Kebaktian Rumah Tangga ini telah disiapkan dalam konteks kita saat ini. Namun demikian tentu setiap Jemaat memiliki kondisi dan situasi yang berbeda satu dengan yang lain, karenanya
diharapkan para pengkhotbah dapat dengan kreatif mengembangkannya sesuai dengan kebutuhan, agar dengan demikian Firman Tuhan tetap menguatkan, menasihati, menegur juga mengoreksi kehidupan kita agar lebih bermakna di tengah pandemi saat ini.
Kita berterima kasih kepada tim penulis, tim pembaca dan tim editor yang telah bekerja keras sehingga buku DPA ini dapat bisa hadir tepat waktu di tengah persekutuan kita.
Semoga isi dari DPA ini juga membantu setiap pengkhotbah untuk dapat menyiapkan materi khotbahnya dengan baik.
Akhirnya kami mohon maaf bila masih ditemukan kekurangan dalam buku ini. Kiranya Tuhan Yesus Kepala Gereja memberkati kita semua.
Majelis Sinode
Gereja Kristen Pasundan
PANDUAN PENGGUNAAN DAFTAR PEMBACAAN ALKITAB
MINGGU DAN KRT GEREJA KRISTEN PASUNDAN
Salam sejahtera,
Di tangan kita saat ini, telah hadir Daftar Pembacaan Alkitab (DPA) Minggu dan KRT untuk tahun 2021 semester 2 (September 2021 sampai Februari 2022). Harapannya, DPA Minggu dan KRT ini dapat membantu para Pelayan Firman mempersiapkan pelayanan Firman di dalam Kebaktian Minggu Jemaat dan di dalam Kebaktian Rumah Tangga di Jemaatnya masing-masing.
Ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian dalam rangka menggunakan bahan Daftar Pembacaan Alkitab Minggu dan KRT ini:
1. DPA Minggu dan KRT GKP menggunakan daftar pembacaan Alkitab menurut Revised Common Lectionary, oleh karena itu tidak bisa dihindari adanya pembacaan Alkitab (baik DPA Minggu dan KRT) yang berturut-turut diambil dari kitab yang sama dalam Alkitab, termasuk berurutan dalam hal pasal yang dipergunakan.
2. DPA Minggu dan KRT GKP ini akan selalu hadir dalam dua bagian, yaitu Maret sampai Agustus dan September sampai dengan Februari.
3. DPA Minggu dan KRT GKP akan selalu mengikuti pola liturgis:
a. Bagian ke-1 Maret – Agustus: dimulai dari Minggu Pra-Paska I dan berakhir di Minggu XIII atau XIV (ke-13 atau ke-14) Sesudah Pentakosta
b. Bagian ke-2 September – Februari: dimulai dari Minggu XIV atau XV (ke-14 atau ke-15) Sesudah Pentakosta dan berakhir di Rabu Abu.
4. Bahan DPA Minggu dan KRT GKP akan selalu menjadi upaya penjabaran tema tahunan Gereja Kristen Pasundan, yaitu tema yang muncul dalam Rapat Kerja Sinodal GKP.
5. DPA Minggu dan KRT GKP September 2021 sampai dengan Februari 2022 masih menggunakan payung besar tema tahun program 2021-2022 yaitu: Allah adalah Sumber Pengharapan dan Kekuatan Kita (Yeremia 14:22, Keluaran 15:2) dan sub tema Bersama Seluruh Bagian Bangsa dalam Perjuangan Mengatasi Dampak Pandemi.
6. DPA Minggu dan KRT memiliki Pokok Pikiran Mingguan yang tercantum dalam DPA Minggu.
Sedangkan Judul Tulisan adalah bentuk ringkas dari apa yang hendak dicapai dari pokok pikiran tersebut. Pokok pikiran mingguan inilah yang menjadi penekanan dari Pemberitaan Firman di dalam Kebaktian Minggu dan sekaligus menerangi bahan diskusi di dalam DPA KRT.
7. Penulisan bahan DPA kali ini mengikuti sistematika penulisan bahan DPA sebelumnya. Yaitu, penulisan bahan DPA lebih menitikberatkan pada tafsiran terhadap nas Alkitab terpilih dan kaitannya dengan tema yang ada. Ilustrasi dan saran penyusunan khotbah diserahkan kepada
kreativitas para anggota Majelis Jemaat dan para pendeta. Sistematika DPA Minggu terdiri atas:
a. Pendahuluan yang menjadi pengantar untuk menjelaskan tema minggu. Pendahuluan ini dapat berupa ilustrasi, atau penjelasan umum terhadap pokok pikiran mingguan.
b. Penjelasan bahan Alkitab yang berisikan latar belakang teks Alkitab dan tafsiran terhadap teks Alkitab dimaksud.
c. Pokok pikiran yang berisikan poin-poin yang hendak ditekankan pada minggu dimaksud dan
d. Lagu tema khotbah yang menjadi nyanyian penutupan kebaktian (lagu pengutusan, meskipun tidak menutup kemungkinan memilih lagu lain yang dianggap lebih pas).
Lagu tema diambil dari beberapa buku nyanyian: Kidung Jemaat (KJ), Pelengkap Kidung Jemaat (PKJ), Nyanyian Kidung Baru (NKB), Kidung Keesaan (KE) dan Kidung Kabungahan Enggal (KKE). Lagu tema tidak mencantumkan bait dan disarankan untuk dapat menyanyikan seluruh bait yang ada atau berdasarkan pilihan dari Majelis Jemaat.
8. Pokja DPA GKP mendorong penggunaan Pokok Doa yang telah tercantum di dalam DPA Minggu menjadi bagian dari Doa Syafaat di kebaktian jemaat (Minggu dan KRT)
9. DPA Kebaktian Rumah Tangga berisikan renungan singkat yang disesuaikan dengan tema mingguan dengan penekanan pada persekutuan di dalam keluarga, eksplorasi materi yang diarahkan pada pokok pikiran dalam DPA Minggu terkait dan bahan diskusi berupa pertanyaan-pertanyaan yang dikaitkan dengan pokok pikiran DPA Minggu.
10. Bahan DPA Minggu dan KRT hadir bukan untuk mengambil alih dan meniadakan kreativitas para anggota Majelis dan para Pendeta Jemaat dalam hal penyelenggaraan persiapan dan pelaksanaan pemberitaan Firman di jemaat masing-masing. Oleh karena itu, bahan DPA Minggu dan KRT ini hadir sebagai panduan dan pedoman persiapan dan pelaksanaan pemberitaan Firman di jemaat masing-masing. Hal ini terlihat dari susunan sistematika penulisan, khususnya, bahan DPA Minggu yang bukan berupa khotbah lengkap yang dapat langsung dibaca begitu saja. Untuk itu, para Pendeta dan Pendeta di GKP tetap dituntut untuk mengadakan persiapan yang optimal, termasuk dengan menggali bahan-bahan lainnya (tafsiran, ilustrasi dan bahan bacaan lain yang menopang pemahaman dan pendalaman tema) yang dapat memperkaya dan memperjelas pesan dalam pemberitaan Firman.
11. Dalam rangka memperkaya dan memperjelas pesan dalam pemberitaan Firman, maka para Pelayan Firman dapat mengangkat isu-isu kontemporer yang ada di masyarakat saat ini, sejauh tentu saja dapat dihubungkan dengan pokok pikiran mingguan yang ada. Hal ini tentu saja dimaksudkan untuk dapat lebih mendaratkan pokok pikiran minggu yang hendak disampaikan kepada anggota jemaat. Misalnya saja isu ketidakadilan dan bagaimana cara untuk dapat mengatasinya, isu kekerasan dalam keluarga/rumah tangga dan masyarakat serta bagaimana GKP berperan untuk mengatasinya, isu kesetaraan gender dan bagaimana GKP mengaplikasi kehidupan yang setara gender, isu ekologi dan lain sebagainya. Hal ini tentu saja juga dimaksudkan untuk dapat lebih menjabarkan harapan yang hendak dicapai melalui tema tahunan 2021-2022, yaitu bagaimana GKP dapat menjadi Gereja yang terus menaruh pengharapan hanya pada Allah Bapa di dalam Tuhan Yesus Kristus, yang ada sumber pengharapan dan kekuatan orang percaya. Dengan kekuatan yang datang dari Allah tersebut, maka seluruh bagian Gereja Kristen Pasundan terpanggil untuk bersama-sama
berjuang dengan seluruh komponen masyarakat Indonesia lainnya mengatasi dampak pandemi. Hal ini sekaligus menjadi usaha mewujudkan visi bersama Gereja Bagi Sesama.
12. Pokja DPA GKP juga mengingatkan Jemaat untuk dapat memperhatikan kalender pengumpulan persembahan sebagaimana yang tertera di dalam bagian pengantar DPA Minggu; persembahan-persembahan khusus yang terkumpul hendaknya dapat dikirimkan ke rekening Majelis Sinode GKP (antara lain: persembahan khusus Hari Doa se-Dunia, persembahan khusus Hari Pekabaran Injil GKP, persembahan khusus Paskah, persembahan khusus untuk mendukung pelayanan YBPK dan YBSDK GKP)
Akhirnya, Pokja DPA menyampaikan maaf bila di dalam pengerjaan DPA Minggu dan KRT September 2021 sampai Februari 2022 ini masih banyak kekurangan dan menyampaikan terima kasih kepada Majelis Sinode GKP atas kepercayaan yang diberikan kepada Pokja DPA untuk dapat menyusun Daftar Pembacaan Alkitab GKP tahun 2021 bagian kedua ini.
Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan Yesus Kristus.
Agustus 2021
POKJA DPA 2021 bagian 2
KALENDER PENGUMPULAN PERSEMBAHAN KHUSUS
UNTUK KEHIDUPAN KEBERSAMAAN
Waktu Pelaksanaan Keterangan
Setiap Minggu ke-5 Dihimpun persembahan khusus untuk mendukung kegiatan dan program di klasisnya masing-masing.
Minggu ke-1 Maret Dalam Kebaktian Hari Doa Se-Dunia (HDS) dihimpun persembahan khusus untuk pelayanan Biro Perempuan dan Anak PGI.
Minggu ke-1 Mei Dihimpun persembahan khusus untuk mendukung pelayanan YBPK GKP (bulan Pendidikan GKP)
Minggu ke-4 Mei Dalam kebaktian peringatan HUT PGI dihimpun persembahan khusus untuk mendukung pelayanan dan program PGI
Minggu ke-1 Juni Dihimpun persembahan khusus dalam rangka mendukung pelayanan YBSDK GKP (bulan Dana Sosial GKP)
Minggu ke-2 Juli Dalam Hari Pekabaran Injil, dirayakan pelayanan Perjamuan Kudus dan dihimpun persembahan khusus untuk mendukung program atau kegiatan Pekabaran Injil yang dilakukan Gereja Kristen Pasundan.
Tanggal 17 Agustus Dalam kebaktian syukur kemerdekaan RI, dihimpun persembahan khusus untuk membantu korban bencana alam atau PMI, dan disampaikan ke YBSDK GKP.
Minggu ke-1 September Dalam kebaktian minggu dihimpun persembahan khusus untuk mendukung sekolah-sekolah tinggi teologi yang didukung GKP termasuk mendukung biaya studi mahasiswa teologi utusan GKP.
Minggu ke-3 September Dalam kebaktian minggu dihimpun persembahan khusus untuk mendukung pelayanan Lembaga Alkitab Indonesia. Persembahan dikumpulkan di Sinode untuk selanjutnya diserahkan kepada Lembaga Alkitab Indonesia guna mendukung pelayanannya
Minggu ke-1 Oktober Dalam Kebaktian Perjamuan Kudus Hari Perjamuan Kudus Se-Dunia / Hari Pekabaran Injil di Indonesia, dihimpun persembahan khusus untuk mendukung program dan kegiatan Pekabaran Injil di Indonesia yang dilakukan PGI
Minggu ke-4 Oktober Dalam kebaktian minggu dihimpun persembahan khusus sampai Minggu ke-2 Nov jemaat dalam rangka kegiatan Pekan Keluarga
MINGGU XV SESUDAH PENTAKOSTA
5 SEPTEMBER 2021
Pembacaan
Alkitab
Yesaya 35:3-7
Nas Pembimbing Lukas 4:18-19
Mazmur 125
Pokok Pikiran Bijak dalam Hidup: Berlaku Adil dan Setara terhadap Sesama
Nyanyian Tema KJ 432 :1-2
Pokok Doa 1. Kesembuhan anggota Jemaat yang terpapar Covid-19 dan keluarga yang merawatnya
2. Para penyandang disabilitas, terutama di Jemaat 3. YBSDK, satuan kerja dan pelayanannya
Warna Liturgis Hijau
‘KAN KUSAMPAIKAN KABAR BAIK
PENDAHULUAN
Lirik lagu Kidung Jemaat 432 sungguh menjadi sebuah pertanyaan reflektif yang sangat mendalam.
Jika padaku ditanyakan, apa akan kusampaikan pada dunia yang penuh penderitaan?
Jika padaku ditanyakan, apa akan kusampaikan pada dunia yang penuh dengan cobaan?
Jika kita menyanyikan lengkap ke dua bait lagu tersebut, maka sebenarnya sudah disampaikan suatu panggilan kita, yakni untuk menyampaikan kabar baik bagi dunia. Kabar baik yang seperti apa? Maka saat ini kita akan belajar dari nubuat Nabi Yesaya. Nama Nabi Yesaya sendiri berarti “Tuhan menyelamatkan”. Sesuai dengan namanya, nubuat yang disampaikan oleh Yesaya banyak menekankan bagaimana Tuhan hadir sebagai penyelamat umat-Nya.
PENJELASAN BAHAN
Yesaya sendiri hidup di masa di mana orang Yehuda sedang menikmati kejayaan dan kemakmuran yang diwarisi sejak zaman Salomo. Akan tetapi, kemakmuran yang dialami oleh bangsa Yehuda diwarnai dengan sikap ketidaksetiaan iman. Bangsa Yehuda melakukan praktik penyembahan berhala, serta hati mereka semakin jauh dari Tuhan (dengan mengandalkan kekuatan bangsa lain).
Pada saat itu, Yehuda berhadapan dengan situasi politik dan keamanan yang tidak mudah. Kerajaan Asyur sedang dan sudah menginvasi ke bangsa Israel dan Aram, dan kemudian juga melakukan pengepungan dan penyerangan ke Yehuda. Yesaya sendiri sudah pernah menyampaikan nasihat kepada raja-raja Yehuda melalui nubuatnya. Yesaya pernah menyampaikan untuk tidak mengandalkan bangsa lain (salah satunya Mesir) untuk bisa selamat dari Asyur, tetapi para pemimpin Israel tidak mau mendengar (kecuali di masa pemerintahan Raja Hizkia).
Yesaya sendiri menggunakan pola “hukuman dan penyelamatan” dalam nubuatnya. Ia menyampaikan terlebih dahulu nubuat mengenai hukuman yang akan diberikan oleh Tuhan, barulah kemudian ia menyampaikan bahwa Tuhan akan menjadi sosok yang menyelamatkan. Yesaya 35:3-7 merupakan bagian dari nubuat Yesaya yang menggambarkan karya penyelamatan yang dilakukan
oleh Tuhan (setelah di pasal 34 berbicara tentang hukuman Tuhan). Para penafsir memandang nubuat ini dalam dua makna, yakni makna jangka pendek dan jangka panjang. Dalam jangka pendek, nubuat ini sering kali dilihat sebagai bentuk penyelamatan Allah dari serangan yang dilakukan oleh bangsa Asyur (yang mana telah terbukti bahwa Asyur gagal menyerang Yehuda di kepemimpinan Raja Hizkia). Nubuat ini juga bermakna jangka panjang, yaitu menunjuk pada karya Allah melalui Yesus Kristus (sebagai sosok Mesias dan Raja Damai). Akan tetapi, baik dimaknai sebagai nubuat jangka pendek maupun jangka panjang, nubuat Yesaya ini hendak mengajarkan kita pada beberapa hal:
Pertama, Allah adalah “Allah yang membela dan membebaskan”. Sekalipun bangsa Yehuda telah hidup menyimpang dari Allah (dan layak dihukum oleh Allah), Allah sendiri tidak membuang dan membiarkan Yehuda hancur, melainkan Ia selalu menjadi sosok yang bertindak untuk menyelamatkan. Allah adalah sosok pembela. Allah digambarkan sebagai sosok yang membebaskan umat-Nya dan membalaskan perbuatan bangsa-bangsa lain (ayat 4). Ia datang untuk membela hak kemerdekaan umat-Nya. Dalam kacamata iman, teks ini bisa diartikan, bahwa Allah bukan hanya membela dan memerdekakan kita dari “kuasa bangsa lain” melainkan juga dari “jerat dan kuasa dosa” yang membawa kita pada maut.
Kehadiran Allah sebagai pembela dan pembebas inilah yang menjadi pengharapan bagi umat. Itulah sebabnya, nubuat Yesaya mengajak setiap pemimpin (baik pemimpin agama maupun pemerintahan) untuk bisa menyuarakan pengharapan ini kepada setiap orang yang lemah lesu dan tawar hati.
Tentu, “menyuarakan” ini bukan hanya sebatas disampaikan melalui lisan, melainkan juga dengan tindakan yang mau membela dan membebaskan setiap umat Tuhan dari berbagai belenggu yang ada. Pada konteks kita saat ini, kita juga harus mengimani bahwa Allah tetaplah sosok yang membela dan membebaskan kita. Selain pergumulan pandemi Covid-19 yang masih kita alami, Gereja juga diperhadapkan pada masalah-masalah sosial yang masih membelenggu umat-Nya. Persoalan- persoalan seperti kesetaraan gender, pemenuhan hak anak, pemerataan kesempatan, kekerasan, dan lain sebagainya masih ada di sekitar kita, bahkan mungkin dialami oleh warga Gereja. Dalam iman, kita percaya bahwa Allah tidak akan tinggal diam. Ia akan membela dan membebaskan umat- Nya dari seluruh masalah tersebut. Akan tetapi, dalam iman, kita juga percaya bahwa Allah memakai Gereja-Nya untuk menyuarakan pengharapan tersebut. Gereja tetap tidak boleh abai untuk melihat dan membela orang-orang yang dirampas haknya.
Kedua, Allah adalah “Allah yang memulihkan”. Pada ayat 5-7, kita bisa membaca dan memaknai
‘pemulihan’ dari satu sudut pandang yang menarik. Pada ayat ini, nubuat Yesaya menggunakan kata buta, tuli, dan lumpuh. Kata-kata ini secara eksplisit merujuk pada kondisi disabilitas. Yesaya menubuatkan bahwa Allah akan memulihkan orang-orang penyandang disabilitas. Maka, jika kita melihat penggenapan nubuat ini dalam Yesus Kristus, kita juga bisa menemukan bahwa perhatian dan cinta Allah bagi orang-orang dengan disabilitas betul-betul dinyatakan. Pemulihan yang Allah lakukan bagi penyandang disabilitas ini tentu bukan hanya berkaitan dengan pemulihan fisik, melainkan juga pemulihan relasi, kesempatan, dan juga mental. Kita bisa kembali mengingat, bahwa di masa lampau (bahkan sampai saat ini), orang-orang dengan disabilitas sering kali termarginalkan.
Mereka hidup di tempat-tempat yang tidak bisa dikatakan layak. Seringnya, mereka bertahan hidup dengan menjadi pengemis. Secara sosial, mereka tidak bisa (atau sangat sulit) untuk membangun relasi dengan orang lain. Secara psikis, orang-orang dengan disabilitas harus juga menanggung stigma, entah stigma sebagai pendosa ataupun stigma sosial lain. Mereka juga pasti tidak mendapat kesempatan yang sama dengan orang lain. Jika kita melihat disabilitas dalam kacamata yang lebih luas seperti ini, maka kita bisa menangkap pesan yang sangat kuat, bahwa pemulihan yang Allah lakukan kepada orang-orang dengan disabilitas adalah pemulihan kehidupan itu sendiri.
