• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keragaman Advokasi oleh Masyarakat

Dalam dokumen f6a55204 638b 4758 ab59 a4bf84ba8560 (Halaman 196-200)

Posisi Kerja Pengawasan

3. Keragaman Advokasi oleh Masyarakat

Ragam tujuan dan sasaran yang hendak dicapai dalam advokasi cukup banyak. Untuk memudahkan pembahasan dapat diklasiikasikan berdasarkan obyek atau isu yang hendak diadvokasi, yakni:

a) Advokasi untuk Perubahan Kebijakan. Advokasi pada tataran ini yang paling lazim dilakukan, baik oleh LSM maupun kelompok masyarakat sipil lainnya. Advokasi untuk perbaikan Undang-Undang, Perda bahkan sampai ketingkat desapun dalam bentuk Perdes banyak dilakukan advokasi. Masih segar dalam ingatan bagaimana perubahan Undang-Undang Pemerintahan Daerah No 22 Tahun 1999 terjadi kemudian berganti menjadi Undang-Undang

Proses perubahan dikawal oleh banyak pihak. Dari sisi kelompok masyarakat sipil saja ada beberapa pihak yang mengawal untuk jenis substansi yang berbeda- beda. Kegiatan yang dilakukan umumnya melakukan studi pendalaman materi, lobby kepada pihak-pihak termasuk DPR dan kelompok-kelompok berpengaruh dan sebagainya. Alhasil ditetapkannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tersebut. Tidak semua usulan perbaikan dari berbagai kelompok terpenuhi. Dialog dan lobby politik dilakukan, tetapi tidak 100 persen substansi terpenuhi. Kini, semenjak hampir 6 tahun lalu, Undang-Undang yang samapun diadvokasi untuk diubah pada beberapa pasal. Pelakunya juga dari kelompok yang berbeda-beda. Sampai hari ini proses advokasi masih berjalan dan selain Draf UU Pemerintahan Daerah yang baru, juga muncul Rancangan UU Desa dan Rancangan UU Pemilukada. Begitulah proses advokasi pada isu perubahan kebijakan. Umumnya berproses cukup lama, melibatkan banyak pihak, dan berbiaya besar.

b) Advokasi untuk Perubahan Perilaku dalam Masyarakat. Advokasi untuk perubahan perilaku masyarakat biasanya dilakukan pada wilayah-wilayah tertentu saja dan bukan berskala nasional. Misalnya Kasus advokasi lain didalam perubahan kebijakan, misalnya di daerah dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda). Untuk kasus Perda Nomor 75 Tahun 2005 tentang

Kawasan Dilarang Merokok. Di dalam proses penyusunannya menimbulkan pro dan kontra. Meskipun akhirnya disepakati, namun pelaksanaan Perda itu sendiri tidak berjalan mulus. Banyak warga masyarakat yang kerap melanggar, hal ini terkait dengan habit yang sulit dirubah. Tindakan yang dilakukan oleh Pemda DKI misalnya melakukan advokasi secara persuasif, bilamana menemukan pelanggaran tidak langsung ditindak, mengunjungi instansi- instansi untuk melakukan sosialisasi, menempatkan tanda dilarang merokok pada area-area publik dan menempatkan ruang khusus merokok. Prosesnya cukup panjang, namun setelah berjalan lebih dari 6 tahun, Perda tersebut mulai diterapkan dan pinalti bagi publik yang melanggar diterapkan.

Contoh lain yang dapat disampaikan adalah advokasi mengatasi kemacetan Jakarta. Di Jakarta yang sarat dengan pembangunan mall dan gedung-gedung bertingkat yang menyebabkan kemacetan diadvokasi melalui perbaikan rencana tata ruang. Selama ini Pemerintah Daerah dimanapun berada memiliki kebijakan penataan ruang secara berjenjang, mulai pada tingkat nasional, regional, provinsi, kab/kota hingga kawasan-kawasan khusus. Perbaikan kemacetan salah satunya didekati dengan perbaikan rencana tata ruang dengan melibatkan masyarakat. Adalah sekelompok LSM melakukan advokasi dengan mengajak peran serta masyarakat untuk mengkritisi pembangunan wilayah melalui pemberian

masukan melalui website //rujak.org. Mulanya sekelompok warga ini melakukan audiensi kepada pejabat untuk mengusulkan pembatalan beberapa rencana ruas pembangunan jalan tol, jalan baru, dan sebagainya dengan

mengemukakan berbagai argumentasi akademis maupun non-akademis. Mereka melakukan penjaringan aspirasi dihampir setiap wilayah yang akan terkena pembangunan baru. Proses pembahasan secara partisipatif dilakukan, dialog dan lobby politik juga dilakukan kepada pejabat eksekutif pemda serta anggota dewan. Kelompok ini secara terus menerus melakukan advokasi untuk mendorong perubahan yang lebih baik tata ruang kota Jakarta. Tidak saja pada soal tata ruang kelompok „Rujak“ ini bekerja, mereka juga mengadvokasi pemilik kendaraan terutama roda dua untuk tidak memanfaatkan trotoar pada saat macet, karena mengganggu pejalan kaki, dan sebagainya.

c) Advokasi untuk melawan Ketidakadilan. Advokasi ini umumnya ditujukan kepada individu atau kelompok tertentu yang tengah diperlakukan tidak adil. Kasus-kasus yang terjadi umumnya sangat spesiik dan berskala kecil saja, misalnya keluarga tidak mampu yang tidak mendapat layanan rumah sakit dengan baik, atau misalnya kasus koin untuk Prita dan sejenisnya. Kasus lain yang paling menonjol terkait isu perlawanan terhadap ketidakadilan adalah pada

kasus perebutan hak atas tanah antara rakyat dengan perusahaan kehutanan atau perkebunan, kasus yang yang terjadi di Lampung, Jambi dan wilayah-wilayah

perkebunan besar lainnya mengundang perhatian LSM-LSM lingkungan untuk melakukan advokasi pembelaan hak-hak warga.

Kasus pencemaran lingkungan misalnya kasus Buyat di Sulawesi Utara, kasus pencemaran oleh Freeport di Papua dan sebagainya. Semua ini upaya advokasi yang dilakukan oleh kelompok pemerhati lingkungan untuk melawan ketidakadilan. Banyak lagi dapat dijumpai model-model advokasi dengan tujuan untuk melawan ketidakadilan tersebut.

Untuk kasus advokasi didalam perbaikan mutu pelayanan publik, memang jarang terdengar membuat heboh seperti kasus- kasus yang diuraikan di atas. Namun demikian bukan berarti tidak ada upaya- upaya advokasi dilakukan untuk hal tersebut. Salah satu contoh yang dilakukan oleh WRI (Women Research Institute)1,

WRI, adalah LSM yang berkonsentrasi pada isu perempuan dan reproduksi melakukan advokasi tentang Program Satu Desa, Satu Bidan dan Satu Polindes bisa menjadi komitmen bersama dan bisa diwujudkan. Program ini juga diharapkan mempercepat penurunan angka kematian ibu dan anak/ bayi.Oleh karenanya diperlukan upaya

1 http://wri.or.id/penelitian_kesehatan_perempuan/ Program_Advokasi_Kebijakan_Publik_dan_ Peningkatan_Kapasitas_Masyarakat_Mengenai_ Seksualitas diambil pada tanggal 25 Agustus 2013

sinergisitas dalam mengatasi permasalahan kesehatan reproduksi salah satunya di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat.

Untuk menunjang program tersebut diperlukan pemetaan permasalahan kesehatan reproduksi sampai di tingkat desa, minimal kecamatan.Penelitian sebagai basis data untuk melakukan advokasi dilakukan.Penelitian tersebut mengenai permasalahan angka kematian ibu dan persoalan sosial budaya yang ada juga menjadi perhatian.Diperlukan pemetaan jumlah provider kesehatan reproduksi, bagaimana sebarannya, jenis layanan yang disediakan dan tarif yang berlaku.

Selanjutnya data dari penelitian dan database yang ada bisa menjadi langkah untuk advokasi dalam rangka meningkatkan kualitas hidup perempuan yang didukung baik oleh organisasi masyarakat maupun pemerintah daerah.

Tujuan Program

1. Tersedianya data yang berkaitan dengan advokasi kesehatan reproduksi

2. Pengarusutamaan kesehatan reproduksi dalam kebijakan dan anggaran daerah 3. Terbentuknya forum multipihak tingkat

kabupaten untuk bisa mengawal kebijakan terkait kesehatan reproduksi

4. Adanya dua desa yang responsif pada kesehatan reproduksi, dengan penanda:

• Adanya training gender budgeting dan kesehatan reproduksi.

• Adanya praktek Musyawaran

Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) sektoral kesehatan.

• Adanya diskusi tematik reguler.

• Kampanye Kekerasan Dalam Rumah

Tangga (KDRT), Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD), Inisiasi Menyusu Dini (IMD), alat kontrasepsi, dll.

• Adanya kebijakan desa yang mengatur Satu Desa dan Satu Bidan.

Dalam rangka mencapai tujuan tersebut WRI melakukan program kesehatan reproduksi di Kabupaten Gunungkidul-DIY dan Kabupaten Lombok Tengah-NTB.Mereka mendorong dan menginisiasi kebijakan pemerintah, mengawal implementasi kebijakan dan peningkatan kapasitas pengetahuan masyarakat baik pemerintah daerah maupun masyarakat desa terhadap isu kesehatan reproduksi dan seksualitas.

Kabupaten Gunungkidul-DIY merupakan wilayah dimana masih ada fakta adanya angka kematian ibu yang dilatarbelakangi kemiskinan.Situasi inilah yang menjadi alasan pemilihan wilayah pilot project ini.

Kasus Advokasi di Kabupaten Gunungkidul

Kegiatan diawali dengan melaksanakanFGD. FGD ini merupakan forum assesment

permasalahan kesehatan reproduksi di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Gunungkidul bersama dengan anggota

DPRD dan beberapa stakeholder terkait. Pertemuan dihadiri kurang lebih 30 orang dari berbagai instansi dan lembaga masyarakat terkait.Pertemuan ini dalam rangka mencari permasalahan dan kebutuhan masyarakat Gunungkidul berkait dengan kesehatan reproduksi. Beberapa hal yang muncul dalam pertemuan ini antara lain:

• Kurangnya pengetahuan masyarakat dan

kurangnya sosialisasi dari tenaga kesehatan berkenaan dengan pemakaian alat

kontrasepsi, kebijakan yang belum sensitif terhadap persoalan kesehatan reproduksi.

• Minimnya informasi dan pelayanan yang belum memadai.

• Pendidikan seks yang masih minim.

• Infrastruktur: Gunungkidul terdiri dari 144 desa namun hanya mempunyai 128 tenaga bidan.

• Mulai bertambahnya kasus HIV/AIDS

• Angka kematian ibu yang meningkat setiap tahun

• Adanya kasus perkosaan dan KDRT

• Kesehatan reproduksi belum masuk dalam

pendidikan di sekolah

• Kurangnya kualitas hidup perempuan

• Kurangnya dokter spesialis atau tenaga ahli di rumah sakit daerah

Selanjutnya dilakukan diskusi terbatas dengan kelompok masyarakat.Pertemuan ini dihadiri perwakilan masyarakat berjumlah 23 orang. Berasal dari organisasi rakyat di Gunungkidul, Jaringan Kerja Perempuan Gunungkidul, kelompok remaja dari Gunungkidul dan

kelompok perempuan perwakilan dari beberapa desa.Pertemuan dengan masyarakat ini juga masih dalam rangka menemukan kebutuhan warga dan menyesuaikan program dengan kebutuhan masyarakat di tingkat desa. Beberapa persoalan yang muncul di tingkat kabupaten juga ada di tingkat desa.Pemahaman pengetahuan masyarakat tentang isu ini pun masih terbatas pada alat kontrasepsi dan kehamilan.

Tidak hanya dengan perwakilan kelompok dalam masyaraklat, diskusi juga dilakukan bersama warga di Desa.Pertemuan ini difokuskan untuk peningkatan pengetahuan masyarakat dan asistensi untuk pelaksanaan Musyawarah Rencana Pembangunan Desa (Musrenbangdes). Selain itu, juga diadakan training gender budget agar warga desa kritis terhadap proses perencanaan anggaran desa agar lebih responsif gender.

Akhirnya, lobby politik dilakukan dengan mengadakan pertemuan dengan Bupati Gunungkidul.Pertemuan ini juga melakukan pendekatan kepada kepala daerah agar kebijakan kepala daerah bisa selaras dengan tujuan dari advokasi yang tengah dijalankan oleh WRI dan Pemerintah Daerah sendiri bersedia mendukung.Pertemuan ini dimaksudkan untuk mendorong keluarnya kebijakan publik yang berpihak pada perempuan miskin dalam hal kesehatan reproduksi.Kebijakan publik berupa Peraturan Bupati yang mengawal kebijakan desa siaga aktif.Di dalam peraturan bupati tersebut yang menyertai petunjuk teknis

Dalam dokumen f6a55204 638b 4758 ab59 a4bf84ba8560 (Halaman 196-200)