• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prinsip dan Manfaat Pemberian IMB Pasal

Dalam dokumen f6a55204 638b 4758 ab59 a4bf84ba8560 (Halaman 137-141)

Pemberian IMB diselenggarakan berdasarkan prinsip:

(a). prosedur yang sederhana, mudah, dan aplikatif;

(b). pelayanan yang cepat, terjangkau, dan tepat waktu;

(c). keterbukaan informasi bagi masyarakat dan dunia usaha; dan

(d). aspek rencana tata ruang, kepastian status hukum pertanahan, keamanan dan keselamatan, serta kenyamanan.

Selanjutnya terkait dengan kejelasan persyaratannya

Pasal 9

(1) Pemohon mengajukan permohonan IMB sebagaimana dimaksud dalamPasal 6 melengkapi persyaratan dokumen:

a. administrasi; dan b. rencana teknis.

(2) Persyaratan dokumen administrasi

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:

a. tanda bukti status kepemilikan hak atas tanah atau perjanjianpemanfaatan tanah; b. data kondisi/situasi tanah (letak/lokasi dan

topograi);

c. data pemilik bangunan;

d. surat pernyataan bahwa tanah tidak dalam status sengketa;

e. surat pemberitahuan pajak terhutang bumi dan bangunan (SPPT-PBB)tahun berkenaan; dan

f. dokumen analisis mengenai dampak dan gangguan terhadap lingkungan,atau upaya pemantauan lingkungan (UPL)/upaya pengelolaanlingkungan (UKL) bagi yang terkena kewajiban.

(3) Persyaratan dokumen rencana teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi:

a. gambar rencana/arsitektur bangunan; b. gambar sistem struktur;

c. gambar sistem utilitas; d. perhitungan struktur dan/atau

bentang struktur bangunan disertai hasilpenyelidikan tanah bagi bangunan 2 (dua) lantai atau lebih;

e. perhitungan utilitas bagi bangunan gedung bukan hunian rumah tinggal;dan f. data penyedia jasa perencanaan.

5. Hak Warga dalam Pelayanan Publik berbasis Standar Pelayanan

Hal-hal mendasar yang penting untuk dipahami mengenai hak atas pelayanan seperti

pendidikan dan kesehatan antara lain,

(a). Pendidikan dan kesehatan merupakan hak seluruh warga Negara. Artinya, seluruh warga Negara, bahkan setiap orang berhak mendapatkan layanan pendidikan dan kesehatan dengan prinsip non diskriminasi, baik jenis kelamin, gender, Suku, Ras, Agama, juga kelas ekonomi, termasuk untuk warga Negara yang memiliki kebutuhan khusus (difable).

(b). Pendidikan dan kesehatan merupakan hak warga Negara, yang artinya pemerintah sebagai penyelenggara Negara wajib untuk menyelenggarakannya. Penyelenggaraan tersebut mencakup pendanaan, serta pelayanan publik untuk menyelenggarakan pendidikan dan kesehatan itu sendiri. Jelas bahwa pendanaan, maupun penyelenggaraan lainnya merupakan kewajiban dari pemerintah, dan bukan bantuan pemerintah. Hal ini merupakan perspektif yang harus dipahami oleh pemerintah dan seluruh warga Negara Indonesia. Bagaimanapun, dana yang diberikan pemerintah berasal dari pajak yang merupakan partisipasi dari warga Negara. Sehingga tidak tepat ketika

pendanaan pendidikan,dan kesehatan dalam program apapun juga, dikatakan sebagai bantuan.

Jika dilihat dari kerangka HAM, International Covenant On Economic, Social And Cultural Rights (Kovenan Ekosob), yang mencakup Hak atas Pendidikan dan Kesehatan di dalamnya telah diratiikasi oleh Indonesia lewat UU No 11 tahun 2005. Akibat hukumnya, perjanjian tersebut mengikat atau harus dipatuhi oleh negara yang telah meratiikasi sebagaimana berlaku dan mengikatnya Undang-undang yang dibuat oleh DPR dan Presiden.

