"Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu; Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah". (Al-Kahfi: 23-24).
Apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi. Sebaliknya, yang tidak dikehendaki-Nya pasti tidak terjadi.
IMAN KEPADA QODAR
Iman kepada qodar merupakan salah satu rukun iman, sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah dalam dialognya dengan jibril. Beliau mengatakan: "Anda harus mengimani qodar, baik maupun buruknya".Manusia tidak akan bisa mengetahui rahasia-rahasia Allah kecuali ia mengetahui ilmu Allah SWT - padahal untuk mengetahui hal semacam ini mustahil. Hal ini bisa anda bandingkan dengan garapan-garapan yang dilakukan oleh para dokter, pakar, insinyur dan lain -lain. Orang lain tidak bisa mengetahui secara tepat apa yang mereka lakukan, kecuali orang yang ilmunya sama dengan mereka. Misalnya, jika seseorang bodoh melihat seorang dokter membedah perut pasien dan memotong usus, maka ia akan menentang tindakan operasi itu. Akan tetapi jika ia tahu bahwa dokter ini adalah seorang yang ahli dalam bidangnya, niscaya orang itu akan membatalkan penentangannya dan mengakui ketidak-mengertiannya terhadap ilmu kedokteran.
Orang mukmin mengakui kemaha-sempurnaan Allah. Itulah sebabnya mengapa ia mengimani bahwa setiap peristiwa yang terjadi pasti membawa hikmah tersendiri. Jika belum dapat menangkap makna yang ada di balik suatu peristiwa, maka ia mengakui ketidak-mengertiannya di hadapan ilmu Allah dan ia tidak menentang ketetapan Yang Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, yang berfirman:
.
"Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai".(Al-Anbiya': 23).
BUAH IMAN KEPADA QODAR
Barangsiapa mengimani, bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan qodar tertentu, maka anda bisa melihat bahwa ia amat ingin mengetahui qodar-qodar umum untuk menghindari bahaya. Misalnya, ia menepati keharusan makan untuk menghindari lapar, melakukan upaya berbuat untuk menghindari bahaya sakit, melakukan kerja dan mencari rizki untuk menghindari kemiskinan.
Orang yang mengimani qadar Allah, tidak akan putus asa manakala ditimpa suatu bencana, juga tidak besar kepala manakala berhasil. Karena mengimani firman Allah:
"Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfudz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan
supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri".
(Al-Hadid: 22-23).
Orang yang mengimani qodar, qudrat (kekuasaan) dan iradat (kehendak) Allah SWT, di samping mengetahui kelemahan dan kebutuhan dirinya kepada penciptanya, maka akan konsisten dalam bertawakkal kepada Tuhannya, di samping memperhatikan hukum sebab-akibat dan mohon pertolongan kepada Allah SWT. Dengan penuh keyakinan, ia selalu mengulang firman Allah:
"Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah kepada kami. Dialah pelindung kami, d an hanyalah kep ada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal".(At-Taubat: 51).
Salah Faham Pertama:
Sebagian orang bodoh beranggapan bahwa Allah-lah yang menyesatkan dan menutup hati mereka untuk tidak menunaikan shalat, puasa dan kewajiban-kewajiban lainnya, sebaliknya Ia memberi hid ayah kepa da o rang l ain. Anggap an in i sec ara salah didasarkan pada firman Allah SWT kepada Rasul-Nya:
.
"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk". (Al-Qashash: 56).
Orang-orang semacam ini tidak menyadari bahwa hidayah (petunjuk) itu ada dua macam. Hidayah irsyad danhidayah i'anah.
Hidayah irsyad adalah seperti orang yang menunjukkan jalan kepada anda menuju rumah yang anda tuju, kemudian ia melepaskan anda di jalan itu karena ia telah menunjukkan anda ke jalan yang harus anda tempuh. Rasul-rasul Allah menjalankan petunjuk semacam ini kepada manusia. Menunjukkan mereka ke jalan yang harus mereka tempuh menuju sorga. Allah SWT - memberikan titah-Nya kepada Rasulullah SAW - berfirman:
"Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus".(As-Syura: 52).
Sedangkan hidayah I'anah, adalah bagaikan orang dermawan, belas kasih dan pengertian, ketika ditanyai tentang jalan yang akan Anda tuju, lalu ia menunjukkan. Dan ketika anda minta tolong mengantarkannya, ia mambawa anda dengan kendaraannya dan mengantarkan anda sampai pada tujuan. Inilah yang disebut denganhidayah i'anah. Yang demikian ini hanya terjadi, bila orang yang telah menerima hidayah irsyad lebih jauh minta pertolongan.
