BAB II PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DAN INTERAKSI
B. Konsep Nilai Agama Dalam Pendidikan Islam
2. Nilai Agama dan Budaya Dalam Kearifan Lokal Melayu di
34 tahun 1983, didiami oleh penduduk yang heterogen, meskipun berasal dari daerah lain atau suku yang berbeda namun kemudian secara umum disebut sebagai orang Melayu atau penduduk Melayu. Sehingga dengan demikian, dalam kehidupan sehari-hari sangat dipengaruhi oleh adat istiadat, seni budaya, pakaian dan budayanya tidak terlepas dari nilai-nilai Melayu. Sebagai orang Melayu, yang memiliki budaya dan adat Melayu, dimana orang Melayu adalah orang yang mempunyai etika, tingkah laku dan adat Melayu yang bercirikan Islam. Hal ini
160Azyumardi Azra, Islam Nusantara: Jaringan Global Dan Lokal (Mizan, 2002), https://books.google.co.id/books?id=97vXAAAAMAAJ.
161BPS Kota Batam, “Data Statistik Kota Batam.”2017.
162 Nurdin Basirun dalam sambutannya di hadapan Forum Kerukunan Antar Umat (FKUB) Kota Batam menyatakan bahwa kekuatan masyarakat Kepri adalah bersatunya seluruh warga Kepri. Bersatu dalam perbedaan dan heterogen. Lihat “Suku Melayu Menjadi Penengah Dari Berbagai Suku di Kepri, Sukses Menjaga Persatuan,” kumparan, https://kumparan.com/batamnews/suku-melayu-menjadi-penengah-dari-berbagai-suku-di-kepri-sukses-menjaga-persatuan-1538453659367738768. Diakses tanggal 18 Desember 2019.
151 sejalan dengan pernyataan William Marsden yang meyebutkan dalam percakapan sehari-hari, penyebutan bangsa Melayu adalah sama dengan sebutan bangsa yang memiliki ketaatan terhadap agama Islam.163
Aktualisasi nilai-nilai kearifan lokal Melayu di Kota Batam ditandai dengan adanya Peraturan Daerah Nomor 1 tahun 2018 tentang pemajuan kebudayaan Melayu. Peraturan ini antara lain bertujuan: a) mengembangkan nilai-nilai luhur budaya bangsa, b) memperkaya keberagaman budaya, c) memperteguh jati diri bangsa, d) memperteguh persatuan dan kesatuan bangsa, e) melestarikan warisan budaya bangsa. Bahwa kebudayaan Melayu merupakan warisan sejarah dan budaya yang terwujud dalam rentang waktu yang berabad-abad dan kemudian menjadi ruh, semangat dan filoofi hidup masyarakat Melayu dalam menjalani kehidupannya di Kota Batam, karena itu nilai-nilai Melayu harus mampu diwujudkan di semua aspek kehidupan termasuk tempat hiburan, hotel, restoran, bandara, pelabuhan dan tempat perbelanjaan wajib untuk memperdengarkan musik dan lagu melayu kepada pengunjung dan wisatawan. Termasuk menyediakan makan melayu bagi pengelola hotel.
Pada peraturan daerah ini juga mewajibkan bagi pengelola bandara, pelabuhan dan tempat-tempat pelayanan publik lainnya untuk mempergunakan bahasa Melayu dalam memberikan informasi publik. Contoh di Bandara Hang Nadim, bila selama ini informasi publik disampaikan dalam dua bahasa yakni Indonesia dan Inggris, maka nanti ditambah bahasa melayu. Dan juga setiap sekolah, harus ada mata pelajaran muatan lokal yang berisi kearifan lokal Melayu, maupun seni dan budaya Melayu. Hal ini sejalan dengan Rudy, yang menyatakan kearifan lokal merupakan koleksi fakta, konsep, kepercayaan dan persepsi masyarakat ihwal dunia sekitar.164 Kearifan lokal itulah yang merupakan pelajaran tersembunyi yang selama ini belum banyak dipahami oleh masyarakat luas.
