SPM Kesehatan terkait
1. Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K1 K4 (Indikator no 1 SPM Kesehatan).
Penjelasan dari indikator ini adalah tenaga kesehatan (nakes) harus memastikan bahwa ibu hamil harus konsultasi K4 (periode ke 4 dalam masa kehamilan) dan mendapat layanan yang
sesuai standar. Umumnya ibu hamil di pedesaan jarang sekali bersedia datang ke Puskesmas untuk kunjungan K4, karena jika merasa tidak ada masalah, maka dianggap janin dan dirinya sehat- sehat saja. Padahal untuk memastikan kesehatan dan tidak adanya gangguan pada proses persalinan ibu hamil, kunjungan K4 menjadi sangat penting sekali. Selain itu juga dalam kunjungan K4 harus dipastikan semua standar pelayanan bagi ibu hamil dipenuhi oleh nakes.
Untuk memenuhi indikator 1 ini, setidaknya diperlukan sejumlah kegiatan yang perlu diketahui oleh bumil maupun masyarakat pada umumnya karena merupakan hak masyarakat yang wajib diketahui dan diperoleh oleh bumilserta merupakan kewajiban bagi pemerintah daerah (Dinas
Kesehatan dan jejaringnya) yang harus dilakukan, sebagai berikut:
a. Pengadaan buku KIA berikut stiker P4K Buku KIA (kesehatan Ibu Anak) adalah buku untuk mencatat dan memantau kesehatan ibu dan anak sejak ibu hamil sampai dengan selesai masa nifas dan anaknya sejak lahir hingga berusia 5 tahun. Tenaga kesehatan yang memeriksa ibu hamil harus memberikan buku KIA kepada setiap ibu hamil atau setiap anak, menganjurkan untuk membaca isi buku KIA dan mengingatkan pada ibu hamil untuk selalu membawa buku KIA kemana saja setiap pergi ke pelayanan kesehatan.
Buku KIA merupakan alat untuk mendeteksi secara dini adanya gangguan atau masalah
kesehatan ibu dan anak, alat komunikasi dan penyuluhan dengan informasi yang penting bagi ibu, keluarga dan masyarakat mengenai pelayanan kesehatan Ibu dan anak termasuk rujukannya dan paket (standar) pelayanan KIA, gizi, imunisasi, dan tumbuh kembang balita Dengan buku KIA pemeriksaan dapat dilakukan dimana saja, mulai dari posyandu, poskesdes, pustu, puskesmas, rumah sakit dan klinik-klinik swasta sesuai dengan registrasi kohort ibu hamil.
b. Pelayanan Antenatal sesuai standar; Pelayanan kesehatan bagi bumil setiap kali kunjungan, setidaknya empat kali, selama masa kehamilan sampai sebelum persalinan yang harus dilakukan oleh petugas kesehatan yaitu :
• Menimbang berat badan dan ukur tinggi badan • Mengukur tensi / tekanan darah
• Mengukur tinggi fundus uteri
• Memberikan tablet FE untuk tambah darah • Memberikan suntikan tetanus toksoid • Melakukan tes laboratorium (Hb, protein,
reduksi) dan tes PMS (penyakit menular seksual) yang terindikasi
• Mencatat perkembangan kehamilan dalam buku KIA
c. Kunjungan rumah oleh tenaga kesehatan setempat bagi bumil yang drop out, yaitu kunjungan nakes kepada bumil yang tidak memenuhi jadual kunjungan K4 satu kali dalam trimester I, satu kali dalam trimester II dan dua kali dalam trimester III), sehingga terjadi
Drop Out K4. Dalam kunjungan tersebut nakes melakukan pemeriksaan antenatal sesuai standar yang diperlukan.
