BEBERAPA CATATAN TERKAIT
Judul Asli:
Wafaqat ma’a Al Hudzaifi wa Hani Buraik fi Qadhihima fi Ulama’ Ahl As Sunnah fil Yaman
Penulis:
Abu ‘Amr Nuruddin bin Ali bin Abdillah As Suda’i
ِﲓِﺣﺮﻟا ِﻦَ ْﲪﺮﻟا ِ ا ِﻢ ْﺴِ
dukungan dan pembelaan—meski paling sedikitnya adalah doa—atas apa yang mereka jalani selama ini berupa penjagaan dan pemeliharaan terhadap dakwah ahlus sunnah yang telah menyebar di mana-mana—di berbagai penjuru negeri—dan atas usaha mereka dalam menjauhkan berbagai kecamuk perang, fitnah, dan konspirasi yang masuk ke dalam kancah dakwah tersebut hingga dapat melemahkan dan mempersulit prosesnya, muncullah dua pernyataan yang salah satunya milik Hani bin Buraik Al Adni dan yang lainnya milik Abu ‘Ammar Ali Al Hudzaifi. Dua pernyataan yang dimaksud menyerang para ulama ahlus sunnah Yaman, merendahkan urusan mereka, dan mencela apa yang mereka lakukan dengan membawa berbagai hal yang telah lapuk dimakan zaman—yang bahkan beberapa syaikh pun telah menyelesaikannya secara utuh. Padahal, yang namanya ibrah di kalangan orang-orang berilmu itu adalah pada baiknya kesudahan segala sesuatu. Bukan pada kesalahan di awal kemunculannya.َﳻﻮُﻣ َلﺎَﻘَﻓ ، َﳻﻮُﻣَو ُمَدٓ ﺞَ ْﺣا
adalah ayah kami. Engkau sudah mengecewakan kami dan mengeluarkan kami dari jannah.’ Adam menjawab, ‘Engkau Musa yang telah dipilih oleh Allah ‘azza wa jalla dengan kalamNya dan telah menuliskan untukmu Taurat dengan tanganNya. Maka, apakah engkau mencelaku dengan sesuatu yang telah Allah takdirkan atasku sejak 40 tahun sebelum aku diciptakan?’. Seperti itulah Adam membantah Musa (3x).”[Dari] dua orang yang dimaksud [Hudzaifi dan Hani bin Buraik], salah seorang di antaranya ada yang menerangkan bahwa mereka memiliki data tentang ulama Yaman yang [sebenarnya] itu sudah berlalu kejadiannya 25 tahun silam. Yang lainnya, bahkan, menyebutkan berbagai hal yang telah berlalu kejadiannya lebih dari 23 tahun silam. Dua kumpulan data yang dibawakan itu, sebenarnya, tidak ada yang baru selain beberapa hal yang terjadi belakangan ini. Sebaliknya, bisa dikatakan bahwa dengan apa yang dilakukan oleh masing-masing mereka pada hakikatnya hanya mengulang dan menghidupkan kembali apa yang pernah dilakukan oleh orang-orang Hajuri dan orang-orang Abul Hasan sebelumnya, berupa kekacauan-kekacauan yang dialamatkan kepada ulama ahlus sunnah di Yaman. (Saya tahu, kelakuan begini berasal dari si Akhzam)1.
1 Penulis, Nuruddin, hendak melukiskan apa yang terjadi sekarang ini lewat sebuah
Padahal, yang namanya bentuk perendahan dan penghinaan orang-orang Yaman terhadap para ulama dan orang-orang-orang-orang yang utama di antara mereka bukanlah sesuatu yang aneh [lagi]. Bahkan, ini sudah ma’ruf di kalangan mereka sejak zaman dahulu. Al-‘Allamah Al Lahji rahimahullah, salah seorang ulama di abad keenam Hijriah, sebagaimana disebutkan dalam Hajrul ‘Ilmi karya Al Akwa’ rahimahullah—yang Imam Asy Syaukani rahimahullah pun pernah menyebutkannya dalam Al Badr Ath Thali’ (Juz 1, halaman 59-60; Juz II, halaman 83) dan bahkan beliau sendiri pernah menyebutkan dalam kitab tersebut (Juz V, halaman 91) tentang orang-orang Yaman, “Bahwa orang-orang Yaman itu diberi tabiat untuk melupakan berbagai kebaikan sebagian mereka dan mengubur berbagai keutaman orang-orang yang utama di antara mereka.” Wallahul musta’an.
Wa bi hamdillah, dua pernyataan milik mereka berdua itu tidak memberikan pengaruh yang mendalam di tengah-tengah ahlus sunnah di Yaman. Bahkan, dua pernyataan tersebut menjadi sebab yang besar akan larinya ahlus sunnah dari mereka berdua. “Sudah menjadi ketetapan Allah bagi siapa saja yang mencela para ulama ia akan menjadi hina,” kata Imam Adz Dzahabi rahimahullah dalam Tarikh Al Islam (Juz XIII, halaman 256).
kalangan pemuda yang gegabah, baru belajar dan baru dewasa. Dengan itulah, dakwah Salaf di Yaman dapat selamat—bi fadhlillah—dari berbagai macam fitnah.
Berdasarkan fakta bahwa sebagian orang, terkhusus lagi siapa saja dari saudara-saudara kita yang berasal dari luar Yaman dan baru saja berpegang teguh dengan sunnah—mudah-mudahan Allah memberi mereka semua taufikNya, telah terpengaruh dengan apa yang ada di dalam dua pernyataan Al Hudzaifi dan Hani bin Buraik berupa pengaburan dan penyamaran, maka saya terdorong untuk menjelaskan berbagai hal yang ada di dalam dua pernyataan tersebut dari itu berupa penyesatan dan pengaburan, sebagai bentuk pembelaan terhadap kehormatan-kehormatan para ulama dan dakwah Salaf di Yaman yang tersebar luas, yang bersih, yang murni, yang berdiri dalam menanggungjawabinya, memeliharanya, dan menjaganya. Dalam hadits Abu Darda’, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
ِﺔَﻣﺎَ ِﻘْﻟا َمْﻮَﯾ َرﺎﻨﻟا ِﻪِ ْ َو ْﻦَﻋ ُﷲ دَر ِﻪْ ِﺧ ِضﺮَﻋ ْﻦَﻋ دَر ْﻦَﻣ
“Siapa saja yang membela kehormatan saudaranya, Allah akan menjauhkannya dari Neraka pada hari Kiamat nanti.” [HR. At Tirmidzi nomor 1932 dan di-hasan-kan olehnya]
Bantahan saya ini terhitung sebagai bantahan terhadap Ali Al Hudzaifi, Hani bin Buraik, orang-orang Hajuri, orang-orang Abul Hasan [Al Ma’ribi], dan Shalih Al Bakri yang telah mendahului mereka berdua dalam perkara-perkara yang dimaksud. Bahkan, juga terhitung sebagai bantahan terhadap orang-orang yang akan muncul setelah Al Hudzaifi dan Hani bin Buraik serta siapa saja yang melakukannya lagi kepada kita nanti—yang pendengarnya akan bosan sendiri dengan pengulangan-pengulangan seperti itu.
untuk menggelincirkan mereka, meskipun mereka sendiri tidak memperhatikan hal-hal itu ketika mencela ulama-ulama ahlus sunnah di Yaman.
CATATAN PERTAMA
Berkata saudara Ali Al Hudzaifi tentang ulama ahlus sunnah Yaman dalam tulisannya, “Dan setelah fitnah Hajuri, muncul dari para masyayikh [Yaman] berbagai perkara yang paling mencolok di antaranya adalah menganggap remeh permasalahan membantah dan membicarakan kelompok-kelompok dan yayasan-yayasan [menyimpang].”
Saya jawab, ucapan itu termasuk bentuk pengaburan dan pengabaran sesuatu yang tidak sesuai dengan faktanya. Justru yang ada sebaliknya. Ulama-ulama ahlus sunnah di Yaman—ketika melihat apa yang terjadi karena fitnah Hajuri lewat syair-syair atau tulisan-tulisan mereka yang menuduh para ulama ahlus sunnah dengan kefasikan, kebidahan, dan kesesatan—mengeluarkan peringatan keras di setiap kesempatan yang ada dari perbuatan yang buruk tersebut yang menyusup ke dalam dakwah ahlus sunnah.
Dan bukanlah membantah yang seperti itu, maksudnya dengan peremehan dan penghinaan, merupakan bantahan ilmiah yang dibangun di atas dalil. Bukan semata-mata mencaci dan memaki. Bahkan, pada masa fitnah Hajuri, ulama-ulama ahlus sunnah di Yaman senantiasa berada di atas keinginan untuk membela dakwah Salaf dan membantah ahlu bid’ah serta ahlul ahwa’.
Sebagai contoh adalah apa yang terjadi pada tahun 1432 H. Syaikh Al Imam menulis sebuah tulisan yang berbobot, Al Watsa-iq At Ta-amuriyah ‘alad Duwal Al ‘Arabiyyah wal Islamiyyah, yang menjadi bantahan terhadap apa yang disebut sebagai Arab Spring2. Dan beliau dalam khotbahnya pada
2 Arab Spring adalah istilah untuk rangkaian protes dan demonstrasi yang terjadi
tanggal 23 Rabiuts Tsani 1433 H berbicara lengkap tentang Hizbur Rasyad As Salafi3, sebagai bentuk peringatan keras dari kelompok itu dan
perlepasan diri dakwah Salaf dari kelompok yang tersebar di sana-sini. Itu pun tidak berhenti sampai di situ. Beliau kemudian mengeluarkan tulisan bermanfaat pada tanggal 12 Muharram 1434 H untuk Setelah lama tertutup warna putih salju, tiba-tiba bermunculan warna-warni bunga yang cantik. Di lain pihak, istilah itu juga memberi kesan tentang sesuatu yang hanya berumur pendek, tiga atau empat bulan, dan setelah itu menyerbulah musim panas yang di Timur Tengah sana betul-betul terik dan bikin gerah. Siapa pun tahu, di sana pada musim kemarau api yang tersulut dapat mudah menyambar cepat secara luas apa saja yang mudah terbakar. Kesan tersebut belum berakhir sampai di situ. Dari musim panas yang bikin gerah, musim pun kembali berganti menjadi musim gugur. Pada waktu itulah, daun-daun berguguran. Arab Spring disulut di Tunisia pada tanggal 18 Desember 2010. Dari sana, api Arab Spring menjalar ke Mesir, Libya, Bahrain, Suriah, Yaman, Aljazair, Irak, Yordania, Maroko, Oman, Kuwait, Lebanon, Mauritania, Arab Saudi, Sudan, dan Sahara Barat. Selama dua tahun kurang beberapa hari, laju Arab Spring telah menurunkan sejumlah pemimpin negara. Yang pertama kali turun adalah Presiden Tunisia, Zine El Abidine Ben Ali yang turun dari jabatannya setelah berkuasa di Tunisia selama 23 tahun. Setelah itu menyusul Presiden Hosni Mobarak. Ia turun dari jabatannya setelah resmi menggantikan Presiden Anwar Sadat—yang mati ditembak anggota kelompok Khawarij—sebagai presiden pada tanggal 14 Oktober 1981. Nasib paling tragis menimpa penguasa Libya, Moammar Qaddafi. Setelah melepaskan jabatannya pada tanggal 20 September 2011, massa yang anti kepadanya membunuh Qaddafi pada tanggal 20 Oktober 2011. Di Yaman, Presiden Ali Abdullah Saleh mengundurkan diri dan menyerahkan kekuasaan kepada wakilnya. Peristiwa ini terjadi setelah rangkaian unjuk rasa digelar oleh massa di jalan-jalan Yaman. Di negara-negara yang lain, gelombang protes dan unjuk rasa itu memaksa penguasa-penguasa setempat untuk meninjau ulang beberapa kebijakan mereka. Penguasa Maroko, misalnya, mengadakan semacam reformasi konstitusi setelah diprotes oleh rakyatnya. Demikian pula di Kuwait, Lebanon dan Oman. Lain cerita di Sudan dan Yordania. Di Sudan, akibat gelombang protes yang dilakukan massa, Presiden Omar Al-Bashir memberikan pernyataan bahwa dirinya tidak akan mencalonkan kembali setelah jabatannya berakhir pada 2014. Sementara itu, di Yordania, Raja Abdullah II memberhentikan perdana menteri dan kabinetnya setelah muncul gelombang protes di sana. Arab Saudi juga tidak luput dari protes massa. [Penerj.]
3 Sebuah partai politik di Yaman yang didirikan oleh sejumlah tokoh Yaman. Di
menjelaskan penyimpangan kelompok tersebut dari dakwah Salaf—dicetak bersamaan dengan pembahasan masalah yang lebih luas dalam tulisan milik Syaikh Ar Razihi, Al Inkisyaf Al Akhir lil Hizbiyyah Al Mughallafah.
Demikian pula ulama-ulama ahlus sunnah yang lainnya di Yaman. Mereka mengeluarkan tahdzir terhadap kelompok itu. Syaikh Al Bura’i hafizhahullah mengeluarkan pernyataan di dalam rekaman berisi penjelasan tentang segala hal yang menyimpang pada yayasan-yayasan hizbiyyah sampai mencapai 16 butir penyimpangan. Dan dijelaskan dalam “Mukaddimah” rekaman tersebut, beliau melakukan hal itu agar tidak ada yang mengatakan bahwa ahlus sunnah sebenarnya telah menahan diri dari mengeluarkan tahdzir terhadap yayasan-yayasan hizbiyyah.
CATATAN KEDUA
Berkata Saudara Ali Al Hudzaifi dalam tulisannya,
“Muhammad Al Imam mengunjungi Aden dan tempat-tempat lainnya. Ia memberikan muhadharah-muhadharah di banyak masjid. Terkadang, ada yang bertanya kepadanya tentang sebagian orang [yang menyimpang]. Ia pun menjawab, ‘Perhatikan dirimu. Lihat aib-aibmu. Jangan pedulikan yang lain.’ Dan ini ia ulang-ulang di muhadharah-muhadharahnya. Ia cela ikhwah yang menyibukkan diri dengan hal seperti itu.”
Saya jawab, sudah cukup bagi kita perkataan Saudara Ali Al Hudzaifi itulah yang membantahnya. Disebutkan di akhir pernyataannya bahwa Syaikh Al Imam mencela ikhwah yang menyibukkan diri dengan perkara seperti itu, Syaikh Al Imam tidak mencela setiap orang yang membantah pelaku bid’ah. Beliau tidak meremehkan perkara bantahan ilmiah. Beliau hanya mencela siapa saja yang menyibuk-nyibukkan diri dalam perkara tersebut ketimbang menuntut ilmu. Terlebih lagi, orang yang bukan ahlinya. Sebab, yang seperti ini lebih banyak membuat kerusakan ketimbang perbaikan. Dari fitnah Hajuri, kita telah mendapatkan banyak ‘ibrah.
Bagaimana bisa dikatakan meremehkan bantahan-bantahan ilmiah, sedangkan kitab-kitab beliau penuh dengan bantahan-bantahan terhadap ahlul bid’ah dan ahlul ahwa’, bahkan terhadap orang-orang sekuler, missionaris Kristen, [gerakan] emansipasi dan kebebasan wanita. Rekaman-rekamannya terkait permasalahan ini puluhan memenuhi tasjilat-tasjilat Salafi.
Adapun kitab-kitabnya dalam permasalahan ini, sangat mencolok, terang-benderang. Di antara kitab-kitab dan bantahan-bantahan ilmiahnya yang menjadi kebanggaan dakwah Salafi di Yaman pada zaman ini adalah:
2. Tabshir Al Hayara bi Mawaqif Al Qaradhawi minal Yahudi wan Nashara 3. I’anatul Amajid bi Bayan Hal ‘Amr Khalid
Itu jika dikaitkan dengan bantahan-bantahan terhadap individu-individu secara khusus. Adapun kitab-kitabnya yang berisi bantahan-bantahan terhadap kelompok-kelompok dan hizbi-hizbi secara umum, maka banyak. Di antaranya adalah:
1. Tanwir Azh Zhulumat bi Kasyfi Mafasid wa Syubuhat Al Intikhabat 2. Al Bayan li Idhahi Ma ‘alaihi Jami’ah Al Iman
3. Bidayatul Inhiraf wa Nihayatuhu
4. Al Mu-amarah Al Kubra ‘alal Mar-ah Al Muslimah
5. Al Idhahat Al Mawtsiqah fi Bayan Ghawa-il Da’wah Al Musawah Al Muthlaqah
6. Al Watsa-iq At Ta-muriyah ‘alad Duwal Al ‘Arabiyyah wal Islamiyah 7. Tamamul Minnah fi Fiqhi Qitalul Fitnah
8. Naqdhun Nazhariyyat Al Kauniyyah
Ini semua, belum lagi ditambah dengan puluhan khotbah, muhadharah, dan darsnya yang membantah kelompok-kelompok dan hizb-hizb yang menyimpang, baik secara umum ataupun secara khusus. Sebagai misal adalah ketika datang Al Qaradhawi ke Yaman. Syaikh Al Imam mengkhususkan khotbah Jum’at yang berisi tahdzir terhadap Al Qaradhawi. Ketika datang ‘Amr Khalid ke Yaman, Syaikh Al Imam membantahnya dalam rekaman khusus. Demikian juga yang seterusnya.
Al Fadhil Manshur Al Majidi waffaqahullah, An Nahru Al ‘Aridh fidz Dzabbi ‘an Ahlis Sunnah bil Qaridh karya penyair dakwah Syaikh Abu Rawahah Al Muri waffaqahullah, dan Al Bayan ‘an Hal Kibar Ulama’ wa Zu’ama’ Al Ikhwan karya saudara kita Al Fadhil Nabil bin Shalih.
Bagaimana juga bisa dikatakan seperti itu bahwa Syaikh Al Imam meremehkan bantahan-bantahan terhadap pelaku bid’ah, jika di waktu bersamaan beliau mengeluarkan bantahan-bantahan secara utuh lewat tulisan dan khotbah atau mendorong dan memberikan “Kata Pengantar” untuk orang-orang yang memang ahlinya dalam melakukan hal itu?
Adapun fakta bahwa beliau mencela mereka yang menyibukkan waktunya untuk masalah seperti itu, sebagaimana yang dikutip Al Hudzaifi, maka itu bukanlah sesuatu yang tercela. Bahkan, itu menjadi keutamaan bagi Syaikh Al Imam.
Jika kebaikan-kebaikan yang kutampakkan itu dianggap sebagai dosa, maka katakan padaku bagaimana caraku meminta uzur?
Semisal itulah pula para ulama kibar di zaman ini berjalan, seperti Al Albani, Ibnu Baz, Al Utsaimin, Al Wadi’i rahimahumullah dan ulama-ulama selain mereka seperti Al Fauzan, Al ‘Abbad, Al Madkhali, dan seterusnya dari kalangan ulama kibar. Ucapan-ucapan mereka tentang permasalahan itu banyak dan memaparkan semuanya di sini membuat panjang tulisan.
Saya cukupkan dengan mengutip di sini sejumlah perkataan imam dakwah Salaf di Yaman, guru kita, Imam Al Wadi’i ketika menyerang dan membungkam orang-orang yang menjadikan kesibukan dan kebiasaannya hanya permasalahan bantahan-bantahan padahal tidak memiliki keahlian untuk itu atau memiliki keahlian untuk itu tetapi tersibukkan dengannya ketimbang dengan sesuatu yang lebih bermanfaat. Berkata Imam Al Wadi’i rahimahullah,
bagi mereka. Sebab, perselisihan dan perpecahan ini muncul dari banyaknya waktu luas yang tidak dimanfaatkan. ‘Syaikh Fulani salah.’ ‘Syaikh Al Fulani keliru.’ ‘Syaikh Fulan tidak bisa diambil ilmunya.’ ‘Syaikh Fulan begini dan begitu.’ Maka, saya katakan, wajib bagimu untuk mengatakan kepada dirimu sendiri agar bisa menjadi seperti Syaikh Al Fulani atau bahkan lebih baik lagi.” (Gharrah Al Asyrithah, Juz II, halaman 103)
Berkata Imam Al Wadi’i rahimahullah,
“Kemudian, sungguh, saya nasehatkan kepada para penuntut ilmu untuk menghadapkan dirinya secara utuh di dalam menuntut ilmu dan menghindarkan diri dari berpaling kepada perkara-perkara yang tidak ada kepentingan di dalamnya. Jangan sibukkan dirimu dengan sikap ta’ashshub kepada Fulan dan jangan pula ta’ashshub kepada Fulan. Akan tetapi, hadapkan dirimu untuk menuntut ilmu. Pada satu waktu, ada salah seorang saudara [kita] dari Mekkah menulis surat kepada saya. Ia berkata, ‘Sesungguhnya orang-orang Hizbi membuat keresahan di tempat kami. Apa yang harus saya perbuat?’. Maka, saya menasehatinya, ‘Hadapkan dirimu secara utuh untuk menuntut ilmu dan janganlah berpaling kepada perkara-perkara tersebut.’ Saudara [kita] ini memang bersedih karena keadaan mereka dan ia ingin sekali membantah mereka. Saya katakan [lagi] kepadanya, ‘Jangan sibukkan dirimu dengan bantahan-bantahan terhadap mereka. Sebab, engkau adalah penuntut ilmu yang engkau [pasti] butuh untuk membekali diri dengan ilmu. Jika engkau sibukkan dirimu pada perkara bantahan itu, maka engkau akan tersibukkan dari menghafal Al Qur’an dan mencari ilmu bermanfaat. Jadi, jangan sibukkan dirimu dengan perkara itu. Hadapkan dirimu secara utuh untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat.” (Gharrah Al Asyrithah, Juz I, halaman 74)
Beliau rahimahullah juga berkata,
menampar mereka itu sambil jalan, dalam rekaman-rekaman, pelajaran-pelajaran, atau yang lainnya—atau, jika tidak, dengan tendangan, tandukan atau yang lainnya. Dan jangan sibukkan dirimu dengan mereka. Mudah-mudahan Allah balas engkau dengan kebaikan. Kami menyiapkan engkau agar jadi rujukan kaum muslimin, penulis [kitab-kitab ilmu], dan dai yang menyeru kepada Allah. Dan ini semua adalah tugas para nabi. Kami tidak menyiapkan engkau hanya agar membantah Ikhwanul Muslimin dan orang-orang Jum’iyyah Al Hikmah. Siapa mereka orang-orang Jum’iyyah Al Hikmah itu, sampai kita harus menyibukkan diri dengan membantah mereka?”. (Tuhfatul Mujib, halaman 332)
Sekarang, apa pendapatmu, wahai, Al Hudzaifi hadakallah dan Hani bin Buraik tentang Imam Al Wadi’i? Apa kalian berdua akan menganggap perkataan beliau itu sebagai bentuk celaan untuk beliau, sebagai bentuk tamayyu’-nya beliau, dan sebagai bentuk peremehan beliau terhadap bantahan-bantahan, sebagaimana yang telah kalian katakan kepada Syaikh Al Imam? Atau, yang seperti itu hanya akan dianggap sebagai tamayyu’ dan peremehan terhadap bantahan-bantahan jika dilakukan oleh Al Imam?
berbagai fitnah, kejelekan, kerusakan, dan yang semisal itu seraya memperhatikan keadaan-keadaan yang ada.
CATATAN KETIGA
Saudara Ali Al Hudzaifi mengatakan tentang Syaikh Al Imam di dalam tulisannya,
“Dan di antaranya, telah mutawatir kabar tentang Syaikh Al Imam bahwa ia di markas dakwahnya tidak suka pembicaraan tentang orang-orang yang menyelisihi dakwah ahlus sunnah. Siapa saja yang ia dapati berbicara tentang perkara itu, ia akan memarahinya dan terkadang menegurnya serta mengujinya dengan pertanyaan ‘Berapa banyak sudah Kau hafalkan Al Qur’an?’ dan ‘Apakah sudah Kau hafalkan hadits?’.”
Saya jawab, yang namanya mutawatir di kalangan ahli ushul adalah “Apa yang diriwayatkan oleh banyak orang di setiap jenjang sanad-nya yang semuanya dapat mencegah adanya kedustaan yang disepakati di antara mereka dan mereka pun menyandarkan diri kepada sesuatu yang diketahui bersama.” Karena itu, tunjukkan kepada kami, Saudara Ali, banyak orang di setiap jenjang sanad-nya yang semuanya dapat mencegah adanya kedustaan yang disepakati di antara mereka tentang Syaikh Al Imam dan mereka pun menyandarkan diri kepada sesuatu yang diketahui bersama itu.
Saya telah duduk belajar kepada Syaikh Al Imam bertahun-tahun. Demikian pula ribuan penuntut ilmu lainnya. Dan mereka tidak mengetahui kabar mutawatir yang dituduhkan itu. Sebaliknya, kami justru melihat beliau mengeluarkan tahdzir kepada ahlul bid’ah dan kelompok-kelompok menyimpang di berbagai kesempatan. Dengan demikian, dari mana Al Hudzaifi dapatkan kabar mutawatir yang ganjil itu?
celaan. Dan Salaf beliau dalam hal ini adalah al muhaddits zaman ini, Imam Al Albani, ketika beliau rahimahullah berkata,
“Saya seringkali diajukan pertanyaan ‘Apa pendapatmu tentang Fulan?”. Saya pun paham bahwa penanya ini hendak menggiring saya agar memberi tazkiyah atau tahdzir. Dan kadang-kadang orang yang ditanyakan itu termasuk ikhwah lama kita yang sekarang dikatakan sedang menyimpang. Maka, saya nasehati penanya itu. ‘Wahai, Saudara, apa yang engkau inginkan dari Zaid atau Bakr atau ‘Amr? Istiqamah-lah engkau, sebagaimana engkau diperintahkan untuk itu. Pelajarilah ilmu. Sebab, ilmu akan memberimu kemampuan untuk membedakan orang yang baik dari orang yang jahat dan orang yang keliru dari orang yang benar.” (“Silsilah Al Huda wan Nur,” nomor 784)
Yang seperti itulah juga adalah cara Imam Al Wadi’i dalam membungkam siapa saja yang menyibukkan dirinya dengan perkara-perkara tersebut. Beliau menguji orang itu dengan sesuatu yang bermanfaat untuk dirinya. Di antara ucapan beliau,
Biarkan harta yang diteriakkan itu, kemarikan kabar tentang untaku4
Saya ingin menguji pengetahuanmu yang telah engkau pelajari dari kami dan apakah itu ada pada dirimu. Maka, orang itu pun menggaruk-garuk kepalanya dan diam. Karena itu, hati-hatilah kalian dari menyia-nyiakan dan membuang-buang waktu kalian dengan perkara-perkara tersebut. Bahkan, hendaklah kalian bersemangat dan bersungguh-sungguh mencari ilmu yang bermanfaat dan mempelajari agama Allah.”
(Gharrah Al Asyrithah, Juz II, halaman 411)
Dalam kaset “Irsyad Al Ha-ir,” sebagian ikhwah Aljazair berdiri dan bertanya kepada Imam Al Wadi’i tentang Safar [Hawali] dan Salman [Audah]. Beliau pun tidak menjawabnya. Bahkan, balik mengujinya, “Apakah engkau telah mempelajari bahasa Arab yang itu bisa memperbaiki lisan-lisan kalian? Apakah engkau sudah membaca tafsir Ibnu Katsir? Apakah engkau telah membaca...”. Dan Syaikh Muqbil pun terus menyebutkan sejumlah kitab lain.
Dan berkata juga Al ‘Allamah Rabi’ Al Madkhali hafizhahullah, membungkam manusia-manusia jenis itu,
“Sungguh, Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah mencaci-maki orang-orang Yahudi. Maka, Rasulullah menanggapinya, ‘Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah itu maha lembut, mencintai kelembutan di setiap perkara.’ Hadits ini, jika diucapkan oleh seorang ulama untuk mengarahkan anak-anak muda ke manhaj yang benar dalam berdakwah, pasti mereka akan mengatakan, ‘Ini sikap lembek. Ini mumayyi’.’ Mereka justru membantu larinya seseorang [dari agama], meskipun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, ‘Sungguh, di antara kalian ada orang-orang yang membuat orang lari [dari agama]. Permudahlah oleh kalian. Jangan kalian persulit. Berilah kabar gembira dan jangan membuat lari
4 Mirip dengan satu istilah di masyarakat kita, “Hilang kambing, habis kerbau.”
[manusia].’ Wahai, ikhwah, mereka itu tidak tahu. Jika tidak, maka demi Allah, ucapan mereka itu menuntut mereka untuk juga menuduh Rasulullah sebagai seorang mumayyi’. [Menuduh] para sahabat Rasulullah dan ulama umat sebagai orang-orang mumayyi’.” (Kaset “Al Hatstsu ‘alal Mawaddah wal I’tilaf”)
Dan Syaikh Rabi’ hafizhahullah memiliki nasehat-nasehat dan arahan-arahan lainnya yang penting terkait tidak menyibukkan diri dengan perkara rudud dari menuntut ilmu bermanfaat dan membungkam siapa saja yang menyibukkan diri dengan perkara rudud dari kalangan penuntut ilmu. Beliau juga menasehati siapa saja yang menyibukkan dirinya dengan perkara seperti itu agar menjatahkan waktu sekitar 20 atau 30 persen dan selebihnya untuk menuntut ilmu syar’i (Majmu’ Ar Rasa-il, Juz XIV, halaman 282).
CATATAN KEEMPAT
Saudara Al Hudzaifi menyebutkan di dalam tulisannya, “Bahwa Az Zindani pernah mengunjungi Ma’bar.”
Saya jawab, kunjungan yang dimaksud terjadi sekitar 23 tahun yang lalu, ketika Ikhwanul Muslimin belum begitu mengalami kebobrokan, penyimpangan, dan permusuhan terhadap sunnah. Mereka belum lagi tersingkap jelas, sebagaimana keadaan mereka pada hari ini.
Bahkan, waktu itu, Az Zindani mencela demokrasi dan menegaskan bahwasanya perkara demokrasi adalah kekufuran. Ia mengolok-olok dan merendahkan demokrasi dengan mengatakan, “Apa itu democratos, sampai-sampai, bahasa Arab pun gak bisa nerima lafalnya?!”. Ia juga menjelek-jelekkan komunisme dan sekulerisme sekaligus memperingatkan dengan keras dari dua perkara itu.
Beberapa waktu sebelum kunjungan Az Zindani ke Ma’bar, sebagian dai Ikhwanul Muslimin juga mengunjungi Imam Al Wadi’i di Dammaj, seperti Al Qadhi Hilal Al Kabudi dan dai Ikhwanul Muslimin, Abdullah Sha’tar. Sebagian mereka [bahkan] mengunjungi lebih dari sekali dan menyampaikan beberapa patah kata mereka di sana.
Saya mengira bahwa Al Hudzaifi mengetahui sesuatu dari peristiwa itu. Dan tujuan dari sebagian kunjungan mereka itu adalah mengupayakan samanya sikap Syaikh Muqbil dengan mereka. Beliau rahimahullah menyepakati hal itu dengan syarat bahwa Al Qur’an dan As Sunnah menjadi hakim antara beliau dan Ikhwanul Muslimin. Beliau juga menyarankan agar dipilih delapan tokoh: empat orang dari ulama ahlus sunnah yang waktu itu—sekitar 25 tahun yang lalu—beliau sebutkan di antara mereka adalah Al Walid Al ‘Allamah Al Wushabi dan Syaikh Muhammad Al Imam5 dan empat orang lagi berasal dari ulama Ikhwanul
5 Waktu itu, sekitar 25 tahun yang lalu, Al ‘Allamah Al Wushabi dan Syaikh Al
Muslimin, agar menjadi dewan yang memutuskan perselisihan apa saja yang muncul di antara ahlus sunnah dan Ikhwanul Muslimin (Gharrah Al Asyrithah, Juz I, halaman 47).
Sampai juga ihwal bahwa Imam Al Wadi’i rahimahullah pernah menghadiri muhadharah salah seorang dai Ikhwanul Muslimin, Abdul Wahhab Ad Dailami, di Shan’a, waktu itu. Dan Syaikh Muqbil sendiri pernah menceritakan hal itu, sebagaimana yang [termaktub] di Akhir Fatawa Al Wadi’i.
Syaikh Muqbil pada kesempatan itu belum terang-terangan menyatakan mubtadi’ dan sesat pada Az Zindani. Bahkan, di dalam kaset [dars], “Syarh Ikhtishar ‘Ulum Al Hadits,” Syaikh Muqbil mengatakan tentang Az Zindani, “Saudara Kami, Abdul Majid Az Zindani, hafizhahullah.” Disebutkan juga di kaset “Jalsah ma’a Syabab ‘Adn,” beliau merasa gembira dengan Az Zindani [yang] mudah-mudahan Allah memberikan manfaat lewat dirinya, sampai [kemudian] Az Zindani terang-terangan menyatakan di dalam salah satu wawancaranya dengan surat kabar Al Mustaqbal bahwa dirinya dan ulama-ulama Yaman telah menerima demokrasi. Sejak itulah, Syaikh Muqbil sangat membencinya, memberikan tahdziran untuknya, dan berlepas diri darinya.
Setelah jelasnya sikap Az Zindani, dengan menerima demokrasi yang pernah ia hukumi dengan kekufuran, [lalu] Ikhwanul Muslimin [sendiri] bergabung ke dalam koalisi partai-partai politik—bahkan bekerjasama dengan Partai Komunis yang dulunya pernah mereka kecam [sendiri], dan menampakkan permusuhan mereka terhadap dakwah ahlus sunnah sekaligus menolak untuk menyatukan sikap di bawah naungan Al Qur’an dan As Sunnah, barulah sikap memisahkan diri secara utuh terjadi antara Ikhwanul Muslimin dan ahlus sunnah. Dari situlah, kunjungan-kunjungan mereka ke markas-markas dakwah ahlus sunnah di Dammaj dan
Ma’bar menjadi terputus. Bantahan kuat terhadap Ikhwanul Muslimin pun muncul dari Imam Al Wadi’i dan murid-muridnya yang bijak.
Maka, murid Imam Al Wadi’i yang berbakti, Syaikh Al Imam— sebagaimana ini disebutkan di hadapan Syaikh Muqbil dan beliau sendiri tidak mengingkarinya—mulai menulis kitabnya yang penuh berkah, Tanwir Azh Zhulumat bi Kasyfi Mafasid wa Syubuhat Al Intikhabat, yang pernah dikatakan oleh Imam Al Wadi’i rahimahullah, “Kalau saja Ikhwanul Muslimin bisa membayarnya [dengan] uang jutaan agar kitab itu tidak diterbitkan, niscaya akan mereka lakukan.” Tentang mereka, Syaikh Al Imam juga pernah menulis kitab bantahan, Al Bayan li Idhahi Ma ‘alaihi Jami’atul Iman, yang Jami’ah Al Iman itu dianggap sebagai salah satu benteng terbesar bagi pendidikan agama mereka.
Setelah berlalu periode dan sikap yang jelas itu dari Syaikh Al Imam, Imam Al Wadi’i mulai memuliakannya dengan pemuliaan yang lebih dari sebelumnya. Sampai, suatu kali, pernah Syaikh Al Imam menyampaikan muhadharah yang bagus antara waktu Maghrib dan Isya’ di Dammaj tentang keutamaan dakwah ahlus sunnah. Imam Al Wadi’i pun berdiri setelah itu, mengomentari muhadharah tersebut, “Sungguh, betul-betul telah kalian dengar ucapan seorang Al ‘AllamahAl Muhaddits Al Hafiz Muhammad bin Abdillah Al Imam.” Saya hadir dalam muhadharah itu dan mendengar langsung pujian tersebut dari Syaikh Muqbil.
Tentangnya juga, Imam Al Wadi’i pernah mengatakan dalam Tuhfatul Mujib (halaman 210).
Kembali kepada topik, saya katakan, Syaikh Al Imam belum merasa cukup dalam menjelaskan kerusakan manhaj Ikhwanul Muslimin lewat dua kitab itu. Sampai, beliau [pun harus] membicarakan mereka dan menjelaskan kerusakan manhaj mereka di banyak tempat di kitab-kitabnya, jika melihat ada hubungannya.
Dalam kitabnya, Naqdhu An Nazhariyyat Al Kauniyyah (halaman 464-467) yang di dalamnya Syaikh Al Imam membantah dongeng-dongeng yang ma’ruf di kalangan Ikhwanul Muslimin yang mereka istilahkan dengan i’jazul ‘ilmi6, beliau sengaja membuat pasal berjudul “Kritik terhadap Kitab Bayyanat Ar Rasul wa Mu’jizatihi Karya Abdul Majid Az Zindani.”
Dalam kitabnya yang bermanfaat, Al Watsa-iq At Taamuriyyah ‘alad Duwal Al ‘Arabiyyah Al Islamiyyah (halaman 81-89), beliau sengaja membuat pasal penting yang berjudul “Kelompok Ikhwanul Muslimin Akan Mengambil Alih Kendali Konspirasi Penggulingan Pemerintahan-Pemerintahan Negeri Arab.”
Dalam kitab Al Kasyfu Al Mubin ‘an Ashnaf Al Mubaddilin (halaman 74-76), beliau sengaja membuat pasal berjudul “Penggulingan Kekuasaan yang Ikut ke dalamnya Ikhwanul Muslimin.” Di halaman lain, beliau membuat pasal (halaman 81) berjudul “Penggulingan Kekuasaan yang Diserukan Kelompok Sururi.”
Dalam kitab As Saif Al Yamani ‘ala Man Abaha Al Aghani (halaman 83-118), beliau sengaja membuat satu pasal yang berbobot berjudul “Nyanyian-Nyanyian di Kalangan Sufi dan Kelompok Ikhwanul Muslimin” yang terhitung sebagai salah satu pembahasan ilmiah
6 Maksud i’jazul ‘ilmi adalah membuktikan apa-apa yang ditunjukkan oleh
yang mendalam di zaman ini terkait apa yang diistilahkan dengan nasyid-nasyid Islami.
Dalam kitab Bidayah Al Inhiraf wa Nihayatuhu (halaman 324-345), beliau sengaja membuat pasal berjudul “Yang Termasuk Prinsip-Prinsip Hizbiyyah Zaman Sekarang.” Di situ (halaman 12), beliau membantah prinsip Ikhwanul Muslimin dan Sururi sekaligus menjelaskan apa yang membangun prinsip-prinsip mereka.
Dalam kitab Tamamul Minnah fi Fiqhi Qital wal Fitnah (halaman 128), beliau membuat pasal berjudul “Kelompok Ikhwanul Muslimin dan Pecahan-Pecahannya di Kelompok-Kelompok Takfir Radikal.” Di halaman lain (halaman 83), beliau membuat pasal berjudul “Kelompok Ikhwanul Muslimin dan Apa yang Muncul darinya untuk Menggulingkan Kekuasaan lewat Pengafiran dan Perusakan.” Di situ, beliau menjelaskan dengan hujjah-hujjah dan bukti-bukti bahwa kelompok Ikhwanul Muslimin tidak lain dari kelompok takfir di masa kini.
Dalam kitab Al Ikhtilath Ashlu Asy Syarri fi Damaril Umam wal Asir (halaman 66), beliau membuat pasal untuk menyebutkan kelompok-kelompok dan partai-partai yang membolehkan ikhtilath atas nama agama. Beliau membicarakan Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir di situ.
Di antara kitab-kitab tersebut, ada yang sudah lama diterbitkan dan ada yang baru diterbitkan. Semuanya, bi fadhlillah, terbit dan beredar di masyarakat luas.
Sejatinya, Syaikh Al Imam termasuk salah seorang ulama ahlus sunnah di zaman ini yang paling sering membantah dan membongkar manhaj menyimpang Ikhwanul Muslimin. Empat kitab beliau yang berbeda [judul] yang khusus membicarakan dan membantah mereka secara ilmiah— di antara kitab-kitab berbobot beliau yang sudah disebutkan sebelumnya— adalah sebaik-baik bukti tentang itu.
CATATAN KELIMA
Saudara Ali Al Hudzaifi mengatakan tentang Syaikh Al Imam dalam tulisannya, “Bahwa ia pernah mengunjungi Jami’ah Al Iman.”
Saya jawab, telah berlalu penyebutannya dalam catatan sebelum ini penjelasan tentang apa yang terjadi di awal dakwah antara ahlus sunnah dan Ikhwanul Muslimin bahwa pemutusan hubungan secara besar-besaran dan perpisahan secara utuh terjadi setelah diterimanya demokrasi oleh Ikhwanul Muslimin dan disambutnya sistem itu oleh Az Zindani. [Sementara] kunjungan Syaikh Al Imam ke Jami’ah Al Iman terjadi jauh sebelumnya, ketika belum jelas keadaan lembaga tersebut seperti sekarang ini. Bahkan, mereka mengaku sebagai Salafi dan membenarkannya lewat rekomendasi dan pujian Yang Mulia Imam Ibnu Baz rahimahullah untuk mereka. Karena itu, terjadilah waktu itu kunjungan dari Syaikh Al Imam hafizhahullah.
Tatkala jelas jati diri Jami’ah Al Iman, beliau perlihatkan kepada mereka taring-taringnya dan terangkan aib-aib mereka kepada manusia. Sampai-sampai, ini menjadi lebih dahsyat ketimbang apa yang pernah dibongkar oleh ulama-ulama ahlus sunnah di Yaman, setelah Syaikh Muqbil membongkar hakikat lembaga hizbiyyah itu. Dan kitab Syaikh Al Imam yang berharga, Al Bayan li Idhahi Ma ‘alaihi Jami’ah Al Iman—yang di dalamnya dibongkar habis [hakikat] Jami’ah Al Iman—menjadi bukti paling terang tentang hal itu. Sampai syaikh kami, Imam Al Wadi’i rahimahullah, di dalam “Kata Pengantar” kitab tersebut, menyatakan,
Setelah Syaikh Muqbil rahimahullah meninggal dunia, Syaikh Al Imam mengeluarkan rekaman yang di dalamnya beliau menjawab sebagian pertanyaan terkait Jami’ah Al Iman. Rekaman itu tersebar secara luas di tengah-tengah para penuntut ilmu di Jami’ah Al Iman hingga ke kaum wanita yang ada di rumah-rumah dan menimbulkan kegegeran yang besar di tengah-tengah mereka. Sampai-sampai, pimpinan Jami’ah Al Iman, Abdul Majid Az Zindani, mengadakan sejumlah pertemuan bersama mahasiswa-mahasiswa Jami’ah Al Iman untuk membantah isi rekaman tersebut. Di antara yang dikatakan oleh Az Zindani tentang Syaikh Al Imam, “Orang ini anggota Freemason. Bagaimana bisa ia mendapatkan informasi-informasi tentang jami’ah ini?!”. Saya diberitahu cerita ini oleh orang yang mendengarkannya langsung.
Lantas, kenapa kalian pura-pura tidak tahu, padahal kalian tahu kitab-kitab Syaikh Al Imam dan semangatnya yang besar dalam menjelaskan kecurangan Ikhwanul Muslimin dan Jami’ah Al Iman?
Sementara itu, Ikhwanul Muslimin betul-betul memusuhi beliau, memperingatkan siapa saja yang menuntut ilmu kepada beliau, dan menyobek pamflet-pamflet muhadharah beliau di jalan-jalan. Mereka melarang beliau untuk datang ke masjid-masjid mereka, kecuali jika mereka takut [kemarahan] dan kebencian masyarakat umum kepada mereka. Yang seperti ini tidaklah terjadi, kecuali karena beliau ulama ahlus sunnah di Yaman yang paling banyak membantah Ikhwanul Muslimin dan membongkar manhaj mereka yang menyimpang itu. Jadi, beliau membicarakan atau mengeluarkan rekaman beliau tentang Ikhwanul Muslimin dan yang lainnya, [perkataan beliau] beredar di mana-mana dan meluluh-lantakkan mereka. Dan itu disebabkan oleh apa yang telah Allah tetapkan untuk beliau, berupa kemasyhuran yang agung atau penerimaan yang sangat di tengah-tengah manusia yang engkau kenal baik, wahai Abu ‘Ammar. Demikianlah keutamaan yang Allah khususkan dengannya siapa saja yang dikehendakiNya. Wa Huwa Dzul Fadhlil ‘Azhim.
disebut “Pertemuan Salafi” di Shan’a beberapa waktu lalu. Kemudian, sebagian masyarakat awam [waktu itu] bertanya kepada mereka, “Mana Syaikh Al Imam?”, sebelum mengatakan, “Mereka ini bukan Salafi. Kalau betul mereka ini Salafi yang sebenarnya, niscaya akan hadir bersama mereka [Syaikh] Al Imam?”. Pertanyaan semacam ini termasuk sesuatu yang paling berat buat orang-orang Sururi, karena apa yang telah mereka dustakan kepada masyarakat luas. Mereka [hanya bisa] menjawab, “Syaikh Al Imam telah mengutus wakilnya.” Dan ini kemudian ditanyakan kepada beliau ketika dars-nya, beliau pun mengingkarinya dan menerangkan bahwa kabar itu tidak benar.
Pada pertemuan lain yang mereka adakan juga, jika bukan pertemuan yang tadi, ketika diwawancarai wartawan suratkabar An Nas— yang hasil wawancara ini dimuat di website miliknya, Abul Hasan memuji-muji acara itu dan menyatakan dirinya sebagai Salafi yang moderat dan seterusnya. Hanya saja, si wartawan menyadari keganjilan pada Abul Hasan, lewat pertanyaannya, “Sebagiannya tidak hadir, seperti [Syaikh] Al Imam?”. Maksudnya, jika memang mereka itu Salafi sebenarnya, tentulah akan hadir bersama mereka Al Imam yang beliau di kalangan Salafi lebih dikenal lagi ketimbang cahaya mentari di atas bukit. Seakan-akan pertanyaan itu menyumpal [mulut] Abul Hasan dengan batu.
CATATAN KEENAM
Berkata Saudara Al Hudzaifi, “Dan Muhammad Al Imam menyebut Abdul Majid Az Zindani dengan Fadhilatusy Syaikh Al Walid sampai waktu belakangan ini.”
Saya jawab, belum pernah terjadi Syaikh Al Imam menyebut Az Zindani dengan Fadhilatusy Syaikh Al Walid. Jadi, periksa lagi ucapanmu itu, wahai, Abu ‘Ammar. Yang sebenarnya terjadi, Syaikh Al Imam pernah mengatakan tentang Az Zindani dalam kitabnya, Al Bayan li Idhahi Ma ‘alaihi Jami’ah Al Iman, sebagai Asy Syaikh Al Walid. Beliau katakan seperti itu sebagai bentuk lemah lembut terhadap orang-orang yang tertipu dengan Az Zindani dari kalangan mahasiswa Jami’ah Al Iman agar itu lebih dapat membuat mereka menerimanya dan mendorong mereka membaca tahdzir ahlus sunnah terhadap lembaga tersebut.
Imam Al Albani rahimahullah pernah menasehati Syaikh Rabi’ hafizhahullah agar berlemah-lembut dalam istilah yang digunakan ketika membantah mereka yang memiliki kedudukan di tengah-tengah manusia. Yang [seperti] ini, untuk lebih dapat membuat mereka menerima perkara jarh yang dialamatkan kepada orang-orang yang dimaksud.
Imam Ibnu Baz rahimahullah pun pernah menyebut dai sesat macam Yusuf Al Qaradhawi dengan Fadhilatusy Syaikh, sebagaimana yang bisa kita dengar rekaman suaranya.
Imam Al Albani rahimahullah sendiri, dalam “Kata Pengantar” kitab Ghayah Al Maram fi Takhrij Ahadits Al Halal wal Haram (halaman 9), menyebut Al Qaradhawi dengan Asy Syaikh Al Fadhil Ad Duktur. Setelah itu, barulah beliau tahdzir Al Qaradhawi.
Ditambah lagi kitab Al Bayan li Idhahi Ma ‘alaihi Jami’ah Al Iman yang di dalamnya Syaikh Al Imam menyebut Az Zindani dengan Asy Syaikh Al Walid, telah ditelaah dan ditimbang oleh Imam Al Wadi’i, tetapi beliau tidak memberikan kritik apapun terhadapnya. Sebaliknya, beliau menyanjung kitab itu dengan sanjungan yang amat tinggi, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bi fadhlillah. Bukankah yang bisa kita lakukan itu hanya sebatas yang juga dilakukan Imam Al Wadi’i, seorang yang sangat peduli terhadap sunnah dan sebilah pedang yang teracung kepada para hizbi?
Kita pun bukan orangnya untuk menjelaskan penyimpangan-penyimpangan Az Zindani. Sebab, Syaikh Al Imam telah menjelaskan itu dengan penjelasan yang berlimpah di sela-sela kitab Al Bayan li Idhahi Ma ‘alaihi Jami’ah Al Iman dan kitab Naqdhun Nazhariyyat Al Kauniyyah.
Seperti dikatakan oleh Syaikh Al Imam di dalam Tabshir Al Hayara bi Mawaqif Al Qaradhawi minal Yahud wan Nashara (halaman 127), setelah menyebutkan sesuatu dari berbagai penyimpangan Az Zindani, “Dan penyelisihan-penyelisihan Az Zindani terhadap al haq tidak bisa dituntaskan, kecuali dengan bantahan-bantahan yang tebal.”
Demikian pula Syaikh Al Imam meladeni fatwa-fatwa Az Zindani dan tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin lainnya tentang demonstrasi-demonstrasi yang mempengaruhi banyak pemuda. Seperti itulah, kalau bukan karena Allah yang telah menyelamatkan siapa saja di antara mereka dengan fatwa-fatwa Syaikh Al Imam yang beredar di setiap tempat dan dikutip oleh seluruh wartawan yang masih loyal kepada pemerintah Yaman serta disebarkan secara cuma-cuma ke kemah-kemah para demonstran di mana-mana.
CATATAN KETUJUH
Saudara Al Hudzaifi mengkritik pujian-pujian dua orang syaikh, Syaikh Al Bura’i dan Syaikh Al Imam, untuk Abul Hasan di awal-awal terjadi fitnah [Abul Hasan].
Saya jawab, syubhat ini—dengan segala bentuknya—telah dibesar-besarkan oleh orang-orang Hajuri untuk menjatuhkan ulama-ulama ahlus sunnah di Yaman. Perbuatan itu tidak menghasilkan apa-apa bi fadhlillah. Dan hari ini diulangi kembali oleh Al Hudzaifi dan Hani bin Buraik. (Saya tahu, kelakuan macam ini berasal dari si Akhzam).
Sebagai bantahan untuk semuanya, saya katakan, tentang fitnah Abul Hasan, maka fitnah itu—khususnya di awal-awal merebaknya— terselubung dan kuat. Terpengaruh olehnya para pemuda. Ulama-ulama ahlus sunnah di Yaman pun bangkit untuk meredamnya sejak di awal kali merebaknya fitnah.
Pada tanggal 15 Jumadil Ula 1422 H, sekitar setengah bulan dari wafatnya Syaikh Muqbil, ulama-ulama ahlus sunnah di Yaman telah mengadakan pertemuan di Shan’a agar mencopot cabang Jum’iyyah Al Bir dari Yaman yang waktu itu dipimpin oleh Abul Hasan dan mengeluarkan penjelasan tentang itu.
Kemudian, setelah menampakkan sikap untuk meninggalkan lembaga itu, Abul Hasan kembali menyebarkan dasar-dasar pemikiran batilnya untuk mengotak-ngotakkan pemuda-pemuda yang ada di sekitarnya. Masyayikh Yaman pun menasehatinya dan terus mengupayakan hal itu. Tatkala jelas bahwa orang yang dimaksud berusaha memecah barisan Salafi, maka ulama-ulama tersebut mulai mengambil sikap yang tegas terhadapnya.
Lalu, sampailah Abul Hasan di Darul Hadits, Ma’bar, untuk bertemu dengan Syaikh Muhammad Al Imam hafizhahullahu ta’ala. Maka, bertemulah dengannya Syaikh Al Imam. Beliau memperingatkan Abul Hasan agar tidak keluar untuk berdakwah di masa-masa itu, karena keluarnya Abul Hasan untuk berdakwah di masa-masa itu menjadi sebab paling besar terpecahnya barisan Salafi.
Abul Hasan pun meminta uzur, dengan dalih bahwa dirinya telah membuat sejumlah janji. Syaikh Al Imam menjawab, “Pulanglah engkau. Saya yang nanti akan menggantikanmu memenuhi janji-janji itu.” Hanya saja waktu itu, Abul Hasan telah menyimpan di dalam dirinya waktu itu keinginan memecah barisan Salafi. Ia pun enggan dan terus berjalan dalam keangkuhannya. Setelah itu, ia meminta bertemu dengan Syaikh Al Imam. Maka, beliau menolak permintaan itu. Dan inilah awal sikap tegas yang langsung dari ulama-ulama ahlus sunnah di Yaman terkait Abul Hasan.
Ketika Abul Hasan dalam safarinya telah sampai di Mukayyiras, Syaikh Al Imam mengeluarkan fatwa untuk meng-hajr-nya. Maka, larilah para pemuda dari Abul Hasan. Fatwa tersebut memberikan pengaruh yang sangat besar dengan sebab apa yang telah Allah tetapkan pada Syaikh Al Imam berupa diterimanya beliau di hati-hati manusia.
Dalam safari itu juga, Abul Hasan sempat bertemu dengan Syaikh Al Jalil An Naqid Al Bashir Abdul Aziz Al Bura’i hafizhahullah di Mafraq Hubaisy. Di antara apa yang disampaikan beliau kepada Abul Hasan,
“Sesungguhnya, terkait dirimu ahlus sunnah terbagi menjadi dua: mereka yang meninggalkanmu karena engkau mubtadi’ dan mereka yang meninggalkanmu karena engkau ingin berjalan sendiri. Maka, siapa saja yang bersamamu engkau rangkul, jika tidak engkau tidak akan memedulikannya.”
hanya ada di dalam lembaran-lembaran tilisan dan rekaman-rekaman. Dan sekarang khilaf itu sudah menjadi nyata, karena sebab keluarnya engkau untuk memecah-belah.” Abul Hasan menjawab, “Betul.”
Ketika melihat perjalanan Abul Hasan yang sudah disangka akan mendatangkan keburukan itu, para ulama ahlus sunnah di Yaman berkumpul di Al Hudaidah, di tempat orang yang paling dituakan di antara mereka, Al Walid Al ‘Allamah Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushabi hafizhahullah. Mereka membuat keputusan untuk mengucilkan Abul Hasan. Kemudian, keputusan itu mereka kemukakan kepada Al ‘Allamah Ahmad bin Yahya An Najmi. Beliau pun menyetujuinya dan menanda-tanganinya. Semoga Allah membalas beliau dengan kebaikan.
Setelah melalui tahap-tahap seperti itu, mengalirlah bantahan demi bantahan kepada Abul Hasan dari mana-mana dan terkhusus dari Al Walid Al ‘Allamah Rabi’ bin Hadi Al Madkhali hafizhahullah wa ‘afahu yang dengan semua itu Allah singkap keadaan Abul Hasan. Semakin hari semakin jelaslah fitnah itu bi fadhlillah dan sepakat sikap ahlus sunnah wal jama’ah di Yaman untuk meng-hajr dan mem-bid’ah-kan Abul Hasan Al Ma’ribi, seperti sepakatnya mereka terhadap orang-orang dari kalangan yayasan-yayasan dan kelompok-kelompok menyimpang yang memecah dakwah Salaf sebelum-sebelumnya.
Itu semua adalah ringkasan tahap-tahap yang sudah dilalui ulama-ulama Yaman terkait fitnah Abul Hasan. Maka, tidaklah perlu lagi dibesar-besarkan perkaranya agar dapat menampakkan diri sendiri dengan cara merendahkan atau menjatuhkan para ulama ahlus sunnah wal jama’ah.
Apa engkau sudah lupa atau pura-pura lupa, wahai, Abu ‘Ammar, perjalanan Syaikh Al Imam, sosok yang berani, sosok yang terdepan7,
mengelilingi sejumlah provinsi di selatan Yaman setelah safari Abul Hasan itu? Syaikh Al Imam menyampaikan tahdzir di dalamnya tentang fitnah Abul Hasan secara terang-terangan di hadapan kumpulan-kumpulan manusia yang banyak menggunakan cara-cara yang disesuaikan dengan
7 Dalam salah satu majelisnya, Syaikh Muqbil pernah mengatakan kepada
keadaan-keadaan manusia bersamaan dengan adanya ancaman-ancaman kepada Syaikh Al Imam dari orang-orang yang ta’ashshub kepada Abul Hasan jika masih menyampaikan tahdzir secara terang-terangan kepada manusia. Dan saya sendiri pernah menghadiri salah satu muhadharah di Syabwah. Muhadharah Syaikh Al Imam ini terjadi setelah sepekan berlalu dari muhadharah Abul Hasan di masjid yang sama.
Dan seperti itulah, Syaikh Al Imam mendatangi, mencari, tempat-tempat [yang pernah didatangi] Abul Hasan. Setiap sampai Abul Hasan di satu tempat, Syaikh Al Imam segera mendatangi tempat tersebut untuk memperingatkan orang-orang darinya dan menjelaskan kepada mereka penyimpangan Abul Hasan dari As Sunnah bahwa Abul Hasan tidak sama dengan dakwah Salaf. Sampai-sampai, di salah satu muhadharah Syaikh Al Imam, ada sebagian orang yang ta’ashshub kepada Abul Hasan berkata, “Hampir saja nafasku putus ketika muhadharah Al Imam.” Maksudnya, karena dahsyatnya kedongkolan di dalam dirinya kepada Syaikh Al Imam. Dan Allah betul-betul telah memberikan manfaat lewat tahdziran-tahdziran Syaikh Al Imam dengan manfaat yang begitu besar, terlebih lagi di tengah masyarakat umum. Abul Hasan sendiri merasa betul-betul sakit hati dan berkata, “Orang-orang awam mendatangi Al Imam. Ia ajarkan mereka shalat dan shaum, seraya memperingatkan mereka juga dari Abul Hasan?”.
Apa engkau sudah lupa atau pura-pura lupa dengan kesungguhan yang ngotot dari Syaikh Al Imam itu guna memberikan tahdziran terhadap fitnah Abul Hasan, wahai, Abu Ammar?
Lantas, apakah engkau bisa, wahai, Abu ‘Ammar dan Hani bin Buraik, untuk menyebut Al ‘Allamah Rabi’ hafizhahullah plin-plan ketika menghadapi fitnah? Atau, ini khusus untuk ulama-ulama ahlus sunnah di Yaman saja?
Wahai, orang yang menjatuhkan ulama ahlus sunnah di Yaman dengan perkara seperti itu, Yang Mulia Imam Ibnu Baz rahimahullah dulu pernah memfatwakan bolehnya keluar bersama Jamaah Tabligh. Kemudian, dua tahun sebelum meninggal dunia, beliau hukumi kelompok itu sebagai kelompok yang masuk ke dalam 72 golongan sesat.
Wahai, orang yang menjatuhkan ulama ahlus sunnah di Yaman dengan perkara seperti itu, Imam Al Wadi’i pernah memuji Hassan Al Banna di Al Makhraj minal Fitnah dan menyebutkan di tempat lain bahwa tulisan-tulisan Al Banna membangkitkan semangat dan iman. Beliau juga pernah memuji Sayyid Quthub di dalam Al Makhraj minal Fitnah, lalu beliau menyatakan rujuk di cetakan berikutnya.
Wahai, orang yang menjatuhkan ulama ahlus sunnah di Yaman dengan perkara seperti itu, Al Allamah Rabi’ hafizhahullah pernah memuji Al Hajuri sebagai orang yang memegang dakwah Salaf di Yaman dengan tangan yang kuat. Dan beliau menyebut Al Hajuri di masa-masa fitnah waktu itu sebagai “Sunni, Salafi, tidak diketahui padanya ada bid’ah dan ia termasuk ulama-ulama yang mulia.” Padahal Al Hajuri waktu itu sudah mem-bid’ah-kan dan meng-hizbi-kan puluhan [orang] di tengah ahlus sunnah. Kemudian, barulah Syaikh Rabi’ memberi tahdzir setelah jelas baginya penyimpangan Al Hajuri.
CATATAN KEDELAPAN
Al Hudzaifi dan Hani bin Buraik menyebutkan bahwa orang-orang hizbi pernah mengunjungi Ma’bar ketika Imam Al Wadi’i memberikan tahdzir kepada mereka.
Saya jawab, syubhat ini pernah dibesar-besarkan oleh orang-orang Hajuri dulu untuk menghilangkan kepercayaan terhadap para ulama ahlus sunnah di Yaman. Dan hari ini diulang-ulang kembali kepada kita oleh Al Hudzaifi dan Hani.
Sebagai bantahan untuk mereka semua dan orang-orang setelah mereka yang mengulangi kembali kepada kita perkataan seperti itu, saya katakan dengan meminta pertolongan kepada Allah. Sebagian murid senior Imam Al Wadi’i telah ter-fitnah dengan Jum’iyyah Ihya’ At Turats Al Kuwaitiyyah. Maka, guru mereka, Imam Al Wadi’i, menasehati mereka dan bersikap lemah-lembut kepada mereka selama hampir tiga tahun. Mereka pun membalas nasehat beliau dengan bantahan dan pengingkaran. Ketika dilihat nasehat kepada mereka itu tidak membuahkan hasil, beliau mengumumkan tahdzir terhadap mereka dan mengeluarkan rekaman berjudul “Al Bara-ah minal Hizbiyyah”.
baiat, sirriyah8, dan takfir tanpa memerhatikan ketentuan-ketentuan syar’i. Ketika dua syaikh, Adz Dzammari dan Al Imam, melihat orang-orang itu masih berada dalam bid’ah dan penyimpangan, mereka berdua pun berlepas diri. Mereka berdua memberikan tahdzir kepada orang-orang yang dimaksud secara terang-terangan, sebagaimana tahdzir terhadap Ikhwanul Muslimin, seluruh ahlul bid’ah dan ahlul ahwa’.
Setelah itu, Syaikh Muhammad Al Imam mengeluarkan rekaman bermanfaat yang berjudul “Bidayatul Inhiraf wa Nihayatuhu.” Tersebarlah kaset rekaman itu ke mana-mana. Dan setelah itu, beliau membantah syubhat orang-orang Sururi dan menyelaminya sampai ke dasar-dasarnya di dalam kitab beliau yang berjudul sama. Ketika itu orang-orang Sururi mengamuk sengamuk-ngamuknya dan mengeluarkan tahdzir terhadap Syaikh Al Imam berikut siapa saja yang belajar bersamanya. Hilang pujian mereka kepada beliau yang pernah disebarkan di majalah al Furqan dulu. Bagi mereka, Syaikh Al Imam telah berubah dari seorang yang zuhud, tekun beribadah, dan wara’ menjadi seorang yang taklid kepada Syaikh Muqbil, ekstrem, mencela ulama, dan seterusnya.
Saya katakan, sekiranya, Syaikh Al Imam salah dalam ijtihadnya ketika pertemuan itu, maka sepantasnya kita katakan sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Imam Al Wadi’i dalam Tuhfatul Mujib (halaman 354), “Syaikh Al Imam termasuk masyayikh ahlus sunnah dan pengemban dakwah di atas bashirah, tetapi beliau tergelincir.”
Demikianlah. Adapun Al Walid Al ‘Allamah Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushabi hafizhahullah, telah jelas baginya penyimpangan dan ke-hizbi-an orang-orang Sururi dari kali pertama muncul, sebelum seluruh masyayikh ahlus sunnah di Yaman termasuk di dalamnya Imam Al Wadi’i. Sampai-sampai, hal itu dipersaksikan juga oleh Imam Al Wadi’i, “Beliau [Syaikh Al Wushabi] telah mengetahui mereka sebelum aku,” sebagaimana disebutkan dalam tulisan “Izahatul Ghamamah ‘an As-ilah Ahli Tihamah.”
Dan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushabi memiliki bantahan terhadap mereka berupa tulisan yang sangat bermanfaat berjudul
Isyruna Ma’khadzan ‘alas Sururiyyah dan sejumlah bantahan lain di dalam kaset-kaset rekaman, muhadharah-muhadharah, dan sikap-sikap yang terpuji menyingkap hakekat mereka bagi kebanyakan manusia bi fadhlillah. Dan sebagian mereka mencoba untuk mengganggu Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab dengan cara mengadukan beliau kepada sebagian aparat pemerintah, tetapi itu tidak mendatangkan hasil bi fadhlillah. Adapun guru kami, An Naqid Al Bashir Abdul Aziz Al Bura’i hafizhahullah, beliau termasuk orang yang banyak menutup fitnah mereka itu di kali pertama terjadinya. Beliau juga termasuk orang yang paling sering menutup fitnah mereka. Sungguh, beliau telah menghadapi fitnah mereka itu dengan berbagai bantahan berupa syair-syair dan tulisan-tulisan panjang yang membuat mereka—khususnya yang paling bodoh di antara mereka, Muhammad Mahdi—berteriak. Sampai, Imam Al Wadi’i rahimahullah mempersaksikan hal itu lewat ucapan beliau, “Syaikh Al Bura’i telah mencekik orang-orang hizbi dan meninggalkan mereka seolah-olah mereka telah dipasung” (Tuhfatul Mujib, halaman 391).
Juga ucapan beliau tentang Syaikh Abdul ‘Aziz. “Beliau adalah orang yang paham dan telah memusingkan orang-orang hizbi sejak tinggal di Mafraq Hubaisy. Telah tersebar atas sebab beliau sunnah yang sangat banyak” (Tuhfatul Mujib, halaman 210).
Saya katakan, siapa saja yang melihat edisi-edisi majalah Al Furqan, teriakan Muhammad bin Mahdi berikut teriakan orang-orang Sururi yang bersamanya, syair-syair ratap tangis mereka, dan tulisan-tulisan mereka yang membantah Syaikh Al Bura’i, niscaya akan mengetahui kebenaran ucapan Imam Al Wadi’i rahimahullah bahwa Syaikh Al Bura’i telah memusingkan orang-orang hizbi, mencekik mereka, dan meninggalkan mereka dalam keadaan bingung.
tidaklah memiliki kesungguhan seperti itu, selain sikap peremehan dan qila wa qala.
CATATAN KESEMBILAN
Saudara kami, Al Hudzaifi, menulis beberapa lembar untuk menjelaskan kesalahan-kesalahan yang ada di dalam kesepakatan yang dibuat oleh Syaikh Al Imam.
Perkataan Al Hudzaifi yang berlembar-lembar itu, sangat disayangkan, keluar dari inti permasalahan. Sebab, tidak ada perdebatan lagi di antara ahlus sunnah bahwa isi kesepakatan itu mengandung kesalahan-kesalahan. Yang menjadi inti permasalahan adalah apakah Syaikh Al Imam terpaksa melakukannya atau tidak.
Syaikh Al Imam memandang bahwa dirinya terpaksa melakukannya dan itu disepakati oleh ulama-ulama negerinya. Sementara itu, ucapan mereka lebih didahulukan dalam permasalahan ini dibandingkan yang lain. Termasuk kaedah-kaedah yang telah baku di kalangan ahlul hadits, di antara sebab-sebab melakukan tarjih adalah mendahulukan ucapan seorang pribumi di satu negeri ketimbang ucapan-ucapan orang selainnya, meskipun orang-orang yang terakhir ini lebih berilmu dari pribumi tersebut. Sejumlah ahlul ‘ilmi menetapkan bahwa kaedah ini digunakan secara mutlak tanpa harus mensyaratkan orang luar yang lebih berilmu lebih didahulukan daripada pribumi.
Berikut ini, ada sejumlah—bukan untuk membatasi—perkataan mereka tentang hal itu.
1. Berkata Hammad bin Zaid, "Penduduk satu negeri lebih tahu tentang orang di negerinya" (Diriwayatkan oleh Al Khathib dalam Al Kifayah, halaman 175).
menyebutnya dengan sebutan yang jelek.' Ahmad berkata, 'Aku tidak tahu. Jarir lebih tahu tentang Qathn dan negerinya'" (Al ‘Ilal, halaman 98).
3. Berkata Abu Zur'ah Ad Dimasyqi, "Aku bertanya kepada Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal, 'Wahai Abu Abdillah, apa pendapatmu tentang Said bin Busyair?'. Beliau menjawab, 'Kalian lebih tahu tentangnya'" (Tarikh Abi Zur’ah, Juz I, halaman 54). Imam Ahmad dengan kedudukan beliau, keimaman beliau, dan kehebatan ilmu beliau mengarahkan hukum terhadap perawi itu kepada penduduk negerinya, bersamaan dengan fakta bahwa Imam Ahmad—dari keumuman yang ada—lebih berilmu dibanding penduduk negeri si perawi itu.
4. Berkata Imam Al ‘Ijli tentang Abdus Salam bin Harb An Nahdi Al Kufi, "Beliau datang ke Kufah pada hari wafatnya Abu Ishaq yang di tengah orang-orang Kufah dianggap tsiqatun tsabtun, sedangkan orang-orang Bagdad mengingkari sebagian hadits-haditsnya. Dan orang-orang Kufah lebih tahu tentangnya” (Tahdzib At Tahdzib, Juz II, halaman 575).
5. Berkata Imam Abu Bakar An Naisaburi tentang Abdullah Al Balwi Al Mishri, “Abu ‘Ashim hafalannya goncang dan penduduk Mesir lebih tahu tentangnya (Tahdzib At Tahdzib, Juz III, halaman 465).”
7. Berkata Imam Ibnu Abi Hatim, “Aku pernah bertanya kepada ayahku tentang hadits dari Duhaim dari Suwaid bin Abdil Aziz dari Abi Wahb dari Makhul. Ayahku menjawab, ‘Aku pernah bertanya kepada para fuqaha’, Apakah Habib bin Maslamah sahabat Rasulullah? Ternyata, mereka tidak menjelaskannya. Kutanyakan kepada kaumnya, maka mereka memberitahuku bahwa Habib bin Maslamah memang seorang sahabat Rasulullah.’ Aku tanya lagi ayahku, ‘Apa komentarmu?’. Ayahku menjawab, ‘Kaumnya lebih tahu’” (Tuhfatut Tahshil, halaman 61).
8. Berkata Imam Ahmad tentang Yazid bin Rabi’ah Ash Shan’ani, “Abul Mus-hir lebih mengetahuinya. Sebab, beliau satu negeri dengannya” (Al Kamil, Juz VII, halaman 2714).
9. Berkata Al Hafizh Ibnu Hajar tentang Sahl bin ‘Amir An Naisaburi, “Dan Al Hakim lebih berilmu tentang penduduk negerinya” (Lisanul Mizan, Juz III, halaman 137). Al Hafizh lalu menyebutkan hadits Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha tentang batalnya wudhu karena memegang kemaluan. Setelah itu, beliau mengatakan, “Abu Zur’ah dan Al Hakim men-shahih -kan hadits itu. Al Bukhari menganggapnya memiliki ‘sebab [untuk tidak di-shahih-kan], karena Makhul tidak mendengar dari ‘Anbasah bin Abi Sufyan. Demikian pula dengan Yahya bin Ma’in, Abu Zur’ah, Abu Hatim, dan An Nasa-i—[mereka berpendapat] Makhul tidak mendengar dari ‘Anbasah. Dan mereka diselisihi oleh Duhaim yang ia ini adalah orang yang paling tahu tentang hadits-hadits para perawi dari Syam. Maka, saya pun menetapkan bahwa Makhul mendengar hadits dari ‘Anbasah” (At Talkhish Al Habir, Juz I, halaman 217).
hadits-hadits para perawi dari Syam.” Artinya, ucapan Duhaim lebih didahulukan dari ucapan-ucapan lain yang menyelisihinya, meskipun lebih berilmu darinya. Dan Al Hafiz tidak memberikan sebab untuk diterimanya hadits tersebut, kecuali hanya mendahulukan ucapan Duhaim daripada imam-imam penghafal hadits.
Al Hafizh juga membawakan khilaf di antara ahlul ilmi tentang status sahabat Salamah bin Qaishar Al Mishri. Al Hafizh lalu mengutip pendapat Ibnu Yunus yang menetapkan status sahabat Salamah dan mengatakan,
“Seakan-akan Al Husaini mengikuti pendapat syaikhnya, Adz Dzahabi, dalam Al Mizan. Sebab Adz Dzahabi pernah mengatakan, ‘Salamah bin Qaishar seorang tabi’in, hadits-haditsnya mursal dan tidak shahih.’ Demikian yang pernah dikatakannya. Dan yang dijadikan pegangan dalam masalah ini adalah ucapan Ibnu Yunus, karena ia adalah orang yang paling tahu tentang perawi-perawi Mesir.” (Ta’jil Al Manfa’ah, Juz I, halaman 603-604)
Saya katakan, apa yang digembar-gemborkan sebagian orang lewat ucapan “Bersama orang-orang yang paling berilmulah engkau”, “Jadilah kalian dengan orang-orang yang paling berilmu”, “Bersama ulama kibar-lah kalian” dan mengedepankan ucapan-ucapan orang yang berilmu dari ucapan seorang berilmu tetapi penduduk asli negeri termasuk kaedah-kaedah muhdats yang dimasukkan ke dalam manhaj ahlul hadits dan yang sangat memerlukan dalil dan bukti.
1. Usaha untuk menyatukan kalimah dan barisan serta meniadakan keributan akibat masalah-masalah yang diperselisihkan yang dapat membuat adanya perpecahan dan pemecah-belahan.
2. Siapa pun yang punya pendapat dalam masalah fikih tidak memiliki hak untuk memaksa yang lain agar mengikuti pendapatnya atau mewajibkan hal itu kepada yang lain dan hendaknya ia menghormati yang lainnya.
3. Meniadakan perlawanan kepada siapa pun atau mazhab apa pun atau kelompok apa pun dengan cara apa pun dan kepada masing-masing pihak agar saling menutup mata, saling melupakan apa yang pernah terjadi di masa lalu dan menghindar dari urusan-urusan yang dapat menimbulkan kekacauan sebagai upaya pencegahan terhadap munculnya kedengkian-kedengkian sekaligus mewujudkan ukhuwwah islamiyyah.
Mengisyaratkan kesepakatan tersebut, Imam Al Wadi’i pernah berkata,
CATATAN KESEPULUH
Al Hudzaifi mengutip ucapan Syaikh Al Imam,
“Jika diutus Nabi [shallallahu ‘alaihi wa sallam] dan ia berkata kepada kita, ‘Perangilah oleh kalian sekelompok kaum muslimin’, pasti kita akan berperang dan kita tidak akan berpaling darinya. Adapun orang yang datang untuk membuat front dan menyeret kaum muslimin ke dalam perang atau membuat barisan untuk itu serta menyeret kaum muslimin ke dalam perang dan lain sebagainya, maka inilah cara-cara yang tidak bisa kita terima dan tidak pula bisa diterima oleh Allah. Bahkan yang seperti itu termasuk dari fitnah-fitnah dan penyimpangan yang besar.”
Kemudian, Al Hudzaifi melanjutkan, “Muhammad Al Imam menolak memerangi kaum muslimin [yang berhak diperangi], kecuali jika diutus seorang nabi yang memerintahkan untuk itu.”
Saya jawab, tidaklah ada dalam ucapan Syaikh Al Imam pembatasan seperti yang dikatakan oleh Al Hudzaifi bahwa kita tidak akan berperang kecuali bersama seorang nabi. Maksud ucapan tersebut hanyalah memberikan tahdzir dari menerima ajakan setiap orang yang mengajak kepada pembunuhan dan peperangan di antara kaum muslimin serta bersikap tenang dan hati-hati dalam permasalahan yang besar itu. Dan bisa dipahami itu secara jelas pada zhahir ucapan beliau dan redaksi kalimatnya oleh siapa saja yang bisa bersikap inshaf.
Sungguh, telah cukup bagi kita bantahan Syaikh Al Imam untuk ucapan itu. Dalam pernyataan yang tersebar, beliau berkata, menjawab pertanyaan terkait ucapan beliau itu,
Khawarij. Setelah itu, sampailah pembicaraan tersebut pada peperangan yang diharamkan di antara kaum muslimin karena sebab harta, kekuasaan, sikap fanatik, dan fanatik kelompok. Karena itu, saya terangkan bahwa kita tidak akan menyeret kaum muslimin ke dalam peperangan seperti itu selama-lamanya dan terucaplah oleh saya ucapan seperti tersebut dalam pertanyaan itu. Maka, saya pun memberikan catatan terhadap peperangan yang dimaksud dengan perkara yang mustahil dari dua sisi. Pertama, perkara diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kedua, perintah nabi kepada kita untuk memerangi kaum muslimin dalam keadaan seperti itu. Kedua perkara ini dua hal yang mustahil, sehingga dapat diketahui dari ucapan saya itu bahwa maksud saya adalah berlebih-lebihan dalam menolak keinginan menyeret kaum muslimin ke dalam peperangan yang dimaksud. Dan ahlus sunnah menetapkan bahwa yang namanya perkataan itu terkadang dapat dipahami langsung lewat lafal-lafalnya dan terkadang pula dipahami lewat redaksi dan susunan kalimatnya, sehingga [wajar] suatu perkataan dapat dipahami lewat susunan dan redaksi kalimatnya yang itu tidak bisa dipahami langsung lewat lafal-lafalnya.
Sikap berlebih-lebihan dalam memperingatkan dari bergabung ke dalam peperangan fitnah ada asalnya dari sebagian Salaf. Sungguh, telah berkata Zabid bin Al Harits Al Yami (meninggal dunia pada tahun 122 H) ketika ditawarkan kepadanya berperang bersama Zaid bin Ali rahimahullah,
“Saya tidak akan ikut kecuali bersama nabi dan saya tidak menemukannya.”
Atsar ini dikeluarkan oleh Al Fasawi dalam Al Ma’rifah wat Tarikh (Juz II, halaman 807), Abu Ubaid Al Ajurri dalam Su-alat karyanya (halaman 448), dan Ibnu Asakir (Juz XIX, halaman 473). Atsar ini bagus9 [sanad-nya].
Dan Ibnu Abi Syaibah (riwayat nomor 20736) dan Ibnu Sa’ad (Juz III, halaman 143) pernah juga mengeluarkan [atsar] dari Ibnu Sirin. Beliau berkata,
“Saad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya, ‘Mengapa engkau tidak ikut berperang? Padahal, engkau adalah salah seorang anggota ahlu syura dan engkau paling berhak dalam permasalahan itu dibandingkan yang lainnya’. Beliau menjawab, ‘Saya tidak akan berperang, sampai engkau datangkan kepada saya sebilah pedang yang memiliki dua mata, mulut, dan dua bibir yang tahu mana orang yang beriman dari orang yang kafir. Sungguh, saya ini pernah berperang dan saya tahu apa itu jihad’.”
Sanad-nya shahih.
Dalam Al Fitan (halaman 509),Nu’aim bin Hammad pernah mengeluarkan dari Abdullah bin Hubairah. Beliau berkata,
9 Tambah lagi, atsar Zabid Al Yami ini disebutkan pula oleh Al Baladzari dalam