"Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini dan semua yang ada di dalamnya".(Al-Mu 'minun: 71).
C. REALISASI IMAN KEPADA ALLAH
1. Ikhlas Beribadah
Ibadah adalah istilah yang mencakup semua yang disukai oleh Allah. Jadi, mengerjakan semua hal yang diperintahkan oleh Allah untuk dilakukan adalah ibadah. Sebaliknya, menghindari semua larangan yang ditetapkan oleh Allah adalah ibadah. Adat kebiasaan yang disyari'atkan, semisal makan minum dan berpakaian bisa menjadi ibadah jika dilakukan untuk mentaati perintah Allah SWT dan minta tolong untuk dijadikan bekal taat kepada-Nya.
Ibadah dinyatakan benar hanya jika ikhlas (murni) untuk Allah, sesuai de ng an aturan-Nya dan memadukan unsur tunduk dan merendah kepada Allah, disertai dengan totaliter kecintaan kepada-Nya. Firman Allah SWT:
"Tetapi orang-orang yang beriman lebih cinta kepada Allah".(Al-Baqarah: 165).
Ibadah merupakan tujuan dari Allah dalam menciptakan manusia, dan mengatur para Rasul untu k tujuan itu. Kalau saja Allah telah menundukkan apa yang ada di bumi maupun di langit untuk manusia, maka hal itu dimaksudkan agar manusia menundukkan semua ini dalam rangka dan kerangka taat kepada Allah SWT. Allah
SWT berfirman:
"Tidaklah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin".(Luqman: 20).
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku".(Adz-Dzariyyat: 56).
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan ): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya".(An-Nahl: 36).
Ada dua syarat pokok bagi diterimanya ibadah. Pertama, ikhlas karena Allah, sehingga tidak ada yang disembah selain Allah, tidak ada yang dituju selain Allah. Allah SWT berfirman:
.
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta'atan kepa da-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian inilah agama yang lurus". (Al-Bayyinah: 5).
Kedua, mengikuti Rasulullah SAW. Artinya, Allah disembah harus berdasarkan ajaran yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman:
.
"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu".(Ali Imran: 31).
Dalam rangka menguraikan ciri orang-orang kafir, Allah berfirman:
'Apakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yang mensyari'atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?".(Asy-Syura:21).
Sebagai contoh, orang yang shalat maghrib dengan empat rakaat berarti shalatnya tidak sah sedang orang yang menunaikannya dengan tiga rakaat berarti sah. Sebab, orang yang terakhir ini sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW sedangkan yang pertama menyalahi ajarannya. Beliau SAW bersabda:
"Barangsiapa membuat ibadah sendiri (yang memang tidak diajarkan) dalam agama kita ini, maka ia tertolak".
Macam Ibadah:
Ibadah kepada Allah SWT bisa tercapai dengan cara seseorang benar-benar tunduk, baik secara lahir maupun batin, keyakinan, perkataan maupun perbuatan kepada Allah SWT. Ada beberapa macam ibadah.
1. Ibadah-ibadah i'tiqadiah.
(a) keyakinan bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu Rasul Allah, yang ditempuh dengan pengertian yang pasti tanpa tercampur debu keraguan. Allah SWT berfirman:
"Maka ketahuilah, ba hwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu'min, laki-laki dan perempuan'.(Muhammad: 19).
"Adakah orang-orang yang mengetahui bahwasannya apa yang diturunkan
kepadamu dari Tuhanmu itu benar-benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran".(Ar-Ra'd: 19). (b) cinta kepada Allah Azza wa Jalla. Ia SWT berfirman:
"Adapun orang-orang yang beriman amat sangat mencintai Allah". (Al-Baqarah: 165).
yaitu cinta yang dibarengi dengan ketundukan, penyerahan diri dan harus berdasarkan kepada ajaran Rasulullah SAW. Allah SWT berfir man:
"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu".(Ali Imran: 31).
