• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyelenggaraan Praktik Pasal 9:

Dalam dokumen f6a55204 638b 4758 ab59 a4bf84ba8560 (Halaman 126-130)

Bidan dalam menjalankan praktik, berwenang untuk memberikan pelayanan yang meliputi: pelayanan kesehatan ibu; pelayanan kesehatan anak; dan pelayanan kesehatan reproduksi dan KB

Pasal 10:

Pelayanan kesehatan ibu diberikan pada masa pra hamil, kehamilan, masa persalinan, masa nifas, masa menyusui, dan masa antara dua kehamilan; Pelayanan kesehatan ibu meliputi: pelayanan konseling pada masa pra hamil; pelayanan antenatal pada kehamilan normal; pelayanan persalinan normal; pelayanan ibu nifas normal; pelayanan ibu menyusui; dst.

f. Pedoman Pelayanan Antenatal; Direktorat Bina Pelayanan Medik dasar, Ditjen Bina Pelayanan Medik, Depkes RI, 2007

g. Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5291); yang kemudian ditindaklanjuti dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2013 Tentang Tata Cara Penyediaan Fasilitas Khusus Menyusui dan/ atau Memerah Air Susu Ibu.

Di dalam PP di atas beberapa hal yang terkait keharusan pemberlakuan standar pelayanan antara lain:

Pasal 2

Pengaturan pemberian ASI Eksklusif bertujuan untuk:

(a). Menjamin pemenuhan hak bayi untuk mendapatkan ASI Eksklusif sejak dilahirkan sampai dengan berusia 6 (enam) bulan dengan memperhatikan pertumbuhan dan perkembangannya;

(b). Memberikan perlindungan kepada ibu dalam memberikan ASI Eksklusif kepadabayinya; dan meningkatkan peran dan dukungan keluarga, masyarakat, pemerintah daerah, dan pemerintah terhadap pemberian ASI Eksklusif.

Pasal 30 (Tempat Kerja dan Tempat Sarana Umum)

Ayat 1 dan 2:

Tempat kerja dan tempat sarana umum harus mendukung program ASI eksklusifyang sesuai dengan ketentuan di tempat kerja yang mengatur hubungan kerja antara pengusaha dan pekerja atau melalui perjanjian bersama antara serikat pekerja/ serikat buruh dengan pengusaha (Jika tidak, sebagaimana dimaksud dalam pasal 36, sanksi pidana yang akan dikenakan sesuai dengan Undang-Undang Kesehatan pasal 200/ 201).

Ayat 3:

Pengurus tempat kerja dan penyelenggara tempat sarana umum harus menyediakan fasilitas khusus untuk menyusui dan/ atau memerah ASI sesuai dengan kondisi kemampuan perusahaan, (Jika tidak,

sebagaimana dimaksud dalam pasal 36, sanksi pidana yang akan dikenakan sesuai dengan Undang-Undang Kesehatan pasal 200/ 201).

Pasal 31:

Tempat kerja terdiri atas: Perusahaan; dan Perkantoran milik pemerintah, pemerintah daerah, dan swasta.

Penjelasan: Perkantoran termasuk juga di antaranya adalah lembaga pemasyarakatan.

Pasal 32:

“Tempat sarana umum” termasuk fasilitas kesehatan, hotel, penginapan atau wisma tamu (penginapan), tempat-tempat rekreasi, terminal transportasi, stasiun kereta api, bandar udara, pelabuhan laut, pusat perbelanjaan, pusat olah raga, barak pengungsian dan tempat sarana umum lainnya.

Pasal 33:

Fasilitas-fasilitas kesehatan harus mendukung program pemberian ASI Eksklusif,berdasarkan atas “10 (sepuluh) Langkah Menuju Kesuksesan Pemberian ASI.”

Pasal 34:

Pengurus tempat kerja wajib memberikan kesempatan kepada ibu yang bekerja untuk memberikan ASI Eksklusif kepada bayi atau memerah ASI selama waktu kerja di Tempat Kerja (Jika tidak, sebagaimana dimaksud dalam pasal 36, sanksi pidana yang akan dikenakan sesuai dengan Undang-Undang Kesehatan pasal 200/ 201).

h. Peraturan Bersama 3 Menteri (Menteri Pemberdayaan Wanita dan Perlindungan Anak, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi serta Menteri Kesehatan) – No. 48/MEN.PP/ XII/2008, PER.27/MEN/XII/2008 dan 1177/ MENKES/PB/XII/2008 Tentang Pemberian Air Susu Ibu Selama Waktu Kerja di Tempat Kerja

Pasal 2:

Tujuan dari peraturan bersama ini adalah: • Memberikan peluang pada para pekerja/

buruh wanita untuk memerah ASI selama jam kerja dan untuk menyimpan ASI yang telah diperah untuk kemudian dikonsumsi oleh sang bayi.

