• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DAN INTERAKSI

B. Konsep Nilai Agama Dalam Pendidikan Islam

2. Empat Kategori Adat Melayu

Adat sebagai institusi generik menjadi pijakan oleh masyarakat Melayu dalam menentukan kebijakan dan arah peradabannya. Islam merupakan sumber dari nilai-nilai adat kebudayaan Melayu yang dalam ungkapan Melayu dikatakan “Adat bersendikan syarak, syarak bersendikan kitabullah”. Syarak yang dimaksudkan disini adalah hukum Islam atau tamadunIslam. Sedangkan

57Embi et al, Adat Perkawinan di Melaka, 85.

123

kitabullahberarti kitab suci Al-Qur’an atau wahyu Allah sebagai panduan manusia

dalam mengisi kebudayaannya.

Menurut Lah Husni adat pada etnik Melayu tercakup dalam empat ragam yakni: (1) adat yang sebenar adat, (2) adat yang diadatkan; (3) adat yang teradat, dan (4) adat-istiadat.59 Keempat ragam adat ini dalam prakteknya saling bersinergi dalam mengawal polarisasi kebudayaan Melayu secara umum. Sehingga segala perbuatan orang Melayu seharusnya berdasar pada nilai-nilai keempat ragam adat ini.

Masih menurut Lah Husni, bahwa keempat ragam adat Melayu ini memiliki hubungan erat satu sama lain, ragam adat pertama merupakan adat yang sifatnya yang paling dasar, holistik dan menyeluruh. Sedangkan ragam kedua, ketiga dan keempat adalah turunan dari ragam adat pertama. Begitu juga ragam kedua merupakan turunan dari ragam adat pertama dan kedua. Adapun keempat adalah turunan dari pertama, kedua dan ketiga. Sedangkan ragam adat kedua, ketiga dan keempat memiliki sifat mengikuti perkembangan ruang dan waktu di dalam kebudayaan, baik berupa perilaku sosial maupun berupa benda-benda atau artefak kebudayaan.60

Lebih jauh dari keempat ragam adat akan diuraikan sebagai berikut: a. Adat yang sebenar adat

Menurut Tenas Effendy, adat sebenar adat merupakan inti adat yang bersumber dari nilai-nilai ajaran agama Islam.61 Adat ini tidak boleh dianjak-alih, diubah-ubah atau ditukar. Dalam ungkapan adat dikatakan dianjak layu, diumbat

mati; bila diunjuk ia membunuh, bila dialih ia membinasakan. Adat sebenar adat,

memiliki sifat melekat dan menjadi ciri khas dari benda atau keadaan itu yang tidak dapat disangkal sebagai sifat aslinya. Sebagaimana dalam ungkapan adat: adat api

membakar, adat air membasahi, adat lembu melenguh, adat kambing mengembik,

dan lain-lain.

Dalam kebudayaan Melayu, hubungan manusia dengan alam senantiasa dijaga agar terbentuk keseimbangan dan ketentraman. Karena itu masyarakat Melayu selalu menjaga perilaku-perilakunya yang bisa mencemari, merusak dan merubah keseimbangan alam. Dalam konteks adat sebenar adat menurut waktu dan keadaan, ibarat jika dikurangi akan merusak, jika dilebihi akan mubazir (sia-sia). Dengan kata lain adat sebenar adat mengandung nilai budaya dan agama bahwa (a) hati nurani manusia yang tercermin dalam ajaran adat:

Pisang emas bawa belayar, Masak sebiji di dalam hati,

59Tengku Mohd Lah Husni, Butir-Butir Adat Budaya Melayu Pesisir Sumatera Timur (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, 1986), 13 Lihat juga Budaya Melayu Berintegritas dalam Modul Diseminasi Gugus Depan Integritas Tahun 2017 oleh Pemerintah Provinsi Riau yang disusun oleh Tim Penyusun: Mohammad Zainuri, Mahfayeri, Suparman dan Dany Setyawan.