d. Pelatihan Kelas Ibu termasuk KIP (Komunikasi Interpersonal)/konseling diikuti kader kesehatan/ posyandu yang akan menjadi fasilitator dalam pelaksanaan kelas ibu hamil;
e. Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil
Kelas Ibu Hamil adalah kelompok belajar ibu-ibu hamil dengan umur kehamilan antara 4 minggu s/d 36 minggu (menjelang persalinan) dengan jumlah peserta maksimal 10 orang. Di kelas ini ibu-ibu hamil akan belajar bersama, diskusi dan tukar pengalaman tentang kesehatan Ibu dan anak (KIA) secara menyeluruh dan sistimatis serta dapat dilaksanakan secara terjadwal dan berkesinambungan. Kelas ibu hamil difasilitasi oleh bidan/tenaga kesehatan dengan menggunakan paket Kelas Ibu Hamil yaitu Buku KIA, Flip chart (lembar balik), Pedoman Pelaksanaan Kelas Ibu Hamil, Pegangan Fasilitator Kelas Ibu Hamil dan Buku senam Ibu Hamil.
Tujuan dari senam ibu hamil itu sendiri untuk meningkatkan pengetahuan, merubah sikap dan perilaku ibu agar memahami tentang Kehamilan, perubahan tubuh dan keluhan selama
kehamilan, perawatan kehamilan, persalinan, perawatan Nifas, KB pasca persalinan, perawatan bayi baru lahir, mitos/kepercayaan/ adat istiadat setempat, penyakit menular dan akte kelahiran.
2. Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi Kebidanan (Indikator no. 3 SPM Kesehatan).
Beberapa kegiatan untuk memenuhi indikator ini yang perlu diketahui masyarakat adalah:
a. Kemitraan Bidan – Dukun
Dalam rangka menurunkan kasus kematian ibu dan bayi, Menurut hasil penelitian dari 97 negara bahwa ada korelasi yang signiikan antara pertolongan persalinan dengan kematian ibu. Semakin tinggi cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan di suatu wilayah akan diikuti penurunan kematian ibu di wilayah tersebut. Pemerintah mempunyai kebijakan MPS (making pregnancy safer) dimana persalinan hendaknya ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih, sehingga dicari suatu bentuk sinergi kedua aktor tersebut, yaitu melalui kemitraan bidan dengan dukun.
Kemitraan bidan dengan dukun merupakan kerjasama bidan dengan dukun yang saling menguntungkan dengan prinsip keterbukaaan, kesetaraan, dan kepercayaan dalam upaya untuk menyelamatkan ibu dan bayi. Kemitraannya terjalin dimana bidan sebagai penolong persalinan dan mengalihfungsikan dukun dari penolong persalinan menjadi mitra dalam merawat ibu dan bayi pada masa nifas, dengan berdasarkan kesepakatan yang telah dibuat antara bidan dengan dukun, serta melibatkan seluruh unsur/elemen masyarakat yang ada.
Di dalam konsep kemitraan bidan dengan dukun ini, dukun bayi diberikan wawasan dalam bidang kesehatan ibu dan bayi baru lahir, terutama tentang tanda bahaya pada kehamilan, persalinan dan nifas serta persiapan yang harus dilakukan oleh keluarga dalam menyongsong kelahiran bayi. Bentuknya adalah pertemuan pembekalan dan magang bagi dukun. Dukun diberikan uang transport dan uang harian untuk mengikuti pertemuan dan magang tersebut, termasuk biaya akomodasi selama magang.
b. Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K)
P4K adalah suatu kegiatan yang difasilitasi oleh bidan di desa dalam rangka peningkatan peran aktif suami, keluarga dan masyarakat dalam
merencanakan persalinan yang aman dan persiapan menghadapi komplikasi bagi ibu hamil, termasuk perencanaan dan penggunaan KB pasca persalinan dengan menggunakan stiker P4K sebagai media notiikasi sasaran dalam rangka meningkatkan cakupan dan mutu pelayanan kesehatan bagi ibu dan bayi baru lahir.
