a. Dalil Naqliyah
1. Khabar dari Allah tentang hari akhir, melalui firmannya:
"Alif, lam, mim. Itulah Kitab, tidak ada sebarang syak padanya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. (Yaitu) orang-orang yang percaya kepada perkara ghaib, dan mendirikan shalat, dan mendermakan sebagian daripada apa yan g Kam i telah karuniakan kepada mereka. Dan yang percaya kepada apa yang telah diturunkan kepadamu, dan kepada apa yang telah diturunknn sebelum kamu, dan mereka yakin kepada hari kemudian". (Al-Baqoroh: 1-4).
"Barangsiapa yang kafir kepada Allah, mnlaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab- Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah
sesat sejauh-jauhnya".(An-Nisa': 136).
"Sesungguhnya orang-orang yang tidak percaya akan hari pertemuan dengan Kami, dan suka kepada kehidupan dunia serta puas dengannya, dan orang-orang yang lalai terhadap ayat-ayat Kami (maka tempat mereka) ialah api neraka karena apa yang telah mereka usahakan". (Yunus: 7-8).
"Sesungguhnya apa yang diancamkan kepada kamu adalah benar. Dan sesunguhnya pembalasan (amal) itu mesti terjadi". (Adz-Dzariyyat: 5-6).
"Dan sesungguhnya Kiamat itu akan datang, tidak ada ragu-ragu padanya; dan sesungguhnya Allah akan bangkitkan orang-orang dari alam kuburnya".(Al-Haj: 7).
"Orang-orang yang kufur itu menyangka bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: "Bahwa demi Tuhanku! Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan, kemudian akan dikhabarkan kepada kamu apa-apa yang kamu telah kerjakan; dan yang demikian itu mudah bagi Allah".(At-Taghobun: 7).
"Tidaklah mereka menyangka, bahwa mereka akan dibangkitkan, buat (urusan) pada hari yang besar. Hari yang manusia dibangkitkan buat (menghadap)
Tuhan Yang menguasai sekalian alam".(Al-Muthaffifin: 4-6).
"Tidak! Aku bersumpah dengan hari kiamat. Dan tidak! Aku bersumpah dengan jiwa yang selalu menegur dirinya. Adakah manusia menyangka, bahwa tidak akan (bisa) Kami kumpulkan tulang-tulangnya? Bahkan Kami berkuasa untuk meratakan jari-jarinya".(Al-Qiyamah: 1-4).
2. Khabar dari Rasulullah SAW ketika Jibril berkata: kepadanya AS.
.
"Anda harus b eriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan takdir baik dan buruk.
dan hadits-hadits lain yang senada.
3. Kesepakatan seluruh agama samawi dan keimanan berjuta-juta hamba Allah, baik itu para nabi-rasul, philsuf, ulama maupun orang-orang saleh, akan adanya hari akhir dengan segala prosesnya.
b. Dalil-dalil Aqli:
1. Kecanggihan qudrat Allah Al-Khaliq untuk menciptakan kembali para makluk setelah mereka musnah. Sebab, menciptakan kembali mereka itu tidaklah lebih sulit, jika dibandingkan menciptakan mereka sejak dari awal.
2. Penegasan keyakinan kita atas kejujuran dan kebenaran rasul sebagai pembawa ayat dan mukjizat yang secara akal membuktikan kebenaran risalahnya. Dan kita tahu bahwa Allah meng-isra' -kan Rasulullah SAW, sehingga beliau melihat sorga dan neraka; menyampaikan firman Allah kepada kita, yang telah menciptakan kehidupan dunia dan akhirat, sekaligus menginformasikan kepada kita tentang kehidupan yang tengah menanti kita setelah mati.
3. Rasulullah SAW menginformasikan kepada kita tentang sejumlah tanda yang akan terjadi di dunia sebagai petunjuk bahwa kiamat sudah dekat, ternyata kini kita sudah menyaksikan banyak di antaranya. Tanda-tanda kiamat yang kita saksikan menginformasikan kepada kita akan kebenaran kiamat dan akhirat yang dikhabarkan oleh Rasulullah.
Kita melihat bahwa tanda-tanda ini di dunia sudah terbukti, nyata, setelah berlalu lebih dari 1 4 abad, yang karena nya kita pu n akan membuktikan bahwa sorga dan neraka benar adanya. Allah SWT berfirman:
(dengan mengatakan): "Sesungguhnya kami dengan sebenarnya telah memperoleh apa yang Tuhan kami janjikan kepada kami. Maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa yang Tuhan kamu janjikan (kepadamu)?" Mereka (penduduk n eraka) menjaw ab: "Betu l". Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu: "Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim".(Al-A'raf:45).
4. Pencipta manusia lebih sempurna daripada manusia itu sendiri. Tak syak lagi bahwa manusia mencintai keadilan. Juga tak syak lagi bahwa Allah-lah yang menciptakan rasa cinta keadilan baik pada orang-orang terdahulu maupun sekarang. Seluruh keadilan manusia tiada lain kecuali 'percikan' dari keadilan Allah, karena Allah Mahaadil lagi Mahahakim.
Termasuk pengertian adil ialah orang yang berbuat baik harus diberi pahala. Sebaliknya, orang yang berbuat buruk harus diberi hukuman. Akan tetapi kealilan tidak bisa diwujudkan sepenuhnya di dunia ini - padahal kita sudah mengetahui keadilan Allah - yang karenanya akal menetapkan bahwa Allah harus menegakkan
mizan (neraca) keadilan di dalam kehidupan akhirat, Allah SWT berfirman:
"Maka apakah patut Kami menjadikan orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang-orang kafir)? Mengapa kamu (berbuat demikian): bagaimanakah kamu mengambil keputusan?" (Al-Qolam: 35-36).
5. Jika kita memperhatikan penciptaan langit dan bumi, maka kita menjadi tahu bahwa segala sesuatu telah diletakkan pada tempatnya yang tepat. Misalnya, langit dengan segala isinya semisal planet, bintang, siang dan malam; bumi dengan segala isinya semisal tumbuhan, hewan, manusia, benda keras dan lain-lain, telah diletakkan kepada tempat yang sesuai. Kalbu pada tempatnya. Mata pada tempatnya. Daun pada tempatnya di pohon. Bunga pada tempatnya, dan seterusnya. Di langit dan di bumi ini, kita tidak melihat hal yang menyalahi kebenaran kecuali pad a sikap man usia. Misalnya, kita melihat orang zalim tidak dihukum, sebaliknya kita melihat seorang nabi diusir dan disakiti.
Mengapa kita tidak melihat kebenaran tegak dalam kehidupan manusia, seperti halnya kebenaran tegak dalam tata perjalanan bumi dan langit?
Akal menunjukkan kepada kita bahwa yang menciptakan langit dan bumi dengan hak harus menegakkan kebenaran pada sikap manusia.
Jika hal ini tidak (diwujudkan) di dunia karena ia merupakan tempat cobaan dan ujian, maka harus terealisir dalam kehidupan akhirat. Allah SWT berfirman:
"Apakah orng-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat
buruklah a pa yang mereka sangka itu".(Al-Jatsiyah: 21).
6. Jika seseorang menganalisa bagaimana Allah menjaganya dan tidak membiarkan sperma atau segumpal darahnya sia-sia, serta pemeliharaan selama hidupnya, maka ia yakin bahwa Allah tidak membiarkan manusia terlantar mati dan sia-sia. Sebab, Al-Hakim (Yang Mahabijak) yang menjaga bagian-bagian yang kecil tidak akan menelantarkan ciptaan yang telah menjadi sempurna. Allah SWT. berfirman:
Bukankah dia dahulu berupa setetes air mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya (sebagai janin) dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan dari padanya berpasangan; laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?" (Al-Qiyamah: 36-40).