Al Hudzaifi dan Hani bin Buraik menyebutkan bahwa orang-orang hizbi pernah mengunjungi Ma’bar ketika Imam Al Wadi’i memberikan tahdzir kepada mereka.
Saya jawab, syubhat ini pernah dibesar-besarkan oleh orang-orang Hajuri dulu untuk menghilangkan kepercayaan terhadap para ulama ahlus sunnah di Yaman. Dan hari ini diulang-ulang kembali kepada kita oleh Al Hudzaifi dan Hani.
Sebagai bantahan untuk mereka semua dan orang-orang setelah mereka yang mengulangi kembali kepada kita perkataan seperti itu, saya katakan dengan meminta pertolongan kepada Allah. Sebagian murid senior Imam Al Wadi’i telah ter-fitnah dengan Jum’iyyah Ihya’ At Turats Al Kuwaitiyyah. Maka, guru mereka, Imam Al Wadi’i, menasehati mereka dan bersikap lemah-lembut kepada mereka selama hampir tiga tahun. Mereka pun membalas nasehat beliau dengan bantahan dan pengingkaran. Ketika dilihat nasehat kepada mereka itu tidak membuahkan hasil, beliau mengumumkan tahdzir terhadap mereka dan mengeluarkan rekaman berjudul “Al Bara-ah minal Hizbiyyah”.
Pada waktu itu, sebagian murid-murid senior beliau yang lain ber- ijtihad dan memandang untuk mengadakan pertemuan terakhir bersama mereka [yang ter-fitnah] dalam rangka menasehati mereka. Jika mereka mau menerima nasehat, itu yang diharapkan. Jika tidak, tibalah perpisahan dengan mereka. Maka, terjadilah pertemuan di Darul Hadits, Ma’bar harrasahallahu. Terdiri dari Syaikh Muhammad Al Imam, Syaikh Abdullah bin Utsman, dan sebagian lagi yang terhitung sebagai masyayikh ahlus sunnah waktu itu. Mereka berkumpul bersama Muhammad Mahdi, Abdul Majid Ar Rimi, dan Uqail Al Maqthari. Di antara mereka [yang disebutkan terakhir itu] kemudian terjadi perdebatan sekitar permasalahan hizbiyyah,
baiat, sirriyah8, dan takfir tanpa memerhatikan ketentuan-ketentuan syar’i. Ketika dua syaikh, Adz Dzammari dan Al Imam, melihat orang-orang itu masih berada dalam bid’ah dan penyimpangan, mereka berdua pun berlepas diri. Mereka berdua memberikan tahdzir kepada orang-orang yang dimaksud secara terang-terangan, sebagaimana tahdzir terhadap Ikhwanul Muslimin, seluruh ahlul bid’ah dan ahlul ahwa’.
Setelah itu, Syaikh Muhammad Al Imam mengeluarkan rekaman bermanfaat yang berjudul “Bidayatul Inhiraf wa Nihayatuhu.” Tersebarlah kaset rekaman itu ke mana-mana. Dan setelah itu, beliau membantah syubhat orang-orang Sururi dan menyelaminya sampai ke dasar-dasarnya di dalam kitab beliau yang berjudul sama. Ketika itu orang-orang Sururi mengamuk sengamuk-ngamuknya dan mengeluarkan tahdzir terhadap Syaikh Al Imam berikut siapa saja yang belajar bersamanya. Hilang pujian mereka kepada beliau yang pernah disebarkan di majalah al Furqan dulu. Bagi mereka, Syaikh Al Imam telah berubah dari seorang yang zuhud, tekun beribadah, dan wara’ menjadi seorang yang taklid kepada Syaikh Muqbil, ekstrem, mencela ulama, dan seterusnya.
Saya katakan, sekiranya, Syaikh Al Imam salah dalam ijtihadnya ketika pertemuan itu, maka sepantasnya kita katakan sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Imam Al Wadi’i dalam Tuhfatul Mujib (halaman 354), “Syaikh Al Imam termasuk masyayikh ahlus sunnah dan pengemban dakwah di atas bashirah, tetapi beliau tergelincir.”
Demikianlah. Adapun Al Walid Al ‘Allamah Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushabi hafizhahullah, telah jelas baginya penyimpangan dan ke-hizbi-an orang-orang Sururi dari kali pertama muncul, sebelum seluruh masyayikh ahlus sunnah di Yaman termasuk di dalamnya Imam Al Wadi’i. Sampai-sampai, hal itu dipersaksikan juga oleh Imam Al Wadi’i, “Beliau [Syaikh Al Wushabi] telah mengetahui mereka sebelum aku,” sebagaimana disebutkan dalam tulisan “Izahatul Ghamamah ‘an As-ilah Ahli Tihamah.”
Dan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushabi memiliki bantahan terhadap mereka berupa tulisan yang sangat bermanfaat berjudul
Isyruna Ma’khadzan ‘alas Sururiyyah dan sejumlah bantahan lain di dalam kaset-kaset rekaman, muhadharah-muhadharah, dan sikap-sikap yang terpuji menyingkap hakekat mereka bagi kebanyakan manusia bi fadhlillah. Dan sebagian mereka mencoba untuk mengganggu Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab dengan cara mengadukan beliau kepada sebagian aparat pemerintah, tetapi itu tidak mendatangkan hasil bi fadhlillah. Adapun guru kami, An Naqid Al Bashir Abdul Aziz Al Bura’i hafizhahullah, beliau termasuk orang yang banyak menutup fitnah mereka itu di kali pertama terjadinya. Beliau juga termasuk orang yang paling sering menutup fitnah mereka. Sungguh, beliau telah menghadapi fitnah mereka itu dengan berbagai bantahan berupa syair-syair dan tulisan-tulisan panjang yang membuat mereka—khususnya yang paling bodoh di antara mereka, Muhammad Mahdi—berteriak. Sampai, Imam Al Wadi’i rahimahullah mempersaksikan hal itu lewat ucapan beliau, “Syaikh Al Bura’i telah mencekik orang-orang hizbi dan meninggalkan mereka seolah-olah mereka telah dipasung” (Tuhfatul Mujib, halaman 391).
Juga ucapan beliau tentang Syaikh Abdul ‘Aziz. “Beliau adalah orang yang paham dan telah memusingkan orang-orang hizbi sejak tinggal di Mafraq Hubaisy. Telah tersebar atas sebab beliau sunnah yang sangat banyak” (Tuhfatul Mujib, halaman 210).
Saya katakan, siapa saja yang melihat edisi-edisi majalah Al Furqan, teriakan Muhammad bin Mahdi berikut teriakan orang-orang Sururi yang bersamanya, syair-syair ratap tangis mereka, dan tulisan-tulisan mereka yang membantah Syaikh Al Bura’i, niscaya akan mengetahui kebenaran ucapan Imam Al Wadi’i rahimahullah bahwa Syaikh Al Bura’i telah memusingkan orang-orang hizbi, mencekik mereka, dan meninggalkan mereka dalam keadaan bingung.
Itu semua adalah secuil dari kesungguhan para ulama dalam menjaga dakwah Salaf di Yaman menghadapi orang-orang Sururi dan menjelaskan fitnah mereka kepada manusia sejak dua puluh tahun yang lalu. Dan yang meremehkan mereka sekarang ini pada waktu itu masih kanak-kanak atau baru beranjak dewasa. Mereka yang meremehkan
tidaklah memiliki kesungguhan seperti itu, selain sikap peremehan dan qila wa qala.