• Tidak ada hasil yang ditemukan

CATATAN KEEMPATBELAS

Dalam dokumen BEBERAPA CATATAN ATAS CELAAN ALI AL HUDZ (Halaman 72-80)

Berkata Al Hudzaifi dalam tulisannya, “(Poin Kelima) Perkataan Muhammad Al Imam tentang Jihad Afganistan bahwa Itu Adalah Hasil Konspirasi terhadap Para Pemuda.” Kemudian, di tengah uraian bantahannya, Al Hudzaifi mengatakan, “Maka, ucapan bahwa jihad tersebut tidak lain dari hasil konspirasi terhadap Islam dan kaum muslimin adalah bentuk pernyataan sesat kepada para ulama seluruhnya.”

Saya jawab, perkataan Saudara Al Khuzaifi menyamarkan pembaca bahwa Syaikh Al Imam meragukan disyariatkannya Jihad Afganistan dari dasarnya dan jihad itu adalah bentuk konspirasi terhadap Islam dan kaum muslimin.

Sayangnya, tidak ada dalam perkataan Syaikh Al Imam yang dikutip oleh Al Hudzaifi tersebut sesuatu yang menunjukkan hal itu. Yang ada dalam perkataan Syaikh Al Imam, sesungguhnya musuh-musuh Islam memperalat anak-anak kaum muslimin di perang tersebut, memecah-belah antara mereka setelah itu, dan mendorong terjadinya kekacauan di antara mereka lewat kebencian, pembunuhan, dan peperangan.

Syaikh Al Imam tidak berbicara tentang dasar syariat jihad. Akan tetapi, beliau berbicara tentang rencana musuh-musuh Islam, terkhusus lagi Amerika, yang memanfaatkan jihad tersebut untuk mengalahkan negara adidaya saingannya pada waktu itu, Uni Soviet. Karenanya, Syaikh Al Imam di satu sisi, sedangkan Al Hudzaifi di sisi yang lain. Yang tidak bisa dipungkiri serta dapat ditemukan dalam sejumlah referensi yang berbicara tentang Jihad Afganistan adalah fakta bahwa Amerika sangat antusias terhadap keberhasilan Jihad Afganistan dan bersama-sama dalam membantu jihad itu—sebagaimana yang akan datang penjelasannya dari perkataan Al Albani dan Al Wadi’i—bukan karena simpati kepada para mujahidin. Amerika hanya ingin merebut pos-pos yang ditempati Uni Soviet dalam mengontrol wilayah Arab.

Ketika Uni Soviet kalah, Amerika mulai membidik musuh mereka sebenarnya: kaum muslimin, para mujahid di Afganistan. Amerika pun mulai menimpakan permusuhan di antara mujahidin Afganistan. Mereka memanfaatkan terpengaruhnya sebagian mujahidin dengan pemikiran takfir untuk [kemudian] memerangi mereka atas nama [melawan] terorisme. Ditambah lagi dengan apa yang terjadi di antara mujahidin berupa saling berambisinya mereka merebut kekuasaan, munculnya pembatalan- pembatalan perjanjian yang terjadi di antara faksi-faksi jihad, dan tersebarnya pemikiran takfir di tengah-tengah mereka.

Ketika terjadi kerusakan di Jihad Afganistan setelah sebelumnya jihad itu adalah jihad syar’i yang tidak ada cacat padanya, tawaqquf-lah siapa saja yang ber-tawaqquf di kalangan ulama ahlus sunnah terhadap fatwa-fatwa disyariatkannya jihad tersebut. Terlebih lagi, setelah peristiwa terbunuhnya Asy Syaikh As Salafi, Jamilurrahman rahimahullah.

Demikian pula Imam Al Albani rahimahullah yang dulunya sering kali mendorong Jihad Afganistan dan memandangnya sebagai fardhu ‘ain. Ketika ditanya setelah itu terkait rujuknya beliau dari fatwa-fatwa disyariatkannya Jihad Afganistan, beliau menjawab,

“Saya tidak rujuk. Saya hanya ber-tawaqquf. Dan saya terang-terangan seperti ini lebih dari sekali, sampai air yang mengalir bisa kembali ke tempat asalnya13. Dan sampai jelas bagi kita dengan berbagai kejelasan bahwa perkara ini bukan lagi perkara sengketa karena markas-markas, wilayah-wilayah, dan persekongkolan-persekongkolan. Maksudnya, kita jadi merasa sangat ragu dengan kelangsungan jihad yang haq. Saya dapatkan akhir-akhir ini sebagian sebab yang membuat saya futur dari semangat saya yang dulu.” (“Silsilah Al Huda wan Nur”, nomor 572) Beliau juga pernah mengatakan,