Pemulihan yang Allah lakukan bagi orang-orang disabilitas hendaknya menguatkan kita semua. Allah juga melihat segala keterbatasan dan ketidakberdayaan kita. Allah hadir dalam segala trauma dan kepahitan kita. Allah hadir dalam segala keterpurukan kita. Ia sendiri yang bertindak untuk memulihkan. Di sisi lain, sebagai Gereja-Nya, kita juga diajak untuk menghidupi panggilan kita, yakni hadir bagi orang-orang dengan disabilitas. Di masa pandemi seperti saat ini, Gereja juga tidak boleh lupa untuk menjadi berkat bagi mereka yang secara fisik/mental memiliki keterbatasan. Gereja juga harus hadir untuk memulihkan orang-orang disabilitas (dan juga setiap orang) dengan penerimaan yang sungguh dan tulus dalam komunitas persekutuan. Penerimaan tentu bukan sekadar sapaan basa-basi, melainkan juga bagaimana melibatkan mereka dalam pelayanan, baik untuk dilayani maupun untuk melayani.
POKOK PIKIRAN
1. Allah yang kita kenal adalah Allah yang senantiasa bertindak. Ia sendiri tetaplah Allah yang tegas atas dosa, tetapi Ia juga adalah Allah yang kasih adanya. Ia hadir sebagai sosok pembela dan pembebas, sekaligus sebagai sosok yang memulihkan. Allah yang membebaskan dan memulihkan ini adalah kabar baik yang bisa kita imani di tengah berbagai persoalan hidup saat ini (terkhusus di tengah pandemi Covid-19 yang belum kita tahu kapan berakhirnya). Iman kepada Allah yang membebaskan dan memulihkan akan memberi kita pengharapan untuk terus optimistis.
2. Sebagai Gereja-Nya, kita diutus untuk menyampaikan kabar baik ini bagi dunia. Bukan hanya menyuarakan dengan kata-kata tetapi juga dengan karya nyata yang berdampak dalam kehidupan. Di tengah pergumulan dan pandemi Covid-19, Gereja tidak boleh melupakan panggilannya untuk hadir membela dan membebaskan orang-orang dari belenggu ketidakadilan, serta memulihkan orang-orang yang mengalami keterbatasan (disabilitas).
(DDS)
MINGGU XVI SESUDAH PENTAKOSTA
12 SEPTEMBER 2021
Pembacaan
Alkitab
Yesaya 50:4-9
Nas Pembimbing Yesaya 49:2
Mazmur 19
Pokok Pikiran Bijak dalam hidup: Perkataan yang mendatangkan berkat bagi sesama
Nyanyian Tema PKJ 279: 1, 3
Pokok Doa 1. Perbaikan kehidupan ekonomi Indonesia di masa pandemi
2. YBPK GKP dan YKB, satuan kerja dan pelayanannya 3. Panggilan untuk menyuarakan Kabar Baik (Hari Radio
Nasional) Warna Liturgis Hijau
BERKATA BERKAT DAN BERKATA BENAR
PENDAHULUAN
Ketika seseorang bercerita tentang keluh kesah, kegundahan hati, atau penderitaan yang dialaminya, biasanya respons orang yang mendengarkannya bisa beragam. Setidaknya, ada tiga macam respons yang mungkin muncul, yakni menyalahkan, berkata positif yang mematahkan semangat, dan berempati. Macam-macam respons ini perlu kita pahami, agar kita dapat merespons secara benar dan tepat sehingga tidak memperburuk penderitaan orang lain.
Kita dapat memahami respons tersebut dengan contoh. Misal, ada seseorang datang bercerita bahwa ia baru saja kena PHK (pemutusan hubungan kerja). Respons pertama yang mungkin muncul adalah, ‘kamu sih kerjanya malas’, atau, ‘tuh kan, ini akibat kamu jarang ibadah’, atau, ‘makanya kerja jangan terlalu banyak menuntut’. Ini adalah respons menghakimi atau istilah lainnya disebut penyalahan korban (victim blaming). Padahal, bisa saja ia di PHK oleh karena kebijakan perusahaan tempatnya bekerja yang mengadakan pengurangan karyawan. Respons semacam ini juga sering kali muncul terutama kepada korban kekerasan fisik dan kekerasan seksual. Tentu saja respons seperti ini tidak diharapkan oleh orang yang berkeluh kesah.
Respons kedua dapat berupa seruan, ‘ayo dong, jangan menyerah, ini belum seberapa dibanding penderitaanku’, atau ‘udah gak usah khawatir, ambil hikmahnya saja, Tuhan sedang mengujimu’, atau ‘ga usah lebay, nanti juga dapat pekerjaan yang lain, tiap orang pasti pernah gagal dalam hidupnya’. Respons ini sering disebut positif tapi beracun/mematahkan semangat (toxic positivity).
Memberikan saran positif bisa jadi racun bagi orang lain yang sedang memiliki masalah karena dapat membuat orang tersebut merasa tersudut atau bahkan membuatnya makin merasa menderita atas masalah yang sedang dialami.1
Respons ketiga disebut berempati. Contohnya, ‘kena PHK terasa berat ya, barang kali ada yang bisa aku bantu?’, atau ‘wajar kok kamu sedih, kamu sudah berusaha tetapi hasilnya belum sesuai yang diharapkan’, atau ‘hal ini memang tidak mudah, kita cari solusinya bersama-sama yah’. Untuk bisa
1 https://www.instagram.com/p/CPdFsO9rPKi/?utm_medium=copy_link diakses pada 16 Juni 2021 pukul 04.00.
berempati, kita perlu menempatkan diri menjadi orang tersebut dengan membayangkan apa yang kita rasakan bila kita berada di posisinya dan apa yang ingin kita dengar ketika kita bercerita pada orang lain. Empati bisa dilakukan dengan merefleksikan perasaan pencerita dan mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Pada saat yang tepat, barulah kita dapat menyisipkan kata-kata positif.
Meskipun respons ketiga adalah yang paling tepat, tidak jarang respons ini menuai risiko-risiko.
Misalnya saja, orang yang berempati pada orang yang mengalami persekusi bisa saja mengalami ancaman. Atau, ketika orang yang berempati pada korban kekerasan fisik/seksual, tidak jarang orang tersebut mengalami hujatan, stigma, atau bahkan ancaman. Risiko ini akan semakin besar seiring berubahnya empati menjadi aksi menyuarakan keadilan dan kebenaran bagi sesama.
PENJELASAN BAHAN
Yesaya 40-55 merupakan bagian kedua dari Kitab Yesaya yang disebut sebagai Deutro Yesaya. Bagian ini ditujukan kepada bangsa Israel yang telah memasuki masa pembuangan di Babel. Dalam masa pembuangan itu, orang Israel menderita, kehilangan iman, dan putus harapan. Pada Yesaya bagian ini terdapat nubuat berisi janji keselamatan, yang memberikan mereka penghiburan dan harapan. Di tengah penderitaan itu, Yesaya menyampaikan bahwa akan datang seorang hamba TUHAN. Hamba TUHAN ini akan hadir dalam penderitaan, tetapi membawa kabar keselamatan yang menghibur dan menguatkan. Ia akan memulihkan keadaan Israel, menjadi terang bagi bangsa-bangsa, dan membawa kabar baik tentang kerajaan Allah.
Yesaya 50:4-9 adalah bagian dari rentetan syair “Nyanyian-nyanyian Hamba TUHAN” (42:1-6; 49:1-6;
50:4-11; dan 52:13-53:12). Dalam bagian ini, peranan hamba TUHAN dalam memberitakan kabar baik dan membawa pemulihan bagi yang menderita pun disampaikan. Meskipun dalam bagian ini tidak disebutkan istilah hamba TUHAN tetapi istilah murid yang dimaksud dalam teks ini menunjuk pada pribadi hamba TUHAN. Syair ini menggambarkan peranan hamba TUHAN, sebagai berikut:
a. Hamba TUHAN sebagai murid yang diperlengkapi oleh-Nya (ay. 4-5a)
Hamba TUHAN ini dipanggil dan dididik menjadi murid. Kata Ibrani dari murid adalah limudin yang berarti mengajar, membiasakan; penekanannya bukan terkait pengajaran intelektual melainkan latihan sikap atau suatu kecakapan.2 Kecakapan ini terwujud melalui bagaimana ia diperlengkapi dengan kefasihan berbicara dan ketajaman pendengaran.
Kefasihan berbicara ini bukan semata-mata soal pengetahuan tetapi juga soal apa yang baik dan benar. Perkataan murid ini dapat menjadi berkat bagi orang-orang yang letih lesu dan berbeban berat. Ia mampu menghibur hati yang gundah, dan berkata-kata dengan cara yang mengena pada persoalan, tepat, dan jelas kepada jiwa-jiwa malang dengan berbagai permasalahan mereka.3 Lebih dalam lagi, perkataannya ini kemudian diharapkan mampu menyadarkan orang yang acuh-tak acuh menjadi peduli, berpengharapan, dan turut membawa perubahan.
Telinga murid yang dipertajam TUHAN menggambarkan bagaimana murid tekun mendengarkan suara TUHAN dan mengerti akan firman-Nya. Ketekunan itu bahkan dikatakan dilakukan setiap pagi. Dan baginya, ia juga harus memahami, mengingat, dan selalu ingin belajar melalui apa yang didengar.
2 Marie-Claire Barth, Tafsiran Alkitab: Kitab Yesaya Pasal 40-55, (Jakarta: Gunung Mulia, 2003), hal. 274.
3 https://www.christianity.com/bible/commentary.php?com=mh&b=23&c=50 diakses 17 Juni 2021 pukul 19.41.
b. Murid menderita karena menjalankan tugas panggilannya (ay. 5b-6)
Sebagai murid yang lidahnya menyatakan kebenaran firman Allah dan yang memberi dukungan pada setiap orang yang lemah dan letih lesu, ia mengalami perlawanan dari para musuhnya. Perlawanan itu berbentuk punggung yang dipukul, janggut yang dicabut, dinodai, dan diludahi. Orang yang diperlakukan demikian berarti ia dipermalukan dan dihinakan.
