• Tidak ada hasil yang ditemukan

CATATAN KESEBELAS

Dalam dokumen BEBERAPA CATATAN ATAS CELAAN ALI AL HUDZ (Halaman 59-64)

Berkata Al Hudzaifi,

“Akan tetapi, tersisa sejumlah perkara yang kita lihat dibicarakan terus- menerus yang membuat kaget siapa saja yang mengenal dakwah Salaf dengan baik. Dan di antaranya adalah perkataannya yang keras dan terus-terusan di atas mimbar terhadap orang-orang yang memegang pemerintahan.”

Saya jawab, permasalahan mengingkari pemerintahan termasuk permasalahan yang dibesar-besarkan oleh Abul Hasan dan sebagian orang- orang Haddadi dari Imam Al Wadi’i. Sebagian mereka mengira bahwa beliau telah menghancurkan salah satu pondasi dari pondasi-pondasi Islam. Amboi, alangkah miripnya hari ini dengan kemarin. Padahal, permasalahan itu tidak mengandung segala bentuk perendahan, sehingga perkara ini bukan satu perkara yang tercela. Juga bukan sesuatu yang menyelisihi manhaj Salaf, jika itu dilakukan dengan ketentuan-ketentuan yang syar’i.

Sungguh, ‘Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu telah mengingkari sebagian penguasa dari Bani Umayyah secara terang-terangan, ketika khotbah ied dimajukan sebelum shalat.

‘Ammarah bin Ruwaibah radhiyallahu ‘anhu pun pernah mengingkari Bisyr bin Marwan ketika melihatnya di atas mimbar mengangkat kedua tangannya. ‘Ammarah berkata, “Semoga Allah memburukkan dua tangan itu. Sungguh, aku telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah lebih menggerakkan tangannya daripada seperti ini.” ‘Ammarah pun menunjukkan jari telunjuknya. Diriwayatkan oleh Muslim.

Imam Adz Dzahabi rahimahullah pernah mengatakan tentang Sufyan Ats Tsauri rahimahullah, “Beliau mengingkari perbuatan para penguasa dan tidak berpendapat bolehnya memberontak kepada mereka.”

Di sana terdapat beberapa sikap berani dari Imam Al Auza’i, Imam Ibnu Abi Dzi’b, dan lain-lain dalam mengingkari kemungkaran yang datang dari sebagian penguasa yang lalim tanpa menyebabkan munculnya kekacauan. Berkata Imam Al Wadi’i rahimahullah, “Kita, ketika membaca sirah para ulama kita, akan kita dapati di antara mereka ada yang mengingkari penguasa secara terang-terangan. Di antara mereka juga ada yang melakukan itu untuk menutup fitnah” (Min Fiqhil Imam Al Wadi’i).

Beliau juga berkata, “Bedakan antara bentuk pengingkaran kita dan pengingkaran orang-orang selain kita. Kita mengingkari kemungkaran dan tidak mendorong manusia untuk memberontak kepada para penguasa. Dan ini adalah akidah ahlus sunnah.” Setelah itu, beliau membawakan sejumlah dalil yang menunjukkan hal tersebut (Akhiru Fatawa Al Wadi’i, halaman 43- 44).

Beliau rahimahullah berkata, membantah orang-orang yang mengira bahwa beliau membolehkan keluar dari ketaatan terhadap penguasa,

“Kita tidak mengatakan bahwa tidak boleh diingkari penguasa itu. Tetapi, [pengingkaran itu] tidak membawa ke arah memberontak kepada mereka. Adapun pengingkaran terhadap mereka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

ٍّﻖَﺣ ُﺔَﻤَِﳇ دﺎَﻬِﺠْﻟا ُﻞ َﻀْﻓ

ِﻋ

ٍﺮِ ﺎَ ِنﺎ َﻄْﻠ ُﺳ َﺪْﻨ

‘Sebaik-baik jihad adalah mengucapkan ucapan yang haqq di sisi penguasa yang lalim.’