Guna mencegah kematian ibu hamil dan bayi, masyarakat diharapkan ikut aktif dalam Kegiatan Perencanaan Persalinan dan Pencegahan
Komplikasi (P4K). Masyarakat ikut aktif mengawasi perkembangan kehamilan ibu hingga masa
persalinan, mulai dari pencatatan dan pelaporan kehamilan, kelahiran dan kematian ibu dan bayi, penggalangan donor darah, penyediaan ambulance
desa, penyediaan tabungan ibu bersalin dan pengumpulan dana sosial ibu bersalin. Biasanya ini dilakukan sebagai bagian dari Desa Siaga.
3. Cakupan pelayanan nifas (Indikator no. 4 SPM Kesehatan yang mendukung PA). Beberapa kegiatan yang perlu diketahui yang merupakan hak pasien (hak bulin dan bayi lahir) adalah:
a. Pelayanan Nifas sesuai standar, bagi ibu dan bayi baru lahir (neonatus).
Pelayanan kesehatan ibu nifas adalah pelayanan kesehatan sesuai standar pada ibu mulai 6 jam sampai 42 hari pasca bersalin oleh tenaga kesehatan. Nakes harus melakukan deteksi dini komplikasi pada ibu nifas dengan pemantauan pemeriksaan terhadap ibu nifas yaitu dengan melakukan kunjungan nifas minimal sebanyak 3 kali dengan ketentuan waktu :
• Kunjungan nifas pertama pada masa 6 jam sampai dengan 3 hari setelah persalinan. • Kunjungan nifas ke dua dalam waktu 2
minggu setelah persalinan (8 – 14 hari). • Kunjungan nifas ke tiga dalam waktu 6
minggu setelah persalinan (36 – 42 hari).
Pelayanan nifas yang diberikan adalah :
• Pemeriksaan tekanan darah, nadi, respirasi dan suhu.
• Pemeriksaan tinggi fundus uteri (involusi uterus).
• Pemeriksaan lokhia dan pengeluaran per vaginam lainnya.
• Pemeriksaan payudara dan anjuran ASI eksklusif 6 bulan.
• Pemberian kapsul Vitamin A 200.000 IU sebanyak dua kali, pertama segera setelahmelahirkan, kedua diberikan setelah 24 jam pemberian kapsul Vitamin A pertama. • Pelayanan KB pasca salin
Tenaga kesehatan yang dapat memberikan pelayanan kesehatan ibu nifas adalah dokter spesialis kebidanan, dokter, bidan dan perawat.
b. Pelayanan KB pasca persalinan
Untuk mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu (AKI), diperlukan upaya terobosan. Salah satunya adalah dengan peningkatan KB pasca persalinan, yaitu penggunaan metode kontrasepsi pada masa nifas sampai dengan 42 hari setelah melahirkan. Melalui program ini juga dapat mencegah kehilangan kesempatan ber-KB (missed opportunity). Upaya peningkatan KB pasca persalinan diperlukan mengingat kembalinya kesuburan perempuan pada keadaan pasca persalinan tidak terduga dan kadang dapat terjadi sebelum datangnya menstruasi. Rata- rata pada ibu yang tidak menyusui, ovulasi terjadi pada 45 hari pasca persalinan atau lebih awal. Dua dari tiga ibu yang tidak menyusui akan mengalami ovulasi sebelum datangnya menstruasi.Nakes wajib menganjurkan penggunaan KB pasca persalinan dan memberikan pelayanan di Puskesmas atau faskes lainnya.Metode KB pasca persalinan terbagi atas 2 jenis, yaitu:
(i) Non Hormonal
• Metode Amenore Laktasi (MAL) • Kondom
• Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) • Abstinensia (Kalender)
• Kontrasepsi Mantap (Tubektomi dan Vasektomi)
(ii) Hormonal
• Progestin: pil, injeksi ,dan implan • Kombinasi: pil dan injeksi
c. Kunjungan rumah bagi ibu nifas yang drop out.
