Saudara Al Hudzaifi mengkritik pujian-pujian dua orang syaikh, Syaikh Al Bura’i dan Syaikh Al Imam, untuk Abul Hasan di awal-awal terjadi fitnah [Abul Hasan].
Saya jawab, syubhat ini—dengan segala bentuknya—telah dibesar- besarkan oleh orang-orang Hajuri untuk menjatuhkan ulama-ulama ahlus sunnah di Yaman. Perbuatan itu tidak menghasilkan apa-apa bi fadhlillah. Dan hari ini diulangi kembali oleh Al Hudzaifi dan Hani bin Buraik. (Saya tahu, kelakuan macam ini berasal dari si Akhzam).
Sebagai bantahan untuk semuanya, saya katakan, tentang fitnah Abul Hasan, maka fitnah itu—khususnya di awal-awal merebaknya— terselubung dan kuat. Terpengaruh olehnya para pemuda. Ulama-ulama ahlus sunnah di Yaman pun bangkit untuk meredamnya sejak di awal kali merebaknya fitnah.
Pada tanggal 15 Jumadil Ula 1422 H, sekitar setengah bulan dari wafatnya Syaikh Muqbil, ulama-ulama ahlus sunnah di Yaman telah mengadakan pertemuan di Shan’a agar mencopot cabang Jum’iyyah Al Bir dari Yaman yang waktu itu dipimpin oleh Abul Hasan dan mengeluarkan penjelasan tentang itu.
Kemudian, setelah menampakkan sikap untuk meninggalkan lembaga itu, Abul Hasan kembali menyebarkan dasar-dasar pemikiran batilnya untuk mengotak-ngotakkan pemuda-pemuda yang ada di sekitarnya. Masyayikh Yaman pun menasehatinya dan terus mengupayakan hal itu. Tatkala jelas bahwa orang yang dimaksud berusaha memecah barisan Salafi, maka ulama-ulama tersebut mulai mengambil sikap yang tegas terhadapnya.
Di antara yang pertama kali dilakukan Abul Hasan di awal-awal fitnah-nya adalah mengadakan safari keliling wilayah utara dan selatan Yaman untuk menyulut api fitnah dan memecah barisan Salafi serta memisahkan siapa saja yang bersamanya dari dakwah Salaf di Yaman.
Lalu, sampailah Abul Hasan di Darul Hadits, Ma’bar, untuk bertemu dengan Syaikh Muhammad Al Imam hafizhahullahu ta’ala. Maka, bertemulah dengannya Syaikh Al Imam. Beliau memperingatkan Abul Hasan agar tidak keluar untuk berdakwah di masa-masa itu, karena keluarnya Abul Hasan untuk berdakwah di masa-masa itu menjadi sebab paling besar terpecahnya barisan Salafi.
Abul Hasan pun meminta uzur, dengan dalih bahwa dirinya telah membuat sejumlah janji. Syaikh Al Imam menjawab, “Pulanglah engkau. Saya yang nanti akan menggantikanmu memenuhi janji-janji itu.” Hanya saja waktu itu, Abul Hasan telah menyimpan di dalam dirinya waktu itu keinginan memecah barisan Salafi. Ia pun enggan dan terus berjalan dalam keangkuhannya. Setelah itu, ia meminta bertemu dengan Syaikh Al Imam. Maka, beliau menolak permintaan itu. Dan inilah awal sikap tegas yang langsung dari ulama-ulama ahlus sunnah di Yaman terkait Abul Hasan.
Ketika Abul Hasan dalam safarinya telah sampai di Mukayyiras, Syaikh Al Imam mengeluarkan fatwa untuk meng-hajr-nya. Maka, larilah para pemuda dari Abul Hasan. Fatwa tersebut memberikan pengaruh yang sangat besar dengan sebab apa yang telah Allah tetapkan pada Syaikh Al Imam berupa diterimanya beliau di hati-hati manusia.
Dalam safari itu juga, Abul Hasan sempat bertemu dengan Syaikh Al Jalil An Naqid Al Bashir Abdul Aziz Al Bura’i hafizhahullah di Mafraq Hubaisy. Di antara apa yang disampaikan beliau kepada Abul Hasan,
“Sesungguhnya, terkait dirimu ahlus sunnah terbagi menjadi dua: mereka yang meninggalkanmu karena engkau mubtadi’ dan mereka yang meninggalkanmu karena engkau ingin berjalan sendiri. Maka, siapa saja yang bersamamu engkau rangkul, jika tidak engkau tidak akan memedulikannya.”
