PENDAHULUAN
Dua telinga dan satu mulut, secara jumlah pasti lebih banyak telinga. Kenyataannya, orang lebih sering menggunakan mulut dibandingkan telinga. Padahal sebuah artikel mengatakan bahwa mendengarkan lebih banyak memiliki manfaat dibandingkan berbicara. Ada tiga manfaat ketika manusia lebih sering mendengar. Pertama, mendengarkan orang lain dapat membangun relasi yang baik. Ketika seseorang lebih suka mendengarkan, maka akan membuat kita mampu menganalisis permasalahan orang tersebut dengan baik. Mereka yang memiliki kemampuan mendengar yang baik pasti akan membuat orang lain tertarik berbicara dengan dia. Kedua, menunjukkan respek terhadap orang lain. Dengan meluangkan waktu sebentar saja untuk mendengar cerita dari lawan bicara, maka itu menunjukkan bahwa kita menghargai lawan bicara. Ketika orang tersebut sudah tahu cara menghargai lawan bicara maka ia akan tahu kapan harus berbicara dan harus mendengar sehingga rasa sungkan akan didapatkan. Ketiga, mendengarkan akan menambah pengetahuan. Dengan mendengarkan orang lain, hal itu akan menambah pengetahuan si lawan bicara. Pada akhirnya orang yang mendengarkan lebih banyak akan mendapatkan lebih banyak dibanding orang yang lebih banyak berbicara.
Bacaan pada hari ini mengajak seluruh umat Israel untuk belajar mendengar. Mereka diajak tidak hanya mendengarkan sesama atau pemimpin agama atau pemerintah, tetapi juga diajak untuk mampu dan mau mendengarkan Firman Tuhan. Firman Tuhan tidak hanya mengenai melakukan sesuatu tetapi juga mendengarkan sesuatu sebagai landasan untuk bertindak dalam hidup.
PENJELASAN BAHAN
Pada bacaan kali ini, Nehemia menceritakan bagaimana bangsa Israel kembali berkumpul pada bulan yang ketujuh dalam rangka Hari Raya Pondok Daun. Hal yang unik di sini adalah imam Ezra adalah orang yang memimpin pembacaan tersebut. Ia memimpin bangsa Israel untuk mendengarkan
Hukum Taurat yang dibacakan pada saat itu. Mereka semua berkumpul dari pagi hingga menjelang tengah hari (Ay. 4).
Hal yang menarik di sini adalah bagi orang-orang Israel, momen pembacaan Kitab Taurat Musa adalah momen yang sangat ditunggu oleh mereka semua. Ada beberapa alasan yang membuat momen pembacaan ini sangat penting. Pertama, bagi orang Israel, pembacaan kitab ini adalah kitab yang diberikan oleh Tuhan kepada bangsa Israel melalui Musa. Mereka merasa bahwa pembacaan ini adalah pembacaan yang penting. Mereka harus mendengarkan apa yang diperintahkan Tuhan kepada bangsa Israel. Kedua, momen ini adalah momen yang sangat penting dan sakral karena bangsa Israel pada saat itu didominasi oleh mereka yang masih buta huruf. Mereka tidak dapat membaca sehingga mereka diajak untuk mendengar. Hanya segelintir orang yang dapat membaca, oleh sebab itu momen pembacaan Kitab Taurat ini menjadi momen yang sangat penting bagi mereka dan harus dihadiri oleh mereka. Ketiga, bagi orang Israel, mereka memiliki akses yang sangat terbatas dalam membaca hukum Taurat. Berbeda dengan zaman sekarang yang sudah modern seperti sekarang ini yang dapat dengan mudah mengakses kitab suci, pada zaman dahulu orang-orang yang boleh mengakses kitab hukum Taurat adalah orang-orang-orang-orang Lewi dan juga Imam. Itulah penyebabnya kenapa sangat ramai sekali orang yang datang.
Pada bacaan kali ini, hal yang menarik adalah mereka yang hadir disebutkan tidak hanya laki-laki.
Seperti yang diketahui oleh semua orang bahwa budaya patriarki yang sangat kental pada saat itu membuat wanita dan anak-anak tidak mendapatkan bagian atau diperhitungkan dalam sebuah acara.
Namun, kali ini dalam sebuah momen keagamaan, baik wanita maupun pria secara gamblang disebut dan mendapatkan perhatian khusus. Kenapa akhirnya wanita mendapatkan tempat dan disebut dalam budaya patriarki ini? Karena mereka merasa bahwa semua orang berhak mendengar dan mengetahui kebenaran Firman Tuhan. Pembacaan itu tidak dibatasi oleh gender, tetapi berlaku untuk seluruh rakyat Israel.
Selanjutnya, ketika berbicara mengenai apa yang terjadi dalam pembacaan tersebut, orang-orang yang hadir seperti mendapatkan sebuah semangat baru dengan menyambut kata Amin, Amin! (ay.7).
Mereka semua yang hadir merasakan sebuah momen perjumpaan secara pribadi ketika Ezra membacakannya. Kemampuan literasi dan juga keterbatasan akses membuat pembacaan sebuah kitab suci adalah momen yang sangat langka dan ditunggu-tunggu. Bayangkan saja mereka rela mendengarkan dari pagi hingga tengah hari. Setidaknya mereka harus mendengarkan lebih dari dua jam. Tidak seperti sekarang karena akses yang sudah lebih luas dan mudah membuat orang untuk membaca firman Tuhan selama sepuluh menit terasa seperti membaca selama dua jam.
Terlihat ada sebuah kerinduan dari orang-orang Israel untuk dapat mendengarkan Firman Tuhan tersebut. Bahkan Ezra selaku orang yang bertanggung jawab pada pembacaan itu menjelaskan kitab tersebut dengan memberikan keterangan hingga pendengar dapat mengerti. Ezra sudah menyadari bahwa daya tangkap orang yang hadir, secara umum manusia, hanya mampu menangkap tiga puluh persen dari apa yang disampaikan sehingga membuat Ezra secara telaten menjelaskan kitab tersebut. Ezra mau mereka yang mendengar tidak hanya sekadar “hear”, tetapi juga “listen” yang menuntut fokus serta perhatian mereka.
Mendengar memang menjadi satu-satunya alat bagi mereka karena ketika dalam sebuah komunitas yang tidak dapat membaca, maka tradisi oral akan menjadi satu-satunya jalan. memang terasa sulit, tetapi tradisi oral ini nantinya akan membuat pemaknaan dari momen mendengar Firman Tuhan menjadi sebuah hal yang ditunggu-tunggu. Menantikan adanya pembacaan dan penjelasan firman akan menjadi momen yang penting. Oleh sebab itu, Ezra memaksimalkan apa yang ada pada komunitas tersebut, yaitu mendengar, dan melakukan.
Para hadirin yang hadir dan mendengar pengajaran firman Tuhan, diajak oleh Ezra dan juga orang-orang Lewi untuk tidak bersedih dan bersusah hati. Bagi Ezra, ketika orang-orang-orang-orang yang datang dan kembali ke dalam kehidupannya dengan bersungut-sungut, maka apa yang sudah didengar oleh mereka selama berjam-jam akan percuma saja dan akan hanya mengingat apa yang membuat hati mereka sedih. Mereka yang hadir tidak boleh seperti apa yang dikatakan oleh pepatah, karena nila setitik, rusak susu sebelanga.
Pada ayat 11 Ezra mengatakan, “Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena Tuhan itulah perlindunganmu!” Selain untuk mengingatkan bahwa ketika mereka kembali dengan bersungut-sungut akan membuat mereka lupa, Ia mau mengingatkan bahwa apa yang baru saja mereka dengar bukanlah sebuah hal yang mereka dengar terus-menerus, tetapi ada sebuah momen pengenangan.
Ezra memberikan tekanan kepada Tuhan itulah perlindunganmu, karena ia merasa bahwa pasca pembuangan yang mereka rasakan membuat bangsa Israel ada yang mulai melupakan siapa Tuhan yang mereka baca. Jadi, Ezra mengajak mereka untuk dapat kembali mengingat siapa Tuhan yang membawa mereka keluar dari penjajahan dan yang menuntun mereka keluar dari Tanah Mesir.
POKOK PIKIRAN
1. Bangsa Israel adalah bangsa yang memiliki tingkat literasi rendah dan bahkan bisa dikatakan sebagai bangsa yang tidak dapat membaca karena hanya segelintir orang yang dapat membaca. Tidak hanya itu, Bangsa Israel juga memiliki keterbatasan akses kepada kitab-kitab atau firman Tuhan, sehingga momen pembacaan kali ini adalah momen yang paling penting karena di sinilah mereka bisa mendengarkan Firman Tuhan.
2. Menyadari tingkat literasi yang rendah, Ezra memaksimalkan apa yang bangsa Israel miliki, yaitu pendengaran. Melalui pendengaran mereka diajarkan Firman Tuhan, dan mereka juga diajak untuk tidak hanya mendengar, tetapi juga diajak untuk dapat melakukan apa yang mereka dengar.
3. Mendengar firman Tuhan harusnya menjadi momen yang berharga dan perlu mendapatkan perhatian khusus seperti apa yang dilakukan oleh bangsa Israel, tetapi bagi manusia yang hidup di zaman modern, mendengarkan firman Tuhan adalah sesuatu yang sulit dilakukan karena biasanya orang akan lebih suka untuk berbicara dibandingkan mendengar.
(THC)
MINGGU IV SESUDAH EPIFANIA
6 FEBRUARI 2022
Pembacaan
Alkitab
Yeremia 1:4-10
Nas Pembimbing Ibrani 13:20-21
Mazmur 71:1-11
Pokok Pikiran Diutus untuk lakukan Firman Tuhan mewujudkan kasih Nyanyian Tema NKB 220: 1-3
Pokok Doa 1. Pelayanan media sosial di seluruh GKP supaya selalu menjadi berkat bagi sesama
2. Proses pengobatan dan kesehatan penderita kanker khususnya di Jemaat (Hari Kanker Dunia – 4 Februari) 3. Pembangunan nasional secara menyeluruh
Warna Liturgis Hijau