• Tidak ada hasil yang ditemukan

RAHMAT DAN TEKAD

Dalam dokumen Majelis Sinode Gereja Kristen Pasundan 2021 (Halaman 65-68)

PENDAHULUAN

Seorang motivator dunia sedang bertugas memberi motivasi kepada perhimpunan pegawai perusahaan. Ruang seminar hotel sangat penuh. Sekitar 300 orang pegawai berpakaian dengan rapi.

Mata mereka terus memandang ke arah motivator. Mereka menyimak pencerahan-pencerahan dari motivator.

Suatu saat, dengan tenang, motivator mengeluarkan selembar uang 100 dolar dari sakunya (kurang lebih 1,5 juta). Uang itu tampak masih sangat baru. Dia pun bertanya kepada penonton “Siapa yang mau uang ini?” Semua pegawai mengangkat tangannya. Kemudian motivator malah meremas-remas uang 100 dolarnya. Uang yang tadinya rapi berubah menjadi bertekuk-tekuk tidak karuan. Motivator bertanya lagi: “Siapa yang mau uang ini? Semua masih mengangkat tangannya. Lalu motivator menyeka keringatnya menggunakan uang itu, lalu uang ditaruh di lantai dan diinjak-injak hingga kotor. Motivator bertanya lagi: “Siapa yang mau uang ini? Semua masih mengangkat tangannya sambil tertawa.

Kata motivator: “Hadirin sekalian ini merupakan pelajaran bagi kita bahwa apa pun yang telah saya lakukan ternyata tidak mempengaruhi keinginan Anda sekalian untuk memilikinya. Tidak peduli uang itu jatuh, kotor dan terinjak-injak tetap tidak mengubah nilai uang. Uang tetap uang. Uang tetap berharga.” (sumber: https://www.ekopolitan.com/cerita-motivasi/) Begitu juga umat di mata Tuhan, bagaimana pun bobroknya hidup umat, umat tetaplah umat-Nya. Sekali kita ditetapkan sebagai umat-Nya, kita tetap selamanya menjadi umat-Nya. Kita tetap bernilai, berharga dan istimewa bagi Tuhan yang telah menciptakan kita sekalian.

PENJELASAN BAHAN

Kesengsaraan dialami bangsa Israel akibat dosa. Pesan firman Tuhan melalui nabi Yeremia sama sekali diabaikan. Nabi Yeremia yang memberi peringatan ditolak secara mentah-mentah. Gulungan kitab milik Yeremia dibakar. Yeremia pun dihina, ditangkap hingga dipenjara. Para pemimpin lebih

senang mengikuti kehendak rakyat daripada kehendak Tuhan. Mereka melakukan perilaku-perilaku moralitas dan spiritualitas yang tidak pantas. Umat melakukan pemujaan berhala dan ketidakadilan sosial.

Ketika umat mengalami penghukuman menunjukkan bahwa peristiwa-peristiwa lebih ditentukan oleh kekuasaan Tuhan daripada kehendak politik manusia. Kedaulatan Tuhan nyata ketika Ia melakukan penghukuman. Bangsa Israel yang telah dituntun ke tanah perjanjian berpuas diri dan mengira bahwa Tuhan akan selalu melindungi. Akan tetapi Tuhan tidak seperti dugaan mereka yang akan selalu berada di pihak mereka.

Melalui kisah bangsa Israel, kita bisa menyimpulkan bahwa keadaan sulit bisa terjadi akibat dari perbuatan. Akibat merupakan bagian dari kehidupan manusia. Akibat selalu berdampingan dengan yang namanya sebab. Kita tentu mengenal istilah sebab-akibat. Akibat sifatnya selalu pasti ada dan tak bisa dihindari untuk dielakkan. Oleh karena itu jangan sampai akibat menjadi sesuatu yang buruk.

Sungguh diperlukan kehati-hatian supaya tidak keliru bertindak.

