• Tidak ada hasil yang ditemukan

OPTIMIS BERSAMA TUHAN

Dalam dokumen Majelis Sinode Gereja Kristen Pasundan 2021 (Halaman 60-65)

PENDAHULUAN

Sampai saat tulisan ini dibuat (Juli 2021), kurang lebih satu setengah tahun kita semua berada di tengah-tengah perjuangan bersama menghadapi dan mengatasi pandemi Covid-1912. Sementara itu, sejak Juli sampai hari ini saat bahan DPA ini dibawakan, kita belum benar-benar tahu apa yang terjadi.

Apakah perkembangan kondisi pandemi menjadi semakin buruk atau membaik? Meski, tentu saja, harapan bersama adalah bahwa hari ini – setelah hampir 2 tahun melawan pandemi Covid-19, keadaan lebih bak dari sebelumnya.

Hanya saja, dampak penyerta yang terjadi bersamaan atau sebagai susulan dari pandemi dapat saja masih dirasakan oleh kita semua. Bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga dampak yang terjadi di dalam kehidupan sosial, ekonomi, budaya dan lain sebagainya. Kalaupun hari ini keadaan pandemi lebih baik (antara lain dengan kondisi orang terdampak Covid-19 berkurang, kematian berkurang dan tingkat kesembuhan meningkat), bisa jadi keadaan kehidupan kita sehari-hari belum pulih sepenuhnya. Perekonomian masih berjalan lambat, bahkan mungkin masih merangkak. Kita pun masih membiasakan diri dengan berbagai kebiasaan baru pasca pandemi. Keadaan kehidupan secara sosial masih belum benar-benar pulih.

Meskipun keadaan hari ini (di tahun baru 2022 ini) jauh lebih baik dari sebelumnya, kita tentunya pernah mengalami situasi yang tidak mengenakkan dan mencekam. Ketakutan tertular virus.

Kesusahan karena persoalan ekonomi. Kesukaran karena kehilangan pekerjaan. Kengerian karena sepertinya kematian begitu dekat dengan kita sehari-harinya. Pastinya, saat itu kita bertanya, “Kapan semua ini akan berakhir?” Pertanyaan ini muncul karena kelelahan berjuang mempertahankan dan melanjutkan kehidupan dari hari ke hari. Anak-anak lelah sekolah dan kuliah secara daring dari rumah, tanpa bisa bertemu langsung dengan para guru dan teman-temannya. Orang tua lelah untuk memutar otak memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari yang bukannya berkurang, tetapi justru

12 Ada data mengatakan, kronologi Covid-19 di Indonesia dimulai pada bulan Februari 2020 yaitu saat ada seorang Warga Negara Indonesia kontak dengan temannya, seorang warga negara asing yang rupanya telah terpapar terlebih dahulu virus penyebab Covid-19. Warga negara Indonesia ini dan keluarganya akhirnya terpapar dan harus dirawat di salah satu rumah sakit di pinggiran kota Jakarta. Pemerintah menetapkan bahwa awal pandemi Covid-19 merebak mulai tanggal 1 Maret 2020 dengan adanya pengumuman resmi dari Presiden Joko Widodo. Dua pasien Covid-19 dinyatakan positif terpapar pada tanggal 1 Maret tersebut.

meningkat. Semakin memutar otak oleh karena di saat kebutuhan meningkat, penghasilan yang diperoleh berkurang, bahkan sempat hilang sama sekali. Para tenaga kesehatan lelah karena tugas-tugas mereka di rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya yang tidak ringan. Tugas di garda depan melawan Covid-19 yang dapat mengancam keselamatan jiwa mereka sendiri. Anggota jemaat lelah karena setahun lebih tidak bisa lagi bersekutu dalam persekutuan ragawi di gedung gereja, terutama anak-anak dan kaum lanjut usia. Para pelaku usaha lelah karena bisnis melambat dan kurang menghasilkan. Kita semua pun lelah melihat grafik angka penderita Covid-19 naik turun, grafik angka kematian akibat Covid-19 begitu mengkhawatirkan, atau hanya karena sekadar mendengar raungan sirene ambulans yang sepertinya tidak berhenti-henti, entah menjemput pasien Covid-19 dan mengantarnya ke rumah sakit, atau mengantar jenazah penderita Covid-19 ke tempat peristirahatannya yang terakhir.

Pertanyaan utamanya adalah apakah masih ada optimisme di tengah-tengah situasi yang seperti itu?

Apakah kita bisa optimis menjalani hari-hari baru di tahun 2022 ini? Apakah kita bisa optimis keadaan menjadi lebih baik, atau tetap pesimis karena tidak ada perubahan yang signifikan dalam hidup sehari-hari?

