PENDAHULUAN
Kita tentu dapat membayangkan, bagaimana perasaan seseorang atau satu keluarga yang namanya begitu terhormat, disegani banyak pihak dan terkenal ke mana-mana, tetapi suatu waktu jatuh terpuruk demikian rendah karena melakukan tindakan keliru yang memalukan. Tentu berbagai perasaan muncul dalam dirinya. Perasaan malu, terhina, kehilangan harga diri dan kehilangan harapan, dapat melilit pribadi atau keluarganya dan mendorongnya dalam situasi yang penuh keputusasaan yang mendalam.
Lalu, bagaimana pula perasaan yang bersangkutan, kalau pada suatu hari mendapat kabar bahwa ada harapan besar yang akan menimpa dirinya? Harapan yang muncul bukan karena kekuatan dirinya, bukan karena kemampuan yang bersangkutan, tetapi karena ada yang menaruh belas kasihan dan siap menolongnya. Bayangan kita, tentu akan memunculkan sukacita besar. Wajar kalau orang tersebut akan menyambutnya dengan penuh kegembiraan dan sorak-sorai.
Bagaimana pula perasaan yang bersangkutan, kalau tahu bahwa yang menolongnya adalah pihak yang kepadanya yang bersangkutan dulu berbuat kesalahan fatal. Bahwa sang penolong itu berbuat baik hanya karena kasihnya dan melihat adanya kesadaran dalam diri keluarga yang terpuruk itu tentang kesalahannya yang lalu yang akibatnya dirasakan sekarang? Apa yang harus dilakukan yang bersangkutan kalau sang penolong meminta agar dirinya tidak melakukan hal salah seperti yang lalu?
Dapat dipastikan, yang bersangkutan akan sangat malu dan amat terharu penuh penyesalan. Tentu ia akan membaharui dirinya sesuai dengan yang diminta sang penolong.
PENJELASAN BAHAN
Kitab yang kita baca adalah Kitab Nabi Zefanya. Siapa Zefanya itu? Dalam pasal 1:1 diterangkan bahwa dia adalah turunan Raja Hizkia, raja ke-13 di Yehuda. Jadi dia berdarah bangsawan. Hizkia, raja
ke-13 di Yehuda, dikenal sebagai raja yang baik di hadapan Tuhan. Dia menumpas penyembahan berhala yang dihidupkan dengan kuat di zaman Raja Ahas, ayahnya. Ahas sendiri sampai rela mengorbankan anak-anaknya sebagai korban di depan berhala. Sayang, di zaman Manasye anak Hizkia dan cucunya Amon (raja ke-14 dan 15) yang menggantikannya, penyembahan kepada berhala asing dihidupkan kembali. Zefanya bekerja di zaman Raja Yosia, raja ke-16 di Yehuda, sezaman dengan Yeremia, walaupun Zefanya lebih dahulu meninggal daripada Yeremia. Kehidupan umat Yehuda sebelum dan di awal pemerintahan Yosia, dipandang jahat di hadapan Tuhan.
Yosia adalah raja yang terkenal karena usaha pembaharuan besar-besaran keagamaan di Yehuda setelah, di tahun ke 18 pemerintahannya, imam besar Hizkia menemukan Kitab Taurat di Bait Allah.
Semua berhala di Bait Allah dibuang dan dihancurkan. Ibadah kepada Tuhan diwajibkan di seluruh negeri. Diduga pengaruh Zefanya sebagai turunan raja di Yehuda cukup kuat kepada Raja Yosia dalam pembaharuan keagamaan yang dilakukannya. Sayang, Yosia mati terbunuh dalam peperangan melawan Mesir.
Bacaan kita dimulai dengan ayat 14 yang menyerukan “Bersorak-sorailah, hai puteri Sion, bertempik-soraklah, hai Israel! Bersukacitalah dan beria-rialah dengan segenap hati, hai puteri Yerusalem!.
Seruan ini disampaikan Nabi Zefanya kepada bangsa Yehuda. Dua istilah: Putri Sion, Putri Yerusalem, menunjuk kepada umat Israel dalam hal ini Yehuda. Istilah Sion, pada dasarnya, menunjuk ke bukit tempat di mana Bait Allah didirikan . Tempat yang disebut juga “Tempat Kediaman TUHAN, Rumah Maha Kudus”. Karenanya menjadi tempat yang dipandang terhormat di dunia. Secara puitis Sion melambangkan: Yerusalem, penduduknya dan kemudian seluruh penduduk Yehuda. Sion, dalam Alkitab, disebut juga ”istri” TUHAN, TUHAN “suami” Sion (Yes 62:1-5).
Mengapa Zefanya menyuarakan tentang sorak-sorai? Sebab sebelumnya dalam pasal 1-3 Zefanya sudah banyak menggambarkan akan terjadinya penghancuran Yerusalem. Semua terjadi akibat dari, di samping para pejabat dan rakyat menyembah berhala, peran nabi palsu kuat (1:4-6) juga karena kehidupan para pejabat negara juga korup dan mementingkan diri sendiri. Karena itu berita penghukuman yang dahsyat yang akan terjadi atas Yehuda, disampaikan Zefanya(1:7-13). Yerusalem akan merasakan hukuman Tuhan. Tuhan akan membuang mereka terpencar ke negeri Babel karena ketidaktaatan mereka. Karena itulah seruan nabi sangat kuat supaya umat Tuhan bertobat, mau menggubah sikap hidup mereka dengan kembali kepada Allah melalui sikap hidup yang nyata (2:1-3) Penting kita lihat, bahwa walaupun di zaman Raja Yosia telah dilakukan pembaharuan keagamaan, akan tetapi itu tidak mendasar. Itu bukan pembaharuan batin. Yang terjadi hanyalah perubahan legal-formal, karena instruksi dari raja yang berkuasa (2 Raja-raja 23). Rakyatnya sendiri tidak mengalami perubahan rohani yang membuat terjadinya pembaharuan budi yang keluar dari hati yang murni yang, dengan penuh kesadaran dan kesungguhan, dinampakkan dalam perilaku hidup sehari-hari.