Saat menerima konsekuensi sebagai akibat perbuatan di masa lalu, barangkali kebanyakan orang Kristen berpikir: “sudah terlambat, kesalahan sudah sangat fatal, sudah tidak ada lagi harapan, Tuhan sangat marah, Tuhan mungkin tidak akan kembali lagi.” Hadir perasaan takut, hilang harapan dan bahkan depresi tetapi Mazmur 103:8-9 mengingatkan tentang Tuhan yang adalah penyayang dan pengasih, yang adalah panjang sabar dan berlimpah kasih setia, yang tidak selalu menuntut dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam.

Hukuman Tuhan sesungguhnya tidak pernah menjadi tujuan-Nya. Artinya Tuhan tidak berkeinginan dari awal semulanya untuk menghukum umat. Hukuman Tuhan merupakan cara untuk mencapai tujuan-Nya, yaitu agar umat berhenti berbuat dosa. Tuhan menginginkan terjadinya perubahan dalam kehidupan umat supaya bisa menjadi setia dan baik dan adil kepada sesamanya.

Perikop Yeremia 31: 7-14 menyatakan berita janji Tuhan yang akan memulihkan bangsa Israel. Bangsa Israel sebenarnya telah mengecewakan Tuhan sekian kali namun Ia tidak memutuskan untuk membatalkan perjanjian-Nya. Tuhan berkehendak membaharui perjanjian dengan umat-Nya.

Perjanjian baru dari Tuhan merupakan wujud kesungguhan kasih-Nya kepada umat.

Semua orang memang berdosa namun kasih Tuhan begitu besar. Melalui perikop ini, kita tahu bahwa Tuhan tetap memandang umat yang mengalami malapetaka hukuman sebagai umat-Nya sendiri.

Tuhan mengampuni dosa umat-Nya dan menerima kembali umat-Nya. Tuhan membuka kesempatan bagi umat-Nya. Tuhan tidak berkenan umat-Nya hidup di dalam dosa dan penghukuman secara terus menerus. Ini menjadi kabar sukacita bahwa Tuhan senantiasa berkenan membuka tangan kasih-Nya dengan lebar dan mau bersekutu kembali dengan umat-Nya.

Melalui perikop ini orang berdosa benar-benar bergantung pada rahmat pengasihan Tuhan yang memberikan pengampunan. Karena kasih-Nya, dosa dan hukuman tidak membatalkan perjanjian dari Tuhan kepada umat. Karena kasih-Nya, Tuhan berkehendak membawa semua umat-Nya kembali (ayat 8). Karena kasih-Nya, Tuhan berkehendak menghibur dan memimpin umat kembali (ayat 9).

Karena kasih-Nya, Tuhan membebaskan umat-Nya (ayat 11). Karena kasih-Nya, Tuhan memberikan kelimpahan dan kebajikan kembali kepada umat-Nya (ayat 14). Kasih Tuhan kemudian direspons umat dengan sorak-sorai, sukacita dan muka yang berseri-seri (ayat 7, 12, 13).

Every sinner has a future yang artinya semua orang berdosa punya masa depan. Salah seorang tokoh di dalam Alkitab, pekabar Injil ternama bernama Rasul Paulus, sebelumnya sangat membenci

orang-orang Kristen. Paulus melakukan kekerasan, penganiayaan bahkan pembunuhan. Kemudian Agustinus, seorang Bapa Gereja yang terkenal, disegani dan dihormati, pada masa remajanya pernah berkelakuan sangat badung. Agustinus dan teman-temannya mencuri buah pir yang sudah siap dipanen milik seorang pria, dan malah dilemparkan ke binatang babi. Rasul Paulus pada akhirnya gencar mewartakan Injil dan tak gentar walaupun difitnah, menderita bahkan sampai masuk penjara hanya untuk melayani Yesus Kristus. Santo Agustinus pada akhirnya menyampaikan khotbah, menulis buku, mendidik para biarawan, mewartakan Injil ke banyak daerah hingga ke luar negeri.