Abul Hasan menjawab, “Aku telah berputus asa dari semuanya. Dan bersamaan dengan itu, orang-orang menginginkan al haqq. Dan kumpulan- kumpulan orang yang banyak itu, setengahnya saja untukku, sudah cukup.” Syaikh Abdul Aziz Al Bura’i berkata, “Dulu khilaf tentangmu
hanya ada di dalam lembaran-lembaran tilisan dan rekaman-rekaman. Dan sekarang khilaf itu sudah menjadi nyata, karena sebab keluarnya engkau untuk memecah-belah.” Abul Hasan menjawab, “Betul.”
Ketika melihat perjalanan Abul Hasan yang sudah disangka akan mendatangkan keburukan itu, para ulama ahlus sunnah di Yaman berkumpul di Al Hudaidah, di tempat orang yang paling dituakan di antara mereka, Al Walid Al ‘Allamah Muhammad bin Abdil Wahhab Al Wushabi hafizhahullah. Mereka membuat keputusan untuk mengucilkan Abul Hasan. Kemudian, keputusan itu mereka kemukakan kepada Al ‘Allamah Ahmad bin Yahya An Najmi. Beliau pun menyetujuinya dan menanda-tanganinya. Semoga Allah membalas beliau dengan kebaikan.
Setelah melalui tahap-tahap seperti itu, mengalirlah bantahan demi bantahan kepada Abul Hasan dari mana-mana dan terkhusus dari Al Walid Al ‘Allamah Rabi’ bin Hadi Al Madkhali hafizhahullah wa ‘afahu yang dengan semua itu Allah singkap keadaan Abul Hasan. Semakin hari semakin jelaslah fitnah itu bi fadhlillah dan sepakat sikap ahlus sunnah wal jama’ah di Yaman untuk meng-hajr dan mem-bid’ah-kan Abul Hasan Al Ma’ribi, seperti sepakatnya mereka terhadap orang-orang dari kalangan yayasan- yayasan dan kelompok-kelompok menyimpang yang memecah dakwah Salaf sebelum-sebelumnya.
Itu semua adalah ringkasan tahap-tahap yang sudah dilalui ulama- ulama Yaman terkait fitnah Abul Hasan. Maka, tidaklah perlu lagi dibesar- besarkan perkaranya agar dapat menampakkan diri sendiri dengan cara merendahkan atau menjatuhkan para ulama ahlus sunnah wal jama’ah.
Apa engkau sudah lupa atau pura-pura lupa, wahai, Abu ‘Ammar, perjalanan Syaikh Al Imam, sosok yang berani, sosok yang terdepan7,
mengelilingi sejumlah provinsi di selatan Yaman setelah safari Abul Hasan itu? Syaikh Al Imam menyampaikan tahdzir di dalamnya tentang fitnah Abul Hasan secara terang-terangan di hadapan kumpulan-kumpulan manusia yang banyak menggunakan cara-cara yang disesuaikan dengan
7 Dalam salah satu majelisnya, Syaikh Muqbil pernah mengatakan kepada orang-
keadaan-keadaan manusia bersamaan dengan adanya ancaman-ancaman kepada Syaikh Al Imam dari orang-orang yang ta’ashshub kepada Abul Hasan jika masih menyampaikan tahdzir secara terang-terangan kepada manusia. Dan saya sendiri pernah menghadiri salah satu muhadharah di Syabwah. Muhadharah Syaikh Al Imam ini terjadi setelah sepekan berlalu dari muhadharah Abul Hasan di masjid yang sama.
Dan seperti itulah, Syaikh Al Imam mendatangi, mencari, tempat- tempat [yang pernah didatangi] Abul Hasan. Setiap sampai Abul Hasan di satu tempat, Syaikh Al Imam segera mendatangi tempat tersebut untuk memperingatkan orang-orang darinya dan menjelaskan kepada mereka penyimpangan Abul Hasan dari As Sunnah bahwa Abul Hasan tidak sama dengan dakwah Salaf. Sampai-sampai, di salah satu muhadharah Syaikh Al Imam, ada sebagian orang yang ta’ashshub kepada Abul Hasan berkata, “Hampir saja nafasku putus ketika muhadharah Al Imam.” Maksudnya, karena dahsyatnya kedongkolan di dalam dirinya kepada Syaikh Al Imam. Dan Allah betul-betul telah memberikan manfaat lewat tahdziran-tahdziran Syaikh Al Imam dengan manfaat yang begitu besar, terlebih lagi di tengah masyarakat umum. Abul Hasan sendiri merasa betul-betul sakit hati dan berkata, “Orang-orang awam mendatangi Al Imam. Ia ajarkan mereka shalat dan shaum, seraya memperingatkan mereka juga dari Abul Hasan?”.
Apa engkau sudah lupa atau pura-pura lupa dengan kesungguhan yang ngotot dari Syaikh Al Imam itu guna memberikan tahdziran terhadap fitnah Abul Hasan, wahai, Abu Ammar?
Dan sebagian ulama ahlus sunnah di Yaman yang belum berbicara tentang Abul Hasan sampai jelas baginya itu tidak mengapa bagi mereka. Terlebih lagi, ketika dulu ada pujian dari Syaikh Rabi’ hafizhahullah kepada Abul Hasan dan Syaikh Rabi’ menyebutkannya di dalam kitab An Nashr Al ‘Aziz ‘ala Ar Raddul Wajiz (halaman 94), di masa hidup Imam Al Wadi’i dengan kelebihan yang ada pada ulama ahlus sunnah di Yaman. Syaikh Rabi’ hafizhahullah wa ‘afahu menyebutkan di awal bantahan-bantahan beliau kepada Abul Hasan dengan Asy Syaikh Al Fadhil Al Karim.
Lantas, apakah engkau bisa, wahai, Abu ‘Ammar dan Hani bin Buraik, untuk menyebut Al ‘Allamah Rabi’ hafizhahullah plin-plan ketika menghadapi fitnah? Atau, ini khusus untuk ulama-ulama ahlus sunnah di Yaman saja?
Wahai, orang yang menjatuhkan ulama ahlus sunnah di Yaman dengan perkara seperti itu, Yang Mulia Imam Ibnu Baz rahimahullah dulu pernah memfatwakan bolehnya keluar bersama Jamaah Tabligh. Kemudian, dua tahun sebelum meninggal dunia, beliau hukumi kelompok itu sebagai kelompok yang masuk ke dalam 72 golongan sesat.
Wahai, orang yang menjatuhkan ulama ahlus sunnah di Yaman dengan perkara seperti itu, Imam Al Wadi’i pernah memuji Hassan Al Banna di Al Makhraj minal Fitnah dan menyebutkan di tempat lain bahwa tulisan-tulisan Al Banna membangkitkan semangat dan iman. Beliau juga pernah memuji Sayyid Quthub di dalam Al Makhraj minal Fitnah, lalu beliau menyatakan rujuk di cetakan berikutnya.
Wahai, orang yang menjatuhkan ulama ahlus sunnah di Yaman dengan perkara seperti itu, Al Allamah Rabi’ hafizhahullah pernah memuji Al Hajuri sebagai orang yang memegang dakwah Salaf di Yaman dengan tangan yang kuat. Dan beliau menyebut Al Hajuri di masa-masa fitnah waktu itu sebagai “Sunni, Salafi, tidak diketahui padanya ada bid’ah dan ia termasuk ulama-ulama yang mulia.” Padahal Al Hajuri waktu itu sudah mem-bid’ah-kan dan meng-hizbi-kan puluhan [orang] di tengah ahlus sunnah. Kemudian, barulah Syaikh Rabi’ memberi tahdzir setelah jelas baginya penyimpangan Al Hajuri.
Lalu, apa itu artinya mereka para ulama—Ibnu Baz, Al Wadi’i, dan Rabi’—berlaku plin-plan dalam permasalahan-permasalahan fitnah? Mereka itu bukan orang-orang yang jadi rujukan ketika terjadi berbagai kejadian dan fitnah? Atau, semua kaedah yang muncul dari kalian itu hanya khusus berlaku bagi ulama-ulama ahlus sunnah di Yaman? Jawablah dengan ilmu, jika kalian memang orang-orang yang jujur.