(5 menit) Penyampaian operasionalisasi advokasi dan pengawasan (30 menit)
Tanya Jawab dan
Klariikasi
(20 menit)
Pengantar diskusi kelompok I
(5 menit)
Diskusi dan presentasi kelompok perumusan kerja advokasi dan pengawasan oleh
masyarakat dan media
(60 menit)
Kesimpulan diskusi I
(10 menit)
Materi regulasi terkait Hak Warga
dalam Pelayanan Publik
(10 menit)
Diskusi dan presentasi kelompok II tentang jenis-jenis intervensi yang dapat dilakukan
oleh masyarakat dan media
(60 menit)
Pengantar diskusi kelompok II
9 peserta. Masing-masing kelompok harus mengandung unsur kelompok masyarakat sipil dan unsur media.
b) Fasilitator menyampaikan tugas yang harus dijalankan di dalam diskusi kelompok I. Tugas tersebut adalah menentukan satu isu spesiik terkait rendahnya mutu pelayanan publikdi wilayah Anda, Bahaslah dalam kelompok dan sebutkan pula mengapa isu tersebut diputuskan hendak diadvokasi, serta apa tujuan advokasinya. Sertakan pula langkah dan tahapan advokasi yang hendak dilakukan (gunakan matrik 6.1. sebagai alat bantu perumusan).
c) Pembagian waktu dalam diskusi adalah dalam 3 menit awal kelompok menentukan pimpinan kelompok dan sekretaris yang berfungsi memoderatori diskusi kelompok dan mencatat. 27 menit selanjutnya digunakan untuk diskusi dalam kelompok dan sisanya 30 menit kembali ke sesi pleno untuk membahas hasil diskusi masing- masing kelompok.
d) Sebaiknya setiap kelompok dibekali kertas plano dan spidol untuk merumuskan hasil diskusi.
e) Selama diskusi kelompok berlangsung, fasilitator memastikan diskusi pada masing-masing kelompok berjalan dan setiap anggota kelompok terlibat dalam diskusi secara aktif. Fasilitator juga harus memastikan bahwa diskusi kelompok dan presentasi hasil diskusi sesuai dengan waktu yang dialokasikan. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil dengan maksimal waktu antara 5 - 7 menit dan
dilanjutkan diskusi dan klariikasi atas hasil yang disampaikan masing-masing kelompok. Fasilitator memandu proses diskusi dan mengarahkan pada hal-hal penting dalam diskusi yang dapat digunakan sebagai bagian dalam kesimpulan akhir sesi ini.
5. Kesimpulan materi sesi I. Fasilitator menarik kesimpulan dari hasil presentasi kelompok dan hasil diskusi sesi I.
6. Diskusi Kelompok II. Pengantar diskusi kelompoksesi II. Fasilitator menyampaikan hal- hal sebagai berikut:
• Fasilitator menyampaikan tugas yang harus dijalankan di dalam diskusi kelompok II. Tugas tersebut adalah rumuskan kerja dan langkah pengawasan atas kesepakatan/ komitmen yang sudah dicapai dalam advokasi (asumsinya tercapai dalam diskusi kelompok pertama). Gunakan matrik 6.2. sebagai alat bantu untuk merumuskan.
• Pembagian waktu dalam diskusi adalah dalam 3 menit awal kelompok menentukan pimpinan kelompok dan sekretaris yang berfungsi memoderatori diskusi kelompok dan mencatat. 27 menit selanjutnya digunakan untuk diskusi dalam kelompok dan sisanya 30 menit kembali ke sesi pleno untuk membahas hasil diskusi masing- masing kelompok.
• Sebaiknya setiap kelompok dibekali kertas plano dan sepidol untuk merumuskan hasil diskusi.
• Untuk melaksanaan diskusi ini kelompok yang digunakan adalah kelompkm yang
sama seperti pada diskusi kelompok sebelumnya.
• Selama diskusi kelompok berlangsung, fasilitator memastikan diskusi pada masing-masing kelompok berjalan dan setiap anggota kelompok terlibat dalam diskusi secara aktif. Fasilitator juga harus memastikan bahwa diskusi kelompok dan presentasi hasil diskusi sesuai dengan waktu yang dialokasikan. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil dengan waktu maksimal 5 – 7 menit dan dilanjutkan diskusi dan klariikasi atas hasil yang disampaikan masing-masing kelompok. Fasilitator memandu proses diskusi dan mengarahkan pada hal-hal penting dalam diskusi yang dapat digunakan sebagai bagian dalam kesimpulan akhir sesi ini. 7. Kesimpulan II. Fasilitator menutup sesi
ini dengan menarik kesimpulan dari hasil presentasi, dan hasil diskusi pleno sesi II.