Para rasul menunaikanhidayah irsyad,tetapi mereka tidak memilikihidayah taufik dan
ma'unah, karena Allah SWT akan memberikannya hanya kepada para hamba-Nya - yang diketahui-Nya - berhak menerimanya. Dalam rangka meng-khitob Rasulullah SAW, Allah SWT berfirman:
.
"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk".(Al-Qoshosh: 56).
Sebab, Yang Mahaadil yang menunjukkan orang yang berhak menerima hidayah irsyad denganhidayah taufik dani'anah. Allah SWT berfirman:
"Dan orang-orang yang mendapat petunjuk Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya".(Muhammad: 17).
Allah SWT tidak akan menyesatkan kecuali kepada orang yang menolak hidayah irsyad
dan menuju pada suatu jalan, yang memang pantas tersesat. Allah SWT berfirman:
"Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran). Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik".(Ash-Shaf: 5).
kedua:
Sebagian orang bodoh mengatakan bahwa orang yang tidak shalat sebenarnya telah lebih dulu ditetapkan di Lauh Mahfudzsebagai orang yang meninggalkan shalat. Ini jelas praduga belaka, karena orang yang shalat(musholli)itu menunaikannya atas pilihan bebasnya, tanpa ada paksaan, demikian pula orang yang meninggalkan shalat. Ini adalah kenyataan yang diketahui oleh semua orang, karena Allah menciptakan manusia dengan diberi kebebasan untuk memilih.
Jika seseorang bertanya: "Mengapa hal-hal yang telah ditetapkan di Lauh Mahfudz tidak dip aksakan saja be rlaku ke pada manusia?" Jawaban atas pertanyaan ini, kami kira tidak sulit, bisa dijelaskan melalui contoh berikut ini.
Bukankah anda pernah melihat seorang guru yang jenius dan berpengalaman tentang keadaan murid-muridnya, yang membuat soal-soal ujian. Ia menulis di kertas nama-nama siswa yang bakal tidak lulus dalam ujian nanti, dan ia menjelaskan nama-nama siswa yang bakal lulus ujian. Waktu ujian pun tiba, hasilnya pun terbukti. Maka siswa-siswa yang gagal akan mengatakan bahwa apa yang ditulis guru di atas kertas itulah yang menyebabkan kita tidak lulus.
Nah, apakah argumentasi mereka bisa diterima? Bukankah akan dijawab, bahwa apa yang ditulis oleh sang guru di atas kertas itu adalah kenyataan yang berkaitan dengan pengetahuan dan pengalamannya mengenai keadaan mereka sebelumnya. Dan kegagalan kalian adalah karena kelalaian kalian sendiri, sehingga tak perlu kalian mengkambing-hitamkan pengetahuan dan pengalaman guru guna menutupi kemalasan kalian. Allah punya contoh yang terbaik. Allah SWT berfirman:
"Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu nyatakan dan rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?" (Al-Mulk: 14).
Allah telah menciptakan kita untuk menjalani masaimtihan (ujian) di dunia ini. Allah
azza wa jalla sudah tahu hasil ujian itu, sehingga Ia menuliskan kegagalan orang yang gagal dan kebahagiaan orang-orang yang berhasil sesuai dengan ilmu-Nya yang mencakup segala hal, baik terhadap yang sudah ada dan yang akan ada.
Memang, kadangkala penilaian sang guru itu tidak tepat, tetapi takdir Allah atas perbuatan makhluk-Nya pasti tidak meleset. Dan ketentuan di lauh mahfudz itu adalah kenyataan yang berhubungan dengan ilmu Allah yang sudah ada sebelumnya. Misalnya, meninggalkan shalat merupakan kenyataan yang berhubungan dengan pemberontakan, kelalaian dan pembangkangan dari orang yang meninggalkan shalat. Sayangnya, orang-orang bodoh membela kemaksiatan dan kesesatannya justeru dengan ilmu dan kesempurnaan Allah.
Ilmu Allah itu ada terlebih dahulu, bukan datang kemudian. Allah telah mengkhabarkan kepada Rasul-Nya kenyataan yang akan ada hingga Hari Kiamat, dan kita
telah melihat - pada pembicaraan tentang tanda-tanda Kiamat - bahwa banyak hal yang disebutkan oleh Rasulullah SAW, yang telah ditulis oleh kaum Muslimin dalam buku-buku hadits, kini terbukti dalam kenyataan.
Nah, pantaskah jika seseorang beranggapan bahwa tulisan kaum Muslimin tentang hal-hal yang sekarang, itulah yang menyebabkan peristiwa itu terjadi? Ilmu Allah itu ada lebih dulu, bukan muncul kemudian.