Saudara kami, Al Hudzaifi, menulis beberapa lembar untuk menjelaskan kesalahan-kesalahan yang ada di dalam kesepakatan yang dibuat oleh Syaikh Al Imam.
Perkataan Al Hudzaifi yang berlembar-lembar itu, sangat disayangkan, keluar dari inti permasalahan. Sebab, tidak ada perdebatan lagi di antara ahlus sunnah bahwa isi kesepakatan itu mengandung kesalahan-kesalahan. Yang menjadi inti permasalahan adalah apakah Syaikh Al Imam terpaksa melakukannya atau tidak.
Syaikh Al Imam memandang bahwa dirinya terpaksa melakukannya dan itu disepakati oleh ulama-ulama negerinya. Sementara itu, ucapan mereka lebih didahulukan dalam permasalahan ini dibandingkan yang lain. Termasuk kaedah-kaedah yang telah baku di kalangan ahlul hadits, di antara sebab-sebab melakukan tarjih adalah mendahulukan ucapan seorang pribumi di satu negeri ketimbang ucapan- ucapan orang selainnya, meskipun orang-orang yang terakhir ini lebih berilmu dari pribumi tersebut. Sejumlah ahlul ‘ilmi menetapkan bahwa kaedah ini digunakan secara mutlak tanpa harus mensyaratkan orang luar yang lebih berilmu lebih didahulukan daripada pribumi.
Berikut ini, ada sejumlah—bukan untuk membatasi—perkataan mereka tentang hal itu.
1. Berkata Hammad bin Zaid, "Penduduk satu negeri lebih tahu tentang orang di negerinya" (Diriwayatkan oleh Al Khathib dalam Al Kifayah, halaman 175).
2. Berkata Abu Bakar Al Marwazi, "Aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal tentang Qathn yang meriwayatkan darinya Mughirah. Ahmad menjawab, 'Aku tidak tahu tentangnya, kecuali dengan apa-apa yang diriwayatkan Mughirah darinya’. Saya katakan, 'Sesungguhnya Jarir
menyebutnya dengan sebutan yang jelek.' Ahmad berkata, 'Aku tidak tahu. Jarir lebih tahu tentang Qathn dan negerinya'" (Al ‘Ilal, halaman 98).
3. Berkata Abu Zur'ah Ad Dimasyqi, "Aku bertanya kepada Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal, 'Wahai Abu Abdillah, apa pendapatmu tentang Said bin Busyair?'. Beliau menjawab, 'Kalian lebih tahu tentangnya'" (Tarikh Abi Zur’ah, Juz I, halaman 54). Imam Ahmad dengan kedudukan beliau, keimaman beliau, dan kehebatan ilmu beliau mengarahkan hukum terhadap perawi itu kepada penduduk negerinya, bersamaan dengan fakta bahwa Imam Ahmad—dari keumuman yang ada—lebih berilmu dibanding penduduk negeri si perawi itu.
4. Berkata Imam Al ‘Ijli tentang Abdus Salam bin Harb An Nahdi Al Kufi, "Beliau datang ke Kufah pada hari wafatnya Abu Ishaq yang di tengah orang-orang Kufah dianggap tsiqatun tsabtun, sedangkan orang-orang Bagdad mengingkari sebagian hadits-haditsnya. Dan orang-orang Kufah lebih tahu tentangnya” (Tahdzib At Tahdzib, Juz II, halaman 575).
5. Berkata Imam Abu Bakar An Naisaburi tentang Abdullah Al Balwi Al Mishri, “Abu ‘Ashim hafalannya goncang dan penduduk Mesir lebih tahu tentangnya (Tahdzib At Tahdzib, Juz III, halaman 465).”
6. Berkata Imam Ali bin Al Junaid, “Ahmad dan Ibnu Ma’in berkata tentang syaikh-syaikh dari Kufah dengan apa yang dikatakan Ibnu Numair tentang mereka” (Tahdzib At Tahdzib, Juz III, halaman 618). Saya katakan, mereka berdua itu orang-orang yang tidak usah ditanya tentang keimaman, ketakwaan, dan keluasan ilmu tentang jarh wa ta’dil. Hanya saja, bersamaan dengan itu, penduduk negeri si perawi lebih mengetahui perawi itu dibanding selain mereka.
7. Berkata Imam Ibnu Abi Hatim, “Aku pernah bertanya kepada ayahku tentang hadits dari Duhaim dari Suwaid bin Abdil Aziz dari Abi Wahb dari Makhul. Ayahku menjawab, ‘Aku pernah bertanya kepada para fuqaha’, Apakah Habib bin Maslamah sahabat Rasulullah? Ternyata, mereka tidak menjelaskannya. Kutanyakan kepada kaumnya, maka mereka memberitahuku bahwa Habib bin Maslamah memang seorang sahabat Rasulullah.’ Aku tanya lagi ayahku, ‘Apa komentarmu?’. Ayahku menjawab, ‘Kaumnya lebih tahu’” (Tuhfatut Tahshil, halaman 61).
8. Berkata Imam Ahmad tentang Yazid bin Rabi’ah Ash Shan’ani, “Abul Mus-hir lebih mengetahuinya. Sebab, beliau satu negeri dengannya” (Al Kamil, Juz VII, halaman 2714).
9. Berkata Al Hafizh Ibnu Hajar tentang Sahl bin ‘Amir An Naisaburi, “Dan Al Hakim lebih berilmu tentang penduduk negerinya” (Lisanul Mizan, Juz III, halaman 137). Al Hafizh lalu menyebutkan hadits Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha tentang batalnya wudhu karena memegang kemaluan. Setelah itu, beliau mengatakan, “Abu Zur’ah dan Al Hakim men-shahih- kan hadits itu. Al Bukhari menganggapnya memiliki ‘sebab [untuk tidak di-shahih-kan], karena Makhul tidak mendengar dari ‘Anbasah bin Abi Sufyan. Demikian pula dengan Yahya bin Ma’in, Abu Zur’ah, Abu Hatim, dan An Nasa-i—[mereka berpendapat] Makhul tidak mendengar dari ‘Anbasah. Dan mereka diselisihi oleh Duhaim yang ia ini adalah orang yang paling tahu tentang hadits-hadits para perawi dari Syam. Maka, saya pun menetapkan bahwa Makhul mendengar hadits dari ‘Anbasah” (At Talkhish Al Habir, Juz I, halaman 217).
Jadi, perhatikan, bagaimana Al Hafizh mendahulukan ucapan Duhaim dari imam-imam para penghafal hadits—Ibnu Ma’in, Abu Zur’ah, Abu Hatim, An Nasa-i, dan Al Bukhari—sedangkan salah seorang di antara mereka saja lebih berilmu daripada Duhaim. Sesuatu yang dijadikan sebab oleh Al Hafizh adalah “ia ini adalah orang yang paling tahu tentang hadits-
hadits para perawi dari Syam.” Artinya, ucapan Duhaim lebih didahulukan dari ucapan-ucapan lain yang menyelisihinya, meskipun lebih berilmu darinya. Dan Al Hafiz tidak memberikan sebab untuk diterimanya hadits tersebut, kecuali hanya mendahulukan ucapan Duhaim daripada imam- imam penghafal hadits.
Al Hafizh juga membawakan khilaf di antara ahlul ilmi tentang status sahabat Salamah bin Qaishar Al Mishri. Al Hafizh lalu mengutip pendapat Ibnu Yunus yang menetapkan status sahabat Salamah dan mengatakan,
“Seakan-akan Al Husaini mengikuti pendapat syaikhnya, Adz Dzahabi, dalam Al Mizan. Sebab Adz Dzahabi pernah mengatakan, ‘Salamah bin Qaishar seorang tabi’in, hadits-haditsnya mursal dan tidak shahih.’ Demikian yang pernah dikatakannya. Dan yang dijadikan pegangan dalam masalah ini adalah ucapan Ibnu Yunus, karena ia adalah orang yang paling tahu tentang perawi-perawi Mesir.” (Ta’jil Al Manfa’ah, Juz I, halaman 603-604)
Saya katakan, apa yang digembar-gemborkan sebagian orang lewat ucapan “Bersama orang-orang yang paling berilmulah engkau”, “Jadilah kalian dengan orang-orang yang paling berilmu”, “Bersama ulama kibar-lah kalian” dan mengedepankan ucapan-ucapan orang yang berilmu dari ucapan seorang berilmu tetapi penduduk asli negeri termasuk kaedah- kaedah muhdats yang dimasukkan ke dalam manhaj ahlul hadits dan yang sangat memerlukan dalil dan bukti.
Sebagai tambahan di sini, pada tanggal 2 Dzulqa’dah 1402 H, Imam Al Wadi’i rahimahullah telah menandatangani beberapa hal [seperti] yang ada dalam kesepakatan [yang dibuat Syaikh Al Imam]. Kesepakatan tersebut terjadi antara beliau dan Badruddin Al Hutsi, Muhammad bin Abdil Azhim dan 20-an orang lainnya dari kalangan ulama Syiah Sha’dah yang beberapa hal di antaranya adalah:
1. Usaha untuk menyatukan kalimah dan barisan serta meniadakan keributan akibat masalah-masalah yang diperselisihkan yang dapat membuat adanya perpecahan dan pemecah-belahan.
2. Siapa pun yang punya pendapat dalam masalah fikih tidak memiliki hak untuk memaksa yang lain agar mengikuti pendapatnya atau mewajibkan hal itu kepada yang lain dan hendaknya ia menghormati yang lainnya.
3. Meniadakan perlawanan kepada siapa pun atau mazhab apa pun atau kelompok apa pun dengan cara apa pun dan kepada masing- masing pihak agar saling menutup mata, saling melupakan apa yang pernah terjadi di masa lalu dan menghindar dari urusan- urusan yang dapat menimbulkan kekacauan sebagai upaya pencegahan terhadap munculnya kedengkian-kedengkian sekaligus mewujudkan ukhuwwah islamiyyah.
Mengisyaratkan kesepakatan tersebut, Imam Al Wadi’i pernah berkata,
“Komite Al Walid Al Qadhi Yahya Al Fusayyil, Menteri Perwakafan, Ali As Samman, dan Saudara Abdurrahman Al ‘Imad tiba pada hari-hari ini. Tetapi tidak menghasilkan apa-apa. Mereka memutuskan bahwa Syiah Hutsi tidak memusuhi ahlus sunnah dan ahlus sunnah tidak memusuhi Syiah Hutsi. Inilah keputusan, meski syariat tidak menyetujuinya, karena ada permasalahan-permasalahan [dalam kesepakatan itu] yang tidak boleh kita diam darinya, seperti yang diketahui di kalangan ahlul ilmi, tetapi keputusan itu bisa terhitung sebagai pembuka pintu kebaikan bagi As Sunnah. Suatu hal yang ma’ruf bolehnya melakukan kesepakatan tersebut di negeri yang tidak dikenal di sana kecuali Syiah sejak seribu tahun lalu atau lebih. Kita memohon kepada Allah agar menyatukan kaum muslimin di atas al haqq. Amin.” (Al Makhraj minal Fitnah, halaman 167, cetakan Darul Atsar)
Demikianlah beliau, Imam Al Wadi’i, yang menandatangani kesepakatan untuk bersatu bersama orang-orang Syiah, meniadakan perlawanan berupa gangguan-gangguan terhadap mereka, menjauhi bentuk-bentuk kedengkian, dan mewujudkan ukhuwwah islamiyah antara beliau dan mereka bersamaan dengan pengakuan Imam Al Wadi’i bahwa apa yang ada di dalam kesepakatan itu ada sesuatu yang menyelisih syariat. Lantas, mengapa hanya Syaikh Al Imam yang dikritik, tidak dengan Syaikh Muqbil juga? Atau, memang tujuannya, berusaha untuk merendahkan dan menjatuhkan Fulan, meski lewat cara-cara penyamaran dan pelecehan?