URAIAN SUBSTANSI
1. Apa dan mengapa
advokasi diperlukan?
a) Arti penting dan tujuan
advokasi
Advokasi secara haraiah berarti pembelaan, sokongan atau bantuan terhadap seseorang atau sekelompok orang yang mempunyai
permasalahan. Istilah advokasi mula- mula digunakan di bidang hukum atau pengadilan. Lambat laun advokasi tidak hanya digunakan dalam terminologi dibidang hukum. Menurut Johns Hopkins (1990) advokasi adalah usaha untuk mempengaruhi kebijakan publik melalui bermacam-macam bentuk komunikasi persuasif.
Advokasi dapat pula diartikan sebagai upaya pendekatan terhadap orang atau kelompok tertentu yang dianggap mempunyai pengaruh terhadap keberhasilan suatu tujuan, program atau perubahan dari suatu kondisi sosial tertentu. Oleh karena itu yang menjadi sasaran advokasi umumnya adalah para pemimpin atau pengambil kebijakan (policy makers) atau pembuat keputusan (decision makers) baik di institusi pemerintah, swasta atau bahkan ditingkat kelompok dalam masyarakat. Dengan demikian advokasi diperlukan manakala dijumpai berbagai ketidakberesan atau masalah – seperti ketidakadilan, ketidaksesuaian, kebiasaan tertentu yang dianggap kurang sesuai dengan nilai- nilai universal, kondisi yang merugikan sebagian besar masyarakat dan hanya menguntungkan beberapa gelintir orang saja dan berbagai kondisi lain yang tidak sesuai -- dalam konteks kebijakan, pelaksanaan kebijakan maupun hal-hal lain terkait dengan harkat hidup orang banyak.
Prinsip dasar advokasi tidak hanya sekedar melakukan lobby politik, tetapi mencakup kegiatan persuasif, memberikan semangat
dan bahkan sampai memberikan pressure atau tekanan kepada para pemimpin institusi atau pengambil keputusan. Advokasi
dilakukan lebih disebabkan karena ada perubahan yang ingin dilakukan.
Advokasi dalam konteks program Kinerja adalah mengupayakan terjadi peningkatan mutu pelayanan yang diberikan pada unit pelayanan di sektor pendidikan dasar, kesehatan ibu dan anak serta perijinan usaha.
Tujuan advokasi pada dasarnya untuk:
1. Membangun komitmen politik (Political commitment). Komitmen para pembuat keputusan atau penentu kebijakan sangat penting untuk mendukung atau mengeluarkan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan kesehatan atau pendidikan masyarakat, misalnya. 2. Dukungan kebijakan (Policy support).
Adanya komitmen politik dari para pengambil keputusan, maka perlu ditindaklanjuti dengan advokasi lagi agar dikeluarkan kebijakan untuk mendukung program yang telah memperoleh komitmen politik tersebut.
3. Penerimaan sosial (Social acceptance). Penerimaan sosial artinya diterimanya suatu program, nilai tertentu atau gerakan sosial oleh masyarakat. Suatu program kesehatan yang telah memperoleh komitmen dan dukungan kebijakan, maka langkah selanjutnya adalah mensosialisasikan program
tersebut untuk memperoleh dukungan masyarakat. Atau, misalnya gerakan sosial anti merokok di rumah yang dilakukan oleh kelompok perempuan, maka dilakukan advokasi agar diterima oleh laki-laki perokok untuk tidak merokok di dalam rumah.
4. Dukungan sistem (Support System). Agar suatu program sektor tertentu berjalan baik maka perlunya sistem atau prosedur kerja yang jelas mendukung kearah perbaikan sistem yang sudah ada.
b) Metode atau teknik advokasi
Metode atau teknis advokasi digunakan untuk mencapai tujuan yang telah disebutkan di atas. Teknisnya bermacam- macam, antara lain:
1. Lobi politik (political lobying). Lobipolitik merupakan aktivitas
komunikasi yang dilakukan oleh individu ataupun kelompok dengan tujuan memengaruhi kelompok atau pimpinan organisasi lain maupun orang yang memiliki kedudukan penting dalam organisasi dan pemerintahan sehingga dapat memberikan keuntungan untuk kelompok/organisasi pelobi ataupun kepentingan publik yang lebih luas. Lobi politik tidak harus kepada “lawan” yang tengah diadvokasi, namun juga dapat dilakukan kepada calon-calon potensial yang bisa diajak untuk
berkoalisi, misalnya anggota dewan agar terpengaruh dan bersedia
mendukung ide yang tengah diadvokasi dan sebagainya.
2. Seminar/presentasi. Presentasi di dalam seminar dilakukan untuk menyampaikan ide/substansi yang tengah diadvokasi dengan harapan akan mendapat banyak simpati dari audiens dan sekaligus memperluas jangkauan komunikasi.
3. Pemanfaatan Media. Media menjadi entitas yang cukup strategis untuk mempublikasikan proses dan hasil yang tengah diadvokasi. Pemanfaatan tidak saja dalam pemberitaan, namun bisa juga dalam bentuk dialog interaktif dan sebagainya.
4. Forum dialog. Membangun ajang pembahasan isu yang tengah diadvokasi melalui dialog dengan berbagai pihak. Tujuannya untuk mempengaruhi opini dan pandangan pihak-pihak serta membangun sekutu kepada kelompok-kelompok lain. 5. Tekanan publik. Menunjukkan kekuatan
melalui berbagai cara untuk menekan kelompok tertentu/pengambil keputusan agar terpengaruh untuk bersepakat dengan isu yang tengah diadvokasi. Bentuk tekanan publik bisa bermacam- macam antara lain aksi turun ke jalan, aksi teatrikal, bahkan saat ini juga bisa dilakukan melalui media sosial seperti facebook atau twitter dan juga melalui www.change.org.
Untuk memastikan kelengkapan kegiatan dan langkah-langkah dalam advokasi, paling tidak harus diperhatikan 8 unsur dasar dalam advokasi, yaitu:
1. Penetapan tujuan advokasi. Sebelum proses dilakukan semua pihak yang sepakat melakukan advokasi harus menetapkan tujuan dengan cukup jelas apa yang hendak dicapai. Tujuan juga harus disepakati oleh mitra koalisi di dalam kelompok, sehingga semua pihak dalam koalisi memahami tujuan yang sama dari advokasi yang hendak dilakukan.
2. Pemanfaatan data dan riset untuk advokasi. Advokasi yang dilakukan dengan benar harus menggunakan bukti. Bukti tersebut didapat dari berbagai macam cara, bisa melakukan riset, penelusuran dokumen,
wawancara, dan sebagainya. Intinya data dan informasi merupakan bukti yang dapat digunakan untuk memperkuat pernyataan dalam advokasi.
3. Identiikasi khalayak sasaran. Semenjak awal sangat penting
melakukan identiikasi siapa target dan khalayak yang hendak disasar. Hal ini penting supaya di dalam merumuskan strategi, misalnya strategi penggunaan media harus menyentuh khalayak yang disasar misalnya.
4. Pengembangan dan penyampaian pesan advokasi. Pesan advokasi harus
mudah diingat dan menarik, sehingga publik dapat secara cepat menangkap apa maksud dari advokasi dan tujuan yang hendak dicapai.
5. Membangun koalisi. Tak pelak lagi, di dalam menjalankan advokasi suatu kelompik tertentu tidak dapat bekerja sendiri. Mereka harus membangun koalisi. Bahkan sebagai strategi membangun koalisi ini penting, meskipun hanya untuk kepentingan taktis semata. Koalisi yang besar, solid dan beragam akan memperkuat jaringan kerja advokasi, ketimbang advokasi yang hanya didukung oleh kelompok yang homogen.
6. Membuat presentasi yang persuasif. Menjalankan advokasi tidak hanya penting untuk melaksanakan kerja- kerja lapangan ataupun aksi turun ke jalan. Selain lobby yang telah disebutkan diatas, membuat presentasi yang persuasif jauh lebih penting. Hal ini dapat dilakukan baik dihadapan calon koalisi atau kelompok yang berseberangan dengan pemahaman yang tengah melakukan advokasi. 7. Penggalangan dana untuk advokasi.
Pendanaan merupakan salah satu hal penting yang wajib diadakan. Apapun serial kegiatan yang dilakukan dalam proses advokasi membutuhkan dana. Bagi kalangan masyarakat sipil banyak yang kurang bersepakat jika advokasi didukung oleh dana pemerintah (APBD ataupun APBN)
karena akan mengurangi netralitas dan beresiko gagal melakukan advokasi karena dipengaruhi oleg pelobi yang berasal dari unsur pemerintah. Atau, kadang menolak dana dari organisasi donor tertentu (Bank Dunia) misalnya karena dana berasal dari hutang. Oleh karenanya penting penggalangan dana dan dari sumber yang mana.
8. Evaluasi upaya advokasi. Terlaksananya advokasi hingga akhir tahapan belum tentu memberi hasil yang memuaskan. Tidak jarang advokasi yang dijalankan oleh kelompok tertentu tidak menghasilkan target yang dirancang pada awal kegiatan advokasi. Bahkan tidak jarang yang terjadi justru capaian berubah dari target semula, karena banyak hal- hal baru yang belum diantisipasi sebelumnya. Oleh karenanya penting untuk melakukan evaluasi secara berkala untuk memastikan langkah- langkah setiap tahapan disesuaikan dengan perkembangan yang ditemui di lapangan.