Sebagai konsekwensi cinta kita kepada Allah, maka kita harus cinta kepada Rasul-Nya dan mencintai agama Islam. Sedangkan cinta kepada para Nabi dan ahli bait bukan merupakan ibadah kepada mereka. Karena hal itu tidak mengkonsekwensikan mereka untuk pasrah secara total kepada mereka, di samping tidak melebihi cinta orang-orang mukmin kepada Allah dan Rasul. Sebagai konsekwensinya, jika cinta kepada Allah dan cinta kepada Rasul-Nya bertentangan dengan cinta kepada orang lain maka cinta kepada selain Allah (harus) gugur dari hati seorang mukmin. Allah SWT berfirman:
"Katakanlah: "Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik". (At-Taubah: 24).
(c) Takut kepada Allah disertai sikap mengharap rahmat-Nya. Allah SWT berfirman:
"(Apakah kamu hai orang-orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?". (Az-Zumar: 9).
Dalam rangka mengurai ciri orang mukmin, Allah SWT berfirman:
"Dan orang-orang yang takut kepada azab Tuhannya. Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya)".
(Al-Ma'rij: 27-28).
Memang, kadangkala seseorang takut kepada persoalan-persoalan duniawi, tetapi rasa takut di sini bukanlah ibadah kepada hal-hal tersebut. Sebab, takut di sini merupakan takut yang bersifat fitri yang menyebabkan seorang mukmin berkeyakinan bahwa Allah lah yang menciptakannya. Di samping itu, rasa takut ini di dalam kalbu seorang mukmin tidak melebihi rasa takut kepada Allah SWT, karena ia berkeyakinan bahwa Allah SWT mampu menyelamatkannya dari segala kejelekan. Allah SWT berfirman:
"Jika Allah menimpakan suatu kemadharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya kecuali Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu".(Al-An'am: 17).
(d) Inabah kepada Allah. Yaitu, bersegera menuju ridha Allah. Kembali kepada-Nya, mohon ampun dan taubat kepada-Nya. Allah SWT berfirman:
sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)". "Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya". (Az-Zumar: 54-55).
Dalam rangka mengurai ciri orang-orang mukmin, Allah SWT berfirman:
"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka
mengetahui".(Ali Imran: 135).
(e) tawakkal dan minta tolong kepada Allah.
Hakekat tawakal adalah sikap lurus kalbu berpegang kepada Allah Azza wajalla dalam mencapai hal-hal yang bermanfaat dan menolak bencana yang berkaitan dengan masalah dunia dan akhirat. Allah telah menentukan dan mengatur alam dengan sekumpulan aturan, hukum dan sebab. Cara kita beribadah dengan memanfaatkan hal itu. Di antara sebab ini yang paling kuat adalah tawakal. Allah SWT berfirman:
"Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap -tiap sesuatu". (Ath-Thalaq: 3).
"Jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri". (Yunus: 84).
"Dan hendaklah orang-orang mukmin bertawakkal kepada Allah saja". (At-Taghabun: 13).
Allah mengharuskan kepada hamba-hamba-Nya agar dalam setiap kali shalat mengucapkan: ( ) "Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan".(Al-Fatihah: 5).
dalam hadits syarif disebutkan: "Jika minta tolong, maka minta tolonglah kepada Allah."
2. Ibadah qauliyah, yang meliputi:
(a) mengucapkan dua kalimah syahadat. Sebab, keislaman seseorang belum bisa dinyatakan sah selama belum mengucapkan dua kalimah syahadat kecuali bagi orang bisu yang cukup dengan isyarat atau sikap yang menunjukkan keimanannya. Rasulullah SAW bersabda:
"(Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka mengucapkan bahwa Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah; menegakkan shalat, menunaikan zakat, yang jika mereka melakuka n se mua itu ber arti mereka telah menyelamatkan darah dan harta mereka dari (jangkauan tugas)ku kecuali atas hak Islam dan hisab mereka ada di tangan All ah)" .