Meskipun demikian, kemauan murid dengan memberi punggung, memberi pipi, dan tidak menyembunyikan muka menggambarkan bahwa sang murid siap untuk menanggung risiko.
Ia rela menanggung penderitaan itu demi menyatakan sesuatu hal yang benar dan memberkati orang yang lemah dan menderita.
c. TUHAN menyatakan kebenaran dan menolong murid-Nya (ay. 7-9)
Sikap yang mau menderita di atas berakar pada keyakinan bahwa Allah tidak akan tinggal diam dan Dia akan membuktikan kebenaran-Nya. Allah akan memberi keadilan kepada orang- orang-Nya. Selain itu, TUHAN akan menolongnya dengan membelanya saat menghadapi tuduhan palsu. Pertolongan TUHAN inilah yang membuat sang murid bertahan dan tidak menjadi malu. Sang murid tahu siapa yang ia percayai dan karena itu ia tahu bahwa ia tidak akan mendapat malu. Ia juga mendapatkan keteguhan hati bahwa Allah berdiri dipihaknya.4 Untuk itu, ia tidak takut masuk dalam peradilan pun karena yang namanya kebenaran pastilah menang.
POKOK PIKIRAN
1. Ada banyak orang yang menderita oleh karena persoalan hidup atau mengalami ketidakadilan.
Ketika kita mendengarkan baik melalui cerita maupun kabar yang tersebar, respons kita lewat perkataan kita menentukan apakah kita menjadi berkat bagi orang bersusah hati atau malah menambah penderitaannya. Untuk bisa menjadi berkat bagi orang yang bersusah hati, maka kita perlu belajar berempati. Dengan berempati, kita pun dapat terdorong untuk menyuarakan keadilan dan kebenaran.
2. Hamba TUHAN adalah sosok yang dijanjikan akan menjadi berkat bagi setiap orang yang bersusah hati dan menyampaikan kebenaran di depan khalayak. Kemampuannya dalam membawa kabar baik bersumber pada relasi yang baik dengan TUHAN dan memahami firman- Nya. Meskipun hal yang dilakukannya berisiko menderita dan dihinakan, ia meyakini Allah Sumber Kebenaran menolongnya untuk tetap menyatakan hal yang benar. Hamba TUHAN memahami panggilannya untuk membawa pengharapan dan penghiburan bagi yang lemah dan berputus asa seraya meyakini kebenaran Tuhan pastilah menang.
3. Sebagai umat Tuhan, kita pun dipanggil menjadi hamba-hamba-Nya. Kita diharapkan mampu menghibur dan menguatkan setiap orang yang menderita dan yang diperlakukan tidak adil.
Hendaknya perkataan kita bukanlah perkataan yang mematahkan semangat atau bahkan semakin memperburuk penderitaan orang lain, melainkan menjadi berkat dengan memberikan semangat dan pengharapan akan Allah yang memulihkan setiap penderitaan.
4. Ketika kita membela hak orang menderita, atau korban ketidakadilan dan kekerasan, maka bisa saja kita pun turut menderita dengan cercaan, mendapatkan stigma, atau bahkan menjadi sasaran kejahatan orang lain. Meskipun berat, sebagai hamba-hamba TUHAN, kita dipanggil untuk tetap berani menyatakan apa yang benar. Walau jalannya berisiko atau ‘tidak populer’, karena sebagian besar orang menghindari jalan itu, kita tetap melakukan apa yang baik dan benar karena kita percaya Allah menolong kita untuk melakukannya.
(JHS)
4 https://www.christianity.com/bible/commentary.php?com=mh&b=23&c=50 diakses 17 Juni 2021 pukul 19.41
MINGGU XVII SESUDAH PENTAKOSTA
19 SEPTEMBER 2021
Pembacaan
Alkitab
Yeremia 11:18-23
Nas Pembimbing Roma 12: 17
Mazmur 54
Pokok Pikiran Bijak dalam hidup: Berhikmat dan berakal budi dalam cara hidup yang berbuah
Nyanyian Tema KJ 417: 1, 6, 7
Pokok Doa 1. Para guru sekolah minggu dan pelayan persekutuan remaja di jemaat
2. YBRS, satuan kerja dan pelayanannya
3. Solidaritas kepada sesama (Hari Palang Merah Indonesia – 17 September)
Warna Liturgis Hijau
MERATAPLAH PADA TUHAN YANG ADIL
PENDAHULUAN
Indonesia sedang meratap. Bumi pun masih meratap. Ratapan itu muncul karena situasi pandemi yang belum kunjung selesai. Banyak pihak berusaha sekuat tenaga untuk mengatasi kondisi yang diakibatkan oleh virus Covid-19. Para tim medis berupaya sekuat tenaga untuk mengobati pasien di rumah sakit, bahkan terus memantau mereka yang isolasi mandiri di rumah. Pemerintah berupaya mengeluarkan kebijakan dan menggelontorkan biaya yang tidak sedikit demi menanggulangi permasalahan ekonomi dan meredam agar kasus yang terpapar virus Covid-19 tidak melonjak tinggi.
Tentu tidak mudah bagi pemerintah Indonesia dalam menjaga kestabilan kondisi ekonomi dan kesehatan masyarakat, yang berjumlah lebih dari 270 juta orang, di tengah situasi pandemi saat ini.
Namun, di tengah situasi sulit yang dialami semua orang, masih saja ada yang tidak percaya bahwa Covid-19 itu ada dan menganggap bahwa semua hanya konspirasi atau persekongkolan sekelompok orang, yang sering disebut dengan “elite global”.
Sebagai umat Kristen, kita diajak untuk tetap peka dengan situasi saat ini. Meratap bersama mereka yang meratap dan tetap bersandar pada rencana, serta kehendak Tuhan. Mencari kehendak Tuhan di tengah kondisi bangsa dan dunia yang meratap menjadi fokus perenungan firman Tuhan pada saat ini.
PENJELASAN BAHAN
Kitab Yeremia bagian pertama (pasal 1-23) merupakan pesan Tuhan yang disampaikan pada masa sebelum pembuangan di Babel. Yeremia diutus oleh Tuhan untuk menyampaikan teguran pada bangsa Israel yang saat itu terpecah menjadi dua kerajaan yakni Kerajaan Israel (Israel Utara) dan Kerajaan Yehuda (Israel Selatan). Yeremia sendiri berasal dari suku Benyamin di Kerajaan Yehuda.
Meski bangsa Israel terpecah, Tuhan mengutus Yeremia untuk menyampaikan pesan pada bangsa Israel secara keseluruhan. Namun situasi politik kerajaan saat itu membuat Yeremia mendapatkan banyak pertentangan, baik dari Kerajaan Israel, maupun dari Kerajaan Yehuda. Salah satu bentuk pertentangan bangsa Israel dapat kita lihat dalam bacaan saat ini.
Kondisi bangsa Israel saat itu sangat jauh dari Tuhan. Kalaupun ada ibadah yang dilakukan, itu hanya ritual saja yang tidak didasari dengan kesungguhan hati mencari Tuhan. Bangsa Israel melanggar perjanjian nenek moyang mereka untuk hidup setia mendengarkan dan menaati firman Tuhan.
Mereka malah mengadopsi dewa-dewa Kanaan, membangun kuil-kuil para dewa, dan ketidakadilan sosial merajalela karena penyalahgunaan wewenang para pejabat kerajaan dan para pemimpin agama. Ketika mereka ditegur Tuhan dan diingatkan untuk kembali kepada Tuhan melalui Yeremia, mereka malah menolak dan mengancam Yeremia. Yeremia 11: 18-23 bisa kita sebut sebagai ratapan Yeremia kepada Tuhan ketika ia menghadapi ancaman dari orang-orang sebangsanya. Ancaman itu muncul dari orang-orang di daerah asalnya sendiri, yakni Anatot (Yer. 1: 1; 11: 21).
Untuk dapat memahami pesan firman Tuhan hari ini, mari kita bagi ratapan Yeremia ini menjadi tiga bagian, yaitu:
1. Ayat 18-19 tentang Yeremia mengingat kembali tugas dan risiko dari panggilan yang diembannya. Pada bagian ini kita dapat melihat bagaimana Yeremia menyerukan kembali tentang pernyataan Tuhan ketika Tuhan mengutusnya. Meski Yeremia sempat ragu (Yer. 1:6), namun dia memegang janji Tuhan bahwa Tuhan akan menunjukkan kepada Yeremia, perbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan bangsa Israel. Tuhan bahkan berjanji akan terus menyertai Yeremia (Yer. 1:19). Tetapi Yeremia mengungkapkan bagaimana tugas itu mengarahkannya pada ancaman yang ia terima dari sukunya, bangsanya sendiri. Ia bahkan menggunakan metafora “seperti domba jinak yang dibawa untuk disembelih”. Bukan domba liar, melainkan domba jinak yang sudah tahu siapa gembalanya, sudah tahu siapa saja kawanannya, sehingga dibawa untuk disembelih pun, dia tidak bisa memberontak sebab ia tidak tahu. Mereka bahkan mengancam akan memusnahkan garis keturunan keluarga Yeremia (pohon dengan buah-buahnya) sehingga tidak ada lagi yang akan mengingat keluarga itu.
2. Ayat 20-21 tentang penyerahan penuh Yeremia kepada Tuhan. Kita dapat melihat dalam ayat- ayat ini bahwa Yeremia hanya mampu kembali pada Tuhan yang mengutusnya. Ia berkeluh kesah, dan bercerita tentang kondisi yang dapat mengancam nyawanya. “Sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku.” Demikianlah Yeremia meratap dan berserah pada Tuhan meski sesungguhnya ia bisa saja memilih untuk menentang Allah dan mengikuti kehendak orang- orang Anatot. Kesetiaannya pada tugas panggilan dari Allah dan keyakinannya akan campur tangan Tuhan sesuai dengan janji-Nya membuat Yeremia tetap mampu bertahan dalam kebenaran firman Tuhan.