Asuhan masa nifas penting diberikan pada ibu dan bayi, karena merupakan masa krisis baik ibu dan bayi. Enam puluh persen (60%) kematian ibu terjadi setelah persalinan, dan 50 persen kematian pada masa nifas terjadi pada 24 jam pertama setelah persalinan. Demikian halnya dengan masa neonatus juga merupakan masa krisis dari kehidupan bayi. Dua pertiga kematian bayi terjadi 4 minggu setelah persalinan, dan 60 persen kematian bayi baru lahir terjadi 7 hari setelah lahir. Untuk itu penting bagi nakes memantau bufas yang tidak melakukan kunjungan pasca salin sesuai jadual, dan nakes harus melakukan kunjungan rumah kepada bufas yang dropout.
4. Cakupan neonatus dengan komplikasi yang ditangani (indicator no. 5 SPM Kesehatan). Kegiatan untuk memenuhi indikator ini meliputi antara lain:
a. Deteksi dini bumil, bulin, dan bufas komplikasi dan pelayanan kesehatan pasca persalinan untuk ibu dan neonatal sesuai standar.
Kegiatan ini sejalan dengan kegiatan pelayanan
nifas sesuai standar pada indikator SPM no. 4 diatas, dimana tujuan kunjungan pemeriksaan pasca salin adalah untuk mendeteksi
kemungkinan komplikasi pasca salin dalam 3 kali kunjungan dan memberikan pelayanan kesehatan pasca salin sesuai standar.
b. Pemantauan untuk asuhan tindak lanjut bagi neonatus yang dirujuk.
Dalam setiap proses persalinan, nakes harus mengisi partograf secara lengkap yang mencakup identitas ibu, riwayat kehamilan, jalannya persalinan, kondisi ibu, kondisi janin dan kondisi bayi baru lahir. Hal ini penting untuk mendeteksi adanya komplikasi pada ibu, janin maupun bayi baru lahir dan untuk menentukan tindakan apa yang perlu dilakukan. Pada kasus bayi baru lahir dengan komplikasi, akan diberikan pelayanan penanganan komplikasi, misal asiksia atau gangguan pernafasan pada bayi akan dilakukan tindakan resusitasi. Pasca penanganan komplikasi pada bayi baru lahir atau neonatus ini perlu dilakukan pemantauan dan asuhan neonatal oleh nakes.
Untuk kasus asiksia, maka asuhan pasca pelayanan resusitasi dalam bentuk konseling dukungan dan perawatan kesehatan sesuai keadaaan setelah resusitasi, yaitu:
• Resusitasi Berhasil : Bayi menangis dan bernapas normal sesudah langkah awal atau sesudah ventilasi. Nakes perlu memberikan konseling dukungan moril dan melakukan pemantauan bayi minimal 2 jam pertama.
• Resusitasi belum/kurang Berhasil : Bayi perlu rujukan yaitu sesudah ventilasi 2 menit belum bernapas atau bayi sudah bernapas tetapi masih megap-megap atau pada pemantauan didapatkan kondisi nya memburuk.
• Resusitasi tidak Berhasil : Sesudah ventilasi 20 menit, bayi tidak bernapas.
c. Pelaksanaan dan Pemantapan Audit Maternal Perinatal (AMP).