Gereja Katolik di Afrika bahkan sampai berkembang pesat karena upayanya. Artinya selama hidup masih belum berakhir maka selalu terbuka kesempatan untuk memiliki masa depan yang baik di dalam Tuhan.

Kesadaran diri memang penting. Penyesalan diri memang penting. Semuanya itu bermanfaat. Akan tetapi tidak akan menjadi bermanfaat jika waktu dihabiskan hanya dengan penyesalan. Dengan demikian jangan menghabiskan energi dan menguras pikiran oleh perasaan bersalah. Menyesal dan meratapi kesalahan adalah kewajaran. Akan tetapi selama seseorang masih hidup berarti ia masih dimungkinkan mengalami perubahan. Dalam kondisi apa pun dan bagaimanapun serta sampai kapan pun Tuhan akan tetap menjadi Tuhan bagi kita umat-Nya.

Harus kita akui, tak jarang juga ada orang yang menerima akibat dari perbuatan salah malah membenarkan dirinya terus menerus. Hukuman dosa yang diterima dalam hidup, bukannya dijadikan sebagai pembelajaran, tetapi direspons marah dan hidupnya malah semakin parah dalam kubangan dosa. Seorang digital creator yang bernama Fardi Yandi mengungkapkan demikian “Setiap orang pasti pernah salah tetapi hanya sebagian kecil yang mau berkomitmen untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.” Jangan sia-siakan kemurahan belas kasih Tuhan. Selalu berhati-hati dalam setiap langkah yang akan kita ambil. Biarkan hidup dituntun dengan tuntunan Tuhan. Mari kita memanfaatkan dengan sungguh-sungguh anugerah rahmat pengampunan Tuhan. Mari merespons anugerah Tuhan yang Maha setia dan Maha kasih melalui hidup yang bukan asal hidup tetapi hidup yang berkualitas. Hidup berkualitas adalah ketika menjalankan hidup sebagaimana kehendak Tuhan.

POKOK PIKIRAN

1. Bangsa Israel menghadapi situasi kehancuran yang sangat suram. Kota Yerusalem dikepung oleh bangsa Babel. Yerusalem hancur dan penduduknya dibuang semua ke Babel. Bangsa Israel harus menerima akibat perbuatan dosa mereka. Peringatan sudah didapatkan dari nabi Yeremia namun mereka berkeras hati tidak mau mendengarkan. Meskipun pembuangan terjadi akibat kedahsyatan dosa yang telah dilakukan umat namun Tuhan tidak pernah berniat untuk membatalkan perjanjian-Nya dan meninggalkan umat-Nya.

2. Tuhan menyediakan perjanjian baru untuk umat-Nya. Dalam pernyataan yang disampaikan Tuhan melalui perikop ini, umat diajak untuk bersorak-sorai dan bersukacita. Dosa yang diampuni membuat penderitaan umat pada akhirnya dipulihkan. Dengan demikian rahmat ampunan dari Tuhan adalah kekuatan baru untuk melanjutkan kehidupan yang lebih baik

(JST)

MINGGU EPIFANIA

9 JANUARI 2022

Pembacaan

Alkitab

Yesaya 60:1-6

Nas Pembimbing Yesaya 60:1

Mazmur 72:1-11

Pokok Pikiran Telah terbit keselamatan dari Tuhan atas kita yang dipanggil-Nya untuk menjadi pelayan kasih karunia-Nya Nyanyian Tema PKJ 75:1-2

Pokok Doa 1. Para mahasiswa teologi GKP dalam proses studinya 2. Upaya-upaya pengembangan ekonomi jemaat di

tingkat sinode

3. Kelestarian alam (Hari Satu Juta Pohon Nasional – 10 Januari)

Warna Liturgis Kuning

Dalam dokumen Majelis Sinode Gereja Kristen Pasundan 2021 (Halaman 65-68)