Dalam hal Kovenan Ekosob ini, Negara wajib menyelenggarakan hak atas pendidikan dan layanan kesehatan bagi warga Negara, sebagaimana tercantum dalam pasal 13 Kovenan Ekosob terebut.Selain mengacu pada isi dari Kovenan Ekosob, kita juga dapat melihat kewajiban Negara dalam hal hak atas pendidikan dan kesehatan dari berbagai dokumen terkait. Audrey R Chapman, seorang pakar hukum internasional mengelaborasi tiga dimensi kewajiban Negara, antara lain: (a). Kewajiban untuk memenuhi (to fulill)

mengharuskan Negara untuk mengambil langkah-langkah yang tepat dalam hal legislatif administratif, anggaran negara, judisial serta lainnya menuju terwujudnya realisasi sepenuhnya dari hak-hak tersebut. Dalam konteks memenuhi hak atas

untuk memenuhi hak atas pendidikan itu sendiri. Sebagaimana diatur dalam Kovenan Ekosob pasal 13 ayat (2) huruf a sampai c, dimana Negara wajib menyediakan pendidikan secara gratis untuk pendidikan dasar serta pengadaan pendidikan lanjutan dan pendidikan tinggi cuma-cuma secara bertahap. Wujud pemenuhan hak tersebut adalah dengan menyediakan alokasi anggaran dan mengupayakan agar pendidikan dapat diakses oleh siapa saja tanpa diskriminasi.Oleh karena itu, kegagalan negara untuk menyediakan pendidikan bagi mereka yang membutuhkan dapat mengakibatkan sebuah pelanggaran. (b). Kewajiban untuk melindungi (to protect)

mengharuskan Negara mencegah pelanggaran terhadap hak-hak tersebut oleh pihak ketiga. Artinya, Negara memiliki kewajiban untuk melindungi setiap orang dari pihak-pihak lain yang menghalang- halangi atau menyebabkan orang tersebut kehilangan atau tidak bisa mengakses hak atas pendidikannya.

(c). Kewajiban untuk menghormati (to respect) mengharuskan negara tidak campur tangan dalam pemenuhan hak- hak ekonomi, sosial dan budaya. Artinya, negara harus menghormati pilihan-pilihan masyarakat dalam hak atas pendidikan dan kesehatan.

Sebagaimana terlihat dalam pasal 26 ayat (3) DUHAM, dan pasal 13 ayat (3) dan (4) Kovenan Ekosob, bahwa Kebebasan untuk memilih institusi pendidikan bagi anak ada

di tangan orang tua atau wali yang sah. Sementara Negara wajib menghormati kebebasan tersebut.Selain itu, Negara juga dilarang mencampuri kebebasan individu dan badan-badan untuk mendirikan dan mengurus lembaga-lembaga pendidikan.

Selain itu, sebagai penjabaran hak atas pendidikan yang harus dipenuhi oleh negara yang telah meratikasi konvensi hak-hak ekosob, Komite hak-hak ekosob PBB ( CESCR ) pada tahun 1999 telah menbuat general comments yang berisi 4 instrumen yang wajib dipenuhi oleh setiap negara yang telah meratiikasi hak-hak ekosob ini, yaitu: (a). Ketersediaan, yang menuntut berbagai

lembaga dan program pendidikan harus menyediakan sarana dan prasarana dalam kuantitas yang memadai seperti bangunan sebagai perlindungan isik, fasilitas sanitasi, air minum yang sehat, guru-guru yang terlatih dengan gaji yang kompetitf, materi-materi pengajaran serta tersedianya fasilitas perpustakaan dan sebagainya.

(b). Keterjangkauan (Aksesibilitas) yang mengharuskan lembaga dan program pendidikan harus bisa diakses oleh setiap orang, tanpa diskriminasi, di dalam yurisdiksi pihak negara. Aksesibilitas mempunyai tiga dimensi umum, yaitu non-diskriminasi, aksesibilitas isik, dan aksesibilitas ekonomi.

(c). Keberterimaan (Akseptabiltas), yang menginginkan bentuk dan substansi pendidikan, termasuk kurikulum, dan metode pengajaran harus mudah diterima untuk peserta didik dalam hal tertentu juga orang tua.

(d). Kemampuan beradaptasi, dimana Pendidikan harus leksibel, supaya bisa mengadaptasi dengan kebutuhan masyarakat dan komunitas yang selalu berubah serta selalu bisa merespon kebutuhan peserta didik tanpa membedakan status sosial dan budayanya.

