• Tidak ada hasil yang ditemukan

CATATAN KETIGABELAS

Dalam dokumen BEBERAPA CATATAN ATAS CELAAN ALI AL HUDZ (Halaman 67-72)

Dalam beberapa tempat di tulisannya, Al Hudzaifi, berusaha mengelabui manusia bahwa Syaikh Al Imam mengingkari jihad bertahan secara mutlak.

Saya jawab, Syaikh Al Imam dan ulama-ulama ahlus sunnah lainnya di Yaman tidak mengingkari jihad bertahan secara mutlak. Siapa saja yang menuduhkan hal itu kepada mereka, maka ia telah keliru. Fakta bahwa Imam Al Wadi’i dan murid-muridnya dari kalangan ulama dakwah Salafi di Yaman pernah memutlakkan tidak adanya usaha persiapan dari mereka guna menghadapi peperangan tidak berarti mereka mengingkari jihad bertahan secara mutlak. Sebab, yang namanya jihad bertahan itu disyaratkan memiliki kemampuan dan jelas maslahat serta perkiraan menangnya. Mereka semua tidak melihat hal-hal yang dimaksud terwujud di zaman ini pada ahlus sunnah di Yaman.

Karena itulah, dibawakanlah ucapan Imam Al Wadi’i yang sebelum ini telah disebutkan secara makna. “Kita bukan orang-orang yang siap untuk bentrok dengan mereka, meskipun mereka akan mengatakan kita sebagai orang-orang yang rendah’,” “Maka, tidak akan saya bidikkan senjata saya insyaallah kepada muslim yang masih shalat bi idzinillah ta’ala,” “Jangan engkau berperang, meski Ibnu Baz dan Al Albani memfatwakannya!”, kata beliau. Dalam kitab Al Mushara’ah, beliau juga berkata, “Kalau datang seorang pemberontak ke rumah saya, niscaya saya akan meninggalkan rumah dan pergi.”

Bukanlah makna pemutlakan-pemutlakan itu bahwa mereka mengingkari jihad bertahan dari dasarnya, sebagaimana dipahami siapa saja yang membawakan ucapan tersebut pada apa yang tidak mungkin. Sebab, Imam Al Wadi’i dan murid-muridnya dari kalangan ulama ahlus sunnah di Yaman juga menetapkan disyariatkannya jihad bertahan. Itu ditegaskan oleh Imam Al Wadi’i di dalam kitabnya, Al Ilhad Al Khomeini fi Ardhil Haramain (halaman 315-316). Murid beliau, Syaikh Al Imam, dalam Ithaf Ahlis Sunnah bi Ashli Tarkil Qital fil Fitnah (halaman 51-54), membuat

satu pasal menjelaskan adanya ijma’ untuksyariat jihad bertahan itu dengan judul “Ijma’ tentang Disyariatkannya Mempertahankan Diri, Kehormatan, Harta, dan Ketentuan-Ketentuan untuk Itu”. Dan fatwa-fatwa masyayikh ahlis sunnah di Yaman yang telah tersebar terkait permasalahan Dammaj adalah sebaik-baik bukti akan hal yang dimaksud. Semua itu hanya berarti bahwa mereka, para ulama al fudhala’ dan yang paling terdepannya adalah Imam Al Wadi’i, tidak melihat adanya sesuatu yang baik untuk dakwah mereka lewat partisipasi mereka dalam jihad tersebut. Sebab, jihad bertahan disyaratkan harus memiliki kekuatan dan jelas maslahatnya. Dua hal ini tidak terkumpul pada mereka, sedangkan mereka adalah yang paling mengetahui negeri dan keadaan mereka dibanding selain mereka. Merekalah yang harus didahulukan pandangannya dalam permasalahan ini.

Syariat Islam mengaitkan pembebanan-pembebanan pada kemampuan. Allah ta’ala berfirman,

ُْﱲْﻌ َﻄَﺘ ْﺳا ﺎَﻣ َ ا اﻮُﻘﺗﺎَﻓ

“Bertakwalah kepada Allah sesuai kemampuan kalian.” (QS. At Taghabun: 16)

ﺎَﻬَﻌ ْﺳُو ﻻا ًﺎﺴْﻔَﻧ ُ ّ ا ُﻒِّ َﳫُ َﻻ

“Allah tidak membebani seorang pun kecuali sesuai dengan kemampuannya.” (QS. Al Baqarah: 286)

Sebagaimana halnya syariat Islam itu dibangun di atas usaha mewujudkan mashlahat dan menghilangkan mudharat. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, seperti termaktub dalam Majmu’ Al Fatawa (Juz 10, halaman 512),

“Bentuk wara’ yang paling sempurna adalah [ketika] seseorang bisa mengetahui yang paling baik di antara hal-hal yang paling baik dan yang

paling buruk di antara hal-hal yang paling buruk. Hendaklah diketahui bahwa syariat itu dibangun di atas usaha menghasilkan serta menyempurnakan maslahat-maslahat dan menghilangkan sama sekali serta menyedikitkan kerusakan-kerusakan. Hanya saja, siapa pun yang tidak bisa menimbang apa yang [mesti] dikerjakan dan apa yang [mesti] ditinggalkan dari maslahat syar’iyyah dan mafsadat syar’iyyah, niscaya akan meninggalkan kewajiban-kewajiban dan mengerjakan keharaman- keharaman.”

Dalam Al I’tisham (Juz II, halaman 119), Imam Asy Syathibi rahimahullah mengatakan, “Jika berbenturan antara maslahat dan mudharat, maka urusan orang-orang yang berakal adalah melihat tingkatan-tingkatan yang paling baik.”

Jika tahu itu, maka jihad termasuk salah satu pembebanan- pembebanan syariat yang disyaratkan di dalamnya ada kemampuan, jelas maslahat dan mafsadat yang akan muncul di belakangnya. Jika tidak, jihad tidak lain dari upaya melemparkan diri ke dalam kebinasaan. Al ‘Allamah Al Utsaimin rahimahullah pernah mengatakan tentang jihad,

“Haruslah ada di dalam jihad syarat-syarat berupa ada kemampuan pada diri kaum muslimin dan kekuatan yang dengannya mereka bisa berperang. Jika pada mereka tidak ada hal itu, maka mengajak mereka ke dalam peperangan sama dengan memasukkan mereka ke dalam kebinasaan.” (Syarhul Mumti’, Juz VIII, halaman 10)

Imam Ats Tsauri rahimahullah pernah ditanya.

“Apa pendapatmu, jika musuh hendak merebut kota kaum muslimin, memaksa pergi mereka dari kota itu, mereka rela dengan itu, dan mereka tahu bahwa mereka tidak memiliki kemampuan untuk mempertahankan diri mereka, lalu berkata salah seorang yang shalih di antara mereka, ‘Kita tidak butuh perdamaian seperti ini, tapi kita perangi musuh sampai Allah putuskan perkara antara kita dan mereka’?”.

Beliau pun menjawab, “Jika mereka tidak memiliki kemampuan, maka aku tidak ingin mereka melakukan apa yang dikatakan oleh orang yang shalih itu. Hendaklah mereka menempuh usaha perdamaian dengan musuh.” (As Siyar karya Al Fazari, halaman 336)

Al Fazari mengutip dari Al Auza’i bahwa beliau pernah ditanya tentang benteng kaum muslimin yang diserbu musuh. Mereka pun takut, karena mereka tidak memiliki kekuatan. Apakah mereka mengadakan perjanjian saja untuk menyerahkan senjata-senjata, harta-harta, dan hasil- hasil bumi mereka biar musuh segera pergi dari benteng mereka? Al Auza’i waktu itu menjawab, “Jika memang mereka tidak punya kemampuan untuk melawan musuh mereka, maka yang seperti itu tidaklah mengapa.” (As Siyar karya Al Fazari, halaman 336, yang dikutip dalam Al Jihad karya Syaikh Hamd Al Utsman, halaman 336). Lihat juga Syarh As Siyasah Asy Syar’iyyah (halaman 59).

Saya dapatkan perkataan bagus dari Syaikh Ubaid Al Jabiri hafizhahullah. Beliau merinci permasalahan ini dengan perincian yang baik. Di situ, beliau berkata,

“Bagian kedua dari macam-macam jihad adalah jihad bertahan, yaitu berdiri di hadapan musuh dari kalangan orang-orang kafir yang menyerang negeri atau sebagian negeri kaum muslimin. Maka, yang seperti ini ada dua keadaan. Pertama, jika memungkinkan mereka untuk menghubungi wali atau amir negeri yang memang dia dikenal karena perlindungannya, pembelaannya, pertolongannya, dan kekuatannya untuk menghadapi musuh yang menyerang, mereka hubungi dan tunggu bantuannya. Kedua, jika amir yang ada tidak memiliki perhatian terhadap masalah-masalah itu—ambisinya hanya jabatan dan yang terkait dengan itu serta kepentingan-kepentingan pribadi dan tidak peduli sama sekali—atau ia lemah tidak punya kekuatan atau tidak mungkin untuk menghubunginya, maka hendaklah mereka menawarkan kepada musuh yang menyerang itu pernjanjian, perdamaian, dan kesepakatan yang dapat menjaga kehormatan Islam di negeri yang diserang itu. Kemudian, jika ternyata musuh tidak mau menerimanya atau enggan kecuali menguasai negeri itu, memaksa dan menduduki

mereka secara militer, maka di sini kita lihat. Jika mereka punya kekuatan, mereka minta tolong kepada Allah untuk gunakan kekuatan mereka menghadapi kekuatan musuh. Mereka yakinkan diri dengan itu, meminta tolong kepada Allah, dan mereka perangi musuh mereka. Jika tidak punya kekuatan atau dalam pandangan mereka musuh pasti akan meminta bala bantuan, maka hendaknya mereka pergi membawa agama mereka. Sebab, yang namanya jihad bertahan itu disyaratkan di dalamnya adanya kemampuan.” (Syarh ‘Aqidah Ar Raziyyin)

Saya katakan, ya Allah, betapa indahnya perkataan [beliau] itu. Perhatikan, coba, ucapan beliau tentang pemerintah, “…atau ia lemah tidak punya kekuatan,” dan ucapan beliau juga, “Jika tidak punya kekuatan atau dalam pandangan mereka musuh pasti akan meminta bala bantuan, maka hendaknya mereka pergi membawa agama mereka. Sebab, yang namanya jihad bertahan itu disyaratkan di dalamnya adanya kemampuan”, seolah-olah Syaikh Ubaid waffaqahullah sedang membicarakan keadaan ahlus sunnah di Yaman dan menjelaskan keadaan mereka di waktu genting.

Karena itulah, tidak tercela bagi ulama-ulama ahlus sunnah di Yaman untuk berusaha menjauhkan dakwah Salaf dari berbagai kekacauan dan fitnah yang berkelebat di negeri mereka, sebagai bentuk penjagaan karena tidak adanya kemampuan dan tidak ada pula ke-maslahat-an dan kemungkinan menang untuk memerangi musuh mereka. Wa billahit taufiq.

Dalam dokumen BEBERAPA CATATAN ATAS CELAAN ALI AL HUDZ (Halaman 67-72)

Dokumen terkait