3. Ayat 22-23 tentang kekuatan dan penghiburan dari Tuhan yang adil. Yeremia mendapatkan janji dari Tuhan bahwa keadilan akan ditegakkan oleh Tuhan sendiri. Tuhan akan menegur orang-orang Anatot dengan hukuman pada “tahun hukuman mereka”, artinya pada saatnya nanti. Bukan hari ini atau besok, tetapi pada saat yang Tuhan tentukan sendiri seperti teguran- teguran Tuhan pada Yerusalem, Babel, atau bangsa-bangsa lain. Tuhan akan menyatakan keadilan-Nya. Pesan ini dinyatakan hanya kepada Yeremia, bukan untuk diteruskan pada bangsa Israel, sebagai kekuatan dan penghiburan bagi Yeremia sehingga ia terus mau menjalankan tugasnya sampai apa yang dinubuatkan Tuhan dinyatakan.
Dari pembagian teks di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Yeremia saat menghadapi persoalan hidup berupa ancaman, ia tidak gegabah dengan melawan mereka. Ia tetap berhikmat dan berakal budi dengan menyerahkan semua perkara yang menyakitkan hati dan membahayakan nyawanya itu kepada Tuhan. Ia percaya bahwa Tuhan adil, dan Tuhan pasti mampu menyelesaikan berbagai perkara yang menjadi persoalan hidupnya. Ia hanya mau meratap kepada Tuhan dan menceritakan setiap keluh kesahnya.
Melalui firman Tuhan hari ini kita memperoleh pesan:
1. Sebagai manusia, kita pasti berhadapan dengan berbagai macam persoalan hidup. Persoalan itu dapat membuat kita meratap. Contohnya, situasi pandemi saat ini. Bisa saja kita menyalahkan pemerintah, bisa saja kita menyalahkan rumah sakit yang tidak bisa memberikan pelayanan pada anggota keluarga kita yang terpapar Covid-19 sehingga akhirnya ia kembali ke rumah Bapa di Surga. Atau kita juga bisa saja marah kepada pimpinan yang telah memecat kita atau orang-orang yang telah menyakiti hati kita. Namun yang terpenting, saat meratapi persoalan hidup, carilah Tuhan, ceritakan keluh kesahmu pada-Nya dan nantikanlah jawaban Tuhan atas doamu.
2. Teguhlah dan percayalah bahwa Tuhan itu adil, karena itu peganglah janji-Nya. Ia tidak akan membiarkan kita sendirian dalam menghadapi persoalan hidup. Ia pasti memberi kekuatan dan penghiburan di saat-saat kita menanti dengan sabar jawaban doa yang akan Dia nyatakan pada waktu yang tepat.
3. Tuhan menegur bangsa Israel seperti seorang ibu atau ayah yang mendidik anaknya. Semua teguran dan didikan berujung pada kebaikan. Tuhan itu adil, sehingga teguran-Nya menuntun pada rancangan yang indah bagi umat-Nya dan relasi Tuhan dan umat dapat dipulihkan kembali. Itu sebabnya, ketika kita disakiti oleh orang lain, Roma 12: 17 dalam nas pembimbing hari ini sudah mengingatkan pula: “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan;
lakukanlah apa yang baik bagi semua orang.” Tetaplah berbuat baik, apa pun kondisi yang dirasakan saat ini, apa pun situasi yang harus dihadapi saat ini, agar hidupmu tetap berbuah baik.
POKOK PIKIRAN
1. Setiap orang pasti memiliki tugas yang dipercayakan padanya. Setiap tugas pasti mengandung risiko yang perlu siap dihadapi. Orang yang siap menghadapi risiko dari pekerjaannya adalah orang-orang yang berhikmat. Kita belajar dari Yeremia yang tetap setia meski risiko kematian mengancamnya. Para tenaga kesehatan saat ini juga sedang menghadapi risiko yang berat dalam mengobati para pasien yang terpapar Covid-19. Sudah cukup banyak tenaga kesehatan yang meninggal dunia karena mereka harus tetap setia pada panggilan tugas mereka. Tidak hanya tenaga kesehatan, sektor esensial lainnya juga tetap harus bekerja di tengah situasi yang tidak aman saat ini.
2. Situasi yang tidak aman atau yang mengancam kehidupan, merupakan bagian dari banyaknya persoalan hidup yang kita hadapi saat ini. Namun, di tengah pandemi, persoalan hidup setiap orang bisa berbeda-beda. Banyak yang harus kehilangan pekerjaan. Ada yang sedang berjuang dengan kondisi terpapar virus Covid-19, ada pula yang berkonflik dengan anggota keluarga karena berbagai masalah yang harus diselesaikan di keluarga tidak kunjung mendapat jalan keluar. Apa pun persoalan hidup yang dihadapi, meratap dan berserahlah pada Tuhan yang tahu masa depan setiap orang, bahkan masa depan bumi ini.
3. Saat kita menghadapi persoalan, mintalah hikmat dari Tuhan agar kita tidak mudah menyalahkan orang lain atau pihak lain. Mintalah kekuatan dan penghiburan dari Allah yang adil. Dia adil dan Dia pasti akan menyatakan keadilan-Nya. Oleh sebab itu, hiduplah benar di hadapan Tuhan, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi jadilah berkat bagi sesama.
(ENT)
MINGGU XVIII SESUDAH PENTAKOSTA
26 SEPTEMBER 2021
Pembacaan
Alkitab
Ester 7:1-10
Nas Pembimbing Ester 4:13-14
Mazmur 124
Pokok Pikiran Bijak dalam hidup: Terhubung dengan Tuhan dalam doa, berani bertindak dalam iman
Nyanyian Tema NKB 179: 3, 4
Pokok Doa 1. Pengawas Perbendaharaan Jemaat dan Sinode, dan pelayanannya
2. YPT, satuan kerja dan pelayanannya
3. Anggota jemaat yang bermata pencaharian sebagai petani, peladang, peternak (Hari Tani Nasional – 24 September)
Warna Liturgis Hijau
IKUT SERTA DALAM KARYA KESELAMATAN DARI ALLAH
PENDAHULUAN
Sebagai bagian dari bangsa dan negara Indonesia, kita semua telah bergumul lebih dari setahun lamanya dalam penanggulangan pandemi virus Corona. Berbagai istilah telah kita lalui, mulai dari PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) hingga PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat); Mulai dari 3M: Memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak; Hingga kemudian menjadi 5M yakni memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, mengurangi mobilitas interaksi, dan menghindari kerumunan. Semua dilakukan dalam upaya untuk memulihkan diri dan negeri dari penyebaran virus Corona.
Namun, kita semua pada akhirnya tahu bahwa kunci terutama adalah kesadaran dari seluruh masyarakat Indonesia dalam menaati seluruh protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah untuk mengendalikan penyebaran virus Corona. Terlebih dengan percepatan pemberian vaksinasi terhadap masyarakat Indonesia. Semua upaya yang memerlukan peran serta kita semua untuk memulihkan diri dan negeri dari pandemi.
PENJELASAN BAHAN
Pembacaan Alkitab kita hari ini berbicara tentang peran penting seorang Ester dalam upaya menyelamatkan bangsanya dari ancaman genosida (pemusnahan satu bangsa). Keselamatan yang dari Tuhan dinyatakan melalui tindakan yang dilakukan oleh Ester bagi keselamatan bangsanya.
Tidak cukup membaca perikop Ester 7:1-10 saja untuk mengenali inti persoalan yang dihadapi oleh Ester dan bangsa Yahudi yang kala itu berada di bawah pemerintahan Kerajaan Persia. Oleh karena itu, kita akan mengulas sedikit tentang apa yang menjadi latar belakang cerita perikop kita kali ini.
Ester adalah seorang Yahudi yang diangkat menjadi ratu bagi Raja Ahasyweros (Ester 2). Persoalan utama yang dihadapi oleh bangsa Yahudi kala itu adalah ketika Mordhekai dianggap tidak patuh terhadap perintah raja untuk berlutut dan bersujud kepada para pembesar kerajaan, dalam hal ini adalah Haman (Ester 3:2-6). Atas tindakan Mordekhai itulah Haman kemudian mencari ikhtiar memunahkan semua orang Yahudi.
Mordekhai yang mengetahui rencana jahat Haman kemudian meminta pertolongan Ester untuk berbicara kepada raja (Ester 3:8), dan membela bangsa Yahudi yang terancam oleh genosida.
Menariknya adalah pada awalnya Ester terkesan enggan untuk berbuat sesuatu. Karena perkara menghadap raja bukanlah perkara sembarangan, bahkan bagi seorang ratu sekalipun (Ester 4:11).
Akan tetapi, apa yang dikatakan oleh Mordekhai dalam Ester 4:13-14 telah membuka hati dan pikiran Ester untuk, pada akhirnya, menjadi perpanjangan tangan Allah dalam kerangka mendatangkan keselamatan bagi bangsa Yahudi di negeri asing (Persia).
Pembacaan Alkitab kita hari ini dilatarbelakangi oleh apa yang telah kita ulas tadi. Ester yang telah memberanikan diri menjelaskan rencana jahat Haman kepada Raja Ahasyweros (Ester 7:3-5). Haman yang telah memiliki siasat untuk menghukum Mordekhai dengan tiang penyulaan, justru kini dirinyalah yang disulakan pada tiang tersebut atas perintah raja (Ester 7:10).
POKOK PIKIRAN
1. Karya pemulihan dan keselamatan dari Allah dinyatakan melalui tindakan-tindakan yang melibatkan orang-orang di dalamnya. Ester telah menjadi perpanjangan tangan Allah dalam menyatakan karya keselamatan bagi bangsa Yahudi yang kala itu berada dalam pembuangan di negeri asing.
2. Kita pun hari ini diajak oleh Allah untuk terlibat aktif dalam karya keselamatan yang berasal dari-Nya. Perjuangan melawan penyebaran virus Corona bukanlah perjuangan pemerintah saja, tetapi merupakan perjuangan seluruh bangsa Indonesia agar negeri ini dipulihkan.
3. Hal-hal apa saja yang bisa kita lakukan dalam upaya turut serta memulihkan dan menyelamatkan bangsa ini? Bila membandingkan dengan apa yang telah dilakukan oleh para tenaga kesehatan yang telah membaktikan jiwa raga mereka untuk memulihkan negeri ini, tentu kita sebagai masyarakat Indonesia melakukan “bagian yang paling mudah” (tinggal melaksanakan PPKM, protokol kesehatan, dll.). Kiranya apa yang kita lakukan bagi pemulihan negeri ini, sekecil apa pun itu, menjadi cara Allah dalam menyelamatkan bangsa dan negeri tercinta ini.
(GIA)
MINGGU XIX SESUDAH PENTAKOSTA
3 OKTOBER 2021 HPII/HPKD
Pembacaan
Alkitab
Ayub 2:1-10
Nas Pembimbing 2 Korintus 4:16 & 18
Mazmur 8
Pokok Pikiran Mengakui kemahakuasaan Allah:
Bersandar pada Allah yang berkuasa atas segala sesuatu Nyanyian Tema KJ 374: 1-3
Pokok Doa 1. BPP Sinode dan pelayanannya
2. Kesatuan dan persatuan bangsa (Hari Kesaktian Pancasila)
3. Para lanjut usia di jemaat (Hari Lansia Internasional) Warna Liturgis Hijau
MENEMUKAN TUHAN ALLAH DI DALAM PENDERITAAN
PENDAHULUAN
Pandangan secara umum lazim mengaitkan penderitaan dengan kejahatan. Manusia mengalami penderitaan karena kejahatan, baik yang dilakukan oleh yang bersangkutan sendiri ataupun orang lain. Kisah di dalam Alkitab tentang leluhur manusia, Adam dan Hawa, yang kemudian menjadi bagian pengajaran iman menyatakan bahwa penderitaan manusia adalah akibat perbuatan jahat (dosa) mereka terhadap Allah. Contoh lain dalam sejarah kontemporer adalah pembantaian jutaan orang Yahudi oleh rezim Hitler.
Kalaulah penderitaan terjadi seperti dua contoh di atas, maka secara nalar bisa dipahami, yakni penderitaan ada sebagai akibat dari adanya sebab. Namun, akan menjadi sulit untuk dipahami secara nalar ketika penderitaan itu hadir tanpa sebab. Terasa semakin rumit dan sulit dipahami, ketika penderitaan tanpa sebab ini dialami oleh manusia atau seseorang yang kehidupannya baik secara moralitas dan imaniah, lalu dikaitkan dengan Tuhan Allah yang dipercaya sebagai pribadi Mahakuasa, Mahaadil, Mahakasih, dan seterusnya. Dalam keterbatasan akal-budi manusia tentang Tuhan Allah dan keterbatasan daya tahannya terhadap penderitaan yang tak jelas sebabnya itu, bisa saja muncul pertanyaan yang terasa gawat (krusial): di manakah Tuhan Allah? Atau lebih gawat lagi pertanyaan:
masihkah Tuhan Allah berkuasa, bahkan masihkah Tuhan Allah itu ada? Ya, pertanyaan tentang dan terhadap Tuhan Allah yang konon dekat dengan manusia yang sedang menderita. Tuhan Allah, pribadi berkuasa, yang kepada-Nya manusia menaruh harap di tengah penderitaan yang dialami; dan Ia akan menyatakan kepedulian, sebagaimana lazim digemakan dalam pengajaran hikmat yang konvensional (bdk. Maz. 17; 30; 145: 14,18; Ams. 10:29; 13:21; 15:25).
PENJELASAN BAHAN
Kitab Ayub menurut susunan Alkitab Kristen tergolong ke dalam kitab sastra hikmat.5 di dalam bagian Perjanjian Lama. Empat kitab sastra hikmat lainnya adalah Mazmur, Amsal, Pengkhotbah dan Kidung Agung. Tiga kitab yang bisa dibilang sangat kuat isi kandungan hikmatnya adalah Kitab Amsal,
5 Daud H. Soesilo, Mengenal Alkitab Anda, LAI, 2014, hal.17
Kitab Pengkhotbah, dan Kitab Ayub sendiri.6 Kitab Ayub, juga Kitab Pengkhotbah, merupakan kitab sastra hikmat yang serius. Kesan serius didapat bila membandingkannya dengan Kitab Amsal yang isinya secara umum memuat hikmat yang bersifat praktis, ringan, optimistik dan konvensional dengan mengedepankan perihal perbuatan baik yang akan mendatangkan kesuksesan dan kemakmuran. Sedangkan, Kitab Ayub dan Kitab Pengkhotbah memuat hikmat yang sebaliknya, yakni tentang kesusahan, penderitaan, kesia-siaan hidup yang justru dialami oleh manusia yang menjalani hidup dengan baik dan saleh secara moralitas dan imaniah. Dalam keadaan hidup menderita yang seperti ini terasa sulit menemukan atau mendapati Tuhan Allah sebagai pribadi berkuasa yang dekat,7 hadir dan berperan di dalam penderitaan yang dialami oleh manusia atau seseorang. Keadaan seperti itulah yang dialami oleh seorang bernama Ayub, seorang yang baik dan saleh secara moralitas dan imaniah sebagaimana dikisahkan dalam bagian Kitab Ayub 2:1-10.
Pasal 1 dan 2 merupakan bagian pembuka (prolog) dari keseluruhan Kitab Ayub yang terdiri atas 42 pasal, di mana Ayub 42:7-17 merupakan bagian penutupnya (epilog). Dengan memperhatikan kedua bagian (prolog dan epilog) Kitab Ayub ini, maka akan tergambar figur utuh Ayub sebagai seorang yang baik secara moralitas dan saleh secara imaniah. Ayub memang sempat agak goyah dalam keyakinan dan sikap hormatnya terhadap Tuhan Allah, menuduh-Nya telah berbuat tak adil dan menuntut tanggung jawab Tuhan Allah atas penderitaan yang dialaminya (3; 7:20; 9:24; 10:2; 13:23-25;
16:9,12-15; 19:6-10; 23:2,3,16,17; 27:2,4-6). Namun, sikap bertahan dalam penderitaan dengan tetap berpegang pada keyakinan bahwa Tuhan Allah sesungguhnya pribadi mahakuasa yang baik dan merendah di hadapan-Nya (42:5,6) menghantar Ayub pada pemulihan diri dan kehidupannya (42:7- 17).
Ayat 1-2 mengisahkan tentang suatu saat dan keadaan ketika anak-anak Allah, yakni para malaikat selaku makhluk surgawi, datang untuk menghadap Tuhan Allah. Dari momen ini terungkap bahwa Tuhan Allah menempati posisi tertinggi. Dikisahkan pula, bahwa selain para malaikat, rupanya datang pula Iblis untuk menghadap Tuhan Alah. Tentu saja keberadaan dan status Si Iblis berbeda dengan para malaikat selaku anak-anak Tuhan Allah. Terlebih terhadap keberadaan Tuhan Allah. Keberadaan dan status yang berbeda ini terungkap dari pertanyaan Tuhan Allah kepada Si Iblis, “dari mana engkau?” Si Iblis menjawab, “dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi.” Berbeda dengan Tuhan Allah, pencipta langit dan bumi serta kehidupan, Iblis melakukan perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi bukan untuk memelihara bumi dan berelasi baik dengan manusia. Melainkan mencari kesempatan untuk merusak kehidupan di bumi dengan mencobai manusia (bdk. Kej.3:8; Luk.
4:13).
Ayat 3-6 menjelaskan perbedaan keberadaan dan status Iblis dengan para malaikat dan Tuhan Allah, dan mengenai maksud si Iblis menghadap Tuhan Allah. Perbedaan maksud tersebut terungkap ketika Tuhan Allah bertanya kepada si Iblis perihal Ayub, seorang yang baik secara moralitas dan imaniah. Si Iblis langsung menjawab secara negatif tentang Ayub dan provokatif terhadap Tuhan Allah agar menimpakan kesusahan terhadap Ayub. Tuhan Allah tahu tujuan jahat si Iblis, yakni agar Ayub berpaling dari-Nya. Maka atas sepengetahuan-Nya Tuhan Allah mengizinkan si Iblis menyentuh Ayub, asalkan nyawa Ayub tetap terjamin. Dari sini terungkap dua hal. Pertama, otoritas Tuhan Allah atas hidup manusia adalah mutlak. Kedua, motif atau tujuan yang sangat berbeda, bahkan bertolak belakang, antara Tuhan Allah dengan Iblis dalam hal penderitaan yang akan ditimpakan kepada Ayub.
Motif atau tujuan Tuhan Allah adalah menguji kebaikan dan kesalehan Ayub, tapi Iblis mau
6 S. Wismoadi Wahono, Di sini Kutemukan, BPK GM, 1987, hal.223, 227, 233.
7 John Drane, Memahami Perjanjian Lama I, PPA, 2002, hal. 89.
mencelakakan Ayub semata sekaligus menurunkan otoritas atau wibawa Tuhan Allah di depan mata Ayub dan manusia secara keseluruhan.8
Ayat 7-8 mencatat bagaimana si Iblis undur dari hadapan Tuhan Allah untuk melakukan hal yang buruk terhadap Ayub. Iblis menimpakan bara yakni sejenis penyakit borok yang sangat gatal dan akan berakibat luka parah ketika digaruk. Digambarkan bahwa tingkat kegatalan yang dirasakan Ayub amatlah sangat, sehingga ia harus menggaruknya dengan sekeping benda sejenis beling atau kaca yang tentu tajam sehingga menjadikan luka yang sangat parah. Ia melakukannya dengan rasa batin yang sangat menderita yang digambarkan sambil duduk di tengah-tengah abu atau di tempat sampah yang kotor dan menjijikkan.