60Lah Husni, 14 Baca juga di dalam Adat Dalam Peradaban Melayu, laporan penelitian Muhammad Takari bin Jilin Syahrial, Program Studi Etnomusikologi FIB USU dan Majlis Adat Budaya Melayu Indonesia, Medan 2015.

124

Hutang emas dapat dibayar Hutang budi dibawa mati Askar berperang gagah berani Melawan Feringgi dengan bismillah, Apa yang terjadi di dunia ini

Sudah menjadi hukumNya Allah

(b) kebenaran yang sungguh didasari keikhlasan, berbuat semata-mata karena Allah bukan karena ulah, (c) keputusan yang berpadan, dengan berdasar kepada prinsip hidup sandar menyandar, pisang seikat digulai sebelanga, di makan bersama-sama,

yang benar harus dibenarkan, yang salah disalahkan. Adat murai berkicau, tak mungkin menguak, adat lembu menguak, tak mungkin berkicau.

Konsep etnosains62 Melayu, bahwaadat sebenar adat dalam konteks Melayu adalah penuh tidak melimpah, berisi tidak kurang, yang dibesar dibesarkan, yang

tua dihormati, yang kecil disayangi, yang sakit diobati, yang bodoh diajari, yang benar diberi hak, yang kuat tidak melanda, yang tinggi tidak menghimpit, yang pintar tidak menipu, hidup berpatutan, makan berpadanan. Jadi ringkasnya, hidup

itu seharusnya harmonis, baik pada diri sendiri, masyarakat, lingkungan hidup maupun antar negara. Inilah adat yang tidak boleh berubah-ubah. Ia mengikuti hukum Allah.63

Adat sebenar adat dalam konteks globalization of culture64bahwa Allah menetapkan hukumnya kepada alam,sehingga ketetapan Allah harus dimaknai

62“Etnosains,” DuniaKuMu (blog), diakses December 20, 2018, https://duniakumu.com/pengertian-etnosains/ Etno-sains adalah suatu metode etnografi yang memiliki sifat khas yang mulai berkembang sejak tahun 60an. Salah satu tokoh Etnosins adalah Sturtevant memberi definisi sebagai suatu system of knowledge and cognitition typical of given cultural. Menurut Sturtevant kajian Etnosains meliputi (1) kajian yang berpangkal dari pemikiran kebudayaan sebagai form of things that people have in mind, (2) kajian yang mengarah pada bidang rule atau aturan-aturan sehingga kajiannya lebih jelas pada kategori-kategori sosial yang ada pada masyarakat yang dipakai dalam interaksi sosial, (3) kajian yang menekankan pada pengertian kebudayaan sebagai sistem makna simbolik atau kebudayaan sebagai alat untuk menafsirkan fenomena yang dihadapi oleh masyarakat tersebut.

63Lah Husni, Butir-Butir Adat Budaya Melayu Pesisir Sumatera Timur, 51.

64Dalam “Globalisasi Budaya,” in Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, October 23, 2019, di akses pada https://id.wikipedia.org/w/index.php?title= Globalisasi_budaya&oldid=16074820 dijelaskan bahwa globalisasi budaya adalah penyebaran gagasan, makna, dan nilai ke seluruh dunia dengan cara tertentu untuk memperluas dan mempererat hubungan sosial. Proses ini ditandai oleh konsumsi budaya bersama yang dibantu oleh Internet, media budaya masyarakat, dan perjalanan luar negeri. Konsumsi budaya bersama turut mendorong pertukaran barang dan kolonisasi yang menyebarkan budaya ke seluruh dunia. Penyebaran budaya memungkinkan seseorang terlibat dalam hubungan sosial lintas negara dan kawasan. Penciptaan dan perluasan hubungan sosial seperti ini tidak terlihat di tingkat material. Globalisasi budaya melibatkan pembentukan norma dan pengetahuan bersama yang sesuai dengan identitas budaya mereka, baik individu atau kelompok. Globalisasi budaya terus meningkatkan keterkaitan penduduk dan kebudayaan di dunia.

125 bahwa Allah itu Maha Kuasa. Ketetapan Allah terhadap realitas alam tersebut hendaknya menjai sandaran dalam mengisi kebudayaan. Misalnya adat air laut

rasanya asinmerupakan ketentuan Allah, manusialah yang mengubahnya menjadi

garam.

Dalam Islam, alam dan hukum yang dibuat oleh Allah terdapat dalam Al Qur’an yang di dalamnya terdapat penjelasan mengenai penciptaan, misalnya penciptaan Arsy, kursi Allah (kekuasaan dan ilmu-Nya), penciptaan lawhul mahfuz, penciptaan langit dan bumi, gunung, lautan, sungai, hewan makhluk hidup, matahari, bintang, bulan, udara, juga siang, malam, penciptaan jin dan lain sebagainya. Dengan kata lain, Allah menciptaan alam baik makroosmos maupun mikrokosmos. Dengan demikian adat sebenar adat dalam kebudayaan Melayu mengacu pada konsep Allah sebagai pencipta (khalik), sedangkan manusia, jin dan hewan adalah makhluk Allah. Hal ini dijelaskan dalam QS Al-Baqarah ayat 22, QS. AL Baqarah ayat 164 dan QS. Al Kahfi ayat 51.

b. Adat yang diadatkan

Menurut Teras Effendy, adat yang diadatkan adalah semua ketentuan adat istiadat yang dilakukan atas dasar musyawarah dan mufakat serta tidak menyimpang dari adat sebenar adat.65 Adat ini dapat berubah sesuai dengan perubahan zaman dan perkembangan masyarakat pendukungnya. Pada zaman dulu adat yang diadatkan ini dibentuk melalui undang-undang kerapatan adat, terutama di pusat-pusat kerajaan, sehingga terbentuklah ketentuan adat yang diberlakukan bagi semua kelompok masyarakatnya.

Adat yang diadatkan ini bekerja pada suatu landasan tertentu, menurut mufakat dari penduduk daerah setempat. Kemudian pelaksanaannya diserahkan oleh rakyat kepada orang yang dipercaya oleh masyarakat. Sebagai pemangku adat adalah seorang raja atau penghulu. Adapun pelaksanaan adat ini wujudnya adalah untuk kebahagiaan penduduk, baik lahir maupun bathin, dunia dan akhirat, pada saar itu maupun pada saat yang akan datang.66

Adat yang diadatkan ini maknanya mengarah kepada sistem-sistem sosial yang dibentuk secara bersama, dalam asas musyawarah untuk mencapai mufakat. Adat yang diadatkan juga berkait erat dengan sistem politik dan tata pemerintahan yang dibentuk berdasarkan nilai-nilai keagamaan, kebenaran, keadilan, kesejahteraan dan polarisasi yang tepat sesuai dengan perkembangan dimensi ruang dan waktu yang dilalui masyarakat Melayu.

Menurut Tengku Lah Husni tiap-tiap negeri mempunyai situasi yang berbeda dengan negeri-negeri lainnya, lain lubuk lain ikannya, lain padang lain

belalangnya. Perbedaan keadaan, tempat dan kemajuan sesuatu negeri itu

membawa resam67 dan adatnya sendiri, yang sesuai dengan kehendak rakyatnya

65Effendy, Pemakaian Ungkapan dalam Upacara Perkawinan Orang Melayu, 61. 66Takari, “Adat Dalam Peradaban Melayu,” 8.

67Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusatyang diterbitkan Departemen Pendidikan Nasional cetakan Balai Pustaka Jakarta tahun 2008, resam berarti adat kebiasaan; aturan-aturan yang menjadi adat yang dalam hal ini adat yang dimaksudkan adalah adat Melayu.

126 yang diwarisi dari luluhurnya. Namun perbedaan itu hanya lahirnya saja, tidak dalam hakikinya. Adat yang diadatkan ini adalah sesuatu yang telah diterima untuk menjadi kebiasaan atau peraturan yang diperbuat bersama atas mufakat menurut ukuran yang patut dan benar, yang dapat dimodifikasi sedemikian rupa secara fleksibel. Dasar dari adat yang diadatkan ini adalah penuh tidak melimpah, berisi

tidak kurang, terapung tidak hanyut, terendam tidak basah.68

Adat yang diadatkan dalam pandangan Islam tercermin dalam sifat dan akhlak mulia yang dimiliki Rasulullah Saw. Secara garis besar ada empat sifat Nabi Muhammad dalam konteks kepemimpinan yaitu sidik, amanah, tabligh dan

fathonah.

1). Sidik

Sidik yang berasal dari bahasa Arab (Shiddiq) yang berarti benar, nyata, berkata benar.69Shiddiq merupakan salah satu bentuk lain dari shighat

mubalaghahdari kata shadaqa/shidqusebagaimana kata dhihhik dan niththiqdengan

makna sangat/selalu benar dalam ucapannya maupun dalam perbuatannya dan juga dalam membenarkan pada hal-hal gaibnya Allah Swt, membenarkan ayat-ayat-Nya, kitab-kitab-Nya dan utusan-utusan-Nya.70

Sikap jujur adalah bagian dari akhlak karimah. Kejujuran akan menghantarkan pemiliknya meraih derajat dan kehormatan yang tinggi, baik dimata Allah maupun dimata manusia.71 Demikian juga menurut Ahmad Khalil Jumu’ah bahwa kejujuran merupakan satu kata yang memiliki dimensi yang dapat menerangi, mengharumkan menyejukkan dan rasa manis. Jujur sama dengan dengan arti benar, dan ini adalah salah satu dari sifat Rasulullah Saw yang sudah masyhur.72

Mengutamakan memilih pengertian dari ash-shiddiqyaitu mengatakan yang benar dan terang atau memberi kabar sesuai kenyataan yang diketahui oleh pembicara dan tidak diketahui oleh orang lain.73 Hal ini diperkuat oleh firman Allah QS. Al-Ahqaaf ayat 16 yang artinya “Mereka itulah orang-orang yang Kami terima

dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka”.74 Umar bin Khattab berkata

68Lah Husni, Butir-Butir Adat Budaya Melayu Pesisir Sumatera Timur, 62.

69Almunadi, “Shiddiq Dalam Pandangan Quraish Shihab,” JIA vol.1, no. 17 (2016): 129.

70Ahmad Mustafa Darwis, I‟rabul Qur’an Wa Bayanuhu Juz 6 (Bairut-Damaskus: Daar Ibn Katsir, n.d.), 106.

71Aba Firdaus Al-Halwani, Membangun Akhlak Mulia Dalam Bingkai Al-Quran Dan As-Sunnah (Yogyakarta: Al-Manar, 2003), 92.

72Ahmad Khalil Jumu’ah, Jujur Mata Uang Dunia Dan Akhirat (Jakarta: Pustaka Azzam, 1998), 20.

73Masdar Helmy, Akhlak Nabi Muhammad SAW (Keluhuran Dan Kemuliaannya) (Cimahi Bandung: Gema Risalah Press, 1995), 176.

127 kejujuran yang merendahkan diriku walaupun jarang dilakukan lebih aku sukai daripada kebohongan mengangkat harga diri walaupun jarang dilakukan.75

Menurut Quraish Shihab, kata shiddiq merupakan bentuk hiperbola dari kata shidq/benar, yakni orang yang selalu benar dalam sikap, ucapan dan perbuatan. Pengertian bahwa apapun dan kapanpun selalu benar dan jujur, tidak ternodai oleh kebathilan selalu tampak di pelupuk matanya yang haq. Selain itu pula shiddiqberarti orang yang selalu membenarkan tuntutan ilahi dengan pembenaran melalui ucapan yang dibuktikan di atas kebathilan maka ia akan memotongnya hingga tidak tersisa.76

Imam Al-Ghazali mengatakan shidiq merupakan jalan yang paling lurus dan juga sifat ini dapat membedakan antara orang yang munafik dan orang yang beriman, perumpamaan bagai pedang Allah yang mana diletakkan diatas kebathilan maka ia akan memotongnya hingga tidak tersisa.77Dalam hal ini shidq ada tiga macam yaitu:

1. Shidqdalam perkataan, artinya menegakkan lisan di atas perkataan seperti tegaknya bulir pada tangkainya.

2. Shidqdalam perbuatan, artinya menegakkan amal pada perintah dan mengikuti sunnah, seperti tegaknya kepala di atas jasad

3. Shidq dalam keadaan, artinya menegakkan amal hati dan anggota tubuh pada keikhlasan.

Hal ini sesuai dengan firman Allah:

َك َ هاللَّ هنِإ ْمِهْيَلَع َبوُتَي ْوَأ َءاَش ْنِإ َنيِقِفاَنُمْلا َبِ ذَعُي َو ْمِهِقْد ِصِب َنيِقِداهصلا ُ هاللَّ َي ِزْجَيِل

َنا

ا ًمي ِحَر ا ًروُفَغ

Artinya: “Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu

karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi

Maha Penyayang”.78

Imam al-Junaid al-Baghdady berkata, “orang yang jujur itu keadaannya akan berubah menuju kebaikan sebanyak 40 kali dalam sehari, puncak dari kejujuran adalah bahwa engkau berkata benar pada saat tidak selamat seseorang keculai berbohong. Dikatakan pula bahwa jujur berarti menegaskan kebenaran meskipun dapat menyebabkan nyawa terancam.79

Demikian juga Abu Said al-Qursy mengatakan “orang yang jujur adalah orang yang siap mati dan tidak akan malu jika rahasianya dibongkar setelah itu oleh

75Sulaiman bin Muhammad As-Sughayyir and Muhummad bin Ibrahim Al-Hamd, Shidiq Dan Kadzib (Ulasan Tuntas Kejujuran Dan Kebohongan) (Jakarta: Darus Sunah Press, 2004), 22.

76Muhammad Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah (Pesan, Kesan, Dan Keserasian al-Quran), 7th ed. (Lentera Hati, 2007), 458.

77M. Abdul Mujieb, Ensiklopedi Tasawwuf Imam Al-Ghazali (Jakarta: Mizan Publika, 2009), 416.

78Departemen Agama RI, Al Qur’an dan Terjemahnya.

79Ahmad Badruzzaman and Nunu Burhanuddin, Wasiat Terbesar Sang Guru Besar Asy-Syaikh Abdul Qadir Jailani (Jakarta: Sahara Publisher, 2007), 189.

128 orang lain. Sedangkan al-Wasithy mengatakan kejujuran identik dengan akidah dan niat yang benar. Dzu an-Nun al-Mishri berkata “kujujuran adalah pedang Allah yang tidak diletakkan pada sesuatu melainkan akan memotongnya.80

2). Amanah

Sifat Rasulullah lainnya adalah amanah, yang artinya benar-benar dipercaya. Sifat amanah Rasulullah tercermin dalam ayat al-Qur’an surat al-A’raaf ayat 68:

ٌنيِمَأ ٌح ِصاَن ْمُكَل اَنَأ َو ي ِبَر ِت َلَاَس ِر ْمُكُغ ِلَبُأ

Artinya; “Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku

hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu”.81

Dalam kamus Al-Munawir, al-amaanahadalah segala yang diperintahkan Allah kepada hamba-nya.82 Kata amanah dikemukakan dalam Al-Qur’an karim semuanya bermakna menepati janji dan pertanggung jawaban.83 Amanah itu suatu tanggung jawab yang dipikul oleh seseorang atau titipan yang diserahkan kepadanya untuk diserahkan kembali kepada orang yang berhak. Bahwasanya manusia adalah hakikatnya makhluk yang bersosial yang saling membutuhkan satu sama lainnya, semata-mata tiada yang lain hanya untuk mencari ridho dari Allah SWT, Manusia beribadah adalah termasuk amanah yang diberikan Allah SWT.84

Dalam konteks kepemimpinan Melayu, amanah adalah tercermin dalam ungkapan; Apa tanda Melayu jati,dengan amanah ia berdiri; Apa tanda Melayu jati,

dipercaya orang di seluruh negeri, apa tanda Melayu jati, membela yang benar tegas dan berani.

3). Tabligh

Tabligh artinya menyampaikan. Dalam hal ini, segala firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw melalui Malaikat Jibril, disampaikan oleh Rasulullah. Tak satu pun yang disembunyikan, walaupun firman Allah tersebut menyinggung Nabi Muhammad sendiri. Sebagaimana pada ayat Al-Qur’an surat Al-jin ayat 28:

ِتََٰل ََٰس ِر ۟اوُغَلْبَأ ْدَق نَأ َمَلْعَي ِل

َمِب َطاَحَأ َو ْمِه ِبَر

َدَل ا

ْمِهْي

َٰىَصْحَأ َو

ُك

ا ًًۢدَدَع ٍء ْىَش هل

Artinya “Supaya Dia mengetahui bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah

menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang ilmu-nya meliputi apa yang ada

pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu”.85

Tabligh secara umum yakni menyampaikan perintah dan larangan Allah

SWT. Sebagai ajaran agama agar manusia beriman kepada-Nya. Tabligh lebih dikenali sebagai sifat pengenalan mengenai dasar-dasar mengenai Islam. Pelaku

80Badruzzaman and Burhanuddin, 190.

81Departemen Agama RI, Al Qur’an dan Terjemahnya.

82Ahmad Warson Munawir, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap (Surabaya: Pustaka Progresif, 1997), 41.

83Abbas Mahmud al-Aqqad, Al-Insaan Fi Al-Qur`an Penerjemah, tim Penerjemah Pustaka Firdaus, Manusia Diungkap Al-Qur'an, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1991), 45–50.

84Fachrudin HS, Ensiklopedia Al-Qur`an (Jakarta: PT. Melton Putra, 1992), 105. 85Departemen Agama RI, Al Qur’an dan Terjemahnya.

129 yang melakukan tabligh disebut mubaligh. Tabligh adalah bagian dari sistem dakwah Islam yang melakukan usaha menyampaikan dan menyiarkan pesan Islam yang dilakukan baik secara individu maupun kelompok secara lisan maupun tulisan.86

4). Fathonah

Fathonah memiliki arti bijaksana, cerdas. Dalam hal ini mustahil Nabi Muhammad itu bodoh atau jahlun. Dalam menyampaikan ayat-ayat Al-Qur’an dan kemudia menjelaskannya dalam puluhan ribu hadits, maka Rasulullah Muhammad Saw memerlukan kebijaksanaan yang luar biasa. Rasulullah Saw tercatat mampu mengatur dan mengelola umatnya sehingga berhasil mentransformasikan bangsa Arab jahiliah yang pada awalnya bodoh, kasar, bengis, berpecah-pecah, selalu perang antar suku, kemudian menjadi bangsa yang berperadaban dan berpengetahuan. Kesemuanya itu memerlukan kebijaksanaan yang luar yang terdapat dalam diri Rasulullah Saw.

Dalam konteks kepemimpinan Melayu, sifat fathonah atau bijaksana ini tercermin dalam ungkapan; Apa tanda Melayu jati, dengan bijaksana ia menyeri,

apa tanda pemimpin bijaksana, berpadu benar kata dan amalnya; apa tanda pemimpin Melayu, arif dan bijak tiada ragu.

c. Adat yang Teradat

Adat yang teradat merupakan kebiasaan-kebiasaan yang berangsur-angsur berubah menjadi adat. Dalam pepatah dikatakan; sekali air bah, sekali tepian

berpindah, sekali zaman beredar, sekali adat berkisar. Namun demikian walaupun

terjadi perubahan adat itu, namun inti adat tidak akan lenyap; adat pasang

turun-naik, adat api panas, dalam gerak berkesinambungan, antara akhlak dan pengetahuan.

Adat yang teradat dalam konsep masyarakat Melayu merupakan bentuk yang berkesinambungan dan perubahan yang merupakan respon terhadap dimensi ruang dan waktu dan zamannya. Menurut Lah Husni, perubahan itu hanya terjadi dalam bentuk ragam, bukan dalam hakiki dan tujuan semula. Misalnya, jika dahulu orang memakai tengkuluk atau ikat kepala dalam suatu perhelatan adat, sekarang memakai kopiah yang menjadi pakaian yang teradat. Jika dahulu berjalan berkeris atau disertai pengiring, sekarang tidak lagi. Jika dahulu warna kuning hanya bisa dikenakan oleg raja, sekarang siapa pun boleh memakainya.87

Dalam konteks zaman, adat yang teradat ini memberikan ruang bagi orang Melayu untuk menfikuti perkembangan zaman dimana perubahan yang terjadi merujuk pada strategi adat yang teradat. Islam sendiri mengajarkan bahwa perubahan dan kontinuitas alam (termasuk kebudayaan) pastilah terjadi, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-An’aam ayat 73:

86Moh Ali Aziz, Edisi Revisi Ilmu Dakwah (Jakarta: Prenada Media Group, 2012), 20.

130

َوُه َو

ٱ

ىِذهل

َقَلَخ

ٱ

ِت ََٰو ََٰمهسل

َو

ٱ

َض ْرَ ْلْ

ِب

ٱ

ِقَحْل

ۖ

َم ْوَي َو

ُقَي

نُك ُلو

ۚ ُنوُكَيَف

ُهُل ْوَق

ٱ

قَحْل

ۚ

ُهَل َو

ٱ

ُكْلُمْل

ىِف ُخَفنُي َم ْوَي

ٱ

ِرو صل

ۚ

ُمِل ََٰع

ٱ

ِبْيَغْل

َو

ٱ

َد ََٰههشل

ِة

ۚ

َوُه َو

ٱ

ُميِكَحْل

Artinya “Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar.Dan

benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan “Jadilah, lalu terjadilah” dan di tangan-Nyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha

Mengetahui”.88

d. Adat Istiadat

Dalam ensiklopedi Islam disebutkan bahwa adat adalah “kebiasaan” atau “tradisi” masyarakat yang telah dilakukan berulang kali secara turun temurun. Kata “adat” di sini lazim dipakai tanpa membedakan mana yang mempunyai sanksi seperti “hukum adat” dan mana yang tidak mempunyai sanksi seperti disebut “adat” saja.89

Hasan Hanafi menjelaskan bahwa Tradisi (turats) segala warisan masa lampau (baca tradisi) yang masuk pada kita dan masuk ke dalam kebudayaan yang sekarang berlaku. Sehingga dengan demikian, bagi Hasan Hanafi turats tidak hanya merupakan persoalan peninggalan sejarah, tetapi juga merupakan persoalan kontribusi zaman kini dalam berbagai tingkatannya.90

Menurut Edward Shils, tradisi adalah segala sesuatu yang disalurkan atau diwariskan dari masa lalu ke masa kini. Kriteria tradisi bisa lebih dibatasi dengan mempersempit cakupannya.91 Begitu juga menurut Piotr Sztompka, mengatakan bahwa tradisi keseluruhan benda material dan gagasan yang berasal dari masa lalu namun benar-benar masih ada kini, belum dihancurkan, dirusak atau dilupakan. Di sini tradisi hanya berarti warisan, apa yang sebenarnya tersisa dari masa lalu.92

Sebagai sistem budaya, tradisi akan menyediakan serangkat model untuk bertingkah laku yang bersumber dari sistem nilai dan gagasan utama (vital). Sistem nilai dan gagasan ini akan terwujud dalam sistem ideologi, sistem sosial, dan sistem ideologi. Sistem ideologi merupakan etika, norma dan adat istiadat yang berfungsi memberikan pengarahan atau landasan sistem sosial yang meliputi hubungan dan kegiatan sosial masyarakat.

Tidak itu saja, tradisi juga merupakan suatu sistem yang menyeluruh yang terdiri dari cara yang memberi arti laku ujaran, laku ritual dan berbagai jenis laku