PENDAHULUAN
Kang Ibing, seorang tokoh seniman Indonesia asal Sumedang, Jawa Barat pernah mengeluarkan sebuah pernyataan terkenal dalam bahasa sunda. Pernyataan tersebut adalah “Ulah ngeluh ker ripuh, ulah ngaraja keur bagja. Ripuh ujian, bagja titipan” (Arti: Jangan mengeluh ketika sedang susah, jangan sombong ketika sedang senang/bahagia. Kesusahan adalah ujian, kebahagiaan adalah titipan). Ungkapan tersebut menyampaikan kepada kita bahwa kehidupan manusia adalah kehidupan yang sangat dinamis. Ada kalanya kita merasakan kesusahan, namun ada masanya pula kita mengalami kejayaan atau kebahagiaan. Hal tersebut juga senada dengan apa yang dikatakan sang Pengkhotbah, bahwa “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya” (Pengkhotbah 3:1).
Keadaan dinamis yang luar biasa penuh perjuangan pernah kita lewati bersama ketika terjadi pandemi di seluruh negeri. Mulai dari dilaksanakannya PSBB, lalu PPKM Darurat, semua kebijakan tersebut membawa dampak bagi semua lapisan masyarakat. Dampak yang terjadi tidak hanya dalam bidang kesehatan, namun juga ekonomi dan sosial. Yang menjadi korban bukan hanya pasien positif Covid-19 yang meninggal, ataupun kluster keluarga yang harus melakukan isolasi mandiri, namun juga karyawan yang harus di rumahkan karena perusahaan mengalami kerugian besar, juga masyarakat yang harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup dari penghasilan harian. Situasi yang berat, situasi yang penuh tantangan pernah kita alami.
Jika melihat dari apa yang telah diungkapkan oleh Kang Ibing, maka diperlukan kebijaksanaan dalam kita melihat dan menghadapi berbagai macam situasi kehidupan ini, karena kehidupan kita tidak selamanya merasakan kebahagiaan, namun tidak selamanya juga hidup dalam kesedihan. Hal tersebut juga dialami oleh Bangsa Israel, bangsa yang memiliki perjalanan kehidupan yang dinamis bersama-sama dengan Allah.
PENJELASAN BAHAN
Kitab Yesaya merupakan kitab yang berisi nubuat yang disampaikan oleh Nabi Yesaya kepada Bangsa Israel. Dalam kitab ini banyak menceritakan mengenai Bangsa Israel khususnya setelah Kerajaan Israel terpecah menjadi dua yakni Israel Utara (Israel) dan Israel Selatan (Yehuda). Kitab ini sangat menunjukkan kuasa Allah ketika para pemimpin dan umatnya tidak dapat mematuhi hukum dan perintah Allah, sehingga mereka mendapatkan hukuman. Namun, dibalik setiap penghukuman yang diterima oleh Bangsa Israel, melalui Nabi Yesaya juga Allah menyampaikan pengharapan dan janji penyertaan yang luar biasa bagi bangsa ini.
Penghukuman yang berat harus diterima oleh Bangsa Israel adalah ketika mereka masuk ke dalam masa pembuangan di Babilonia (Babel), dan pada masa inilah Nabi Yesaya hadir. Maka jika diperhatikan, Kitab Yesaya terdiri dari 3 bagian yakni Proto-Yesaya (Pasal 1-39, sebelum masa pembuangan), Deutro-Yesaya (Pasal 40-55, masa pembuangan) , dan Trito-Yesaya (Pasal 56-66, setelah masa pembuangan).
Masa pembuangan adalah masa yang paling kelam bagi bangsa Israel. Karena ketika Bangsa Israel masuk ke dalam masa pembuangan, mereka kehilangan identitas bangsa mereka, kejayaan, kemerdekaan yang sudah mereka dapatkan setelah mereka keluar dari perbudakan di Mesir, harta benda, kota asal mereka porak-poranda, dan mereka juga kehilangan kesempatan untuk beribadah kepada Allah. Sebuah masa yang berat yang harus mereka jalani atas perbuatan tidak baik yang telah mereka lakukan.
Namun dalam pembacaan saat ini, ada harapan baru yang Allah sampaikan melalui Nabi Yesaya.
Yesaya 60:1-6 termasuk ke dalam bagian ketiga dari Kitab Yesaya, maka Bangsa Israel sudah masuk dalam fase setelah masa pembuangan. Ini adalah masa pemulihan bagi Bangsa Israel. Meskipun demikian masa pemulihan ini juga cukup berat harus dilalui oleh bangsa ini, karena mereka telah kehilangan segalanya, dan mereka tidak tahu harus memulai pemulihan ini dari mana. Bahkan menurut tafsiran yang disampaikan oleh M.C. Bart, Bangsa Israel tidak berani kembali ke Yerusalem setelah diizinkan pulang oleh Raja Koresy, karena mereka tidak memiliki apa-apa untuk memulihkan bangsanya.13
Tetapi dapat kita lihat dalam pasal 60, seruan untuk membangun kembali Sion telah dikumandangkan. Bangsa Israel kembali diajak untuk bangkit dan meraih kembali kejayaan mereka yang sempat hilang. Pasal 60:1-6 ini berisi mengenai janji pemulihan yang akan Allah berikan kepada Bangsa Israel, karena kemuliaan Tuhan telah terbit atas Bangsa Israel. Maka kegelapan yang mereka alami selama masa pembuangan telah digantikan oleh terang Tuhan yang bersinar atas mereka.
Terang itulah yang akan membawa pemulihan, terang itu juga yang akan menjadi daya tarik bangsa-bangsa lain untuk datang, dan memberikan bantuan kepada Bangsa Israel. Seperti yang disampaikan dalam ayat 5 dan 6. Atas pemulihan yang akan diterima Bangsa Israel maka melalui Nabi Yesaya, Allah meminta bangsa ini untuk mengangkat muka dan melihat ke sekeliling (ayat 4). Mengangkat muka dan melihat sekeliling, adalah ungkapan yang disampaikan untuk mengembalikan rasa percaya diri bangsa ini. Sehingga mereka tidak terus menerus tertunduk dan murung.
Pelangi yang indah terbit setelah badai hebat menimpa Bangsa Israel. Hal tersebut pun akan dialami oleh seluruh umat manusia. Pelangi yang indah akan terbit setelah manusia melalui berbagai macam
13 M.C.Barth, Tafsiran Alkitab: Kitab Nabi Yesaya Pasal 56-66, 1983, Jakarta: BPK Gunung Mulia. H. 58
badai kehidupan yang akan membuat manusia lebih kuat dan tangguh jika bersandar pada Kristus.
Terlebih Kristus telah hadir bagi umat manusia, terang-Nya telah dinyatakan dalam kehidupan kita.
Terang itu adalah janji penyertaan yang Allah berikan untuk setiap manusia. Maka sudah sepantasnya kita bersukacita karena Kristus senantiasa menyertai kehidupan kita apa pun kondisi yang kita alami.
POKOK PIKIRAN
1. Manusia memiliki kehidupan yang dinamis, bahkan ada yang menggambarkan kehidupan manusia seperti roda yang berputar. Terkadang berada di atas, namun terkadang juga berada di bawah. Terkadang merasakan sukacita, namun terkadang juga merasakan dukacita.
Keadaan yang dinamis ini perlu untuk disikapi dengan bijaksana, sehingga manusia senantiasa memiliki pengharapan apa pun situasi yang sedang dialami. Tidak terlalu terpuruk atau mudah putus asa ketika mengalami sebuah pergumulan, namun tidak juga terlalu jemawa atau sombong ketika berada pada situasi yang baik dan menyenangkan.
2. Peristiwa yang dialami oleh Bangsa Israel ketika dalam masa pembuangan sangat menggambarkan dinamika kehidupan ini. Bangsa Israel yang sudah mendapatkan kemerdekaan yang berasal dari Allah, sudah memiliki identitas sebagai bangsa yang dikasihi Allah, memiliki kota yang merdeka dan layak. Harus mengalami masa kekelaman, dan masa kehancuran. Namun masa kekelaman tersebut tidak terjadi selamanya, karena dalam pembacaan saat ini dikisahkan mengenai Bangsa Israel yang akan dipulihkan. Kejayaannya akan dikembalikan melalu penyertaan Tuhan, karena Terang Allah bersinar atas mereka.
3. Di Minggu Epifani ini di mana Kuasa Allah dinyatakan dalam wujud Yesus yang hadir bagi manusia. Itu adalah terang yang Allah nyatakan dalam kehidupan kita saat ini. Terang tersebut hadir bagi setiap manusia. Maka terang yang sama (yang juga Allah nyatakan dalam kehidupan Bangsa Israel) akan juga memberikan pemulihan bagi kita yang saat ini sedang berada dalam masa yang penuh dengan perjuangan dan tantangan di tengah situasi pandemi. Kegelapan akan sirna, diganti dengan terang Allah yang ajaib. Maka kita harus bersukacita, dan nyatakan sukacita kita dengan menjadi terang dalam kehidupan orang lain yang sedang berada dalam kekelaman atau pergumulan yang berat. Seperti seorang musisi pernah berkata melalui lagunya, “Jangan menjadi terang di tempat yang terang, namun jadilah terang di tempat yang gelap” maka cahayamu akan menjadi berkat bagi orang lain.
(LWH)
MINGGU I
Pokok Pikiran Tidak akan takut lagi sebab Tuhan beserta untuk diutus ke tengah dunia ini
Nyanyian Tema PKJ 202:1
Pokok Doa 1. Para pendeta pelayanan umum GKP yang melayani di luar GKP: UKSW, UKDW, UK. Maranatha, POUK, PERUATI dan Mission 21
2. Anak-anak yatim piatu dan terlantar
3. Anak-anak asuhan di Panti Asuhan Tanjung Barat dan Bumi Katumbiri
Warna Liturgis Hijau