PENJELASAN BAHAN

Gagasan pertama yang muncul dalam pasal ini adalah: “langit yang baru dan bumi yang baru”. Sering orang berdebat tentang apa yang dimaksud dengan “yang baru” dalam ayat 1 ini. Pandangan paling umum yang muncul adalah tentang “akhir zaman”. Dunia sekarang akan berakhir dan lenyap, lalu zaman baru yang mulai. Letaknya entah di mana, bahkan ada yang mengatakan “yang baru” itu adalah kehidupan surgawi di sana nanti. Apakah betul seperti ini? Rupanya, Kitab Wahyu tidak memiliki gagasan seperti itu.

Kata “baru” yang dipergunakan dalam Wahyu adalah kata bahasa Yunani “kainos”. Kata ini memiliki dua pengertian. Pertama adalah baru dalam pengertian “barang baru” yang belum pernah dipergunakan, atau kalau kita mengambil contoh sederhana seperti roti di toko roti. “Baru” di sini berarti roti yang baru keluar dari oven. Arti kedua adalah adanya kualitas yang baru (bahasa Inggris:

novel, modern) dari “barang” yang saat ini ada. Barangnya sama, kualitasnya berbeda dan lebih baik dari sebelumnya. Kata “baru” dalam Wahyu condong pada pengertian yang kedua. Jadi, pemahaman

“langit yang baru dan bumi yang baru” adalah adanya kualitas baru yang berbeda, yaitu lebih baik, dan lebih ideal dari keadaan sekarang yang akan segera berlalu. Di mana tempatnya? Ya, di bumi dan dunia yang kita tinggali saat ini.

Gagasan ini diperkuat dengan adanya catatan Wahyu yang mengatakan, “laut pun tidak ada lagi”.

Gambaran ini bukanlah berarti bahwa nanti dalam “langit yang baru dan bumi yang baru” seluruhnya berupa dataran dan tidak ada lagi laut karena telah mengering. Kita perlu merujuk bahwa dalam dunia Perjanjian Lama, gambaran “laut” merujuk pada keadaan yang chaos, berantakan, mengandung bahaya dan keadaan berdosa. Jadi, dalam “langit yang baru dan bumi yang baru” tidak ada lagi “laut” yaitu keadaan yang chaos dan berada di dalam dosa. Inilah kualitas baru yang dimaksudkan dengan dipergunakannya kata “kainos”. Kualitas baru yang berbeda dan bertolak belakang dengan keadaan “laut” sebagai gambaran chaos dan dalam dosa.

Gagasan kedua dalam pasal ini muncul dalam tulisan: “Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari surga, .... berkata, “Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan ia akan diam bersama-sama dengan mereka ...” (21:2-3). Ada dua sub-gagasan muncul di sini. Sub-gagasan pertama adalah tentang “Yerusalem yang baru” yang adalah sebuah gambaran apokaliptik.

“Yerusalem yang baru” bukanlah “kota Yerusalem fisik” yang baru, tetapi sebagai sebuah bentuk atau konsep spiritual tentang sebuah komunitas ideal melawan konsep “Babel” yang muncul di awal Wahyu. Babel sendiri adalah simbol dari keadaan manusia yang hidup berlawanan dan bertentangan dengan kehendak Allah.

Jadi, “Yerusalem yang baru” adalah gambaran dari sebuah komunitas manusia yang hidup di dalam Tuhan dan melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya. Sebagai komunitas yang hidup di dalam Tuhan, tentu saja setiap orang di dalamnya tidak hidup sendiri untuk dirinya sendiri, tetapi sebagai bagian utuh dari komunitas umat Tuhan dan hidup untuk Tuhan serta sesama. Komunitas yang hidup tidak lagi dalam dosa, chaos, dan tidak ada lagi hidup dalam kehidupan sebagaimana digambarkan di ayat 4 dan 8 (ada air mata, perkabungan, ratap tangis, dukacita, ketakutan, kekejian, persundalan, sihir, kekejaman, dusta dan penyembahan berhala).

Sub-gagasan kedua adalah bahwa di “Yerusalem yang baru” Tuhan berdiam di dalamnya (perhatikan gambaran: “kemah Allah ada di tengah-tengah manusia”). Oleh karenanya, pasti ada kehidupan yang penuh dengan terang, damai dan sejahtera. Allah menjadi Allah atas setiap orang, dan setiap orang di dalam “Yerusalem yang baru” adalah umat-Nya (21:3). Pemahaman ini disandingkan dengan anak kalimat: “yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya”. Anak kalimat ini mengingatkan kita pada pemahaman tentang Gereja sebagai “pengantin perempuan”

(bdk. Yesaya 62:5; Wahyu 19:7; 21:9). “Yerusalem yang baru” adalah Gereja yang bagaikan pengantin perempuan yang bersiap dan bersolek untuk pantas bersanding dengan Sang Mempelai Pria, yaitu Tuhan Yesus sendiri.