Buktinya ketika Yosia meninggal, anaknya Yoahas pengganti Yosia sendiri tidak melanjutkan pembaharuan yang dilakukan ayahnya. Dia malah menghidupkan kembali penyembahan berhala di Yerusalem (2 Raja-raja 23:31,32). Perbuatannya diikuti oleh penggantinya: Yoyakhim, Yoyakhin dan Zedekia, raja terakhir di Yehuda. Pembaharuan yang tidak disertai pembaharuan budi seperti itulah yang tidak mengubah hati Tuhan untuk menghukum Yehuda.
Bukan hanya Yehuda tetapi bangsa lain juga akan mengalami kehancuran karena murka TUHAN.
Semua yang dialami Yehuda, sampai dibuang ke Babel nanti, akan sangat mempermalukan dan menghinakan Israel-Yehuda. Buah yang dipetik hasil ketidaktaatan dan kepalsuan keagamaan Yehuda, hasil kelakuan “istri” yang berzina (bdk. Hosea 4:12) menyeleweng dari “suami “=TUHAN, yang mengasihinya.
Akan tetapi, seperti dinyatakan dalam pembacaan kita, kasih TUHAN akan tetap ada. Dia akan mengembalikan Yehuda ke Yerusalem, setelah masa pembelajarannya di Pembuangan. Saat itulah seperti dikatakan tadi, sorak-sorai di Sion akan terdengar, sukacita sejati akan terjadi yang disertai pembaharuan budi. Bahkan, akan terjadi, seluruh dunia akan menghormatinya: Yehuda, umat Allah akan jadi kenamaan dan kepujian di antara segala bangsa. Bangsa-bangsa akan datang dengan bibir yang dibaharui, memanggil nama TUHAN dan beribadah kepada-Nya, membawa persembahan bagi TUHAN (3:9,10). Secara menyeluruh pembaharuan yang TUHAN lakukan digambarkan Zefanya demikian:
a. Bangsa-bangsa akan kembali kepada Allah (3:9,10) b. Umat Allah yang sudah disucikan akan selamat(3:11-13)
c. Sisa bangsa yang sudah dipulihkan (Yehuda) akan bersukacita (3:14-20)
POKOK PIKIRAN
1. Istilah ‘budi” menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, antara lain berarti: “alat batin yang merupakan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk”. Kehidupan keagamaan yang benar, bukanlah yang hanya tampak secara legal-formal melalui agama resmi yang dianut, melalui kegiatan formal ibadat bersama atau memiliki pengetahuan yang memadai tentang yang diyakininya. Keagamaan yang benar sangat erat dengan kesadaran akal dan perasaan yang dihayati dalam batin sendiri, yang dinampakkan dalam perilaku yang jujur dalam kehidupan seseorang. Suatu sikap hidup yang tidak terjadi karena paksaan atau karena sekadar pamer untuk dapat dilihat orang. Sikap beragama yang benar adalah yang didasarkan pada akal budi yang bertanggung jawab, tidak memiliki kepalsuan. Ia pada hakikatnya merupakan sikap hidup yang mengakar dalam diri seseorang, menjadi karakter pribadi seseorang.
2. Masa adven yang dijalani orang Kristen, bukan menantikan kedatangan Tuhan, yang utama, tetapi lebih merupakan sikap hidup yang didasari kesadaran bahwa Tuhan sudah membaharui kita. Menjadi baru dalam pikiran dan perbuatan, yang dalam Kristus dicirikan oleh cara hidup yang dipenuhi buah roh yang tampak dalam sikap hidup kepada Tuhan dan sesama serta lingkungannya. Dengan demikian masa adven merupakan suatu masa untuk mengoreksi:
sejauh mana kita sudah menjadi manusia baru sesuai dengan kehendak Tuhan (Rm 12:2).
3. Koreksi diri demikian harus merupakan sikap hidup yang terus menerus sampai Tuhan datang di mana setiap pribadi kita akan mempertanggung jawabkan segala perbuatannya baik atau jahat ( 2 Kor 5:10).
(HAD)
MINGGU ADVEN IV
19 DESEMBER 2021
Pembacaan
Alkitab
Mikha 5:1-4a
Nas Pembimbing Mazmur 25:5
Mazmur 80:1-8
Pokok Pikiran Menyiapkan jalan bagi Tuhan:
Dikuduskan dan diselamatkan untuk melakukan kehendak-Nya hadirkan tanda-tanda Kerajaan-kehendak-Nya
Nyanyian Tema PKJ 185:1
Pokok Doa 1. Jemaat-jemaat di klasis GKP wilayah Bogor dan Purwakarta, dan pelayanannya
2. BP Klasis GKP Wilayah Bogor dan Purwakarta 1. 3. Panggilan untuk menunjukkan kesetiakawanan
sosial (Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional – 20 Desember)
Warna Liturgis Ungu