Al Hudzaifi mengutip ucapan Syaikh Al Imam,
“Jika diutus Nabi [shallallahu ‘alaihi wa sallam] dan ia berkata kepada kita, ‘Perangilah oleh kalian sekelompok kaum muslimin’, pasti kita akan berperang dan kita tidak akan berpaling darinya. Adapun orang yang datang untuk membuat front dan menyeret kaum muslimin ke dalam perang atau membuat barisan untuk itu serta menyeret kaum muslimin ke dalam perang dan lain sebagainya, maka inilah cara-cara yang tidak bisa kita terima dan tidak pula bisa diterima oleh Allah. Bahkan yang seperti itu termasuk dari fitnah-fitnah dan penyimpangan yang besar.” Kemudian, Al Hudzaifi melanjutkan, “Muhammad Al Imam menolak memerangi kaum muslimin [yang berhak diperangi], kecuali jika diutus seorang nabi yang memerintahkan untuk itu.”
Saya jawab, tidaklah ada dalam ucapan Syaikh Al Imam pembatasan seperti yang dikatakan oleh Al Hudzaifi bahwa kita tidak akan berperang kecuali bersama seorang nabi. Maksud ucapan tersebut hanyalah memberikan tahdzir dari menerima ajakan setiap orang yang mengajak kepada pembunuhan dan peperangan di antara kaum muslimin serta bersikap tenang dan hati-hati dalam permasalahan yang besar itu. Dan bisa dipahami itu secara jelas pada zhahir ucapan beliau dan redaksi kalimatnya oleh siapa saja yang bisa bersikap inshaf.
Sungguh, telah cukup bagi kita bantahan Syaikh Al Imam untuk ucapan itu. Dalam pernyataan yang tersebar, beliau berkata, menjawab pertanyaan terkait ucapan beliau itu,
Amma ba’du. Maka, tanggapan kami untuk ucapan tersebut datang pada sela-sela ucapan dari awal sampai akhir yang di situ dapat dipahami maksudnya. Sebab, ucapan saya itu terkait dengan syariat memerangi
Khawarij. Setelah itu, sampailah pembicaraan tersebut pada peperangan yang diharamkan di antara kaum muslimin karena sebab harta, kekuasaan, sikap fanatik, dan fanatik kelompok. Karena itu, saya terangkan bahwa kita tidak akan menyeret kaum muslimin ke dalam peperangan seperti itu selama-lamanya dan terucaplah oleh saya ucapan seperti tersebut dalam pertanyaan itu. Maka, saya pun memberikan catatan terhadap peperangan yang dimaksud dengan perkara yang mustahil dari dua sisi. Pertama, perkara diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kedua, perintah nabi kepada kita untuk memerangi kaum muslimin dalam keadaan seperti itu. Kedua perkara ini dua hal yang mustahil, sehingga dapat diketahui dari ucapan saya itu bahwa maksud saya adalah berlebih-lebihan dalam menolak keinginan menyeret kaum muslimin ke dalam peperangan yang dimaksud. Dan ahlus sunnah menetapkan bahwa yang namanya perkataan itu terkadang dapat dipahami langsung lewat lafal-lafalnya dan terkadang pula dipahami lewat redaksi dan susunan kalimatnya, sehingga [wajar] suatu perkataan dapat dipahami lewat susunan dan redaksi kalimatnya yang itu tidak bisa dipahami langsung lewat lafal-lafalnya.
Sikap berlebih-lebihan dalam memperingatkan dari bergabung ke dalam peperangan fitnah ada asalnya dari sebagian Salaf. Sungguh, telah berkata Zabid bin Al Harits Al Yami (meninggal dunia pada tahun 122 H) ketika ditawarkan kepadanya berperang bersama Zaid bin Ali rahimahullah,
“Saya tidak akan ikut kecuali bersama nabi dan saya tidak menemukannya.”
Dalam lafal lainnya, “Saya tidak akan berperang, kecuali bersama seorang nabi.”
Atsar ini dikeluarkan oleh Al Fasawi dalam Al Ma’rifah wat Tarikh (Juz II, halaman 807), Abu Ubaid Al Ajurri dalam Su-alat karyanya (halaman 448), dan Ibnu Asakir (Juz XIX, halaman 473). Atsar ini bagus9 [sanad-nya].
Dan Ibnu Abi Syaibah (riwayat nomor 20736) dan Ibnu Sa’ad (Juz III, halaman 143) pernah juga mengeluarkan [atsar] dari Ibnu Sirin. Beliau berkata,
“Saad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya, ‘Mengapa engkau tidak ikut berperang? Padahal, engkau adalah salah seorang anggota ahlu syura dan engkau paling berhak dalam permasalahan itu dibandingkan yang lainnya’. Beliau menjawab, ‘Saya tidak akan berperang, sampai engkau datangkan kepada saya sebilah pedang yang memiliki dua mata, mulut, dan dua bibir yang tahu mana orang yang beriman dari orang yang kafir. Sungguh, saya ini pernah berperang dan saya tahu apa itu jihad’.”
Sanad-nya shahih.
Dalam Al Fitan (halaman 509),Nu’aim bin Hammad pernah mengeluarkan dari Abdullah bin Hubairah. Beliau berkata,
9 Tambah lagi, atsar Zabid Al Yami ini disebutkan pula oleh Al Baladzari dalam
Ansab Al Asyraf (Juz III, halaman 234) dan Adz Dzahabi dalam Tarikh Al Islam (Juz V, halaman 297). Keduanya tidak mengkritik Zabid. Tidak pula ada di antara mereka yang mengomentari perkataan Zabid itu dengan sesuatu yang bertentangan. Bahkan, tentang diri Zabid, Said bin Jubair pernah berkata, “Seandainya saya harus memilih seorang hamba terpuji ketika nanti berjumpa dengan Allah, saya akan memilih Zabih Al Yami.” Syu’bah juga pernah berkata, “Saya belum pernah melihat seorang yang lebih baik dari Zabid.” Abu Hatim dan yang lain menilai Zabid sebagai orang yang tsiqah. Adz Dzahabi berkata, “[Zabid] seorang al hafiz, termasuk salah seorang ulama besar” (Siyar A’lam An Nubala’, Juz V, 296-297).
“Siapa saja yang menjumpai fitnah, maka hendaklah ia patahkan satu kakinya. Jika ia bisa pulih kembali, maka patahkan kakinya yang lain.”
Sanad-nya bagus.
Karena itu, para ulama—sepanjang yang saya tahu—tidak memahami dari atsar-atsar tersebut keharusan menolak satu macam pun dari macam-macam perang yang disyariatkan, sehingga membawa ucapan saya pada apa yang tidak mungkin untuk dibawakan ke situ berupa penolakan satu macam dari macam-macam perang yang disyariatkan adalah sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam sanubari saya. Dan bagaimana bisa dibawakan kepada sesuatu yang seperti itu, sedangkan pembicaraan saya dalam pelajaran yang dikutip darinya ucapan tersebut adalah tentang disyariatkannya memerangi Khawarij? Saya pun, alhamdulillah, dalam kitab Tamamul Minnah fi Fiqhi Qitalul Fitnah yang dicetak pada tahun 1430 H, pernah membuat satu pasal dengan judul “Macam-Macam Perang yang Disyariatkan”. Maka, siapa yang mau, merujuklah ke sana. Dan dalam kitab yang saya maksud itu, saya kutip ijma’ ahlul ‘ilmi tentang disyariatkannya jihad bersama pemerintah, baik yang shalih dari kalangan mereka atau yang lalim, sampai datang hari kiamat.
Kita memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar mengilhamkan kepada kita petunjuk, menjaga kita dari keburukan diri-diri kita, dan memalingkan dari kita segala fitnah yang tampak ataupun yang tersembunyi. Cukuplah Allah bagi kita. Dialah sebaik-baik penolong. Tiada daya upaya, kecuali Allah yang maha perkasa lagi maha bijaksana.
Telah ditulis pada tanggal 4 Shafar 1436 H.
Saya katakan, termasuk sesuatu yang menunjukkan bahwa ucapan Syaikh Al Imam itu adalah seputar peperangan yang mengandung fitnah adalah ucapan beliau sebelum itu.
“Perang yang terjadi sekarang ini disebabkan oleh kekuasaan, sikap fanatik, fanatik kelompok, dan seterusnya. Berhati-hatilah kalian dari terseret ke dalam fitnah-fitnah, sebagaimana yang engkau dengar dalam bentuk ini dan bentuk yang lainnya. Jika diutus Nabi [shallallahu ‘alaihi wa sallam] dan ia berkata kepada kita...” (dan seterusnya).
Maka, ucapan Syaikh Al Imam jelas bahwa yang beliau maksud adalah perang fitnah, seperti perang karena kekuasaan, semangat kelompok, dan karena terseret ke dalam fitnah-fitnah, sehingga apa yang didengung- dengungkan sebagian orang yang dengki lagi sombong bahwa Syaikh Al Imam tidak memaksudkannya sebagai perang dalam fitnah terbantahkan oleh jelasnya ucapan beliau tersebut. Ini sesuatu yang jelas, bi hamdillah. Akan tetapi,
Dan siapa yang memiliki mulut pahit karena sakit, air yang segar pun akan terasa pahit
Kami nasehatkan kepada orang-orang yang membenci Syaikh Al Imam dengan nasehat Imam Al Albani. “Bahasa Arab itu luas. Jika ada kemungkinan membawa perkataan seorang muslim pada maksud yang baik dan maksud yang buruk, wajib membawanya kepada maksud yang baik dan tidak membawanya kepada maksud yang buruk” (“Silsilah Al Huda wan Nur”, nomor 164).
Saya katakan, guru kami, Imam Al Wadi’i, sering memperingatkan ahlus sunnah dari terseret ke dalam fitnah pembunuhan dan peperangan. Beliau sangat bersungguh-sungguh menutup celah bagi siapa saja yang hendak menikam dakwah dengan cara yang penuh kezaliman dan kemunafikan lagi brutal itu. Dari beliaulah [kemudian] para ulama ahlus sunnah di Yaman mengambil pelajaran akan jalan yang benar dan manhaj
yang kokoh ini. Di antara perkataan beliau yang didengar oleh murid- muridnya, “Jangan engkau berperang, meski Ibnu Baz dan Al Albani memfatwakannya.”
Saya kutipkan sesuatu dari perkataan Imam Al Wadi’i tentang itu dari kitab saya, Al Imam Al Wadi’i wa Juhuduhu fi Tajdid As Sunnah An Nabawiyyah. Di antaranya adalah perkataan beliau rahimahullah,
“Kita di Yaman. Kalian tahu bahwa orang-orang Yaman dapat saling berperang karena sebab-sebab yang paling remeh. [Sementara] kita sunni. Pada kita ada sesuatu yang setara dengan dunia ini. Hendaklah kita saling menasehati. Jangan sampai kita ceburkan diri-diri kita ke dalam fitnah-fitnah. Jangan pula kita ceburkan diri-diri kita ke dalam benturan. Jangan dengan kabilah. Jangan dengan pemerintah. Jangan dengan Fulan.
ِ ّ ا َنﺎَ ْﺒ ُﺳَو ِﲏَﻌَﺒﺗا ِﻦَﻣَو َْ ٍةَﲑ ِﺼَﺑ َﲆَ ِ ّ ا َﱃا ﻮُﻋْد ِﲇ ِ َﺳ ِﻩِﺬ َﻫ ْﻞُﻗ
َﲔِﻛِ ْﴩُﻤْﻟا َﻦِﻣ ْ َ ﺎَﻣَو
‘Katakan, inilah jalanku. Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha suci Allah. Dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik’ (QS. Yusuf: 108).” (MinFiqhil Imam Al Wadi’i, Juz I, halaman 56)
Beliau rahimahullah juga berkata,
“Dan sungguh, telah saya katakan berulang kali, jika terjadi fitnah di Yaman dan saya mampu untuk lari ke negeri lain dengan agama saya, pasti akan saya lakukan. Maka, tidak akan saya bidikkan senjata saya insyaallah kepada muslim yang masih shalat bi idzinillah ta’ala.” (Al
Mushara’ah, halaman 45)
Beliau pernah berkata tentang usaha sebagian pejabat pemerintah dalam mengadu-domba antara ahlus sunnah dan Syiah.
“Maka kami nasehatkan ikhwah dari kalangan pejabat pemerintahan agar berhati-hati dengan segala kehati-hatian dari kelicikan Syiah. Adapun jika mereka mengira bahwa antara Syiah dan ahlus sunnah akan bentrok, [maka] tidak. Tidak. Kami siap untuk berkhotbah tentang keutamaan-keutamaan ahlul bait Nabi. Kami pun siap untuk pergi.10 Kami
tidak ingin bentrok. Sebab, dakwah kami berjalan tanpa bentrokan itu lebih baik. Maka, hendaklah berhati-hati para pejabat itu dengan jabatannya. Berhati-hatilah dengan kedudukannya. Adapun, jika mereka menyangka kita beradu fisik dengan Syiah, kita merasa ditakut-takuti Syiah atau Syiah sedang menakut-nakuti kita, demikian juga dengan Ikhwanul Muslimin, [maka] kita tidak siap untuk beradu fisik dengan siapa pun. Sebab dakwah sunnah dan menyebarkan sunnah sangat kuat pada diri kita untuk menjalankannya. Maka, kami pun menyebarkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lewat tulisan-tulisan, karangan-karangan, juga khotbah-khotbah, sebatas yang kami mampu. Jika para pejabat itu menginginkan agar Syiah bentrok dengan Sunni, tidak. Tidak bisa mereka membenturkan Syiah dengan Sunni. Bi hamdillah orang-orang Syiah telah berulang kali mencoba untuk bentrok dengan kami, namun mereka tidak mampu.” (Kaset “Adhwaun ‘alad Da’wah”)
Beliau rahimahullah juga mengatakan,
“Ahlus sunnah membenci pertikaian dan perselisihan. Karena itulah, jika [musuh-musuh] mereka yang lalai itu maju, ahlus sunnah mundur. Sebab ahlus sunnah tidak suka bentrok dengan muslim yang bersyahadat bahwa Tidak ada sembahan yang haq untuk disembah kecuali Allah. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah bersabda,
َﯾ ِﺔَﻣْﺮُﺤَﻛ ٌماَﺮَﺣ ْ ُﲂْﯿَﻠَ ْ ُﲂ َﺿاَﺮْﻋ َو ْ ُﲂَﻟاَﻮْﻣ َو ْ ُﰼَءﺎَﻣِد نا
اّﺬَﻫ ْ ُﰼِﺮْﻬ َﺷ ِﰲ اَﺬَﻫ ْ ُﲂِﻣْﻮ
اَﺬَﻫ ْ ُﰼِ َ َﺑ ِﰲ
10 Dalam pemahaman Al Hudzaifi dan Hani bin Buraik serta orang-orang yang
bersama keduanya dari kalangan orang-orang yang gegabah dan sembrono, sikap Syaikh Muqbil ini terhitung sebagai bentuk menghilangkan jihad bertahan.
‘Sesungguhnya darah-darah kalian, harta-harta kalian, kehormatan- kehormatan kalian atas kalian itu haram seperti haramnya hari kalian ini, bulan kalian ini, negeri kalian ini’.”(Ijabatus Sa-il, halaman 24)
Beliau rahimahullah berkata,
“Dan Syiah Yaman—kita menganggap mereka sebagai muslim mubtadi’. Jika mereka maju selangkah, kita mundur selangkah. Sebab kita menganggap mereka muslim dan kita tidak menghalalkan darah-darah mereka. Tidak juga harta-harta mereka. Tidak juga kehormatan- kehormatan mereka. Dan sungguh, kita telah melihat bahwa sunnah Rasulullah shalllallahu ‘alaihi wa sallam lebih kuat bagi kita. Sungguh telah menghantam mereka sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan alhamdulillah juga telah menghantam mereka lewat sebab tulisan- tulisan, lewat sebab dakwah kepada Allah. Karena itu, berdakwah kepada Allah lebih bermanfaat. Dan Rabbul ‘Izzah telah berfirman di dalam kitabNya yang mulia,
ِﺔَ ْﳬِﺤْﻟ ِ َﻚِّﺑَر ِﻞ ِ َﺳ ِﱃا ُعْدا
ِﺔَﻨ َﺴَﺤْﻟا ِﺔ َﻈِﻋْﻮَﻤْﻟاَو
‘Ajaklah ke jalan Rabbmu dengan hikmah dan nasehat yang baik.’ (QS. An Nahl: 128)
Maka, hendaklah berdakwah dengan hikmah dan nasehat yang baik. Hendaklah pula engkau tahu siapa yang engkau hadapi itu. Engkau menghadapi saudaramu yang muslim, maka jangan halalkan hartanya. Jangan pula darahnya dan kehormatannya. Jika diterima [dakwahmu] hari ini, maka itulah yang diinginkan. Jika tidak, mungkin akan diterima besok atau lusa nanti.” (Maqtal Asy Syaikh Jamilurrahman, halaman 13) Beliau rahimahullah pernah berkata tentang Syiah.
“Kita bukan orang-orang yang siap untuk bentrok dengan mereka, meskipun mereka akan mengatakan kita sebagai orang-orang yang
rendah11. Jika mereka mengajak berdebat, kita siap untuk itu. Adapun
bentrok fisik, bunuh-bunuhan, maka mereka itu muslim dan kita pun muslim. Kita tidak boleh menghalalkan darah-darah mereka, harta-harta mereka, dan kehormatan-kehormatan mereka.”12 (Ijabatus Sa-il, halaman 56)
11 Sebatas paham sebagian orang-orang yang dengki yang membawa ucapan ke
sesuatu yang tidak mungkin teranggap sebagai meniadakan syiar jihad fi sabilillah.
12 Permasalahan tentang mengafirkan orang-orang Rafidhah secara mutlak, di
dalamnya terdapat perselisihan pendapat di antara para ulama, seperti yang ada di dalam Majmu’ Al Fatawa (Juz III, halaman 352) karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Perincian tentang permasalahan itu, di kalangan ulama ahlus sunnah zaman sekarang, juga ada dalam perkataan Imam Al Albani dan Imam Al Utsaimin rahimahumallah. Adapun Imam Al Albani rahimahullah, beliau pernah berkata, ‘Saya tidak berani untuk berkata tentang kafirnya Syiah—kelompok yang dinamakan dengan Rafidhah, kecuali jika kita tahu akidah setiap orangnya. Misalnya, Al Khomeini. Ia menyatakan terang-terangan akidahnya pada apa yang disebutnya sebagai Al Hukumah Al Islamiyyah. Ini kufur tanpa diragukan lagi. Akan tetapi, tidak mesti bagi saya untuk menganggap setiap ulama Syiah memiliki kemungkinan pemikiran seperti Khomeini itu. Karena itulah, saya katakan, siapa saja yang memiliki pemikiran itu, siapa saja yang meyakini bahwa Al Qur’an [kita] seperempat Al Qur’an yang ada di mushaf Fatimah, tidak diragukan lagi, ia kafir. Akan tetapi, saya katakan juga, Syiah itu kafir, karena kebanyakan mereka, atau karena kitab mereka, Al Kafi, mengatakan seperti ini dan seperti itu. Ini tidaklah cukup untuk mengumumkan secara mutlak akan kekafiran Syiah atau Rafidhah. Sebab, di sini, ada dua hal yang mencegah pengafiran secara mutlak. Pertama, kita tidak bisa mengatakan setiap ulama Syiah membawa akidah yang kafir itu. Kedua—seyogyanya mewujudkan syarat kedua ini—adalah tegaknya hujjah. Dua hal ini tidak ada. Cukup bagi kita, kalau begitu, untuk mengatakan, ‘Mereka itu sesat. Adapun secara terperinci, maka hendaknya kita tahu dulu akidah mereka, baik lewat ucapan mereka atau tulisan mereka’ (“Silsilah Al Huda wan Nur”, kaset 754).” Dan beliau juga punya perkataan lain yang senada dengan ini. Lihat dalam Mawsu’ah Al ‘Allamah Al Albani (Juz II, halaman 461; Juz IV, halaman 284; dan Juz V, halaman 579-599). Adapun Imam Al Utsaimin rahimahullah, beliau punya sejumlah fatwa terkait permasalahan itu. Sungguh, beliau pernah ditanya, “Tentang Rafidhah, apakah mereka dianggap kafir? Bagaimana seorang muslim bermuamalah dengan mereka?”. Beliau menjawab, “Rafidhah, barakallahu fik, seperti selain mereka dari kalangan ahlul bid’ah. Jika mereka membawa sesuatu yang mewajibkan untuk dikafirkan, maka mereka kafir. Jika membawa sesuatu yang mewajibkan untuk difasikkan, maka mereka fasik. Jika ada sesuatu dari perkataan-perkataan mereka yang dekat dengan perkataan-perkataan ahlus sunnah, maka ada sesuatu yang perlu dilihat kembali. Dan ini kembalinya ke ijtihad. Mereka
Sebagaimana halnya Imam Al Wadi’i pernah memperingatkan dari menyimak orang-orang dungu dan gegabah. Juga menempatkan mereka dalam permasalahan-permasalahan dakwah dan memasukkan dakwah ke dalam ajang perkelahian. Maka, beliau rahimahullah mengatakan, “Tidak seharusnya kita semua menempatkan orang-orang yang bikin ricuh dalam dakwah. Sebab, mereka itu akan menghancurkan jamaah dan kalian akan mengingatnya” (As Sair Al Hatsits, halaman 438). Beliau rahimahullah juga mengatakan,
“Sebagaimana saya juga menasehatkan orang-orang yang terjun ke dalam dakwah di sana untuk tidak terburu-buru dan terpengaruh oleh orang-orang yang gegabah, karena orang-orang yang gegabah itu menjadi sebab hancurnya dakwah. Sungguh, dakwah di Suriah telah dihantam dengan berbagai hantaman oleh sebab orang-orang gegabah. Dakwah di Mesir dihantam oleh sebab orang-orang gegabah. Dan dihantam juga dakwah dengan berbagai hantaman oleh sebab Jamaah Al Haram [Juhaiman dan kelompoknya]. Masalah orang-orang yang gegabah itulah yang menjadi sebab hancurnya dakwah. Mereka itu dianggap sebagai musibah dalam dakwah dan mereka [malah] menuduh ikhwah sebagai pengecut” (Gharrah Al Asyrithah, Juz I, halaman 305-306).
Beliau rahimahullah mengatakan,
dalam hal ini seperti yang lainnya. Tidak mungkin dijawab dengan jawaban umum. Dikatakan bahwa setiap Rafidhah itu kafir atau fasik, tidak. Tetapi, haruslah diperinci dan dilihat bid’ah-bid’ah yang mereka lakukan” (Liqa-at Al Bab Al Maftuh, Juz III, halaman 520). Beliau rahimahullah juga pernah ditanya tentang Rafidhah. Apakah dibalas salam mereka dengan “’alaikum”. Beliau menjawab, “Ini, jika kita hukumi dengan kekafiran. Akan tetapi, di antara Rafidhah, ada yang tidak kafir, karena bodoh lagi awam dan tidak tahu. Maka, yang seperti ini tidak bisa kita hukumi sebagai kafir. Kecuali, jika telah disampaikan al haq dan mereka masih terus-terusan dalam bid’ahnya yang mengafirkan itu, maka sesungguhnya ia kafir” (Liqa-at Al Bab Al Maftuh, Juz 77, halaman 22).
“Saya nasehatkan engkau untuk melangkah pelan-pelan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah tinggal di Mekkah selama 13 tahun dan beliau mendakwahi mereka. Beliau tinggal di Madinah dua tahun sebelum diizinkan untuk berjihad. Apa yang engkau katakan, ‘Demi Allah, jika saya berlambat-lambat pada permasalahan ini, akan menjadi kekalahan bagi dakwah’, tidak. Saya menginginkanmu untuk perlahan-lahan, perlahan- lahan, dan perlahan-lahan. Janganlah kau masukkan dakwah ke dalam perkelahian. Dari situ, jangan pula engkau turuti ambisi pribadimu. Yang namanya ambisi itu terkadang menginginkan kemenangan. Maka, jangan. Hendaklah engkau bersikap tenang dan berjalan perlahan-lahan. Walhamdulillah”(Min Fiqhil Imam Al Wadi’i, Juz I, halaman 54).
Lantas, kenapa dikhususkan pada ulama-ulama ahlus sunnah di Yaman saja keributan dan perendahan—karena sebab upaya mereka menjauhkan dakwah Salafi dari segala bahaya, fitnah-fitnah, konspirasi- konspirasi, pembunuhan dan peperangan—tapi tidak pada Imam Al Wadi’i yang terang-terangan meniadakan persiapan untuk memerangi Syiah, yang membiarkan Syiah menuduh beliau dengan pengecut, walaupun hal itu menuntut untuk menarik ahlus sunnah dan mundur ke belakang? Beri saya jawaban, wahai orang-orang yang dendam kepada ulama-ulama ahlus sunnah di Yaman.