Jadi, “Yerusalem yang baru” adalah komunitas orang percaya (baca: Gereja) yang benar-benar hidup menurut kehendak Tuhan dan mempraktikkan hidup dalam kasih, sukacita, keadilan, kebenaran dan damai sejahtera. Kehidupan ideal oleh karena Sang Alfa dan Omega – Yang Awal dan Yang Akhir itu hadir di tengah-tengah umat-Nya. Sang Alfa dan Omega yang “memberi minum dari mata air kehidupan”, dan yang menjadikan umat sebagai anak-Nya. (21:6-7).

Jadi, apa yang bisa disimpulkan dari catatan pasal ini?

1. Langit yang baru dan bumi yang baru adalah suatu kondisi ideal yang berbeda dengan langit yang pertama dan bumi yang pertama (kondisi dan keadaan sekarang). Langit yang baru dan bumi yang baru adalah kehidupan di dunia ini, tetapi dengan keadaan dan kualitas yang berbeda dengan sebelumnya (bukan di “surga” nanti, atau yang baru saja “dibuka dari kotak”

turun dari langit). Ada kualitas kehidupan yang baru yang berbeda dengan yang sebelumnya.

Kualitas kehidupan yang baru, yang tidak lagi dipenuhi dengan kejahatan, angkara murka, ketidakadilan, kebencian, dan sebagainya. Kualitas kehidupan baru yang dipenuhi dengan kasih, sukacita, keadilan, kebenaran dan damai sejahtera.

2. Adanya “langit yang baru dan bumi yang baru” menandakan masih adanya harapan bagi kita yang sementara ini masih hidup di “langit yang pertama dan bumi yang pertama”. Langit yang baru dan bumi yang baru memang belum terwujud dan masih harus terus diupayakan, bahkan diperjuangkan. Saat ini kita masih hidup di “langit yang pertama dan bumi yang pertama”, kondisi dan kualitas kehidupan yang ada bisa jadi jauh dari ideal. Realitas kehidupan yang masih diwarnai kejahatan, ketidakadilan, penindasan, ketidakbenaran, kekerasan, pembodohan, tindakan memarginalkan orang lain, keadaan tidak setara, dan sebagainya. Hanya saja, kita memiliki pengharapan akan adanya perubahan dan pembaruan kondisi, serta kualitas kehidupan yang lebih baik. Harapan ini terletak pada akan hadirnya “langit yang baru dan bumi yang baru”. Harapan ini memberi kekuatan dan kemampuan untuk dapat tetap bertahan

menjalani kehidupan di “langit yang pertama dan bumi yang pertama” yang kondisi dan kualitasnya jauh dari ideal. Harapan yang terus harus diusahakan dan diperjuangkan.

3. “Yerusalem yang baru” adalah gambaran komunitas orang percaya yang hidup dalam ketaatan pada Tuhan. Tuhan sendiri ada di tengah-tengah komunitas hidup orang percaya, sebagai Alfa dan Omega, serta menjadikan semua orang percaya sebagai umat-Nya. Panggilan orang percaya adalah untuk mengusahakan dan memperjuangkan hadirnya “langit yang baru dan bumi yang baru”, di mana tanda Kerajaan Allah dinyatakan dan dirasakan semua makhluk melalui karya nyatanya. Panggilan untuk bukan saja hidup dalam damai sejahtera dan kasih Allah, tetapi juga untuk membagikannya kepada semua orang.

POKOK PIKIRAN

1. Kita menyadari bahwa masih berada dalam kehidupan dengan kondisi dan kualitasnya yang jauh dari harapan ideal. Inilah realitas “langit yang pertama dan bumi yang pertama” di mana masih ada kejahatan, ketidakadilan dalam berbagai bentuknya, banyak orang yang melakukan tindakan tidak benar, penindasan, pertikaian, dusta dan kebohongan, pengkhianatan, kekerasan, perlakuan tidak setara, ketiadaan penghargaan terhadap hak asasi manusia bahkan pelanggaran terhadap hak asasi manusia, dan lain sebagainya. Belum lagi kenyataan banyaknya tindak eksploitasi alam dan lingkungan yang merusak keutuhan ciptaan.

2. Untuk konteks saat ini, “langit yang pertama dan bumi yang pertama” dapat dipahami juga sebagai keadaan yang masih terdampak oleh karena penyebaran Covid-19. Ada ketakutan tertular virus penyebab pandemi Covid-19. Ada ketakutan terhadap kematian yang dirasa semakin dekat dengan kehidupan ini. Ada perasaan tidak sejahtera karena beratnya hidup di masa pandemi. Tentunya dalam kondisi seperti ini, ada harapan-harapan untuk suatu kondisi yang membaik. Harapan akan hadirnya “langit yang baru dan bumi yang baru”, yaitu keadaan yang membaik dan pulih kembali.

3. Gereja, sebagai “Yerusalem yang baru”, memiliki panggilan untuk mewujudkan “langit yang baru dan bumi yang baru”. Gereja terpanggil untuk mengupayakan dan menghadirkan, bahkan memperjuangkan, keadaan dan kondisi kehidupan dengan kualitas hidup yang jauh lebih baik, dan berbeda dengan yang ada sekarang. Panggilan untuk mewujudkan “langit yang baru dan bumi yang baru” di mana di tengah-tengahnya tanda-tanda Kerajaan Allah semakin nyata dan jelas, serta dirasakan oleh setiap orang, bahkan segala makhluk. Gereja dipanggil untuk berjuang menghadirkan kasih, sukacita, keadilan, kebenaran dan damai sejahtera supaya dapat dirasakan oleh setiap makhluk. Gereja dipanggil untuk mewujudkan satu komunitas hidup bersama yang mempraktikkan kasih, keadilan, kebenaran dan damai sejahtera (bandingkan gambaran Kitab Yesaya pasal 11:1-10, Yesaya 65:17-23). Inilah kualitas baru yang diidam-idamkan dan diharapkan semua makhluk.

4. Secara khusus, di tengah situasi dan kondisi pandemi (dan juga pasca pandemi), Gereja terpanggil mengupayakan terwujudnya “langit yang baru dan bumi yang baru” juga. “Langit yang baru dan bumi yang baru” berupa keadaan yang lebih baik daripada yang saat ini terjadi.

Panggilan ini diwujudkan dengan terus berjuang bersama melawan pandemi dengan melakukan hal-hal yang dipandang perlu, utamanya adalah turut saling menjaga kehidupan dengan mempraktikkan protokol kesehatan. Gereja mewujudkannya melalui berbagai bentuk pelayanan nyata di tengah komunitas yang terdampak akibat Covid-19. Pelayanan dukungan psikososial kepada mereka yang terdampak langsung atau tidak, pelayanan diakonia kepada

yang membutuhkan, dukungan dan sapaan pastoral yang memberikan kekuatan dan semangat di tengah keterpurukan, mengedukasi orang tentang bagaimana menjalani hidup sehat, menunjukkan kepedulian dan empati kepada orang-orang yang terpapar Covid-19, terus memberitakan kabar baik berpengharapan tentang hidup di dalam Tuhan, dan lain sebagainya.

Apa yang dilakukan oleh Gereja ini, kiranya menjadi pembawa optimisme baru di tahun yang baru kepada semua orang.

5. Bagaimana dengan Gereja sendiri? Adakah optimisme bagi Gereja yang melalui pelayanannya harus membawa optimisme kepada orang lain? Pastinya ada! Pengharapan yang membawa optimisme itu datang dari Allah sendiri dalam Tuhan Yesus Kristus, Sang Alfa dan Omega. Iman kepada Sang Alfa dan Omegalah yang membuat Gereja memiliki pengharapan dan optimisme menjalankan hari-hari ke depan, bukan saja di tahun 2022, tetapi juga untuk seterusnya. Sang Alfa dan Omega yang memberi minum dari mata air kehidupan.

(AAS)

MINGGU II SESUDAH NATAL

2 JANUARI 2022

Pembacaan

Alkitab

Yeremia 31: 7-14

Nas Pembimbing Yeremia 31: 3

Mazmur 147:12-20

Pokok Pikiran Rahmat, pengharapan dan keselamatan dari Tuhan adalah kekuatan baru untuk melanjutkan kehidupan dalam damai sejahtera

Nyanyian Tema PKJ 36:1-5

Pokok Doa 1. Pelayanan GKP di bidang relasi lintas iman

2. Para vikaris GKP dalam mempersiapkan diri menjadi pendeta GKP

3. Kerukunan umat beragama di Indonesia (Hari Departemen Agama – 3 Januari)

Warna Liturgis Putih

Dalam dokumen Majelis Sinode Gereja Kristen Pasundan 2021 (Halaman 60-65)