Audit Maternal–Perinatal (AMP) adalah kegiatan penelusuran sebab kematian atau kesakitan ibu, perinatal, dan neonatal guna mencegah kesakitan dan atau kematian serupa di masa yang akan datang. AMP turut menjaga dan meningkatkan mutu pelayanan KIA di tingkat kabupaten/kota, provinsi, dan nasional melalui upaya penerapan tata kelola klinis yang baik (good clinical governance). AMP dilakukan dengan prinsip no name (tidak menyebutkan nama), no shame (tidak mempermalukan), no blame (tidak menyalahkan), dan no pro justisia (tidak untuk keperluan peradilan). Audit ini wajib dilakukan oleh faskes dan Dinas Kesehatan dengan melibatkan Tim Ahli (Spesialis, Bidan, Perawat, dan Dinas Kesehatan). Kegiatan ini dimaksudkan sebagai pembelajaran bagi semua pihak untuk mengevaluasi pelayanan yang telah dilakukan dan untuk melakukan perbaikan dari semua aktor: nakes, dinkes, bumil, keluarga, dan masyarakat sendiri. Kegiatan ini jarang dilakukan karena alasan anggaran yang minim.
5. Cakupan pemberian makanan pendamping ASI pada anak usia 6-24 bulan gakin (Indikator no. 9 SPM Kesehatan)
Masalah Gizi di Indonesia sampai saat ini masih memprihatinkan, terbukti tingginya angka kematian ibu, bayi dan balita serta rendahnya tingkat kecerdasan yang berakibat pada rendahnya produktiitas, pengangguran, kemiskinan dan akan menghambat pertumbuhan ekonomi. Hal ini mendasari masalah Gizi menjadi salah satu faktor penting penentu pencapaian Millenium Development Goals (MDG’s).
Banyak faktor yang menyebabkan masalah gizi kurang antara lain faktor ketersediaan pangan dalam rumah tangga, asuhan gizi keluarga dan akses keluarga terhadap pelayanan kesehatan. Posyandu merupakan bentuk Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) yang mempunyai daya ungkit yang besar dalam mengatasi masalah gizi kurang, menurunnya kinerja posyandu akan berdampak pada menurunnya status gizi. Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah telah mengeluarkan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No.411.3/1116/ SJ tentang revitalisasi posyandu yang merupakan upaya untuk meningkatkan fungsi dan kinerja posyadu. Untuk itu Pemerintah perlu menyediakan dukungan dana operasional posyandu.
Salah satu upaya mempertahankan status gizi bayi dan anak usia 6-23 bulan dan juga untuk mencegah keadaan gizi menjadi lebih buruk, disediakan Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI). MP-ASI tersebut khususnya bagi bayi dan anak usia 6-23 bulan dari keluarga miskin yang
berat badannya berdasarkan hasil penimbangan di posyandu tidak naik (T1).
Kegiatan untuk memenuhi indikator ini sesuai ketentuan SPM meliputi:
a. Pendataan sasaran, yaitu pendataan sasaran PWS KIA (Pemantauan Wilayah Setempat Kesehatan Ibu Anak) yang dilakukan oleh Puskesmas, meliputi Jumlah seluruh ibu hamil; Jumlah seluruh ibu bersalin; Jumlah ibu nifas; Jumlah seluruh bayi; Jumlah seluruh anak balita; dan Jumlah seluruh PUS (pasangan Usia Subur).
b. Pelatihan pemberian makanan bagi anak / konseling menyusui. Pelatihan diberikan kepada kader kesehatan/Posyandu yang nantinya akan menyampaikan kepada ibu-ibu menyusui. c. Pengadaan MP-ASI (makanan pendamping
ASI). Dinas Kesehatan memiliki kewajiban untuk melaksanakan pengadaan MP ASI. Jumlah pengadaan MP ASI mengikuti pendataan yang dilakukan oleh Puskesmas.
d. Penyimpanan MP-ASI. DInas Kesehatan harus memiliki tempat untuk menyimpan MP ASI dan mendistribusikan ke Puskesmas serta ke masing-masing bayi.
e. Distribusi sampai ke sasaran. Distribusi MP-ASI sampai ke sasaran memerlukan dukungan dana.
SOP terkait Sektor Dukungan Kinerja
Sedang untuk SOP sendiri terdapat 4 jenis SOP (Non teknis) yang digunakan sebagai acuan dan terkait dengan isu yang diusung oleh Kinerja, yakni: