Perampasan kebebasan artinya segala bentuk penahanan atau kurungan penjara atau penempatan seseorang dalam situasi penahanan publik atau privat. Tempat-tempat penahanan dapat mencakup berbagai tempat yang resmi ditunjuk, termasuk sel (di kantor) polisi, penjara, fasilitas penahanan militer, pusat penahanan imigrasi, lembaga kesejahteraan atau fasilitas pendidikan, sekaligus tempat yang digunakan sementara untuk tujuan mengisolasi dari masyarakat umum. Berdasarkan standar internasional, merampas kebebasan remaja harus menjadi langkah terakhir yang diambil, hanya untuk periode minimum yang dibutuhkan dan harus dibatasi untuk kasus-kasus luar biasa. Prinsip berlaku ketika perampasan kebebasan dimandatkan oleh pengadilan atau satu bentuk badan administratif. Alih-alih melakukan perampasan kebebasan, lebih disarankan untuk mempertimbangkan proses diversi dan hukuman alternatif, seperti masa percobaan untuk pelayanan masyarakat. Perlindungan umum berlaku, tetapi untuk anak-anak yang ditahan, kepentingan terbaik anak harus menjadi pertimbangan dalam hal perlindungan anak. Kepatuhan kepada prinsip ini termasuk:
• Segera memberitahu wali dari anak bahwa anak ditangkap
• mengadaptasi kebijakan penahanan dengan mempertimbangkan usia, jenis kelamin, disabilitas dan kebutuhan khusus, dengan pemisahan anak laki-laki dan anak perempuan, orang dewasa dan anak-anak kecil.
ST
AND
independen, kunjungan petugas kesehatan dan keluarga sesering yang dibutuhkan dan diizinkan oleh pihak berwenang yang menahan, selama kontak ini adalah kepentingan yang terbaik bagi anak
• memastikan kegiatan waktu luang, rekreasi dan kegiatan pendidikan disertakan dalam rutinitas sehari-hari.
Dalam situasi kekerasan bersenjata, “penahanan administratif” sering kali digunakan untuk menahan anak yang dipandang sebagai ancaman keamanan, seperti menahan anak yang terlibat angkatan bersenjata atau kelompok bersenjata. Kadang-kadang penahanan juga digunakan sebagai alasan untuk melindungi anak-anak yang berada dalam risiko kekerasan dan eksploitasi, yang mungkin akan hidup dan bekerja di jalanan, dan untuk anak-anak yang pandang sebagai antisosial. Bertentangan dengan penahanan pidana, keputusan untuk menahan tidak diambil oleh seorang hakim atau pengadilan, tetapi oleh sebuah lembaga atau seorang profesional yang tidak independen dari cabang eksekutif pemerintah. Seringkali prosedur untuk mempertanyakan proses penahanan semacam ini tidak jelas dan jadwal untuk pengkajian ulang tidak ada.
Situasi darurat mungkin juga meningkatkan jumlah anak yang dituduh sebagai “pelanggaran status”. Di dalamnya termasuk tindakan yang tidak dianggap pidana jika dilakukan orang dewasa, namun dapat mengakibatkan penangkapan dan penahanan jika dilakukan oleh seorang anak. Contohnya termasuk pelanggaran jam malam, bolos sekolah, kabur (melarikan diri), mengemis, tingkah laku buruk atau anti sosial, hubungan dengan komplotan (gang) dan bahkan ketidakpatuhan sederhana. Penahanan anak yang dituntut dengan pelanggaran administratif, atau penahanan anak sebagai tindakan “pencegahan” adalah pelanggaran terhadap kewajiban untuk bertindak berdasarkan kepentingan terbaik anak, dan penahanan hanya dapat digunakan sebagai upaya terakhir. 2. Mendokumentasikan pelanggaran:
Penting untuk mendokumentasikan pola pelanggaran terhadap anak yang muncul di dalam sistem peradilan dari tahap paling awal dalam situasi darurat, sebagai dasar untuk kampanye berbasis bukti, untuk mempercepat respons efektif di tingkat nasional dan internasional (lihat Standar 5). Jika sebuah kasus sampai ke persidangan, ada banyak tindakan perlindungan yang dapat diterapkan pada anak sebagai korban atau saksi. Lihat Panduan ECOSOC mengenai
Justice Matters involving Child Victims and Witnesses of Crime (Masalah
Peradilan yang melibatkan Anak sebagai Korban dan Saksi Kejahatan). 3. Advokasi:
Advokasi harus fokus kepada penghentian pelanggaran saat ini (dimulai dengan pelanggaran-pelanggaran yang berdampak paling parah pada anak) dan yang mencegah pelanggaran di masa yang akan datang. Advokasi harus didukung oleh bukti yang dikumpulkan selama monitoring dan pendokumentasian.
ST
AND
4. Tim multi disiplin:
Untuk mengambil tindakan terhadap kasus-kasus mendesak, perlu untuk sesegera mungkin membentuk sebuah tim multi-disiplin yang terdiri dari para profesional, yang dibangun berdasarkan berbagai sumber daya dan struktur yang sudah ada. Setelah tim terbentuk, mungkin juga dilakukan pelatihan khusus lebih jauh lagi dalam wilayah kebutuhan tertentu.
5. Kerangka hukum internasional:
Kerangka hukum internasional mengatur tolok ukur tertentu untuk anak-anak yang terkena dampak selama kedaruratan. Standar yang diatur dalam Konvenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik serta Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia tentang hak atas pengadilan yang adil, hak atas praduga tak bersalah, perlindungan dari hukuman mati, dan perlindungan dari penangkapan sewenang-wenang dan penahanan berlaku untuk semua orang, termasuk anak-anak (yaitu artikel 14 Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik). Memperkuat atau meningkatkan keadilan untuk anak selama situasi darurat dapat memberikan efek jangka panjang dan dapat berkontribusi dalam memperkuat sistem peradilan anak dalam jangka panjang.
ST
AND
Referensi
•ECOSOC (1997). Guidelines for Action on Children in the Criminal
Justice System
• OHCHR (2008). Human rights in the administration of justice, a
manual on human rights for judges, prosecutors and lawyers
• Unicef Innocenti Research Centre & Harvard Law School (2010).
Children and Transitional Justice
• United Nations Rules for the Protection of Juveniles Deprived of their Liberty (1990)
• United Nations Standard Minimum Rules for the Administration of Juvenile Justice (‘The Beijing Rules’) (1985)
• United Nations Guidelines for the Prevention of Juvenile Delinquency (‘The Riyadh Guidelines’) (1990)
• United Nations (2008). United Nations Common Approach to Justice for Children
• Unodc, Unicef (2009). Justice in matters involving children as victims and witnesses of crime (child-friendly version)
• Unodc, Unicef (2006). Manual for the measurement of juvenile justice indicators
• Convention on the Rights of the Child (1989)
• www.unodc.org/unodc/en/justice-and-prison-reform/tools.html
ST
AND
Perlindung
an Anak