(b) Ingat kepada Allah, bertasbih dan beristighfar. Allah SWT berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang".(Al-Ahzab: 41-42).
kepada- Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling; maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat". (Hud: 3).
"Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat".(An-Nashr: 3).
(c) Doa.
Orang yang berdoa tidak bisa dikategorikan berakal kecuali jika ia berdoa kepada Dzat yang bisa mendengarnya dan mendengar oran g lain di seti ap waktu, di setiap t empat w alau d engan bahasa apa pun juga. Demikian pula, ia tidak bisa dikategorikan berakal kecuali jika ia berdoa kepada Dzat yang diyakininya mampu mengabulkan doanya, menghilangkan kesulitannya dan memenuhi kebutuhannya dikarenakan faktor-faktor ghaib, dan kekuatan supranatural yang mampu bertasarruf di alam ini. Ia tidak lain kecuali Allah, juga tidak mungkin kalau itu adalah makhluk-Nya, baik yang hidup maupun yang mati. Barangsiapa beranggapan bahwa selain Allah ada yang memiliki sifat di atas kemudian ia mengarahkan doa kepadanya, maka ia terjatuh ke dalam kemusyrikan. Allah SWT berfirman:
"Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menun dukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan- Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka menden gar, mereka tid ak da pa t memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kapadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui".(Fathir: 13-14).
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasannya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendo'a apabila ia berdo'a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran".(Al-Baqarah: 186).
Jika orang yang menujukan doanya bukan kepada Allah itu memang tidak tahu, maka orang yang tahu harus memberitahu dan ia harus mau mengikutinya dan menyelamatkannya dari terjatuh ke dalam kemusyrikan.
(d) Sumpah dengan nama Allah.
Jika bersumpah, seorang muslim harus menggunakan nama Allah demi mengagungkan-Nya. Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa bersumpah, maka ia harus bersumpah dengan menggunakan nama Allah atau ia harus diam".
Oleh sebab itu, barangsiapa bersumpah dengan menggunakan nama selain Allah karena takut kepadanya seperti takut kepada Allah, maka ia terjatuh ke dalam kemusyrikan. Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah, berarti ia musyrik".
Sumpah dengan amanah tidak dibenarkan, berdasarkan hadits Rasulullah SAW:
(e) Mengajak kepada Allah, beramar ma'ruf dan bernahi mungkar. Allah SWT berfirman:
"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang-orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-oran g yang menyerah diri?" (Fushshilat: 33).
"Katakanlah: "Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".(Yusuf: 108).
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung".(Ali Imran: 104).
3. Ibadah-ibadah praktis, yang meliputi:
(a) mendirikan shalat. Allah SWT berfirman:
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus".(Al-Bayyinah: 5).
Dalam rangka mensifati orang-orang mukmin, Allah SWT berfirman:
"Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang".(An-Nur: 37).
"(Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah
mereka kembali segala urusan". (Al-Haj: 41).
"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa". (Thaha: 132).
(b) Menunaikan zakat. Allah SWTberfirman:
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurniknn ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus".(Al-Bayyinah: 5).
"Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan apa-apa yang kamu usahakan dari kebaikan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan".
(Al-Baqarah: 110).
"Tetapi orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mukmin, mereka beriman kepada apa yang telah ditur unk an kepad amu (Al- Qur' an), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hari kemudian. Orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar".(An-Nisa': 162).
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa". (Al-Baqarah: 183).
"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia b erbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur". (Al-Baqarah: 185).
Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa puasa di bulan ramadhan berdasarkan keimanan dan mencari ridha Allah, maka dosa-dosa yang telah dilakukannya diampuni".
(d) Haji bagi yang mampu. Allah SWT berfirman:
"Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam". (Ali Imran: 97).
"Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai onta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh".(Al-Hajj: 27).
Rasulullah SAW bersabda:
"Islam dibangun di atas lima landasan: syahadat bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu Rasulullah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; haji;
dan puasa di bulan ramadhan".
