• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DAN INTERAKSI

B. Konsep Nilai Agama Dalam Pendidikan Islam

2. Budaya Toleransi dalam Keberagaman di Batam

Agama tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial, sebab agama sendiri merupakan realitas sosial dalam konteks konstruksi pada pemeluknya. Meskipun secara ontologis bersumber dari realitas yang tunggal, namun yang terlihat pada perkembangan selanjutnya adalah agama menjadi semacam gejala psikologis, kultural dan identitas sosial.119 Agama juga merupakan salah satu elemen penting, signifikan dan paling sensitif dalam masyarakat pluralis. Oleh karena itu kegagalan dalam merumuskan sistem pendidikan agama yang tepat akan berpengaruh dalam pembentukan sikap peserta didik terhadap orang yang berbeda agama dan budayanya.120

Oleh karena itu, agama merupakan salah satu kebutuhan yang paling mendasar bagi manusia.121 Bahkan Henri L. Bergson, mengatakan, bahwa manusia bisa ditemukan tanpa sains, seni, dan filsafat, tetapi tidak pernah ditemukan masyarakat tanpa agama.122 Karena dalam perjalanan hidupnya, manusia tidak selamanya merasa baik, mulus, sukses tetapi dibayangi kegagalan, kehancuran, frustrasi serta rasa ketidakadilan.123 Sehingga dalam kondisi demikian, agama sering menjadi tempat pelarian manusia untuk mengatasi masalahnya.124 Agama juga menjadi sesuatu yang fungsional dalam struktur kehidupan manusia terutama dalam usaha-usaha untuk mengatasi dan menetralkan bayangan-bayangan buruk tersebut.125

Oleh karena itu, di Batam pendidikan agama memegang peranan penting dalam membangun kesadaran masyarakat untuk menerima lingkungan masyarakat yang dihuni oleh orang yang berbeda-beda latar belakang agama, suku, dan RAS.

118 H.A.R. Tilaar, Kaleidioskop Pendidikan Nasional,1008.

119Ngainun Naim and Achmad Sauqi, Pendidikan Multikultural: Konsep Dan Aplikasi (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2008), 154.

120Busman Edyar, RUU Sisdiknas Dan Pendidikan Pluralis-Multikultural (Kompas, Senin 31 Maret 2003).

121Bustanudin Agus, Agama Dalam Kehidupan Manusia: Pengantar Antropologi Agama (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), 33.

122Hugo Letiche, “Phenomenal Complexity Theory as Informed by Bergson,” Journal of Organizational Change Management vol 13, no. 6 (2012): 545– 57.https://doi.org/10.110 8/09534810010378579. Di akses tanggal 2 Desember 2019.

123Adon Nasrullah Jamaluddin, Agama& Konflik Sosial: Studi Kerukunan Umat Beragama, Radikalisme Dan Konflik Antar Umat Beragama (Bandung: Pustaka Setia, 2015), 26.

124Nico Syukur, Pengalaman Dan Motivasi Beragama (Yogyakarta: Kanisius, 1988), 74–114.

125Roland Roberstson, “Globalization or Globalization,” Journal International of Information vol.1, no. 1 (2012): 33–52.http://dx.doi.org/10.1080/13216597. 1994.9751780. Diakses tanggal 2 Desember 2019

142 Hingga dengan pemahaman itu mengantarkan seseorang untuk hidup rukun dan damai. Menurut Chablullah Wibisono, ketua FKUB Kota Batam yang juga Rektor Universitas Batam bahwa masyarakat Batam memiliki latar belakang agama yang bebeda. Dengan perbedaan itu apabila tidak dipelihara dengan baik bisa menimbulkan konflk antar umat beragama yang bertentangan dengan nilai dasar agama itu sendiri yang mengajarkan kepada kita kedamaian, hidup saling menghormati dan saling tolong menolong. Oleh karena itu, untuk mewujudkan kerukunan hidup antar umat beragama yang sejari dalam bingkai kebangsaan, harus tercipta satu konsep sosial yang berbeda agama guna menghindari “ledakan konflik antar umat beragama yang terjadi tiba-tiba”.126