Penerapan hak ekosob di Indonesia seperti telah dijelaskan diatas hukumnya menjadi wajib karena Indonesia sendiri telah meratiikasi komitmen tersebut dan sudah disepakati oleh Pemerintah dan DPR melalui Undang-Undang No 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights (Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya/Eksob). Berdasarkan kewajiban inilah, maka dalam berbagai Undang-Undang yang menyangkut tentang pelayanan public dasar yakni Pendidikan dan Kesehatan, serta Undang-Undang Pelayanan Publik sendiri hal-hal terkait kewajiban tersebut menjadi penekanan benar.

Dari uraian yang disampaikan di atas dan mandat yang diberikan kebijakan terkait menjadi relevan bahwa apa yang menjadi

kewajiban Pemerintah Daerah – sesuai dengan kewenangan yang diberikannya – adalah memberikan pelayanan kepada warga sebaik- baiknya. Terminologi sebaik-baiknya untuk saat ini mengacu pada standar minimal yang sudah dirumuskan oleh Pemerintah dan harus diterjemahkan kedalam program dan proyek di daerah untuk dilaksanakan.

Tanggungjawab serta kewajiban Pemerintah dan juga Pemerintah Daerah di atas jika

diterjemahkan kedalam pemahaman sistem hak, maka adalah hak warga untuk mendapatkan apa yang sudah menjadi kewajiban Pemerintah dan Pemerintah Daerah menyampaikannya. Di dalam Undang-Undang Dasar 1945, hak-hak tersebut telah diuraikan dengan sangat jelas. Hak untuk mendapatkan pendidikan, kesehatan, pekerjaan dan sebagainya telah disebutkan.

Di dalam konteks pelayanan public, melalui Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang pelayanan public serta undang-undang sektoral seperti Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 dan juga dijelaskan lebih lanjut kedalam berbagai Peraturan Pemerintah tentang penerapan standar pelayanan minimal dan segala regulasi yang mengikuti dibawahnya menjadi semakin kuat dan jelas bentuk-bentuk kewajiban

Pemerintah di dalam menjalankan kewajibannya untuk memenuhi hak warga akan pelayanan public. Pemenuhan hak tersebut bukan hanya tentang akses, melainkan juga (antara lain)

berkaitan dengan mutu (berdasarkan nilai-nilai dan prinsip hak), lingkungan di mana pelayanan diberikan, kapasitas/kemampuan pemangku kewajiban menyampaikan pelayanan yang baik, kesadaran masyarakat, bantuan khusus untuk kelompok-kelompok yang diprioritaskan, dan keterlibatan masyarakat dengan proses pembuatan kebijakan dan pelaksanaan kegiatan terkait pelayanan public tersebut.

Kewajiban ikutan yang harus juga dijelaskan adalah pada soal penganggaran.Pelayanan public berbasis standar pelayanan

membutuhkan anggaran agar dapat terlaksana. Prinsip penganggarannya dalam hal ini adalah sebagai berikut:

(a). Progressive Realization, yakni secara terus-menerus meningkatkan alokasi anggaran untuk pemenuhan hak dasar. Artinya Pemerintah harus secara konsisten mendorong tercapainya pemenuhan hak dasar warga dengan mengalokasikan anggaran yang setiap tahunnya disesuaikan dengan target yang semakin meningkat. (b). Full Use of Maximum available resource,

yakni dengan menggunakan semaksimal

mungkin sumber-sumber ekonomi untuk pemenuhan hak dasar. Artinya Pemerintah harus berdaya upaya meningkatkan pendapatannya ataupun memanfaatkan sumber-sumber keuangan sah lainnya dialokasikan untuk pemenuhan hak dasar tersebut.

Dengan demikian tidak ada alasan lagi bagi Pemerintah dan Pemerintah Daerah untuk tidak memberikan pelayanan dasar yang menjadi hak warga. Apalagi dengan kompromi dan penyesuaian yang telah dilakukan melalui kebijakan implementasi standar pelayanan minimal seharusnya mempermudah Pemerintah daerah untuk mengalokasikan anggarannya bagi pemenuhan SPM tersebut.

BAHAN BACAAN

REGULASI

Dalam dokumen f6a55204 638b 4758 ab59 a4bf84ba8560 (Halaman 137-141)