• Untuk memenuhi hak-hak dari para pekerja/ buruh wanita guna meningkatkan

• kesehatan ibu dan anak.

• Untuk memenuhi hak-hak anak untuk mendapatkan ASI guna mendapatkan nutrisi yang layak dan untuk mengembangkan sistem kekebalan tubuh yang kuat. • Untuk meningkatkan mutu sumberdaya

manusia pada tahap awal kehidupan.

4. Kebijakan dan Regulasi

Sektor Perijinan Usaha

Tidak seperti dua sektor sebelumnya, PTSP mensyaratkan berdirinya satu organisasi baru dengan mendasarkan pada Permendagri Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan PTSP dan Permendagri Nomor 20 Tahun 2008 tentang Pedoman Organisasi dan tata kerja Unit Pelayanan Perizinan Terpadu di Daerah. Sementara di dalam menerapkan Standar Pelayanan

(termasuk SPM) pada sektor pendidikan dasar dan kesehatan sama sekali tidak mensyaratkan, bahkan menyebutkan bahwa tidak diperlukan struktur organisasi tambahan/baru.

Pendirian dan pengelolaan PTSP itu sendiri mengacu kepada Undang-Undang Pelayanan Publik, Undang-Undang Penanaman Modal dan Undang-Undang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Selain itu, Undang-Undang Pemerintahan

Daerah dan Undang-Undang Pembagian Urusan Pemerintahan juga secara struktur dan juridis ikut menjadi pertimbangan di dalam pendirian dan pengelolaan PTSP. Selain Undang-Undang yang disebutkan di atas, Undang-Undang Perdagangan juga menjadi acuan. Namun hal yang disebutkan terakhir ini lebih mengacu pada layanan jasa perijinan usahanya. Undang-Undang yang lain juga akan diacu jika memang di dalam operasionalisasinya PTSP nanti layanan PTSP semakin bertambah baik perijinan maupun non perijinan.

a. UU No. 25 Tahun 2009 tentang pelayanan publik Di dalam Undang-Undang Pelayanan Publik secara khusus mengatur tentang system pelayanan terpadu.Sistem ini diantaranya mengatur keberadaan PTSP perijinan dan non perijinan. Beberapa pasal yang menyebutkan hal tersebut adalah:

Pasal 9:

(1) Dalam rangka mempermudah penyelenggaraan berbagai bentuk pelayanan publik, dapat dilakukan

penyelenggaraan sistem pelayanan terpadu. (2) Pengaturan mengenai sistem pelayanan

terpadu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dalam peraturan pemerintah.

Pasal 60

(2) Peraturan pemerintah mengenai sistem pelayanan terpadu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat(2) harus ditetapkan paling lambat 6 (enam) bulan sejak Undang- Undang ini diundangkan.

b. Peraturan Pemerintah Nomor 96 Tahun 2012 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Pelayanan Publik

Peraturan Pemerintah ini juga mengatur tentang: a. ruang lingkup Pelayanan Publik; b. sistem pelayanan terpadu; c. pedoman penyusunan standar pelayanan; d. proporsi akses dan kategori kelompok masyarakat dalam Pelayanan Berjenjang; dan d. keikutsertaan masyarakat dalam penyelenggaraan Pelayanan Publik.

Adapun ruang lingkup Pelayanan Publik yang diatur dalam PP ini meliputi: a. Pelayanan barang publik; b. Pelayanan jasa publik; dan c.Pelayanan administrasi.Sementara penyelenggara pelayanan meliputi institusi negara yang terdiri atas lembaga negara dan/ atau lembaga pemerintah; korporasi berupa BUMN/BUMD atau Satuan Kerja; lembaga independen yang dibentuk berdasarkan UU; dan badan hukum lain yang menyelenggarakan Pelayanan Publik dalam rangka pelaksanaan Misi Negara.Di dalam PP yang menjelaskan regulasi mengenai pelayanan public lebih spesiik juga diatur bab khusus mengenai system pelayanan terpadu.

BAB III Sistem Pelayanan Terpadu

Dalam dokumen f6a55204 638b 4758 ab59 a4bf84ba8560 (Halaman 126-130)