Lebih lanjut Wibisono menjelaskan dalam wawancara, bahwa masyatakat Batam yang mayoritas beragama Islam, namun memiliki rasa toleransi yang sangat tinggi. Di samping itu masyarakat muslim memiliki pengetahuan Islam yang kaffah maka siapapun akan toleran, karena Islam adalah agama Rahmatan lil alamin.127

Sementara itu, menurut I Wayan Catra Yasa, Komisi kerukunan Forum Kerukunan Antar Beragama (FKUB) Kota Batam, menjalaskan bahwa kita tahu bahwa Kota Batam yang didesign menjadi daerah pengembangan industri, perdagangan, pariwisata dan pelabuhan pada kenyataannya tidak memiliki sumber daya alam dan hanya mengandalkan kegiatan pembangunannya dari sisi letak yang sangat strategis karena bertetangga langsung dengan 2 (dua) Negara niaga Singapura dan Malaysia. Di samping tentunya mengandalkan sumber daya manusia yang diharapkan dapat mengelola segala potensi yang tersedia untuk kelangsungan pembangunan daerah. Karena itulah budaya toleransi menjadi sangat penting di Kota Batam untuk menghindari adanya gesekan dan benturan di masyarakat yang pada akhirnya hanya akan menghancurkan hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai. Dalam kaitan ini FKUB Kota Batam sebagai wadah tempat berhimpunnya pemuka agama memiliki peran yang strategis untuk memelihara kerukunan umat beragama. Karena perbedaan agama dipercaya dapat menimbulkan gesekan di masyarakat disebabkan adanya perbedaan keyakinan dan kepercayaan. Tetapi sekaligus juga dapat menjadi elemen penting dalam memelihara kerukunan dan perdamaian.128

126Chablullah Wibisono, “Menjaga Kerukunan Umat Beragama Di Kota Batam,” FKUB Kota Batam, Dialog Kerukunan Umat Beragama di Kota Batam, 2019, 11.

127 Menurut Chablullah Wibisono, dalam Wawancara bahwa umat Islam jika memahami Islam secara kaffah maka ia tidak akan menghina agama orang lain. Menghina saja ia tidak mau apalgi ia menyakiti umat yang beragama lain. Hal sesuai dengan ayat al-Qur'an surat Al-An'am ayat 108 yanag berbunyi:

ذالااوُّب سَت َلَّ َو ۗ ٍمْل ع رْيَغ با وْدَعَهاللااوُّب سَيَف هاللا نو دْن مَنو عْدَيَني َك ٰىَل إام ثْم هَلَمَعٍةام لّ ك لااناي َزَك لَٰذ ج ْرَمْم ه بَر َنو لَمْعَياو ناَكاَم بْم ه ئ بَن يَفْم ه ع

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan”.

128Wawancara dengan Wayan Catra Yasa, Komisi Kerukunan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Batam, tanggal 3 Desember 2019 di Batam Center.

143 Budaya memegang peranan penting di dalam masyarakat plural dalam membangun toleransi dan kerukunan di masyarakat khususnya di Batam yang masyarakatnya sangat majemuk. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh Michalinos Zembylas dan ZviBekerman, dalam Jurnalnya Peace Education in the

Present: dismantling and reconstructing some fundamental theoretical

premises129menyatakan, bahwa agama tidak bisa menyelesaikan konflik sosial.

Menurutnya, hanya budaya yang mampu melerai segala konflik dan praktik kekerasan serta gesekan-gesekan sosial lainnya yang terjadi di masyarakat. Apalagi hal ini juga terkait dengan fenomena global, yaitu adanya kekerasan dan tindakan teror atas nama agama. Sebagai contoh kasus serangan Bom di gedung WTC pada 11 September 2011 yang dipicu sentiment keagamaan yangs emakin mempertegas anggapan bahwa agama adalah sumber konflik. Bagi keduanya, toleransi dan konstruksi sosial yang positif dilihat dari sejarah serta implikasinya hanyalah bersumber dari pemeliharaan dan pemahaman terhadap kebudayaan yang dipahami secara mendalam oleh individu-individu dalam masyarakat melalui proses pendidikan dan tanpa melibatkan unsur agama. Padahal menurut Roger M Keesing, budaya adalah hanyalah potongan suatu konsep yang tajam, mengkhusus, dan teoritis dari agama.130