ْﻢَﻟ ْنﺎَﻓ ، ِﻪِﻧﺎ َﺴِﻠَِﻓ ْﻊ ِﻄَﺘ ْﺴَ ْﻢَﻟ ْنﺎَﻓ ، ِﻩِﺪَﯿِﺑ ُﻩ ِّﲑَﻐُﯿْﻠَﻓ اًﺮَﻜْ ُﻣ ْ ُﲂْ ِﻣ ى َر ْﻦَﻣ

ْﺴَ

ِنﺎَﻤْﯾﻻا ُﻒَﻌ ْﺿ َ ِ َذَو ِﻪِﺒْﻠَﻘِ ِﻓ ْﻊ ِﻄَﺘ

‘Siapa saja di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak bisa, maka dengan ucapannya. Jika tidak bisa, maka dengan hatinya. Dan itulah selemah-

lemah keimanan.’ Kita tidak siap menyembah para penguasa. Kita juga tidak siap membela mereka di atas kebatilan.

ً ِﺛ ً اﻮَﺧ َن َﰷ ﻦَﻣ ﺐِ ُﳛ َﻻ َ ّ ا نا ْﻢُﻬ َﺴُﻔﻧ َنﻮُﻧﺎَﺘْ َﳜ َﻦ ِ ا ِﻦَﻋ ْلِدﺎَ ُﲡ َﻻَو

‘Dan janganlah engkau berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati diri-diri mereka. Sungguh, Allah tidak menyukai orang- orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa.’ (QS. An Nisa’: 107)

Bahkan, wajib bagi kita untuk mengingkari mereka, jika mereka mengajak kepada sistem demokrasi atau mengajak kepada sesuatu yang menyelisihi agama, sambil menyampaikan agar kaum muslimin merasa bahwa kita tidak membolehkan memberontak kepada mereka dan tidak menyukai hal itu. Ya subhanallah, wahai pendusta, tidakkah engkau tahu bahwa kedustaanmu akan terbongkar pada hari ini, besok, atau lusa nanti. Kitab-kitab kita penuh—min fadhlillah—dengan tahdzir dari memberontak kepada para penguasa, sehingga yang terpenting itu: kita di sisi ini dan mereka yang menyembah para penguasa di sisi lain. Mereka yang mendorong manusia untuk mengadakan revolusi-revolusi dan kudeta-kudeta di satu lembah. Kita menginginkan Al Qur’an – As Sunnah; mengamalkan keduanya; dan menjadikan keduanya hukum antara kita, para penguasa, dan rakyat. Wallahul musta’an.” (As-ilah Ahlil Madinah)

Menggabungkan antara dalil-dalil yang ada dalam permasalahan ini, Imam Al ‘Allamah Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata,

“Harus menggunakan hikmah. Jika kita lihat bahwa mengingkari secara terang-terangan itu akan menghilangkan kemungkaran dan menghasilkan kebaikan, maka kita ingkari secara terang-terangan. Jika kita lihat bahwa mengingkari secara terang-terangan itu tidak akan menghilangkan keburukan dan tidak menghasilkan kebaikan, bahkan menambah tekanan penguasa kepada orang-orang yang mengingkari dan orang-orang yang baik, maka yang paling baiknya adalah mengingkarinya secara sembunyi-sembunyi. Dan dengan ini dapatlah

digabung dalil-dalil yang ada. Maka, digunakan dalil-dalil yang menunjukkan bahwa pengingkaran itu dilakukan secara terang- terangan, jika kita bisa perkirakan di dalamnya ada maslahat berupa tercapainya kebaikan dan hilangnya keburukan. Digunakan dalil-dalil yang menunjukkan bahwa pengingkaran itu dilakukan secara sembunyi- sembunyi, jika menampakkan pengingkaran secara terang-terangan bisa menambah keburukan dan tidak menghasilkan kebaikan.” (Liqa’ Bab Al Maftuh, Juz III, halaman 354)

Dan di antara perkataan Imam Al Albani dalam permasalahan ini adalah perkataan beliau yang berbunyi,