Ayat 9-10 mencatat penderitaan Ayub terasa semakin berat ketika ternyata istrinya mempertanyakan kesalehan Ayub terhadap Tuhan yang tetap dipegang di dalam penderitaan itu. Istrinya menegur Ayub supaya jangan lagi bertekun dalam kesalehan kepada Tuhan Allah yang tak bertindak apa pun untuk menolong dan menyelamatkan Ayub. Maka, “kutukilah Allahmu dan matilah saja”, demikian istri Ayub menghardiknya. Namun Ayub tetap berteguh hati berpegang dalam kesalehannya terhadap Tuhan Allah. Ayub bertahan dan berupaya menemukan Tuhan Allah di dalam penderitaan yang dialami itu. Ayub teguh dalam keyakinan bahwa Tuhan Allah tidak seburuk seperti yang dituduhkan oleh istrinya yang seakan merepresentasikan pandangan manipulatif Iblis tentang Tuhan Allah. Jawaban Ayub terhadap istrinya menegaskan keteguhan keyakinannya terhadap Tuhan Allah tadi, “Engkau berbicara seperti orang gila! Apakah kita mau menerima yang baik (saja) dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Makna ucapan ini adalah Ayub tetap memahami dan meyakini Tuhan Allah sebagai Tuhan Allah yang baik. Tuhan Allah dan kebaikan-Nya jauh melebihi keburukan hidup yang sedang dialaminya. Ayub tak bersyahwasangka terhadap Tuhan Allah.
Pemahaman dan keyakinan inilah yang menguatkan dirinya untuk bertahan di dalam penderitaan berat yang sangat buruk itu. Kekuatan bertahan dalam penderitaan inilah yang akhirnya menghantar Ayub untuk menemukan Tuhan Allah yang baik, yang menyelamatkan dari penderitaannya sebagaimana tergambar pada bagian penutup (epilog) Kitab Ayub 42:7-17.
POKOK PIKIRAN
1 Penderitaan masih mungkin hadir dan dialami oleh siapa pun termasuk oleh manusia atau seseorang yang menjalani hidup dengan baik secara moralitas dan saleh secara imaniah.
Penderitaan juga dapat menggoyahkan keyakinan manusia atau seseorang terhadap Tuhan Allah. Terlebih ketika penderitaan itu dirasakan sangat berat, mengakibatkan keadaan kehidupan seseorang menjadi buruk-terpuruk, ditambah lagi dengan ketidak-jelasan penyebabnya terkait dengan keberadaan diri seseorang yang dipandang baik-baik saja dalam menjalani hidup secara moralitas dan imaniah. Seseorang akan mengalami pergumulan berat lahir dan batin yang dapat berujung pada tergoyahnya keyakinan termaksud di atas. Dalam penderitaan yang datang menimpa seperti ini, diperlukan sikap bertahan berbasis keyakinan terhadap Tuhan Allah sebagai pribadi mahakuasa yang tak akan meninggalkan seseorang terkapar dan terlantar dalam penderitaannya. Sikap utama yang harus dikedepankan adalah terus berpegang pada keyakinan terhadap Tuhan Allah dan kuasa-Nya.
8 Terjemahan ayat 4 dan 5 Alkitab Kabar Baik B.I.S sebagai berikut: “Tetapi Si Penggoda menjawab, ‘Nyawa dan kesehatan lebih berharga daripada harta. Manusia rela mengurbankan miliknya agar ia dapat tetap hidup sehat. Seandainya tubuhnya kausakiti, pasti ia akan langsung mengutuki engkau’.” (Alkitab B.I.S, cetakan ketiga), LAI, 1991, hal.690.
2 Daya tahan manusia menghadapi kenyataan penderitaan bisa berhenti pada batas tertentu sebagai akhir penderitaan. Wujud akhir penderitaan itu bisa berupa luruhnya diri dan hidup seseorang oleh dan bersama penderitaan yang dialaminya, tapi bisa pula berupa penderitaan berakhir karena mampu diatasi sehingga hidup yang bersangkutan kembali pulih. Dalam kaitan dengan keyakinan terhadap Tuhan Allah, maka sikap yang diperlukan dalam penderitaan adalah kesadaran untuk bertahan dengan keyakinan bahwa Tuhan Allah dan kuasa-Nya tetap hadir. Sikap bertahan dengan keyakinan ini akan menopang seseorang menjadi kuat hingga merasakan kehadiran Tuhan Allah dan menemukan Tuhan Allah yang berkuasa itu di dalam penderitaan yang dialaminya.
3 Penderitaan yang dialami Ayub dan kesadarannya untuk bertahan dalam penderitaannya dengan tetap berpegang pada keyakinan terhadap Tuhan Allah dan kuasa-Nya mengingatkan pada pribadi Yesus. Yesus juga ditimpa dan mengalami penderitaan tanpa sebab yang jelas terkait dengan keberadaan diri-Nya sebagai pribadi yang menjalani hidup dengan baik secara moralitas dan imaniah. Dari sisi ini ada kemiripan antara Ayub dengan Yesus. Bedanya, Ayub menjalani hidup dan bertahan dalam penderitaan dengan misi yang terarah lebih kepada kehidupannya dan dirinya sendiri atau paling banter, bagi keluarganya. Sedangkan Yesus menjalani hidup dan bertahan dalam penderitaan dengan misi demi kebaikan kehidupan secara keseluruhan yang berpuncak pada keselamatan abadi manusia. Yesus juga sempat bergumul berat ketika akan masuk dan mengalami penderitaan. Tapi kesadaran akan misi yang diemban- Nya dan keyakinan terhadap kuasa Allah, Bapa-Nya, menghantar Yesus memasuki dan bertahan dalam penderitaan hingga penderitaan itu akhirnya berakhir. Sikap Ayub, terlebih Yesus, bertahan dalam penderitaan menginspirasi atau menyemangati orang-orang beriman untuk menumbuhkan dan memelihara tekad memegang teguh keyakinan beriman kepada Tuhan Allah, termasuk dalam kondisi hidup yang menekan dan menderita. Pengalaman beriman Ayub dan Yesus yang bertahan dalam penderitaan dengan berpegang teguh pada keyakinan terhadap Tuhan Allah dan kuasa-Nya menghantar mereka pada fakta bahwa Tuhan Allah hadir. Kuasa-Nya memupus penderitaan dan menggantinya dengan kenyataan yang lebih baik. Mereka menemukan Tuhan Allah dengan kuasa-Nya di dalam penderitaan. Fakta ini menjadi bukti sejati (eksistensial) dalam penderitaan Yesus yang berbuah anugerah keselamatan abadiah bagi manusia. Terkait dengan Perjamuan Kudus yang akan dilakukan rangka HPKD dan HPII, maka Perjamuan Kudus ini dapat dimaknai sebagai kesempatan bagi persekutuan umat Tuhan membangun dan memelihara tekad menemukan Tuhan Allah dan kuasa-Nya. Dalam konteks Ayub, Tuhan Allah dan kuasa-Nya hadir dalam penderitaan Ayub.
Dan dalam konteks Yesus, Tuhan Allah hadir bersama dalam penderitaan dan pengorbanan Yesus. Selain itu, Perjamuan Kudus yang akan dilakukan ini dapat juga dimaknai sebagai kesempatan membangun dan memelihara tekad untuk bersaksi melalui hidup yang dijalani dengan baik secara moralitas dan imaniah seperti Ayub dan Yesus. Termasuk ketika kita sedang dalam penderitaan dan pergumulan seperti yang sedang dialami saat ini karena mewabahnya (pandemi) virus mematikan dengan berbagai dampaknya hingga membuat batin terasa sangat tersiksa. Seperti terkurung dalam labirin ketidak-jelasan: mengapa terjadi, mengapa berkepanjangan, dan kapankah usainya?
(CHB)
MINGGU XX SESUDAH PENTAKOSTA
10 OKTOBER 2021
Pembacaan
Alkitab
Ayub 23:1-17
Nas Pembimbing Ayub 23:10 Mazmur Mazmur 22:1-16
Pokok Pikiran Mengakui kemahakuasaan Allah: Beriman kepada Allah yang mengetahui isi hati, beroleh rahmat-Nya dalam kehidupan
Nyanyian Tema KJ 413: 1-3
Pokok Doa 1. Upaya-upaya optimalisasi aset GKP yang dikelola dan dipergunakan dengan baik
2. Firma Hukum Rhema Kasih dan pelayanannya
3. Para guru dan anggota TNI di jemaat (Hari Guru Dunia dan HUT TNI – 5 Oktober)
Warna Liturgis Hijau
KARENA IA TAHU JALAN HIDUPKU
PENDAHULUAN
“Kok orang Kristen menderita?” mungkin pertanyaan ini pernah diajukan oleh kita atau ada orang lain yang mengajukan pertanyaan ini kepada kita. Seakan ada sebuah pemahaman bahwa orang Kristen tidak akan pernah mengalami penderitaan, tidak akan pernah mengalami kesusahan, bukankah yang terjadi justru sebaliknya, yakni orang Kristen harusnya selalu berbahagia dan luput dari penderitaan.
Dan sadarkah kita bahwa pertanyaan demikian menjadi tanda munculnya penolakan diri atas pengalaman penderitaan yang tengah menghampiri kehidupan kita. Masih banyak pertanyaan- pertanyaan serupa, antara lain ‘kok bisa?” atau “kenapa harus saya yang mengalami?” atau “apa salah saya sampai harus mengalami ini?” dan masih banyak lagi pertanyaan yang muncul sebagai bentuk penolakan diri. Pertanyaan-pertanyaan demikian menunjukkan bahwa kita perlu mencari tahu siapa atau apa penyebab dari pengalaman penderitaan tersebut. Bahwa dengan cara itulah kita berpikir akan dapat mengurangi rasa sakit atau mengurangi rasa tidak nyaman yang hadir dalam diri kita. Tapi nyatanya yang terjadi rasa sakit dan ketidaknyamanan itu akan terus ada dalam diri. Maka yang bisa dilakukan adalah menerima dan menjalani pengalaman tersebut.