13 Maksudnya, jihad yang pernah difatwakan itu kembali berubah menjadi jihad

“Telah muncul belakangan ini apa yang serupa dengan keterangan- keterangan bahwa mereka, mujahidin Afganistan, menerima senjata- senjata yang datang dari Amerika meski dengan cara-cara yang picik. Akan tetapi, ini tidak bisa kita katakan suatu persekongkolan dan kesepakatan. Bahkan, mereka bersama Amerika untuk meraih tujuan yang diinginkan Amerika berupa pendudukan yang mulai diterapkan pada pemerintahan-pemerintahan Arab dan Islam atau mungkin pemerintahan-pemerintahan lainnya.” (“Silsilah Al Huda wan Nur”, nomor 604)

Dari situlah, di tengah-tengah pembicaraan terkait Jihad Afganistan, Imam Al Utsaimin rahimahullah pernah mengatakan, “Adapun Afganistan, maka itu menyakitkan, menyakitkan, menyakitkan sampai tak berujung” (Kaset ketiga dari syarh “Kitab Al Hudud” dalam dars Bulughul Maram). Ini setelah beliau fatwakan bahwa Jihad Afganistan fardhu kifayah.

Demikian juga guru kita, Imam Al Wadi’i rahimahullah, yang dulunya menyemangati orang untuk ikut dalam jihad itu. Beliau ditanya, “Apa nasehatmu bagi siapa saja yang ingin berjihad di Afganistan di hari- hari ini terkhusus setelah terjadi kekacauan yang menyayat hati ini?”. Beliau pun menjawab,

“Saya nasehatkan agar tidak terburu-buru, sampai datang kabar-kabar dari ikhwah kita, ahlus sunnah di sana. Jika perkaranya sudah siap, mereka akan bergerak menghadapi musuh-musuh Islam. Adapun jika di bawah bendera-bendera jahiliyyah seperti yang ada, maka saya tidak menasehatkan seorang pun untuk pergi ke sana dan berperang di bawah pimpinan Hikmatyar, Sayyaf, dan Shibghatullah Mujaddidi. Sebab, telah jelas kemunafikan mereka dan bahwa mereka berperang bukan karena agama. Tetapi berperang karena jabatan-jabatan. Wallahul musta’an.”(Maqtal Asy Syaikh Jamilurrahman, halaman 48)

Beliau berkata, “Maka hendaklah kita menerangkan kepada kaum muslimin keadaan jihad di Afganistan. Bahwasanya jihad di sana telah

menjadi ajang perebutan wilayah. Orang-orang komunis pun diuntungkan di hari-hari ini” (Maqtal Asy Syaikh Jamilurrahman, halaman 42).

Beliau pernah berbicara tentang mujahidin Afganistan. Kata beliau, “Hendaknya mereka rujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah, menjadikan para ulama sebagai hakim, dan menjauhi materi. Sebab materilah yang membuat mereka rusak. Sungguh, jihad mereka terdahulu adalah jihad yang benar dan di atas kebaikan. Ketika datang kepada mereka materi, rusaklah mereka. Demikian juga dengan permasalahan jabatan. Tidak seharusnya siapa pun berperang karena jabatan” (Tuhfatul Mujib, halaman 229)

Beliau juga pernah menerangkan tentang konspirasi Amerika dalam memecah-belah mujahidin setelah tidak membutuhkan para mujahidin. Kata beliau,

“Orang-orang sekarang tidak siap berjihad. Para penyembah kubur, mana mau mereka berjihad. Bahkan, mungkin terjadi apa yang terjadi di Afganistan, jihad yang tidak ada tandingannya saat itu (di Afganistan). Dan kemudian terjadilah apa yang terjadi. Wallahul musta’an. Jihad— setelah Amerika merasa tidak membutuhkannya, akan dipecah-belah di antara mereka. [Kemudian] terbunuhlah pengemban dakwah yang benar, Syaikh Jamilurrahman, dan terhinalah penduduk Kunar” (As-ilah Asy Syabab As Salafi fid Da-iri).

Beliau pernah menerangkan bentuk konspirasi dalam mengakhiri jihad tersebut. Kata beliau,

“Dan telah sampai kepada kita kabar-kabar yang mengagetkan yang menyedihkan dengan apa yang terjadi di Afganistan, berupa pembunuhan saudara kita, Jamilurrahman, rahimahullah ta’ala. Maka, itu adalah perkara yang sudah dipersiapkan dari sebelum-sebelumnya. Sebab, dua tahun sebelum kejadian musuh-musuh Islam telah memulai serangan-serangan kepada orang-orang Arab yang ada di Afganistan dengan menyebut mereka Wahhabi. Dan musuh-musuh selalu

mengancam orang-orang Arab di sana. Adapun orang-orang Arab itu, jazahumullahu khoiron, pergi ke Afganistan untuk berperang di jalan Allah. Bukan untuk mencari ghanimah. Bukan untuk mencari duniawi. Tetapi pergi ke sana untuk berperang di jalan Allah. Saudara-saudara mereka yang shalih di Afganistan tahu itu” (Maqtal Asy Syaikh Jamilurrahman, halaman 32)

Beliau juga menjelaskan tentang hakikat konspirasi yang menyebabkan peperangan terjadi antara kaum muslimin di Afganistan yang mengakibatkan terbunuhnya Syaikh Jamilurrahman. Beliau katakan,

“Yang jelas bagi saya, pembunuhan itu adalah sesuatu yang direncanakan oleh musuh-musuh Islam dan pelakunya dibayar. Sebab, musuh-musuh Islam mengetahui kedudukan sunnah dan ahlus sunnah di hati-hati manusia. Musuh-musuh Islam tidak takut dengan orang-orang hizbi. Tidak takut dengan rudal-rudal kita. Tidak dengan senjata-senjata kita. Tetapi mereka takut dengan orang-orang yang berpegang teguh dengan kitabullah dan sunnah dan yang tidak berhukum kecuali dengan Al Qur’an dan As Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Musuh- musuh Islam sadar bahwa mereka bisa memperalat Ikhwanul Muflisin dengan [tawaran] markas-markas, kantor-kantor, dan jabatan-jabatan. Setelah itu, mereka bisa tarik kembali semua yang mereka janjikan dan inginkan. Akan tetapi, [yang ditakuti mereka adalah] para pengikut sunnah yang berpegang dengan Al Qur’an dan As Sunnah, yang tidak berhukum kecuali dengan Al Qur’an dan As Sunnah serta tidak mengalah hanya karena perkara-perkara duniawi” (Maqtal Asy Syaikh Jamilurrahman, halaman 47)

Dan di jalan para ulama tersebut, mengikutlah sosok pemberani yang paham fikih waqi’ dan makar-makar musuh-musuh Islam, Syaikh Al Imam, dengan perkataan beliau,

“Jihad Afganistan di awal-awalnya adalah jihad yang baik dan dirahmati. Akan tetapi, kotoran-kotoran hizbiyyah mengotorinya. Kelompok- kelompok takfir merusaknya. Maka, ketika jihad itu jihad fi sabilillah

melawan orang-orang yang kafir kepada Allah dari itu orang-orang Yahudi dan Nasrani, tiba-tiba berubah jadi memerangi orang-orang Islam sambil menghalalkan harta-harta mereka, darah-darah mereka, dan kehormatan-kehormatan mereka. Wa la hawla wa la quwwata illa billah” (Tamamul Minnah fi Fiqhi Qital Al Fitnah, halaman 137)

Termasuk perkara yang aneh, Al Hudzaifi mencari uzur untuk Amerika dengan mengatakan bahwa Amerika tidak memerangi mujahidin Afganistan. Mereka hanya merangkul Mujahidin guna memerangi kelompok-kelompok takfir. Saya katakan, ya subhanallah, engkau mencari uzur untuk Amerika memusuhi Islam dan kaum muslimin, tetapi tidak mencari uzur untuk ulama dari ulama-ulama ahlus sunnah yang berdiri di atas markas dan benteng paling besar bagi dakwah Salafi di Yaman? Wahai, Hudzaifi, siapa yang paling berhak dicarikan uzur untuknya: Amerika atau Syaikh Al Imam?

Apa sampai hati kalian berbuat lalim kepada Syaikh Al Imam dengan mencari uzur untuk Amerika dan menjatuhkan beliau? Dan ketika terjadi jihad tersebut, sebagaimana perkataan Al Hudzaifi, Syaikh Al Imam baru beranjak dewasa (al murahaqah), sementara Al Hudzaifi sendiri waktu itu masih kanak-kanak atau belum lagi lahir. Sambil untuk diperhatikan juga, kata al murahaqah adalah kata baru yang bukan berasal dari ahli bahasa.

Al Hudzaifi menutup tulisannya dengan tidak merasa aneh untuk mencela Syaikh Abdurrahman Al ‘Adni hafizhahullah lewat sebutan Al Mughaffal, karena tahu semua itu tetapi tidak mengambil manfaat darinya. Kami katakan, “Apa Al Hudzaifi bisa menghukumi Imam Al Wadi’i yang telah bergaul banyak dengan kejadian-kejadian yang telah disebutkan oleh Al Hudzaifi itu dan pada waktu bersamaan Syaikh Al Imam termasuk masyayikh ahlus sunnah yang ahlus sunnah telah diwasiatkan untuk rujuk kepada mereka ketika terjadi kejadian-kejadian dan fitnah-fitnah? Belum cukup sampai di situ, Imam Al Wadi’i juga menyebutnya dengan Al Muhaddits, Al Hafizh, Al Faqih, At Taqiyyu, Az Zahid, Al Wara’, dan yang kaum muslimin mengambil manfaat darinya dengan manfaat yang sangat besar. Lantas,

apa bisa Al Hudzaifi menghukumi Imam Al Wadi’i sebagai Al Mughaffal atau yang seperti itu khusus untuk Syaikh Abdurrahman saja? Apa bisa Al Hudzaifi menghukumi dirinya sendiri sebagai Al Mughaffal, karena tahu banyak semua itu yang sebagiannya terjadi lebih dari 23 tahun yang lalu, bersamaan dengannya ia mengajukan tulisannya yang berjudul An Nashir ‘ala Hamalatit Tanshir kepada Syaikh Al Imam agar di-muraja’ah dan diberi kata pengantar? Atau, memang Al Hudzaifi itu berjalan dengan prinsip “Hak saya punya saya, hak manusia bareng-bareng”?

Masih ada lagi kesalahan-kesalahan dan pengaburan-pengaburan fakta di dalam tulisan Saudara Al Khudzaifi. Tidak saya munculkan di sini, seperti singgungannya di awal tulisan tentang masyayikh [Yaman] yang tidak mau menerima nasehat—yang ini adalah tuduhan yang tidak berdasarkan dalil dan bukti.

Maka, tidaklah kita ketahui mereka itu kecuali di puncak ke- tawadhu’-an, kelembutan, kemauan menerima nasehat—seperti yang kita kira dan Allah-lah juga yang mengetahui mereka—bersamaan dengan jauhnya mereka dari sikap taklid. Inilah kelebihan ulama-ulama ahlus sunnah di Yaman sejak zaman dahulu. Dalam kitab Al Badru Ath Thali’ (Juz III, halaman 83), Imam Asy Syaukani rahimahullah pernah mengatakan tentang ulama-ulama Yaman,

“Dan jika mereka tidak memiliki kelebihan kecuali hanya mengaitkan segala sesuatu pada nash-nash Al Qur’an dan As Sunnah serta menjauhkan diri dari sikap taklid, maka itulah kekhususan yang telah Allah anugrahkan dengannya penduduk negeri Yaman di zaman-zaman belakangan ini. Dan tidaklah ditemukan pada selain mereka kecuali sangat sedikit.”

Saya katakan, itu bentuk kebenaran sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

نﺎَﻤَﯾ ُﻪْﻘِﻔﻟا

Sungguh, telah dikutip oleh Ibnu Abdil Bar ijma’ bahwa “Seseorang yang taklid bukanlah seorang yang berilmu.”

Seperti penyandaran Al Hudzaifi di dalam tulisannya atas kabar- kabar manusia yang tidak diterangkan siapa mereka yang dengannya ia cela ulama-ulama ahlus sunnah wal jama’ah. Engkau akan menemukannya berkata, “Telah mengabarkan saya sebagian ikhwah” atau “Telah menceritakan kepada saya sebagian ikhwah” dan yang semisal dengan itu. Barangkali, jika ia sebutkan untuk kita ikhwah itu, akan kita periksa keadaannya dan niscaya akan kita dapati orang itu sebagai pendusta atau orang yang disusupkan ke dalam dakwah ahlus sunnah.

Termasuk kaedah-kaedah yang baku di kalangan ahlul hadits adalah kaedah tidaklah cukup bagi seorang perawi untuk berkata, “Telah memberikan kabar kepadaku seorang yang tsiqah,” karena adanya kemungkinan bahwa orang tersebut tsiqah di sisi perawi tetapi dha’if di sisi orang lain. Nash tentang itu tidak sedikit di kalangan mereka yang berilmu tentang hadits. Karena itu, sebutkan kepada kami nama-nama syaikhmu yang majhul itu, wahai, Hudzaifi, sehingga kita bisa lihat apakah mereka itu orang-orang yang benar-benar tsiqah, orang-orang yang suka berdusta dan seterusnya.

Dan masih tersisa sejumlah catatan lainnya dari tulisan yang tersebar itu yang penuh dengan pengaburan dan penyamaran. Sengaja saya meninggalkannya, agar ringkas sekaligus merasa cukup pada apa-apa yang telah disebutkan. Dan mudah-mudahan nanti saya [bisa] mengurai benangnya, menenun kain-kain kafannya, dan menyingkap aurat-auratnya di tulisan yang akan datang bi idznillah, jika memang saya pandang ada maslahat di sana.

TAHDZIR ULAMA-ULAMA AHLUS SUNNAH DI

Dalam dokumen BEBERAPA CATATAN ATAS CELAAN ALI AL HUDZ (Halaman 72-80)

Dokumen terkait