“Sebenarnya, saya ingin mengatakan pernyataan secara terang- terangan bahwa dai-dai tauhid pada hari ini berada dalam kenyataan yang pahit. Setiap keputusan yang ditetapkan segera menemukan jawab: ini adalah urusan pemerintahan. Dan kita pun terjatuh ke dalam apa yang kita peringatkan keras darinya. Kenapa kita tidak terjun, kalau begitu, ke dalam dakwah secara umum saja dan tidak ke dalam masalah yang terkait dengan rakyat dan meninggalkan para penguasa tanpa nasehat dan pengingkaran meskipun juga tidak diiringi dengan pemberontakan kepada mereka? Apakah jawabannya bisa jelas?”

Penanya berkata, “Apakah ini tidak menuntut adanya sikap frontal?”. Syaikh Al Albani menjawab, “Ya, tidak menuntut adanya itu.” (Durus Shauthiyyah, Juz 23, halaman 6)

Guru Syaikh Al Wadi’i, Al Walid Al ‘Allamah Abdul Muhsin Al ‘Abbad hafizhahullah, punya sejumlah tulisan yang telah tersebar dalam permasalahan mengingkari sejumlah penyelisihan syariat yang dilakukan oleh sebagian raja dan penguasa.

Fadhilatusy Syaikh Shalih Alu Syaikh pernah mengatakan,

“Mengingkari dengan kata-kata bisa jadi bukan pemberontakan dan bisa jadi juga pemberontakan. Maksudnya, terkadang seseorang mengatakan ucapan yang membawanya kepada pemberontakan. Maka,

jadilah ucapannya itu sebab adanya pemberontakan. Dan terkadang seseorang mengatakan ucapan yang itu termasuk ke dalam perkara amar ma’ruf nahi mungkar, tetapi tidak mengantarkannya kepada pemberontakan dan tidak pula memunculkan fitnah di tengah-tengah manusia. Maka, yang ini tidaklah masuk ke dalam pemberontakan.” (Jami’ Syuruh Al ‘Aqidah Ath Thahawiyyah, Juz II, halaman 942)

Lantas, kenapa hanya pada Syaikh Al Imam perkara itu dibesar- besarkan, padahal telah melakukannya juga para ulama tersebut? Apa kalian itu ingin dari kami ini ada yang menjadi seperti apa yang dikatakan oleh Imam Al Wadi’ dengan menyembah para penguasa, jika mereka mengajak kepada sistem demokrasi, persatuan agama, westernisasi, perkara ikhtilath [laki-laki dan perempuan], memasukkan dakwah kita ke tengah- tengah kekacauan dan fitnah, atau kepada berbagai hal yang mungkar? Kita jawab, benar, kita dengar dan kita taat kepada pemerintahan seperti itu? Jika kita dapati ada yang mengingkari keharaman-keharaman ini dengan cara-cara yang syar’i, kita ingkari pula? Apa kurma yang jelek, tak berbiji, ditimbang pula? Mereka ubah kemungkaran-kemungkaran para penguasa dengan cara-cara yang syar’i yang tidak mengarah kepada sikap frontal seperti kata Imam Al Albani [kita ingkari pula]? Jangan bermudah- mudahan dan jangan berlebih-lebihan.

Perhatian. Terjadi perdebatan bersama Syaikh Al Imam seputar permasalahan itu, maka beliau memberikan faedah yang isinya: sesungguhnya dilakukan itu untuk menasehati, bukan untuk membuat kekacauan. Maka, ketika muncul banyak fitnah, beliau melihat untuk menahan diri dari perkara itu agar tidak terjadi fitnah yang lebih besar yang sebenarnya tidak mengapa menasehati para penguasa secara umum jika memang di sana ada maslahat bagi Islam dan kaum muslimin sambil memperingatkan manusia dari bahayanya revolusi, kudeta, dan memberontak kepada para penguasa, sebagaimana itu adalah keyakinan ahlus sunnah wal jama’ah.

Dalam dokumen BEBERAPA CATATAN ATAS CELAAN ALI AL HUDZ (Halaman 59-64)

Dokumen terkait