• Tidak ada hasil yang ditemukan

SOP non teknis ANC.

Dalam dokumen f6a55204 638b 4758 ab59 a4bf84ba8560 (Halaman 93-101)

SPM Kesehatan terkait

4. SOP non teknis ANC.

Menurut Pedoman Operasional Pelayanan Terpadu Kesehatan Reproduksi di Puskesmas yang

disusun Departemen Kesehatan 2008, Pelayanan Antenatal adalah pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan untuk ibu selama masa kehamilannya, dilaksanakan sesuai dengan standar pelayanan antenatal yang ditetapkan dalam Standar Pelayanan Kebidanan (SPK). Pelayanan antenatal sesuai standar meliputi anamnesis, pemeriksaan isik (umum dan kebidanan), pemeriksaan laboratorium rutin dan khusus, serta intervensi umum dan khusus (sesuai risiko yang ditemukan dalam pemeriksaan). Ditetapkan pula bahwa frekuensi pelayanan antenatal adalah minimal 4 kali selama kehamilan, dengan ketentuan waktu pemberian pelayanan yang dianjurkan sebagai berikut : - Minimal 1 kali pada triwulan pertama. - Minimal 1 kali pada triwulan kedua. - Minimal 2 kali pada triwulan ketiga.Standar waktu pelayanan antenatal tersebut dianjurkan untuk menjamin perlindungan kepada ibu hamil, berupa deteksi dini faktor risiko, pencegahan dan penanganan komplikasi. Tenaga kesehatan yang berkompeten memberikan pelayanan antenatal kepada Ibu hamil adalah : dokter spesialis kebidanan, dokter, bidan dan perawat.

Menurut Farrer, H. 1987,Perawatan antenatal mencakup:

a. Pengawasan kehamilan untuk melihat apakah segalanya berlangsung normal, untuk mendeteksi dan mengatasi setiap kelainan yang timbul juga antisipasinya.

b. Penyuluhan atau pendidikan mengenai

kehamilan dan bagaimana cara-cara mengatasi gejalanya mengenai gaya hidupnya.

c. Persiapan, baik isik maupun psikologis untuk persalinanan nantinya.

d. Dukungan dan dorongan mental jika terdapat masalah-masalah sosial ataupun psikologis dalam kehamilan.

Secara khusus pengawasan antenatal(Manuaba, I.B.G,Panduan Diskusi Obstetri dan Ginekologi untuk Mahasiswa Kedokteran, 1998)bertujuan untuk: a. Mengenal dan menangani sedini mungkin

penyulit yang terdapat saat kehamilan, saat persalinan, dan kala nifas.

b. Mengenal dan menangani penyakit yang menyertai hamil, persalinan, dan kala nifas. c. Memberikan nasehat dan petunjuk yang

berkaitan dengan kehamilan, persalinan, kala nifas, laktasi, dan aspek keluarga berencana. d. Menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu

dan perinatal.

Prosedur pelayanan antenatal menurut Depkes 2008 sebagai berikut:

1. Anamnesis

Untuk Kunjungan Pertama a. Mencatat Identitas

b. Status Kesehatan reproduksi: • Umur Kehamilan

• Umur kehamilan dan HPHT/HTP • Riwayat kehamilan & persalinan • Riwayat KB (cek “4 terlalu”) • Resiko penularan PMS

• Riwayat KtP (Kekerasan terhadap Perempuan)

c. Status Kesehatan

• Riwayat penyakit yang pernah diderita • Riwayat penyakit yang sedang diderita d. Keluhan selama kehamilan

Untuk Kunjungan Ulangan a. Menanyakan Keluhan :

• Perkembangan keluhan y.I • Adakah keluhan baru b. Perawatan diri :

• Makanan yang dikonsumsi - Higiene diri (kebersihan, gigi & OR)

• Istirahat & Kerja - Ktp, PMS c. Adanya tanda bahaya :

• Perdarahan, per vaginam

• Pusing hebat & bengkak pada wajah/ tangan

• Janin tidak bergerak

d. Upaya pencegahan, menanyakan apakah sudah diberikan TTD dan Suntik TT e. Umur kehamilan menurut perkiraan Ibu f. Hal-hal yang ingin ditanyakan

2. Pemeriksaan Fisik:

a. Umum : mengukur TB (tinggi Badan), menimbang BB (berat badan), mengukur TD (tekanan darah), jantung, paru, konjungtiva bengkak pada tangan/wajah, releks lutut, nilai status gizi (ukur lingkar lengan atas) b. Kehamilan :

• TFU (Tinggi Fundus Uteri), DJJ (Denyut Jantung Janin)

• Payudara

• Vulva :a.I. tanda PMS • Leopold I - IV

c. Laboratorium : Hb, Urine atas indikasi, dan gula darah puasa. Pemeriksaan khusus dilakukan di daerah prevalensi tinggi dan atau kelompok ber-risiko, pemeriksaan yang dilakukan adalah hepatitis B, HIV, Siilis, malaria, tuberkulosis, kecacingan dan thalasemia.

3. Pelayanan: a. TTD b. TT

c. Pemberian tablet zat besi minimal 90 tablet d. Nasehat & Konseling (sesuai umur

kehamilan) termasuk P4K serta KB pasca persalinan, sebagai berikut:

Trimester I : • Gizi • Istirahat

• Higiene diri (kebersihan, gigi & OR) • Tanda-tanda bahaya

• Hub. Seks selama kehamilan • Kunjungan berikutnya Trimester II : • Seperti Trimester I + • Keuntungan ASI • Persiapan persalinan • KB post partum Trimester III : • Trimester II +

• Perawatan bayi baru lahir

• Persiapan keluarga dalam menghadapi persalinan dan kemungkinan adanya komplikasi

e. Penanganan gangguan yang ditemukan/ rujukan

2. SOP non teknis Persalinan.

Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta, dan selaput ketuban keluar dari uterus ibu. Persalinan dimulai (inpartu) sejak uterus berkontraksi dan menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan menipis) (Jaringan Nasional Pelatihan Klinik-Kesehatan Reproduksi DepKes RI, 2008)

Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks, janin turun ke dalam jalan lahir. Kelahiran adalah proses dimana janin dan ketuban terdorong keluar melalui jalan lahir. Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37 – 42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin (Saifuddin, 2008; 100).

Deinisi persalinan normal menurut WHO adalah persalinan yang dimulai secara spontan,beresiko rendah pada awal persalinan dan tetap demikian

selama proses persalinan. Bayidilahirkan secara spontan dalam presentasi belakang kepala pada usia kehamilan antara37 hingga 42 minggu lengkap. Setelah persalinan ibu maupun bayi berada dalam kondisisehat.

Pertolongan persalinan mengikuti ketentuan asuhan persalinan normal (APN) yang bertujuan untuk tercapainya kelangsungan hidup dan kesehatanyang tinggi bagi ibu serta bayinya, melalui upaya yang terintegrasi dan lengkap namunmenggunakan intervensi seminimal mungkin sehingga prinsip keamanan dan kualitaslayanan dapat terjaga pada tingkat yang seoptimal mungkin.

Persalinan dan kelahiran bayi dapat terjadi di rumah, puskesmas atau rumah sakit. Penolong persalinan mungkin saja seorang bidan, perawat, dokter umum atau spesialis obstetri. Jenis asuhan yang akan diberikan, dapat disesuaikan dengan kondisi dan tempat persalinan sepanjang dapat memenuhi kebutuhan spesiik ibu dan bayi baru lahir.

Prosedur Pelayanan Persalinan menurut Pedoman Operasional Pelayanan Kesehatan Reproduksi di Puskesmas adalah sebagai berikut:

1. Melakukan ANAMNESIS : (pada keadaan mendesak anamnesis dapat dilakukan bersama dengan pemeriksaan isik).

a. Identitas (bila belum pernah datang sebelumnya)

b. Pemeriksaan kehamilan yang pernah dilakukan dan oleh siapa

c. Riwayat kehamilan dan persalinan yang lalu

d. Riwayat kehamilan sekarang e. Riwayat kesehatan Ibu

f. Adanya tanda-tanda persalinan (HIS, ketuban dan show)

g. Adanya tanda-tanda komplikasi persalinan

2. Pemeriksaan Fisik :

a. Umum : TD, Konjungtiva, bengkak pada tangan/wajah, releks lutut

b. Abdomen : TFU, DJJ, Leopold I-IV, jantung, paru

c. Inspeksi Vulva :

• Apakah ada/tidak ada perdarahan per vaginam. Bila ada perdarahan pervaginam pemeriksaan dalam harus dilakukan di kamar operasi sehingga perlu dirujuk ke faskes dengan kemampuan yang lebih tinggi (RS/ PONEK)

• Tanda-tanda PMS

d. Pemeriksaan dalam (bila tidak ada perdarahan per vaginam)

3. Pertolongan Persalinan: dengan memperhatikan pencegahan umum terhadap infeksi

a. Pimpin persalinan

b. Pantau persalinan dengan partograf c. Perawatan ibu

d. Perawatan bayi baru lahir 4. Pemberian Konseling a. Perawatan ibu

b. Perawatan bayi baru lahir

c. Tanda bahaya pada ibu dan pada bayi baru lahir

3. SOP non teknis Kunjungan Nifas. Pelayanan kesehatan ibu nifas adalah pelayanan kesehatan sesuai standar pada ibu mulai 6 jam sampai 42 hari pasca bersalin oleh tenaga kesehatan. Untuk deteksi dini komplikasi pada ibu nifas diperlukan pemantauan

pemeriksaan terhadap ibu nifas dengan

melakukan kunjungan nifas minimal sebanyak 3 kali dengan ketentuan waktu:

a. Kunjungan nifas pertama pada masa 6 jam sampai dengan 3 hari setelah persalinan. b. Kunjungan nifas ke dua dalam waktu 2

minggu setelah persalinan (8 – 14 hari). c. Kunjungan nifas ke tiga dalam waktu 6

minggu setelah persalinan (36 – 42 hari).

Pelayanan yang diberikan adalah:

a. Pemeriksaan tekanan darah, nadi, respirasi dan suhu.

b. Pemeriksaan tinggi fundus uteri (involusi uterus).

c. Pemeriksaan lokhia dan pengeluaran per vaginam lainnya.

d. Pemeriksaan payudara dan anjuran ASI eksklusif 6 bulan.

e. Pemberian kapsul Vitamin A 200.000 IU sebanyak dua kali , pertama segera setelah melahirkan, kedua diberikan setelah 24 jam pemberian kapsul Vitamin A pertama. f. Pelayanan KB pasca bersalin.

Tenaga kesehatan yang dapat memberikan pelayanan kesehatan ibu nifas adalah dokter spesialis kebidanan, dokter, bidan dan perawat. Bidan memberikan pelayanan selama masa

nifas melalui kunjungan rumah pada hari ketiga, minggu kedua dan minggu keenam setelah persalinan, untuk membantu proses pemulihan ibu dan bayi melalui penanganan tali pusat yang benar, penemuan dini penanganan atau rujukan komplikasi yang mungkin terjadi pada masa nifas, serta memberikan penjelasan tentang kesehatan secara umum, kebersihan perorangan, makanan bergizi, perawatan bayi baru lahir, pemberian ASI, imunisasi dan KB.

Prosedur pelayanan masa nifas menurut Pedoman Operasional Pelayanan Kesehatan Reproduksi di Puskesmas, Departemen Kesehatan 2008 adalah sebagai berikut:

Pelayanan Kunjungan Ibu Nifas

1. Melakukan Anamnesis (a). Menanyakan Keluhan

• Jumlah perdarahan

• Adanya bengkak, pusing, nyeri • Adanya demam

• Gangguan lain

(b). Bila persalinan bukan oleh nakes • Riwayat persalinan

• Masalah yang dihadapi (c). Mengecek Perawatan diri :

• Makanan yang dikonsumsi • Istirahat & kerja

• Menjaga Higiene 2. Pemeriksaan Fisik

(a). Umum: BB, TD, Jantung, paru, Konjuctiva, bengkak pada tangan/wajah, payudara, relex lutut.

(b). Abdomen : uterus keras/lunak

(c). Vulva : Banyaknya perdarahan; Warna dan bau lokhia; Tanda-tanda PMS/infeksi lain

3. Pelayanan: (a). Konseling (b). Perawatan diri • Perawatan bayi • ASI • KB post partum

(c). Pemberian obat-obatan sesuai dengan standar dan kebutuhan, TTD

4. SOP non teknis Neonatus.

Menurut Panduan Pelayanan Kesehatan Bayi Baru Lahir berbasis Perlindungan Anak yang dikeluarkan oleh Direktorat Kesehatan Anak Khusus Depkes 2010, pengertian neonatus atau bayi baru lahir adalah bayi usia 0 – 28 hari. Pelayanan kesehatan neonatus adalah pelayanan kesehatan sesuai standar yang diberikan oleh tenaga kesehatan yang kompeten kepada neonatus sedikitnya 3 kali, selama periode 0 sampai dengan 28 hari setelah lahir, baik di fasilitas kesehatan maupun melalui kunjungan rumah.

Kunjungan neonatal adalah pelayanan kesehatan kepada neonatus sedikitnya 3 kali yaitu:

a. Kunjungan neonatal I (KN1) pada 6 jam sampai dengan 48 jam setelah lahir

b. Kunjungan neonatal II (KN2) pada hari ke 3 s/d 7 hari

c. Kunjungan neonatal III (KN3) pada hari ke 8 – 28 hari

Pelayanan kesehatan diberikan oleh dokter spesialis anak/dokter/bidan/perawat, dapat dilaksanakan di klinik, RS, puskesmas atau melalui kunjungan rumah. Pelayanan yang diberikan mengacu pada pedoman Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) pada algoritma bayi muda (Manajemen Terpadu Bayi Muda/MTBM) termasuk ASI ekslusif, pencegahan infeksi berupa perawatan mata, perawatan tali pusat, penyuntikan vitamin K1 dan imunisasi HB-0 diberikan pada saat kunjungan rumah sampai bayi berumur 7 hari (bila tidak diberikan pada saat lahir). Kunjungan neonatal bertujuan untuk meningkatkan akses neonatus terhadap pelayanan kesehatan dasar, mengetahui sedini mungkin bila terdapat kelainan/masalah kesehatan pada neonatus.

Risiko terbesar kematian neonatus terjadi pada 24 jam pertama kehidupan, minggu pertama dan bulan pertama kehidupannya. Sehingga jika bayi lahir di fasilitas kesehatan sangat dianjurkan untuk tetap tinggal di fasilitas kesehatan selama 24 jam pertama.

Pelayanan Kesehatan Neonatal dasar dilakukan secara komprehensif dengan melakukan pemeriksaan dan perawatan Bayi baru Lahir dan pemeriksaan menggunakan pendekatan Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM) untuk memastikan bayi dalamkeadaan sehat, yang meliputi :

a. Pemeriksaan dan Perawatan Bayi Baru Lahir: - Pencegahan infeksi (PI)

pada bayi

- Pemotongan dan perawatan tali pusat - Inisiasi Menyusu Dini (IMD)

- Pencegahan kehilangan panas melalui tunda mandi selama 6 jam, kontak kulit bayi dan ibu serta menyelimuti kepala dan tubuh bayi. - Pencegahan perdarahan melalui penyuntikan

vitamin K1 dosis tunggal di paha kiri

- Pemberian imunisasi Hepatitis B (HB 0) dosis tunggal di paha kanan

- Pencegahan infeksi mata melalui pemberian salep mata antibiotika dosis tunggal

- Pemeriksaan bayi baru lahir - Pemberian ASI eksklusif

b. Pemeriksaan menggunakan pendekatan MTBM

- Pemeriksaan tanda bahaya seperti kemungkinan

infeksi bakteri, ikterus, diare, berat badan rendah dan masalah pemberian ASI.

- Pemberian Imunisasi Hepatitis B0 bila belum diberikan pada waktu perawatan bayi baru lahir - Konseling terhadap ibu dan keluarga untuk

memberikan ASI eksklusif, pencegahan hipotermi dan melaksanakan perawatan bayi baru lahir di rumah dengan menggunakan Buku KIA.

- Penanganan dan rujukan kasus bila diperlukan.

SPP Sektor Kesehatan Ibu dan Anak

Standar pelayanan publik (SPP) yang dihasilkan dalam program Kinerja adalah maklumat layanan yang didasarkan dalam proses advokasi untuk perbaikan kualitas layanan sektor kesehatan. Maklumat ini merupakan kesepakatan antara

masyarakat dan penyedia layanan untuk

memperbaiki dan meningkatkan pelayanan publik di sektor masing-masing. Kegiatan yang selama ini dijalankan adalah dengan menggunakan metode survei penanganan keluhan belum merujuk atau berperspektif pada indikator-indikator standar pelayanan minimum.

4. Paket Sektor Perbaikan Iklim Usaha.

Urgensi perbaikan birokrasi perizinan usaha ini merupakan upaya perbaikan iklim usaha, karena sampai saat ini regulasi perizinan usaha masih memiliki pengaruh yang signiikan terhadap

perkembangan dunia usaha di Indonesia. Perizinan usaha menjadi salah satu hal yang harus dilalui oleh pengusaha baik pada tahap memulai usaha maupun yang akan mengembangkan usaha. Ketidakjelasan birokrasi perizinan usaha dari sisi waktu dan biaya merupakan salah satu penyebab utama masalah investasi di Indonesia.

Eisiensi perizinan usaha yang memperjelas waktu pengurusan dan biaya, termasuk kemudahan birokrasi perizinan merupakan jawaban bagi perbaikan iklim usaha. Kementerian dalam Negeri melalui berbagai Peraturan mendorong lahir dan terbentuknya pelayanan terpadu satu pintu (PTSP) di setiap Pemerintah Kabupaten/Kota dan Provinsi. Banyak ragam penamaan atas PTSP ini tidak mempengaruhi bentuk dan kualitas layanannya, sepanjang proses perizinannya bersifat paripurna, artinya mulai pengurusan awal hingga mendapatkan izin dilaksanakan di satu tempat yakni di PTSP itu sendiri.

Kinerja mendorong dan memberi asistensi teknis Pemerintah Kabupaten/Kota yang didukung untuk mendirikan PTSP atau menguatkan jika sudah terbentuk. Tantangan utama pendirian atau penguatan lebih banyak dari sisi internal Pemerintah daerah sendiri. Upaya yang dilakukan Kinerja untuk memberi asistensi teknis selain memperkuat PTSP secara langsung, juga melibatkan masyarakat di dalam proses dialog dan pengambilan keputusan.

Standar Pelayanan PTSP

Khusus untuk sektor ini pendekatan perumusan standar pelayanannya agak berbeda dengan kedua sektor terdahulu. Sektor iklim usaha tidak secara khusus memiliki standar pelayanan yang sama, demikian pula SPM seperti yang diatur dalam PP No 65 Tahun 2005. Sektor perbaikan Iklim Usaha ini mengacu pada masing-masing izin usaha yang menginduk pada sektor masing-masing. Didalam pelaksanaan secara umum, izin usaha terkait yang dikelola oleh PTSP paling tidak terdapat dua sektor yakni Kemendag dan Kemdagri.

PTSP secara tegas menggunakan standar pelayanan dalam dua bentuk yakni penggunaan SPM (Standar Pelayanan Minimum) dan juga SOP (Standar Operasoi Prosedur). Standar pelayanan – seprti dijelaskan dalam Panduan Nasional Pembentukan PTSP – adalah kriteria capaian minimal pelayanan yang harus diselenggarakan oleh penyelenggara PTSP. Standar Pelayanan harus dibuat untuk setiap jenis layanan yang diberikan oleh PTSP, termasuk di dalamnya Standar Pelayanan

untuk setiap jenis izin serta layanan lainnya seperti layanan pengaduan dan informasi.

Tujuan pelaksanaan standar pelayanan adalah menyediakan jaminan atau kepastian bagi penerima pelayanan (pemohon izin) penyelenggara PTSP. Komponen SPM (Standar Pelayanan Minimum) di dalam pelaksanaan PTSP sekurang-kurangnya adalah dalam hal Waktu, Biaya dan Persyaratan.

Intervensi SPM di dalam PTSP paling tidak meliputi: 1. Prosedur pelayanan

2. Waktu penyelesaian 3. Biaya pelayanan 4. Sarana dan prasarana

5. Kompetensi petugas pemberi pelayanan 6. Persyaratan.

Masing-masing sektor yang berperan dalam

birokrasi perizinan usaha telah merumuskan SPM di dalam sektornya masing-masing, misalnya:

1. SIUP (ijin usaha), berdasarkan Kepmendag 529/2010 waktu 3 hari, biaya nol rupiah. 2. HO (ijin tidak keberatan dari sekitarnya),

berdasarkan Permendagri 27/2009, maksimal 7 hari, biaya mencakup biaya administrasi. 3. IMB (ijin mendirikan bangunan), berdasarkan

Permendagri 7/1993, maksimal 14 hari, biaya sesuai angka indeks.

Sedangkan SOP sendiri pada dasarnya merupakan sebuah instruksi yang tertulis yang dijadikan pedoman dalam menyelesaikan tugas rutin untuk memenuhi SPM tersebut di atas. Secara garis besar

SOP layanan perizinan adalah urutan pekerjaan yang harus dilakukan dalam melayani setiap jenis perizinan, dilengkapi dengan gambar alur. Prosedur masing-masing perizinan setidaknya memuat: 1. Tata cara atau tahapan pelayanan, mulai

dari pengajuan permohonan, pemrosesan, pembayaran sampai penyerahan izin kepada pemohon.

2. Didalam tata cara di maksud harus dilengkapi dengan hal-hal sebagai berikut:

a. Batasan waktu untuk masing-masing tahapan.

b. Persyaratan yang dibutuhkan c. Bentuk formulir yang digunakan. d. Penanggungjawab masing-masing.

Meskipun tidak disebut sebagai standar pelayanan publik (SPP) semua PTSP memiliki kewajiban untuk melaksanakan IKM (indeks kepuasaan masyarakat) secara reguler. Hasil IKM berupa rekomendasi perbaikan-perbaikan berdasarkan masukan masyarakat (penerima layanan) akan menjadi masukan yang harus diperbaiki oleh PTSP setiap periodenya.

Dalam dokumen f6a55204 638b 4758 ab59 a4bf84ba8560 (Halaman 93-101)