Oleh karena itulah, peran pendidik maupun penggerak sosial-keagamaan pada era kemajuan plural-multikultural adalah bagaimana masing-masing tradisi keagamaan tetap dapat mengawetkan, memelihara, melanggengkan, mengalih-generasikan, serta mewariskan kepercayaan dan tradisi yang diyakini sebagai suatu kebenaran mutlak, namun pada saat yang sama, menyadari sepenuhnya keberadaan kelompok tradisi keagaan lain yang berbuat serupa. Maka dari itu, diperlukan sebuah konsep baru dari pendidikan agama yang dapat merangkul, menjaga kebersamaan, menciptakan kohesi sosial yang baik, dan keutuhan bersama serta mampu mengintegrasikan antara agama dan budaya khususnya di Indonesia yang multi-agama dan multi-budaya.

Menurut Abduh, adalah dengan cara mempraktikkan pendidikan agama Islam yang modern, yaitu sebuah konsep pendidikan yang menghilangkan dikotomi pendidikan yang dianut oleh sebagian umat Islam sekarang ini. Cara pengembangan kelembagaan pendidikan dan pengembangan kurikulum, dapat dimulai dari sekolah dasar, menengah dan kejuruan, serta pengembangan kurikulum di tingkat universitas, pengembangan metode pengajaran, memberikan pendidikan bagi masyarakat serta dapat mengintegrasikan pendidikan agama (substansial dan kontekstual) dengan pendidikan umum.131 Sejalan dengan Abduh, M. Amin

129Michalinos Zembylas and ZviBekerman, “Peace Education in the Present: Dismantling and Reconstructing Some Fundamental Theoretical Premises,” Journal of Peace Education vol 10 (2013): 543–56.

130Roger M. Keesing, “On Not Understanding Symbols: Toward an Anthropology of Incomprehension,” HAU: Journal of Ethnographic Theory vol 2, no. no.2 (2012): 406– 30.

131Lihat Ahmad Fuadi Husin, “Rekonstruksi Pendidikan Islam Perspektif Pemikiran Muhammad Abduh,” TadrisTerakreditasiUin Sunan Ampel vol.9, no. no.2 (2014): 199.

144 Abdullah, menyatakan, bahwa ketika berbicara modernitas sudah pasti terkait dengan dimensi pluralisme. Menurutnya, pendidikan berbasis pluralisme132 merupakan salah satu perwujudan dari pendidikan modern, karena ternyata mampu menciptakan perdamaian dan kohesi sosial yang baik serta mampu menjadi solusi problematika kontemporer bermasyarakat dewasa ini.133

Oleh karena itu, Kota Batam dengan kemajemukan budaya dan agama yang dimiliki harus dapat dilestarikan melalui pendidikan, baik formal. Informal maupun no formal. Pendidikan pluralisme agama merupakan salah satu nilai pendidikan yang dapat mengantarkan masyarakat Batam untuk memahami dan melestarikan budaya toleransi di dalam masyarakat. Sebab pluralisme agama bersumber pada penghormatan hak dasar setiap individu terhadap kepercayaan dan keyakinannya masing-masing. Apalagi pendidikan pluralisme agama, selain menjadi prinsip-prinsip universalisme, kebebasan, kesetaraan,134 rasional, humanisme transnasional, nilai-nilai global,135 peradaban, kasih sayang dan keindahan,136 pluralisme agama

132Pluralisme bukan hanya berarti actual plurality (kemajemukan atau keanekaragaman) yang menggambarkan kesan fragmentasi (perpecahan), bukan pula dalam pengertian “kebaikan negatif” sebagai lawan fanatisme, melainkan sebagai “pertalian sejati kebhinekaan dalam ikatan-ikatan keadaban (genuine engagement of diversity within the bounds of civility). Lihat Hendar Riyadi, Melampaui Pluralisme: Etika Al-Qur’an Tentang Keragaman Agama (Jakarta: RMBOOKS & PSAP, 2006), 59–60.

133 Mengenai Pendidikan Pluralisme Agama: Pertama, selain memberikan uraian tentang ilmu-ilmu keislaman klasik, mahasiswa, anak didik serta masyarakat diperkenalkan dengan persoalan-persoalan modernitas yang amat kompleks sebagaimana dihadapi oleh umat Islam sekarang ini dalam hidup keseharian mereka; Kedua, pengajaran ilmu-ilmu keislaman tidak seharusnya selalu bersifat doktrinal, melainkan perlu dikedepankan uraian dimensi historis dan doktrin-doktrin keagamaan tersebut; Ketiga, pengajaran yang dulu bertumpu pada teks (nash) seperti banyak dijumpai dalam buku-buku teks mata kuliah filsafat pendidikan Islam, perlu diimbangi dengan telaah yang cukup mendalam dan cerdas terhadap konteks dan realitas; Keempat, dalam era pluralitas iman yang semakin mencuat dan menguat, diskursus yang melakukan telaah secara akademis filosofis terhadap khazanah intelektual Islam klasik, khususnya tasawuf sangat diperlukan terhadap telaah yang bersifat doktrinal dari cabang keilmuan kalam; Kelima, pendidikan agama era modernitas-pluralitas tidak lagi memadai jika hanya terfokus pada pembentukan “moralitas-individual” yang saleh namun kurang begitu peka terhadap “moralitas-publik. Lihat Abdullah, Pendidikan Agama Multikultural Multireligius, 76–82.

134Heiner Bielefeldt, “Misperceptions Freedom of Religion or Belief,” Journal of Human Right Quarterly vol.35, no. no.1 (2013): 33–68.https://muse.jhu.edu/article/497782/ summary. Diakses tanggal 8 Desember 2019.

135Muhammad Khalid Masud, The Scope of Pluralism in Islamic Moral Traditions” in Islamic Political Ethics: Civil Society, Pluralism and Conflict, eds., Sohail H. Hashmi (The United of America Princeton University Press, 2002), 136.

136Abdul Rozak and Others, “Political Thoughts and Socio-Cultural Nationalism Ideologies of Nurcholis Madjid on Strengthening Democracy, Civil Societies and Civic Virtues in Indonesia,” Asian Social Science International Journal vol.11, no. no.27 (2015): 142–145 http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/36113. Diakses tanggal 9 Desember 2019.

145 juga merupakan hak prerogatif Tuhan,137 bahkan sunnatullah.138Namun pluralisme agama saat ini masih dipandang sebagai paham yang tidak berasal dari Islam. Sehingga terjadi saling fitnah dan ketidakharmonisan antar umat beragama, seperti; tuduhan liberal, sekuler, dan wertenisasi. Lebih jauh sebenarnya sikap anti pluralisme agama ini dipengaruhi oleh beberapa aspek, antara lain; aspek

epistemology,139 soteriology,140 dan orthopraxis.141 Dengan demikian, untuk menjawab fenomena ini, peran para pendidik dan tokoh agama menjadi penentu

137Dalam al-Qur’an, setidaknya ada empat tema pokok tentang pluralisme agama. Pertama, tidak ada paksaan dalam beragama (Qs.2:256). Secara eksplisit, ayat ini menjelaskan bahwa manusia diberikan kebebasan dalam beragama. Yaitu keikhlasan dalam beragama; Kedua, al-Qur’an mengakui eksistensi pemeluk agama-agama (Qs.2:62). Ayat ini menegaskan bahwa setiap pemeluk agama apabila percaya kepada Tuhan, hari akhir dan berbuat amal saleh, maka tidak perlu merisaukan tentang dirinya, karena semua yang dilakukan itu akan mendapat balasan dari Tuhan; Ketiga, kesatuan nabi (Qs.42:13). Ayat ini menjelaskan bahwa salah satu rukun iman dalam Islam adalah meyakini semua Nabi dan Rasul secara teologis; Keempat, kesatuan pesan ketuhanan (Qs.4:131). Ayat ini menjelaskan bahwa semua Rasul diberikan kitab suci agar menyembah Alla Ali Fauzi, et.al., Membela Kebebasan Beragama: Catatan Pengantar” Dalam Membela Kebebasan Beragama Percakapan Tentang Sekularisme, Liberalisme, Dan Pluralisme, xii.

138Abdul beralasan bahwa Sunnatullah, dikarenakan kesadaran diri seseorang atas hak eksistensi komunitas lain yang mengharuskan setiap orang berlainan keyakinan, kepercayaan dan melakukan dialog. Tujuan dialog ini adalah untuk menemukan penyelesaian perbedaan secara utuh mengenai pendapat masing-masing agama Abduh Dubbun Hakim, Islam, Inklusivisme, Dan Kosmopolitanisme” Dalam Menembus Batas Tradisi Menuju Masa Depan Yang Membebaskan: Refleksi Atas Pemikiran Nurcholis Madjid, eds. ,abduh Halim (Jakarta: PT Kompas Media Nusantara, 2006), 14.

139Secara epistemologi Agama memiliki dua pengertian, yaitu: 1) Secara sosiologi, dimana seseorang yang beragama memiliki suatu komunitas religi yang terikat dengan doktrin dan hukum agama; 2) Secara Psikologi, agama berkaitan dengan psikologi dan spiritual diri orang yang beragama (homo religious).Samuel Lebens, “The Epistemology of Religiosity: An Orthodox Jewish Perspective,” International Journal for Philosophy of Religion.Vol. 74, no.3 (2013): 315–332.

140Istilah Seteorologi berasal dari Bahasa Yunani soteria yang berarti pembebasan, keselamatan dan logos berarti wacana, penalaran. Istilah ini merujuk pada diskusi doktrin teologis tentang keselamatan. Sejak lahirnya Islam sampai sekarang, tema ini masih menjadi pembicaraan para pemikir Muslim. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika keselamatan (salvation) menjadi tema sentral al-Qur’an. Muhammad Hasan Khalil, “Islam and the Fate of Other”, the Salvation Question (New York: Oxford University Press, 2012), 1. Sementara Francois Faccini mendefinisikan seteorologi dengan kepercayaan Islam sebagai sebuah agama monotheisme yang memberikan keselamatan pada hari pembalasan. Marjana Harcet, “Perception of Islam and Its Interpretations,” Journal for the Study of Religious and Ideologies. Vol.13, no.38 (2014): 39–56.

141Ortopraksis adalah suatu sikap atau tindakan untuk tidak melakukan perbuatan tercela dan dosa James A Kelhoper, “Reciprocity as Salvation”, Crist as Salvific Patron and The Corresponding (Payback) Expected of Christ’s Earthly Clients According to the Letter of Clement,” Journal of Salvation Studies. vol. 59, no.3 (2013): 456.

146 tentang paham pluralisme sekaligus dapat menciptakan toleransi antar umat beragama atau tidak sama sekali.142

Kota Batam sebagai kota bandar madani identik dengan kota modern yang berkarakter toleran, pluarlis, berkeadilan sosial, dan memiliki partsipasi sosial, yaitu partisipasi masyarakat yang benar-benar bersih dari rekayasa, intimidasi, maupun intervensi dari pihak lain, sehingga masyarakat madani memiliki kedewasaan dan kemandirian berpolitik yang bertanggung jawab. Masyarakat madani juga memberikan jaminan terhadap terciptanya keadilan dan keselarasan di tengah kehidupan bermasyarakat. Hal ini sejalan dengan yang ditulis Adam Fergusen.143

Masyarakat Kota Batam, dapat merasakan kehidupan yang harmonis berkat adanya kesadaran setiap individu dalam melakukan interaksi sosial secara damai dan toleran. Meskipun tidak bisa dinafikan adanya perselisihan yang tentu saja melibatkan individu dengan individu. Keharmonisan ini tiada lain berkat pendidikan yang juga berjalan dengan baik. Hal ini sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari dunia pendidikan sebagai jalur pembelajaran dan pelatihan serta memberikan pengalaman yang bertujuan untuk menguatkan pemahaman dan pengamalan pluralisme agama.144 Pendidikan sebagai proses humanisasi menekankan pada pembentukan makhluk sosial yang mempunyai otonomi moral dan sensitivitas atau kedaulatan budaya, yaitu manusia yang dapat mengelola konflik, menghargai kemajemukan, dan permasalahan silang budaya.

Di Kota Batam, toleransi budaya dan agama di lembaga pendidikan diupayakan lewat pergaulan di sekolah dengan mengajarkan materi pelajaran, menggunakan model pembelajaran, serta pendekatan yang dalam mentransformasikan budaya dan agama dipandu secara pelan-pelan, dan tidak menjadikannya sebagai sebuah revolusi yang dipaksakan terlebih lagi bagi masyarakat yang heterogen.145 Pendidikan Agama Islam di Bali haruslah mampu menangkap keunikan dan budaya masyarakat setempat, sehingga proses pendidikan tidak menambah jarak antara kaum minoritas dan mayoritas, begitu juga dengan agama dan budaya dari dua komunitas tersebut.146

Menurut Chablullah Wibisono, dengan memahami Islam secara kaffah, maka siapapun akan tolerans, karena Islam agama rahmatan lil ‘alamin, tolerans

142 Marta Axer, “Is God Back?” Reconsidering the New Visibility of Religion, eds., Titus Hjelm (Channel India: Deanta Global Publishing Services, 2015), 20.

143Adam Fergusen, An Essay on Theory of Civil Society (Teddington: Echo Library, 2007), 6.

144 Pasal 1 ayat 1 UU No.20 Tahun 2003, diungkapkan yang dimaksud dengan pendidikan adalah: “Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negaraUndang-Undang Sistem Pendidikan Nasional: UU RI No. 20 tahun 2003.

145Sapendi, “Pendidikan Pluralisme Agama,” Jurnal Khatulistiwa-Journal of Islamic Studies Vol.2, no. 2 (2012): 154–182.

146Kennet Wain, “Higher Education in Europe: Education and Tolerance”, Journal for Tolerance and Education, 21, No. 1 (2011): 23-39.

147 dan istigomah. Oleh karena lembaga pendidikan diharapkan mendidikan anak menjadi ulil albab, integrasi antara ulama dan ilmuwan.147 Demikian juga, Wayan Catra Yasa, Ketua Ikatan Masyarakat Hindu Kota Batam, menyatakan bahwa t oleransi di Batam sangat tinggi yang ditandai dengan setiap lingkungan perumahan, RT/RW dan titik-titik hunian lainnya warganya terdiri dari berbagai agama dan budaya yang hidup rukun dan damai satu sama lain.148

B. Budaya Melayu di Era Globalisasi

Budaya Melayu di Batam merupakan budaya lokal yang berfunngsi sebagai pendukung budaya nasional. Secara umum, kebudayaan berfungsi untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia.149 Berdasarkan pendapat ini, maka kebudayaan Melayu di Batam memiliki fungsi untuk meningkatkan harkat dan martabat masyarakat Kota Batam. Sebab harkat dan martabat tinggi sangat menentukan masa depan Kota Batam khususnya dan Provinsi Kepulauan Riau pada umumnya.

Kota Batam yang posisinya berbatasan langsung dengan negara tetangga Singapura dan Malaysia setidaknya menjadi kota yang strategis masuknya budaya asing. Kota Batam tidak hanya dipengaruhi oleh budaya asing, tetapi juga budaya daerah lain yang ada di Indonesia. Terintegrasinya budaya asing dan budaya daerah lain menyatu dalam masyarakat di Batam berpotensi mengikis bahkan mengerus budaya Melayu sebagai budaya lokal di Kota Batam.

Oleh karena itu, dalam pembahasan berikut, akan diuraikan bagaimana budaya Melayu di Kota Batam mempertahankan diri dalam kemajemukan budaya, agama, suku, dan adat.