Rasyidin dan Batubara mengklasifikasikan kearifan lokal ke dalam lima bentuk yaitu (1) kearifan yang berupa pandangan hidup (filosofi), (2) kearifan berupa sikap hidup sosial, nasihat dan iktibar yang diungkap dalam bentuk pepatah, perumpamaan, pantun, syair atau cerita rakyat (foklor), (3) kearifan dalam seremoni atau upacara adat, (4) kearifan berupa prinsip, norma dan tata aturan yang terwujud menjadi sistem sosial. (5) kearifan berupa kebiasaan, perilaku sehari-hari dalam pergaulan sosial.165 Dengan demikian, kearifan lokal merupakan nilai-nilai suci yang dikembangkan dan diwariskan secara turun temurun oleh suatu komunitas masyarakat.
163Dikutip dari: http://norhayatikarim.blogspot.com/p/asal-usul-bangsa-melayu.html, lihat juga http://kumpulansiswazahguru.blogspot.com/2011/12/asal-usul-bangsa-melayu.html. Tetapi sebagian pendapat menyebutkan bahwa Melayu merupakan rumpun daerah yang melingkari wilayah Sumatera, Malaysia, Singapura hingga Thailand.
164Rita Inderawati Rudy, “Mengangkat Peran Sastra Lokal Dengan Konsep Sastra Untuk Semua Bagi Pembentukan Katakter Bangsa” Dalam Idiosinkrasi, edisi (Novi Anoegrajekti dll) (Jakarta: Pusat Pengembangan Bahasa dan Budaya Universitas Negeri Jakarta dan Kepel Press, 2010), 51.
165Rasyidin and Batubara, Penyerapan Nila-Nilai Budaya Lokal Dalam Kehidupan Beragama Di Medan: Studi Tentang Budaya Lokal Di Medan, dalam Afif dan Bahri, Saeful, Harmonisasi Agama dan Budaya di Indonesia (Jakarta: Balitbang Kemenag, 2009).
152 Kearifan lokal Kota Batam tidak terlepas dari kearifan lokal etnis Melayu. Sebab orang Melayu memandang akal budi sebagai nyawa kehidupan. Jika hidup tanpa berbudi berarti bukan lagi orang Melayu Batam sebagai bagian penting Kepulauan Riau. Bagi orang Melayu Kepulauan Riau termasuk Melayu Kota Batam menganggap hidup berbudi sangat dijunjung tinggi, biarlah nyawa terlepas dari badan asalkan budi tidak hilang dari dalam diri.166 Betapa pentingnya kearifan lokal sehingga harus diajarkan, dilestarikan kepada anak cucu. Karena itu menurut Nyat Kadir, kearifan lokal harus diaplikasikan oleh orang Melayu dan orang yang dari suku atau etnik yang berbeda di Kota Batam tanpa meninggalkan kearifan lokal yang dibawa oleh masing-masing warga pendatang di Batam.167 lebih lanjut ia mengatakan walaupun Kota Batam memiliki kearifan lokal sendiri, namun masyarakat Melayu di Kota Batam tetap menerima dengan terbuka bahkan terkadang menggunakan kearifan lokal dari suku lain. Ini membuktikan bahwa masyarakat Kota Batam sadar akan keberagaman dan rasa persatuan dan kesatuan. Semua saling menjaga dan menghormati satu dengan lainnya.
Beberapa kearifan lokal yang memasyarakat dan diaktualisasikan oleh masyarakat MelayuKota Batam dan masyarakat Melayu di Kepulauan Riau secara turun temurun adalah sebagai berikut:
a. Gurindam Duabelas b. Pantun Melayu
c. Adat Bersandikan Syara’, Syara’ Bersandikan Kitabullah d. Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung
e. Berpancang Amanah Bersauh Marwah
f. Patah Tumbuh Hilang Berganti, Takkan Melayu Hilang di Bumi
Ini membuktikan bahwa nilai-nilai Islam sangat lentur dan tidak kaku, sehingga bisa bersenyawa dengan nilai-nilai kearifan lokal dalam menyempurnakan akhlak masyarakat Batam dan Kepri.168
166Tessa Dwi Leoni and Wahyu Indrawatti, “Muatan Kearifan Lokal Dalam Cerita Rakyat Kepulauan Riau,” Jurnal Kiprah Universitas Maritim Raja Ali Haji 5, no. 2 (July 2017): 63.
167Lebih lanjut Nyat Kadir menjelaskan bahwa masyarakat Batam dapat tumbuh dan berkembang pesat tiada salah satu faktornya karena masyarakatnya sangat menjunjung tinggi nilai kearifan lokal Melayu. Nilai kearifan lokal yang berbasis Islam memiliki dampak positif terhadap kehidupan berbudaya di tengah masyarakat yang modern saat ini. Wawancara via telepon tanggal 10 November 2020. Lihat juga “InfoPublik - Nyat Kadir Kembali Pimpin LAM Kota Batam,” Diakses 10 November 2020 http://infopublik.id/read/195008/nyat-kadir-kembali-pimpin-lam-kota-batam-.html?show=.
168Asyari Abbas, Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kepri lebih jauh menyatakan bahwa nilai-nilai kearifan lokal di Kepri semakin terbatukan dan sempurna dengan ditemukannya titi singgung yang kental dengan nilai-nilai Islam. Sehingga budaya Islam terserap ke dalam budaya lokal di Kepri hingga mencapai bentuk seperti sekarang ini sebagai negeri Melayu yang identik dengan Islam. Menurut Asyari Abbas, penyebaran Islam di Kepri awalnya denan memperkenalkan melalui keunggulan akhlak dengan keagungan budi pekerti. Ulama sangat berperan dalam penyebaran Islam di Kepri dengan menggunakan metode pendekatan hati, perasaan dan kemuliaan akhlak (tasawuf). Akan tetapi Asyari Abbas menilai bahwa nilai-nilai Islam dan kearifan lokal di Provinsi Kepri
153 f. Gurindam Duabelas
Gurindam adalah sebuah bentuk karya sastra yang berupa sajak dengan 1 baitnya ada 2 baris dan isinya berupa nasehat atau petuah.169 Sdangkan menurut Sutan Takdir Alisyahbana, Gurindam sajak dua baris yang terbentuk dari kalimat majemuk.170 Sedangkan menurut Raja Ali Haji, Gurindam adalah puisi yang terdiri dari dua baris saja dalam satu bait.171
Gambar: Gurindam Duabelas Ciptaan Raja Ali Haji
Sedangkan Gurindam Dua Belas adalah gurindam yang terdiri dari dua belas pasal yang berbentuk nasehat hidup dan panduan moral, yang ditulis oleh Raja Ali Haji di pulau Penyengat tanggal 23 Rajab hari selasa pukul 5 sore tahun 1263/1846 M dalam usia sekitar 38 tahun.172 Raja Ali Haji (1809-1970) yang dilahirkan di pulau Penyengat, Kepulauan Riau adalah seorang tokoh dan pejuang Melayu pada zamanya yang sangat perhatian terhadap perubahan sosial politik yang dialami masyarakat Melayu pada abad ke-18 dan ke-19 dan karya-karya yang dihasilkanya berakar dengan kuatnya dalam tradisi Melayu dan Islam serta mencerminkan usahanya yang sungguh-sungguh mengenai konsep
mulai luntur dan pudar, seiring perkembangan globalisasi. Perkembangan globalisasi dan hadirnya industrialisasi di Kepri menyebabkan pergeseran terhadap nilai-nilai yang selama ini dipraktekkan masyarakat dan nilai-nilai diusung oleh Islam. Kondisi ini mempengaruhi budaya lokal dan terbangun kultur dan karakter baru yang serba hedonistik, materialistik, dan induvidualistik. Pergeseran nilai-nilai kearifan lokal dan nilai-nilai Islam oleh budaya asing yang tidak senyawa, mengubah karakter dan menyebabkan terjadinya degradasi moral masyarakat. Untuk itulah akar budaya dan kearifan lokal perlu diperdalam untuk mencari titik temu antara nilai-nilai Islam dan asing. Agar nilai-nilai Islam tetap memasyarakat, dan tidak tergeser dengan nilai-nilai asing yang tidak sejalan dengan kearifan lokal. Lihat http://batamekbiz.com/kepri-miliki-lima-kearifan-lokal/. Diakses 20 Desember 2019.
169Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia.
170Sutan Takdir Alisyahbana, Seni Dan Sastra: Di Tengah-Tengah Pergolakan Masyarakat Dan Kebudayaan, Cet. 2 (Jakarta: Dian Rakyat, 2008), 28.
171H.M Hatta, Pesan-Pesan Tasawuf Dalam Gurindam Dua Belas Karya Raja Ali Haji (Pekanbaru: Unri Press Pekanbaru, 2007), 70.
172Hatta, 74. Lihat juga Abu Hasan Syam, Puisi-Puisi Raja Ali Haji (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia, 1993) 90.
154 religiusitasnya.173 Nama Lengkap Raja Ali Haji adalah Raja Ali al-Hajj ibni Raja Ahmad al-Hajj ibni Raja Haji Fisabilillah bin Opu Daeng Celak alias Engku Haji Ali ibni Engku Haji Ahmad Riau. Ia dilahirkan pada tahun 1808 M di pusat Kesultanan Riau-Lingga di Pulau Penyengat (kini masuk dalam wilayah Kota Tanjung Pinang Provinsi Kepulauan Riau).
B Watson Andaya juga menulis bahwa kemampuan dan keahlian Raja Ali Haji dalam hal-hal keagamaan, silsilah, sejarah, hukum adat, dan kesastraan menyebabkan reputasi dan prestisenya cukup tinggi dikalangan masyarakat dan dipandang sebagai cendikiawan muslim yang taat dan fanatik. Hal itu dibuktikan dengan karya-karya besarnya yaitu Gurindam Dua Belas, Bustanul al-Katibin,
Mukadimah fi Intizam Waza’if Haji Malik, Samratu I-Muhimmati/Tharamat Muhammah, Kitab Pengetahuan Bahasa, Tuhfat Nafis, Syair Kitab/Hukum al-nikah/Syair Suluh Pegawai, Syair Siti Sianah/Jawharat al-makmunah, Syair Sinar Gemala Mestika Alam, Syair Hukum Faraid, Syair Awal, Silsilah Melayu dan
Bugis dan Segala Raja-Rajanya.174 Selain karya di atas, Raja Ali Haji juga menulis buku panduan dalam mengurus kerajaan yaitu Al-Wusta, Al-Qubra, Al-Sugra dan Peringatan Sejarah Negeri Johor.175
Hal yang cukup menarik adalah pemilihan angka dua belas itu. Tidak diperoleh data atau informasi yang jelas tentang angka tersebut. Ada beberapa kemungkinan Raja Ali Haji memilih angka dua belas antara lain: Pertama, angka tersebut adalah angka hikmat baginya, atau ada rahasia tersendiri yang hanya beliau yang mengetahuinya. Kedua, setelah direncanakan tentang pokok-pokok pikiran yang akan beliau tuliskan, maka terhentilah pada dua belas, pokok sebagaimana tertera dalam gurindam dua belas. Ketiga, karena memang beliau menginginkan gurindam itu bernama gurindam dua belas. Keempat, kemungkinan beliau mendapat ilham dari pengarang, pujangga, atau penyair lain seperti al-Ghazali yang di dalam tulisannya selalu menggunakan urutan-urutan dalam menyampaikan pokok-pokok pikirannya.176
Teks Gurindam Dua Belas177 terdiri dari dua bahasa yaitu Arab Melayu dan Terjemahan dari Arab Melayu . Teks Arab-Melayu178 adalah sebagai berikut:
Gbr: 2.a.1
Teks Asli Gurindam Dua Belas Pasal 1-4
173 B. Watson Andaya di kutip Anthony Reid, Sejarah Modern Awal Asia Tenggara Sebuah Pemetaan (Jakarta: Pustaka LP2ES Indonesia, 1983), 98.
174 Lihat E.Ulrich Kratz, dalam “Korpus Teks Sastra Melayu Tradisional,” https://www.google.com/search?sxsrf=ALeKk02cexib2L8C-ulrich+kratz,+korpus+teks+ sastra+melayu+tradisional&tbm=703.
175Dahlan, Sejarah Melayu, 513.
176Hatta, Pesan-Pesan Tasawuf Dalam Gurindam Dua Belas Karya Raja Ali Haji, 75. Lihat juga Abu Hasan Sham, 89.
177Raja Ali Haji, Gurindam Duabelas (Pekanbaru: Unri Press Pekanbaru, 2003), 1– 12.
178Raja Ali Haji, Gurindam Dua Belas (Lingga: Pejabat Kerajaan Lingga, 1311M), 1–7.
155 Gbr: 2,a.2
Teks Asli Gurindam Dua Belas Pasal 5-8
Gbr: 2.a.3
156 Gurindam Duabelas karya sastrawan Melayu pada awal abad 19, Raja Ali Haji, merupakan kebijaksanaan lokal (local wisdom) masyarakat Melayu-Bugis. Sebagai akar dari sastra Melayu yang tertulis, Gurindam Dua Belas membahas persoalan akidah dan tasawuf, pendidikan Islam meliputi: rukun Islam, budi pekerti atau akhlak, serta konsep pemerintahan. Gurindam yang terdiri dari kata pengantar dan 12 pasal yang berisikan penjelasan mengenai berbagai kehidupan manusia. Tiap-tiap pasalnya berisikan nasehat yang menyentuh jiwa dan kesadaran masyarakat. Di dalamnya berisi pandangan filosofis budaya Melayu yang mengurat akar dengan ajaran agama Islam. Raja Ali Haji menekankan pentingnya agama untuk dipegang oleh seseorang. Hanya orang-orang yang beragama yang namanya pantas untuk disebutkan. Kemudian penekanan pentingnya memegang teguh agama.
Budaya tutur orang Melayu begitu kental, sehingga banyak karya yang anonim. Bahkan sebelum abad 19 hanya sedikit yang mengetahui siapa yang mengarang, menyalin, serta mencipta kata-kata mutiara. Menurut Hendrik M.J. Maier, mengatakan bahwa Raja Ali Haji adalah pengarang Melayu pertama yang mulai membuka tabir anonim sastrawan Melayu.179
Gurindam Dua Belas yang tersusun secara tertib dan indah jika dilihat lebih jauh mengandung nilai-nilai pendidikan Islam. Hal ini disebabkan karena beliau bukanlah sastrawan murni, melainkan juga seorang ulama yang membimbing umatnya ke jalan Islam yang benar. Raja Ali Haji memang tidak memberi judul karyanya tersebut dengan pendidikan atau pengajaran karena jangkauan makna Gurindam Dua Belas lebih luas dari itu. Namun demikian isi yang terkandung dalam Gurindam Dua Belas penuh dengan nilai-nilai pendidikan dan pengajaran. Menurut Zayadi sebagaimana dikutip Majid bahwa nilai yang berlaku dalam pranata kehidupan manusia digolongkan menjadi dua macam180, antara lain nilai ilahiyah dan nilai insaniyah. Dengan kata lain bahwa Gurindam Dua Belas secara umum mengandung nilai-nilai Ilahiyah dan nilai insaniyah.
Berikut ini teks dalam Pasal kesatu Gurindam Duabelas dalam bahasa Melayu-Indonesia serta integrasi nilai-nilai pendidikan Islam didalamnya serta nilai ilahiyah dan insaniyah yang terkandung dalam Gurindam Duabelas, serta berisikan ajaran budi pekerti atau nasehat keagamaan.181yakni sebagai berikut:
179Hendrik M.J. Maier, Forms of Censorship in the Dutch Indies: The Marginalization of Chinese-Malay Literature, volume edisi spesial, Dalam Indonesia (Amerika Serikat: Cornell Southeast Asia Program, 1991), 67–82.
180Abdul Majid, Strategi Pembelajaran (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2013), 93.
181E. Kosasih, Dasar-Dasar Keterampilan Bersastra (Bandung: Yrama Widya, 2012), 17.
157 Inilah Gurindam Duabelas.182
Pasal kesatu :
Barang siapa tiada memegang agama, Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama
Makna dan nilai yang terkandung di dalamnya adalah bahwa agama itu amat penting. Tidak ada agama kalau tidak ada akal. Hal ini sejalan dengan sabda Rasul yang mengatakan bahwa “Agama itu ada, tidak ada agama bagi orang yang
tidak berakal”. Jadi orang yang tidak beragama sama dengan hewan. Sedangkan
agama yang dikehendakinya disini adalah Islam. Firman allah “Berpegang
teguhlah kamu pada tali Allah (agama Allah), dan jangan bercerai berai”. Sejalan
juga dengan firman Allah dalam QS. Az-Zariyat ayat 56.183
Barang siapa mengenal yang empat, Maka ia itulah orang ma’rifat
Makna dan nilai yang terkandung di dalamnya adalah bahwa untuk mencapai kesempurnaan hidup, manusia harus mengenal empat ajaran dalam Islam yang ada ajaran tasawuf yakni syari’at, ma’rifat, tarikat, dan hakekat. Bilamana manusia telah memahami keempat ajaran ini dengan baik, maka hidup akan semakin terang dan disertai dengan was-was sedikitpun. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwatkan HR.Bukhari.184
Barang siapa mengenal Allah,
Suruh dan tegaknya tiada ia menyalah
Makna dan nilai yang terkandung di dalamnya adalah bahwa apabila kita sudah mengenal Allah sebagai sang pencipta, maka manusia sebagi makhluk
182 Teks Gurindam Duabelas di atas, dapat juga dilihat dari beberapa buku referensi antara lain: Raja Ali Haji dan Karyanya yang ditulis oleh Pusat Pengajian Bahasa dan Kebudayaan Melayu, Universitas Riau, 1995/1996 hal. 33, dalam kitab Gurindam Duableas dan Sejumlah Sajak Lain. Oleh Hasan Junus, Pustaka Riau, 2000 hal.1, Juga dalam Hasan Yunus, Raja Ali Haji Budayawan di Gerbang Abad ke 18, UIR Press, 1998 hal.215, Demikian pula Nofmiyati menulis dengan judul Nilai-Nilai Pendidikan Moral Dalam Gurindam Duabelas, 2002, hal.78.
183Allah Swt berfirman:
نو د بْعَي ل الَّ إَسْن ْلۡا َوان جْلا تْقَلَخاَم َو
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. Salah satu tugas manusia adalah beribadah dan mengabdi hanya kepada Allah sang pencipta manusia.184 Hadits Rasulullah Saw yang diriwayatkan Bukhari:
ًقْي ِرَطِهِبُهَلُهلل َلاَّهَس،اًمْلِعِهْيِفُسِمَتْلَياًقْي ِرَطَكَلَسْنَم
ِةَّنَجْلاىَلِإا
“Barang siapa menelusuri jalan untuk mencari ilmu padanya, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim). Hadits lainnya adalah:
ْرِد َلا َوا ًراَنْيِدا ْوُث ِر َوُيْمَلَءاَيِبْنَ ْلأاَّنِإ َوِءاَيِبْنَ ْلأاُةَث َر َوُءاَمَلُعْلَا ٍرِفا َو ٍظَحِبَذَخَأُهَذَخَأْنَمَف،َمْلِعْلاا ْوُث َّر َوْنِكَل َو،اًماَه
“Para ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham, tetapi mewariskan ilmu. Maka dari itu, barang siapa mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang cukup.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah; dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 6297).
158 ciptaan-Nya harus tunduk dan patuh atas segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Manusia diciptakan di bumi tiada lain untuk mengabdi kepada Allah Swt. Allah Allah berfirman dalam QS. Az-Zariyat: 56. 185
Barang siapa mengenal diri,
Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri
Makna dan nilai yang terkandung di dalamnya adalah bahwa manusia yang mengenal dirinya maka ia mengenal Tuhan-Nya. Sebaliknya jika manusia tidak mengenal dirinya, maka ia pun tidak mengenal Tuha-Nya.186
Barang siapa mengenal dunia, Tahulah ia barang yang terpedaya
Makna dan nilai yang terkandung di dalamnya adalah bahwa untuk mengenal kebesaran Allah melalui makhluk manusia yang diciptakan dengan sempurna. Manusia yang hidupnya hanya semata-mata mencari kebahagian dunia, dan meninggalkan kebahagian akhirat maka sesungguhnya ia telah tertipu sebab dunia ini sesaat.
Barang siapa mengenal akhirat, Tahulah ia dunia mudhara.
Makna dan nilai yang terkandung di dalamnya adalah bahwa hidup di dunia hanyalah sesaat sedangkan tempat kembali sesungguhnya adalah akhirat. Namun sebelum kita kembali tempat peristrahatan terakhir yaitu akhirat maka persiapkanlah bekal sebanyak-banyaknya di dunia ini. Sebab setiap manusia akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat kelak.
Uraian dan penjelasan pasa-pasal lain Gurindam Duabelas ini dapat dilihat pada halaman lampiran disertasinya.
185 Allah Swt menegaskan dalam firmannya dalam QS. Az-Zariyat: 56 yang berbunyi:
ِنوُدُبْعَيِل َّلاِإَسْنِ ْلإا َوَّن ِجْلاُتْقَلَخاَم َو “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.
186
Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhamad al-Ghazali dalam kitabnya Kîmiyâ’us Sa‘âdah mengatakan bahwa mengenal diri (ma‘rifatun nafs) adalah kunci untuk mengenal Allah. Logikanya sederhana: diri sendiri adalah hal yang paling dekat dengan kita; bila kita tidak mengenal diri sendiri, lantas bagaimana mungkin kita bisa mengenali Allah? Imam al-Ghazali juga mengutip hadits Rasulullah “man ‘arafa nafsah faqad ‘arafa rabbah” (siapa yang mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya). Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Fusshilat ayat 53 yang berbunyi:
َل َنَّيَبَتَي ؟ىَّتَح ْمِهِسُفْنَأ يِف َو ِقاَف ْلآا يِف اَنِتاَيآ ْمِهي ِرُنَس
ُهَّنَأ ْمُه
ُّقَحْلا
Artinya: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di dunia ini dan di dalam diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar.”
159
g. Pantun Melayu
Secara harfiah, Sastra (Sanskerta: shastra) merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta ‘Sastra’, yang berarti "teks yang mengandung instruksi" atau "pedoman", dari kata dasar ‘Sas’ yang berarti "instruksi" atau "ajaran" dan ‘Tra’ yang berarti “alat” atau “sarana”. Sastra bisa juga dikenal dengan istilah Kesusastraan.187 Menurut Semi, bahwa sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya menggunakan bahasa sebagai mediumnya.188 Sedangkan menurut Esten, bahwa sastra atau kesusteraan adalah pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia.189 Begitu Sudjiman mengungkapkan bahwa sastra sebagai karya lisan atau tulisan yang memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keorisinalan, kearitistikan, keindahan dalam isi dan ungkapan.190
Setiap bangsa pada umumnya memiliki bentuk pengucapan puitik yang disukai untuk menyampaikan alam pikiran, perasaan, dan tanggapan mereka terhadap kehidupan yang mereka hayati. Orang Jepang memiliki tanka dan haiku, dua ragam pengucapan puitik yang ringkas dengan aturan tertentu. Di Eropa soneta dan kuatrin merupakan bentuk puisi lama yang disukai orang Italia, Perancis, Inggeris, dan lain-lain. Orang Persia menyukai rubaiyat dan ghazal, dua bentuk puisi empat baris dengan aturan dan keperluan berbeda. Orang Melayu memilih pantun dan syair, sekalipun bentuk pengucapan lain seperti gurindam dan taromba (bahasa berirama) juga cukup disukai. Yang terakhir ini mirip dengan mantera.