Sebagai anak-anak Tuhan, justru kita sedang diajak untuk belajar merendahkan hati dan bersedia dipimpin oleh Tuhan dalam melewati pengalaman penderitaan. Dengan menerima pimpinan Tuhan, maka pengalaman penderitaan itu akan membuat kita semakin kuat dan teguh beriman, serta berpengharapan dalam Tuhan. Seluruh proses pengalaman itu akan menjadi sebuah motivasi hidup yang sangat berharga dalam perjalanan hidup kita.
PENJELASAN BAHAN
Dalam pasal 1:1-3 diceritakan bahwa Ayub adalah seorang peternak yang sangat kaya dibandingkan orang lain. Kekayaannya berlimpah dengan ribuan ternak dan hamba-hambanya yang turut melayaninya. Ia mempunyai sepuluh anak, yakni tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Ia
memiliki tujuh ribu ekor kambing domba, tiga ribu ekor unta, lima ratus pasang lembu, lima ratus keledai betina, dan budak-budak dalam jumlah yang sangat besar. Ia adalah orang terkaya dari semua orang di sebelah timur.
Selain itu, ia juga seorang yang saleh, jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Kesalehan Ayub tampak ketika ia membuat korban bakaran bagi kesepuluh anaknya yang telah berpesta-pora dengan alasan: “Mungkin anak-anakku telah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati” (pasal 1:5). Kalau kita belum pernah mendengar kisah Ayub sebelumnya, mungkin kita akan berpikir bahwa Ayub adalah seseorang yang tak akan pernah mengalami penderitaan dalam hidupnya.
Tapi Ayub yang dikenal saleh, jujur, takut akan Allah, dan menjauhi kejahatan ini tidak luput dari pengalaman penderitaan. Harta bendanya hilang, anak-anaknya meninggal, istrinya menyuruh dia untuk mengumpat Allah, bahkan teman-temannya menghakimi Ayub dengan tuduhan semua penderitaan yang dialaminya karena perbuatan dosa yang dilakukannya. Timbul ketidaknyamanan dalam dirinya atas berbagai penderitaan yang dialami dan tekanan yang dihadirkan oleh istri serta teman-temannya.
Dalam pasal 19:6 Ayub pun mengajukan pertanyaan atas pengalaman penderitaannya “insafilah, bahwa Allah telah berlaku tidak adil terhadap aku, dan menebarkan jala-Nya atasku.”. Ayub sama seperti yang lainnya, mempertanyakan mengapa peristiwa itu menimpa dirinya. Ia berseru kepada Tuhan berharap ada jawaban yang akan diterimanya, dan jawaban itu akan menenangkan dirinya.
Maka kini dalam pasal 23 Ayub merasa perlu untuk kembali menyampaikan keluh kesahnya kepada Tuhan. Ia merasa Tuhan tak lagi peduli padanya, sehingga ia merasa perlu untuk menyampaikan keluh kesah itu sebagai bentuk pemberontakan darinya. Pemberontakan di sini bukanlah sebuah penolakan, tetapi gambaran dirinya yang hendak menjumpai Tuhan untuk bercakap-cakap. Ayub tidak mau berdiam diri saja menunggu Tuhan yang menghampirinya, tapi dia mau beranjak untuk mencari dan mendekati Tuhan. Ia merasa perlu untuk bercakap-cakap kepada Tuhan atas pengalaman penderitaan yang dialaminya. Maka hal inilah yang kita jumpai dalam perikop ini, bahwa keluh kesah yang disampaikan Ayub adalah tanda keinginannya untuk menjumpai Tuhan (ayat 1-4).
Dalam penyampaian keluh kesahnya, Ayub turut menyadari bahwa pengalaman penderitaan yang dialami oleh-Nya adalah untuk menguji hidupnya dan menjadikan dirinya seperti emas (ayat 10).
Sehingga dalam pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi isi kepalanya, Ayub tetap mengikuti dan menuruti jejak-Nya serta tidak menyimpang (ayat 11). Tak ada satu pun perintah-Nya yang dilanggar karena selalu disimpan dalam sanubarinya (ayat 12). Dalam hal ini Ayub menyadari justru dalam pengalaman penderitaan yang tengah dihadapinya, tidak seharusnya seseorang itu menjauh dari Tuhan tapi justru harus semakin mendekat pada Tuhan dan belajar untuk memahami kehendak-Nya.
Ayub menjadi contoh bagi kehidupan kita dalam menghadapi pengalaman penderitaan. Sebagai seorang yang beriman kepada Tuhan, hal itu tidak akan meluputkan kita dari pengalaman penderitaan. Justru pengalaman penderitaan yang dialami Ayub membawa dirinya untuk terus mendekat dan memahami kehendak Allah dalam dirinya seperti dalam pengakuannya di ayat 14..
Demikian pun hendaknya kita berlaku seperti Ayub ketika menghadapi pengalaman penderitaan.
Ayub telah mengajarkan untuk menerima pengalaman penderitaan dengan sikap iman yang tertuju hanya kepada Tuhan, karena menyadari hanya Tuhan yang tahu jalan hidupnya. Dengan demikian hati dan pikirannya hanya diarahkan untuk menerima dan menjalani kehendak Tuhan. Sikap Ayub yang demikian dapat menjadi motivasi bagi umat Tuhan, untuk tetap beriman kepada Tuhan meski berhadapan dengan pengalaman penderitaan. Hanya Tuhanlah yang tahu jalan hidup kita ke depan,
maka hanya dengan memahami kehendak-Nya kita akan belajar untuk menerima dan menjalani berbagai pengalaman hidup yang Tuhan hadirkan dalam kehidupan kita.
POKOK PIKIRAN
1. Selama kita hidup di dunia, kita akan diperhadapkan dengan pengalaman penderitaan.
Penderitaan itu bisa menimpa siapa saja, yakni: baik yang jahat maupun yang baik, baik yang miskin maupun yang kaya. Penderitaan itu tak bisa dihindari apalagi ditolak. Maka dari itu, perlu bagi kita untuk mau terus datang mencari kehendak Tuhan dalam kehidupan kita, bahkan di setiap pengalaman penderitaan yang kita alami.
2. Butuh kesadaran dalam diri bahwa pada akhirnya pengalaman penderitaan yang kita alami, akan menjadikan kita pribadi yang lebih dewasa dan bijak dalam menyikapi pergumulan dalam kehidupan ini. Pengalaman penderitaan menjadi pengalaman baik dan berharga yang akan semakin membawa kita dalam pertumbuhan iman serta pemahaman yang lebih dalam tentang karya kasih Tuhan dalam kehidupan kita.
3. Pentingnya bagi anak-anak Tuhan untuk mengenal kehendak Tuhan, yakni mau terus datang kepada-Nya meski dalam penderitaan. Dengan mengenal Tuhan maka kita akan mampu merespons pengalaman penderitaan dalam iman pada Tuhan.
(YYD)
MINGGU XXI SESUDAH PENTAKOSTA
17 OKTOBER 2021
Pembacaan
Alkitab
Ayub 38:1-11
Nas Pembimbing Ayub 38:11
Mazmur Mazmur 4:1-9
Pokok Pikiran Mengakui kemahakuasaan Allah: Ketaatan untuk selalu memuliakan nama-Nya terwujud dalam aksi
mendatangkan kebaikan bagi sesama Nyanyian Tema PKJ 244: 1-2
Pokok Doa 1. Penasihat Majelis Sinode GKP dan pelayanannya 2. Komisi-komisi Pelayanan di aras klasis dan sinodal 3. Pelayanan diakonia di Jemaat (Hari Pengentasan
Kemiskinan Dunia – 17 Oktober) Warna Liturgis Hijau
GEREJA YANG BERSERAH DAN DIMAMPUKAN UNTUK MENJADI SAKSI KEBAIKAN TUHAN
PENDAHULUAN
Pemahaman dunia tentang sosok yang kuat adalah sosok yang bisa menghadapi setiap masalah dan guncangan hidup dengan gagah berani. Tak boleh mengeluh, pantang menyerah, dan selalu ceria.
Jika kita berkeluh dan meratap, maka kita akan dianggap tak beriman.
Masalahnya, hidup yang diberi Allah kepada kita adalah sebuah keberadaan yang tak kekal, sementara sifatnya, dan diisi dengan berbagai ketidaksempurnaan dan kerapuhan. Kita kerap berhadapan dengan kenyataan hidup yang tidak ideal. Kita selalu percaya bahwa orang yang baik dan benar hidupnya akan selalu diberkati. Nyatanya, yang terjadi kerap kebalikannya. Orang benar pun tak luput dari penderitaan hidup.
Bacaan kali ini menantang kita sebagai Gereja untuk terus menata pola pikir kita sebagai Tubuh Kristus. Bagaimana kita menjawab pertanyaan tentang penderitaan hidup yang tak luput dialami oleh orang yang percaya kepada Allah? Apakah kita akan berhenti dan menyerah untuk terus berharap?
Atau menerima semua pengalaman hidup sebagai sebuah sarana perjumpaan dan ruang untuk menemukan Allah dalam badai hidup. Mari belajar dari sastra hikmat Ayub.
PENJELASAN BAHAN
Ayub adalah salah satu kitab sastra hikmat, selain Pengkhotbah dan Amsal. Sebuah kitab yang ditulis untuk menyoroti pemikiran tentang hidup di dalam Tuhan yang dipenuhi dengan gambaran- gambaran kebaikan, kebahagiaan, dan kesuksesan. Kitab ini ditulis untuk menantang semua pemikiran bahwa orang yang percaya kepada Allah tak akan pernah menderita. Jika, dia sampai menderita, maka pasti ada yang salah dengan hidupnya. Pasti dia berdosa atau berbuat sesuatu yang tak benar di hadapan Allah. Padahal, tak mesti begitu.