(e) Berhukum kepada apa yang telah diturunkan oleh Allah. Tak seorang pun yang berhak menetapkan aturan hukum untuk manusia, yang berhak hanyalah Allah SWT. Allah SWT berfirman:
.
"Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah, Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam". (Al-A'raf: 54).
Barangsiapa menjadikan diri sendiri atau orang lain sebagai musyarri (penetap) hukum dan aturan yang tidak diberi wewenang oleh Allah untuk itu, maka ia telah musyrik dan mengajak kepada selain Allah. Allah SWT berfirman:
"Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yan g mensyari'atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?" (Asy-Syura: 21).
"Keputusan itu hanya kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia". (Yusuf: 40).
Orang mukmin adalah orang yang menerima dan tunduk kepada hukum Allah, dengan hati yang rela. Allah SWT berfirman:
"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian
mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya".(An-Nisa': 65).
(f) Jihad fi sabilillah. Allah SWT berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih ? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika mengetahuinya".(Ash-Shaf: 10-11).
"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang
sabar". (Ali Imran: 142).
(g) Nadzar kepada Allah. Allah SWT berfirman:
"Mereka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana".(Al-Insan: 7).
Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa bernadzar akan taat kepada Allah, maka ia harus taat kepada-Nya. Sebaliknya, barangsiapa bernadzar akan maksiat kepada Allah, maka janganlah ia maksiat kepada-Nya".
(h) Thawaf di Baitul haram. Allah SWT berfirman:
"Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail; "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud". (Al-Baqarah: 125).
"Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nadzar-nadzar mereka dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah)".
(Al-Haj: 29).
(i) Menyembelih binatang ternak karena Allah. Allah SWT berfirman:
"Katakanlah: "Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam". (Al-An'am: 162).
Menyembelih binatang ternak di sini termasuk nusuk , Allah SWT berfirman:
"Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah".(Al-Kautsar: 2). Barangsiapa hendak beribadah kepada Allah, tentu membutuhkanazimah yang lurus yang mampu mengalahkan rasa malas, dan denga n demikian ia bisa serius t aat kepada Allah , sehingga perkataan dan perbuatannya benar. Allah SWT berfirman:
.
"Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?" (Ash-Shaf: 2).
Orang yang hendak memperkuat azimahnya, maka harus berteman dengan orang-orang baik. Allah SWT berfirman:
"Dan ingatlah suatu hari (ketika) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul". "Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku)".
"Sesungguhnya dia telah menyesatkan dari Al-Qur'an ketika Al-Qur'an itu telah
datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia". (Al-Furqon: 27-29).
4. Iman secara konsekuen
a. Membenarkan semua yang datang dari Allah:
Seorang mukmin membenarkan semua yang diinformasikan oleh Allah SWT dalam Kitab-Nya, atau melalui lisan Rasul-Nya yang mulia - SAW.
Seorang Mukmin mengimani semua hal yang menyalahi apa yang diinformasikan oleh Allah SWT adalah bathil betapa pun dihias dan dipoles oleh pelakunya. Hal ini dikarenakan ia mengimani bahwa agama itu adalah dari sisi Allah Yang Mahatahu, Yang Mahabijak. Allah SWT berfirman:
.
"maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu? Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?"
(At-Thin: 7-8).
b. Taat kepada Allah Azza wa Jalladan Rasulullah:
Sebab, orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, yakin bahwa janji Allah haq; Allah SWT telah menyediakan pahala bagi orang yang taat kepada-Nya dan taat kepada Rasul-Nya, dengan cara melaksanakan perintah-perintah-Nya juga perintah-perintah Rasul-Nya SAW, maka keimanannya yang demikian ini mengkonsekwensikannya menyerahkan diri kepada perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya. Sebab di setiap kesempatan, tindakan seorang mukmin diharuskan sesuai dengan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Allah SWT berfirman:
"Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni'mat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shadiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan