BAB II PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DAN INTERAKSI
B. Konsep Nilai Agama Dalam Pendidikan Islam
1. Melayu Dalam Multikultural di Batam
Pada dasarnya globalisasi mempengaruhi hampir semua aspek yang ada pada masyarakat, termasuk di dalamnya aspek kearifan lokal di berbagai daerah, tak terkecuali di Batam. Pada era globalisasi ini, budaya-budaya dunia saling berbagi dan berebut pengaruh, dan terjadi dengan sangat cepat dan mudah150, oleh Yasrif Piliang151 kecepatannya seperti melipat kertas. Mengingat globalisasi merupakan sebuah keniscayaan yang tidak dapat dihindari, yang harus dilakukan menurut Qodri Azisy adalah respon, bukan lari menjauhi.152
147Wawancara, Chablullah Wibisono. Ketua Forum kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Batam tanggal 9 Desember 2019.
148Wawancara, I Wayan Catra Yasa, Ketua Ikatan MAsyarakat Hindu-Bali Kota Batam tanggal 10 Desember 2019.
149Bawa J. Wayan, Apa Yang Di Maksud Ajeq Bali (Denpasar, 2003), 4.
150Syamsul Kurniawan, “Globalisasi, Pendidikan Karakter, dan Kearifan Lokal yang Hybrid Islam pada Orang Melayu Kalimantan Barat,” Jurnal Penelitian 12, no. 2 (August 1, 2018): 318.
151 Lihat Yasraf Amir Piliang, “Dunia Yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebudayaan,” 2011.
152Ahmad Qodri A Azizy, Melawan Globalisasi: Reinterpretasi Ajaran Islam: Persiapan SDM Dan Terciptanya Masyarakat Madani (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), vii.
148 Pada era globalisasi ini orang Melayu Islam di Batam dihadapkan pada tantangan yang lebih kompleks, antara lain bagaimana mempertahankan kearifan lokalnya di tengah-tengah pluralisme agama dan budaya yang semakin tak terbendung. Betapa pengaruh globalisasi yang sangat cepat, fundamental dengan mengacak-acak pola tatanan lama dan mendorong munculnya tatanan baru akibat kemajuan teknologi informasi dan komunikasi saat ini. Melihat kenyataan ini, orang Melayu Islam di Batam harus mampu menghadapi tantangan tersebut dengan baik dan bijak agar tidak tergerus jati dirinya sebagai bagian dari jati diri bangsa Indonesia yang berkearifan lokal.153
Dalam posisi seperti ini, maka orang-orang Melayu di kota Batam nampaknya memiliki karakter yang kuat, yakni karakter untuk menjaga kelestarian budayanya di tengah-tengah pluralisme budaya di Kota Batam. Hal ini sesuai dengan pendapat Lickona, bahwa inti dari pendidikan karakter adalah membangun karakter seseorang sehingga mengetahui kebaikan (knowing the good), dan mencintai kebaikan (desiring the good), dan melakukan kebaikan (doing the
good).154 Dengan demikian, orang Melayu Islam telah mengimplemetasikan di
dalam masyarakat di Kota Batam bahwa pendidikan karakter tidak seharusnya hanya mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, tetapi lebih dari itu yaitu menanamkan kebiasaan (habituation) tentang yang baik, sehingga seseorang mengetahui, menyukai dan terbiasa melakukan kehidupan yang rukun, toleran dan hidup dengan penuh keberagaman di dalam masyarakat di Kota Batam.
Karena hakikat pendidikan, bertujuan membantu seseorang untuk menjadi cerdas dan pintar (smart) dan sekaligus menjadi orang yang baik (good).155 Di samping itu, pendidikan karakter yang diberikan diharapkan dapat memperbaiki karakter buruk dari seseorang, seperti suka meremehkan, suka menerabas, mengabaikan tanggung jawab, hipokrit, beretos kerja rendah, suka menerabas, tidak punya rasa malu, dan semacamnya.156 Jika karakter seperti ini dimiliki oleh bukan saja orang Melayu di Batam sebagai masyarakat tempatan memilikinya tetapi juga dimiliki oleh seluruh masyarakat pendatang, maka terciptalah masyarakat yang aman, damai dan jauh dari konflik-konflik sosial. Sebab salah satu kerawanan dari sebuah masyarakat plural adalah menyimpan potensi konflik yang cukup besar, sehingga semua pihak harus menjaganya secara bersama-sama.
Kota Batam dengan pluralitas agama, budaya dan suku merupakan ciri tersendiri dari Kota Batam yang dikenal sebagai kota bandar madani.
Menurut Martodirdjo terjadinya pluralitas masyarakat Indonesia secara horizontal dalam bentuk keanekaragaman suku bangsa, pertama terpulang pada
153Wawancara dengan Saparuddin Muda, Pendiri Persatuan Pemuda Tempatan (Perpat) Provinsi Kepri tanggal 11 Desember 2019.
154Thomas Lickona, “Educating for Character: HowOur School Can Teach Respect and Responsibility,” Bantam Books, 2009.http://search.ebscohost.com/login.aspx?
direct=true&scope=site&db=nlebk&db=nlabk&AN=721446.
155Samrin, “Pendidikan Karakter (Sebuah Pendekatan Nilai),” Jurnal Al-Ta’dib 9, no. 1 (2016): 121.
156Retno Listyarti, Pendidikan Karakter Dalam Metode Aktif, Inovatif Dan Kreatif (Jakarta: Erlangga, 2012), 8.
149 kondisi atau karakteristik lingkungan fisik geografis dan klimatologis keseluruhan wilayah Indonesia sangat bervariasi termasuk di dalamnya Kota Batam. Di samping arealnya yang terdiri atas ratusan buah pulau kecil, kedua bersumber pada manusia Indonesia yang pada dasarnya merupakan migran dari luar daerah yang datang secara bergelombang mencari nafkah yang lebih baik di Kota Batam.157
Bila dilihat dari perspektif etnisitas (kesukubangsaan) yang mendiami Kota Batam adalah sangat unik sebab tidak ada suku bangsa yang dominan dalam pengertian bahwa penduduk yang mendiami Kota Batam sangat beranekaragam. Menurut Bruner bahwa wilayah suku bangsa wilayah perkotaan di Indonesia dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu wilayah perkotaan yang secara kebudayaan didominasi oleh sesuatu suku bangsa, contoh Batam dan kota lain yang tidak didominasi oleh sesuatu suku bangsa serta kebudayaannya.158 Di kota Batam para pendatang dari berbagai asal suku bangsa di Indonesia harus beradaptasi terhada budaya Melayu. Jadi pendatang bebas menggunakan kebudayaannya sendiri selama tidak mengganggu kebudayaan Melayu setempat sebagai kearifan lokal.
Di Kota Batam tidak ada kultur yang dominan, walaupun secara kasat mata nampak sangat banyak pendatang khususnya yang berasal dari Sumatera Utara, Sumatera Barat, namun semua pendatang tunduk dan patuh pada budaya Melayu sebagai budaya lokal dengan prinsip “dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung”. Penelitian yang dilakukan Suparlan di Sambas Kalimantan Barat misalnya juga menemukan bahwa adanya dua kebudayaan suku bangsa yang dominan yakni suku bangsa pendatang dan Melayu, namun mereka menghormati dan cenderung menjadi seperti Melayu atau seperti Dayak. Hal yang juga terkadi di Kota Batam, semua suku bangsa yang mendiami kota Batam menghormati kebudayaan lokal Melayu sebagai “payung” dalam berinteraksi antar warga dari berbagai suku bangsa.
Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, Masyarakat Kota Batam merupakan masyarakat heterogen yang terdiri dari beragam suku dan golongan. Beragam suku dan golongan itu antara lain, Melayu, Jawa, Batak, Minangkabau, Tionghoa, Bugis-Makassar, Flores dan beberapa suku dari Wilayah Indonesia Timur lainnya. Walaupun beragam suku dan golongan, namun masyarakat kota Batam sangat kondusif. Hal ini karena berpayungkan Budaya Melayu dan menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika dalam menggerakkan kegiatan ekonomi, sosial politik serta budaya dalam masyarakat. Dari data statistik Kota Batam diketahui komposisi masyarakat Kota Batam berdasarkan etnis adalah etnik Jawa (26,78%), Etnik Melayu (17,61%), Etnik Batak (14,97%), Minangkabau (14,93%), Tionghoa (6,28%), Bugis-Makassar (2,29%), Banjar (0,67%), lain-lain (Flores, Bali, Maluku, dan sebagainya (16,47%).159 Dengan kata lain, Etnik Melayu sebagai etnik lokal jauh lebih kecil (17,61%) dibanding etnik pendatang dari berbagai daerah di Indonesia sebanyak (82,39%). Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat
157Haryo Martodirdjo, Hubungan Antar Etnik (Lembang: Sespim POLRI, 2000).11 158 Lihat Parsudi Suparlan, Kemiskinan Di Perkotaan (Jakarta: Yayasan Obor, 2004), 32.
150 kota Batam sangat majemuk. Kemajemukan itu dikenali dari keanekaragaman budaya, adat, suku, ras, bahasa bahkan agama. Kemajemukan ini juga merupakan kekayaan yang sangat besar nilainya sehingga harus di jaga dan dipertahankan.
Menurut Azyumardi Azra bahwa heterogenitas budaya akan membawa kita pada kekayaan budaya yang berguna bagi pengembangan pengetahuan. Indonesia punya potensi yang sangat kaya dengan kebudayaan, kemanusiaan. Bahkan homogenitas masyarakat dan agama tak menjamin sebuah bangsa-negara dapat hidup tanpa konflik. Dilihat dari jejak sejarah, hal itu terjadi pada dunia barat. Sedangkan Indonesia tak pernah memiliki konflik agama maupun suku bangsa yang terjadi secara berkepanjangan. Bahkan situasi seperti itu tercipta sejak nama Indonesia belum disematkan. Karena watak budaya Indonesia adalah watak budaya yang toleran, watak budaya akomodatif dan saling menerima. Bangsa Indonesia juga kaya dengan kearifan lokal yang membuat satu suku bangsa.160
Di samping kemajemukan budaya dan etnik, masyarakat Kota Batam juga memiliki beragama agama dengan komposisi yakni Islam (76,69%), Kristen (17,02%), Budha (5,79%), Katolik (3,32%), Hindu (0,40%), dan Konghucu (0,12%).161 Keberagaman agama dan budaya masyarakat kota Batam juga tidak lepas dari kesadaran bahwa kebudayaan merupakan pencerminan karakteristik dari suatu masyarakat, sehingga masyarakat dan kebudayaan sangatlah erat kaitannya, sebab tidak ada satu pun masyarakat yang tidak mempunyai kebudayaan. Karena nilai-nilai budaya itu tumbuh dari masyarakat itu sendiri.
Menurut Nurdin Basirun, untuk kerukunan di dalam masyarakat harus ada konektivitas hati bagi semua masyarakat yang heterogen.Tanpa membangun konektivitas hati, tak mungkin membawa Kepulauan Riau (Kepri) sukses. Oleh karena itu mari jadikan Kepri sebagai rumah dan surga untuk anak cucu kita.162
2. Nilai Agama dan Budaya Dalam Kearifan Lokal Melayu di Batam