• Tidak ada hasil yang ditemukan

Cikal Bakal Modernisme Pada Etnis Bugis dan Makassar

BUGIS DAN MAKASSAR DARI FASE TRADISIONAL KE FASE SEKULARISME

5.3 Fase Islam dan Modernisme; Perebutan Panggung Kekuasaan Antar Elite Pada Etnis Bugis dan Makassar

5.3.3 Cikal Bakal Modernisme Pada Etnis Bugis dan Makassar

Munculnya gerakan modernis di Sulawesi Selatan tidak lepas dari gerakan Sulselisme yang berkembang di nusantara di awal abad 20. Salah satu gerakan yang memiliki pengaruh besar bagi perkembangan Sulselisme adalah berdirinya Sarekat Islam (SI) tahun 1912 di Surakarta.81 Pada tahun-tahun pertama berdirinya

77 Mattulada,

Sejarah, Masyarakat, dan Kebudayaan SulawesiSelatan (Makassar: Lephas, 1998),

hlm. 401

78 Ibid 79

Sejarah Daerah Sulawesi Selatan (Jakarta: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayan Daerah, 1978), hlm. 86-87.

80 Ibid

81 M.C. Ricklefs,

137

SI mencakup banyak kaum Marxis yang mempunyai pengaruh cukup besar di

berbagai cabang SI. Setelah Partai Komunis Indonesia terbentuk tahun 1920, pimpinan SI melarang keanggotaan rangkap dan memecat para SI ―Merah‖.

Pada tahun 1920, seorang ahli propaganda PKI datang ke Makassar untuk mengorganisasikan suatu gerakan. Pada tahun 1924, PKI cabang Makassar merupakan salah satu di antara empat cabang di luar Jawa yang mengirim utusan ke kongres PKI ke-9.82 Akibat pemberontakan yang dilancarkan oleh partai ini di Jawa dan Sumatra pada tahun 1926-1927 maka partai ini dianggap terlarang, demikian juga ditahannya banyak pemimpin pergerakan Sulsel selama tahun 1930 oleh pemerintah Belanda. sehingga selama tahun 1930-an gerakan Sulselis merupakan ancaman kecil bagi pemerintah Belanda. Mengenai keadaan pergerakan Sulsel di Sulawesi Selatan dan Tenggara dilaporkan oleh Residen C.H. Laag83 bahwa Partai Indonesia Raya (Parindra) yang berdiri tahun 1936 dengan

ketuanya Ahmad Daeng Siola memiliki 75 orang anggota. Demikian juga Persatoean Selebes Selatan yang di bawah pimpinan Nadjamoeddin Daeng Malewa memiliki 250 anggota dan menyatakan kesetiaan kepada pemerintah kolonial. Partai-partai lainnya juga tidak menjadi ancaman bagi pemerintah Belanda, seperti Gerindo, LAPSII, dan Penjedar Barisan PSII, berada di pedalaman dan hanya memiliki anggota paling banyak hanya sekitar 100 orang.

Gerakan yang paling penting di Sulawesi Selatan dibandingkan dengan organisasi politik adalah organisasi Islam yaitu Muhammadiyah. Muhammadiyah yang didirikan di kota Yogyakarta pada tahun 1912 dan berkembang di Makassar pada tahun 1926 dengan pelopornya yaitu Haji Abdullah, Muhammad Yusuf Daeng Mattiro, Abdul Karim Daeng Tunru, dan Mansyur Al-Yamany.84 Dalam usahanya dalam melakukan perjuangan dan pembaharuan, organisasi ini banyak mendapat benturan dengan pemerintah Belanda dan kaum bangsawan karena gerakan mereka menggoyahkan struktur hierarki feodal dan keyakinan tradisional masyarakat.

hlm. 247-273

82 Ruth T. Mc. Vey,

The Rise of Indonesian Communism (Ithaca, N.Y.: Cornell University Press,

1965), hlm. 184,434

83

Dalam Barbara S. Harvey, Pemberontakan Kahar Muzakkar, hlm. 79-80.

84 Lihat perkembangan Muhammadiyah di Sulawesi Selatan dalam Mustari Bosra,

Tuang Guru, Anrong Guru, dan Daeng Guru: Gerakan Islam di Sulawesi Selatan 1914-1942 (Makassar:

138

Berbagai kebijakan Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda untuk mengubah masyarakat tradisional ke arah modern terlihat dari pembangunan yang dilakukan. Berbagai sarana seperti transportasi, birokrasi, dan pendidikan diselenggarakan untuk mendukung upaya tersebut. Hal ini juga berdampak pada perubahan dan pergolakan sosial yang menyangkut fungsi dan status masyarakat. Dalam situasi ini memunculkan golongan terpelajar yang berpendidikan barat, yaitu golongan elite modern yang aktif melakukan pembaharuan dan mendorong masyarakat ke arah perubahan.

Setelah pemerintah Hindia Belanda menyelesaikan masalah kekuasaan para bangsawan di Sulawesi Selatan, dalam banyak laporan dan keterangan, bahwa periode 1930-1940 adalah sebuah masa tenang di Sulawesi Selatan sebelum kedatangan Jepang. Penataan pemerintahan yang dilakukan telah memungkinkan terjadinya perkembangan dalam masyarakat. Kondisi ini mendorong penduduk Sulawesi Selatan mengalami kemajuan dalam bidang pendidikan, kejuruan dan lapangan ekonomi pertanian dan perdagangan. Jumlah orang Sulawesi Selatan yang menyelesaikan pendidikan Pamong Praja dan menjadi pegawai Inlandsche

Bestuur Ambtenaar yang menjadi tulang punggung kekuatan administrasi pemerintah kolonial Belanda.85

Meskipun kaum ambtenar ini telah memperoleh pendidikan modern, namun

menariknya mereka masih mempertahankan satu identitas masa lampau yang berorientasi kepada status dan selalu berusaha mendapatkan status yang lebih tinggi, serta tetap melaksanakan pola kehidupan kepemimpinan tradisional. Adapun masyarakat umum yang telah terbiasa dengan pola ini menerimanya sebagai suatu kewajaran yang merupakan kelanjutan dari masa lampau.

Seperti diterangkan sebelumnya, bahwa kebanyakan elite modern Sulawesi Selatan berasal dari daerah yang diperintah langsung oleh Belanda. Seperti misalnya, Mauraga Daeng Malliungang,86 Karaeng atau bangsawan dari daerah Pangkajene, berpendidikan kelas 4 OSVIA, pada tahun 1912 diangkat menjadi regen Pangkajene menggantikan ayahnya. Saudara laki-lakinya menjadi penguasa di masyarakat adat Mandalle dan keponakannya menjadi Karaeng di Maros. Beberapa putranya menyelesaikan pendidikannya di MULO dan AMS di Yogyakarta.

85 Barbara S. Harvey,

Pemberontakan Kahar Mudzakkar, dariTradisi ke DI/TII , hlm. 65-78 86 M.A. Los, Memorie van Overgave Onderafdeeling Pangkadjene 1931-1934, hlm. 3

139

Salah satu putranya yaitu Andi Burhanuddin yang menggantikannya sebagai Karaeng Pangkajene pada tahun 1942, kemudian dicopot tahun 1945, karena bersimpati pada Republik Indonesia. Andi Burhanuddin pernah menjadi Menteri Penerangan NIT pada Kabinet Anak Agung Gde Agung I pada tahun 1947. Ia juga pernah menjabat sebagai Gubernur Sulawesi tahun 1955-1956.87

Dari kalangan bangsawan Gowa, diantaranya yang kelak menjadi tokoh yang berpengaruh di Sulawesi Selatan yaitu Andi Pangerang Petta Rani, yang merupakan Karaeng Tumabicara Butta atau wakil raja. Friedericy, kontrolir

Gowa menggambarkan tokoh ini sebagai orang yang baik dan suka belajar serta dianggap paling cerdas diantara kaum muda keturunan raja-raja dan menempuh pendidikan relatif tinggi88.

Dari kalangan bangsawan penguasa distrik terdapat nama Lanto Daeng Pasewang yang lahir di Jeneponto tahun 1900. Ia mendapat pendidikan di OSVIA Makassar dan pendidikan untuk pegawai pemerintahan (bestuurschool) di Jakarta.

Pernah menjadi jaksa tinggi di Makassar pada tahun 1942-1945 dan anggota Muhammadiyah. Pada tahun 1950 menjadi Menteri Dalam Negeri dalam Kabinet Putuhena dan menjabat Gubernur Sulawesi di tahun 1954-1956.89 Setelah pemerintah Hindia Belanda menyelesaikan masalah kekuasaan para bangsawan di Sulawesi Selatan, dalam banyak laporan dan keterangan, bahwa periode 1930- 1940 adalah sebuah masa tenang di Sulawesi Selatan sebelum kedatangan Jepang. Penataan pemerintahan yang dilakukan telah memungkinkan terjadinya perkembangan dalam masyarakat. Kondisi ini mendorong penduduk Sulawesi Selatan mengalami kemajuan dalam bidang pendidikan, kejuruan dan lapangan ekonomi pertanian dan perdagangan.

Dari perubahan yang terjadi di masa kolonial tersebut, melahirkan dinamika baru kebudayaan Sulawesi Selatan. Jika sampai akhir abad 19, kelas sosial hanya terbagi atas bangsawan tinggi istana, bangsawan wilayah dan orang-orang merdeka, maka setelah berlangsungnya pemerintahan Hindia Belanda, masyarakat

87 Abd. Razak Daeng Patunru,

Bingkisan Patunru: Sejarah Lokal Sulawesi Selatan (Makassar:

PusKit-Lephas, 2004), hlm. 52

88

Mr. J.T.K. Poll, Memorie van Overgave Bestuurmemorie, hlm. 89

Republik Indonesia, Propinsi Sulawesi (Makassar: Kementerian Penerangan, 1953), hlm.

140

terbagi atas: kaum bangsawan yang menjadi bagian pemerintahan Hindia Belanda sebagai kelas utama, kaum ambtenar yang memiliki pendidikan formal dan

kalangan ulama dan adat, serta yang terakhir kelas hartawan, pedagang dan pengusaha. Dari perubahan ini seperti yang dikatakan Mattulada, bahwa tetap terlihat adanya ukuran prestasi untuk menilai kemampuan seseorang untuk mencapai kedudukan yang lebih tinggi.50 90Sistem budaya siri ‟ dan pacce masih

berlangsung utamanya dalam mengejar prestasi dan kedudukan yang bernilai dan bermartabat di masyarakat.

5.4 Fase Sekularisme (Reproduksi Elite Pada Era 1905 Hingga Otonomi